[Ficlet] Best Friend

#a

Best Friend

a Ficlet Storyline By Berly ©2016

Starring : [EXO] Oh Sehun & Park Chanyeol.
| Slice of Life, Hurt/Comfort, Fluff, Friendship, Brothership | General | Ficlet (900+ words) | (Also post in my personal blog).

I Just own the plot! No plagiarism! And Happy Reading!

.

—Mati satu, tumbuh seribu.—

.

Katup mulutnya menguap lebar, kedua matanya masih membutuhkan kesadaran lebih setelah bangun dari tidur sorenya. Pemuda itu bangkit sedikit gontai dari ranjang, berjalan dari kamar menuju dapur kecilnya, bertujuan untuk mengambil segelas air putih karena tenggorokkannya terasa kering sekering gurun pasir tak berair. Malam ini Sehun kembali memiliki banyak waktu luang di kamar flat-nya setelah di hari-hari sebelumnya sibuk pindah kerja sana-sini, yang akhirnya dapat banting tulang paruh waktu juga di suatu kafe, namun sialnya, tepat siang tadi, ia kembali dipecat mendadak hanya karena tak sengaja memecahkan satu piring—well, belum termasuk embel-embelnya, sih.

Sehun menggaruk kepalanya yang dirasa gatal, meneguk air bening itu yang sungguh melegakan rasa hausnya.

Tok tok tok …

Pintu kamar flat Sehun berbunyi. Siapa yang malam-malam begini repot bertandang ke tempat kecilnya? Pikir Sehun heran. Dengan ekspresi datar ogah-ogahan pemuda itu melenggangkan langkahnya mendekati pintu. Dibukakannyalah pintu itu, kontan wajah si tamu yang ternyata adalah Park Chanyeol—sahabat karibnya sejak SMA—kini terlihat di hadapan Sehun.

“Oh, ternyata kau, ada apa?”

“Boleh aku masuk?” Kata Chanyeol seraya menyeringai, lalu menunjukkan sebuah bungkusan kotak berbalut plastik putih rapi padanya. Sehun pun memilih menurut—sedikit menyingkir—isyarat memperbolehkan Chanyeol masuk ke dalam.

“Apa itu yang kau bawa?” Sehun menuai tanya sembari tangannya bekerja menutup pintu.

Chanyeol yang baru membuka mantel tebalnya langsung duduk di kasur kecil Sehun, lantas menyandarkan punggungnya di tembok untuk melepas sedikit penat—berjalan kaki dari gang utama hingga ke pekarangan flat susun ini lumayan menguras tenaga juga.

“Aku mencarimu tadi sore di Rai kafe, eh, ternyata kau sudah tidak bekerja di sana lagi sejak siang tadi, kenapa?”

Sehun pun duduk dengan polah lesu di sebelah Chanyeol, “Memecahkan piring.”

Chanyeol mengangkat kedua alisnya berikut sedikit melebarkan kedua matanya karena heran, “Hanya itu?”

Sehun mengedikkan bahu, memasang ekspresi malas untuk membahasnya—Chanyeol sudah mengerti, “Memangnya kenapa kau mencariku? Bukannya kau sibuk dengan pekerjaanmu di kantor penerbit?” Tukas Sehun sedikit sarkastik.

Chanyeol mulai mengangkat senyumnya lagi, “Hari ini aku sengaja tak terlalu menyibukkan diri di kantor, khusus untuk menemuimu, Sobat.” Chanyeol mengambil kotak yang dibawanya—yang tadi sempat ditaruhnya di meja nakas.

Sehun melirik kotak tersebut, lalu memandang Chanyeol dengan pandang penuh tanda tanya besar.

“Selamat ulang tahun, Oh Sehun,” Kata Chanyeol kemudian, sembari membuka kotak tersebut yang ternyata isi di dalamnya adalah kue brownies cokelat kesukaan Sehun, “Aigoo, sobatku yang satu ini terlalu sibuk memikirkan hidup, hingga hari jadinya sendiri saja sampai kelupaan.” Sambung Chanyeol seraya menyiapkan lilin berbentuk angka 23 di atas pemukaan kue tersebut.

Sehun sedikit berdecak, “Untuk apa juga aku mengingatnya, itu ‘kan tandanya aku semakin tua dan umurku semakin berkurang di dunia.” Ujar Sehun pelan—seperti lesu dan semangatnya tertelan kerapuhan.

“Eiih … setidaknya, dengan mengingat atau merayakannya, orang-orang terdekatmu bisa mendoakanmu panjang umur, Sehun-ah. Ayolah, ini hari ulang tahunmu, kau harus berbahagia, bukannya malah sedih tak bersemangat seperti ini.” Ujar Chanyeol menyemangati.

“Hadiahku sudah kuterima siang tadi, seharusnya kau tidak perlu rep—-,”

Chanyeol membungkam mulut Sehun dengan tangan kanannya, “Heh! Sudahlah, jangan banyak bicara yang aneh-aneh, sahabatmu di sini sekarang untuk merayakan ulang tahunmu dan mendoakanmu, kau tidak boleh menggerutu, buat saja permohonanmu, tiup lilinnya, potong kuenya, dan makan kuenya!” Tegas Chanyeol sedikit kesal.

Sehun menatap Chanyeol datar, sebal, kala Chanyeol sudah melepaskan genggaman tangannya dari mulutnya. Ia mencoba menuruti permintaan Chanyeol walau hatinya merasa tidak ingin. Sehun pun memejamkan kedua matanya, mengharapkan sesuatu di dalam kalbu, lantas meniup lilin itu cepat, agar mulut Chanyeol tidak bawel lagi.

“Nah, begini ‘kan bagus.” Chanyeol kembali tersenyum, ketika Sehun dan dirinya sudah memakan kue brownies cokelat itu bersama-sama.

“Lalu, apa?” Sehun kembali mengajukan tanya singkat—masih tanpa hasrat, meski sebersit rasa syukurnya kini mulai menguar menyelimuti hati, karena mempunyai sahabat perhatian seperti Chanyeol.

“Lalu, ini. Hilang satu, tumbuh seribu. Kebetulan sekali ‘kan? Ini memang rezekimu, Sehun.” Chanyeol menyodorkan selembar kertas—tepatnya kartu nama perusahaan penerbit tempatnya bekerja kepada Sehun.

Sehun masih bingung akan kartu pemberian Chanyeol.

“Ada lowongan kerja di perusahaan penerbit tempatku bekerja, yah, meski jabatannya tidak tinggi, tapi lumayanlah daripada Office Boy. Kau ‘kan menguasai komputer dan bahasa Jepang, tidak ada salahnya mencoba menjadi translator sembari menamatkan Sarjanamu.”

Sehun masih memilih geming memandangi tulisan di dalam lembar kartu perusahaan yang diberikan Chanyeol, “Chanyeol, eungg … aku tidak ingin punya utang budi padamu ….”

Chanyeol berdecak, “Hey, hey, siapa juga yang minta balas budi darimu, Sehun. Sudahlah, hmm, aku rasa aku harus pergi sekarang. Ada janji bertemu dengan pacarku malam ini,” Chanyeol terkekeh, bangkit dari duduknya, lalu mengambil mantel tebalnya untuk dikenakan.

“Ah, kau mau pergi sekarang? Buru-buru sekali, tidak ingin minum dulu?” Sehun ikut bangkit dari duduknya.

“Ya, Youngmi sudah mengirimiku pesan, jadi aku harus pergi sekarang. Minum? Boleh, deh. Aku menunggumu menawarkan air mineral sedari tadi, omong-omong.” Kata Chanyeol menyindir. Sehun hanya terkekeh pelan.

Setelah memuaskan rasa hausnya, Chanyeol pamit. Wajah Sehun yang tadinya muram kini telah berubah jadi cerah—secerah langit malam ini yang bertaburan bintang.

Sebelum langkah Chanyeol semakin menjauh, Sehun tiba-tiba berteriak, “Chanyeol!”

Chanyeol menghentikan langkah sejenak, lantas menolehkan atensinya pada Sehun.

“Terima kasih banyak! Kau, hati-hati di jalan, salam untuk Youngmi!” Sehun tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya untuk Chanyeol. Chanyeol pun balas tersenyum dan melambai sebelum kembali berjalan menjauhi pekarangan kamar flat Sehun.

Mati satu, tumbuh seribu. Karena saling mendoakan itu juga penting. Sehun amat teramat bersyukur memiliki sahabat baik dan tulus seperti Chanyeol, maka dari itu, pemuda itu juga akan membalas mendoakan Chanyeol—agar pemuda itu panjang umur dan sehat selalu. Teman, sih, banyak. Tapi yang tulus dan tahu segala busuk tentangnya, itu jarang, bisa dihitung dengan sebelah jari tangan.

Ada beberapa hal yang kini telah ditancapkan di dalam benak juga hati Sehun.

Ia akan terus bekerja keras pantang menyerah untuk dirinya dan keluarganya, menyayangi diri, dan selalu mengingat nama teman baiknya, Park Chanyeol.

.

.

FIN

Selamat ulang tahun Oh Sehun yang ke 23, atau, kalau di umur  Internasionalnya 22 tahun. Semoga sehat selalu dan panjang umur, kusayang dikau dan Park Chanyeol 🙂 /PLAK/

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s