[Ficlet] Pemuda Pujaan

pemuda pujaan

Pemuda Pujaan

Do Kyungsoo feat Park Jiyeon

Romance

/muupkeun karena judulnya yg ALAY/

.

.

Aku terbangun dengan seluruh badanku kesemutan. Nyeri dan demam. Mataku berkunang-kunang dan kepalaku berat. Tapi aku tidak bisa kalau tidak kuliah. Ada banyak sks yang harus kukejar hari ini.

Akhirnya dengan badan meriang aku harus berangkat kuliah.

Dan ketika semuanya berjalan dengan baik. Mataharinya sedang ramah, anginnya juga sejuk, dan aku duduk di dekat jendela di dalam kelasku… kemudian tiba-tiba dia muncul. Semua berubah menjadi mendung ketika langkah kakinya memasuki ruangan. Aku terpaksa terjerumus di sana, pada fenomena ganjil yang mendadak membuat demam di tubuhku menjadi hilang.

Dia berdiri di depan tanpa rasa berdosa meski jelas sekali dia terlihat sangat ternoda. Tatapan matanya yang berkeliaran pada semua mahasiswa yang masih berdesas desus mengundang lirikan tajam dari balik kaca mata minusnya yang besar. Aku mulai berpikir kalau dia mungkin mahluk purba yang tersesat mengendarai mesin waktu dan terdampar di kelas ini.

Aku tidak ingin mendeskripsikan penampilannya, karena jelas itu akan melukai perasaannya. Dia tidak oke! Itu saja sudah cukup.

Lupakan masalah perkenalan, karena pada akhirnya dia hanya bertahan selama lima menit di dalam kelas tanpa mendapatkan perhatian. Dia keluar dengan wajah penuh emosi.

Dia adalah dosen yang tidak beruntung.

.

.

.

Pada kesempatan lain, aku berpapasan dengannya di sebuah counter toko buku. Dia melihatku dan aku melihatnya. Kami berhadapan dan saling menatap. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, menungguku untuk memberinya jalan. Apakah dia canggung dan gugup jika berhadapan dengan wanita. Apa dia tidak mengenali aku sebagai mahasiswanya.

“Aku mau lewat.” Ujarnya dengan wajah sengit, tapi aku menganggapnya lucu.

“Lewat mana?” tanyaku. Aku tidak bermaksud mencandainya, tapi berhubung melihat penampilannya, aku jadi tertarik untuk sedikit berimprovisasi dengannya.

Tangannya menunjuk ke arah samping kananku.

“Lewat situ!” jawabnya dengan wajah kaku

Mataku bergerak ke sisi sebelah kananku, lalu menggeleng.

“Tidak cukup. “ sahutku tanpa ekspresi

Dia menghela nafasnya sambil memikirkan sesuatu, kemudian menatapku lagi.

“Cukup jika kau memiringkan badanmu.”

“Miring ke arah mana?”

“Ke arah rak buku itu.” Tunjuknya

“Tapi bagaimana jika kau menyenggol pantatku.”

Matanya berkedip-kedip lagi.

“Tidak akan!” sahutnya tajam. Matanya mulai garang dan menindas. Oh..aku ngeri. Bulu kudukku meremang lagi.

“Mr. Do, kenapa kau tidak mengenaliku?” tanyaku gusar

“Kau siapa?”

“Aku Park Jiyeon.” jawabku

Matanya menyipit. “Park Jiyeon?”

“Aku mahasiswamu.”

Lama dia mengamatiku, kemudian mengambil dompetnya. Astaga! Kenapa dia mengambil dompetnya. Sebentar kemudian, dia mengamatiku lagi.

“Aku tidak tahu kalau kau adalah mahasiswaku.” Ujarnya.

Kali ini aku yang ketiban kaget. Dia sudah hampir seminggu menjadi dosen masih belum hapal dengan mahasiswanya.

“Percayalah, aku adalah mahasiswa Anda, Mr. Do.” Seharusnya aku tidak ngeyel dan norak seperti ini karena hanya ingin diakui sebagai mahasiswa dari seorang dosen muda dengan tampang culun sepertinya. Kalau dia tidak mengakui, kenapa harus merasa repot, toh kalau besok bertemu dia juga akan tahu.

“Permisi, aku mau lewat!” dia mendorong tubuhku ke kanan, dan benar dia melewatiku dengan wajah suntuk seperti biasanya. Dia ini jenis manusia yang dilahirkan atau di muntahkan.

BRUG

Aku bertubrukan dengan kakak laki-lakiku. Jo Hyun. Dia mungkin kesal karena terlalu lama menungguku di restoran cepat saji di samping toko buku ini.

“Aku seharusnya tidak di sini menjemputmu, Jiyeon!”

“Aku tinggal membayar.” Seruku sambil berjalan ke kasir.

“Dia mungkin sudah mencariku.”

“Siapa?” aku menoleh Jo Hyun curiga. “Pacar?”

“Temanku.” Tegasnya

Kupikir kakakku ini sudah punya pacar, tapi ternyata dia menunggu temannya. Tidak terlalu penting.

Tidak lama kemudian kami sudah duduk di dalam restoran. Kakaku sudah memesan makanan camilan dan soda.

“Kenapa kau makan makanan seperti ini?”

“Aku bosan menunggumu.” Tapi tatapannya berpindah ke arah pintu .”Dia datang!”

Aku ikut menoleh. “Mr. Do.” Pekikku setengah menjerit. Jo Hyun melirik

“Dia temanku, Kyungsoo.”

“Dia dosenku, Mr. Do.”

“Namanya Do Kyungsoo.” tegas kakakku

“Panggil aku Kyungsoo.” Ujar Do ketika duduk di antara kami. Aku dan kakakku bungkam. Apa dia sudah mengetahui kalau aku adalah adik dari temannya.

Jantungku berkejaran ketika dia menatapku. Dia ini dosen sekaligus teman kakakku, tapi kenapa wajahnya masih menyebalkan seperti itu.

“Lupakan, aku adalah mahasiswa yang tidak dikenalinya.” Aku bersungut. Kemudian Do mengeluarkan dompetnya lagi. Dia menunjukkan di depanku sebuah foto yang dia simpan di sana.

“Aku tahu, kalau kau adalah adiknya. Maafkan aku karena aku berpura-pura tidak mengenalmu.” Ujarnya dengan suara yang lembut. Dia melepas kacamatanya, dan mengacak rambutnya sedikit. Kini yang terlihat adalah seorang Do yang mempunyai wajah bayi yang tampan.

Jadi Jo Hyun sudah mengiriminya fotoku. Kulirik kakakku dengan tatapan kesal, Kenapa dia mengirimi alien ini foto tercantikku.

“Jadi tadi kau pura-pura tidak mengenaliku sejak awal kau mengajar?” kuserang Do dengan lirikan mautku. Wajahnya tak berubah, masih kaku plus dengan sorot matanya yang selalu tampak galak. Mungkin cetakannya sudah begitu dari sananya. Hh, ….

“Ya. Aku berpura-pura. Tapi kau memang lucu…” dia tersenyum tanpa pengharapan.

Aku tidak menanggapi dan langsung berdiri.

“Kau mau ke mana?” JO Hyun merasa bersalah.

“Toilet.” Sahutku malas.

Do mengekoriku hingga menghilang di lorong ke arah toilet.

Aku berdiam di dalam toilet mungkin hampir selama lima belas menit. Tidak ada yang kulakukan. Hanya berdiam diri sambil menyisir rambutku berkali-kali. Aku menggoda dosenku yang ternyata adalah teman kakakku, pun dia mengenaliku dengan baik.

Dua orang yeoja masuk dengan sebuah gunjingan mengenai soerang laki-laki dengan kaca mata selebar parabola sedang menyanyi di mini stage di dalam arena hiburan restoran.

Tidak mungkin kalau itu Do. Tapi dengan keterangan kaca mata selebar parabola itu, …aku jadi penasaran. Rasa laparku memang hilang, tapi aku benar-benar menjadi gugup ketika aku melihat sosok Do menyanyi dengan suara malaikatnya di depan sana. Ketika aku mendekati Jo Hyun, matanya hanya tertuju padaku, membuatku canggung dan hampir terjungkal dari kursi yang kududuki.

Niga joha…neomu joha….

“Dia menyukaimu, Jiyeon.” Bisik Jo Hyun sambil mengacak rambutku

“Dia aneh.” Balasku

“Dia itu langka.”

Aku hampir tersedak mendengar istilah langka yang di katakan kakakku mengenai Do.

“Dia manis juga ..”

“Dia baik. Kau jangan melihat penampilannya. Apa kau tahu kenapa dia begitu?”

Aku mengerucutkan mulutku

“Dia hanya ingin melihat yeoja yang dicintainya, melihat dirinya bukan karena penampilannya.” Aku menatap Jo Hyun dengan helaan napas. Aku tahu apa yang dia maksudkan.

.

.

.

Beberapa hari kemudian, aku bertemu dengan Do lagi, Entah ini sengaja atau bukan, karena kenyataannya kami bertemu. Segudang keanehan yang kurasakan harus aku tepiskan sebentar hanya karena aku memergoki Song Nam, mantan pacarku sedang menggandenga pacar barunya melewatiku. Wajaku kutekuk hingga nyaris terlipat.

“Kenapa tidak sekalian kau masukan saja wajahmu ke dalam kantong bajumu.” Sindir Do.

Oh, aku merengut mendengar sarkasmenya.

“Mau kugandeng tanganmu supaya impas?” tawarnya.

“Tidak terima kasih!” aku sedikit sebal mendengarnya, tapi kemudian Song Nam melihat ke arahku. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa harunya ketika melihat penampilan Do. Sontak dia mendekat dengan cepat.

“Kau sungguh membuat reputasiku hancur, Jiyeon!” aku bingung kenapa Song Nam mengeluh mengenai reputasinya yang tidak ada kaitannya denganku lagi

“Jiyeon, kenapa kau mencari penggantiku seperti dia?”

Do berdiam dengan wajah kaku, namun bola matanya bergerak ke kiri menatap pada Song Nam dengan berkedip-kedip tanpa henti seperti lampu sen mobil yang akan berbelok di dalam cuaca mendung dan penuh halilintar yang menyambar.

Aku tidak bisa menjawab.

“Memangnya kenapa denganku?” tanya Do dingin

Song Nam masih mengamati.

“Memangnya apa salahnya menjadi seperti ini.” Lanjut Do sengit. Isyarat matanya sungguh mencekam.

“Jiyeon bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik darimu.” Song Nam benar-benar keterlaluan. Mau tidak mau aku pun jijik mendengar omongannya yang tidak bermutu.

“Namie, kau tidak lebih baik dari dia. Apa kau tahu, dia laki-laki yang aku anggap paling baik dari semua laki-laki yang pernah kukenal termasuk dirimu. Kalau kau bicara masalah penampilan, LUPAKAN! Kau hanya bagus di lihat dari luarnya, kondisi dalammu sangat buruk, bahkan di bawah standart!”

Sekarang Do melirikku dengan mata bulatnya. Aku tahu dia pasti bangga dengan dirinya saat ini.

Song Nam kehilangan muka, dan langsung berlalu.

Kami akhirnya duduk minum kopi di depan mini market. Di dadaku masih meredam semua emosi, namun Do tak henti mengangguk.

“Terima kasih!” ujarnya

Aku menggeleng.

“Tidak masalah.”

“Tidak. Sungguh aku merasa senang kau membelaku.” Dia tersenyum antara sedih dan bahagia. Tidak jelas

“Kau tidak harus berterima kasih. Song Nam memang laki-laki bodoh. Sudah lama aku ingin memakinya.”

“Dia bodoh, tapi keren.”

“Kau tidak bodoh, tapi tidak keren.” Sahutku.

“Tidak apa-apa.” Jawabnya sambil tersenyum. “Nanti lama-lama kau pasti menyukaiku.”

Aku tertegun dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.

.

.

.

Kenapa Do bisa menjadi dosenku.

Pertanyaan itu selalu menggangguku, terlebih sosoknya yang selalu bisa kulihat setiap saat. Fenomena Do sangat kuat hingga aku sulit untuk menepis bayangan dirinya yang unik.

Di kampus, dia tidak banyak bicara padaku, justru dia sering berdiskusi dengan mahasiswi lain.

Aku mulai terkena sydrom Do setelah aku tahu dia menjadi mentor di salah satu acara pertandingan pengetahuan antar jurusan di fakultas Ekonomi di kampusku. Aku tidak tahan dengan sikap dingin dan cerdasnya, hingga ketika acara itu selesai aku sengaja menunggunya. Bagaimana mungkin aku bisa merasa gerah dengan kedekatannya yang kelewat akrab dengan teamnya yang rata-rata adalah yeoja.

“Kau menungguku?” tanyanya sambil memperbaiki kaca matanya

“Tidak juga.” Aku bohong

Cahaya matahari sore ini mencetak bayangan tubuhnya di wajahku. Dia tampak tenang dan berwibawa.

“Kalau begitu aku pulang dulu.” Dia melangkah pergi dengan cepat tanpa basa basi.

“Iya aku menunggumu.” Sahutku. Do berbalik dengan memasang wajah seperti biasanya

Jarakku sekitar satu meter darinya, tapi dia tidak bicara. Diam dan masih menatapku.

“Kau kenapa?” tanyanya kemudian.

“Aku….”

Do mendekat.

“Kau ingin kugandeng?” bisiknya. Wajahku memerah mendengar ucapannya.

Dan sejak sore itu, aku seperti mendapatkan penampakan aneh dari sosok seorang Do. Wujutnya seakan-akan selalu hadir di mataku. Di saat aku terpuruk pada kenyataan mengenai bentuk anehnya yang menjadi gunjingan, kini aku seperti terkena sebuah kutukan yang tidak bisa kulepaskan, karena seiring waktu berjalan aku jadi benar-benar menyukainya.

Tubuhku gemetar dan akan selalu begitu jika tidak bertemu dengannya. Badanku akan meriang kalau aku tidak melihat senyumnya. Sayangnya, aku memang akan sulit melihat senyumnya ketika dia mengajar di dalam kelas. Hanya saja, dia selalu mempunyai waktu khusus untuk menyembuhkanku dari demam ini.

Kalau dia tidak sempat menemuiku maka dia akan memberikan selfie dengan pose senyumnya yang akan langsung membuat tidurku menjadi nyenyak seketika. Apakah ini kutukan atau anugrah, aku tidak akan terlalu memusingkannya, karena nyatanya aku nyaman dengan keberadaannya. Meskipun dia alien, meskipun semua orang selalu menganggapnya culun dan tidak keren, tapi aku selalu tahu, dia adalah pemuda pujaanku, yang akan selalu mencintaiku.

-Fin-

Note.

karena dengerin tarling Pemuda Pujaan. /ish/

12 thoughts on “[Ficlet] Pemuda Pujaan

  1. hhh jiyi bilang gk suka tapi keingat trus malah d.o nya jadi virus jiyi bahagia,klok aq walau d.o cukup aq ma mau aja next

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s