[Winter Event] The Darkest Side

Cover

Title                  :    The Darkest Side

Poster by          :    Vieveelaristy @Vieveelaristy’s Art Work

Author              :    Kurnia Kristiani Lahagu (Vieveelaristy)

Casts                 :    Park Eun Hwa (OC), Park Ji Hye (OC), Park Shin Hye, Cho Kyuhyun, Kim Myungsoo

Genre               :    Mistery, Family, Romance, Hurt-Comfort

Rating               :    PG-17

Length              :    One Shot

Discalimer        :    Except OC, the casts are belong to themselves. But the story is MINE!! Purely come from my deepest mind. Don’t copy paste! Don’t Plagiat!

                               Hai… aku sebenarnya gak yakin dengan cerita ini. Tetapi whateverlah, apa yang terjadi biarlah terjadi (eaaak!!) Hehehe bisakah aku berharap vote dan komen dari kalian? Mengharap jadi pemenang tidak ada salahnya bukan? (hohoho)

                               Happy Reading….

 

 

Author’s POV

HILANG

Park Shin Hye

Umur: 26 tahun

Jenis kelamin: Perempuan

Ciri-ciri: Rambut ikal panjang, hidung mancung, bibir tipis. Terakhir kali terlihat sedang mengenakan dress merah muda, membawa tas merah dan mengendarai mobil audi suv warna silver.

Tolong hubungi : Park Jung Nam,

Alamat: Paju, Gyeonggi, Seoul

No telp: +82 10 5805 205

Tolong temukan putri kami. Tolong…

Eun Hwa menatap selebaran di tangannya sebentar sebelum akhirnya melekatkannya di dinding lorong kampusnya. Paru-parunya seketika mendadak sesak. Mendesak buliran bening yang akhir-akhir ini terlalu sering keluar dari sudut matanya. Maniknya kembali melirik foto yeoja cantik yang tersenyum manis dari selebaran itu. Membuat air matanya semakin mengalir deras. Tak tertahankan.

“Eonni….. kau dimana?” bisiknya lirih.


 

Sudah lebih dua minggu semenjak Park Shin Hye menghilang tanpa jejak. Dan selama dua minggu itu pula keluarga Park berada dalam kedukaan yang teramat dalam. Suasana rumah terlihat sangat suram. Park Mi Hye tak henti-henti menangisi putri kesayangannya itu. Sementara Park Jung nam bahkan terlihat lebih buruk. Pria paruh baya tersebut memang tidak menangis, dia hanya diam dengan wajah mengeras. Tapi hanya sekilas saja, maka kau akan melihat kesedihan yang teramat sangat tersirat jelas dari wajahnya.

Dan selama dua minggu itu pula tidak ada satupun di antara mereka yang berbicara pada Eun Hwa.

Eun Hwa menatap kedua orang tuanya dengan tatapan nanar.

Mereka masih menyalahkannya.

Seharusnya hari itu Eun Hwa tidak meninggalkan Shin Hye sendiri. Seharusnya hari itu dia menolak ajakan Ji Hye untuk bertemu. Sialan! Mereka keluar dari rumah bersama-sama. Berada dalam audi itu bersama-sama. Merencanakan kejutan untuk Cho Kyuhyun bersama-sama.

Tuhan…..

Apakah saat itu adalah saat terakhir mereka bersama-sama?

Demi Tuhan! Seandainya dia bisa, dia ingin menukar seluruh hidupnya agar waktu kembali mundur. Ke hari kejadian itu.

Polisi sudah mencari kemana-mana, dan Shin Hye tetap tidak bisa ditemukan. Ayah mereka bahkan sudah menyewa detektif ternama tetapi tetap saja hasilnya nihil.

Park Shin Hye lenyap begitu saja.

Banyak spekulasi yang bermunculan. Ada yang mengatakan Shin Hye diculik sindikat perdagangan manusia. Ada pula yang berkata Shin Hye mengalami kecelakaan, mobilnya jatuh ke jurang yang dalam. Dan yang lebih parahnya, ada yang mengatakan Shin Hye dibunuh oleh seorang maniak yang kejam. Badannya dimutilasi hingga menjadi potongan kecil-kecil dan dibuang ke sungai terpencil di dalam hutan untuk menghilangkan jejak.

Brengsek!

Satupun tidak ada yang mencoba membuat suasana sedikit lebih baik.

Eun Hwa menghela nafas panjang. Kemudian perlahan gadis itu menuruni tangga dan mendekati kedua orang tuanya.

“Appa, eomma, makan siang sudah siap. Tolong makanlah sedikit saja. Dari kemarin kalian belum makan apa-apa. Aku tidak ingin kalian sakit. Oh ya eomma, aku sudah membuat udang scampi kesukaanmu. Kajja”

Tidak ada sahutan.

“Appa… eomma… kajja” bujuk Eun Hwa lagi.

“Hentikan!!!” jerit ibunya. Membuat Eun Hwa tersentak kaget. Wanita paruh bayah itu kini beranjak dari tempat duduknya dan menatap Eun Hwa tajam.

“Makan! Makan! Kau pikir di saat seperti ini aku ingin makan?! Demi Tuhan! Anakku Shin Hye menghilang! Aku tidak tahu apa dia baik-baik saja atau tidak. Aku bahkan tidak tahu apa dia sudah makan atau tidak. Dan kau! Tentu saja kau tidak peduli putriku hilang atau tidak. Kau senang sekarang bukan karena dia tidak ada. Kau senang kan! Dasar anak haram!”

Rasanya amat menyakitkan. Bagai ditusuk ribuan sembilu. Dengan nanar Eun Hwa mengalihkan pandangan ke arah ayahnya. Tetapi ayahnya hanya diam dengan wajah mengeras. Dingin dan tak peduli.

Dan tanpa berpikir lagi, gadis itu pun berlari keluar. Meninggalkan rumah.

Dasar anak haram!

Kata-kata itu kembali terngiang.

Ji Hye…. aku butuh Ji Hye… hati Eun Hwa menjerit.


 

Air mata gadis itu kembali mendesak keluar sementara dirinya terus berlari keluar dari pintu. Meninggalkan rumah. Tidak peduli dengan sekitar sehingga praktis tidak melihat seorang namja tengah berjalan dari arah yang berlawanan.

“Argh!”

Eun Hwa menabrak tubuh itu keras. Sedikit limbung, tetapi untung saja sepasang tangan kekar memeganginya. Saat aroma mint itu menyerang penciumannya, saat itu pula jantungnya berdebar tak wajar.

Cho Kyuhyun.

Manik tajam Kyuhyun menatap Eun Hwa khawatir. “Eun Hwa? Kau tidak apa-apa?”

Dengan cepat gadis itu memulihkan kesadarannya. Kemudian dia menggeleng pelan. “Tidak oppa, aku baik-baik saja” ujar Eun Hwa mencoba mengusap sudut matanya.

Dan tersenyum.

Tetapi tampaknya tidak mudah meyakinkan laki-laki itu. Karena Kyuhyun malah semakin menatapnya penuh selidik.

“Kau menangis?” tanyanya

Eun Hwa merutuki butiran bening yang tampaknya tidak bisa berhenti keluar dari pelupuk matanya. Meski ia berusaha sekuat tenaga. “Ti… tidak oppa” sangkal gadis itu.

“Kau menangis. “ tegas Kyuhyun. Sebuah pernyataan yang tidak dapat disangkal lagi.

Eun Hwa menundukkan kepalanya. Kemudian lengan Kyuhyun merengkuhnya. Memeluknya erat. Menenangkannya. Sontak gadis itu dibanjiri perasaan hangat. Membuat air matanya tidak dapat dibendung lagi.

“Eonnie, oppa… apa kau sudah menemukan… eonnieku?” bisik Eun Hwa di tengah isakannya.

Ekspresi kesakitan mewarnai wajah tampan namja itu. Dia hanya mampu menggeleng tanpa kata.

Eun Hwa tahu betapa menderitanya Kyuhyun selama Shin Hye menghilang tanpa kabar. Namja itu sangat tersiksa. Semua orang tahu perjuangan Kyuhyun mencari keberadaan Shin Hye. Terus menerus. Tanpa henti. Nyaris gila!

Tentu saja. Karena Shin Hye adalah semesta Kyuhyun. Kekasih, tunangan dan calon istri Kyuhyun. Demi Tuhan, minggu depan adalah hari pernikahan mereka.

Kyuhyun melepas pelukannya dan kemudian mengusap lembut air mata Eun Hwa. “Jangan khwatir adik kecil. Aku akan mencari Shin Hye. Aku janji! Dia akan baik-baik saja. Dia akan kembali. Pasti” janji Kyuhyun yang entah kenapa mampu membuat perasaan Eun Hwa tenang.

Eun Hwa mengangguk cepat.

“Aku ingin bertemu eomeonim dan abeonim. Mereka ada di dalam?” tanya Kyuhyun. Mendengar itu Eun Hwa terpekur sejenak. Kata-kata menyakitkan ibunya kembali terngiang. Kemudian dia menghembuskan nafas pelan.

”Iya, mereka ada di dalam oppa”

Lalu Kyuhyun berjalan masuk menuju pintu. Tetapi sebelumnya dia kembali menoleh ke arah Eun Hwa.

“Kau tidak masuk adik kecil?”

Eun Hwa menggeleng sembari berusaha menyembunyikan kesedihannya. “Aku harus pergi sebentar oppa, nanti aku kembali”

Ya, dia harus pergi. Menemui Ji Hye. Karena saat ini dia hanya butuh Ji Hye.


 

Eun Hwa’s POV

Elusan lembut di kepalaku sontak membuat mataku terbuka. Dan terjaga sepenuhnya.

“Ji Hye?” bisikku.

“Aku ada di sini adik.”

Aku bangkit sepenuhnya dari tidurku. Menatap sosok gadis yang terlihat sama persis denganku. Rambut yang persis, mata yang persis, hidung yang persis, bahkan senyum yang sangat persis.

Park Ji Hye. Saudara kembarku.

“Oh, Ji Hye…”

Kupeluk Ji Hye erat-erat. Meluapkan segala nestapaku padanya. Aku benar-benar sangat membutuhkannya. Air mataku kembali mengalir deras.

“Menangislah adik kecil, menangislah. Luapkan semua. Aku di sini bersamamu”

“Aku tidak sanggup lagi Ji Hye”

Ji Hye kembali mengelus kepalaku dengan lembut.

“Apa ini gara-gara wanita itu lagi?”

“Eomma, eomma benar-benar tidak menyayangiku Ji Hye. Dia sangat membenciku. Kapan dia bisa menerimaku Ji Hye. Padahal demi Tuhan, aku sangat menyayanginya.”

Ji Hye menyentak tubuhku dari pelukannya.

Dan menatapku tajam.

“Sudah berapa kali kukatakan Eun Hwa, wanita itu bukan eomma mu! Dia bukan ibu kita. Ibu kita sudah lama meninggal. Dia adalah alasan appa meninggalkan eomma dan kita. Eomma kandung kita!” bentak Ji Hye.

“Ji Hye….” ujarku lirih.

“Dan sudah berapa kali kukatakan padamu untuk meninggalkan rumah sialan itu dan tinggal bersamaku. Demi Tuhan Eun Hwa, aku tidak ingin melihatmu terus tersiksa di sana. Aku ada di sini! Aku bisa merawatmu!”

“Ji Hye…”

Aku menunduk. Benar, Ji Hye selalu ada untukku. Selalu ada di segala suka dukaku. Dia adalah tamengku. Pelindungku. Aku ingin sekali tinggal bersamanya, tetapi…

“Tidak Ji Hye, aku tidak mungkin meninggalkan rumah itu. Di situ ada appa, ayah kandung kita. Dan meskipun eomma Mi Hye membenciku, aku menyayanginya. Dan Shin Hye eonnie….”

Dadaku sesak. Membuat linangan di mataku semakin keluar dengan deras. Ji Hye menatapku simpati.

“Dia masih belum ditemukan?”

Aku mengangguk. “Itu semua salahku Ji Hye. Seharusnya aku tetap bersama eonnie waktu itu. Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi sendiri. Ini salahku. Salahku.” Kepalaku kembali tertunduk dan aku menenggalamkan kepalaku di lutut. Bahuku berguncang akibat isakan.

Hening sejenak. Tak ada yang bersuara. Hanya suara tangisku saja yang terdengar.

“Eun Hwa, tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Aku janji. Kau tidak akan bersedih lagi. Kau tahu kan, aku selalu melakukan apapun agar kau bahagia?”

Meski kata-kata itu terasa aneh di telingaku. Aku tetap mengangguk. Setidaknya masih ada Ji Hye. Dan aku bersyukur karena itu.


 

“Biar kubantu”

Suara rendah itu sontak mengagetkanku. Dan sebelum aku bisa berkata apapun, selebaran di tanganku sepenuhnya beralih ke tangannya. Lesung pipi menghiasi wajahnya yang tampan saat aku masih terpaku menatapnya.

Kemudian dia menempelkan selebaran itu di tembok.

“Hei, kenapa kau masih di situ?”

“Myungsoo oppa?”

Kim Myungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ayo lah kemari. Bantu aku. Lebih cepat lebih baik bukan?”

Aku mengangguk. Myungsoo menyodorkan kembali selebaran itu ditanganku. Aku memegangnya sementara dia yang menempelkannya di tembok.

Aissh! Aku benci sekali air mata ini. Kenapa aku selalu saja menangis?

“Hei, hei, Eun Hwa? Kau menangis?” tanya Myungsoo.

Aku menggeleng. Tetapi air mata yang jatuh itu mengkhianatiku.

“Jangan menangis lagi Eun Hwa, kau tahu itu menyakitkan. Semua akan baik-baik saja. Shin Hye akan segera ditemukan” ujarnya pelan.

Lalu dia mengelus puncak kepalaku.

Membuat dadaku semakin sesak oleh rasa bersalah.

Kenapa? Kenapa dia masih ada di sini? Kenapa Kim Myungsoo masih peduli padaku?

Seharusnya dia membenciku!

Aku sudah menolak dirinya. Aku sudah menyakitinya. Aku tidak bisa membalas perasaanya. Aku menolak lamarannya.

Karena memang hatiku sudah terpaut lama pada orang lain. Orang lain yang juga tidak akan bisa kumiliki.

Tetapi kenapa dia masih di sini?

Lalu tiba-tiba ponselku berdering. Membuat kami berdua tersentak. Dengan sedikit terburu-buru aku mengambil benda itu dalam tasku.

Kyuhyun Oppa is calling

Ada apa?

“Yeobseyo? Kyuhyun oppa? Ada apa?’’ tanyaku

“Eun Hwa…. Shin Hye…Shin Hye…”

Jantungku berdegup kencang. Tuhan, semoga bukan berita buruk.

“Shin Hye eonnie? Ada apa oppa?!”

“Shin Hye berhasil ditemukan! Dia selamat! Dia sudah ditemukan!!”

Teriakan gembira Kyuhyun oppa menyentakku keras. Tuhan semoga ini bukan mimpi. Jika ini mimpi maka aku akan mati.

Dan seketika itu pula aku berteriak. Penuh kebahagiaan.


 

Author’s POV

 

Eun Hwa melangkah memasuki halaman rumah itu dengan ragu-ragu. Bukan karena takut. Tetapi lebih karena rasa tidak percaya.

Ya, tidak pernah terbersit di pikirannya Shin Hye akan diculik dan disekap di dalam rumah tua ini.

Rumah tua yang sangat dia kenal, dulu sekali.

Rumah ibu kandungnya. Rumah masa kecilnya.

“Di sini?”

Polisi yang menjemput dan mengantar mereka mengangguk singkat. Sesaat setelah menerima telepon dari Kyuhyun, Myungsoo dan Eun Hwa bergegas ke rumah keluarga Park. Tetapi sesampainya di sana. Dua orang polisi menyambut mereka dan berkata bahwa Tuan dan Nyonya Park sudah berada lebih dulu di tempat Shin Hye disekap. Eun Hwa memandangi Myungsoo. Dan dia terlihat sama bingungnya dengan gadis itu.

Sontak bayangan masa lalu berkelebat begitu saja di benak Eun Hwa.

“Eomma! Eomma aku lapar!”

“Dasar anak nakal! Aku benci! Aku benci kau! Kau sudah menghancurkan hidupku! Seharusnya kau tidak pernah ada!”

“Eomma! Sakit eomma! Jangan pukul lagi… sakit…”

“Eomma! Kami lapar eomma! Bangun eomma… bangun eomma”

“Bangun Eomma…..”

Tubuhku nyaris limbung. Tetapi dengan cepat Myungsoo menahanku. Wajahnya panik.

“Eun Hwa? Kau tidak apa-apa? Astaga wajahmu pucat”

Eun Hwa menggeleng. “Tidak oppa, aku hanya lelah”. Myungsoo menatap gadis itu sedikit kesal. “Kau itu memang keras kepala. Terlalu memaksakan diri. Kajja! Kita masuk ke dalam. Kau sudah tidak sabar bertemu Shin Hye noona bukan?”

Mendengar nama Shin Hye, rasanya bagai ada suntikan energi mengalir deras di tubuh Eun Hwa. Membuat gadis itu tersenyum cerah dan tersenyum semangat.”


 

Shin Hye tampak sangat berbeda. Seperti bukan dia. Wajah cantiknya terlihat lusuh. Rambut indahnya kusut karena tidak disisir berhari-hari. Matanya redup, tubuhnya terlihat lebih kurus. Dan dia masih sangat shock.

Meski begitu, bisa melihat Shin Hye lagi benar-benar merupakan anugerah yang luar biasa bagi Eun Hwa. Rasanya luar biasa lega. Seperti beban berat di pundaknya terangkat sepenuhnya. Bahagia yang tiada terkira menyelimutinya..

“Eonnie!!!” Teriak Eun Hwa sembari berlari seketika ke arah Shin Hye. Hendak memeluk gadis itu erat-erat.

Tetapi alangkah terkejutnya gadis itu saat Shin Hye malah beringsut mundur dan langsung bersembunyi di balik punggung Kyuhyun. Gadis itu terlihat sangat ketakutan dan berteriak histeris. “Tidak! Jangan dekat-dekat!”

“Eonnie?”

Ada apa ini? apa yang terjadi dengan Shin Hye? Apa jangan-jangan, dia terkena semacam amnesia di kepalanya? Pikir Eun Hwa.

“Ini aku Eonnie, adik mu, Park Eun Hwa” ujar Eun Hwa pelan.

Tetapi reaksi Shin Hye tidak seperti yang diharapkan. Gadis itu malah mulai menangis dan berteriak “Jangan dekati aku lagi! Pergi sana! Pergi!”

Eun Hwa terpaku. Berusaha mencerna situasi di hadapannya. Kenapa Shin Hye seperti ini? kenapa dia takut padaku? kenapa dia tidak ingin aku mendekatinya? Memangnya apa yang sudah kulakukan? Batin Eun Hwa terus bertanya.

Lalu seorang pria bertubuh tegap menghampiri dirinya. Sembari menunjukkan lencana dia berkata. “Nona Eun Hwa, saya detektif Jung.”

Eun Hwa yang masih terlihat bingung menyambut uluran tangan Detektif itu seraya tersenyum singkat.

“Baiklah, karena semua sudah ada di sini, saya ingin mengatakan sesuatu. Nona Park Shin Hye sudah berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Meskipun yah, kondisinya masih terlihat lemah, tetapi kita patut bersyukur bahwa dia baik-baik saja. Dan sekarang, saya juga akan memberitahu bahwa ternyata si penculik dan penyekap nona Shin Hye ternyata sudah ada di sekitar kita. Well, maksud saya, dia ada di sini. Saat ini”

Semua terkejut. Tidak percaya. Penculik Shin Hye ada di sini? Tidak mungkin!

Detektif Jung mendekati Shin Hye dan menuntun gadis itu keluar dari balik punggung Kyuhyun. “Nona Shin Hye, bisa anda tunjukkan siapa yang selama ini sudah menculik dan menyekap anda?”

Hening. Bahkan hembusan nafas pun tidak terdengar.

Tentu saja karena semua sedang menahan nafas.

Dan menunggu…..

Dengan pelan Shin Hye mengangkat kepalanya memandangi Kyuhyun sejenak, lalu beralih ke orang tuanya, ke arah Myungsoo dan berakhir kepada Eun Hwa.

Lalu telunjuk gadis itu terangkat. Bergetar. Tetapi dengan tegas terancung lurus ke arah seseorang.

Ke arah Park Eun Hwa


 

Eun Hwa terpaku saat telunjuk Shin Hye terancung lurus ke arahnya. Untuk sesaat otak gadis itu beku.

Kenapa Shin Hye menunjuknya?

Lalu detik itu pula kepahaman menghantamnya dengan keras.

Apa ini? Maksudnya dia adalah pelakunya? Dia yang menculiknya?

Omong kosong macam apa ini!

“M…Mwo?!” Pertanyaan itu terlontar otomatis dari mulut Eun Hwa. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanya lelucon belaka.

April Mop bahkan bukan hari ini.

“Y..ya.. Di..dia yang menculikku” ujar Shin Hye gugup. Kentara sekali ketakutan masih menyelubungi gadis itu.

“Eonnie! Apa maksudmu?! Lelucon macam apa ini?! aku tidak mungkin menculikmu!” pekik Eun Hwa.

Astaga, mana mungkin dia. Ini bahkan pertama kalinya gadis itu bertemu lagi dengan Shin Hye semenjak terakhir kali kakaknya itu menghilang.

Pandangan semua orang kini terfokus padanya. Eun Hwa tahu tatapan itu. Tatapan kaget dan menuduh.

“Tidak!! Memang kau yang menculikku Eun Hwa! Kau yang menyekapku di rumah itu! Itu kau! Kau!”

“Tidak mungkin!” Kini Myungsoo yang berteriak membela Eun Hwa.

“Mana mungkin aku salah! Itu benar-benar kau Eun Hwa! Itu wajahmu!”

Lalu sekali lagi kepahaman menyerang Eun Hwa. Kali ini lebih keras dan sangat menyakitkan. Tidak mungkin. Ini pasti salah.

“Ji Hye?”

Myungsoo menatap Eun Hwa bingung. Kini semua tatapan mengarah kepadanya.

“Itu Ji Hye…” suara Eun Hwa begitu lirih. Nyaris seperti bisikan.

“Ji Hye?” tanya Myungsoo.

“Siapa itu Ji Hye, nona Eun Hwa?” tanya detektif Jung.

Rasa sakit menghantam ulu hatinya saat dia menyebut nama itu. “Park Ji Hye. Saudara kembarku”


“Ji Hye! Buka pintunya! Ji Hye!!!” teriak Eun Hwa panik.

Di belakang tampak beberapa polisi, kedua orang tuanya, Shin Hye, Cho Kyuhyun dan Myungsoo terus memandanginya yang sedang menggedor-gedor pintu sebuah apartemen.

“Dia pasti sedang pergi. Dia memang sering tidak ada di rumah. Tetapi aku punya kunci apartemennya” ujar Eun Hwa sambil merogoh tasnya dan mengambil sebuah kunci kemudian membuka pintu.

“Ji Hye! Ji Hye! Ini aku Eun Hwa! Keluarlah, mengapa kau menculik Shin Hye eonnie? Ji Hye! Ji Hye” Panggil Eun Hwa.

“Apa kau punya nomor teleponnya nona Eun Hwa?”

Eun Hwa terdiam. Nomor telepon? Astaga kenapa dia baru menyadari hal itu. Selama ini Eun Hwa tidak pernah tahu nomor telepn Ji Hye. Setiap kali ingin bertemu Ji Hye, Eun Hwa akan datang ke apartemen ini dan menunggu Ji Hye datang. Dan entah kenapa tidak pernah terbersit sekalipun dalam pikirannya untuk menelepon atau menghubungi Ji Hye.

Eun Hwa menggeleng pelan. Lalu dia berkata “M..mungkin sebentar lagi dia akan pulang. Kita tunggu saja”

“Omong kosong! Kau tidak punya saudara kembar Eun Hwa!” bentak Park Mi Hye.

“Aku punya!”

“Tidak mungkin!”

“Kalau memang kau punya Eun Hwa, kenapa kami tidak tahu?” tanya Mi Hye.

“Ji Hye tidak mau kalian tahu. Dia tidak mau!”

“Kau memang tidak punya saudara kembar Eun Hwa. Ibumu tidak pernah memberitahuku” ujar Park Jung Nam tiba-tiba. Membuat Eun Hwa tersentak. Karena praktis selama hampir dua minggu ini, itu adalah kalimat pertama yang diucapkan ayahnya padanya.

“Ibuku memang tidak pernah peduli pada kami, aku bahkan tidak heran jika dia tidak memberitahumu tentang kembaranku”

“Lapor pak, setelah kami selidiki, tidak pernah ada yang bernama Park Ji Hye di sini” ucap seorang polisi yang baru saja muncul tiba-tiba. Bersama pasangan tua yang kukenal sebagai tetangga apartemen Ji Hye.

“Apa?”


 

“Nona di sanalah penghuni apartemen ini pak polisi” ujar kakek tua itu.

“Bukan! Itu saudara kembarku! Namanya Park Ji Hye” tukasku.

Kedua pasangan tua itu saling berpandangan.

“Tetapi yang kami tahu, nona ini selalu datang sendiri dan kemudian mengunci diri di apartemen ini. Jika memang itu benar, setidaknya kami pasti pernah melihatnya bersama dengan kembarannya itu. Tetapi tidak pak polisi. Kami sama sekali tidak pernah melihat dia punya seorang kembaran. Lagi pula, setelah nona ini pergi, apartemen ini kosong. Tidak ada siapapun” ujar nenek itu.

“Tidak! Itu tidak benar!”

Astaga! Ada apa ini. Ji Hye! Kau di mana!? Datanglah, jangan biarkan kegilaan ini bertahan.

Tiba-tiba seorang polisi kembali datang dan menghadap detektif Jung.

“Lapor pak, Setelah kami selidiki, ternyata pemilik apartemen ini di sewa atas nama Park Eun Hwa. Ini kopian data sewanya.” Ujar polisi itu sambil menyerahkan sebuah map berisi berkas kepada detektif Jung.

Eun Hwa terkesiap.

Tidak mungkin!

Kemudian detektif Jung mendekatinya sembari menyodorkan berkas di tangannya.

“Nona Eun Hwa, apa ini tanda tanganmu?” tanyanya

Eun Hwa memandngi berkas itu dengan ragu. Kemudian bagai di sambar kilat, gadis itu terkejut. Tidak! Ini tidak mungkin! Mustahil!

Karena di situ tertera jelas nama lengkapnya, asli dengan tanda tangannya.

Sebelum dia bisa sempat berpikir, sepasang borgol diletakkan di tangannya.

“Tidak! Ini tidak mungkin! Ini tidak benar! Appa! Eomma! Eonnie! Shin Hye Eonnie! Aku tidak pernah menculikmu! Itu tidak benar! Oppa! Kyuhyun oppa!!”

Tidak ada yang berusaha mencegah. Bahkan tak satupun ada yang bersuara lagi.

Lalu pandangan Eun Hwa jatuh pada Myungsoo. Dan entah kenapa, saat melihat sorot mata namja itu. Hati Eun Hwa bagai dihujam ratusan sembilu. Rasanya lebih sakit dari apapun

“Myungsoo oppa,”

Lalu polisi membawa Eun Hwa pergi


 

 

 

Gaemgyu Mental Hospital, Seoul

 

“Nona Eun Hwa mengidap penyakit Dissociative Identity Disorder atau DID”

Seisi ruangan saling berpandangan, dan kemudian kembali menatap Dr. Han.

Bingung.

“DID? Apa maksudnya dokter?” tanya Park Jung Nam. Sementara di sebelahnya, tampak isterinya memegang lengan Jung Nam erat-erat

“Dissociative Identity Disorder adalah suatu penyakit kejiwaan yang juga dikenal dengan gangguan kepribadian ganda”.

Semua terlonjak kaget sekaligus tidak percaya. Shin Hye menatap Kyuhyun. Namja itu mengenggam erat jemari Shin Hye. Berusaha menenangkannya.

Sementara Myungsoo, ekspresinya gelap.

“Kepribadian ganda? Bagaimana mungkin?” tanya Park Jung Nam lagi.

“Itu bukan penyakit baru tuan Park. Bahkan pernah ada yang memiliki 16 kepribadian berbeda. Tetapi dalam kasus nona Eun Hwa, dia memiliki dua kepribadian dalam satu tubuh”

“Dua kepribadian dalam satu tubuh?” Shin Hye bertanya gugup

“Benar nona Shin Hye. Park Eun Hwa memiliki dua pribadi berbeda dalam tubuhnya. Yaitu nona Eun Hwa sendiri, dan alter egonya Park Ji Hye”

Diam. Hening. Tidak ada yang bersuara. Tampaknya kenyataan ini masih sulit diterima dengan akal sehat.

“Setelah saya melakukan beberapa pemeriksaan pada nona Eun Hwa, ternyata selama ini dia tidak pernah tahu kalau dia memiliki dua kepribadian. Selama ini yang dia tahu adalah, dia memiliki saudara kembar bernama Ji Hye”

Dr. Han berhenti sebentar. Mencoba mengamati wajah-wajah di hadapannya. Sesaat kemudian dia kembali melanjutkan.

“Namun, hal serupa tidak berlaku bagi alter egonya Park Ji Hye. Ji Hye tampaknya lebih kuat dari Eun hwa. Ji Hye tahu semuanya. Ji Hye tahu, mereka adalah dua pribadi dalam satu tubuh. Tapi tampaknya dia tidak ingin Eun hwa mengetahui hal ini. Ji Hyelah yang membuat Eun Hwa berpikir bahwa mereka adalah dua orang yang berbeda. Sepasang saudara kembar”

“Saat pribadi Ji Hye muncul, Eun Hwa sama sekali tidak tahu. Dia tertidur lelap di sudut ruang gelap yang jauh dalam dirinya. Itulah sebabnya Eun hwa tidak tahu dan tidak ingat apa-apa. Meski Ji Hye melakukan apapun dengan tubuhnya, Eun Hwa tidak akan menyadarinya”

“Akan tetapi, saat pribadi Eun Hwa muncul, Ji Hye sama sekali tidak menghilang. Dia terus ada. Mengawasi. Di saat-saat tertentu, dia bahkan bisa berkomunikasi dengan Eun Hwa. Layaknya dua orang yang berbeda”

“Kalian ingat di apartemen Ji Hye ada banyak kaca bukan? Tampaknya itu adalah sarana komunikasi mereka berdua”

“Itu gila!” tukas Park Mi Hye tidak percaya.

“Benar nyonya Park. Bukankah yang sedang kita bahas adalah penyakit kejiwaan?”

“Dan menurut pendapat saya, tampaknya Ji Hyelah yang melakukan penculikan pada nona Shin Hye. Terlepas apapun alasannya, nona Eun Hwa sama sekali tidak tahu bahkan menyadari bahwa tubuhnyalah yang melakukan penculikan itu” ujar Dr. Han

Wajah Myungsoo kian mengeras. Kemudian tanpa berkata apapun dia pergi keluar. Meninggalkan ruangan itu.

“Tidak! Ini tidak mungkin! Eun Hwa tidak mungkin begitu! Tidak!” Shin Hye mulai menangis pilu. Kyuhyun kembali merengkuhnya.

“Kenapa bisa seperti itu dokter? Kenapa Eun Hwa bisa mengidap penyakit itu?” tuntut Mi Hye. Meski berusaha menyangkal, jauh di dalam hati wanita itu ada rasa sedih yang menyerang.

“Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab. Seperti faktor genetik, depresi, stress yang berkepanjangan, ketakutan dan mungkin kekerasan fisik atau mental yang pernah terjadi di masa lalu”

Semua terdiam.

Dr. Han kembali menatap wajah di depannya satu-satu

“Apa Nona Eun hwa pernah mengalami kejadian buruk di masa lalu?” tanya Dr. Han hati-hati

Park Jung Nam terpekur. Kemudian dia berkata lirih.

“Iya…. benar dokter, Eun Hwa sudah mengalami masa kecil yang sangat sulit”


 

Flashback on

Anak kecil berusia lima tahun itu menangis. Jeritannya membahana tetapi itu malah membuat wanita di depannya bertambar marah. Pukulan membabi buta kembali dilayangkannya ke tubuh mungil ringkin anak itu

“Diam! Diam kau brengsek! Tutup mulutmu! Kau membuat kepalaku pusing! Diam! Diam!”

Anak kecil itu mencoba diam. Tetapi rasa nyeri yang membakar tubuhnya tidak bisa menghentikan air mata yang terus menerus mengalir turun membasahi wajahnya yang kumal.

“Eomma, ampun eomma! Jangan pukul lagi eomma! Sakit eomma!”

“Arggh! Diam! Anak Sialan!”

Didorongnya anak kecil itu ke lantai. Dan kemudian berlalu pergi.

Rasa sakit menjalar di sekujur tubuh anak kecil itu. Dengan lemah dan terisak dia meringkuk di sudut dapur. Membenamkan kepalanya di lutut. Bersembunyi

Dan sepenuhnya ketakutan.

“Jangan takut Eun Hwa….”

Eun Hwa tersentak kaget.

Dan terpaku.

Di hadapannya sedang tersenyum manis seorang gadis kecil yang sama persis seperti dirinya. Wajahnya, matanya, rambutnya semuanya. Sangat mirip dia.

Bagai melihat dalam kaca.

“K..kau siapa?”

“Aku Park Ji Hye. Ji Hye, saudara kembarmu”

“Kembar?”

“Iya, artinya kita berdua sangat mirip. Lihat wajah kita sama bukan?”

Eun Hwa mengangguk.

“Nah, Eun hwa. Sekarang hapus air matamu. Jangan menangis lagi. Karena aku sudah di sini. Aku akan menjagamu. Tidak ada seorangpun yang bisa menyakitimu lagi”

Eun Hwa menatap Ji Hye lekat-lekat.

“Jika eomma datang dan ingin memukulmu lagi, cepat-cepatlah lari dan bersembunyi. Aku yang akan menerima semua pukulan dari eomma. Jadi kau tidak akan merasa kesakitan lagi”

“Tapi… itu rasanya sakit”

Ji Hye tersenyum.

“Tidak apa-apa. Bukankah sudah kukatan mulai sekarang aku akan melindungimu. Karena aku adalah satu-satunya saudaramu”.


 

Ji Hye’s POV

Aku Park Ji Hye.

Ya, akulah yang menculik Shin Hye eonnie. Aku lah yang telah menyekapnya di rumah lama kami.

Tetapi semua itu kulakukan demi adik kecilku Eun Hwa.

Eun Hwa yang kusayangi.

Karena dialah aku ada.

Karena akulah pelindungnya.

Aku tidak mungkin membiarkan adikku terus bersedih bukan.

Shin Hye sudah merebut segalanya. Shin Hye eonnie memang sangat baik pada Eun hwa. Tetapi dia tidak menyadari kalau dia selalu membuat Eun Hwa terluka.

Pertama kasih sayang appanya yang selalu hanya untuk Shin Hye. Eun Hwa hanya dianggap sebagai anak yang tidak dia inginkan dengan seorang wanita jalang dari masa lalunya. Selain itu tindakan kasar dari eomma Shin Hye yang juga memicu diriku untuk juga menyakiti Shin Hye.

Dan yang terakhir adalah…. karena Cho Kyuhyun.

Ya, Eun Hwa mencintai Kyuhyun. Kekasih, dan calon suami Shin Hye. Rasanya sangat menyakitkan melihat Eun Hwa terus memendam rasa dan memandangi kedua pasangan itu dari jauh dengan hati teriris. Eun Hwa selalu menderita. Eun Hwa tidak pernah mendapat kebahagiaan. Apa aku salah jika aku memperjuangkan itu untuk Eun Hwa?

Semua untuk Eun Hwa

Hanya untuk Eun Hwa

Karena Eun Hwalah maka Ji Hye ada.


 

Epilog

Beberapa bulan kemudian.

Eun Hwa memandangi kepergian Kyuhyun dan Shin Hye. Kemarin mereka baru pulang dari bulan madu dan sekarang langsung datang menjenguk Eun Hwa.

Shin Hye menceritakan banyak hal. Dan dia turut bahagia mendengar itu.

Sungguh, dia sangat bahagia melihat Kyuhyun dan Shin Hye.

Gadis itu masih harus berada di rumah sakit ini. Walau dia tidak berada di ruangan yang sama seperti pasien lainnya, dia harus tetap menjalani pemeriksaan untuk menekan munculnya alter egonya.

Ji Hye.

Eun Hwa tidak bisa memutuskan apa dia bersyukur karena itu. Karena jauh di lubuk hatinya, Eun Hwa sangat merindukan Ji Hye.

Tetapi itu tidak mungkin bukan. Dia tidak ingin kejadian beberapa bulan yang lalu terjadi lagi.

Eun Hwa bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya.

Tetapi tiba-tiba maniknya menangkap sesuatu.

Myungsoo!

Kim Myungsoo!

Tidak mungkin

Sudah beberapa bulan Eun Hwa tidak melihat namja itu lagi. Terakhir kali dia melihat laki-laki itu, ekspresi Myungsoo terlihat dingin dan gelap.

Dan jujur, saat melihat Myungsoo lagi, perasaanya begitu membuncah. Dan hal yang paling ingin dia lakukan adalah, menangis.

Ponselnya berdering

Kim Myungsoo is calling.

Eun Hwa memandangi Myungsoo yang sekarang tengan menempelkan ponsel di telinganya. Manik mereka tak terlepas.

“yeobseyo…” ujar Eun Hwa gugup di ujung telepon

“Jangan menangis Eun Hwa, kau tahu itu menyakitiku. Baiklah dengarkan baik-baik apa yang kukatakan. Dan tolong jangan menolaknya. Karena jika kau menolaknya, aku akan memaksamu apapun yang terjadi. Menikahlah denganku! Kau sudah memiliki aku. Kau bisa cerita apapun padaku. Aku akan melindungimu. Katakan pada Ji Hye jika mungkin dia ada di sana. Katakan agar dia tidak perlu khawatir lagi karena aku Kim Myungsoo, akan menggantikannya untuk menjagamu. Aku janji aku tidak akan membiarkan air mata mengalir lagi di pipimu. Well, mungkin sekali dua kali itu akan terjadi. Tetapi aku yang akan selalu menghiburmu sehingga kesedihan apapun tidak akan bertahan lama dalam dirimu”

Bibir Eun Hwa bergetar. Emosi yang dirasakannya begitu membuncah. Kemudian tanpa ragu dia berlari ke arah Myungsoo yang kini sudah merentangkan kedua tangannya.

****THE END****

 

 

 

Advertisements

25 thoughts on “[Winter Event] The Darkest Side

  1. keren n bagus ff ny..sy jd brtmbah ilmu mslh psikolog…akhir ny mreka smua hppy ending n sweet bnget myungsoo nglmar eunhwa…mnrima sgla kkurngn nyy…

  2. sumpah demi apa ini keren bgt, kak risty anak psikolog ya, kok bisa sih bikin ff yg kayak gini dan konfliknya bener2 mahal kak sumpah ini keren bgt, ngomong2 nama penyakit kepribadian ganda itu DID trs alter ego itu nama kepribadian yg jahat ya kak, sumpah ngeri bgt ya penyakitnya, tp ffnya kereeeen :* eunhwa sama myungsoo u.u shipp and kyuhye as always <33

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s