[2] THE INVISIBLE POWER

the invisible power

Tob‘s storyline

starring

Jung Eun Ji [APINK], Mark Tuan [GOT7], Kim Jong In [EXO], Kim Tae Hyung [BTS], Yook Sung Jae [BTOB], Kim Ji Yeon [LOVELYZ], Park Jung Soo [SUPER JUNIOR]

Chaptered | Fantasy, AU!, Friendship, Life, Family, Sci-Fi | 15

.

.

.

prolog | 1

-o-

Mark duduk di samping Eun Ji. Raut mukanya masih memasang ekspresi terkejut dengan apa yang dilihatnya; ada banyak orang yang tidak dikenalnya (walaupun hanya empat, itu bisa dibilang banyak kan?), Eun Ji yang tiba-tiba ada di ruangan tersebut, dan pamannya yang kembali menekan tombol merah di kursi.

Setelah Jung Soo menekan tombol merah yang ada di kursi, dinding yang berada di belakangnya kembali membelah dan membuka bagaikan sebuah pintu. Jung Soo lantas berdiri dan memberi isyarat kepada orang-orang yang ada disana untuk mengikutinya.

Tae Hyung menatap Sung Jae dengan raut muka penuh keterkejutan sedangkan yang ditatap hanya mengangkat bahunya. “Sudah, ikuti saja.”

Ji Yeon menyikut Jong In meminta penjelasan. Jong In mengangkat bahunya seperti Sung Jae lalu memberi isyarat untuk mengikuti lelaki paruh baya itu.

Berbeda dari yang lainnya, Eun Ji masih duduk di kursinya dengan kening terlipat. Ia menatap Mark, Jung Soo, dan dinding yang telah membuka layaknya pintu secara bergantian. Matanya menyipit, “Paman, kenapa aku baru tahu ada ruangan seperti ini? Kalau tahu ada tempat seperti ini aku tidak usah pusing-pusing mencari bahan untuk siaran minggu kemarin. Huh.” Eun Ji menggerutu kesal lalu menyusul yang lainnya.

Ternyata, ruangan yang dibalik dinding itu adalah sebuah lift. Setelah semuanya masuk, Jung Soo menekan beberapa tombol yang tak kasatmata. Semua mata tertuju pada Jung Soo yang sedang menekan beberapa tombol saat sebuah suara terdengar, “Wow! Ini hebat!” itu suara Tae Hyung ternyata. Lelaki itu tak henti-hentinya kagum dengan kejadian yang dialaminya. Ia bahkan berkali-berkali menyenggol Sung Jae saking senangnya. Sung Jae, si korban berusaha tak acuh dengan kelakukan sahabatnya itu dan membenarkan letak kacamatanya yang sesekali merosot akibat senggolan dari Tae Hyung.

“Baiklah, sekarang kita akan pergi ke markas,” ucap Jung Soo setelah selesai menekan tombol-tombol tak kasatmata itu kemudian melanjutkan,”siapkan diri kalian, ini akan menjadi perjalanan yang cukup—

 

WUSSSSS!

 

—keras.”

 

Lift yang mereka tumpangi turun ke bawah dengan kecepatan mendekati cahaya. Sangat cepat. Pintu lift kemudian terbuka menampilkan sebuah ruangan yang sangat luas berbentuk persegi dan dilapisi cat berwarna putih pucat. Terdapat meja berbentuk oval di tengah ruangan dengan kursi yang mengelilinginya lalu diatasnya terdapat beberapa barang yang tidak mereka ketahui namanya dan seekor kucing. Di sebelah kanan terdapat satu set sofa berwarna biru langit dengan meja kaca di tengahnya. Di atasnya terdapat beberapa makanan ringan dan botol air mineral. Ruangan tersebut semakin terlihat cantik dengan hiasan bunga sakura di sudut sebelah kiri, ditambah dengan pernak-pernik lucu yang membuat Ji Yeon menjerit melihatnya. Tidak lupa, di sayap kiri terdapat satu buah rak berisi buku catatan yang tidak tahu isinya apa.Sedangkan di sudut sebelah kanan terdapat dua pintu yang bertuliskan woman’s room dan man’s room.

Semua orang yang disana terbuat terkagum-kagum. Tampak jelas dari raut wajah mereka dan bola mata yang membulat sempurna kecuali satu orang, Jong In. Setelah kejadian turun dari ruangan yang penuh buku menuju ruangan-tanpa-nama, Jong In langsung berjongkok dan memijat pelipisnya karena pusing sekaligus mual. Sang adik sempat mengkhawatirkannya namun hanya sesaat karena gadis manis tersebut langsung terkagum-kagum dengan bunga sakura dan pernak-pernik lucu yang berada di sudut kiri ruangan.

“Kau tidak apa-apa, hm?”

Suara perempuan terdengar melalui daun telinga Jong In. Jong In menengok ke sumber suara dan menemukan seorang gadis berambut panjang dan berwarna coklat menatap ke arahnya dengan raut khawatir. Kalau Jong In tidak salah namanya Eun Ji (ia mendengar ketika lelaki jangkung yang datang terakhir menyebut nama gadis ini).

“Kau tidak apa-apa?” ulang Eun Ji.

Jong In tersenyum samar. “Sepertinya aku sedikit… pusing.”

Eun Ji mengangguk-anggukan kepalanya lalu membantu memijat bahu lelaki yang ada di hadapannya. “Namaku Eun Ji, kau?”

“Jong In. Kim Jong In.” Jong In menyebutkan namanya. “Dan terimakasih, sepertinya aku sudah baikan.” Lantas keduanya berjalan menyusul yang lainnya yang sudah terlebih dahulu keluar dari lift.

 

-o-

 

Semuanya kini duduk di sofa berwarna biru laut. Jung Soo menuangkan air ke masing-masing gelas yang ada disana. Setelah selesai, ia duduk di kursi.

Sung Jae yang sejak tadi diam dan kesal akhirnya mengeluarkan suara, “Jadi, eung…” Sung Jae bingung harus memanggilnya apa, “eung… paman? Bisa langsung ke intinya saja?”

Jung Soo tersenyum. “Sebelum aku berbicara, sebaiknya kalian minum terlebih dahulu.”

Mark menghela napas. “Ayolah paman, langsung saja. Kenapa paman mengumpulkan aku dan mereka disini? Dan, tempat apa ini?”

Jung Soo berdeham. “Seperti yang sudah kusebutkan diawal, ini adalah markas. Kedua, aku mengumpulkan kalian karena kalian yang memerlukanku kan? Maksudku, kalian pasti butuh penjelasan.”

Semuanya mengangguk.

“Sebelumnya, perkenalkan nama kalian terlebih dahulu.”

“Baiklah, namaku Mark. Mahasiswa tingkat dua ilmu matematika di Universitas Seoul.” Mark membuka suara.

“Universitas Seoul? Kau serius?” Jong In terkejut mendengar nama kampusnya disebutkan oleh Mark.

“Ya, kenapa?”

“Aku juga bersekolah di sana. Mahasiswa tingkat satu akuntasi. Kim Jong In. Panggil saja Jong In.”

Suara perempuan menginterupsi. “Hei, jadi kita berada di kampus yang sama, begitu?”

Jong In mendengar suara perempuan yang menolongnya tadi. “Eh?”

Eun Ji berdeham. “Jung Eun Ji, mahasiswi tingkat dua broadcasting. Panggil saja Eun Ji.”

Jung soo tertawa. “Wah, sepertinya kalian berada di kampus yang sama. Bukankah itu kabar bagus? Baiklah, selanjutnya bagaimana dengan nona manis yang disamping Kim Jong In?”

Ji Yeon mengerutkan keningnya dengan telunjuk yang mengarah ke wajahnya. “Eh? Aku?”

Semua orang yang berada disana mengangguk.

“Kim Ji Yeon, siswi kelas tiga di SMA Haengbok.” Ji Yeon memperkenalkan dirinya dengan singkat.

Sung Jae dan Tae Hyung yang mendengar penuturan Ji Yeon membelalakan matanya. “Apa!?”

Lima pasang mata mengarah pada Sung Jae dan Tae Hyung yang berteriak. Jung soo mengulum senyumnya. “Wah sepertinya semakin menarik. Bagaimana jika kalian berdua memperkenalkan diri juga?”

“Namaku Tae Hyung dan lelaki di sebelahku Sung Jae.” Tae Hyung memperkenalkan dirinya lalu menunjuk Sung Jae juga. “Kami bersekolah di SMA Haengbok juga dan kelas tiga. Tapi, kami belum pernah melihat Ji Yeon sebelumnya. Apa kau anak pindahan?”

“Tidak. Dia memang tidak suka berlama-lama di sekolah. Pantas kalian tidak pernah melihatnya,” papar Jong In.

Tae Hyung dan Sung Jae mengangguk mengerti.

“Nah, paman jadi bagaimana? Kami sudah memperkenalkan diri, lalu selanjutnya apa?”

Jung soo menganggukan kepala mengerti. “Begini… Eun Ji, apa yang kau lihat dari mereka berenam? Kau pasti dapat sesuatu yang berbeda kan?”

Eun Ji mengangguk. matanya memandang setiap orang yang ada disana dengan menyelidik sampai membuah si korban merasa risih. Sesekali dahinya terlipat seperti berpikir.

“Di bola mata mereka terdapat lambang-lambang yang aneh. Di Mark terdapat lambang api, Ji Yeon lambang air, Sung Jae lambang angin, sedangkan untuk Jong In dan Tae Hyung aku tidak tahu lambang apa. Di mata Jong In terdapat lambang semacam jam dengan angin yang menyatu sedangkan Tae Hyung lambangnya seperti otak tapi ada garis-garis aneh. Aku tidak tahu kenapa. Sebenarnya kenapa dengan mataku, paman?”

“Matamu punya kekuatan. Kedua orang tuamu yang menurunkannya padamu.”

“Tapi mereka tidak pernah bercerita mengenai hal itu.”

“karena itu berbahaya.”

“Maksud paman?”

Jung Soo menghela napas. “Jadi, lambang-lambang yang Eun Ji lihat dari setiap bola mata kalian adalah lambang kekuatan yang kalian miliki. Seperti Mark, lambangnya api dan dia bisa mengeluarkan api jadi kekuatannya api. Lalu, Ji Yeon lambang dimatanya air maka kekuatannya adalah air. Sedangkan Sung Jae memiliki lambang angin karena kekuatannya adalah berhubungan dengan angin, ia bisa melayang,” Jung Soo meminum air dari cangkir yang dipegangnya lalu melanjutkan,”Kau, Tae Hyung. Lambang otak yang ada di bola matamu itu bernama brainliant tanda bahwa kau bisa membaca pikiran orang lain dan akan semakin jelas jika kau memegang anggota tubuh dari orang yang kau baca pikirannya. Hanya saja, jika orang yang kau baca pikirannya adalah orang yang memiliki kekuatan, maka… kau tidak bisa membacanya. Lalu, yang terakhir, Jong In. Lambang jam dan angin itu bernama kazetoki. Itu adalah lambang untuk orang yang bisa berpindah tempat atau ruangan dalam waktu yang cepat dan biasa disebut teleportasi. Jadi, kau bisa berpindah melewati ruang dan waktu ke tempat yang kau pikirkan.”

Semua orang yang ada di ruangan menatap Jung Soo dengan tatapan tidak percaya. Masing-masing orang mulai memikirkan penjelasan yang diberikan Jung Soo. Bahkan, alis Mark tampak bersatu.

“Paman, tadi bilang kekuatanku air tapi kenapa aku justru bisa menghilang? Itu tidak ada hubungannya dengan air, kan?” tanya Ji Yeon.

Jung Soo tersenyum. “Itu bukan berarti kau tidak punya kekuatan mengendalikan air kan? Tunggu saja, harusnya sebentar lagi selain menghilang kau pun bisa mengendalikan air.”

Tae Hyung lalu bersuara, “Tapi, kenapa kami bisa mendapatkan kekuatan ini? Padahal dulu, aku yakin tidak bisa membaca pikiran.”

Jung Soo terlihat menimbang-nimbang apakah harus menjelaskannya sekarang atau nanti. Tapi, melihat wajah-wajah penuh rasa penasaran di sekelilingnya membuat ia mau tidak mau harus menjelaskannya sekarang juga.

“Tadi sudah kusebutkan bahwa kekuatan yang kalian dapatkan adalah turunan dari orang tua kalian kan?”

Semuanya mengangguk.

“Nah, kekuatan itu akan benar-benar ada dan tumbuh dalam diri kalian jika…” Jung Soo menggantungkan ucapannya.

“Jika apa?” tanya Sung Jae yang sudah tidak kuat menahan rasa penasarannya lagi.

“Jika orang tua kalian meninggal. Atau salah satu dari mereka yang mempunyai kekuatan meninggal.”

Suasana yang tadinya serius semakin serius setelah mendengar kalimat terakhir dari Jung Soo. Ji Yeon dan Eun Ji bahkan sekarang matanya terlihat kosong. Sung Jae menatap sepatu hitamnya dan Tae Hyung yang berada di sebelahnya menatap Sung Jae yang tampak sedih. Jong In mengusap pundak adiknya sedangkan Mark menatap Eun Ji.

 

-o-

Perlahan-lahan pertahanan yang sudah Eun Ji buat selama dua bulan ini akhirnya runtuh juga. Bulir-bulir air mata yang sudah menumpuk di pelupuk akhirnya jatuh juga melewati pipinya. Mark yang melihatnya hanya bisa terdiam tidak tahu harus berbuat apa.

“Ke…na…pa…” lirih Eun Ji tapi terdengar jelas di suasana yang tidak ramai itu.

Mark hendak mengusap pundak gadis berambut coklat itu namun diurungkannya dan lebih memilih untuk memanggil namanya. “Eun Ji…”

Eun Ji memalingkan wajahnya ke arah Jung Soo. “Kenapa paman? Kenapa?”

Jung Soo tahu bahwa setelah kalimat terakhir tadi selesai ia ucapkan maka suasana ini akan hadir. Semua orang yang ada disini beberapa diantaranya ditinggalkan salah satu orang tuanya atau keduanya. Namun, yang semakin membuatnya khawatir adalah Eun Ji, gadis itu pasti sangat terpukul dengan kenyataan ini.

“Eun Ji…”

“Kenapa… hiks, paman? Kenapa aku harus mendapatkan kekuatan menyebalkan ini? Kenapa? Hiks. Aku tidak butuh kekuatan ini, aku hanya butuh orang tuaku kembali. Gara-gara kekuatan ini… aku kehilangan orangtuaku. Dan… hiks… dan… aku jadi sendirian… hiks.” Eun Ji menundukan kepalanya. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutup wajahnya.

“Aku juga sama. Orang tuaku meninggal…. Eunji, Kau masih punya aku…” Mark bersuara dan kini tangannya sudah mengusap pundak Eun Ji.

Eun Ji menghapus air mata di pipinya kasar lalu memandang Mark. “Tidak, Mark. Kita berbeda. Kau masih punya Jessy dan paman Jung Soo disini. Kau masih punya keluarga, kau masih punya adik yang menemanimu.” Eun Ji mengalihkan pandangannya dari Mark, “sedangkan aku…aku tidak punya siapa-siapa lagi. Haha.” Eun Ji tertawa diakhir kalimat. Tawa yang menyiratkan kesedihan.

Suasana kembali hening.

Tanpa diduga Sung Jae beranjak dari duduknya. Tae Hyung yang melihat itu khawatir, takut Sung Jae akan seperti Eun Ji yang tidak terima dengan kenyataan ini. Namun Tae Hyung salah karena kini Sung Jae sudah berada di hadapan Eun Ji, berlutut dengan kaki kiri sebagai tumpuan.

Eun Ji terkejut melihat seseorang berlutut di hadapannya. Eun Ji ingat nama laki-laki ini, Sung Jae, dua tahun lebih muda darinya. Raut wajahnya memancarkan kesedihan. Eun Ji merasa bahwa kesedihan yang ditampakan laki-laki itu sama dengan yang dirasakannya.

“Kak Eun Ji…” Sung Jae membuka suara, “Aku tahu apa yang kakak rasakan. Ayahku meninggal dan Ibuku sakit-sakitan sehingga pulang ke kampung halaman. Aku anak tunggal dan aku kini tinggal sendiri,” Sung Jae mengusap lutut Eun Ji, “. Nasib kita tidak jauh berbeda. Kak Eun Ji jangan sedih ya, kakak tidak sendiri.”

Eun Ji mendengarkan ucapan yang dilontarkan Sung Jae dengan seksama. Ia beruntung karena dirinya sudah berada di tingkat dua universitas, sedangkan lelaki yang berlutut di hadapannya ini masih duduk di bangku SMA. Setidaknya, Eun Ji mempunyai kenangan yang lebih banyak dengan kedua orang tuanya dibandingkan Sung Jae. Air matanya kembali turun melewati pipinya. Namun, sebuah senyuman kini menemaninya. “Terima kasih Sung Jae.”

Melihat Sung Jae yang begitu tegarnya membuat Jung Soo tersenyum. Ia tidak menyangka bahwa bocah kelas tiga SMA itu bisa sekuat itu, padahal sebelumnya Jung Soo melihat Sung Jae seperti orang yang kesepian dan lemah. Namun ternyata, lelaki itu sangat kuat.

“Jong In, Ji Yeon?” Jung soo mengeluarkan suara.

Jong In dan Ji Yeon menatap ke arah Jung Soo dengan raut wajah bertanya. “Ya, paman?”

“Apa kalian tidak merasa terpukul?”

Ji Yeon membuka suara, “Sebenarnya ya, tapi setelah mendengar cerita Kak Eun Ji aku menjadi lebih bersyukur karena masih punya Kak Jong In dan…”

“…kami senang punya kekuatan,” lanjut Jong In.

Semua orang yang ada disana menatap kedua bersaudara itu dengan tatapan bingung. Melihat tatapan semua orang yang ada disana membuat Jong In setidaknya harus memberi penjelasan.

“Ma-maksudku begini. Aku sering dikejar-kejar oleh kakak tingkat supaya mengerjakan tugas mereka dan dengan kekuatan ini setidaknya aku bisa kabur lebih cepat sebelum mereka menemukanku, ‘kan?”

“Kau bisa melawan kan?” tanya Tae Hyung.

Ji Yeon menggeleng lalu menbantu Jong In untuk menjawab pertanyaan Tae Hyung. “Kak Jong In akan dapat hadiah benjolan jika menolak permintaan mereka dan akulah satu-satunya yang harus mengobati. Dengan begini, setidaknya Kak Jong In bisa menghindar dari benjolan-benjolan itu. Dan, Kak Jong In tidak suka berkelahi. Dulu, Ayah dan Ibu selalu mengingatkan supaya tidak berkelahi jadi, begitulah.”

“Tae Hyung?” kali ini suara Jung Soo.

Tae Hyung mengerjap. “Eh? Aku? Oh, aku tidak apa-apa. Aku punya dua orang kakak dan mereka menyayangiku dengan baik jadi aku tidak terlalu sedih ketika Ayah dan Ibu pergi.”

Mark kemudian bertanya lagi. “Paman apa saudara kita juga mempunyai kekuatan? Apa Jessy juga punya kekuatan dan kakak Tae Hyung juga, bagaimana?”

Jung Soo menggeleng. “Aku tidak tahu, setahuku setiap anak diberi kekuatan tapi hanya sebagian anak yang kekuatannya tumbuh. Ibaratnya setiap dari kalian ditinggali suatu benih, namun benih-benih itu ada yang tumbuh menjadi sebuah tumbuhan dan adapula yang tetap menjadi benih. Dan saudara kalian mungkin masuk kategori yang kedua.” Jung Soo meneguk air dari cangkirnya, “nah, sekarang aku ingin mengingatkan. Kita semua disini adalah keluarga jadi jangan sampai ada kata bahwa kalian sendirian. Jika ada sesuatu, kalian bisa membicarakannya denganku. Kalian bisa menganggapku paman kalian sendiri.” Jung Soo tersenyum sekilas, “dan sekarang… apa kalian membawa barang yang kupinta?”

Semuanya mengangguk kecuali Mark.

“Barang apa?”

Eun Ji yang sudah tidak terlalu sedih lagi kini menyenggol Mark. “Memangnya paman tidak menyuruhmu untuk membawa barang berhargamu?”

Mark menggeleng sebentar lalu menyeringai. “Barang berhargaku kan kau, Jung Eun Ji.” Membuat semua orang yang ada di ruangan tertawa keras.

Eun Ji mencubit lengan Mark keras. “Apa kau bilang? Aku bukan barang!”

“Aw!” Mark mengusap lengannya yang memerah. “Baiklah-baiklah nona Jung, aku hanya bercanda. Untung saja aku selalu membawa barang berhargaku.”

 

-o-

Jung Soo beranjak dari kursinya lalu pergi menuju meja oval yang berada di tengah ruangan. Ia mengambil sebuah benda dari kayu berbentuk persegi panjang (menurut Tae Hyung seperti buku tulis pelajarannya).

“Jadi, kalian tinggal menyimpan barang berharga di atas benda ini yang bernama tlaemob. Jadi, siapa yang akan memulai?”

Jong In melangkah lebih dahulu. Tangannya memegang jam berwarna hitam kemerah-merahan dengan hiasan naga di sekitar tali jamnya. “Ini hadiah ulang tahunku yang ke-17 dari ayah dan ibu. Ini barang berhargaku.”

Jong In menyimpan jam merah kehitam-hitaman itu di atas tlaemob. Jam itu melayang selama lima detik di atas tlaemob lalu kembali ke tempatnya seperti semula. Jung Soo mengintruksikan kepada Jong In untuk mengambil jamnya lalu memasangkannya di tangan.

Yang lainnya mengikuti apa yang dilakukan oleh Jong In. Eun Ji dengan gelang biru lautnya, Mark dengan gelang hitamnya, Ji Yeon dengan kalung peraknya, Sung Jae dengan kacamatanya dan Tae Hyung dengan ponselnya.

“Ponsel barang berhargamu?” tanya Sung Jae tidak percaya.

“Iya, memangnya kenapa? Ada masalah? Disini banyak permainan yang kusuka jadi ini barang berhargaku.” Tae Hyung menjawab ringan.

“Itu sedikit… berbeda.” Jong In menimpali.

Jung Soo tertawa, “Kau memang seperti ayahmu yang… sedikit berbeda.”

“Lalu apa bedanya barang ini sebelum dan setelah disimpan di tempat itu?” tanya Jong In setelah memasang jam di tangannya. Jong In menyumpahi kayu persegi itu karena sulit melafalkan namanya.

“Jam itu sebagai tanda dimana kau berada dan sebagai alat untuk berkomunikasi diantara kita.” Jung Soo lalu menekan tombol hijau di meja kemudian muncul layar transparan berwarna hijau dengan peta di dalamnya. Ada titik di suatu tempat dengan nama di atasnya bertuliskan ‘Kim Jong In’. “ Itu juga berguna supaya aku bisa mengetahui dimana letakmu sehingga lebih mudah memberikan intruksi. Yang lainnya pun sama akan seperti itu.” Setelahnya muncul titik-titik di layar hijau itu dengan nama di atasnya.

“Nah, sekarang sepertinya kalian siap dengan tugas kalian?” ucap Jung Soo.

“Maksud paman?” tanya Ji Yeon yang berhenti memainkan kalungnya.

“Begini, orangtua kalian meninggal karena menjaga benda-benda yang beguna untuk menyeimbangkan bumi ini. Benda-benda itu adalah Kristal berbentuk prisma. Mereka memiliki lambang masing-masing. Semuanya ada lima Kristal;air, udara, api, tanah, dan pohon. Sebelum kematiannya, mereka menyimpan kelima benda itu di beberapa tempat di Seoul ini. Yang jadi masalahnya, ada satu kelompok yang mencari Kristal itu juga. mereka adalah kelompok yang ingin menguasai Negara Korea ini dan ingin supaya dunia kegelapan jaya. Sebelum mereka, kita harus lebih dulu menemukannya.”

“Tapi, kenapa orangtua kami tidak langsung memberikannya pada paman? Itu akan lebih mudah seharusnya,” ucap Eun Ji.

“Tidak, justru itu akan lebih berbahaya karena dengan begitu Black Knight, nama kelompok itu, akan lebih mudah juga menemukannya.”

“Apa paman tahu Black Knight itu terdiri dari siapa saja?” tanya Ji Yeon.

Jung Soo menggeleng. “Black Knight yang dulu aku tahu siapa saja tapi mereka sudah mati setelah perang terakhir yang membuat kelompok kami mendapatkan lima Kristal. Kurasa, orang-orang yang sekarang adalah orang-orang baru. Dan yang membuatku takut adalah… mereka anak-anak dari orang-orang dulu.”

Suasana kembali hening untuk beberapa menit.

“Ya sudah. Tunggu apa lagi? Ayo kita cari Kristal-kristal itu. Apa susahnya sih mencari Kristal. Iya, kan?” Tae Hyung membuka suara.

Jung Soo kembali menggeleng. “Tae Hyung, pertama, aku tidak tahu dimana tempat Kristal-kristal itu. Kedua, orang tua kalian telah mengubah bentuk Kristal itu ke bentuk lain dan aku juga tidak tahu bentuk apa yang mereka buat. Tapi, aku tahu untuk menemukan Kristal air.”

Semuanya menahan napas untuk menunggu ucapan Jung Soo selanjutnya.

Jung Soo menghadap pada layar hijau yang menampilkan peta di dalamnya. Ia menunjuk sebuah titik. “Kristal air itu ada di sekitar pusat perbelanjaan di Mokpo. aku akan membagikan alat pendeteksi Kristal setelah ini. Namun, selain alat ini, Eun Ji juga bisa mendeteksi menggunakan matanya. Kau akan melihat lambang prisma yang memotong lambang air di sekitar benda itu.” Jung Soo mematikan layar. “Karena sekarang sudah pukul sepuluh malam, sebaiknya kalian istirahat.”

Masing-masing orang mulai membereskan barang-barangnya.

“Aku tidak menyuruh kalian pulang ke rumah. Kalian bisa tidur di ruangan itu.” Jung Soo menunjuk ke bagian sudut yang terdapat dua buah pintu bertuliskan woman’s room dan man’s room. “Disana adalah ruangan rekreasi. Kalian bisa tidur malam ini disana dan pulang pagi-pagi sekali. Disana juga terdapat pakaian yang bisa kalian pakai. Selamat istirahat anak-anak.”

Eun Ji dan Ji Yeon pergi menuju pintu bertuliskan woman’s room sedangkan para lelaki masuk melalui pintu yang satu lagi. Sebelum masuk, Jong In mengecup kening Ji Yeon kemudian membisikan kalimat ‘selamat tidur’.

Eun Ji sudah masuk duluan ke ruangan lalu beberapa menit kemudian terdengar teriakan.

“AAAAAAA!”

 

Tbc.

Nb: Sorry for the late publish. Mungkin ceritanya pun sudah banyak yang lupa dan maaf juga for the long chapter. Selamat tunggu cerita selanjutnya! Di chapter yang akan datang, akan lebih banyak tokoh terutama pihak Black Knight. mungkin ada masukan untuk tokohnya? ditunggu di kolom komentar, ya!^^

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s