Truth About Love – Chapter 4

truth-about-love

 

Truth About Love

Chapter One | Chapter Two | Chapter Three

Written By © Amy Park

Main Cast:

Byun Jihae – Byun Baekhyun – Park Chanmi – Oh Sehun

Supporting Cast:

Do Kyungsoo

Multichapter | PG15+ | Romance – Angst – Hurt

Thank you for the poster, L.Joo//Bekey @ Indo Fanfictions Arts ^^

.

.

.

Karena untuk mencapai akhir yang bahagia, salah satu tokoh harus siap terluka.

*** 

“Apa benar ada wanita lain di hatimu selain Chanmi unnie?”

Baekhyun menghela napas. “Jika benar, apa kau akan percaya?”

“Memangnya siapa wanita lain di hati oppa?” tanya Jihae langsung.

“Kau tidak perlu tahu. Akan sangat percuma jika aku menjawab pertanyaanmu, kau tidak akan memercayainya.”

Jihae menatap Baekhyun dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan oleh pria itu. Jihae pun tiba-tiba saja bertanya, “Apa wanita lain yang kau maksud itu adalah aku?”

Walaupun pertanyaan Jihae membuat Baekhyun kaget, pria itu berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum jenaka pada sang adik, “Apa yang membuat kau berpikiran seperti itu, huh?”

Jihae memalingkan wajahnya seraya menjawab, “Aku hanya asal berucap. Jangan dianggap serius, oppa.”

Baekhyun mengangguk. “Aku tahu. Aku tahu bahwa barusan kau hanya bergurau.”

“Lagipula, itu merupakan suatu hal yang mustahil. Tidak mungkin oppa menyukaiku. Aku adalah adikmu,” ucap Jihae sambil tersenyum kecil.

Baekhyun membalas senyuman Jihae seraya mengalihkan pandangannya. “Ya, itu adalah hal yang mustahil.”

Namun, bagaimana jika hal mustahil itu sudah terjadi, Jihae-ya? Ungkap Baekhyun dalam hatinya.

***

Chanmi mengikuti langkah Sehun menuju tempat yang sama sekali tidak diketahui oleh wanita itu. Ia hanya bisa berjalan di belakang Sehun, menelusuri jalan yang dipenuhi rumput dan bunga-bunga yang cukup indah. Walaupun begitu, tempat ini tidak bisa disebut sebagai taman bunga karena suasananya yang terlalu sunyi dan terpencil.

“Sehun, kau sebenarnya akan membawaku ke mana?”

Pria itu tersenyum kecil. “Sudah kubilang, kita akan menemui ibuku.”

“Maafkan aku sebelumnya, tetapi bukankah ibumu sudah—“

“Kita sudah sampai.” Ucap Sehun memotong perkataan Chanmi.

Langkah Chanmi pun terhenti. Kini, pertanyaan yang sedari tadi terngiang di kepalanya langsung terjawab ketika melihat Sehun berjongkok di sebelah batu nisan, tampak dikelilingi bunga-bunga yang sudah layu.

“Sudah cukup lama aku tidak mengunjungi makam ibu, dan aku menyesal tidak membeli bunga terlebih dahulu sebelum ke sini.”

Chanmi menatap Sehun lirih. Wanita itu tahu bahwa pria di depannya tengah merasakan kerinduan yang sangat mendalam kepada sang ibu. Chanmi pun kemudian berkata, “Kau tunggu di sini, ya.”

Tanpa menunggu jawaban Sehun, Chanmi pun berbalik. Ia menelusuri jalanan yang baru saja ia lalui bersama Sehun. Senyumnya pun mengembang ketika mendapati tanaman bunga bewarna kuning yang terlihat indah. Ia pun menghampiri dan memetik beberapa bunga tersebut kemudian kembali ke tempat Sehun berada.

“Sesungguhnya di sekitarmu terdapat bunga-bunga yang lebih indah daripada bunga yang ada di toko. Jadi, kau tidak perlu menyesal karena tidak membeli bunga sebelum ke sini.”

Sehun tersenyum kecil ketika menyadari kehadiran Chanmi. “Kau memetik bunga-bunga itu untuk ibuku?”

Chanmi menjawab pertanyaan Sehun dengan senyuman. Wanita itu berjongkok di hadapan Sehun dan segera menggantikan bunga-bunga layu yang ada di atas makam ibunya Sehun dengan bunga-bunga segar yang baru saja ia petik. Chanmi pun berucap, “Istirahatlah dengan tenang, eommonie.”

Keheningan menyelimuti mereka berdua untuk beberapa saat, sampai akhirnya Sehun mengucapkan sesuatu, “Eomma selalu berkata bahwa impian tersebesarnya adalah melihatku bahagia bersama wanita yang aku cintai. Sayangnya, ia tidak sempat mewujudkan impiannya karena Tuhan sudah lebih dulu memanggilnya. Sebenarnya aku ingin mengajak Jihae berkunjung ke sini, mengenalkan Jihae pada ibuku sebagai wanita yang aku cintai. Namun, melihat keadaan rumah tanggaku sekarang, tampaknya hal itu mustahil.”

“Kau bisa membawa Jihae ke sini setelah masalah rumah tanggamu selesai,” senyum Chanmi dengan lembut.

Di samping menanggapi perkataan Chanmi, Sehun memilih untuk bertanya, “Bagaimana jika Baekhyun dan Jihae saling mengungkapkan perasaan mereka?”

Seyuman Chanmi pun memudar ketika mendengar pertanyaan Sehun. Setelah berpikir cukup lama, Chanmi menjawab, “Well, jika hal itu terjadi, kau akan berpisah dengan Jihae dan aku pun akan berpisah dengan Baekhyun.”

Sehun tersenyum lirih, “Apa kau akan bersedih jika hal itu terjadi?”

“Apa menurutmu perpisahan adalah hal yang menyenangkan?” Chanmi balik bertanya dengan nada bercanda.

Sehun mengangguk mengerti. Ia pun kembali berkata, “Sudah menjelang sore. Bagaimana jika kita pergi makan?”

***

Sehun menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan sederhana yang berada di pusat kota Jeju. Ia melirik Chanmi yang sedang mengamati rumah makan tersebut dengan pandangan yang tidak Sehun mengerti, “Kau tidak suka tempat ini?”

Chanmi menoleh pada Sehun, “Kau bisa makan dengan tenang di rumah makan lesehan?”

Pertanyaan Chanmi sontak membuat Sehun tertawa. Baginya, pertanyaan yang dilontarkan Chanmi sangat konyol. Memangnya sebuah rumah makan lesehan bisa membuat seseorang tidak tenang?

“Hey, kenapa kau malah tertawa?”

Sehun mengentikan gelak tawanya seraya menjawab, “Tidak apa-apa. Hanya saja, pertanyaanmu sungguh aneh. Oh, ya, Chanmi-ya, aku sudah terbiasa makan di rumah makan lesehan. Ketenanganku tidak akan terusik jika makan di tempat itu.”

“Ah, begitu, jadi itu sebebabnya kau membawaku ke tempat ini.”

Sehun menaikkan alisnya, merasa bingung. “Kau tidak terbiasa makan di rumah makan lesehan? Jika iya, aku bisa membawamu ke tempat lain.”

Chanmi tersenyum seraya menjawab pertanyaan Sehun, “Aku memang belum pernah makan di tempat lesehan, tetapi sudah lama aku ingin makan di tempat seperti ini. Kita tidak perlu ke tempat lain.”

“Percayalah, rumah makan lesehan terasa lebih nyaman dari yang kau bayangkan.”

***

Entah angin apa yang membuat Baekhyun menginjakkan kakiknya di apartemen Chanmi, mengingat wanita itu tidak akan berada di sana selama satu bulan kedepan. Baekhyun tahu, ini belum genap dua puluh empat jam sejak Chanmi meninggalkannya, tetapi rasanya pria itu sudah merindukan kekasihnya tersebut.

Ia duduk di meja kerja Chanmi. Melipat kedua tangannya di meja seraya memejamkan mata. Apakah ia sudah terlampau egois? Tidak ingin melepaskan Chanmi, tetapi ia pun tidak ingin berhenti menyimpan rasa suka kepada Jihae. Menentukan satu di antara dua pilihan adalah hal yang sulit bagi dirinya. Baekhyun tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa ada hasrat untuk memiliki Jihae dan Chanmi sekaligus di dalam hatinya.

Baekhyun membuka matanya, mencoba untuk menyingkirkan pikiran rumit yang membuatnya pusing. Ia hendak beranjak dari meja kerja, tetapi suatu hal menghalanginya. Matanya fokus terhadap salah satu laci meja kerja. Sebuah laci yang selalu terkunci rapat dan hanya Chanmi yang bisa membukanya. Kini, laci tersebut tampak terbuka sedikit dengan kunci yang masih menggantung.

Penasaran, Baekhyun pun membuka laci itu dengan perlahan. Setelah melihat isi dari laci tersebut, Baekhyun terlonjak kaget. Di dalam laci tersebut terdapat belasan, atau bahkan puluhan, botol obat-obatan yang tidak lain adalah milik Chanmi. Pria pun itu mengambil dua botol obat yang telah kosong, dan seribu pertanyaan kini mulai berlalu-lalang di kepalanya.

***

Jemari Baekhyun tidak berhenti bergerak. Sesekali ia meminum Cafe Latte miliknya untuk menghilangkan rasa panik. Ia pun melirik jam di tangan miliknya untuk yang kesepuluh kali, menghela napas frustasi karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sial, ia sudah menunggu dua jam di kafe tapi orang yang ia tunggu tidak kunjung datang.

“Ada apa kau memanggilku ke sini?”

“Hey, kau tidak berniat meminta maaf terlebih dulu padaku?”

Baekhyun mengerutkan kening melihat sahabatnya, Chanyeol, yang kini sudah duduk di hadapannya dengan wajah datar dan tampak tidak ramah. Pria itu benar-benar keterlakuan, pikir Baekhyun. Sudah datang telat, dan kini malah menunjukkan raut tidak enak untuk dipandang.

“Apa kau marah padaku? Akhir-akhir ini kau tampak tidak bersahabat.” Tanya Baekhyun pada akhirnya. Pria itu memilih untuk mengesampingkan tujuan awalnya untuk menemui Chanyeol, demi mengetahui alasan ‘ketidaksukaan’ Chanyeol bertemu Baekhyun akhir-akhir ini.

“Apa kau bertemu denganku hanya untuk menanyakan hal itu?” tanya Chanyeol ketus. Nada suaranya benar-benar bukan seperti seorang Chanyeol pada biasanya.

Baekhyun menghela napas. “Tidak. Ada hal yang lebih penting untuk aku tanyakan padamu.”

“Kalau begitu tanyakanlah tentang hal yang kau anggap penting itu. Waktuku di sini hanya sebentar, kau lebih baik langsung menuju inti pembicaraan.”

Jika saja tidak ada hal penting yang ingin Baekhyun tanyakan pada Chanyeol, ia mungkin akan langsung melayangkan tinjuan tepat ke wajah sahabatnya itu sekarang juga. Sikap Chanyeol kali ini cukup menyulut amarah Baekhyun.

“Ini tentang Chanmi. Aku menemukan beberapa boto obat-obatan di lacinya. Apa kau tahu penyakit apa yang diderita Chanmi?” tanya Baekhyun langsung, sesuai keinginan Chanyeol.

Chanyeol tidak langsung menjawab pertanyaan Baekhyun. Ia tersenyum sinis lalu balik bertanya, “Kau baru mengetahuinya sekarang?”

“Maksudmu?”

Tawa sinis Chanyeol pun terdengar. “Byun Baekhyun, sebagai orang yang sering menghabiskan waktu bersama Chanmi, kau benar-benar bodoh.”

“Ya, aku memang bodoh. Lalu bisakah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Chanmi kepada orang bodoh ini?” tanya Baekhyun yang mulai tidak bisa menahan amarahnya.

Chanyeol mengatupkan mulutnya erat. Rasanya ia ingin segera memaki dan melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Baekhyun. Ia sangat tidak mengerti, sebagai seorang yang sering menghabiskan waktu bersama Chanmi, sahabatnya itu malah tidak tahu apapun mengenai Chanmi. Chanyeol tahu, Baekhyun memang memiliki skala kepekaan sosial yang rendah, tetapi ini sudah keterlaluan. Seharusnya Baekhyun memiliki perhatian lebih kepada Chanmi karena wanita itu adalah kekasihnya sendiri.

“Kau tidak ingin menceritakannya?”

Chanyeol menatap Baekhyun sinis kemudian menghela napas. Walaupun sebenarnya ia tidak sudi memberitahukan suatu hal mengenai adiknya—karena sebenarnya Chanyeol ingin agar Baekhyun mencari tahu sendiri—tetapi ini bukanlah saat untuk egois. Mau tidak mau, Chanyeol harus menjelaskan semuanya demi kebaikan dan kebahagiaan adiknya. Chanyeol mengerti, akan memakan waktu yang amat lama jika Baekhyun yang mencari tahu sendiri informasi mengenai Chanmi. Sahabatnya itu memang terlalu bodoh, bahkan untuk memahami perasaan kekasihnya sendiri.

“Chanmi memiliki trauma yang cukup berat. Trauma itu menyebabkan ia tidak bisa marah kepada siapapun, takut jika hal itu akan membuatnya kehilangan orang-orang yang dia sayang. Amarah yang dia pendam terlalu lama bisa semakin menumpuk sehingga membuatnya depresi dan berakhir menyerang kesehatannya. Satu masalah yang dia pendam akan menyebabkan beberapa penyakit menyerang Chanmi,” ungkap Chanyeol, meniru penjelasan Dyana pada waktu itu.

Mata Baekhyun yang sipit pun semakin menyipit. Pria itu mencoba menyerap penjelasan Chanyeol. “Maksudmu… ia tidak bisa marah pada siapapun? Amarah yang ia pendam membuatnya sakit?”

“Semacam itu.”

Baekhyun mengusap wajah dengan kedua tangannya. Pikirannya melayang dan entah mengapa rasa takut langsung menghantuinya. Ia kembali menatap Chanyeol dengan panik, “Penyakitnya tidak parah, bukan?”

Tawa sinis Chanyeol langsung terdengar, “Yang benar saja, Byun Baekhyun. Apa pertannyaan bodoh itu harus terlontar dari mulutmu?”

“Bukan itu maksudku, Chanyeol-ah… tapi—“

“Penyakitnya sangat parah dan itu disebabkan olehmu, Baekhyun!” bentak Chanyeol yang membuat seluruh tubuh Baekhyun rasanya membeku. Chanyeol melanjutkan, “Apa selama ini kau tidak sadar bahwa kedekatanmu dengan Jihae membuat Chanmi tersiksa, huh? Jihae… walaupun dia adikmu, tetapi kebersamaanmu dengannya tampak seperti sepasang kekasih di mata Chanmi—bukan, bukan hanya di mata Chanmi tapi di mata semua orang. Kau tidak sadar, bukan? Kau telah mengecewakan Chanmi, tetapi wanita itu sampai kiamat pun tidak akan bisa marah padamu karena ia tidak ingin kehilanganmu!”

Kedua tangan Baekhyun mengepal dan mulutnya terasa kelu karena penjelasan Chanyeol. “Chanyeol-ah… aku—“

“Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku, Baekhyun-ah. Silakan jelaskan semuanya pada Chanmi karena itu adalah masalah kalian berdua.”

***

Chanmi sudah mengetahui hubungannya dengan Jihae. Tidak menutup kemungkinan jika Chanmi juga mungkin sudah tahu mengenai perasaannya pada Jihae, pikir Baekhyun. Pria itu tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah kebenaran mengenai Chanmi terungkap. Otaknya yang hanya bisa berlalu-lalang memikirkan banyak hal tapi tidak menghasilkan apapun, membuat ia hanya bisa duduk di tepi tempat tidur sambil meremas rambutnya gemas.

Kesal pada dirinya sendiri, Baekhyun pun mengerang dan lekas berdiri. Ia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Chanmi tanpa berpikir panjang. Namun, rasanya Tuhan belum mengizinkan, ponsel Chanmi tidak aktif. Kekasihnya tidak bisa menghubungi.

“Apa dia sengaja menjauhiku?” gumam Baekhyun. Memikirkan hal tersebut, Baekhyun pun menghela napas berat. Ia tahu ini egois, tapi Baekhyun sungguh tidak rela jika memang benar Chanmi tengah berusaha menjauhinya. Dia tidak ingin Chanmi meninggalkannya begitu saja.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Baekhyun pun mencoba menghubungi seseorang untuk mengetahui keberadaan Chanmi. Pria itu langsung berkata langsung mengenai urusannya ketika seseorang di sebrang sana menjawab panggilannya, “Sojin, kali ini Chanmi pergi ke mana untuk perjalanan bisnis?”

“Dia tidak memberitahumu?”

“Jika dia memberitahuku, maka aku tidak akan bertanya padamu.”

Suara Sojin terdengar panik, “Aku… aku juga tidak tahu dia pergi ke mana.”

Baekhyun berdecak kesal, “Tidak usah berbohong. Cepat beritahu aku ke mana Chanmi pergi. Ada hal penting yang harus aku jelaskan padanya.”

“Jeju. Chanmi sedang menjalankan proyek hotel di Jeju,” ungkap Sojin. Wanita itu tidak ingin mencari masalah dengan Baekhyun. Lagipula, tidak ada salahnya memberitahu keberadaan Chanmi pada kekasihnya sendiri, pikir Sojin.

“Terima kasih…” singkat Baekhyun sebelum memutuskan sambungan teleponnya.

Satu-satunya cara terbaik adalah menemui Chanmi, ungkap Baekhyun dalam hati.

***

Dengan bermodal satu ransel yang berisi baju secukupnya, Baekhyun bertekad untuk menyusul Chanmi dan menyelesaikan permasalahan mereka. Anggaplah Baekhyun egois, tetapi ia benar-benar tidak ingin ditinggalkan oleh Chanmi. Meskipun ia belum bisa menentukan pilihan antara Chanmi dan Jihae, setidaknya—untuk saat ini, ia harus menjelaskan hubungannya dengan Jihae dan mengungkapkan berbagai macam alasan yang akan membuat Chanmi berhenti marah dan kecewa padanya. Walaupun, sejujurnya, Baekhyun masih belum tahu apakah kepergian Chanmi saat ini adalah untuk menghindarinya ataukah bukan.

“Kyungsoo-ya, tolong sampaikan pada Presdir Jung bahwa posisiku akan digantikan oleh Taehyung. Semua materi untuk talkshow dua hari kedepan sudah aku berikan padanya. Aku akan ke Jeju selama dua hari,” ucap Baekhyun seraya menutup pintu kamarnya kembali dengan kaki, karena tangan kanan yang sibuk menyangga ponsel dan tangan kiri yang repot menenteng ransel.

“Kau akan bertemu dengan Chanmi? Bukankah dia sedang sibuk mengerjakan sebuah proyek?”

Baekhyun tidak langsung menjawab. Ia melemparkan ransel ke sofa terdekat kemudian berkata, “Ada yang harus aku selesaikan dengannya.”

“Kalian bertengkar?”

“Hey, Do Kyungsoo, aku bukan narasumbermu, jadi jangan bertanya bertubi-tubi padaku.”

Suara tawa Kyungsoo terdengar, “Maaf… aku hanya penasaran.”

“Sampaikan saja pesanku itu kepada Presdir Jung, ya. Aku berangkat dulu.”

Tanpa menunggu jawaban Kyungsoo, Baekhyun pun memutuskan sambungan dan memasukan ponselnya. Ia membawa tas ranselnya dan hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti karena seseorang membuka pintu apartemennya terlebih dahulu.

“Jihae-ya?” heran Baekhyun ketika seorang wanita yang ternyata Jihae itu memasuki rumahnya.

Dengan mata yang tampak sembab, Jihae tersenyum getir, “Oppa, aku ingin bercerita padamu. Kau tidak sibuk, kan?”

Sebuah dilema kembali menghampiri pikiran Baekhyun, tetapi secara sigap pria itu menjawab, “Tentu saja, Jihae-ya.”

***

 “Kau tidak makan?”

Chanmi langsung tersadar dari lamunan begitu Sehun bertanya. Wanita itu pun mengerjap heran saat tahu bahwa samgyupsal di depannya sudah matang dan siap untuk disantap. Chanmi membenarkan posisi duduknya terlebih dulu lalu meraih sumpit miliknya. Kemudian, ia pun meraih dan menyantap potongan samgyupsal yang paling kecil.

Sehun tersenyum tipis melihat tingkah rekan kerjanya tersebut. Terkadang, wajah Chanmi yang tengah terhanyut dalam pikirannya sendiri cukuplah unik di mata Sehun. Wanita itu bagaikan hidup di dunianya sendiri, melupakan keyataan jika ada orang lain yang ingin berkomunikasi dengannya. Sehun sempat menebak, semua itu disebabkan oleh banyaknya pikiran dan masalah yang ditanggung Chanmi, mengingat wanita itu memang tidak bisa melampiaskan emosinya secara langsung dan gamblang.

“Mengapa kau bisa menyukai Baekhyun? Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?” tanya Sehun kembali, berniat memecah keheningan di antara mereka berdua.

Chanmi menelan makanannya terlebih dahulu sebelum balik bertanya, “Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Memangnya aku tidak boleh tahu? Aku hanya penasaran…” ungkap Sehun sambil merenggut. Hal itu menyebabkan Chanmi tersenyum tipis dan tak kuasa untuk tidak menjawab pertanyaan yang Sehun lontarkan.

Chanmi tidak langsung berucap. Ia meletakkan sumpitnya terlebih dahulu lalu bersendagu, tampak memikirkan sebuah jawaban. “Karena dia konyol?”

“Konyol?” tutur Sehun sambil menaikkan sebelah alis.

Chanmi mengangguk, “Dia sosok orang yang menyenangkan dan ramah. Sejujurnya, aku seorang introvert yang tidak mudah akrab dan cenderung menghindari orang asing. Namun, entah mengapa, ketika pertama kali aku mengenal Baekhyun, aku langsung merasa nyaman.”

“Sejak kapan kau mengenal Baekhyun?”

“Aku tidak ingat waktu tepatnya, tapi Baekhyun adalah sahabat baik kakakku sejak di bangku kuliah. Dia sering datang ke rumah kami untuk belajar atau sekadar bermain tidak jelas. Dan, ya, kami pun akhirnya saling mengenal,” Chanmi menghela napas, ia pun kembali bercerita sambil mengenang pertemuan pertamanya dengan Baekhyun, “Pria itu selalu memanggilku manusia patung  karena selalu diam dan jarang berkomunikasi. Dia sangat menyebalkan, tapi anehnya, kelakuan menyebalkan itulah yang membuat aku menyukainya. Dan… yah… aku juga tidak tahu pada akhirnya kami bisa berpacaran hingga saat ini. Walaupun hubungan kami tidaklah semulus pasangan lainnya.”

Sehun hanya terdiam melihat Chanmi yang tengah menunduk. Pria itu tahu, kesedihan sedang menyerang wanita itu. Sehun hendak berucap, tetapi didahului oleh Chanmi, “Kalau kau sendiri, mengapa kau menyukai Jihae?”

Sehun tersenyum tipis. Ia menyesap tehnya terlebih dahulu lalu menjawab, “Aku tidak tahu. Tidak ada alasan yang jelas bagiku mengapa menyukai Jihae.”

“Semua hal terjadi dengan suatu alasan, Sehun. Kau tidak akan pernah mencintai seseorang jika tidak ada alasan kuat untuk melakukannya.”

Sehun mengangguk dan kembali menyesap tehnya. “Tapi tidak semua hal terjadi karena sebuah alasan. Seperti rasa cintaku pada Jihae, itu tumbuh begitu saja. Aku sangat ingin berada di sampingnya dan menghadirkan rasa aman untuknya. Dan aku tak tahu mengapa aku ingin melakukan hal itu.”

“Kau terlalu romantis…”

Bibir Sehun kembali melengkungkan senyuman, “Percayalah, aku sama sekali tidak bisa berkata romantis di depan Jihae. Kau harusnya bersyukur bisa melihat sisi romantisku.”

“Daripada bersyukur, rasanya aku ingin muntah saja.”

Perkataan Chanmi pun sontak membuat keduanya tertawa. Sebenarnya, di satu sisi mereka senang karena bisa bekerja sekaligus menghabiskan waktu bersama, tetapi di sisi lain mereka membawa luka masing-masing yang bahkan tidak bisa ditutupi. Menjauh dari kenyataan, bukankah itu hal yang paling ampuh untuk mengobati sebuah goresan luka hati yang tidak terlihat? Walaupun semu, setidaknya luka itu bisa hilang untuk sementara.

“Chanmi-ya…”

“Hmm?”

“Kita harus segera menuju hotel, rapat sebentar lagi dimulai.”

***

Kamar hotel gelap berukuran besar dan memiliki kesan mewah itu pada akhirnya menjadi terang-benderang ketika Chanmi membuka pintu. Wanita itu segera masuk dan menyeret kopernya masuk  kemudian menutup pintu kembali. Ia membiarkan kopernya di depan pintu masuk seraya melangkahkan kaki mendekati tempat tidur. Ia menghela napas sejenak dan memerhatikan suasana kamar yang sepi lalu duduk di tepian kasur.

Satu hari belum berlalu, tapi mengapa rasanya Chanmi sudah merindukan sosok Baekhyun? Ia sangat tahu jika pria itu lebih memerhatikan Jihae, tetapi ia sendiri tidak dapat memungkiri jika Baekhyun selalu hadir ketika dirinya butuh bantuan, dan perhatian yang pria itu berikan entah mengapa selalu membuat Chanmi merasa nyaman dan terlindungi, walau realita berkata jika dirinya tersakiti.

Wanita yang tengah memakai parka merah marun itu pun meraih ponselnya dari saku celana. Ia langsung mengaktifkan ponsel yang seharian ini ia biarkan mati. Bibir merah muda Chanmi pun melengkung, membentuk sebuah senyuman manis, saat pesan masuk datang bertubi-tubi. Pesan masuk dari Baekhyun. Setidaknya, dengan pesan masuk yang jumlahnya tidak sedikit itu, menunjukan bahwa Baekhyun masih menaruh perhatian padanya, bukan?

Kau bercanda? Meninggalkan aku begitu saja di pagi hari?

Satu bulan? Kau akan meninggalkan aku tanpa komunikasi apapun selama satu bulan?

Kau pasti bercanda, Park Chanmi! T.T

Yak!!! Kau serius?? Bahkan ponselmu kau nonaktifkan?!

Chanmi-yaaaaaaaaaa

Chanmi-ya, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Tolong hubungi aku jika kau membaca pesan ini.

Chan? Kau baik-baik saja, bukan?

Maafkan aku….

Melihat pesan tersebut, entah mengapa rasa rindunya pada Baekhyun semakin menjadi-jadi. Itulah yang menyebabkan jemarinya tanpa sadar menekan tombol deal untuk segera menghubungi kekasihnya tersebut. Dengan perasaan yang tak karuan, ia pun menunggu sampai Baekhyun menjawab panggilan masuk darinya.

“Chanmi-ya?”

Senyuman Chanmi pun mengembang ketika suara Baekhyun terdengar. Namun, karena ia bingung akan berbicara apa, maka Chanmi pun segera bertanya, “Kau bilang ada yang ingin disampaikan padaku. Apa itu?”

Jemari lengan kiri Chanmi pun bermain-main di celana jeans yang ia kenakan. Baekhyun tidak langsung menjawab, keheningan menyelimuti mereka berdua sampai akhirnya Baekhyun berkata, “Aku… aku ingin memelukmu. Aku merindukanmu.”

“Byun Baekhyun, kau sedang mabuk?” tanya Chanmi sambil mengangkat sebelah alis. Pasalnya, perkataan Baekhyun tersebut terdengar aneh.

Tawa Baekhyun di sebrang sana pun terdengar. “Kenapa kau malah bertanya seperti itu? Tidak. Aku tidak mabuk.”

“Lalu, apa yang ingin kau katakan kalau begitu?”

Baekhyun menghela napas seraya berkata, “Aku ingin mengembalikan drawing set milikmu. Kau… kau sedang di Jeju, bukan?”

Pergelangan tangan Chanmi yang tengah memegang ponsel pun bergetar. Tak hanya itu, entah mengapa kini kedua pipinya sudah dibasahi air mata. Ia memejamkan mata seraya menghela napas, kemudian segera mengakhiri pembicaraannya dengan Baekhyun.

***

Tiga tahun silam…

Chanmi mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja dengan tempo cepat, bola matanya yang coklat menatap serius pada sebuah halaman kosong yang ada dalam buku sketsa miliknya—mencari sebuah inspirasi. Selama sepuluh menit terdiam dan tak menemukan ide apapun, pada akhirnya Chanmi menghela napas berat dan menutup buku sketsanya dengan gerakan cepat karena kesal.

“Woaa… kau cukup menyeramkan juga jika seperti itu.”

“Sejak kapan kau berada di sana?” tanya Chanmi sambil menatap kaget pada Baekhyun yang sudah duduk di hadapannya.

Senyuman Baekhyun mengembang, “Sejak kau terlihat gelisah karena tak kunjung menemukan ide untuk membuat sketsa. Hey, bukankah kau selalu menemukan ide cemerlang setiap membuat desain interior apapun?”

“Desain yang akan buat sekarang tidaklah mudah dan sedikit berbeda. Klienku ingin membuat interior rumah yang unik dan benar-benar baru. Ia tidak ingin aku membuat desain yang terkesan sama dengan desain interior yang sudah aku buat sebelumnya,” Chanmi mengehela napas terlebih dulu sebelum akhirnya bertanya, “Apa aku menyerah saja?”

“Hey, tentu saja jangan. Kau harus berusaha sampai titik akhir. Aku yakin kau pasti bisa. Lagipula, kau pernah bilang bahwa kau memiliki drawing set ajaib yang tidak akan membuatmu kehabisan ide unik dan baru. Gunakanlah drawing set itu.”

Drawing set itu sudah hilang. Aku lupa di mana meletakkannya dan pada akhirnya menghilang sampai sekarang.”

Baekhyun mengerjap, “Ah, ya, kau benar. Drawing set milikmu, kan, sudah aku ambil.”

“Apa?”

Senyuman yang tampak jahil tetapi tetap manis pun kembali mengembang dari bibir Baekhyun, “Drawing set milikmu tidak hilang, tetapi aku yang mengambilnya.”

“Kalau begitu, kembalikanlah padaku. Aku sangat butuh drawing set itu. Kau… kau juga tahu bahwa sekarang sangat sulit menemukan drawing set seperti itu.”

Baekhyun menggeleng, “Aku akan mengembalikan drawing set itu jika kita sudah putus.”

Chanmi menatap Baekhyun heran, “Kenapa?”

“Kenapa? Tentu saja karena aku cemburu dengan drawing set itu!” Jawaban Baekhyun membuat Chanmi semakin mengerutkan dahi karena tidak mengerti. Pria itu pun berdecak kemudian melanjutkan, “Apa kau tidak sadar bahwa kau sangat… sangat… sangat… mencintai dan menjaga drawing set itu sehingga kau hampir lupa bahwa aku adalah kekasihmu? Aish… drawing set itu sangat menyebalkan.”

Chanmi menatap Baekhyun tanpa ekspresi kemudian berucap, “Tapi tetap saja aku butuh drawing set itu untuk menemukan ide baru. Baekhyun-ah… bisakah kau kembalikan drawing set itu?”

“Panggil aku oppa. Jika kau memanggilku dengan sebutan oppa, aku akan mempertimbangkannya.”

Oppa?” Chanmi tampak ragu sejenak. Namun, ia akhirnya mengikuti permintaan kekasihnya tersebut, “Mmm… Oppa, bisakah kau mengembalikan drawing set milikku?”

Baekhyun tersenyum lalu dengan sigap menjawab, “Tidak. Mulai sekarang, sumber inpirasimu adalah aku, bukan drawing set itu. Jika kau ingin aku mengembalikan drawing set itu, maka hubungan kita berakhir. Kau lebih memilih aku atau drawing set ajaib itu, huh?”

“Tapi, Baek—“

Perkataan Chanmi pun terputus karena Baekhyun sudah lebih dulu mengecup bibirnya.

***

Ini memang sudah tengah malam, tetapi Sehun masih belum bisa memejamkan mata dan pergi ke alam mimpinya. Hal itu membuat Sehun memilih untuk berjalan-jalan saja. Ketika ia melewati lorong hotel, ia mendapati pintu kamar yang ditempati Chanmi tidak tertutup rapat. Pria itu pun dengan perlahan membuka pintu—berniat memberitahu Chanmi agar segera mengunci pintu kamar tersebut.

“Chami-ya, pintu ti—“

Perkataan Sehun terhenti ketika pria itu melihat Chanmi yang tengah duduk di tempat tidurnya sambil terisak. Sehun memejamkan matanya sejenak, tidak tahu harus berbuat apa. Namun, detik berikutnya ia pun melangkah dan menghampiri wanita itu.

“Ada masalah yang menghampirimu?”

Chanmi pun mendongkak dan segera menghapus air matanya. Ia pun segera memalingkan wajahnya dari Sehun, “Mengapa kau ada di sini?”

“Apa Baekhyun yang membuatmu menangis?” tanya Sehun tanpa menghiraukan pertanyaan Chanmi sebelumnya. Pria itu pun segera duduk di samping Chanmi.

Sehun menunggu jawaban Chanmi, tetapi wanita itu tetap membungkam mulutnya sambil menunduk. Melihat keadaan Chanmi, entah mengapa ada perasaan kasihan sekaligus kesal yang menghampiri Sehun. Dengan hati-hati, pria itu pun kembali berkata, “Ceritakan saja semuanya padaku. Bukankah kita sedang berselingkuh? Dengan begitu, otomatis kau adalah kekasihku.”

Perkataan Sehun membuat Chanmi terkekeh, dan pada saat bersamaan, hal tersebut mampu membuat Sehun merasa lega. Sehun pun kembali bertutur, “Jadi, apa yang membuat menangis?”

Chanmi kembali mengabaikan pertanyaan Sehun. Namun, kini ia menoleh dan menatap Sehun dengan serius. “Sebaiknya kita akhiri saja permainan ini, Sehun. Percuma saja kita selingkuh… itu tidak akan mengubah apapun. Perselingkuhan tidak akan membuat pasangan kita sadar akan perasaan perih yang kita rasakan. Lagipula… hubunganku dengan Baekhyun sudah berakhir. Semuanya sudah selesai.”

Ia memang sudah mengira bahwa Baekhyunlah yang menyebabkan Chanmi menangis, tetapi ia tidak menyangka jika akhir dari hubungan keduanyalah yang membuat Chanmi menangis. Sehun akui dirinya memang merasa kaget dengan perkataan Chanmi, tetapi ia mencoba untuk bersikap tenang di hadapan wanita itu.

“Perkataanmu barusan sungguh terasa benar sehingga aku tidak bisa mengelaknya. Jadi… kau menyerah?”

Chanmi mengangkat bahunya, “Aku sendiri juga tidak tahu.”

***

Sehun membawa Chanmi keluar dan berjalan-jalan, menghirup udara segar. Namun, ternyata hal itu tidak mempan untuk menghilangkan rasa sedih Chanmi. Mereka pun pada akhirnya memilih untuk duduk di pinggir danau buatan dan menatap pemandangan malam dengan pikiran masing-masing—saling diam satu sama lain tanpa pembicaraan apapun.

Setelah lama terdiam tanpa perbincangan, Sehun memilih untuk memerhatikan keadaan Chanmi. Wanita itu tampak tidak berekspresi, hanya menatap kosong ke arah danau. Tidak ada air mata setetes pun yang kini terjatuh dan membasahi kedua pipinya, membuat Sehun sedikit khawatir. Ia ingat perkataan ibunya, seseorang yang terdiam dan sudah tidak sanggup menangis lagi biasanya menyimpan rasa sakit yang luar biasa.

“Jika kau ingin menangis, maka menangislah. Jika kau marah, keluarkanlah amarahmu. Tidak apa-apa, Chanmi-ya, hanya ada aku di sini. Aku tidak akan membencimu, bahkan jika kau menangis hebat sambil mengumpat sekalipun. Aku lebih takut jika kau diam layaknya sebuah patung seperti saat ini.”

Menanggapi ucapan Sehun, Chanmi pun tersenyum samar. Ia masih terdiam beberapa menit, sampai akhirnya menghela napas seraya melontarkan sebuah pertanyaan, “Sehun, apa kau tahu mengapa akhir bahagia dari sebuah kisah, akan terkesan lebih beharga?”

Sehun menoleh dan menatap Chanmi dengan heran. Pria itu menjawab dengan gelengan walaupun ia tahu bahwa Chanmi tak akan melihatnya. Tak lama, Sehun pun kembali bertanya, “Mengapa memangnya?”

Chanmi menoleh dan tersenyum pada Sehun, “Karena untuk mencapai akhir yang bahagia, salah satu tokoh harus siap terluka”

Chanmi kembali memalingkan wajahnya dari Sehun dan menatap pemandangan malam danau buatan. Sehun sesungguhnya tidak menangkap maksud dari perkataan Chanmi, maka dari itu ia memilih diam dan menunggu perkataan Chanmi berikutnya.

“Aku menyerah… aku memilih untuk keluar dari kebahagiaan semu dan menerima realita yang menyakitkan. Hal ini tidak akan berakhir jika salah satu kita tidak mundur, Sehun. Dan aku memilih untuk tidak menjadi bagian dari tokoh yang memiliki akhir bahagia itu.”

Sehun tersenyum sinis, “Dan membiarkan Baekhyun hidup bahagia dengan Jihae? Lalu… apa aku juga harus berkorban agar mereka bisa bahagia?”

“Itu adalah pilihan. Semuanya tergantung dirimu, apakah kau akan bertahan atau menyerah… sepertiku.”

Sehun tersenyum tipis, “Hatimu terlalu lembut, Park Chanmi. Tidak heran jika Baekhyun sangat betah untuk melukai perasaanmu.”

Chanmi menoleh dan memandang Sehun heran. Wanita itu hendak berucap tetapi perkataan Sehun mencegahnya, “Aku mengerti perasaanmu dan aku mengerti jika kau memang sudah lelah akan hubungan Baekhyun dan Jihae. Sebelumnya, sebagai suami Jihae, aku minta maaf karena tidak bisa mencegahnya agar tidak menyukai kekasihmu. Aku juga sangat mengerti perasaan dan posisimu sekarang, tapi aku sangat benci kenyataan bahwa kau ingin menyerah dan membiarkanmu menjadi salah satu orang yang terluka karena kebahagiaan mereka. Kau sudah cukup banyak tersakiti, begitu pula aku. Maka… apa pantas kita membiarkan mereka bahagia begitu saja, huh? Pikirkanlah dengan akal sehatmu, Park Chanmi!”

Mendengar nada bicara Sehun meninggi, Chanmi pun membalasnya dengan bentakan, “Aku sudah berpikir tentang hal ini beberapa kali! Apa kau pikir mengambil keputusan seperti ini sangat mudah bagiku, Oh Sehun? Tidak… aku mempertimbangkan banyak hal. Semua masalah ini terlalu sulit untuk aku tangani sehingga aku sangat lelah untuk terlibat di dalamnya. Aku memilih untuk menyerah karena jika aku terus menjalani hubungan seperti ini dengan Baekhyun, sebuah akhir tidak akan pernah terlihat.”

Sehun menghela napas dan segera memalingkan pandangannya ketika Chanmi mulai terisak. Pria itu berkata lirih, “Aku mencintai Jihae, Park Chanmi. Mohon maaf sebelumnya, tapi aku sangat mencintai Jihae sehingga aku tidak ingin dia bahagia bersama Baekhyun. Aku tidak sama sepertimu. Melepaskan Jihae dan membiarkannya bahagia dengan orang lain, sangatlah sulit bagiku.”

“Sebenarnya… aku juga takut jika harus kehilangan Baekhyun,” tutur Chanmi. Ia tersenyum miris kemudian menghapus air mata yang menetes lagi di kedua pipinya seraya berkata, “Aku sudah berpikir untuk melepaskan Baekhyun tetapi sesuatu menahanku untuk melakukannya. Sungguh suatu keputusan yang amat berat jika hubunganku dengan Baekhyun berakhir. Namun, ketika ia menghubungiku dan memilih untuk mengakhiri hubungan kami, semuanya terasa lebih berat. Saat itu aku yakin, dia sudah tidak mencintaiku lagi. Lalu, aku berpikir, tidak ada gunanya berjuang demi seseorang yang sudah tidak mencintaiku lagi, sehingga rasa takut akan kehilangan Baekhyun pun hilang dan aku memilih untuk menyerah. Aku tidak bisa hidup seperti ini terus-menerus, Sehun-ah. Aku juga ingin bahagia…”

Sehun menoleh dan menatap Chanmi, “Maafkan aku… aku tidak seharusnya marah akan keputusanmu.” Pria itu pun kembali menunduk, tersenyum tipis kemudian melanjutkan, “Lakukanlah, jika itu memang maumu. Namun, aku tidak akan melepaskan Jihae begitu saja… karena aku masih mencintainya.

***

2 Minggu Kemudian

“Chanmi-ya, ini Taehyung. Apa kau sedang ada masalah dengan Baekhyun sunbae? Ah, apa jangan-jangan kau sudah putus dengannya? Hey, aku melihat dia sedang bercumbu di salah satu kafe. Kau tidak apa-apa, bukan?”

Chanmi menghela napas sambil mengepalkan kedua tangannya. Perkataan teman kuliahnya itu amat menusuknya walaupun hanya disampaikan lewat telepon. Chanmi menatap kaca wastafel kamar mandi, wajahnya tidak karuan—matanya sembab karena banyak menangis dan juga wajahnya pucat pasi. Mendengar kabar dari Taehyung sekaligus mengingat apa yang baru saja dia alami pagi tadi membuatnya menjadi gila.

Beberapa Jam Sebelumnya,

Rumah Sakit Umum, Jeju

“Aku dengar kau di sini karena perjalanan bisnis. Desainer interior Park Chanmi, bukan? Untuk sementara ini jangan melakukan pekerjaan berat. Kau harus banyak istirahat.”

“Aku tidak mengidap penyakit serius, kan, Dokter?”

Dokter wanita itu tersenyum, “Tentu tidak. Hasil pemeriksaan tidak ada yang mengatakan kau akan berumur pendek, Chanmi-ssi. Ah, kau tidak datang ke sini dengan suamimu?”

“Suami?” ujar Chanmi heran.

Dokter itu mengangguk dan kembali tersenyum lembut, “Jika dia bersamamu sekarang, pasti dia akan senang, karena kau sedang mengandung anaknya. Selamat, Chanmi-ssi.

“Akhhhh!!!”

Tangan Chanmi bergerak dan mengacak seluruh peralatan mandi di wastafel hingga berantakan setelah berteriak cukup kencang. Mengapa semuanya harus terjadi ketika dia akan memilih untuk melepaskan Baekhyun? Apa Tuhan begitu membencinya sehingga ia harus kembali terikat dengan hubungan rumitnya bersama Baekhyun? Chanmi sudah tidak bisa menahan emosinya, dia sudah terlalu lelah untuk berdiam diri.

Wanita itu kembali terisak. Ia mengacak dan meremas rambutnya kesal tapi itu tak kunjung berhasil untuk meredam emosinya. Dia pun meraih sebuah botol sabun yang terletak di atas wastafel kemudian meleparkannya ke arah kaca sehingga kaca tersebut pecah. Karena tidak sanggup lagi menopang badannya, Chanmi pun terduduk di lantai kamar mandi dengan keadaan kacau. Tidak mau lagi memendam rasa kesalnya sendirian, ia pun segera mengeluarkan ponsel dari saku parka yang ia kenakan kemudian menghubungi seseorang.

“Oh, Chanmi-ya, ada apa?” ungkap seseorang di sebrang sana.

“Mengapa nada bicaramu sungguh tenang sekali ketika sudah menyakitiku, Baekhyun-ah?” ungkap Chanmi dengan nada emosi yang tertahan. Ia terisak seraya melanjutkan, “Apa di matamu aku hanya sampah, Byun Baekhyun? Apa aku begitu mudah untuk dimainkan olehmu layaknya sampah tidak berguna, kau keparat!!!!”

“Chan… tolong tenang dulu. Aku—“

“Kau bilang hubungan kita berakhir dan kau akan segera mengembalikan drawing set milikku. Kau bilang bahwa kau akan menemuiku di sini tapi kenapa kau tidak memunculkan diri di hadapanku sampai sekarang?! Apa di sana kau terlalu bersenang-senang dengan Jihae sehingga bertemu denganku bukanlah hal yang penting?”

“Dengarkan aku dulu—“

“Seharusnya kau selesaikan urusanmu denganku terlebih dahulu sebelum kau bersenang-senang dan bercumbu dengan adik angkat sialanmu itu, Byun Baekhyun!! Aku—“

“Dengarkanlah dulu penjelasanku, Park Chanmi!!!!!”

Wanita itu segera terdiam ketika nada suara Baekhyun meninggi. Chanmi tersenyum miris, “Kau membentakku. Lalu… apa ini artinya hubungan kita sudah benar-benar berakhir, Baekhyun-ah?”

“Chanmi—“

“Aku tidak bisa mengakhirinya, Baekhyun. Walau aku ingin melepaskanmu tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang,” ujar Chanmi yang kini kembali menangis. Ia menghela napas dan kembali berbicara dengan nada tinggi kepada Baekhyun, “Aku tidak bisa melepaskanmu walaupun aku sudah lelah akan kelakuanmu, bajingan!!!!”

Wanita itu pun membanting ponselnya ke lantai setelah memutuskan sambungan telepon. Ia berbaring meringkuk di lantai kamar mandi sambil menangis, memaki kebodohannya karena tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya ingin ia katakan kepada Baekhyun.

“Kenapa kau tidak pernah berada di sampingku di saat seperti ini, Baekhyun-ah? Aku benar-benar membutuhkanmu.”

Ucapan lirih itu keluar dari mulut Chanmi, sebelum semuanya gelap dan ia tidak sadarkan diri.

To Be Continued

***

Annyeoongg!! Lama tak jumpa dan lama pula tidak meneruskan FF ini!! Kwkwkwkw semoga masih ada yang inget deh sama ff ini. Next Chapter adalah chapter ending, dan akan aku post setelah Lets Not Fall in Love berakhir. Jangan Tanya kapan dipostnya, karena aku juga gak tahu. Mungkin memang memakan waktu yang lama, tetapi aku bakal nerusin ff-nya kok. Maaf banget gk bisa sering-sering posting walau masih banyak hutang ff ke kalian T-T silakan tinggalan komentar setelah membaca, ya. Kritik dan saran dari kalian sangat bermakna. Thank you… byeeee

Sorry for the typos!

 

Advertisements

6 thoughts on “Truth About Love – Chapter 4

  1. Thoorrr aku baca dri lapak jenongkece.. kesini karna disana ga di publish lgi:( authoorr kok ini blm dilanjutin? U.U suka banget loh sama ff inii-3- Ga mksd buru2in author kok tapiii aku berharap semoga cepet diupdet yaa thorr. Semangat author!^^

  2. Akhirnya sekian lama aku menunggu untuk membaca ffmu thor 😀 /kek lagu/
    Walau rada rada lupa alurnya 😀 baekhyun kok gitu sih, labil ekonomi nih, trus chanmi hamil?? Kapan ondehoynya/? :’v ditunggu ya thor kelanjutannya ♡♡♡

  3. Akhirnya.. setelah penantian yg panjang, aq sampe nangis2 bacanya.. baekhyun berengsek bgt… knp chanmi selalu d sakiti??
    Aq setia nunggu chapter selanjutnya, semangat y kakak

  4. Baca dari episod awal lagi udah lama banget jadi lupa alur ceritanya haha
    Asliiiii rameee, kenapa bersambung dulu langsung aja ke episod terkahir bikin penasaraaaann T.T
    Jangaaan lama lagi ya update episod berikutnyaa :*****

    • Iyaaaa nih udah lama banget ya… Akhirnya diriku bisa mempublishnya setelah berabad-abad. Kwkwkw biar penasaran. Tunggu aja yaa… Thanks for read and comment 😀

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s