[Winter Event] The 9th Room

WinterFF_The9thRoom_Zora[Nisa Nur Apriliyanti]

Judul : The 9th Room

Author : Zora

Cast : Son Ha Jo, IKON’s Jinhwan, SRB15/NCT ‘s Mark, Park Yieun [OC]

Genre : School Life, Horror, Friendship, Sad, Romance

Poster by Me

Desclaimer :

Kisah berikut ini hanya fiksi belaka, bukan urban legend beneran. Ditulis dengan jemari saya sendiri, ide karang sendiri tapi timbul dari artikel-artikel legenda di Internet yang tidak bisa dilampirkan karena terlalu banyak yang saya baca, beberapa tokoh saya pinjam namanya sebagaimana hukum fanfiction yang tak tertulis, dan susunan kata yang muncul dibawah ini merupakan hasil kerja keras otak saya selama lima hari sebelum deadline.

Terimakasih.^^

 

=*=

 

Juliard University!

Latihan biola lebih giat!

Nilai ujian sebaiknya!

Get Jinhwa-oppa attention!

Ha Jo! Bisa!

 

Hajo terbangun dengan buku diarinya dipangkuan. Setengah sadar dibacanya lagi target tahun ini yang harus dicapai, yang ingin dia capai. Ini pertama kali bagi gadis itu menulis serentet keinginannya, biasanya buku diari hanya dipajang di rak, jarang sekali ditulis. Akan tetapi, setelah semalam tak sengaja menemukan buku diari hadiah ulang tahun ke-13, dia rasa dia ingin menuliskan keingingannnya untuk tahun ini. Mencapai sesuatu atas kehendaknya sendiri dengan usahanya sendiri. Mark – siswa pindahan dari Kanada – penyebab utama mengapa ia menjadi sedikit rajin menulis diari.

Ketika itu mereka dengan 25 teman klub lainnya sedang berkemah di pantai utara, pulau Jeju. Tak begitu jauh dari sekolah dan rumah Hajo. Kegiatan klub Orkestra mereka bertemakan summer camping, tapi tak cukup lahan bagi mereka membangun tenda. Jadi, mereka menginap di sebuah rumah penginapan milik sang pelatih.

“Kau tidak mau pergi ke Juliard?” Mark bertanya pagi itu sembari mengejar Hajo yang sudah tiba lebih dulu dari pada teman-teman mereka yang masih berusaha berjalan ke tepi pantai meskipun kantuk tak kunjung menjauh.

“Hey kalian cepatlah! Matahari akan terbit lima menit lagi,” teriak Hajo kepada teman-temannya yang tertinggal di belakang, mereka berniat melihat matahari terbit sebelum berolahraga dan menyiapkan sarapan. Perhatiannya “Juliard? Ibuku ingin aku masuk universitas Seoul, atau sekolah di sekitar pulau Jeju. Lagi pula aku juga tidak berpikir bermain biola akan jadi tambang emas.”

“Kau yakin?”

Yakin tidak yakin, suka tidak suka. Selama ibunya yang berkuasa, Hajo hanya bisa menurut saja. Dia tidak mau melukai hati ibunya. Selama ini pula, biola dan musik hanya ia anggap hobi yang menyenangkan. Namun, jika terus dipikirkan lagi. Lagi. Dan lagi. Hajo benar-benar ingin mencoba mendaftar ke universitas Juliard, dia ingin pergi ke New York. Berpetualang ke dunia yang belum pernah ia lihat, dan lulus dari Juliard bukan main kerennya.

“Apa kau sendiri akan pergi ke Juliard?” Hajo balik bertanya, seleksi ujian masuk Universitas itu di mulai akhir musim semi tahun depan, mereka tak punya banyak waktu untuk berlatih. Kemungkinan diterima sangat kecil, tapi Mark tidak terlihat terpengaruh sama sekali.

“Tentu, aku yakin aku akan lulus ujian! Dan menjadi pianis terbaik dari Korea Selatan.” Mark mengepal kedua tangannya ke udara penuh rasa percaya diri. Entah hal itu akan terjadi atau tidak, Hajo rasa Mark benar-benar akan menjadi musisi yang hebat. Anak lelaki itu salah satu pianis terbaik dari sekolahnya, juga orang yang paling rajin berlatih setiap hari. Mark mampu membaca partitur dengan baik, jarang sekali dia salah dalam tempo lagu maupun melakukan kesalahan kecil lain.

“Itu menyenangkan. Ah, Seandainya aku punya tekad kuat sepertimu.”

“Apa sulitnya? Tinggal katakan kau ingin jadi pemain biola! Kau harus menaruhnya dalam mimpimu. Dan menguatkan keyakinan yang ada di hatimu. Lalu lakukan!” Mark tersenyum, “aku terdengar keren ‘kan?” Dan dia tertawa layaknya laksamana perang. Hajo hanya menaggapi dengan bercanda pula.

Detik berikutnya, setitik cahaya perlahan muncul di garis horizontal laut Jeju. Warnanya kuning keemasan menghapus warna biru pucat dilangit. Rasanya berharap pada sesuatu yang baru tak ada salahnya.

 

=*=

 

Son Ha Jo. Kelas 3-3.

Kelasnya berada di lantai dua, gedung A. Kelas yang paling ujung, jauh dari kantin sekolah, jauh dari WC umum, jauh dari laboratorium, jauh dari lapangan olah raga. Kelas yang benar-benar penyisaan. Meski begitu ruangannya lebih besar di banding kelas lain, ditambah loker yang berada di kelas itu lebih banyak, jadi beberapa orang bisa menggunakan dua loker sekaligus.

“Hajo, kita sekelas lagi!” Park Yieun, teman sejak SMP, teman satu klub, juga satu tempat bimbingan belajar. Sudah tiga tahun ini mereka satu kelas dan meja mereka bersebelahan. Entah hal tersebut takdir atau rekaan, Hajo sudah menganggap Yieun seperti saudara perempuan sendiri. “Kudengar Mark di kelas sebelah.”

“Aku? Ya benar, aku di kelas sebelah. Ah, jangan bilang kalian sudah merindukanku.” Mark menyahut entah dari mana langsung duduk di atas meja di antara wajah Hajo dan Yieun.

“Pergilah, dasar tidak sopan!” Yieun mendorong Mark pergi, dan keduanya mulai bertengkar. Kebiasaan baru yang terasa sangat lama bagi Hajo. Yieun dan Mark selalu saja bertengkar semenjak keduanya dipertemukan tahun lalu. Saat kelas dua mereka bertiga di kelas yang sama, lalu di klub yang sama, dan sering di kelompok musik yang sama. Jadi selama setahun itu pula Hajo harus sedikit sakit kepala karena pertengkaran tak berakar antara Mark dan Yieun. Oleh karena itu, menurut Hajo Yieun dan Mark akan jadi pasangan serasi di masa yang akan datang – entah kapan.

“Sudahlah, ini masih pagi.” Hajo berusaha melerai.

“Dia yang memulai duluan!” Yieun tak mau kalah.

“Tenanglah gadis-gadis, aku tahu aku tampan. Tapi jangan memperebutkan aku seperti itu.”

“Kau gila, ya?” jawab Hajo dan Yieun bersamaan.

“Yah, aku gila karena aku terlalu tampan.” Mark selalu membanggakan dirinya, dan terkadang terdengar menjijikan. “Tapi, apa kalian tahu? Kenapa hanya kelas ini yang ruangannya lebih besar dari pada kelas lain?”

“Ah, jangan-jangan. Tunggu Mark, jangan cerita sekarang. Kita berada di kelas.” Yieun sedikit berbisik.

“Memangnya kenapa?” Hajo yang tidak tahu-menahu mulai penasaran. Di kepalanya muncul berbagi kasus misteri, tapi tak menemukan satu hal pun yang masuk akal.

“Kau tidak tahu?” tanya Mark menggoda. Tatapannya pada Hajo seolah berkata kau-sekolah- di-sini- hampir-tiga-tahun-tapi-tidak-tahu-apa-apa.

Hajo mendecak kesal. “Bagaimana aku tahu kalau kalian tidak memberitahuku?”

Senyum Mark mengembang. “Legenda sekolah ini, ruang ke sembilan,” kata Mark dengan mendramatisir intonasi suaranya. Yieun segera menutup mulut Mark dengan buku. Menatap Hajo dan Mark bergantian.

Sstt, sudah kubilang jangan cerita sekarang!”

“Tapi aku penasaran.” Hajo mati penasaran, dia tidak bisa dibuat menunggu.

“Sabarlah, akan kuceritakan nanti. Dan kau, sebaiknya jaga mulutmu.”

Ketika Mark hendak berbicara, bel masuk kelas berbunyi. Anak lelaki itu melesat pergi, dan mengatakan akan menemui mereka di ruang musik nanti siang.

Setelah pelajaran berakhir, seperti biasa Hajo dan Yieun pergi ke kantin, membeli minuman, lalu pergi ke ruang musik yang berada di lantai satu. Di sana terdapat piano yang biasa dipakai Mark untuk berlatih, sedangkan Hajo dan Yieun berlatih dengan biola mereka setelah mereka bertiga makan siang.

Jika setahun yang lalu Hajo sering kali mengabaikan partitur lagu itu dan lebih memilih memangku dagu di mulut jendela ruang musik itu, memandang Jinhwan dan bermimpi melihat senyum kakak kelasnya. Namun sekarang tidak bisa lagi, Jinhwan sudah lulus. Lelaki yang lebih tua satu tahun itu biasanya akan duduk di stadium sambil memainkan gitar dan bernyanyi. Terkadang dia bermain bola basket atau makan siang di sana. Sayangnya hal tersebut takkan terjadi lagi, dan Hajo tak punya alasan untuk bertemu Jinhwan. Mereka memang saling kenal, tapi tak cukup akrab untuk mengetahui kabar satu-sama lain. Lebih tepatnya, Hajo terlalu malu untuk bertanya kabar lelaki itu.

“Mau apa kau di sana? Orang itu sudah lulus.” Mark meledek.

“Diam kau! Aku tahu. Ah, aku merindukannya. Selama liburan musim dingin kemarin aku hampir mati tak melihatnya.” Hajo mendrama.

“Hajo! Kau ingin tahu ‘kan? Legenda sekolah ini? Ruang ke sembilan.” Yieun berbicara selagi membuka kotak biolanya. Hajo beralih dari tepi Jendela ke samping Yieun, selama pelajaran tadi dia hampir mati penasaran. “Ada peraturan sebelum kau mengetahui cerita ini. Kau tidak boleh membicarakan legenda ini saat berada di kelas kita.”

“Kenapa?”

“Katanya, gadis itu akan mengikutimu.”

“Gadis itu? Siapa?”

“Baiklah, daripada kau banyak bertanya lebih baik aku mulai bercerita.” Yieun membersihkan tenggorokannya dan mulai bercerita. “Aku mendengar ini dari kakakku, katanya, ketika jam malam usai, seluruh murid sudah pulang, dan penjaga sudah memeriksa ruangan. Tepat setelah tengah malam akan muncul sebuah pintu.”

“Pintu menuju ruang ke sembilan?” tanya Hajo.

“Ya, seperti yang kita tahu di lantai dua hanya ada delapan ruangan termasuk WC. Akan tetapi, di ujung koridor akan ada sebuah pintu. Ketika kau berjalan menghampiri pintu itu dan mengetuk satu kali, pintu itu akan terbuka, dan saat pintu itu terbuka gadis itu akan bertanya. Apa keinginanmu? Dia akan terus bertanya sampai kau menjawabnya.”

“Keinginan?”

“Ya, konon keinginanmu akan terkabul. Apapun itu. Tapi tak semua orang bisa menemukan pintu itu. Kata kakakku, hanya orang-orang tertentu. Seperti apa orang-orang tertentu itu pun tidak ada yang tahu.”

“Seperti anime Jepang aku pernah tonton tentang seseorang yang menaiki anak tangga ke 13 – padahal hanya ada 12 anak tangga – lalu dia menyebutkan keinginannya. Dan kisah itu berakhir dengan semua orang mati.” Mark berkomentar.

“Aku tidak tahu ruang ke sembilan itu benar-benar ada atau tidak. Namun tahun lalu, almarhum Hani-sunbae yang menyiram kau dengan air di WC, kau ingat dia Hajo?”

“Ya, saat itu dia untuk menjauhi Jinhwan. Lalu bulan berikutnya dia meninggal, kecelakaan.”

“Rumor yang beredar dia menemukan ruang ke sembilan itu dan dia berakhir tragis. Entah itu benar atau tidak, tapi banyak yang bilang sering melihat Hani-sunbae mondar-mandir di lantai dua sebelum dia meninggal. Hal yang lebih aneh ketika hari kecelakaannya. Saat itu hanya dialah yang meninggal di tempat, sementara keluarganya hanya mendapat luka ringan. Kecelakaannya pun bukan kecelakaan besar, kabarnya juga mobil mereka baik-baik saja, tidak rusak parah. Tapi, kenapa? Kenapa hanya Hani-sunbae yang meninggal di tempat dengan wajah ketakutan?”

“Kau tahu dari mana Yieun?” tanya Mark.

“Aku ini kenal banyak orang, banyak yang bercerita dengan berbagai versi, dan cerita yang barusan kalian dengar adalah rangkuman.”

“Lalu apa hubungannya dengan ruangan kelas kita yang lebih besar daripada kelas lain?” tanya Hajo.

“Ah aku sampai lupa. Dulu sebelum dijadikan sekolah, ruang ke sembilan itu benar-benar ada. Lalu direnovasi, ruang itu dibongkar dan disatukan dengan ruangan sebelahnya yang sekarang kelas kita, kelas 3-3. Kudengar para tukang bangunan yang membongkar ruangan itu mati satu per satu setelah renovasi gedung selesai.”

“Itu menyeramkan.” Hajo merasa bulu kuduknya sedikit merinding. Dia sebelumnya tak pernah peduli apakah makhluk halus itu ada atau tidak. Ia hanya tak ingin diganggu, juga tak mau mengganggu. Namun tetap saja, mengetahui hal seperti ini membuatnya sedikit merasa takut.

“Setiap orang juga pasti akan mati,” komentar Mark. Lelaki itu beralih ke piano, dan jemarinya mulai menekan beberapa tuts berwarna putih.

“Nah, sekarang berlatih! Juliard I’m coming!” teriak Hajo, dia berdiri, mengambil kotak biolanya sendiri.

“Kau akan pergi ke Juliard, bukan ke Universitas Seoul?” tanya Yieun.

“Sudah kuputuskan untuk ke Juliard. Setidaknya aku akan mencoba tes ujian masuk! Ibuku juga sudah mengizinkan, tapi kalau ujian ini aku tidak lolos aku harus sekolah ke Universitas Seoul.”

“Itu berarti kalian berdua akan pergi bersama.” Yieun berkata dengan ragu, setengah hati mengatakan hal itu.

“Tentu. Nanti kami akan berduet di panggung bersama.” Mark menjawab sambil merangkul Hajo, mengeratkan lengannya dibahu gadis itu. Namun Hajo tak menyingkirkan tangan Mark dan malah merangkul balik Mark dengan tangannya di pinggang lelaki itu. Mereka tertawa dan bercanda, membicarakan konser solo mereka kelak, dan tak menyadari Yieun merasa tidak nyaman. Tangan gadis itu mengepal dengan napas berat yang tertahan di tenggorokan.

 

=*=

 

Mereka mengatakan cinta berawal dari sebuah kebetulan. Kebetulan yang menyenangkan. Seperti pertemuan Hajo dengan Jinhwan di sebuah mini market dekat rumahnya. Kebetulan yang merupakan takdir, menurut Hajo. Sudah dua bulan lebih mereka tidak bertemu, meski tinggal di komplek yang sama tapi tak berarti bisa bertemu setiap saat. Dan Hajo berterimakasih kepada Ayahnya yang menyuruhnya pergi ke mini market.

Mereka mengobrol, membeli es krim di jalan pulang, lalu mulai membicarakan drama populer yang sedang tayang. Walaupun lebih seringnya Hajo bertanya, dan Jinhwan menjawab. Seolah-olah Hajo adalah reporter gosip, dan Jinhwan adalah idola ternama. Hajo sungguh berharap perjalanan pulang ini akan berlangsung sangat lama, atau jalan pulang yang mereka ambil memutar sehingga ia bisa berlama-lama dengan Jinhwan. Dia benar-benar merindukan sosok hangat Jinhwan. Suara lelaki itu yang unik dengan tawanya yang manis setiap kali Hajo bercerita.

“Hebat! Kau menjadi trainee YG Entertaiment? Maksudmu agensinya BigBang?”

Jinhwan mengangguk, sedikit rasa bangga membuncah dalam dirinya. Dia memang bermimpi menjadi penyanyi, dan sudah mengikuti beberapa audisi. Namun belum ada yang kunjung menerimanya, sampai akhir bulan lalu, dia mengikuti audisi YG, dan surel yang menyatakan dirinya diterima sebagai trainee di YG datang tadi pagi. Itu berarti satu sampai dua minggu dari sekarang, Jinhwan akan segera membawa barang-barangnya ke Seoul.

“Kau benar-benar akan jadi idol?” Hajo tak pernah merasa sesenang ini. Baginya membayangkan Jinhwan ada di atas panggung besar dengan seluruh gadis yang meneriaki nama lelaki itu akan terdengar sangat mengagumkan. Meski di sudut hatinya, ia merasa kecil.

Sekali lagi Jinhwan mengangguk, bibirnya melengkung tipis dengan mata berbentuk sabit. Dia tak tahu Hajo akan bereaksi sedemikian senangnya. Padahal dirinya sendiri tidak bereaksi berlebihan, hanya kaget dan tak percaya – tidak diikuti dengan teriakan dan loncatan seperti Hajo.

“Kenapa kau sangat senang?”

“Aku senang mimpimu yang kusarankan tercapai, ah, aku juga berharap mimpiku tercapai. Aku ingin pergi ke Juliard, dan menjadi pemain biola terhebat sepanjang masa. Hahahahah …” Hajo mencoba tertawa, meyakinkan diri bawah itulah mimpinya. Walaupun sepertinya akan sangat sulit ketika nanti ia tak bisa bertemu dengan Jinhwan untuk waktu yang lama.

“Kukira kau akan masuk ke Universitas Seoul.”

“Tadinya begitu, tapi aku berubah pikiran. Setidaknya aku ingin mencoba menggapai mimpiku.” Salahkan Mark yang membuat dia termotivasi.

“Ah, jadi kau akan ke New York setelah lulus nanti.”

“Semoga saja.”

Entah jenis angin apa yang mengelilingi keduanya, yang semula hangat dan mendebarkan kini berubah menjadi dingin dan asing. Mungkin karena Jinhwan sedikit kecewa dengan perubahan keputusan Hajo yang ingin sekolah ke Juliard. Sebenarnya Jinhwan pergi ke Seoul pun karena Hajo. Dia memang menyukai bernyanyi, tapi tak pernah terpikir olehnya untuk menjadi penyanyi sampai Hajo sendiri yang menyarankan hal itu. Hajo benar-benar membuatnya gila.

Mereka berhenti tepat di depan rumah Hajo, rasanya berat dan tak menyenangkan bagi keduanya. Namun, mereka berdua mencoba tersenyum menyembunyikan rasa kesal mereka masing-masing.

“Masuklah,” ucap Jinhwan.

Hajo mengangguk berbalik dan membuka pintu pagar rumahnya. Kakinya berhenti, dia berbalik. Senyum merekah di mulutnya, dengan pipi merah mudah dan mata hitam yang bersinar lembut. Hajo memberanikan diri, napasnya ia tarik perlahan. “Aku tahu kau akan pergi, tapi aku hanya ingin mengatakan suatu hal. Sebelum aku menyesal nanti, … aku menyukaimu, Jinhwan.”

Jinhwan terdiam di tempat, jantungnya berhenti. Angin musim semi seolah menerbangkan hatinya. Jauh dan sangat jauh ke angkasa, ke langit bumi, menembus atmosfer dan sampailah ke Bima Sakti. Namun, Jinhwan takut ….

“A-aku ….” Hajo menunduk, dia sendiri tak menyangka mulutnya akan seliar itu ketika berbicara. Dia meruntuk mulutnya sendiri, betapa bodohnya dia. Mungkin setelah ini dia akan ditolak. Hajo merasa wajahnya memanas, apalagi dengan Jinhwan yang terus diam tak mengatakan apapun.

“Maaf …,” ucap Jinhwan diikuti helaian napas panjang. “Masuklah.” Jinhwan berdiri di balik pagar menatap Hajo murung, tapi gadis di hadapannya tak kunjung berbalik pergi. Malah mulai menangis dan Jinhwan tak tahan melihat Hajo menangis. Namun ia juga tidak bisa menarik pintu pagar dan memeluk Hajo, mengatakan Jinhwan juga menyukai Hajo. Tidak, hanya … tidak.

Menit berikutnya, kaki lelaki itu beranjak pergi.

 

=*=

 

Gelap. Sunyi. Merah.

Warna merah sunyi dengan angin dingin berputar di sekitarnya. Gadis itu berjalan ke arah sana, selangkah demi selangkah. Dia takut, tapi dia tak bisa berhenti meski senter lampu di tangannya tiba-tiba padam, dia tidak bisa. Perlahan kakinya menapaki ubin putih, keringat membanjiri lehernya. Bayangan dirinya dan kesunyian di sekelilingnya mengintimidasi gadis itu. Matanya teralih ke westafel dekat WC. Tetesan air dari keran di westafel itu berbunyi sangat nyaring dari biasanya seolah memperingatkan gadis itu untuk tak melangkah lebih jauh.

Lari selagi kau bisa. Lari sejauh mungkin.

Angin berbisik dalam senyap malam, dingin, dan gelap.

Gadis itu berhenti tepat di depan sebuah pintu bewarna hitam yang sudah lapuk, berbeda dengan pintu-pintu lain yang bewarna coklat muda.

“Aku ingin lelaki ini menjadi milikku,” guman gadis itu dengan selembar foto di tangannya. Kalimat yang sedari tadi terulang di kepalanya. Tangannya yang gemetar terangkat perlahan.

Sebelum sempat ia mengetuk pintu … angin dingin datang menyerang wajahnya, pintu itu terbuka.

 

=*=

 

Hajo tak pernah merasa tak bersemangat, selain hari ini. Selama sekolah ataupun jam latihan di ruang musik dia tak banyak bicara. Dia tak lagi melihat stadium atau menyebut-nyebut Jinhwan selama hari itu. Mark merasa terganggu akan hal itu, Hajo tidak seperti Hajo yang biasanya. Dia terlihat seperti dirasuki hantu, pribadinya hari ini bertolak 1800 dari biasanya.

Yieun sendiri pergi ke kantin seorang diri. Hajo tak mau pergi ke sana bersamanya. Mark benar-benar tak mengerti perempuan, mood mereka berubah dalam sehari. Terakhir Mark bertemu dengan Yieun kemarin, dia baik-baik saja, masih bisa tertawa.

“Hajo, kau ingin es serut? Aku yang traktir.”

Mark merangkul Hajo, tapi kali ini Hajo melempar tangan Mark dan berjalan terlebih dahulu. Usaha menghibur dengan es serut kesukaan Hajo tidaklah berhasil. Yieun memang sudah menyuruh Mark, untuk membiarkan Hajo hari ini. Biarkan gadis itu untuk berpikir lebih jernih, dan meyakinkan Mark bahwa besok gadis itu akan kembali seperti biasa. Meski Mark pun percaya hal itu akan terjadi, Hajo akan baik-baik saja besok. Akan tetapi, sebagai seorang pria dia tidak bisa membiarkan wajah Hajo tergambar suram sepanjang hari. Dia benar-benar merindukan tawa Hajo yang manis.

Sore itu mereka bertiga berjalan keluar gedung, menuju gerbang sekolah. Hari ini tidak ada jam belajar malam, tidak seperti murid lain yang senangnya luar biasa bisa pulang lebih awal. Baik Hajo maupun Yieun sama-sama murung. Yieun berjalan di belakang, sedangkan Mark berusaha menyusul Hajo di depan. Mencoba menghibur dengan cerita konyol tapi tak memberi efek yang membuat Hajo tertawa. Malah sebaliknya, Hajo marah dan mendorong Mark menjauh.

“Berhenti, Mark!”

Hajo berjalan lebih cepat, tanpa mempedulikan Mark yang memanggilnya dari belakang. Mark masih memanggilnya hingga suara kaca pecah membuat Hajo berbalik.

Yieun berteriak, dia menghampiri mark dengan kepala tertancap pecahan kaca jendela. Tangannnya yang gemetar menyentuh wajah Mark. Kulit lelaki itu sudah dingin, sedang cairan merah kental membanjiri roknya. Hajo terpaku sesaat, lalu menyadari ia harus menolong Mark. Namun saat ia memutar pandangannya ke segala arah. Semuanya berhenti. Dia seperti berada di dimensi lain. Angin laut yang biasanya terasa sore itu seperti hilang di telan bumi, orang-orang yang berjalan di sekitar mereka terdiam seperti pantung dengan pahatan sempurna. Bahkan beberapa pecahan kaca masih melayang di atas Yieun.

Kedua gadis itu melihat ke sekeliling, terdiam di tempat dengan suara napas yang tertahan.

“Hajo tutup matamu. Apapun yang kau dengar tutup matamu!” teriak Yieun.

Hajo menutup matanya dan dia tak melihat apapun setelah itu.

 

=*=

 

Hajo terbangun di atas kasur rumahnya dua hari setelah kejadian itu, banyak pertanyaan yang datang padanya mengenai kematian Mark dan Yieun. Hajo tak menjawab, dia tak tahu apa yang terjadi. Kejadian tersebut terlalu cepat. Hari berlalu dan dia hanya duduk terdiam di kamarnya, terkadang menangis mengingat kembali wajah kedua orang itu. Di hari berkutnya dia mulai bermain biola, berlatih seperti biasa, kembali ke sekolah dengan serbuan orang-orang bertanya kepadanya. Namun ia tak mempunyai jawaban yang ingin orang-orang itu dengar, jadi selama hari itu ia diam.

Seringkali ia mendengarkan teman sekelasnya yang bergosip mengenai Mark dan Yieun. Mereka bilang kaca pecah itu datang dari lantai tiga, tak ada siapapun di sana tapi anehnya kaca itu pecah. Jelas tak ada gempa bumi, tak ada pula bekas seseorang sengaja memecahkan kaca. Polisi masih menyelidiki hal tersebut, dan Hajo muak saat ada seseorang yang menyangkut-nyangkutkan semua itu dengan ruang ke sembilan.

Saat pulang, Hajo melirik ke kanan dan ke kirinya. Biasanya di sana ada Mark dan Yieun. Mereka akan mulai bercanda dan membicarakan guru menyebalkan, tapi sekarang tak ada siapapun di sampingnya. Tak ada siapapun.

Hajo merindukan mereka.

Entah datang dari mana lengan yang menghentikan langkah Hajo, lengan yang memeluknya lembut, dan Hajo tak bisa melakukan apapun selain menangis. Lengan Jinhwan terasa lebih dari sekadar tali penahan di saat Hajo jatuh.

Jinhwan dengan kopernya membawa Hajo pergi ke lapangan basket, mendudukan Hajo di salah satu barisan tempat duduk di stadium, lalu memberikan gadis itu sebotol air mineral.

“Rumornya, teman perempuanmu itu membuka ruang ke sembilan.”

“Tidak, Yieun tak melakukan hal itu.”

“Salah seoranh temanku menjadi korban gadis itu tahun lalu.” Hajo tak menjawab, dia ingat perkataan Yieun tentang almarhum Hani-sunbae. “Dia meminta agar aku mau menjadi pacarnya. Ketika kujawab tidak, aku sudah menyukai orang lain. Dia berteriak kesal dan mengatakan tentang ruang ke-9. Dan tiba-tiba waktu berhenti, aku dan dia seperti berada di dimensi lain. Semua berhenti, tak ada angin laut seperti biasanya. Lalu temanku itu menyuruhku menutup mata apapun yang terjadi. Aku menurutinya begitu saja. Kemudian aku mendengar seseorang berkata, suaranya kecil, serak namun menggema. ’Sayang sekali harapanmu tak terkabul.’ Lalu temanku itu berkata bahwa tak seharusnya seperti ini, seharusnya aku menjadi kekasihnya. Lalu suara kecil yang menggema itu mengatakan ‘Itu bukan urusanku, aku hanya mendengar harapan terakhir orang yang ingin mati di tanganku.’”

“Jadi ….”

“Ya, gadis itu, gadis di ruang ke sembilan itu tidak mengabulkan keinginan. Namun mendengarkan harapan seseorang sebelum dia mati di tangannya. Pergi ke ruangan itu sama saja dengan bunuh diri. Oleh karena itu, aku belum bisa memulai sebuah hubungan. Aku ingin temanku itu tahu, aku menghargai perasaannya.”

Hajo termenung.

Kepalanya berputar, dia ingat. Dia ingat apa yang terjadi setelah dia menutup mata, dia juga mendengar suara kecil, serak yang menggema.

 

”Aku bilang untuk dia menjadi milikku, bukan seperti ini!” Yieun berteriak hambar dengan kasar.

“Tidak tahu diri. Bersyukurlah, aku menyukai rasa dendammu, kaulah satu-satunya manusia yang kubantu. Lelaki itu akan menjadi milikmu di neraka.”

 

Hajo berteriak perih, dia tak tahu perasaan Yieun. Air matanya membanjiri wajahnya, tubuhnya lemas saat segala potongan puzzle terhubung. Dia tidak tahu apapun. Dia tidak tahu perasaan Mark dan Yieun. Dia tidak tahu, perasaan kedua sahabatnya sendiri. Dia telah berlaku kasar. Dia orang jahat. Dia menangis. Menyesal. Memohon maaf pada kedua temannya itu atas kebodohannya. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia benar-benar menyesal.

 

.

 

 

t.a.m.a.t

 

 

 

Pertama kali bikin genre horror

Ahh .. enggak bisa, tapi .. yah… beginilah klise kalau enggak punya ide.

Terimakasih sudah membaca

Dan semoga diambil hikmahnya yah :*

Tinggalkan komentar plisss

Aku mencintai kalian

 

Zora

Advertisements

One thought on “[Winter Event] The 9th Room

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s