[1] THE INVISIBLE POWER

the invisible power

Tob‘s storyline

starring

Jung Eun Ji [APINK], Mark Tuan [GOT7], Kim Jong In [EXO], Kim Tae Hyung [BTS], Yook Sung Jae [BTOB], Kim Ji Yeon [LOVELYZ], Park Jung Soo [SUPER JUNIOR]

Chaptered | Fantasy, AU!, Friendship, Life, Family | 15

.

.

.

prolog

-o-

 

“Kak Mark?” panggil Jessy setelah Mark menghabisi kedua lelaki yang mengganggunya. “Kau Kak Mark, ‘kan?” ulang Jessy memastikan bahwa lelaki yang menyelamatkannya adalah Mark, si kakak.

Tangan Mark yang semula dikelilingi api, kini sudah hilang. Bola matanya yang berubah menjadi api pun sudah kembali hitam seperti semula. Ia memandang wajah adiknya. “Kau baik-baik saja, Jes?” ucapnya lalu menghampiri Jessy.

Jessy tidak menjawab pertanyaan Mark, justru memberikannya pertanyaan. “Tadi itu Kak Mark yang membuat api?”

Mark kembali menatap tangannya. “Entahlah, aku juga tidak tahu tapi sebaiknya rahasiakan ini semua. Termasuk paman juga.”

Jessy tidak mengangguk ataupun menggeleng. Ia hanya bisa menatap Mark tidak percaya. Mark yang melihat sikap Jessy langsung melingkarkan tangannya ke pundak si adik. “Lupakan saja oke? Dan yang pasti kau harus lebih berhati-hati jika pulang. Hubungi aku jika memang akan pulang malam. Mengerti?”

Jessy mengangguk dan mencoba melupakan kejadian yang baru saja terjadi. “Hm.”

Sembari berjalan menuju rumah, keduanya sibuk dengan pikirannya masing. Tanpa sepengetahuan Jessy, Mark memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Api yang tiba-tiba itu merupakan sesuatu yang aneh. Terutama, dirinya tidak merasakan panas sedikitpun bahkan, pakaiannya tidak ada yang terbakar.

-o-

Keesokan harinya, setelah mengantarkan Jessy ke sekolah, Mark langsung pulang ke rumah pamannya. Ia berniat mencari tahu tentang kejadian yang kemarin dialaminya di perpustakaan milik pamannya namun nihil, tidak ada yang didapatkannya.

“Mark?” panggil suara di belakangnya.

Mark menoleh ke belakang dan mendapatkan pamannya berdiri di samping pintu. Padahal tadi ia sangat yakin melihat pamannya pergi ke kafe yang berarti rumahnya dalam keadaan kosong.“Paman? Bukannya tadi ke kafe, ya?”

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Mark tersenyum canggung. Ia membereskan buku-buku yang sudah diambilnya lalu meletakannya satu persatu ke tempat asalnya. “Hanya iseng membaca sembari menunggu waktu kuliah.”

 

“Oh.” Jung Soo mendekati Mark lalu duduk di sofa berwarna merah. “Aku tadi buru-buru pulang ke rumah karena ada sesuatu yang tertinggal.”

 

Mark menggumamkan kata ‘hm’ lalu kembali meletakan buku-buku ke tempatnya.

 

“Apimu sudah datang, ya?”

 

Gerakan Mark yang menyimpan buku terhenti setelah mendengar pamannya menyebutkan kata ‘api’. Pandangannya dialihkan kepada wajah Jung Soo. “Maksud paman?”

 

Jung Soo tersenyum penuh rahasia ketika Mark menatapnya dengan mimik penuh keterjutan. Ia lantas menekan tombol merah di tangan kursi yang terlihat samar. Mark mengingat-ingat apakah tombol itu baru dibuat atau memang sudah ada sejak lama tapi ia tidak mengetahuinya.

Dinding di belakang sofa merah itu terbelah kemudian membuka layaknya sebuah pintu menampilkan ruangan rahasia dibaliknya. Mark menatapnya takjub. Jung Soo yang melihat wajah Mark semakin tersenyum lalu berucap, “Sepertinya waktunya sudah datang.”

 

-o-

Jong In yang masih terkejut akan apa yang baru saja terjadi lantas merebahkan tubuhnya di kasur tanpa melepaskan sepatunya. Ditatapnya langit-langit putih kamar tidurnya sembari memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya. Menurutnya itu semua seperti mimpi. Jong In memang pernah membaca mengenai kekuatan dimana seseorang bisa berpindah ke suatu tempat dalam waktu yang cepat atau teleportasi. Ia pikir itu hanya ada dalam cerita dongeng, namun pemahaman itu menjadi buyar setelah ia merasakannya sendiri.

Suara pintu depan terbuka dengan tiba-tiba dan langkah kaki yang terburu-buru mulai mendominasi.

 

“Kak Jong In! Kak Jong In! Kakak sudah pulang ‘kan?” Ji Yeon—adiknya memanggil dengan tidak santai.

 

Jong In bangun dari tidurnya. Ia melepas sepatunya lalu suara pintu kamarnya terbuka menampakan si adik dalam balutan seragam.

 

“Kakak!” teriak Ji Yeon lalu menghampirinya. “Kak, aku punya cerita yang tidak masuk akal. Kumohon jangan tertawa dan percayalah padaku.”

Jong In menyuruh adiknya duduk di sampingnya. “Tenangkan dirimu lalu ceritakan. Dan ya, aku pasti percaya. Tenang saja.”

Ji Yeon lantas duduk di samping Jong In. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya keras. “Kak,” ditatapnya wajah Jong In serius, “Aku bisa menghilang.” Bersamaan dengan berakhirnya kalimat yang dilontarkan, tubuh Ji Yeon hilang tak terlihat lalu muncul kembali. “Kakak lihat ‘kan?”

Jong In memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa nyeri. “Ji, aku pun mengalami hal yang sama.”

“Kakak bisa menghilang juga?”

Jong In menggelengkan kepalanya. Ditatapnya mata sang adik yang terkejut. “Bukan,” Jong In yang duduk di kursi tiba-tiba berpindah ke dekat pintu lalu kembali lagi ke tempatnya semula dalam rentang waktu kurang dari satu detik. “Aku bisa berteleportasi.”

“Ber…apa?”

“Berteleportasi. Aku bisa menghilang ke tempat yang aku inginkan dalam waktu cepat.”

“Tapi kak, kenapa kita bisa seperti ini?”

Jong In menggeleng lemah. “Aku tidak tahu.”

 

 

Esok paginya Ji Yeon menyiapkan makanan untuk sarapan sekaligus bekal ke sekolah sedangkan Jong In baru saja selesai bersih-bersih. Lelaki berkulit gelap itu baru saja akan duduk di meja makan untuk menunggu sarapan saat suara bel berbunyi,

 

Ting Tong.

 

“Biar aku yang buka,” ucap Jong In menahan adiknya yang hendak membukakan pintu apartemen.

Jong In beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju pintu depan. Ji Yeon yang penasaran akhirnya memilih untuk mengekori Jong In.

 

“Selamat pagi, tuan Kim.”

 

Jong In mendapatkan seorang pria paruh baya dengan pakaian kasual di balik pintu apartemennya. Ia mengerutkan kening karena tidak merasa kenal dengan pria berpakaian kasual itu. Diliriknya Ji Yeon yang berada di belakangnya. Ji Yeon langsung menggeleng setelah dilirik dengan kening berkerut dari Jong In.

 

“Maaf, apa kita pernah bertemu?”

 

Pria paruh baya itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya. “Perkenalkan, aku Jung Soo dan akan menjelaskan mengenai kekuatan yang baru saja kalian terima.”

 

-o-

Tae Hyung merasa dunianya menjadi lebih ramai setelah dirinya bisa membaca pikiran orang lain. Pagi ini ia berangkat sekolah seperti biasa, belajar seperti biasa, dan pulang sekolah bersama Sung Jae, seperti biasa.

Entah perasaan Tae Hyung atau bukan, tapi ketika pulang dari sekolah wajah Sung Jae terlihat berbeda. Lebih terlihat seperti seseorang yang sedang dilanda kecemasan. Tae Hyung tahu, Ibu Sung Jae kemarin pindah ke Busan tapi ini bukan Sung Jae yang dikenalnya. Bahkan ketika ayahnya meninggal pun Sung Jae hanya tampak sedih (terlihat dari kantung matanya) tapi tidak cemas. Tae Hyung mencoba untuk membaca pikiran Sung Jae tapi tidak bisa seperti ada sesuatu yang menghalangi. Tae Hyung berusaha keras tapi tetap saja tidak bisa.

 

“Sung Jae?”

 

Sung Jae melirik ke arah Tae Hyung. “Hm?”

 

Tae Hyung baru saja akan mengeluarkan suaranya saat seorang pria dengan mengenakan kaos merah yang dipasangkan dengan celana jeans hitam menghampiri.

 

“Selamat sore tuan Kim dan tuan Yook.”

Sung Jae menatap Tae Hyung meminta penjelasan. “Apa kau mengenal pria ini?” tanyanya berbisik yang langsung dibalas gelengan oleh Tae Hyung.

Ehem, Sebaiknya aku memperkenalkan diri terlebih dahulu.” pria itu menghela napas lalu melanjutkan, “Namaku Jung Soo dan aku akan menjelaskan kebingungan yang tuan Kim rasakan dan kecemasan yang dirasakan tuan Yook.”

Mendengar penjelasan lelaki di depannya membuat Sung Jae dan Tae Hyung kembali berpandangan.

-o-

 

Butuh waktu dua belas jam bagi Eunji untuk terbiasa dengan aroma-aroma yang muncul di sekitarnya. Beberapa kali ia sempat menjerit tanpa suara karena terkejut dengan aroma yang dilihat.

Saat ini, Eun Ji baru saja sampai di gerbang universitas karena hari ini ia ada kelas pukul sepuluh sampai pukul dua belas. Ia melihat jam yang melingkar di lengan kanannya.

09.00

Masih ada waktu satu jam lagi. Biasanya ia akan menunggu di perpustakaan bersama Mark sembali berdiskusi mengenai makanan murah-tapi-enak yang berada di sekitar kampus lalu sepulang kuliah bersama-sama membeli makanan tersebut. Sayangnya, hari ini Mark ada kuliah sore dan lelaki itu mengatakan sedang punya urusan.

Huh, dasar so’ sibuk. Padahal dia kan bisa mengerjakan urusannya di kampus ketika aku kuliah,” gerutu Eun Ji sembari berjalan menuju kantin. Karena insiden yang terjadi kemarin ia belum sempat belanja makanan untuk seminggu kedepan. Akibatnya ia belum sarapan tadi pagi.

Eun Ji memesan nasi kepal dan susu rasa pisang sebagai sarapan. Ia lalu duduk dekat lapangan sepak bola untuk menghabiskan bekalnya. Tanpa ia sadari seseorang sudah duduk di sampingnya.

“Nona Jung.”

Merasa terpanggil, Eun Ji mengalihkan pandangannya ke samping dimana suara itu berasal. “Paman Jung Soo?”

Jung Soo tersenyum. “Apa kabarmu?”

“Baik. Paman sendiri? Dan, kenapa paman bisa ada disini? Bukannya Mark tidak ke kampus, ya?”

Jung Soo tertawa dan membuat Eun Ji mengerutkan keningnya. “Aku tidak mencari Mark. Aku mencarimu.”

Dahi Eun Ji semakin berkerut. “Jangan bilang paman suka aku, ya. Aku tidak tertarik dengan om-om,” ucap Eun Ji diakhiri kekehan.

“Tenang saja, bukan kok,” Jung Soo mengatur napasnya, “Aku hanya ingin kau datang ke rumah setelah kuliah selesai.”

“Eh? Untuk apa? Aku sedang tidak perlu bantuan Mark kok, paman.” Biasanya Eun Ji akan datang ke rumah Jung Soo untuk meminta bantuan Mark mengerjakan tugasnya atau sekedar meminta makanan yang ada disana.

Jung Soo menggelengkan kepalanya.”Bukan itu,” ia lalu menatap Eun Ji dengan senyuman penuh rahasia lantas berucap,”mungkin kita perlu berbincang-bincang mengenai mata dan aroma.” Jung Soo lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Eun Ji yang semakin dilanda kebingungan.

“Apa maksudnya? Paman Jung Soo tahu itu?”

 

-o-

Mark baru saja pulang dari kampusnya. Awalnya ia mau pergi mengunjungi Eun Ji di tempat kerjanya tapi diurungkan setelah mendapatkan pesan bahwa gadis itu libur hari ini.

Sesampainya di rumah, Mark langsung disambut oleh Jessy yang sedang duduk di kursi. “Paman Jung Soo titip pesan, katanya jika bertemu kak Mark langsung suruh ke perpustakaan.”

Mark mengangguk lalu bergegas menuju ruang perpustakaan.

Alangkah terkejutnya Mark setelah membuka pintu. Bukan hanya pamannya yang ada di ruang tersebut melainkan ada empat orang asing yang sedang duduk di sofa. Dan dirinya dibuat semakin terkejut setelah mengetahui ada seorang gadis yang sangat ia kenal sedang berbincang-bincang dengan pamannya.

“Eun Ji?”

“Eh? Mark?”

“Wah, sepertinya semuanya sudah datang. Ayo kita mulai pertemuan kali ini,” ucap Jung Soo dengan nada yang kelewat senang.

.

.

.

.

tbc.

Advertisements

2 thoughts on “[1] THE INVISIBLE POWER

  1. Waaaah ini gantung banget TvT sempet ngakak waktu Eunji bilang “aku ga mau sama om om”(?) Kwkwkwk…
    Bingung sebenernya mau review apa. Ditunggu aja yaa chapter 2nya 🙂

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s