[Red Velvet-Series] APPA: Haid

yeri

APPA
Drabble-Series versi Red Velvet

featuring Kim Yeri

“Ayah, aku berdarah.”

(739 words)

by zulfhania

 Drabble-series versi Red Velvet:
Gwaenchana – Joy

∴ HAID ∴

Ada suatu hal yang ingin Yeri sampaikan pada ayahnya. Tetapi ia terlalu malu hingga ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya pada ayahnya. Andai saja ibunya masih hidup, mungkin ia bisa bercerita pada ibunya.

“Kenapa kau berdiri disana saja, Yeri-ya? Sini kemari, temani Ayah menonton tivi,” teguar ayahnya saat melihat Yeri hanya berdiri di bingkai pintu kamarnya.

Yeri hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya ingin melihat Ayah saja. Aku tidur dulu ya. Selamat malam, Ayah.”

Alih-alih berbalik, Yeri malah melangkah mundur masuk ke dalam kamarnya, seakan enggan untuk membelakangi ayahnya walaupun ia hendak masuk ke dalam kamar. Ayahnya yang merasa ganjil dengan pemandangan itu akhirnya kembali memanggil nama Yeri. Yeri menghentikan langkah dan balas menatap ayahnya.

“Kalau ada hal yang ingin Yeri sampaikan pada Ayah, sampaikan saja. Ayah akan menerimanya dalam bentuk apapun.”

* * *

Esok paginya, Yeri sudah bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan untuk ayahnya. Terdengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi ketika Yeri keluar dari kamar, pertanda ayahnya sedang mandi. Yeri tidak bisa tidur dengan nyenyak tadi malam karena harus bolak-balik ke kamar mandi untuk mengganti celana dalam, maka dari itu ia telat bangun dan telat membuatkan sarapan untuk ayahnya.

Beruntung, Yeri selesai masak tepat ketika ayahnya selesai mandi. Ayahnya berbenah diri di dalam kamar dengan pakaian kantornya, sementara Yeri mempersiapkan sarapan ayahnya di meja makan. Selain itu, ia juga meletakkan sebuah amplop kecil di sebelah piring berisi nasi goreng milik ayahnya. Setelah itu, Yeri segera kembali menuju kamarnya.

Ayahnya keluar dari kamar tak berapa lama kemudian dan tidak menemukan Yeri di sana. Ia hanya menemukan piring berisi nasi goreng, segelas air putih, dan sebuah amplop kecil di atas meja.

Dibandingkan dengan nasi goreng buatan Yeri, ayahnya lebih tertarik dengan amplop tersebut. Ia melirik pintu kamar Yeri yang tertutup rapat sekilas sebelum membuka amplop tersebut dan menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan Yeri di dalamnya.

Ayah, kau benar. Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu, tetapi aku terlalu malu untuk mengatakannya. Ayah bilang ayah akan menerimanya dalam bentuk apapun, maka dari itu aku menulis surat ini.

Ayahnya tersenyum begitu membaca paragraf pembuka pada surat tersebut. Rupanya, putrinya itu sudah besar.

Ayah, aku berdarah. Sudah beberapa hari ini aku menemukan darah di celana dalamku. Ayah pasti tahu maksudku. Beberapa hari ini aku dipinjamkan uang oleh teman-temanku untuk membeli ‘roti’. Ayah tahu ‘roti’ yang kumaksud, kan? Aku merasa tidak enak terus-menerus diberi pinjaman uang oleh temanku. Tetapi aku juga merasa tidak enak untuk memintanya pada Ayah. Aku ingin meminta pada Ayah, tapi aku malu. Meskipun selama ini aku sering bercerita padamu, tapi untuk masalah yang ini, aku malu untuk mengatakannya.

Aku tidak pernah meminta apapun dari Ayah. Bagiku, dengan Ayah yang sudah merawatku dari bayi hingga sebesar ini tanpa bersama ibu, bekerja keras mencari uang dari pagi hingga malam untuk menghidupiku, aku sudah menerima apapun dari Ayah. Tetapi, Ayah, maaf sekali, bolehkah untuk yang pertama kalinya aku meminta padamu?

Aku sayang ayah. Tertanda, Yeri.

Ayahnya tak bisa menahan airmata usai membaca surat yang ditulis sendiri oleh Yeri. Bertahun-tahun lamanya ia merawat Yeri seorang diri, tanpa seorang istri yang sudah pergi jauh dari dunia ini, akhirnya hari ini adalah harinya. Yeri haid. Yeri sudah remaja, putrinya sudah dewasa.

Sementara itu di dalam kamar, Yeri berdiri bersandar di daun pintu kamar, menebak-nebak apa yang saat ini sedang dilakukan ayahnya di luar kamar. Apakah ayahnya sudah membaca surat darinya?

Tak berapa lama kemudian, Yeri mendengar suara deruman mesin mobil pertanda ayahnya sudah berangkat bekerja. Yeri memutuskan untuk keluar kamar. Ia melihat piring di atas meja sudah kosong, pertanda ayahnya sudah menghabiskan masakan buatannya. Gelas di sebelah piring juga sudah kosong. Tetapi ada satu yang menarik perhatian Yeri, ada sebuah amplop yang tertutup rapat di sebelah piring tersebut. Apakah ayahnya belum membaca surat darinya?

Yeri membuka amplop tersebut dan menemukan beberapa lembar uang kertas di dalamnya. Ia juga menemukan secarik kertas di dalamnya. Bukan berisi tulisan tangan Yeri, melainkan berisi tulisan tangan ayahnya. Yeri tak kuasa menahan tangis saat membaca surat balasan dari ayahnya.

Yeri-ya, terimakasih atas suratnya. Ayah akan menyimpan surat ini. Ayah bangga karena kau sudah tumbuh menjadi seorang perempuan remaja sekarang. Hanya segini uang yang bisa Ayah berikan, tolong diirit ya, walaupun jumlahnya sedikit, semoga bisa membantu.

Ah, ya, satu lagi. Kalau ada masalah apapun yang sulit kau ucapkan pada Ayah, Ayah akan dengan senang hati menerima surat-surat lain darimu, Yeri. Ayah juga menyayangimu. Tertanda, Ayah.

-fin.

Karena waktu itu aku udah buat drabble-series EOMMA versi boyband yaitu Infinite, kali ini aku membawa drabble-series APPA versi girlband yaitu Red Velvet! Series kedua adalah Yeri, dan ini ceritanya slice of life banget nggak sih? wkwk.. Kayaknya series ini lebih cocok dikasih judul Letter deh daripada Haid, hmm.. Selamat membaca, readers, jangan lupa tinggalkan feedback 🙂

Baca juga drabble-series EOMMA versi Infinite:
Doll – Woohyun || Save Me – Myungsoo || Clubber Boy – Hoya || Girl – Sungjong || Dirty Work – Sunggyu || Just Believe – Sungyeol || Blind – Dongwoo

NEXT SERIES: HURT featuring Kang Seulgi

Regards,

Zulfa Azkia (zulfhania)

Advertisements

3 thoughts on “[Red Velvet-Series] APPA: Haid

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s