[FRIEND] Teman

Friends

THEIR KINDNESS

Tob‘s storyline

Choi Yuju [GFRIEND] | Lee Seokmin [17] | Ryu Sujeong [LOVELYZ]

Friendship, General, AU | Oneshot

Ini hanya sebuah cerita mengenai persahabatan dan perbedaan mengenai hobi yang ada.

*^*^*

Namaku Choi Yuju. Aku lahir di Jepang tujuh belas tahuTn lalu dan kini tinggal di Seoul, Korea Selatan. Tentu saja karena pekerjaan ayahku, kami sekeluarga harus pindah ke Korea. Sudah satu tahun aku pindah ke negara ini, dan tentu saja banyak sekali yang berubah. Aku harus beradaptasi dengan bahasa, kebudayaan, dan attitude mereka. Ayah bilang, aku memang harus menerimanya dan beradaptasi supaya wawasanku luas dan tidak hanya mengenal Jepang saja, aku juga perlu mengenal Korea, begitu katanya. Aku punya kakak laki-laki bernama Choi Shu. Kami terpaut jarak tiga tahun. Shu memang sudah kuliah di Korea sejak dua tahun yang lalu jadi dia sudah terbiasa dengan segala hal yang ada disini.

Setahun disini membuatku memilki dua orang teman dekat, Ryu Sujeong dan Lee Seokmin. Sekarang, aku akan menceritakan orang seperti apa mereka. Sebelumnya, asal kalian tahu, semenjak tinggal disini aku tidak hanya teracuni oleh virus Kpop tapi virus Otaku juga teracuni. Meskipun aku berasal dari Jepang, bukan berarti aku seorang otaku dan up to date mengenai anime yang sedang booming. Aku tidak terlalu meyukainya tetapi, justru disini aku malah mendapat racun seperti itu dari mereka; Sujeong dan Seokmin.

“Yuju-ya! Coba lihat!” Sujeong menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajahku. Isinya sebuah video boyband kesukaannya—BTS. Berhubung Sujeong sudah mem­play videonya, aku otomatis langsung menontonnya, “Kyaa~!” Sujeong berteriak tepat di sampingku, tentunya langsung terdengar jelas di telinga sebelah kananku. Tenang saja, aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini kok, “Taehyung oppa ganteng banget! Kyaa~!” aku langsung menutup kedua telingaku dengan mata masih fokus melihat video yang disajikan ponsel Sujeong.

“Sujeong-ah, kamu sudah menyuruhku menonton video ini selama lima kali.”

Sujeong langsung mengarahkan pandangannya ke arahku,”Ya, lalu?”

Aku memutar bola mataku, “Lalu? Kenapa masih teriak-teriak sih? Kamu pasti udah nonton lebih dari lima kali, mungkin sepuluh kali.”

“Tepatnya, dua puluh kali” Sujeong mengoreksi ucapanku.

“Baiklah, dua puluh kali. Jadi, gak usah teriak-teriak lagi, bisa ‘kan?”

Sujeong mengangkat bahunya sedikit lalu kembali asyik dengan ponselnya. Kali ini bukan melihat video, tapi melihat berita terbaru mengenai idolanya. Aku yang tadinya sedang membaca novel kini kembali melanjutkan membacanya sampai suara seorang lelaki terdengar sangat nyaring di seberang mejaku.

“Oi, Yuju-ya! Sujeong-ah!”

Itu Lee Seokmin yang berteriak, temanku yang satunya lagi. Dia otaku. Jadi, jangan aneh jika kalian melihatnya diselimuti oleh benda-benda aneh, maksudku merchandise berbau anime. Aku dekat dengannya setelah dia mengetahui bahwa aku orang Jepang. Dia sering mendekatiku hanya untuk menanyakan barang-barang di Akihabara dan bagaimana keadaan di Akihabara sekarang. Tentu saja aku hanya menjawab seadanya karena, well aku tidak terlalu tahu yang begituan.

Lee Seokmin kini sudah duduk di seberang mejaku dan Sujeong. Ia menunjukan gantungan kunci Sugawara dari anime Haikyuu dan Tamako dari Tamako Market. Bagaimana aku bisa tahu? Karena dua hari yang lalu dia bercerita mengenai keinginannya untuk membeli barang tersebut.

I got them!” Seokmin berteriak senang.

Aku mengangguk malas, terang-terangan menunjukan ketidaktertarikanku. Seokmin tidak pernah marah tapi tidak pernah paham juga kalau aku tidak tertarik karena yang ia pikirkan hanya benda-benda itu.

“Yuju-ya, Sujeong-ah, coba lihat! Kau tahu Wonwoo? Ia beberapa hari yang lalu pergi ke Jepang dan aku meminta agar ia membelikannya, dan tanpa diduga ia benar-benar membelikannya. Dan aku mendapatkannya dengan gratis. Ah~ thanks God!” Seokmin menjelaskan bagaimana ia mendapatkan barang-barang itu sambil memainkan mereka dan kurasa dia akan menatap mereka untuk beberapa jam kedepan.

“Oh, baguslah” Sujeong meyahut singkat lalu kembali asyik dengan ponselnya bersama senyum yang tak hilang dari wajahnya. Aku bingung, kenapa dia bisa-bisanya tersenyum hanya karena menatap ponsel. Oh, aku lupa kalau dia sedang asyik baca artikel tentang Taehyung yang akan ikut jadi MC di sebuah show.

Dua jam aku habiskan untuk membaca novel sedangkan Seokmin dan Sujeong asyik juga dengan dunianya masing-masing. Untuk Sujeong, aku mengerti karena setidaknya dia membaca artikel atau sesekali menonton video tapi, untuk Seokmin aku sangat sangat tidak mengerti. Sudah kukatakan kan bahwa dia akan menatap mainan barunya selama beberapa jam kedepan? Dan itu benar-benar terjadi. Selama dua jam itu, dia memang benar-benar menatap mereka.

“Aku lapar, makan yuk? Sashimi wo tabetai~.” ucapku sedikit memelas, takut mereka akan menolak mentah-mentah karena terlalu asyik dengan dunianya.

“Bentar, tanggung. Aku lagi download video baru BTS, sinyal disini kuat banget!.”

“Sendiri aja, aku lagi seneng liatin Tamako sama Sugawara.”

Tuh, ‘kan!

Aku beranjak dari kursi dan langsung pergi ke kedai makanan Jepang. Kupesan dua porsi sashimi untuk meluapkan kekesalanku kepada Seokmin dan Sujeong. Awas saja kalau mereka berani-berani muncul di hadapanku besok.

 

^^

Annyeong!” itu Sujeong yang berteriak. Ini masih pagi, dan aku sedang berada di kelas, menunggu pelajaran dimulai. Aku membalas sapaan Sujeong dengan lambaian. Mau bagaimana lagi, aku tetap saja tidak bisa marah dengan Sujeong karena dia temanku. Walaupun menyebalkan, tapi Sujeonglah orang yang pertama kali dekat denganku ketika baru pindah ke sini. Untungnya Sujeong mahir berbicara bahasa Jepang sehingga di awal-awal, kami berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang dan diselipi bahasa Korea. “Yuju, kamu kemarin jadi pergi ke kedainya? Aku kesana tiga puluh menit kemudian tapi, kamu gak ada sih?”

“Mungkin aku jadi invisible girl kemarin.”

“Kamu ini! Masa iya sih, ada-ada aja.” Ia tertawa senang, padahal aku sedang tidak membuat lelucon, “sebagai permintaan maafku, aku traktir es krim deh pulang sekolah, ya?”

“Tiga mangkuk, baru oke.” balasku.

Sujeong memutar bola matanya kesal tapi kemudian tersenyum manis, “Baiklah, tiga mangkuk untuk temanku yang rakus!”

Ya!”

Oh iya, jangan lupa. Selain karena Sujeong adalah teman pertamaku di Korea, dia juga suka mentraktir es krim sebagai permintaan maaf. Bonusnya, aku boleh meminta berapapun es krim yang kumau asal dia dimaafkan. Jadi, mana mungkin aku melewatkan kesempatan ini?

^^

Aku sedang duduk di halte menunggu bus datang namun, bukannya bus tapi justru hujan yang datang menghampiri. Itu artinya aku harus menunggu disini ditemani hujan, sendirian karena di jam empat sore, halte depan sekolah sudah kosong. Ini semua gara-gara aku harus mengerjakan makalah voli sebagai pengganti ketidakhadiranku minggu kemarin ketika sakit. Sujeong tidak pulang bersama, karena setelah bel pulang berbunyi, ia langsung berlari keluar kelas kemudian keluar sekolah untuk mengikuti fanmeeting bersama BTS. Dia benar-benar berisik selama pelajaran terakhir berlangsung. Sujeong tak henti-hentinya menghentak-hentakan kedua kakinya menunggu bel pulang berbunyi, seolah BTS akan mati kelaparan jika Sujeong tidak cepat-cepat datang.

“Eh? Yuju?”

Aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapatkan Seokmin. Ia mengenakan jaket abu-abu lalu duduk di sampingku. Ah, dan masih memakai seragam sekolah, “Kamu belum pulang?”

Seokmin menggeleng, “Belum, tadi kumpul klub dulu. Kamu sendiri?”

“Aku menunggu bus datang, tapi justru hujan yang datang, lucu sekali ‘kan?” ucapku dengan tawa yang sejujurnya dibuat-buat.

Seokmin tidak membalas ucapanku, dari raut wajahnya ia tampak sedang berpikir. Terlihat dari kerutan di dahinya dan bibirnya yang agak condong ke kiri. Selain itu, kaki serta tangannya pun di hentak-hentakan. Inilah gambaran seorang Lee Seokmin ketika berpikir, aku tahu karena sering melihat dia dalam posisi yang disebutkan tadi di depan laptopnya;memilih barang yang akan dibeli.

“Yuju, kamu sebaiknya berteduh di rumahku saja. Jaraknya dekat kok dari sini daripada harus hujan-hujanan. Di rumah ada adikku Sarah, kamu bisa pinjam baju dia dan mungkin kamu bakalan nyambung ngobrol sama Sarah. Dia pecinta novel, sama sepertimu. Ayo cepat!” Seokmin memberikan jaketnya padaku lalu menarikku untuk ikut berlari dengannya.

Aku sampai di rumah Seokmin dalam keadaan setengah basah kuyup. Bajuku baik-baik saja berkat jaket yang Seokmin berikan, tapi bawahanku tidak. Seokmin memberikanku baju Sarah lalu aku meminta izin untuk menggunakan kamar mandi.

Sarah sedang duduk di sofa ketika aku baru saja selesai mengganti pakaian. Ia menyuruhku duduk dan kami pun larut dalam perbincangan mengenai novel yang disukai. Aku berniat akan meminjam buku-buku Sarah, begitu pula sebaliknya, Sarah mau berkunjung ke rumahku untuk meminjam beberapa novel.

“Sepertinya, baju Sarah memang pas ya.” Ucap Seokmin ketika ia duduk di sofa seberangku dan Sarah.

Aku mengangguk, “Terima kasih, ya.”

Seokmin lalu beranjak dari duduknya, “Tunggu, aku akan membuat ramen.”

Selepas Seokmin pergi, Sarah berbisik padaku, “Eonni sudah pernah melihat kamar oppa?

Aku menggeleng, “Aku boleh melihatnya, tidak?”

Bukannya menjawab pertanyaanku, Sarah justru berteriak, “OPPA, YUJU EONNI INGIN MELIHAT KAMAR OTAKU

“LIHAT SAJA” balas Seokmin dari dapur.

Sarah lalu menarik lenganku untuk pergi ke kamar Seokmin.

Sesampainya di sana, aku benar-benar terkejut. Ruangan ini berbeda dari ruangan-ruangan lainnya. Maksudku, kamar Seokmin benar-benar berbeda. Langit-langit kamar dan dindingnya tertempel poster tokoh anime yang aku tidak tahu siapa namanya, di seprainya tergambar salah satu tokoh dari Sword Art Online (yang ini aku tahu dari Sarah), lalu di mejanya tersusun rapi beberapa barang yang berhubungan dengan anime. Aku merasa ada di salah satu toko di Akihabara yang menjual berbagai barang yang berhubungan dengan anime. Aku tidak tahu bahwa ternyata Seokmin benar-benar mengumpulkan barang sampai seperti ini. Pantas saja, ketika aku pulang ke Jepang dia selalu menitip beberapa barang.

“Bagaimana? kamarku cantik ‘kan?” Seokmin tiba-tiba saja ada di samping pintu dengan tangan yang masih memegang spatula.

Aku memutar bola mataku, “Mungkin cantik versiku dan versimu berbeda, Seokmin-ah jadi jangan bertanya.”

Sarah tertawa, “Cantik versi Seokmin oppa ya begini, dipenuhi gambar anime perempuan, kalau cantik menurut Yuju eonni itu yang banyak bonekanya, lalu ada rak buku, dan makanan yang selalu ada ketika dibutuhkan, sama seperti Sarah.”

Aku mengangguk lalu merangkul Sarah pertanda setuju.

Seokmin memutar bola matanya, “Terserahlah, pokoknya sekarang ayo ke ruang makan, makanannya sudah siap. Nanti kalau sudah tidak hujan, aku akan mengantarkanmu pulang.”

Aku menggeleng, “Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Disini dekat dengan halte kan?”

Seokmin menolak, terlihat dari tagannya yang bersedekap, “Aku tidak mungkin membiarkan temanku pulang sendirian, aku bisa pakai motor untuk mengantarkanmu. Tenang saja, ini gratis.”

Aku mengalah, “Baiklah.”

Inilah Seokmin, meskipun dia agak aneh dengan hobinya, tapi dia tetaplah temanku yang baik. Seokmin tidak akan membiarkan aku ataupun Sujeong pulang sendirian apalagi di malam hari. Dia akan dengan senang hati mengantarkan kami sampai di rumah. Terutama, ini gratis.

 

Fin.

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s