[Winter Event] Stupid Marriage

REQ APRELTIAN

Stupid Marriage

AprelTian

[BTS] Jeon Jungkook | [OC] Ji Saehyun | [CLC] Oh Seunghee

Support Cast :

[INFINITE] Nam Woohyun | [Lovelyz] Jung Yein and Other’s

Marriage Life, Sad, Romance, failed!Fluff // Oneshoot [9.245 Word’s] // PG-15

The Amazing Poster by LayKim

Disclaimer

Cast belong GOD, their parents and agency, except OC’s. But,the story and plot are mine. Don’t copy or share this story without my permission. Don’t bashing, if you don’t like my story just don’t read, dear. WARNING!!! Typo everywhere… and cast’s OOC.

 

=Bisakah aku meraakan indahnya cinta yang sebenarnya bersamamu?=

 

 

-9597-

 

 

Seorang gadis dengan pakaian seperti seorang laki-laki berlari sekencang-kencangnya menerobos keramaian jalanan sekitar Myeongdeong di sore hari. Gadis tersebut masih tetap mempertahankan kecepatan berlarinya dengan sesekali mengubah arah pandang demi memastikan ada tidaknya segerombol warga yang mengejarnya.

Pasalnya, gadis yang bernama Saehyun itu telah mencopet dompet salah satu pengunjung sebuah toko swalayan di pinggir jalan, dan sialnya aksi tangan jahilnya tertangkap basah oleh sepasang mata yang tak sengaja melintas tepat saat Saehyun menelusupkan tangan jahilnya ke dalam tas wanita tadi.

Aisshh! Sialan mereka! Haah! Kenapa mereka terus mengejarku, sih?!” celotehnya tatkala manik legamnya menangkap pandangan yang tak mengenakkan, gerombolan warga yang tadi mengejarnya masih terus mengikutinya.

Dari arah yang berlawanan, terlihat seorang pemuda tengah berjalan menuju sebuah Kafe yang terlihat mewah, langkahnya terhenti saat indera pendengarannya menangkap suara keributan yang cukup memekakkan telinganya. Dilihatnya seorang gadis tengah susah payah menghindari segerombolan warga yang tengah mengejarnya.

“Dasar pecundang! Beraninya pada seorang gadis, ckckc!” gerutunya pelan.

 

Saehyun masih terus berlari menghindari kejaran gerombolan warga yang sedari tadi mengejarnya. Saehyun mulai kewalahan, nafasnya terengah-engah, rasanya Saehyun ingin berhenti berlari saat ini juga, kalau saja ia ingin menyerah akan perjuangannya selama ini.

Saat hendak melewati sebuah gang sempit dan gelap di antara bangunan-bangunan kafe tempatnya melintas, tiba-tiba sebuah tangan kekar menariknya, memaksa tubuhnya mengikuti arah tangan kekar tadi.

AAAKKHH!!!” Jerit Saehyun saat tangan kecilnya ditarik paksa oleh sebuah tangan kekar di gang sempit tadi.

 

BRUUKK!!!

 

Aw!” ringis Saehyun kesakitan saat orang misterius tadi menghempaskan tubuhnya ke tembok dan menghimpitnya, mengikis jarak yang ada diantara mereka.

Nafas keduanya saling beradu karena jarak yang sempit. Saehyun menunduk ketakutan, tangannya yang ia gunakan untuk menahan tubuh orang misterius tadi terlihat gemetar. Keringat dingin mengalir di pelipis Saehyun. Sedangkan tangan orang misterius tadi bersandar pada dinding untuk menutupi sebagian wajah Saehyun. Sementara orang-orang yang tadi mengejarnya masih bergerumul di depan gang sempit dan gelap tadi. Mencari-cari keberadaan sosok gadis yang tadi dikejar mereka.

“Aku rasa dia sudah berlari sangat jauh!” ucap salah seorang warga dengan tubuh gempalnya.

“Ayo kita kejar lagi. Perasaanku mengatakan dia lari ke arah sana. Ayo!” instruksi seorang lainnya dan seluruh gerombolan tadi langsung mengikuti arah tunjuk orang itu.

Saehyun dan orang misterius tadi masih dalam posisi yang sama, tak ada pergerakan apapun. Hanya deru helaan nafas dari keduanya yang terdengar. Sampai pada tangan Saehyun yang bergerak mendorong tubuh pemuda misterius tadi menjauh dari dirinya.

“Lepas!” teriak Saehyun mendorong pemuda misterius tadi. Saehyun ternganga saat dilihatnya siapa yang sudah dengan lancang menariknya, “Yak! Jeon Jungkook?!” pekiknya.

Yak, kau ini gadis yang tak tahu terima kasih! Dasar menyebalkan.” Gerutu Jungkook, pemuda misterius tadi.

“Ah, syukurlah… ku kira kau orang asing berhidung belang. Akhirnya mereka semua pergi jauh.” Ucap Saehyun menghela nafas dengan sekali helaan tak mengindahkan perkataan Jungkook tadi.

“Sebenarnya mereka itu siapa? Kenapa mereka mengejarmu?” alih-alih menjawab Saehyun malah merogoh saku celana jeans-nya dan mengeluarkan sebuah dompet hasil copetannya tadi.

Yak! Ji Saehyun, pantas saja mereka mengejarmu, jadi… kau-” kalimat Jungkook terpotong karena Saehyun membekap mulutnya dengan kedua tangannya.

Yak, kalau sampai aku tertangkap oleh mereka, ku bunuh kau!”ancam Saehyun menatap tajam Jungkook.

Tak terima dengan sikap Saehyun, Jungkook menghempaskan tangan gadis itu dengan kasar. “Kau ini benar-benar tidak tahu terima kasih sekali, eoh?!” cerca Jungkook.

“Oh, gomawo.” Jawab Saehyun enteng sembari menghitung hasil tangkapan tangan jahilnya.

Jungkook hanya bisa berdecak heran melihat tingkah gadis di hadapannya. “Saehyun-ah, sudah ku bilang berkali-kali padamu, jangan melakukan hal itu lagi!” Jungkook memperingatkan. Merasa tak ada respon dari Saehyun yang terlihat sedang asyik menghitung hasil tangkapannya, Jungkook geram. ”Ikut aku!” titahnya dan langsung menyeret Saehyun memaksanya untuk mengikutinya.

 

Jungkook membawa Saehyun ke sebuah restoran siap saji yang kini sudah tersaji di depan mereka. Dua buah big burger dan minuman cola. Mata Saehyun berbinar saat melihat makanan favoritnya dan langsung menyambranya, menyantapnya dengan begitu lahap. Saking lahapnya, Saehyun tak peduli akan saus yang melingkari bibir pulmnya.

Jungkook bahkan tak menyentuh sedikitpun makanan yang dipesannya, matanya menelisik mengikuti arah pergerakan tata cara makan Saehyun yang menurutnya tak lazim bagi seorang wanita. Jungkook berdecak pelan, sesekali tersenyum melihat tingkah Saehyun.

Yak! Ji Saehyun, makanlah pelan-pelan!” Jungkook memberikan minuman cola pada Saehyun yang tersedak.

“Ada perlu apa kau? Karena yang aku tahu kau tidak akan sembarangan mengajakku makan seperti ini, Tuan Jeon.”

“Bersihkan dulu mulutmu itu, issh!” ucap Jungkook sembari membersihkan bibir Saehyun yang penuh saus dengan kasar.

Saehyun merebut tissue yang tadi digunakan Jungkook, dan membersihkan permukaan bibirnya yang penuh dengan saus sebelum akhirnya Saehyun kembali melanjutkan makan siangnya.

Yak, Ji Saehyun!” panggil Jungkook pelan, terdengar aneh di telinga Saehyun saat Jungkook berbicara seserius ini dengannya. Bahkan Saehyun hanya menjawabnya dengan gumaman kecil, ”Menikahlah denganku!”

 

UKHUK UHKHUK!!!

 

Saehyun tersedak makanannya sendiri saat dirinya mendengar penuturan Jungkook yang terbilang gila itu. Mata Saehyun melebar, bahkan salah satu tangannya terangkat menyentuh dahi Jungkook yang dirasa memiliki suhu yang normal-normal saja.

“Apa kau sudah gila, eoh?!” tanya Saehyun penasaran.

‘Aku serius!” Jungkook terlihat sedang tidak bercanda seperti biasanya.

“Jangan bercanda denganku, Jeon Jungkook!” erang Saehyun dengan suara yang tertahan. Takut jika ada yang mendengar celotehan gila dari orang yang duduk di hadapannya.

“Aku sedang tidak bercanda, Ji Saehyun!” Jungkook memantapkan diri. “Jadi, maukan kau menikah denganku?” tanyanya memastikan.

“Tidak mau!” Saehyun menjawab kilat. “Kau pikir menikah itu semudah membalikkan telapak tangan? Belum lagi ayahmu yang kelewat menyebalkan itu!” protes Saehyun.

“Dari pada aku harus menikah dengan orang yang tak aku kenal bahkan mendengar namanya saja tak pernah, lebih baik aku menikah denganmu!”

“Kau, menyukaiku?!” pekik Saehyun, tatapannya menyelidik. Untung saja saat ini restoran terbilang sepi pengunjung. Hanya ada segelintir orang saja, jadi Jungkook tak begitu malu akan tatapan orang-orang disekitarnya.

“Si-siapa bilang?!” Jungkook tergagu saat menjawab pertanyaan yang tiba-tiba lolos dari Saehyun. “Ah, aku dengar panti asuhanmu itu sedang mencari dana kan? Kalau kau menikah denganku, aku pastikan perusahaan ayahku akan menjadi donatur untuk panti asuhanmu. Setiap bulannya aku pastikan ada dana yang masuk kas besar panti asuhanmu. Bagaimana?” tawarnya.

“Kau membeliku? Bahkan kau membawa permasalahan panti tempat aku tinggal?! Kau pikir aku akan tergiur dengan uangmu?!” Saehyun terlihat tak terima. Makanan yang sedari tadi di tangannya kini sudah berpindah tempat ke piring saji.

“Aku tidak membelimu! Justru aku menawarkanmu pekerjaan dan profesi yang lebih baik.” Jungkook membela diri. “Menjadi istri seorang Jeon Jungkook!” lanjutnya.

Saehyun terlihat sedang berpikir sejenak, tak lama Saehyun terlihat sedang merogoh saku hoodie-nya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

Yak! Jung Yein, temui aku di tempat biasa.” Ucapnya pada seseorang yang ia panggil Yein. Saehyun mengakhiri panggilannya dengan senyuman cerahnya.

“Hei orang aneh, terima kasih ya. Semoga kita bertemu lagi lain kali, dan aku akan mentraktirmu. Annyeong…” Ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Jungkook dengan wajah kebingungan.

“Seaneh itu kah aku bagimu?!” pekik Jungkook tak terima. “Aku bersungguh-sungguh Ji Saehyun…” erangnya frustasi.

 

 


 

 

“Silahkan datang kembali…” ucap seorang pelayan sebuah toko makanan siap saji pada Saehyun dan Yein yang baru saja berkunjung tadi.

Yein masih bertanya-tanya, dari mana rupanya kakaknya itu mendapatkan uang sebanyak itu. Sedari tadi hanya itu yang ingin Yein tanyakan setiap kali Saehyun mengajaknya untuk berbelanja kebutuhan-kebutuhan keluarga kecil mereka.

Eo-eonnie…” Yein memanggil Saehyun dengan ragu.

Eumm, wae?” tanya Saehyun yang masih fokus pada barang bawaannya yang melimpah.

“A-aku mau tanya boleh?” Saehyun hanya mengangguk kecil menanggapi permintaan Yein.

Eonnie, dari mana kau mendapatkan begitu banyak uang itu?” pertanyaan yang keluar dari mulut Yein membuat Saehyun mengalihkan atensinya, menatap Yein dengan tatapan anehnya.

Ah, mian. Aku bukannya tidak percaya padamu hanya saja-“

“Kau tidak perlu tahu, Yein-ah. Tak usah dipikirkan, yang harus kau pikirkan adalah bagaimana caranya agar kau segera lulus sekolah dan melanjutkan pendidikanmu ke tingkat yang lebih tinggi lagi.” Saehyun memotong pernyataan Yein dan malah menasihatinya.

Yein bungkam, tak berani membalas kata-kata Saehyun. Baginya Saehyun adalah satu-satunya kakak perempuan yang ia miliki, dan apapun yang Saehyun katakan Yein tak bisa menolaknya. Karena Yein tahu kalau Saehyun sangat menyayanginya begitu pun dengan Yein yang sangat menyayangi Saehyun.

 

 

Yak, Seungyeol-ah cepatlah!” teriak seorang pemuda berparas tampan, Nam Woohyun, kakak tertua sekaligus pemilik Panti Asuhan Nam’s House. “Dasar lamban!” kesalnya pada temannya yang ia nilai sangat lamban dalam mengerjakan sesuatu.

Tanpa sengaja matanya menangkap dua siluet yang sudah tak asing lagi baginya. Saehyun dan Yein terlihat sedang berjalan dengan tangan yang penuh dengan kantung belanjaan. Mata Yein berbinar saat didapatinya Woohyun berdiri tak jauh dari tempat mereka.

Oppa!” sapa Yein dan berlari menuju kakaknya.

Ah, Yein-ah.” Woohyun balas menyapa sembari mengelus puncak kepala Yein dengan sayang. “Yak! Nam-yangie, dari mana saja kau, eoh?” ucap Woohyun saat Saehyun ikut menyambanginya.

“Kau tidak lihat ini?!” katanya sembari menunjukkan beberapa kantung belanjaan yang ada di tangannya. “Sedang apa kau di sini, Hyung?”

Yak! panggil aku Oppa, dasar gadis nakal!” protes Woohyun.

“Tidak mau! Kecuali kau berhenti memanggilku dengan sebutan aneh itu!”

Issh, anak ini. Ngomong-ngomong, dari mana kau mendapatkan uang untuk membeli itu semua?”

“Ini hasil kerja kerasku! Ayo Yein!” ajak Saehyun dan mendahului Yein yang masih mematung kebingungan, “Maafkan Saehyun eonnie ya, Oppa?” pintanya yang dijawab anggukan kecil oleh Woohyun dan segera menyusul langkah Saehyun.

“Kau bicara dengan siapa, Woohyun-ah?” tanya Seungyeol, teman Woohyun saat baru saja menampakkan dirinya dari balik pintu kaca.

“Adikku.” Jawab Woohyun singkat.

“Nam-yangie?” tebak Seungyeol yang seolah sudah tahu siapa yang datang, dan tebakannya dibenarkan dengan anggukan kecil Woohyun.

 


 

Di rumah, tepatnya di Panti Asuhan Nam’s House Saehyun, Yein dan beberapa anak yang masih tinggal di panti asuhan milik keluarga Nam ini tengah makan besar bersama menikmati hidangan yang tadi dibeli oleh Saehyun dan Yein. Tak lama Woohyun datang menghampiri adik-adik pantinya.

Hyung ayo makan! Ini enak.” Ucap Ji Oh, salah seorang anak panti dengan penuh semangat.

“Ji Saehyun, ikut aku!” ajaknya dan berlalu begitu saja. Dengan kebingungan Saehyun memilih segera bangkit dan menyusul Woohyun yang sudah terlebih dahulu ke luar.

Di luar rumah Woohyun bertolak pinggang menatap tajam Saehyun sebelum akhirnya mengeluarkan suara kembali, “Apa kau melakukannya lagi?” tanyanya dengan nada dingin seolah sudah mengetahui apa yang Saehyun perbuat.

“Iya…” jawab Saehyun santai.

“Apa kau tuli?! Sudah ku bilang jangan pernah mengulangi hal itu lagi, apa selamanya kau akan memberi mereka makanan yang tak jelas asal-usulnya?!” gertak Woohyun penuh amarah.

Eiiyy, yang penting mereka senang atas apa yang sudah aku berikan, kan?! Asalkan kita semua bisa mengisi kekosongan dalam perut kita, Oppa!” Saehyun tak mau kalah.

 

Mendengar keributan yang terjadi di luar membuat Yein memutuskan untuk ikut melihat apa yang terjadi, “Kalian tetap di sini, jangan kemana-mana ya?” titah Yein. Dan betapa terkejutnya Yein tatkala ia melihat Woohyun dan Saehyun tengah adu mulut di luar.

“Sudah ku bilang behenti mencopet, Ji Saehyun!” teriak Woohyun kesal, Yein terkejut mendengarnya. Matanya membulat bak memaksa ingin ke luar dari singgah sananya.

Oppa! Jangan keras-keras!” Saehyun tak mau kalah, “Oh, apa kau mau mereka semua mendengarnya, eoh? Dan membuat mereka membenciku?!”

Woohyun geram, mukanya memerah bak kepiting rebus menahan amarah yang sudah terkumpul di tempurung kepalanya. Kesal akan kelakuan sang adik yang tak mau mendengarkannya.

“Aku melakukan semua ini demi dirimu! Aku sedih melihatmu berjuang sendiri mencari uang untuk menghidupi kami semua! Aku sedih saat melihatmu memaksakan diri untuk bekerja disaat kau sakit! Aku benci melihatmu yang terlihat sok kuat padahal tidak! Aku benci kenyataan ini, Nam Woohyun!!!” Saehyun menjerit, menangis saat mengeluarkan keluh kesahnya.

Melihat adiknya menitikkan air mata dengan hebat, Woohyun merengkuh tubuh bergetar Saehyun, membawanya ke dalam dekapan hangatnya, mencoba menenangkan Saehyun yang masih terisak. “Mianhae, Oppa mianhae, eoh?” bukannya menenangkan dan bersikap tegar, Woohyun justru ikut menitikkan air matanya. Tak jauh berbeda dengan Saehyun dan Woohyun, pun Yein ikut menitikkan air matanya, menagis dalam diam.

 

Saehyun terduduk dikursi makan dengan segelas air putih di tangannya, tersenyum getir, ingatannya kembali pada penawaran Jungkook kemarin, dan menimang-nimang apa dia harus menerima tawaran Jungkook atau tidak. Sesekali dilihatnya Yein yang tengah merapikan dapur, dan tiba-tiba ia teringat pada Yein yang sebentar lagi akan lulus sekolah dan harus melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Ditambah dengan kepeduliannya pada Woohyun yang selama ini bekerja sangat keras untuk memberi kehidupan padanya dan adik-adik pantinya membuatnya menekatkan hatinya.

“Haruskah aku terima saja tawarannya?” tanyanya pada diri sendiri.

“Tawaran apa, Eonnie?” tanya Yein. Ah, rupanya Saehyun tak sadar kalau masih ada Yein di sini.

“Bukan apa-apa.” Saehyun berlalu, pergi keluar meninggalkan Yein dengan sejuta tanya.

 

Dilain tempat, Jungkook sudah kembali ke rumah megahnya. Jungkook langsung menyapa tempat tidur king size-nya saat ia sudah sampai di dalam ruangan pribadi miliknya. Menyilangkan kedua tangannya, menjadikannya sebagai tumpuan kepalanya.

“Akan seperti apa nanti kalau aku memang benar menikah dengan gadis seaneh dia?” Jungkook terkikik geli saat membayangkan kehidupan pernikahannya nanti dengan Saehyun. Senyuman manis terukir di bibirnya, namun detik berikutnya senyuman di bibir Jungkook luntur, “Kenapa aku terus memikirkan gadis itu? Ah, sial!” ucapnya mengacak surai legamnya.

Jungkook berguling-guling sendiri di atas tempat tidurnya, dengan sesekali tertawa geli ketika ia mengingat bagaimana saat ia menolong Saehyun dari gerombolan yang mengejarnya karena mencopet. Atau saat ia menyaksikan bagaimana tata cara makan Saehyun yang terbilang tak wajar bagi seorang gadis. Jungkook cekikikan seorang diri tanpa tahu apa penyebabnya.

 

TokTokTok

 

Aktivitasnya terhenti kala suara ketukan pintu menyambangi indera pendengarannya. Dengan malas Jungkook berjalan untuk membuka pintu kamarnya mencari tahu siapa rupanya yang berani mengganggu aktivitasnya yang tak jelas itu.

Dibukanya pintu berwarna cokelat tua yang terlihat mewah itu, didapatinya seorang wanita paruh baya tersenyum menyapanya, “Tuan Muda, makan malam sudah siap.” Ucapnya sembari membungkukkan badan dengan hormat.

 

 

Keluarga besar Jungkook tengah makan malam bersama di kediaman Tuan Jeon. Semua terasa lancar dan tak ada masalah, bahkan baik Tuan Jeon, Nyonya Jeon, Junho yang merupakan kakak laki-laki Jungkook beserta istrinya dan juga Jungkook, tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Hingga sampai pada saatnya Jungkook mengeluarkan suaranya dengan pernyataan yang mengejutkan seluruh pihak keluarga Tuan Jeon.

“Ayah, aku akan menikah.” Ucapnya singkat, membuat seluruh pasang mata menatapnya terkejut. Bahkan sang ibu sampai tersedak kalau saja istri Jeon Junho, Lee Hanna tidak memberinya pertolongan.

“Tapi bukan dengan orang yang akan dijodohkan denganku.” Kalimat inilah yang kali ini membuat ayahnya terlihat geram. “Sebenarnya selama ini aku sudah memiliki seorang kekasih, Yah. Aku pikir inilah saatnya aku memberitahu kalian semua, aku akan menikah kalau perlu secepatnya. Asalkan dengannya, bukan dengan yang lain.” Penuturan Jungkook membuat semua penghuni ruang makan terkejut bukan main.

“Lihat kan? Ku bilang apa, sayang. Jungkook pasti menyembunyikannya selama ini.” Ucap Nyonya Jeon.

“Pertemukan aku dengannya.” Singkat Tuan Jeon dan langsung berlalu dari ruang makan, diikuti oleh istrinya yang terlebih dahulu mengelus dengan sayang pundak anak keduanya, Jungkook yang hanya tersenyum menanggapi perlakuan sang ibu.

 

“Apa?!” pekik Saehyun pada seseorang di sebrang sana. “Secepat itu?! Yak, bahkan aku belum mengatakan kalau aku mau menerimamu, bodoh!” lanjutnya.

[“Aku anggap kau menerimaku, baiklah aku akan menjemputmu besok, untuk pakaian dan segala macam keperluanmu akan aku siapkan. Jadi, kau hanya perlu menyiapkan hatimu saja.”]

“Hei Tuan Joen kau benar-benar!” Saehyun geram, mengacak surai legamnya kasar karena kesal akan keputusan sepihak Jungkook.

Sedangkan Jungkook mengakhiri panggilannya untuk Saehyun dan tersenyum geli mengingat bagaimana reaksi Saehyun tadi.

 

 


 

Makan malam berlangsung di kediaman Tuan Jeon. Sejak pertama kali menapakkan kaki jenjangnya di kediaman Tuan Jeon, mata Saehyun tak kunjung berhenti untuk memperlihatkan ekspresi kekagumannya pada rumah megah nan mewah bak istana milik keluarga Jeon.

“Jadi, apa pekerjaan orang tuamu?” Tuan Jeon memulai perbincangan dan pertanyaannya langsung membuat Saehyun bagai tertohok besi panas.

‘Pekerjaan orang tua? Bahkan aku ini hanya seorang penghuni panti asuhan kecil’ batin Saehyun. Tangannya yang ia sembunyikan di bawah meja makan mulai bergetar, Jungkook menyadari akan kegugupan yang Saehyun rasakan, perlahan dan masih dengan sedikit ragu Jungkook mengangkat tangannya, mengenggam lembut tangan Saehyun, memberi sebuah tatapan hangat disertai senyuman manis memberikan semangat pada ‘gadisnya’. Saehyun terkejut dibuatnya, namun detik berikutnya Saehyun menghela nafas kecil sebelum akhirnya angkat bicara.

“Aku-“

‘Ayahnya bekerja di sebuah Hotel bintang lima, Yah.” Potong Jungkook membuat Saehyun menatapnya sinis.

“Hotel yang mana?” Tuan Jeon lanjut bertanya, “Aku ingin dia yang menjawab, bukan kau!” sela sang Ayah sebelum Jungkook menjawabnya.

Lagi. Saehyun menghela nafas kecil sebelum akhirnya angkat bicara, “Ibu mengajarkanku untuk tidak berbohong, apalagi pada orang yang lebih tua dariku. Maaf Tuan dan Nyonya, ayahku bukanlah seorang pekerja disebuah Hotel berbintang lima, aku bahkan tak tahu bagaimana rupa ayahku dan juga ibuku. Yang aku kenal hanyalah rupa Ibu panti yang sudah merawatku sedari kecil. Aku hanya seorang penghuni panti asuhan kecil bernama Nam’s House. Aku bukanlah dari kalangan atas seperti Anda. Maafkan aku.” Penuturan Saehyun yang tentu saja membuat semua orang yang hadir di acara makan malam ini terkejut. Bahkan wajah Tuan Jeon mulai memerah menahan amarah.

Genggaman tangan Jungkook pada tangan Saehyun semakin erat, begitu pula sebaliknya. Saehyun balik menggenggam erat tangan Jungkook, takut pada reaksi apa yang akan Tuan Jeon beri atas penuturan terlampau jujurnya itu. Baik Saehyun maupun Jungkook, keduanya sama-sama menutup mata mereka takut, dengan tangan yang saling menggenggam erat satu sama lain.

“Ayah…” Jungkook memberanikan diri. “Aku hanya akan bahagia jika hidup dengannya.” Lanjutnya penuh dengan ketulusan.

“Sayang…” kini giliran sang istri yang menyadarkan Tuan Jeon.

“Baiklah.” Semua orang tampak tegang mengenai keputusan yang akan Tuan Jeon beri. “Jika memang itu pilihanmu, aku akan menyetujuinya.” Keputusan Tuan Jeon yang membuat semua orang terkejut bukan main.

Tanpa sadar Jungkook bangkit dan memeluk mesra Saehyun, seolah mereka memang benar-benar sepasang kekasih yang baru saja diberi restu untuk melangkah ke pelaminan. Bahkan Jungkook sampai mengecup mesra kening Saehyun. Detik berikutnya Jungkook sadar atas apa yang ia lakukan. Jungkook melepas pelukannya dengan canggung.

 

 

“Terima kasih, Saehyun-ah.” Ucap Jungkook kikuk sesaat setelah ia tiba di kediaman Saehyun.

“Ah, i-iya.” Saehyun pun merasakan kecanggungan. “Hei bodoh, kau itu berhutang budi padaku, tahu!” ucapnya menghilangkan kegugupan.

“A-aku tahu! Ya sudah, a-aku pulang, dah…” Jungkook melambaikan tangannya canggung, dan dibalas senyuman serta lambaian tangan canggung dari Saehyun.

 

 


 

 

Tak terasa, hari pernikahan pun tiba. Bahkan Woohyun dan keluarga Panti Asuhan pun sudah mengetahui perihal pernikahan Saehyun dan Jungkook. Kedua mempelai terlihat sangat serasi, Jungkook dengan tuxedo hitam mewahnya dan Saehyun dengan gaun pilihannya dan Jungkook tempo hari. Acara sakral itu berakhir dengan pemakaian cincin oleh kedua mempelai. Tiba saatnya penutupan acara, yang biasanya diakhiri dengan ciuman mesra dari kedua mempelai.

Jantung Saehyun maupun Jungkook berdegup kencang, pasalnya ini kali pertama mereka melakukan skinship lebih dari sekedar berpegangan tangan. Apalagi Jungkook berjanji tak akan pernah menyentuh Saehyun sedikitpun. Bagaimana bisa Jungkook harus mencium gadis dihadapannya yang sebenarnya sudah menjadi istri sahnya.

 

“CIUM!”

“CIUM!”

Sorakkan disertai tepuk tangan penyemangat menggema diseluruh penjuru gereja tempat acara sakral itu dilaksanakan. Yang malah makin membuat Jungkook bertambah gugup dan ragu.

Yak! apa yang kau lakukan Jungkook-ah? Cepat lakukan!” ucap salah seorang sahabat karib Jungkook, Kim Taehyung.

“Kalian ini sudah menjadi suami-istri, itu hal wajar, temanku!” tambah Jimin.

Jungkook menatap tepat pada manik legam Saehyun, “Ma-maaf aku, Saehyun-ah maafkan aku.” Usai mengatakan kata maafnya Jungkook langsung mengangkat dagu Saehyun dan menautkan bibirnya dengan bibir Saehyun, melumatnya lembut. Saehyun terkejut dibuatnya, hingga bucket bunga yang ada di genggamannya lolos begitu saja. Sorakkan disertai tepuk tangan meriah para hadirin yang datang menyertai aksi Jungkook saat mencium Saehyun.

Jungkook melepaskan tautan mereka, masih dalam jarak yang sangat dekat hingga mereka bisa merasakan deru nafas masing-masing. Meski sorakan dan ucapan selamat untuk keduanya masih menggema, tak dapat menghalangi Saehyun maupun Jungkook untuk saling mendengar deruan nafas masing-masing. Jungkook sekali lagi menatap lekat kedua bola mata Saehyun dari jarak yang hanya beberapa senti saja, begitu pun dengan Saehyun yang balik menatap Jungkook lamat.

 

“Ah, lelahnya!” keluh Jungkook dan membaringkan diri di atas tempat tidur King Size barunya di sebuah apartemen mewah hadiah pernikahan pemberian ayahnya.

Yak! Apa yang kau lakukan?” Saehyun datang dengan berkacak pinggang menatap tajam Jungkook yang dengan seenaknya merebahkan tubuhnya tanpa membantu Saehyun yang sedang kesusahan membereskan barang-barang mereka. “Ayo cepat banguuuun!!!” Saehyun menarik tangan Jungkook sekuat tenaga, namun nihil. Justru dialah yang tertarik oleh Jungkook dengan satu tarikan.

Saehyun terjatuh dengan kedua tangannya yang tepat di atas dada bidang milik Jungkook. Tatapannya bertemu dengan tatapan milik Jungkook. Ada desiran aneh dalam diri mereka masing-masing saat mereka dalam posisi yang tak biasa.

Menyadari itu Saehyun langsung mencoba berdiri namun tangan Jungkook justru menahannya, “Li-lima menit! Tetaplah, seperti ini.” permintaan Jungkook yang terdengar sangat aneh di telinga Saehyun.

“Hei, apa kau memang benar menyukaiku, eoh?!” goda Saehyun dengan tampang seriusnya, namun detik berikutnya Saehyun malah terkikik geli, “Ha! Tidak mungkin kan? Aissh, bodohnya.”

“Kalau memang iya, kenapa?” pernyataan sekaligus pertanyaan yang membuat Saehyun harus rela memperdengarkan degupan jantungnya pada Jungkook karena posisi mereka yang tak berjarak.

Sejurus kemudian, kepala Jungkook mulai terangkat. Tatapannya beralih pada bibir pulm milik Saehyun, detik berikutnya bibir Jungkook sukses mendarat di bibir pulm Saehyun. Mendapat perlakuan yang tiba-tiba, membuat Saehyun hanya bisa membelalakkan matanya, apalagi Jungkook melakukannya cukup lama meski hanya sekedar menempelkan bibirnya saja, merasa sesak nafas Saehyun menggunakan tangannya untuk memukul dada bidang milik Jungkook. Sadar akan kelakuannya, Jungkook melepaskan tautan yang ia buat dan malah berlalu menghindari protes dari Saehyun.

Makan malam pertama mereka dengan status yang baru berlangsung tenang. Tak ada satupun yang berani membuka suara. Hanya terdengar suara benturan alat makan yang mereka gunakan. Keduanya sama-sama merasa canggung.

Jungkook beranjak terlebih dulu , dan langsung melenggang pergi ke kamarnya. Baru sekitar dua sampai tiga langkah, sebuah suara menginstrupsinya untuk berhenti, “Jungkook-ah…” panggil Saehyun.

Jungkook mengehentikan langkahnya sejenak, “Apa?” tanyanya membelakangi Saehyun yang masih setia duduk di kursi makan.

“Kau benar-benar menyebalkan ya! Setelah memaksaku menikah denganmu, lalu men-“

‘Apa?!” kini Jungkook membalikan tubuhnya tepat menghadap Saehyun yang terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

“Aish!!! Setidaknya kau harus minta maaf padaku!” pekik Saehyun.

“Untuk apa?”

“Ya, untuk… untuk semua yang sudah kau lakukan padaku.”

Jungkook tersenyum miring mendengar penuturan Saehyun., “Untuk apa aku harus minta maaf? Toh, kau sudah menjadi istri sah ku sekarang. Sudahlah akui saja kalau kau juga menginginkannya.” Ucapnya panjang lebar dan berlalu meninggalkan Saehyun dengan berjuta-juta kekesalan.

“Dasar byuntae!” desis Saehyun.

 

Woohyun masih saja menunggu kedatangan Saehyun, padahal malam sudah semakin larut. Melihat kakak sulungnya yang masih berada di luar tanpa mentel tebalnya membuatYein memberanikan diri menghampiri Woohyun.

Oppa, di luar sangat dingin, ayo masuk!” ajaknya pada Woohyun.

“Tidak usah mengkhawatirkanku, masuklah Yein-ah. Aku masih ingin menunggu Saehyun pulang.”

Oppa, Saehyun eonnie kan sekarang sudah tidak menetap lagi di sini. Dia sudah memiliki keluarga sendiri, dia sekarang tinggal dengan suaminya.”

“Aku masih tidak mempercayainya. Nam-yangie-ku, aku merindukannya.” Woohyun meneteskan air mata mengingat sosok Saehyun yang selalu mengusiknya dengan kegaduhan yang ia buat, namun sekarang tak ada lagi. Saehyun kecil yang sudah dewasa telah memilih jalannya sendiri, “Aku tahu hari ini pasti akan tiba. Hari di mana aku akan kehilangannya.” Tubuh Woohyun bergetar hebat seiring dengan cairan-cairan liquid yang lolos dari pelupuk matanya, dengan sigap Yein memeluk Woohyun berusaha menenangkan Woohyun dan menyalurkan kehangatan yang dimilikinya.

 

Tak jauh berbeda dengan Woohyun, Saehyun pun melakukan hal yang sama. Sejak sekitar sepuluh menit yang lalu Saehyun terus memandangi layar ponselnya yang menunjukkan foto keluarga Nam’s House yang tersenyum ceria menatap kamera.

Slide berikutnya merupakan foto yang menampilkan wajah cerianya dengan Woohyun. Jari-jari lentiknya bergerak naik-turun mengusap layar ponselnya tepat pada wajah Woohyun.

Oppa, aku merindukanmu…” lirihnya dan tersenyum getir.

Jungkook datang dari luar kamar tidur mereka, melihat ada yang aneh pada diri istrinya dengan lincah tangan jahilnya langsung menyambar ponsel sang istri. Betapa terkejutnya Jungkook saat mengetahui apa yang membuat istrinya tersenyum sendiri.

“Kembalikan!” Saehyun berusaha meraih ponselnya, namun nihil Jungkook lebih tinggi dan lebih gesit dibandingkan dengan dirinya. “Jungkook-ah…” rengek Saehyun.

“Kau itu sudah memiliki aku, dan kau juga hanya milikku. Jadi, hilangkan lelaki lain dari pikiranmu.” Saehyun tercengang mendengar pernyataan Jungkook.

“Cepat tidur, aku tidak mau kau terlambat membuatkan sarapan untukku!” titahnya, merasa tak mendapat respon dari Saehyun, Jungkook kembali melanjutkan kalimatnya, “Aku akan tidur di sofa, kau tidurlah di situ.” Dan langsung merebahkan diri di sofa yang terletak di ujung kamarnya.

 


 

Sinar mentari pagi awal musim dingin terlihat mulai menampakkan dirinya meski malu-malu dengan bersembunyi di balik awan putih. Cahanya berusaha memasuki setiap celah jendela kamar Apartement milik Saehyun dan Jungkook.

Saehyun masih terlelap dibalik selimut tebalnya, meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lebih tiga menit. Alarm yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur berbunyi dengan nyaringnya membangunkan si empunya yang masih asyik di balik selimut tebal cokelatnya. Saehyun mengerang kecil terbangunkan oleh alarm yang sengaja ia pasang semalam, tangannya ia rentangkan lebar-lebar dengan mata yang masih terpejam.

Aww!” pekiknya kecil saat tangan kanannya merasakan sesuatu yang keras namun hangat, ‘Ah, mungkin meja atau apalah itu.’ Acuhnya. Sekali lagi, Saehyun merentangkan tangannya dan,

“Aaak! Yak!”

Terdengar pekikan seseorang di sampingnya, betapa terkejutnya Saehyun tatkala iris matanya menangkap sosok yang tak asing baginya berbaring di sampingnya dengan sebelah tangannya berada tepat di bawah kepala Saehyun. Rupanya Jungkook melanggar janjinya dan malah tidur bersama Saehyun.

Aaaakkkk!!!” pekik Saehyun dengan sekencang-kencangan.

Yak! pelankan suaramu, ini masih pagi bodoh!”

‘Kau! Kau, apa yang sudah kau lakukan, huh?!”

“Aku, aku bisa jelaskan, jadi tenanglah dulu! Semalam itu kau menggigil kedinginan lalu tiba-tiba kau menangis tak jelas, jadi aku menghampirimu dan…” Jungkook menjelaskan situasi yang terjadi semalam dengan gugup, “Ah, aku tidak tahu! Pokoknya hanya itu yang aku ingat.” Nadanya memelan diakhir kalimat.

Berakhirya kalimat Jungkook malah menjadi awal tangisan keras Saehyun sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang semakin membuat Jungkook cemas. Tangan Jungkook terulur untuk menyentuh tangan Saehyun yang masih terus menangis.

“Sae-Saehyun maaf aku tidak bermaksud untuk-“ tangan Jungkook yang terulur untuk menyentuh tangan Saehyun malah dihempaskan oleh tangan Saehyun.

Saehyun menatap Jungkook geram, matanya memicing tajam. Setelahnya Saehyun berlalu keluar kamar. Sedangkan Jungkook hanya menatap kepergian Saehyun penuh tanya.

 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tak terasa sudah sekitar empat bulan lamanya Jungkook dan Saehyun menjalani kehidupan sebagai sepasang suami istri. Suka duka mereka hadapi bersama, meski terkadang Saehyun lebih banyak menemui kesulitan ketimbang Jungkook.

Misalnya saja hari ini, Saehyun sibuk sendirian berkeliling di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Myeongdong. Membeli beberapa kebutuhannya dan juga Jungkook. Sementara itu Jungkook sibuk dengan aktivitas barunya sebagai seorang direktur di perusahaan ayahnya menggantikan sang ayah yang lebih memilih untuk pensiun lebih awal.

Saehyun memasuki sebuah toko pakaian yang pernah ia datangi bersama Jungkook dulu saat hendak bertemu dengan keluarga Jungkook untuk pertama kalinya. Tanpa ia sadari, sebuah senyuman manis terukir diwajah ayunya kala ingatannya kembali memutar memori kebersamaannya dengan Jungkook. Sadar akan kegiatan tak jelasnya, Saehyun memudarkan senyuman manisnya dan beranjak dari tempatnya berdiri tadi.

“Sayang, bagaimana kalau yang ini? Kau pasti terlihat cantik dengan baju ini, Nayeong-ah.” Ucap seorang lelaki tampan pada istrinya yang cantik.

“Kau benar, aku juga suka warnanya. Terima kasih, Jin Oppa.” Wanita itu balas tersenyum dan berlalu menuju ruang ganti untuk mencoba pakaian pilihan suaminya.

“Wah, Anda memang tipe suami yang sangat menyayangi istrinya, ya.” Puji seorang pelayan pada Jin yang membalas pujian tersebut dengan sebuah senyuman.

 

Mendengar perbincangan mereka membuat Saehyun tersenyum getir. Pasalnya Jungkook sekalipun tak pernah mengatakan kata-kata manis untuknya seperti kata ‘sayang’, ‘cinta’ dan kata pujian lainnya. Bahkan Jungkook tak pernah bilang bahwa Jungkook mencintainya meski di depan orangtuanya yang selalu menanyakan hal itu.

Saehyun sadar, pernikahannya dan Jungkook hanya sebatas kontrak saja. Namun diam-diam tanpa Jungkook tahu Saehyun mulai menyukai bahkan mencintainya. Dan pernah berharap bahwa status pernikahannya dengan Jungkook bukanlah sebatas kontrak. Saehyun sadar, ia seharusnya tak boleh memiliki perasaan pada Jungkook, namun Tuhan berkehendak lain. Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya seiring dengan kebersamaan mereka selama ini.

“Untuk apa kau mengharapkan hal yang tak mungkin, Ji Saehyun?” Saehyun bermonolog.

 


 

Jungkook pulang larut malam lagi, dan bodohnya Saehyun ia malah menunggu kedatangan Jungkook hingga terlelap di sebuah sofa dengan posisi terduduk. Melihat hal itu membuat Jungkook merasa sedikit bersalah karena tak memberi tahu perihal kepulangannya pada Saehyun.

Saat berjalan ke arah dapur, betapa terkejutnya Jungkook karena di atas meja makan terdapat berbagai macam masakan kesukaannya dan belum tersentuh sedikitpun. ‘Dia pasti belum makan malam. Dasar bodoh!’ umpatnya dalam hati pada Saehyun.

Jungkook menggendong Saehyun, membawanya ke kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur. Tak lupa Jungkook menyelimuti tubuh Seahyun yang menggigil dengan selimut tebal. Pandangan mata Jungkook tertuju pada wajah tenang Saehyun saat tertidur. Bibir Jungkook membuat sebuah kurva manis saat memandang wajah istrinya, dengan tangannya yang bergerak naik-turun mengelus kepala Saehyun lembut.

“Lain kali jangan menungguku hingga tertidur di sofa lagi. Maafkan aku karena tidak menghubungimu tadi. Tidurlah.” Ucapnya dan mengecup kening Saehyun kilat.

Jungkook menutup pintu kamar Saehyun dan lebih memilih untk tidur di kamar tamu yang letaknya tepat di samping kamar Saehyun.

“Kenapa kau kembali lagi di saat aku mulai membuka pintu hatiku untuknya?” gumam Jungkook dengan pandangan yang menerawang menatap langit-langit kamarnya. “Sungguh aku benar-benar tak ingin kau kembali lagi.” Lanjutnya.

Ingatannya kembali memutar kejadian saat dirinya bertemu dengan seorang gadis yang tiba-tiba datang tepat saat ia akan pulang, yang menyebabkannya pulang larut malam dan membuat Saehyun harus menunggu kedatangannya.

 

Pagi harinya Jungkook terbangun lebih dulu dibanding Saehyun. Dengan memberanikan diri Jungkook masuk ke kamar Saehyun dan melihat istrinya yang masih betah terlelap dibalik selimut tebalnya. Dengan langkah perlahan Jungkook menghampri Saehyun, terduduk di atas karpet abu-abu yang menutupi sebagian lantai dingin kamar Saehyun. Menatapnya dengan senyuman cerah.tangannya terulur berniat untuk membangunkan Saehyun, betapa terkejutnya Jungkook saat tangannya merasakan panas ketika menyentuh wajah Saehyun.

Dengan tergesa-gesa Jungkook berusaha membangunkan Saehyun yang masih terlelap, “Saehyun-ah, badanmu panas sekali. Bangunlah.” Lirihnya sembari berusaha membangunkan Saehyun.

Namun nihil, Saehyun tak membuka matanya yang ada ia malah memiringkan wajahnya berdapan tepat dengan wajah Jungkook, dengan peluh akibat suhu tubuhnya yang panas membuat pemuda itu terkejut. Jungkook tersenyum miring, seolah menemukan cara untuk membangunkan Saehyun. Sejurus kemudian Jungkook memajukan wajahnya, dan menatap tepat pada bibir Saehyun yang kering akibat suhu tubuhnya yang panas.

 

Chu~

 

Jungkook mengecup bibir Saehyun kilat, “Bangunlah.” Lirihnya.

 

Chu~

 

Lagi, Jungkook mengecup bibir Saehyun sedikit lama untuk kedua kalinya, “Kau tak mau bangun? Baiklah.” Jungkook kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Saehyun yang masih menutup matanya.

 

Chu~

 

Kali ini Jungkook benar-benar mencium Saehyun begitu lama, seakan tak ingin melepaskan tautan yang dibuatnya. Jungkook bahkan ikut memejamkan kedua matanya, tangannya yang sedari tadi bertumpu pada sisi tempat tidur perlahan bergerak memeluk tubuh mungil sang istri yang mulai dicintainya itu.

Kening Saehyun tampak berkerut, tangannya mulai bergerak memukul punggung Jungkook berusaha menyadarkan Jungkook untuk berhenti. Merasa ada pergerakan dari Saehyun , Jungkook menghentikan aktivitasnya dan menatap tepat di kedua manik hitam Saehyun yang masih tampak terkejut atas tindakan Jungkook yang tak terduga.

“Jung-“

“Maaf, aku…” suara Jungkook terdengar kikuk, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Sepertinya kau demam, istirahatlah aku akan buatkan sarapan untukmu.” Lanjutnya dan beranjak keluar dari kamar, meninggalkan Saehyun yang masih tampak terkejut dengan sejuta tanda tanya di otaknya.

“Tadi itu… apa?” Saehyun menggaruk kepalanya yang tak gatal akibat kebingungan. Oh rupanya Saehyun tak menyadari jika Jungkook baru saja menciumnya bahkan sudah tiga kali pagi ini.

 

 


 

 

“Hei, Jung! Hari ini kau tak masuk kerja?” tanyanya seolah tak terjadi apa-apa pagi ini. Saehyun malah makan dengan lahapnya.

Jungkook bahkan sampai terpukai atau mungkin merasa aneh dengan tingkah Saehyun yang terbilang normal itu. Karena biasanya Saehyun akan uring-uringan dan meminta Jungkook untuk minta maaf padanya jika Jungkook menyentuhnya.

“Tidak.” Jawabnya singkat.

“Kenapa?”

“Ayah melarangku ke kantor, karena kau sedang demam.”

Saehyun hanya bisa membulatkan matanya terkejut, “Astaga benarkah? Woah daebak! Aku tak percaya, ayahmu itu ternyata perhatian juga ya.” Celotehnya dan kembali melanjutkan sarapan paginya tanpa menunggu reaksi dari Jungkook.

‘Kau sungguh tidak menyadarinya, kan? Atau hanya pura-pura?’ gumam Jungkook dalam hati.

 

Saehyun datang menghampiri Jungkook yang tengah bersantai di depan televisi dengan setoples kue kering ditangannya.

“Ini!” Saehyun menyerahkan toples yang berisi kue kering tadi pada Jungkook. “Kemarin ibumu datang ke sini dan membawakan ini untukmu. Katanya kau sangat suka kue kering, Jung.” Jelas Saehyun saat dilihatnya Jungkook menerima toples tadi dengan enggan.

 

Tiba-tiba bel pintu apartement mereka berbunyi, dengan gerakan cepat Saehyun melangkah ke arah pintu dan lantas membuka pintu tanpa melihat terlebih dahulu siapa gerangan yang bertamu di pagi hari ini via intercam.

“Hai, apa Jungkooknya ada?” sapa seorang gadis cantik dengan tinggi yang sama dengannya.

“Jungkook?” tanya Saehyun memastikan.

“Ya ampun, kau ini tidak sopan sekali. Aku ini tamu Tuan rumahmu, mana Tuan Jungkook?”

“Apa?”

“Kau yang ditugaskan untuk bersih-bersih di sini kan? Mana Tuan Jungkook?” gadis itu kembali berucap dengan menekankan setiap kata pada kalimatnya.

“Maksudmu aku ini pembantu rumah tangga di sini?!” tak terima dengan sikap tamunya, Saehyun balas berteriak.

“Siapa yang datang, Saehyun-“ kalimat Jungkook terputus tatkala iris matanya menangkap sosok gadis yang sejak kemarin menggangu pikirannya. “Senghee…” lirihnya menyebut nama si gadis.

“Jungkook-ah!” Seunghee malah mendorong Saehyun untuk menjauh dan memeluk Jungkook dengan erat sambil tersenyum kegirangan tepat di depan mata Saehyun. “Aku merindukanmu… Kau tahu aku bahkan sampai mendatangi rumahmu, tapi bibi Jang bilang kau sudah pindah rumah. Kau tega sekali tak mau memberi kabar padaku.” Celoteh Seunghee manja yang masih dalam dekapan Jungkook. Salah! Seunghee lah yang memeluk Jungkook.

Tersadar akan adanya orang lain selain mereka berdua, Seunghee melepaskan pelukannya dan menatap geram pada Saehyun yang masih diam membisu dengan tatapan terkejutnya.

“Jungkook-ah, pecat saja dia. Pembantu macam apa itu yang tak mempersilahkan tamu Tuan rumahnya untuk masuk?! Menyebalkan!” cibir Seunghee.

“Apa kau bilang?! Asal kau tahu saja, aku ini is-“

“Dia ini saudara sepupuku, Seunghee-ya.” Jungkook memotong kalimat pernyataan Saehyun dan malah berkilah mengenai status Saehyun.

Yak, Jeon Jungkook!” geram Saehyun menatap tak percaya pada pemuda yang notabennya adalah suaminya itu, “Kau benar-benar, huh!” Saehyun beranjak meninggalkan keduanya.

“Jung, maaf ku kira dia pembantumu. Aku kan tidak tahu kalau dia saudari sepupumu.”

“Tidak apa-apa.” Jungkook tersenyum getir.

 

Sementara itu di dalam kamarnya, Saehyun tak henti-hentinya meracau merutuki Seunghee maupun Jungkook. “Dasar menyebalkan! Awas saja, setelah ini aku pastikan akan ada perang dunia ke empat di rumah ini!” ucapnya sembari mematahkan sebuah pensil yang selalu ia pakai untuk menggambar dengan sekali cengkrman tangannya. “Aww, sakit!”

“Ohoho, jangan sebut aku Ji Saehyun kalau aku tak bisa menjahili gadis manja dan menyebalkan itu!” Saehyun beranjak dari kursi riasnya dan turun menghampiri Jungkook yang tengah berbincang ria dengan Seunghee.

Oppa!!!” teriaknya dengan sangat kencang yang berhasil mengalihkan atensi Jungkook maupun Seunghee.

“Hei, kau ini tidak sopan! Gadis macam apa kau!” cibir Seunghee.

Oppa~” rajuk Saehyun dengan nada manja pada Jungkook sembari melingkarkan kedua tangannya di lengan Jungkook, menatap heran pada Saehyun yang tersenyum bodoh di sampingnya, namun seketika senyuman bodoh itu hilang, tergantikan dengan tatapan mata Saehyun yang memicing seolah berbicara ‘Awas kau Jeon Jungkook!’.

“Apa dia benar-benar saudari sepupumu? Dari mana dia berasal? Tidak punya sopan santun sama sekali.” Seunghee kembali berceloteh.

“Ohoho! Yak! Kau bilang apa?! Aku tak punya sopan santun? Kau pikir kau itu siapa, huh? Menilai orang dengan sekali lihat.” Cibir Saehyun tak mau kalah.

“Aku? Kau tak tahu siapa aku? Aku Oh Seunghee, kekasih Jungkook!” jawaban Seunghee mampu mematahkan hati Saehyun. Tak tahan dengan sikap Seunghee, gadis itu hampir saja akan mengatakan yang sebenarnya kalau saja Jungkook tak mencegahnya.

“Sudahlah!” Jungkook menatap Saehyun dengan wajah kesalnya. “Maaf Seunghee, aku harus mengantarnya untuk bertemu dengan orangtuaku. Jadi aku tidak bisa menemanimu, maaf.” Kalimat Jungkook itu mampu membuat gadis itu bungkam dan bergegas untuk pergi dari apartement Jungkook.

“Baiklah, aku mengalah. Kalau bukan karena dia saudari sepupumu aku tidak akan sudi membatalkan acaraku. Aku pulang.” Seunghee bangkit diikuti oleh Jungkook yang mengantarnya sampai pintu.

Penasaran dengan apa yang membuat Jungkook lama di sana, Saehyun melangkah menuju depan pintu dan betapa terkejutya ia saat matanya menangkap pemandangan yang sangat menyakiti hatinya.

Seunghee, gadis manja itu mencium Jungkook sebelum akhirnya melangkah pergi dan benar-benar menghilang dari pandangan Jungkook dan dirinya. Saehyun bungkam, diam membisu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Matanya memanas, dan tiba-tiba saja pandangannya mengabur, tertutupi oleh air mata yang tertahan di pelupuk matanya.

 

 


 

 

Ekhem~, jadi dia itu kekasihmu ya?” tanya Saehyun hati-hati saat keduanya sedang menikmati makan malam.

“Sudahlah, jangan bahas dia lagi.” Jungkook menolak untuk membahas perihal hubungannya dengan Seunghee.

“Cinta pertama ya…” Saehyun terkikik geli sendiri, “Jadi itu alasanmu memintau menjadi istri bayaranmu agar orang tuamu merestui hubungan kalian? Huh, lucu juga kau ini Tuan Jeon.”

 

BRAKK

 

Jungkook menggebrak meja makan dengan muka yang sudah merah padam, “Ku bilang HENTIKAN! Jangan bahas itu lagi!” teriaknya tepat di depan wajah Saehyun. “Kapan kau akan mengerti perasaanku, sih?!” setelah mengatakan kalimat ambigu bagi Saehyun, Jungkook meninggalkan ruang makan dengan wajah kesal.

“Perasaan apa? Perasaanmu pada gadis manja itu?” cibir Saehyun sembari memasukkan sesendok penuh makanan ke dalam mulutnya. “Dasar menyebalkan!” rutuknya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan yang belum ditelannya.

 

Setelah membereskan meja makan, Saehyun memutuskan untuk istirahat di kamarnya. Namun niatnya ia urungkan kala manik hitamnya melihat kain gorden yang menutupi kaca jendela kamarnya melambai-lambai tertiup oleh angin malam. Rupanya ia lupa menutup jendela tadi sore.

Saehyun melangkahkan kaki jenjangnya untuk menutup jendela. Namun lagi-lagi matanya melihat sesuatu yang menarik baginya. Pemandangan malam kota Seoul yang dipenuhi lampu remang-remang. Dibukanya pintu balkon lantai dua. Matanya menatap takjub pada apa yang tengah ia pandang. Tangannya terlentang menikmati setiap hembusan angin yang menyentuh lembut wajahnya serta membuat rambutnya berterbangan helai demi helai.

 

Jungkook menghentikan langkah kakinya yang baru saja memasuki kamar saat manik matanya menangkap pemandangan yang membuatnya tak bisa mengalihkan atensinya. Jungkook melangkah mendekati Saehyun yang masih setia pada posisi terakhirnya, menikmati hembusan angin malam.

Entah ada angin dari mana, tiba-tiba saja Jungkook melingkarkan kedua tangannya di pinggang Saehyun. Tentu saja, membuat gadis itu sangat terkejut. Terlebih lagi Jungkook meletakkan dagunya tepat di lengkungan leher Saehyun membuat si gadis semakin terkejut dan merinding dibuatnya.

Yak, Jungkook! Apa yang kau lakukan?” tanya Saehyun dengan nada pelannya.

“Kau tega sekali padaku, menikmati pemandangan indah ini sendirian tanpa mengajakku…” lirih Jungkook yang kini matanya tepat menatap wajah Saehyun dengan jarak yang begitu dekat. “Kau curang.” Lanjutnya mengejek gadis yang kini sedang didekapnya.

Saehyun bersusah payah menelan salivanya sendiri, mengalihkan atensinya dari Jungkook. “A-aku mau tidur.” Ucapnya dan berusaha terlepas dari dekapan Jungkook.

Namun percuma, lelaki itu enggan untuk melepaskan Saehyun begitu saja. “Lima menit!” cegahnya, “Tetaplah seperti ini, lima menit saja…” pintanya dengan tulus.

Saehyun terdiam, dan lebih memilih mengikuti keinginan Jungkook. Lelaki bermarga Jeon itu menutup matanya menikmati aroma tubuh si gadis yang kini mulai menjadi candu baginya. Lagi, bersusah payah Saehyun menelan salivanya sendiri, merasa gugup akan tingkah Jungkook saat ini.

 

Sudah hampir lima menit lamanya, namun tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Hanya hembusan angin disertai hembusan nafas keduanya yang beradu. Jungkook masih setia pada posisi terakhirnya.

“Maafkan aku…” ucap Jungkook dengan mata yang masih terpejam mengawali percakapan mereka yang sempat terhenti tadi.

“Maaf untuk apa?” tanya Saehyun gugup.

“Maaf karena aku sudah membentakmu tadi. Maaf juga untuk kedatangan Seunghee yang tiba-tiba. Dan maaf karena aku belum siap memberitahukan semuanya pada Seunghee perihal status kita.”

“Ah itu, tidak apa-apa…” lirih Saehyun, “Jungkook, sepertinya aku mulai mengantuk, aku mau tidur.” Saehyun hendak berlalu setelah berhasil terlepas dari dekapan Jungkook, namun lagi-lagi ditahan oleh Jungkook.

Jungkook menarik lengan Saehyun dan membalikan tubuh gadis itu, menatap gadis itu dengan tatapan yang tak bisa dimengerti. Saehyun balik menatap Jungkook keheranan, tidak mengerti apa maksud Jungkook.

“Kau benar-benar membuatku frustasi! Apa kau belum mengeti juga kalau aku-“ Jungkook menghentikan kalimatnya entah kenapa.

“Kalau apa?” tanya Saehyun tanpa sungkan.

“Ka-kalau ak-aku…”

Saehyun menatap Jungkook dengan tatapan yang seolah menantangnya. Menanti kelanjutan atas kalimat yang akan Jungkook lontarkan.

“Aku lelah, aku mau tidur!” alih-alih menjawab, Jungkook malah melenggang pergi meninggalkan Saehyun sendirian.

“Yang tadi mengeluh mengantuk itu kan aku, kenapa malah dia yang pergi duluan? Dasar aneh!” gerutu Saehyun.

 

 

Woohyun bangun pagi-pagi sekali membantu Yein di dapur yang tengah menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya. Meski hanya menyiapkan menu yang sederhana saja. Senyuman Yein mengembang, saat dilihatnya sang kakak sulungnya ceria pagi ini.

Oppa sarapan duluan saja, aku takut kau akan terlambat kerja.” Saran Yein.

“Tidak apa-apa, lagi pula toko itu kan milikku sendiri. Jadi, tidak masalah kalau aku terlambat sekali ini saja. Aku ingin sarapan bersama adik-adikku yang manis-manis.” Woohyun tersenyum ceria menanggapi pertanyaan Yein.

Woohyun sekarang sudah tidak bekerja part-time lagi seperti dulu. Setelah lulus kuliah sekitar dua bulan yang lalu, dibantu oleh sahabtanya Seungyeol, Woohyun sudah memiliki tempat usaha sendiri, sebuah kafe berukuran minimalis dengan nuansa romantis di kawasan dekat dengan rumahnya.

Issh, kalau sampai Saehyun eonnie tahu masalah ini, kau pasti akan kena omelannya.” Cibir Yein.

Woohyun menghentikan gerakan tangannya yang tadi sedang menata meja makan, “Kau benar, aku sangat merindukan saat-saat dia memarahiku seperti dulu…” lirih Woohyun tersenyum miris.

Mendengar penuturan kakaknya membuat Yein merasa bersalah karena lagi-lagi menyebut nama yang cukup sensitif di telinga Woohyun.

 

“Tadi pagi ibu meneleponku.” Ucap Jungkook mengawali percakapannya dengan Saehyun, “Beliau meminta kita untuk mengunjunginya nanti.” Lanjutnya.

“Ya sudah, kapan-kapan kita berkunjung ke sana.” Jawab Saehyun seadanya.

“Satu hal lagi,” Jungkook terdengar ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “Ini soal Seunghee..” lirihnya.

Saehyun hanya menatap tak minat pada Jungkook. “Dia ingin bertemu denganku.” Saehyun terdiam sesaat berusaha mencerna kata-kata Jungkook.

“Ya sudah bertemu saja, kenapa pakai acara bilang segala padaku.” Ucapan Saehyun terdengar sangat acuh.

Yak, aku ini sedang meminta izin padamu!”

“Kenapa harus?”

“Karena… karena kau istriku, bodoh!” teriak Jungkook yang membuat Saehyun terkejut sekaligus tercengang atas kalimat Jungkook barusan.

Jungkook menghela nafas dengan kasar setelah tadi berteriak tepat di hadapan Saehyun yang tengah menyantap sarapan paginya.

“Maaf, aku berteriak lagi padamu…” lirih Jungkook terdengar tulus.

 

 


 

Jungkook menghampiri seorang gadis dengan balutan mini dress berwarna peach yang tengah duduk di ujung kafe. “Maaf aku terlambat.” Sapanya dengan meminta maaf.

“Tidak apa-apa. Duduklah.” Ucap si gadis mempersilahkan Jungkook untuk duduk.

“Ada apa kau memintaku menemuimu, Oh Seunghee?” rupanya gadis yang ditemui Jungkook adalah Oh Seunghee, cinta pertamanya dulu.

“Kau harus menjawab dengan jujur setiap pertanyaanku, Jungkook.”

Jungkook hanya terdiam memandang wajah Seunghee yang tengah menatapnya serius.

“Aku sudah tahu semuanya Jungkook, hanya saja aku ingin memastikannya dengan mendengar pernyataan langsung darimu.” Kalimat panjang dari Seunghee sukses membuat Jungkook sedikit terkejut.

“Gadis yang kau sebut saudari sepupumu itu adalah istrimu, kan?” Jungkook terkejut atas apa yang dikatakan Seunghee, “Kau, sudah menikah, iya kan?!” kali ini sepertinya Seunghee tidak bisa menahan emosinya lagi.

“Kenapa kau tega melakukan semua ini?! Bukankah sudah ku bilang untuk terus menungguku?! Kau jahat Jeon Jungkook! Aku membencimu!!!” teriak Seunghee, bahkan kini ia tak bisa lagi membendung air matanya.

“Seunghee-ya, aku-“

“Satu hal yang pasti! Aku tidak akan pernah membiarkan gadis miskin itu mendapatkan kebahagiaan setelah ini. Aku akan mengambil hakku kembali!”

“Jangan memanggilnya dengan sebutan seperti itu!” Seunghee bungkam mendengar teriakan Jungkook, “Kau sendiri yang telah meninggalkanku dulu tanpa satu pun kabar yang ku terima darimu. Dan sekarang, kau datang dengan tiba-tiba lalu mengusik kehidupanku lagi disaat aku sudah bisa melupakanmu?! Jangan harap aku akan kembali lagi padamu, Oh Seunghee!” setelah merampungkan kalimat panjangnya, Jungkook berlalu meninggalkan Seunghee yang masih dilanda kemarahan.

“Jungkook-ah! Jeon Jungkook!!!” teriakan demi teriakan Seunghee tidak dapat menghentikan langkah seorang Jeon Jungkook.

 

 

Jungkook berjalan dengan langkah pelan menuju kantornya, namun langkahnya terhenti seketika. Pemuda yang berbalutkan setelan hitam itu menatap sedih pada sosok seorang gadis yang tengah duduk di depan sebuah pertokoan dengan se-cup minuman hangat dan roti di tangan kirinya. Tak lupa pula, tangan kanannya terlihat memgang lembaran demi lembaran surat kabar lengkap dengan sebuah balpoin.

Jungkook merajut langkah menghampiri gadis itu, yang terlihat serius membaca deretan demi deretan kalimat yang tercetak di Koran. Jungkook mendudukkan diri tepat di samping gadis tadi, “Kau sedang apa, Saehyun-ah?” sapanya pada si gadis yang ternyata adalah isitrinya, Saehyun.

Saehyun terkejut mendapati Jungkook yang kini duduk tepat di sampingnya dan langsung menyembunyikan surat kabar yang tadi di pegangnya, “Oh, bukan apa-apa.”

“Jangan menyembunyikan apapun dariku karena aku ini suamimu, bodoh!”Jungkook menjitak kening Saehyun cukup keras.

Yak, Woohyun Oppa-ku saja tidak pernah memukulku sekeras ini, dasar bodoh!”

“Berhenti memanggilnya dengan sebutan seperti itu!” Jungkook terlihat sebal.

“Kau cemburu? Pada Oppa-ku? Oh, ayolah Jungkook…” Saehyun terkikik geli dibuatnya.

“Siapa yang cemburu?” elak Jungkook, “Sudahlah, ayo pulang! Cuaca hari ini cukup dingin, tidak baik untuk kesehatanmu.” Jungkook terlihat malu mengatakan kalimatnya sendri.

“Satu lagi. Jangan pernah berniat untuk mencari pekerjaan, kau tidak perlu melakukannya.”

“Kenapa?”

“Sudahlah menurut saja! Kau ini banyak bicara sekali.” Jungkook menarik tangan Saehyun untuk mengikutinya.

Dengan perlahan tangan Jungkook mulai menggenggam tangan Saehyun dengan lembut, memberikan kehangatan pada gadis yang berstatus istrinya itu. Mendapat perlakuan manis setelah sekian lama dari Jungkook, membuat Saehyun terkejut setengah mati dan hanya bisa tersenyum dalam diam menikmati kehangatan yang Jungkook salurkan melalui tangannya.

 

Tanpa mereka sadari, kegiatan mereka disaksikan oleh sepasang mata yang memandang tak suka atas aksi mereka. Seunghee yang sedang mengendarai mobilnya yang melaju dengan pelan secara tak sengaja menyaksikan pemandangan yang membuat matanya memanas. Berulang kali Seungheememukul setir mubilnya dengan kuat demi melampiaskan kekesalannya.

“Lihat saja Ji Saehyun! Permainan akan segera dimulai!” geramnya.


 

Keributan melanda kediaman Jungkook dan Saehyun siang hari ini. Pasalnya Saehyun sedang mencoba memasak makanan kesukaan Jungkook yang akan dia berikan sebagai makan siang nanti setelah mendengar kabar dari sekretaris Jungkook bahwa suaminya itu memintanya membuatkan makan siang untuknya. Namun sepertinya malah timbul berbagai kekacauan, mulai dari masakan yang gosong hingga berbagai peralatan memasak yang berjatuhan.

Oh My God! Ternyata yang kau tahu hanya bermain basket dan mencopet saja, Ji Saehyun!” geramnya bermonolog mengejek dirinya sendiri.

 

Setelah hampir dua jam berkutat di dapur dengan segala kekacauannya, akhirnya Saehyun berhasil membuatkan makan siang spesial untuk suaminya. Mengingat waktu jam makan iang sebentar lagi, Saehyun bergegas menuju kantor Jungkook dengan menaiki taksi.

Sesampainya di sana, Saehyun langsung menuju ruang kerja Jungkook tanpa sungkan. Langkah kaki Saehyun terlihat sangat bersemangat hari ini. Mengingat kemarin adalah saat-saat yang membahagiakan baginya. Saat di mana Jungkook menggenggam tangannya lembut.

 

“Selamat siang, Nyonya?” sapa seorang pegawai di kantor Jungkook.

“Ah iya, selamat siang.” Saehyun balas menyapa.

“Sepertinya Anda sangat bahagia hari ini. Buktinya saja Anda semangat sekali.” Saehyun tersenyum menanggapi perkataan pegawai tadi.

“Terim kasih. Oh iya, apa Direktur ada di dalam?”

 

Sementara itu, di dalam ruangannya Jungkook tengah menatap geram pada seorang gadis di hadapannya. Tangannya terlihat mengepal dengan kuat. Ditambah dengan nafasnya yang naik-turun.

“Apa maumu sebenarnya?” Jungkook terdengar menahan emosi.

“Mauku?” gadis itu tersenyum kecil, “Mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan! Meiliki apa yang seharusnya aku miliki! Dan melakukan apa yang harus aku lakukan…” jawabnya terdengar ambisius.

 

Dilain pihak, Saehyun sudah sampai tepat di depan pintu ruangan Jungkook. Saehyun membuka pintu itu penuh semangat dengan sekali hentakan. Saat semuanya terekspos jelas, betapa terkejutnya Saehyun mendapati pemandangan yang membuatnya sakit, bagai tertusuk belati panas. Matanya terbelalak menatap tak percaya atas apa yang tengah dilihatnya saat ini.

 

PRAAANG

 

Kotak makan yang tadi bawanya jatuh seketika. Keduanya tangannya terangkat, menutup mulutnya yang ternganga lebar. Terkejut atas apa yang dilihatnya kini. Jungkook sedang berciuman dengan seorang gadis yang ternyata adalah Seunghee, cinta pertama Jungkook.

Saehyun mengambil langkah seribu meninggalkan Jungkook beserta pemandangan yang memuakkan baginya itu. Dengan berderai air mata, Saehyun keluar meninggalkan kantor tempat Jungkook bekerja.

 

“Lepaskan!” Jungkook geram, “Apa yang kau lakukan, Oh Seunghee?!” Jungkook mulai geram.

“Bukankah aku sudah bilang? Aku akan melakukan apa yang harus ku lakukan, memiliki apa yang seharusnya aku miliki.” Seunghee tersenyum, nampak tak ada penyesalan sekalipun.

“Kau tahu, baru saja aku melihat seorang gadis berlari meninggalkan sampah di ruanganmu.” Mendengar kata-kata Seunghee, membuat Jungkook mengalihkan pandangannya, menatap kotak bekal makan siang yang menumpahkan sebagian isinya tepat di depan pintu masuk ruangannya.

“Saehyun-ah…” lirih Jungkook kecil dan segera berlari meninggalkan Seunghee dengan senyuman liciknya.

 

Woohyun baru saja pulang dari kafenya, dengan membawa beberapa kotak makan di tangannya.

“Yein-ah!” panggilnya menyebut nama adik tertuanya disertai dengan senyuman cerahnya.

Oppa?!” Yein terkejut mendapati sosok Woohyun, “Kau sudah pulang rupanya…” Yein tersenyum ceria.

“Hari ini pengunjung sangat ramai, jadi aku bisa pulang lebih awal. Ah iya, Oppa bawakan ini untukmu dan juga yang lainnya.” Ucap Woohyun memberikan beberapa kotak makan yang ditaruh dalam kantung plastik hitam. Dengan tulus hati, Yein menerima pemberian dari kakaknya itu.

Keluarga Nam’s House tampak semangat menyantap hidangan makan malam pemberian kakak sulung mereka. Hampir tak ada suara bising saat mereka menyantap makan malam. Semuanya tampak menikmati hidangan yang tersuguhkan di meja makan malam ini. Sampai kehadiran seseorang yang sudah lama dirindukan mereka datang menghampiri.

Oppa…” sebuah suara yang sangat dikenal Woohyun membuat lelaki itu mengalihkan atensinya. Betapa terkejutnya Woohyun saat didapatinya sosok adik kesaynagnnya, Saehyun.

 

Saehyun duduk berdampingan di taman panti bersama Woohyun. Menikmati angin malam penghujung musim dingin. Mata Saehyun nampak sembab, dan hal itulah yang menjadi tanda tanya besar bagi Woohyun sedari tadi. Namun Saehyun masih enggan membuka suaranya.

“Saehyun-ah, Oppa tidak pernah mengajarimu untuk tetap diam seperti ini. Sudah berapa kali ku katakan, jangan pernah menyimpan rahasia denganku. Sekarang jelaskan semuanya, ada apa?” pinta Woohyun mencoba bersabar menghadapai sikap diam Saehyun.

Saehyun memandang wajah Woohyun dengan mata sembabnya, bibirnya mulai bergetar, pun tubuh kecilnya juga mulai ikut bergetar. Detik berikutnya Saehyun mulai berderai air mata. Tak kuasa melihat keadaan sang adik, Woohyun dengan sigap membawa Saehyun ke dalam pelukannya.

“Ceritakan apa yang membuatmu seperti ini… Ku mohon…” lirih Woohyun.

 

Jungkook tengah uring-uringan mencari keberadaan Saehyun yang sejak tadi siang menghilang dari pandangannya. Jungkook tahu bahwasanya Saehyun melihat kejadian saat Seunghee menciumnya dengan paksa tadi. Dia sangat yakin, Saehyun hanya salah paham tentang semua yang terjadi tadi siang.

“Saehyun-ah kau di mana, huh?” Jungkook berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Saehyun. Namun hasilnya nihil, karena tak satu pun pesan maupun panggilan Jungkook di jawab oleh gadis itu.

 

Tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi.

“Ji Saehyun?” pikirnya. Dengan gerakan cepat, Jungkook menghampiri pintu dan langsung membukanya.

“Sae-“ Jungkook mengakhiri ucapannya saat dilihatnya bukan sosok Saehyun yang kini di hadapannya, melainkan sosok yang selama ini selalu membuatnya cemburu, Nam Woohyun, datang menghampiri Jungkook dengan wajah yang penuh amarah.

Hyung-“

 

BUUUK!!!

 

Woohyun menghajar wajah tampan Jungkook dengan tinjunya yang keras. Jungkook tersungkur di lantai dengan darah yang keluar dari ujung bibirnya yang tadi terkena pukulan Woohyun.

Jungkook meringis saat Woohyun menarik kerah kemejanya, memaksa Jungkook untuk berdiri. Memnadang geram ke arah Jungkook yang tidak mengerti sama sekali kenapa Woohyun tiba-tiba memukulnya.

“Bukankah sudah ku peringatkan padamu? Jangan pernah membuat adikku menangis!” geram Woohyun mendorong tubuh Jungkook sekali lagi, dan membuat pemuda itu jatuh tersungkur kembali.

Hyung, apa maksudmu?” tanya Jungkook dengan masih menahan sakit.

‘Jangan pura-pura bodoh, Jeon Jungkook! Kalau tahu akan jadi seperti ini, aku tidak akan pernah menyetujui Saehyun untuk menikah denganmu!” kali ini Woohyun akan memukul Jungkook kembali, namun sebuah suara mengintrupsinya untuk berhenti.

Oppa!!! Hentikan!” teriak Saehyun yang muncul dari balik punggung Woohyun. “Tolong, berhenti memukulinya…” lirih Saehyun dengan berderai air mata.

Dengan tangan yang masih terkepal, Woohyun menghentikan aksinya dan beralih menghampiri Saehyun yang masih menitikkan air matanya.

“Maafkan aku, Saehyun-ah…” Woohyun memeluk Saehyun tepat di hadapan Jungkook yang masih tersungkur di lantai.

Perlahan Saehyun melepaskan diri dari dekapan sang kakak, dan beranjak menghampiri Jungkook yang masih terduduk lesu di lantai. Membantu pemuda itu untuk berdiri, dengan wajah yang penuh deraian air mata.

Jungkook menghentikan gerakan tangan Saehyun yang membantunya berdiri, tangannya terulur untuk menghapus air mata yang menghiasi wajah cantik gadis itu.

 

 

 

Saehyun menggandeng mesra tangan Woohyun, mengantar sang kakak yang hendak pulang sampai ke depan pintu. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Jungkook sekaligus janji pemuda itu untuk tidak akan pernah membuat adiknya itu menangis lagi. Sebenarnya Saehyun lah yang menyuruh Woohyun untuk segera pulang, dan lebih memilih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri bersama Jungkook.

“Jangan khawatir, Oppa… aku bisa menyelesaikannya.tenang saja.” Pinta Saehyun untuk tak khawatir lagi padanya.

“Baiklah, tapi ingat! Kalau terjadi sesuatu lagi seperti hari ini, aku akan langsung menjemputmu dan aku tidak akan pernah mengijinkanmu kembali lagi kemari. Mengerti?” Woohyun memperingatkan.

Saehyun hanya mengangguk mengiyakan perkataan Woohyun. Setelahnya Woohyun pamit untuk pulang dari kediaman adiknya itu.

Saehyun kembali menemui Jungkook yang masih terduduk di atas sofa, meringis sembari mengusap ujung bibirnya yang terkena pukulan Woohyun tadi. Saehyun menghampirinya dengan sebuah kotak p3k di tangannya.

Gadis itu mulai mengobati luka Jungkook secara perlahan, mengingat Jungkook terlihat meringis tiap kali Saehyun mengobati lukanya. Bahkan gadis itu kerap kali ikut meringis saat Jungkook meringis menahan sakit lukanya.

Jungkook menahan pergerakan tangan Saehyun yang masih mengobatinya, menatap gadis itu tepat dikedua manik hitamnya. Saehyun ikut menatap wajah Jungkook, meski terkadang gadis itu mengalihkan arah pandangnya.

“Maafkan aku…” lirih Jungkook.

“Sudahlah Jungkook. Aku rasa ini sudah kesekian kalinya kau mengucapkan kata maaf hari ini. Karena aku tahu, kau pasti tidak menginginkan hal itu terjadi, kan? Seperti apa yang kau katakan tadi pada kakakku.” Tutur Saehyun.

“Saehyun, ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa?”

Jungkook menggenggam kedua tangan Saehyun erat, “Sebenarnya aku…” Jungkook terlihat berpikir lama sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya lagi, “Aku… Aku menintaimu, Ji Saehyun… Ah bukan, maksudku Jeon Saehyun.” Jungkook tersenyum tulus setelah mengungkapkan perasaannya yang selama iniia pendam pada istrinya itu.

Saehyun terkejut mendengar pengungkapan dari Jungkook yang ia tahu selama ini tak pernah mengatakan hal-hal seperti itu padanya. Bahkan Saehyun pernah berpikir kalau Jungkook tidak pernah menyukainya apalagi mencintainya.

“Selama ini, aku selalu takut untuk sekedar mengatakan hal-hal konyol seperti ini. Dan aku lebih memilih untuk mengungkapkannya lewat sikapku selama ini padamu. Tapi kau malah tak pernah menyadarinya sekalipun.” Jungkook terdengar kecewa.

“Ah itu…” gumam Saehyun.

“Jadi, kau mau kan memulai semuanya dari awal? Hidup bahagia bersama diriku?”

“Jungkook, kita tidak bisa mengawali semuanya dari awal lagi. Karena sudah banyak hal yang kita lalui, dan hal itu tidak bisa dilupakan begitu saja. Seharusnya kita jadikan pengalaman itu sebagai pembelajaran untuk kita ke depannya.” Tutur Saehyun memberikan penjelasan pada Jungkook.

Jungkook tersenyum mendengar penuturan Saehyun, “Kau sudah dewasa rupanya…” Jungkook terkikik geli, begitu pun dengan Saehyun. “Terima kasih karena selalu bersabar menghadapi sikap aroganku. Maaf aku belum bisa memberikan kebahagian untukmu.” Lanjutnya tersenyum tulus.

Saehyun mengangguk memahami Jungkook, tersenyum manis membalas senyuman tulus Jungkook. Sepersekon berikutnya Jungkook menarik tubuh Saehyun ke dalam dekapannya. Memeluknya mesra seakan tak mau melepaskannya lagi.

 

 


 

Satu tahun kemudian…

 

“Sayang…” panggil Jungkook pada sang istri sesaat setelah masuk ke dalam apartemennya. “Kemana dia?” gumamnya bertanya-tanya keberadaan Saehyun.

Langkah kakinya menuntunnya untuk memasuki kamarnya, dilihatnya pintu balkon di kamarnya terbuka lebar. Saat angin menghempaskan gorden ruangan bernuansa peach itu, terlihatlah sosok siluet orang yang sedari tadi dicarinya.

Jungkook menghampiri Saehyun yang tengah menikmati pemandangan sebagian Kota Seoul yang terlihat dari balkon apartemennya. Tanpa basa basi lagi Jungkook langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Saehyun, memeluk gadis itu dari belakang.

“Kau sedang apa, hmm?”

Bukannya menjawab, malah terdengar isakan kecil dari bibir mungil Saehyun, yang membuat Jungkook terkejut. Jungkook membalikan tubuh Saehyun untuk menghadapnya. Dan benar saja, Saehyun tengah menangis kecil.

Yak, kau kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Jungkook terdengar khawatir.

“Jungkook, aku…” suara Saehyun terdengar sedikit bergetar.

“Kau kenapa, sayang? Ceritakan padaku…” Ucap Jungkook sembari mengelus lembut puncak kepala Saehyun.

Kerutan di kening Jungkook semakin jelas tatkala dilihatnya Saehyun tersenyum manis dengan air mata yang masih mengalir menghiasai wajah ayunya.

“Aku…” Saehyun terlihat menghela nafas kecil, “Aku hamil, Jung!” lanjutnya terdengar girang dengan mata yang berbinar menatap wajah sang suami.

“Be-benarkah?!” Jungkook mencoba memastikan pendengarannya, yang dijawab anggukan mantap oleh Saehyun.

“Oh Tuhan terima kasih!” Ucapnya sembari memeluk erat Saehyun, bahkan pemuda yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah itu mulai menitikkan air matanya.

Jungkook melepas pelukannya, mengecup mesra kening Saehyun lama. Atensinya beralih pada perut rata Saehyun. Jungkook berlutut di hadapan Saehyun, tangannya mulai terangkat untuk menyentuh perut rata istrinya itu. Sungguh, Jungkook terlihat seperti orang gila, tersenyum sendiri hanya dengan menyentuh perut rata Saehyun.

 

Chu~

 

Jungkook mencium perut rata istrinya itu, dengan sesekali mengelus lembut bagian tubuh istrinya yang menjadi tempat tumbuhnya calon buah hati mereka.

“Anakku, dengar ya. Kau tidak boleh menyakiti Ibumu, sayangi dia. Dan juga, makanlah yang banyak, mengerti?” Jungkook bermonolog dengan diakhiri oleh sebuah kecupan hangat di perut sang istri.

“Hei bodoh, usia kandungannya saja baru sekitar tiga minggu, jangan berlebihan seperti itu. Kau terliahat seperti orang tak waras saja.” Ejek Saehyun menanggapi perilaku aneh Jungkook.

Alih-alih menanggapi balik ejekan istrinya, Jungkook bangkit dan malah mencubit gemas hidung kecil Saehyun.

Aw, yak! Sakit tahu!” keluh Saehyunyang hanya mendapat senyuman manis dari Jungkook.

“Kau sudah gila rupanya…”

“Aku bukan gila, tapi aku sedang bahagia. Sangat bahagia! Mulai saat ini kau tidak boleh kelelahan, mengerti?”

“Sudah ku bilang, usia kandunganku baru tiga minggu Tuan Jeon…” Saehyun tersenyum geli melihat tingkah Jungkook.

Percakapan panjang mereka diakhiri dengan sebuah pelukan hangat di malam penghujung musim gugur tahun ini.

 

 

-FIN-

 

 

A/N :

Ah, akhirnya ff ini selesai juga setelah butuh sekitar hampir dua bulan dalam proses pembuatannya. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membantu proses pembuatan ff aneh ini. Maaf untuk fansnya Jungkook akarena sudah buat Jungkook seperti itu heuheu…

FF ini dibuat untuk memenuhi tantangan Winter Event dari admin-nim Indo Fanfiction ^^ Semoga teman-teman suka yaa.. Once again, Thank you very much, Aw!

Advertisements

7 thoughts on “[Winter Event] Stupid Marriage

  1. Yuhuu akhirnya heppi ending ^.^
    Suka bgt ama alur ceritanya<3 tapi waktu baca ff ni dihati agak sesak" gimana gitu, krn notaben nya gua nge biasin Jungkook -,- *abaikancurcolsayapermisah*
    At the last, ff ini recomended bgt buat dibaca ama reader. Oiya buat yg ngebiasin bangtan terutama Jungkook, sblm baca ni ff siapiin hati dulu yakk *justkidding* 😀
    Fighting juga buat eonnie yg udah buat ni ff !!

  2. Yuhuu akhirnya heppi ending ^.^
    Suka bgt ama alur ceritanya<3 tapi waktu baca ff ni dihati agak sesak" gimana gitu, krn notaben nya gua nge biasin Jungkook -,- *abaikancurcolsayapermisah*
    At the last, ff ini recomended bgt buat dibaca ama reader. Oiya buat yg ngebiasin bangtan terutama Jungkook, sblm baca ni ff siapiin hati dulu yakk *justkidding* 😀
    Fighting. juga buat eonnie yg udah buat ni ff !!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s