[Freelancer] Mad For Life

tumblr_n6cw7fKsrH1rtjc1po1_500

Title : MAD FOR LIFE
Author : @Bitebyeol
Cast : Lay EXO, Park Chanyeol EXO and others
Genre : Band-Life, Friendship, Mistery
Lenght : Oneshoot
Rating : General
Disclaimer :
THIS FANFICTION IS PURE MINE
ORIGINALLY POSTED IN MY OWN BLOG :
https://hanajinani97.wordpress.com/

Seharusnya kolaborasi ini akan menjadi menyenangkan seperti yang terlihat. Bukankah menarik jika kedua anggota yang berasal dari dua negara yang berbeda, menyatukan melodi hasil karyanya?

Lay melirik jarum jam di pergelangan tangan kirinya, kantuk sudah menggantung di kedua sudut mata yang tampak sayu. Namun, pria itu berusaha terjaga, sembari menegakkan posisi duduknya di sofa lobi perusahaan ia melayangkan senyuman sopan kepada staff yang melintas di hadapannya. Samar, bibir Lay membentuk seulas senyum sisa-sisa penampilannya setengah jam yang lalu. Ia merasa puas dengan kolaborasinya bersama Chanyeol. Bermula dari Lay yang mengamati Chanyeol satu tahun yang lalu.

Seoul, Dini Hari
Punggung pria bertelinga peri itu membungkuk berhadapan dengan monitor dan seperangkat alat composernya,hingga ia tak menyadari pergerakan seseorang di belakang.

“Hey , Yeol. Sedang apa kau?”

Bahunya tersentak , ia terkejut seraya melepaskan headset yang melekat di telinganya.

“Astaga, Lay Hyung. Ah seperti biasa.” Chanyeol mengulas sebuah senyuman simpul.

Lay menghentuk-hentukkan jemarinya mengikuti alunan melodi bernuansa beat. Ia berfikir, selera yang dimiliki Chanyeol cukup bagus. Lelaki itu menarik kursi lain dan mendudukkan diri ke sebelah Chanyeol. Sejujurnya, Lay sedang merasa bosan berkutat dengan beragam alat musik miliknya di kamar dorm sedari tadi.

“Chanyeol-a, bagaimana jika kita menyatukannya bersama?” Lay mengacungkan lembaran kertas berisi coretan not-not balok, buku miliknya untuk menulis lagu.

“Eoh?” Kedua bola mata Chanyeol membulat, ia tampak menimbang-nimbang. Lalu sebuah lengkungan lebar tercipta di bibirnya .
“Tentu saja ,Hyung.”

Sejak saat itu, mereka giat berlatih, menulis dan menggarap lagu bersama. Ya, selama kurang lebih setahun. Lay selalu menyempatkan waktu, terkadang Chanyeol menemui di studio pribadinya di China. Tak jarang member EXO, terutama Chen,D.O., Sehun dan Baekhyun ikut bergabung untuk memberikan ide dan kritikan.
“Yaa, Jongdae-ah, Kyungsoo-ah,Sehun-ah,Baekhyun-ah. Kalian yakin tidak mau bergabung berkolaborasi bersamaku dan Chanyeol?” Lay menatap mereka satu-persatu sebelum mmbicarakannya kepada perusahaan.

Chen dan Baekhyun menggeleng, “Tidak,hyung. Aku dan Baek sedang menyiapkan drama musical untuk 3 bulan kedepan. Tidak ada salahnya kan hanya menyumbangkan ide untuk kalian?”

“Benar, Yixing-hyung. Ini bagian dari dukungan kami.” Sehun menanggapi.

Lay mengangguk pelan. Lagipula Sehun dan D.O. juga disibukkan dengan film baru mereka, yang tentunya memerlukan promosi yang tidak sebentar.

“Geurae, mari bersulang untuk kesuksesan kita!” Suara bariton Chanyeol memecah, pria itu membuka kaleng birnya dan mengacungkannya ke udara. Sebentar saja, keriuhan mereka menghentak studio Lay.
Akhirnya setelah pertimbangan panjang, perusahaan menyetujui kolaborasi Lay dan Chanyeol dan membentuk duo untuk mereka. Berbagai bentuk dukungan mengalir, baik dari CEO, staff, sponsor dan penggemar tentunya. Album mereka sukses diterima oleh pasar dan menduduki pucak tangga lagu internasional, terutama Korea, Jepang dan China.
Hingga tak terasa sudah memasuki bulan kedua. Malam ini mereka baru saja menggelar konser di Beijing. Lelah, sudah pasti. Namun, kepuasan yang memenuhi relung dada Lay tak bisa di bayar dengan apapun. Pria itu beringsut, berjalan mendekat ke arah ruangan di mana Chanyeol belum keluar sedari tadi.
Plakk
Suasana yang sunyi membuat sebuah tamparan keras terdengar jelas di telinga Lay dan berhasil membuatnya terjaga sepenuhnya.
“Apa kau ingin menghancurkan image-mu sendiri ?” samar-samar Lay mendengar melalui celah pintu.
Chanyeol, pria bertubuh jangkung itu meringis merasakan tamparan mendarat di pipinya. Ia menatap pria-pria yang sedang mengevaluasi penampilannya di layar monitor.
“Aku lelah, kalian tahu?! Lagipula aku jamin tidak akan ada yang menyadarinya!” Suara bernada tinggi akhirnya terdengar.
“Kau pikir media akan diam? Kau benar-benar cerminan seorang idola yang buruk Chanyeol!”
Lay yang sudah tidak tahan untuk masuk menghentikan langkahnya, ketika pintu ruangan itu terbuka lebar menampakkan sosok Chanyeol. Diikuti seorang Manajer, rekannya itu mengambil kedua langkah panjangnya tergesa, jelas di bawah pengaruh emosi.
.
.
.
.
.
Bisa dikatakan ini adalah kali pertama sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi di konser mereka.
“Jangan salahkan aku, maaf telah merusak konser kita.” Chanyeol berucap di tengah perjalanan menuju Beijing Capital Airport. Setelahnya ia menyilangkan lengan dan menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.
Lay mengangguk singkat, pandangannya terfokus ke luar kaca mobil. Ia menyadari kejelian media. Pagi ini, seluruh portal berita ramai membicarakan penampilan minim keceriaan milik Chanyeol selama konser berlangsung. Terutama kesalahpahaman Chanyeol bersama seorang penggemar. Foto-foto yang beredar menunjukkan Chanyeol menepis kasar lengan gadis yang hendak menyerahkan sebuket bunga untuknya. Tentu Chanyeol tak bermaksud demikian jika gadis itu tidak menarik lengannya tiba-tiba. Namun, media selalu melebih-lebihkan. Apalagi mood Chanyeol saat itu sedang memburuk. Akibatnya Lay juga terkena imbasnya, mereka di sebut berlaku tidak ramah dan menyenangkan.
Lagipula ini bukan pertama kali Lay melihat sang rapper berlaku dingin.
Hey, tentu saja itu bukan sebuah masalah bagi member EXO. Chanyeol memang seperti itu kan. Maksudnya, Chanyeol yang sesungguhnya.

“Happy Virus”

Lay menghela nafas dalam-dalam, menggumamkan julukan Chanyeol yang disematkan oleh agency dan penggemar. Chanyeol tak selalu menebarkan kebahagiaan setiap saat, ia juga butuh waktu untuknya sendiri. Mengimbangi dengan emosi lain, ia berhak lelah, berhak marah dan juga sedih. Sama seperti halnya Lay dan member lain.
“Setelah sampai di Korea aku akan mentraktirmu makan Yeol.” Entahlah suara Lay terdengar oleh Chanyeol atau tidak kendati suara gerimis yang perlahan turun membasahi tubuh mobil.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Terakhir kali kami melihat mereka pada malam konser.” – Wang Lei Zii, EXO-L

“Mungkin kesalahpahaman itu penyebabnya.”- Victor Lee, Actor

“Aku bahkan sudah berjam-jam menunggu Chanyeol-ge dan Lay-ge di bandara.” – Nam Gi Na, EXO-L

“Seharusnya itu jadwal penerbangan mereka” – Vee Sarah Lee, FA China Airlines

“Kami tidak menemukan mereka di kamar hotel.” – Lee Doo Hyuk, Staff SM. Ent.

“Penumpang bernama Park Chanyeol dan Zhang Yixing samasekali belum melakukan check-in hingga pesawat tujuan Incheon lepas landas.” – Anthony O’Brien, Chief Management China Airlines


“Anggota Sub-unit EXO,Park Chanyeol dan Zhang Yixing Menghilang Seusai Konser di Beijing.”


Dalam sekejap topik pembahasan insiden konser sub-unit EXO berubah menjadi berita yang menyangkut pihak kepolisian. Terhitung sudah lebih dari 24 jam sejak laporan mereka di turunkan. Keberadaan Chanyeol dan Lay samasekali belum terlacak kendati nomor ponsel keduanya yang tidak aktif. Kamar hotel tempat mereka menginap sudah digeledah demi pencarian barang bukti. Namun, utuhnya koper-koper milik Chanyeol dan Lay menguatkan dugaan mereka hanya pergi sementara waktu.
“Rekaman CCTV terakhir menunjukkan Chanyeol dan Lay memasuki ruang hotel pada pukul 02.56 pagi. Kami masih menyelidiki proses ini, semua orang bisa saja di curigai, termasuk para fans, anggota,dan juga staff.” – Wang Zhao Juan, Chinese Regional Police Chief

Mungkin ini adalah akhir dari segalanya, fakta dari usainya sebuah konser. Sebuah kejahatan kriminal-kah?
Sampai Baekhyun dan Chen menangis histeris, Sehun yang berkutat dengan ponselnya yang terus-menerus menyuarakan suara operator wanita, dan Suho yang terdiam seperti orang linglung. Keputusan Baekhyun, Chen dan Suho mengambil penerbangan mendadak setelah jadwal mereka berakhir, sebagai saksi guna proses penyelidikan bagi Chanyeol dan Lay. Dugaan penculikan yang dilakukan sasaeng fans beredar, perencanaan bunuh diri dan bahkan isu pembunuhan menjadi bahan diskusi para netizens. Tidak ada yang tahu pasti, semua hanya dapat menerka dan menunggu . Namun, hanya saksi bisu yang terdiam tak mampu menjelaskan segalanya.
.
.
Four Seasons Beijing Hotel, Balcony Area 03.07 A.M.
Sekaleng bir melingkar di tangan keduanya, Chanyeol dan Lay menikmati hembusan angin di ambang balkon menjelang pagi. Mungkin memutuskan untuk tidur hanya akan terpakai tidak berguna kendati saling berbicara dapat lebih memaknai keadaan. Setidaknya untuk merilekskan ketegangan beberapa jam lalu.
“Mereka memarahimu?” Bibir Lay saling berdecak setelah meneguk birnya.
“Kau sudah tahu,Hyung. Ahh sial.” Chanyeol mengelus pipinya dengan sebelah tangan yang bebas. Rasa geram kembali membuncah mengingat insiden penamparan itu.
Lay menahan senyumnya diujung bibir , “Perangai mereka tak ada bedanya dengan segumpal lem .”
Chanyeol menoleh menyaksikan Lay yang kembali melanjutkan perkataannnya. “Maksudku, sampah.”
Chanyeol mendengus,” Lay-Hyung kau mencoba bercanda tapi tak pernah sadar candaanmu begitu buruk.”
Kontan gelak tawa terdengar dari mulut Lay, “Kau tahu aku begini ,kan Yeol.”
“Tidak, aku samasekali tidak mau tahu.” Chanyeol berdecih sinis dan meneguk birnya hingga habis. Sedikit menyesal tidak memilih kopi dingin, namun rasa malas sudah menguasai dirinya untuk kembali ke kamar.
.
“Kita patut berpuas diri bukan? Apa ini bagian dari mimpimu di masa lalu?” Pandangan Lay menembus bangunan-bangunan Kota Beijing dari puluhan meter ketinggian balkon hotel.
Chanyeol terdiam sejenak mencerna kata-kata Lay.
“Mimpi? Aku tidak begitu ingat, bagiku realisasi adalah hal terpenting di samping sekedar berharap. Mengenai kesuksesan saat ini, tidak mungkin dapat kuraih tanpa kerja keras. Dan ya, dengan menahan segala rasa sakit.”
“Sakit? Sakitkah?” Lay tertarik untuk menepuk pundak Chanyeol dengan cukup kuat kendati posisi mereka yang terduduk santai memudahkan Lay melakukan apa saja.
“Ya!” Chanyeol memandang Lay dengan garang namun selanjutnya ia tersenyum samar ketika diingatnya keadaan Lay jauh lebih menyakitkan di banding dirinya. Hemofilia yang Lay derita tak jarang membuatnya repot.
Chanyeol urung membalas lalu mengikuti arah pandang Lay yang menunjukkan raut wajah serius menerawang angkasa.
“Kau tahu UFO Chanyeol?” Chanyeol berdecak. Unidentified Flying Object, siapa yang masih percaya dongeng anak-anak-ah tidak lebih tepatnya takhayul di masyarakat. Terkecuali jika dikaitkan dengan debut band mereka, EXO yang mengangkat kisah para alien dari planet luar tata surya. Lagipula hal itu sengaja di buat untuk kepentingan perusahaan dan masa depan mereka. Yah, mungkin saja dengan sedikit memanfaatkan takhayul yang terlanjur dipercayai sebagian orang. Namun untuk Chanyeol pribadi, hal-hal seperti itu tentu saja tidak ada.
Lay menoleh menunggu Chanyeol yang tak kunjung menjawab dan rekannya itu malah memberikan tatapan aneh kepadanya. Chanyeol tidak percaya ternyata Hyung yang berselisih umur 1 tahun dengannya itu mempercayai sesuatu diluar kata realistis.
“China termasuk salah satu daerah yang sering menjadi tempat lintasan UFO.” Lay kini sibuk dengan layar ponselnya dan menunjukkan salah satu website astronomi intenasional. Chanyeol rasa website itu sudah mengarah menuju cerita fiksi.
“Lay Hyung, jika UFO itu ada , aku akan mewujudkan mimpiku detik ini untuk pergi kesuatu tempat. Yang kuharap dimana tidak ada segala jenis kekerasan di sana. Lalu kita dapat menyelenggarakan konser dengan tenang dan menyenangkan.” Seusai mengatakan itu Chanyeol tersenyum miring, mungkin sudah cukup untuk membalas pembahasan dan pertanyaan aneh dari Lay.
Lay tergelak hebat mendengar keinginan Chanyeol, “Ya, dan aku akan ikut bersamamu.”
Sebentar lagi pagi akan menjelang, tak lama matahari akan terlihat saat disaksikan diujung langit seberkas cahaya putih yang semakin-lama semakin membesar hingga menyilaukan mata Chanyeol dan Lay. Kedua pemuda itu sampai menutupi pandangannya dengan lengan. Sinar matahari yang biasanya hangat kali ini terasa ganjil hingga meggetarkan tubuh mereka . Pemandangan di sekitar kota hanya tampak putih keseluruhan yang lambat laun menyorot tempat dimana Chanyeol dan Lay berpijak. Lay mencoba menilik dari ujung matanya dan terlihatlah Chanyeol yang sudah melebarkan pandangannya. Mereka saling berpandangan dan terkejut setengah mati ketika melihat tubuh keduanya menipis seperti hologram perak dan tersedot ke sebuah lubang besar. Tepat di atas kepala Chanyeol dan Lay, sebuah benda besi yang sangat besar berwujud piringan segienam menutup dari kedua sisinya.

“Chanyeol!”
“Lay Hyung!”
“Tempat apa ini? Mengapa seperti syuting film.”
“Lihat GPS!”
“Buka lokasi di maps!”
“Sinyal ponselku hilang.”
“Ponselku juga.”
“Lay Hyung!”

 

mad for life - sblm note author

 

¶ Thanks buat kak Lia Hanifa aka admin Laykim mau smsan sama aku kemarin, hoho
Fanfic ini hanya fiksi ya, tidak bermaksud menyinggung siapapun dan udah pernah di pos di salah satu blog dan khususnya blog pribadiku.
Jika ingin membaca karya-karya ff absurd lain bisa di mampir di http://www.hanajinani97.wordpress.com Mohon reviewnya, Gamsa , Annyeong ~

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s