[Twoshot] Problem(s)

PhotoGrid_1455763576146.png

Problem(s)

 

Zahrafifah’s©2016

 

[TWICE] Mina with [GOT7] Jackson

and [iKON] Hanbin and Yunhyeong

 

a absurd story with (some) romance, friendship, family genre and Teen rating written by Zahrafifah.

 

(!) Bahasa gak Baku di beberapa bagian, EYD masih berantakan, flashback gak aku kasih tahu,  dan kemampuan diksiku yang masih minim.


Mungkin kalian akan mengira bahwa disukai dua lelaki itu menyenangkan, tetapi aku sama sekali tidak berpikir bahwa disukai lelaki itu menyenangkan. Kenapa? Karena lelaki yang menyukaiku itu melaksanakan perang dingin untuk memperebutkanku, tidak enak, bukan?

Aku benar-benar tak percaya bahwa aku akan mengalami posisi ini. Posisi dimana ada dua lelaki yang menyukaiku. Sialnya lagi, kedua lelaki itu sahabatku dan mereka bersahabat sebelum bertemu denganku.

“Oi, Mina!”

Seseorang menyerukan namaku, aku menoleh kearah sumber suara itu dan aku dapat melihat sosok Jackson—kakak sepupuku—melambai kearahku. Lelaki itu kini menunjukkan wajah badmood yang sangat jelas terlihat. Tatapanku beralih pada barang bawaannya, pantas saja Jackson terlihat kesal. Dia tak jadi berlatih tenis karena kekasihnya.

Aku berdiri lalu berjalan kearah Jackson yang kini menatapku dengan tatapan; kenapa kau lama sekali? Aku hanya tersenyum miring padanya. “Ada apa, hm?” tanyaku basa-basi, sejujurnya aku sudah tahu apa maksud Jackson datang ke kelasku.

“Tolong izinkan aku, aku takkan latihan lagi,” keluhnya lalu menunjukkan tas milik kekasihnya yang sudah ia pegang. “Aku berharap dua hari kedepan bisa latihan,” keluhnya lagi.

Aku mengangguk kecil, “Mau sampai kapan kau begini terus, Jack? Seharusnya kau tak boleh kalah dari Seulgi,” ujarku sinis, Jackson mengetuk kepalaku kecil.

“Kau harus memanggilku oppa atau tidak sunbae dan kau harus memanggil Seulgi dengan sebutan unnie, ingat itu.” Jackson menatapku tajam, aku tidak peduli dengan tatapanmu itu, kakak.

“Aku tak akan menyebut kalian dengan sebutan kakak,” ujarku seraya tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigiku. “Lagipula, kau sudah izin tidak latihan selama dua bulan, Jack. Mark bisa saja marah padamu, lain kali jika Seulgi-mu itu memintamu jalan disaat latihan tenis, kau harus menolaknya. Tak ada izin lagi dariku,”

“Kau ini tidak sopan sekali, apa Hanbin dan Yunhyeong tidak mengajarimu, huh? Ah, pasti ini karena sifat keras kepalamu itu. Aku tak menyangka bahwa Hanbin dan Yunhyeong akan lama bersahabat denganmu. Ah, mungkin mereka tak bisa mengajarimu kembali karena mereka sedang perang, bukan?” Jackson tertawa kecil, oh Jack, bolehkah aku menamparmu sekarang?

Ya, kedua orang yang menyukaiku itu adalah Kim Hanbin dan Song Yunhyeong. Kedua sahabatku sejak kami berada dibangku SMP dan kini kami sudah berada di perguruan tinggi dengan jurusan yang sama. Kami sudah bersahabat lama sekali, bukan? Tapi persahabatan Yunhyeong dan Hanbin jelas lebih lama dari persahabatanku dengan mereka. Yunhyeong dan Hanbin sudah bersahabat sejak mereka masih belajar di Taman Kanak Kanak, dan kini aku menghancurkan persahabatan mereka begitu saja.

“Oi, Jack, izinmu tak akan aku sampaikan pada Mark!” teriakku lalu berlalu meninggalkannya. Ia sudah aku peringatkan beberapa kali bahwa jangan bahas tentang Hanbin atau Yunhyeong didepanku mulai sekarang sampai perang mereka selesai. Dan Jackson tetap mengucapkannya berkali-kali, entah itu di rumah, di sekolah, ataupun jika kami sedang jalan.

Sepasang irisku kini bersibobok dengan iris milik Hanbin yang mungkin sedari tadi memperhatikanku. Tatapan pemuda itu kini sangat tajam, ini bukan Hanbin yang biasanya. Aku lebih menyukai Kim Hanbin yang hangat, asal kau tahu, Hanbin.

“Ada apa, eoh? Tumben sekali melihatku dengan tatapan seperti itu,” aku kembali menatap Hanbin, menatapnya seolah aku tak takut dengan tatapan itu, seolah-olah aku ini belum pernah mempunyai masalah dengannya.

Hanbin berdiri dari duduknya, kemudian lelaki itu berjalan kearahku dan menarik pergelangan tanganku begitu saja, kedua mataku membola ketika Hanbin menarikku dengan begitu keras hingga aku bisa merasakan nyeri disekitar pergelangan tanganku itu.

Yak! Kim Hanbin!” teriakku dengan suara keras yang jarang sekali keluar dari mulutku. Aku tidak peduli jika ini berada di aula fakultas kedokteran, aku ingin masalah ini selesai hari ini juga, sudah cukup jika Hanbin dan Yunhyeong perang dingin. “Kenapa kau berubah, Han? Aku merindukanmu,” keluhanku ingin aku keluarkan detik ini juga, namun aku masih mengerti bahwa mengeluarkan keluhan di aula merupakan hal yang aneh untuk dilakukan, terlebih anak fakultas kedokteran. “Aku ingin kau memanggil Yunhyeong sekarang juga, aku menunggumu dikelas.” Gumamku lalu melepaskan jari jemari Hanbin yang melingkar di pergelangan tanganku.

***

Aku berjalan menuju fakultas kedokteran, hari ini adalah hari dimana aku, Hanbin, dan Yunhyeong menjadi mahasiswa kedokteran. Jurusan kami sebenarnya berbeda-beda, tetapi entah karena apa kami lebih memilih kedokteran. Kami tidak merencanakan pindah fakultas bersama, ini hanya kebetulan.

Saat-saat jam istirahat seperti ini, kami lebih sering menghabiskan waktu di atap dibandingkan makan di kantin. Itu juga karena aku yang membawakan mereka berdua makan, seperti saat ini, kami bertiga diam di atap dengan sandwich yang aku bawa dari rumah. Cara makan kami berbeda dari cara makan orang-orang yang biasa makan di kantin, jika mereka makan dengan diam, maka kami akan makan dengan ribut, dan terkadang berebut makanan. Tetapi aku sangat menyukai saat-saat berebutan makanan seperti ini.

“Yun, kamu mau gitu aja, huh? Mau buat aku mati kelaparan?” canda Hanbin dengan mimik serius miliknya. “Jatah makanmu sudah banyak, tuh, kenapa kamu tambah lagi?” tanya Hanbin seraya lelaki itu menggigit sandwich miliknya sekaligus.

Yunhyeong menatap Hanbin dengan tatapan polos miliknya, memperlihatkanku bahwa ia tak bersalah, ia menatapku sekilas lalu menatap Hanbin yang sedang memakan sandwich miliknya dengan serius. “Yang ada kamu yang ambil jatahku, lihat tempat makanmu, penuh begitu,” Yunhyeong menunjuk tempat makan milik Hanbin yang terdapat tiga potong sandwich yang memang sengaja ia taruh. “Mina, apa kau takkan membelaku, huh?”

“Kalian seperti anak umur enam tahun saja, aku tak akan berpihak pada salah satu diantara kalian, kalian makan saja dengan benar. Ambil saja jatahku,” ujarku lalu mengelus rambut milik Yunhyeong dengan acak, membuat rambut lelaki itu terlihat seperti orang bangun tidur. “Ah, aku seperti ibu dengan dua anak yang mempunyai hobi berbicara terus-terusan,” keluhku pelan, lalu menatap mereka berdua bergantian.

“Waa, mama marah, Yun,” canda Hanbin sekali lagi, kemudian tawa Yunhyeong dan Hanbin meledak begitu saja. “Jangan marah, Mina sayang, haha” lanjutnya lagi dengan wajah bercandanya yang memuakkan itu.

“Han, kayaknya Mina beneran marah, deh,” Yunhyeong menyikut lengan Hanbin lalu melirik lelaki Kim itu sekilas. “Min, jangan marah, deh, nanti siapa yang buatin kita makan lagi? Kamu tahu, ‘kan, kalau kita kurang suka makan di kantin?” Yunhyeong kini melirik Hanbin lagi, “Oi, Hanbin, minta maaf sana,”

Aku ingin tertawa melihat wajah Hanbin dan Yunhyeong yang sekarang, wajah takut aku menjauhi mereka sangat jelas terilah diwajah mereka. Aku harus menahan tawaku hingga Hanbin berkata maaf padaku. Kini Hanbin berjalan menghampiriku, lalu mencubit pipiku begitu saja.

“Maafkan aku, ya? Jika wajahmu terus menekuk seperti ini, aku tak akan segan-segan akan melakukan sesuatu padamu,” Hanbin kemudian mengacak poniku kecil, lalu kembali memakan sandwich miliknya kembali. “Yun, aku sudah minta maaf, tapi dia sama sekali nggak kasih respon yang bagus.” Ujarnya lalu menunjukku dengan bibirnya yang dimajukan sedikit.

Yunhyeong memutar kedua bola matanya malas, “Bagaimana mau dimaafkan jika caramu meminta maaf seperti itu,” Yunhyeong menatap Hanbin malas, lalu tatapannya beralih padaku. “Maafkan dia, ya?”

Aku mengangguk kecil, “Dari pertama kita ketemu aja dia emang ngeselin, kurang sabar apa aku,” keluhku lalu melirik arloji yang melingkari pergelangan tanganku, “Hei, sebentar lagi Profesor Han masuk!” seruku segera memasukkan kotak bekalku kedalam tas, begitu juga dengan Yunhyeong dan Hanbin, melakukan hal yang sama. Dan kami segera menuruni tangga menuju kelas kami agar tidak kena omelan Profesor Han yang menyebalkan itu.

***

“Aku pulang,” ujarku ketika aku memasukki rumah. Setelah mengganti dengan sendal rumah, aku segera memasukki kamarku tanpa mendengarkan ocehan Jackson. “Jangan menggangguku, Jack!” teriakku saat kudengar suara Jackson didepan kamarku.

Presentasiku tentang pembedahan jantung hancur, walaupun Profesor Jung bilang presentasiku yang terbaik, tetapi aku rasa ini tugas yang aku kerjakan dengan hasil yang buruk.

Tatapanku kini berpaling pada foto yang berada di atas nakas samping tempat tidurku, self-cam kami bertiga yang sengaja kucetak dan kupajang. Aku sangat menyukai foto tersebut, ekspresi kami benar-benar tidak terkontrol saat itu.

Sudah, Min, jangan memikirkan Hanbin dan Yunhyeong dulu, batinku mengatakan. Aku menghela nafasku kasar, lalu aku berbaring di atas kasur tanpa mengganti pakaianku yang sudah bercampur debu itu. Dan secara tidak langsung aku tertidur begitu saja.

“Mina, ayo makan malam,” aku dapat mendengar suara khas milik Jackson menyapa telingaku, apa aku bermimpi? “Min? Aku buka saja, ya, pintunya,” lanjutnya lagi. Kudengar suara pintu terbuka disertai hentakan kaki menuju kearahku.

“Mina, ayo bangun,” Jackson mengelus suraiku lembut, lelaki  itu memang baik, mungkin jika ia bukan saudaraku aku akan menjadikannya sebagai kekasihku. “Ibumu menyuruhku membangunkanmu, hei,”

Aku membuka kedua kelopak mataku berat, sudah bisa kupastikan bahwa mataku memerah sekarang. Dan sepertinya aku menangis tadi. Kini aku sudah duduk dihadapa Jakson. Dan kini Jackson menatap wajahku dengan tatapan anehnya yang kubenci sedari dulu itu.

“Nangis lagi? Sudah kukataka beberapa kali, Myo, kalau ada masalah jangan terlalu dipikirkan,” Jackson mengelus rambutku lembut, “Sudah tahu jika kau menangis akan menimbulkan bekas yang lumayan lama, bagaimana besok kuliah, hm?” Jackson kini menarik lenganku dan mendekapku dengan erat. “Lain kali, jika masalahmu memang berat seperti ini, kau bisa meminta bantuanku, aku akan meluangkan waktu untukmu.”

“Kenapa kau mau membantuku?”

“Karena kamu lebih berharga dari Seulgi, kamu saudaraku, Myo. Ibumu juga sudah banyak membantuku selama aku tinggal di Korea sejak aku SMA. Jadi, aku harus membantu kalian juga, ‘kan?”

Aku melepaskan pelukan kami, bukankah Jackson selalu bilang bahwa Seulgi adalah orang berharga baginya? “Jack, bukankah kau selalu berkata bahwa Seulgi-lah orang yang paling berharga di dunia ini?” tanyaku seraya menatapnya bingung.

Jackson tersenyum, lalu kembali memelukku dengan lembut. “Aku baru menyadari bahwa ibuku, ibumu, dan dirimu lah orang yang berharga bagiku. Kalian bertiga selalu ada disampingku, ya walaupun ibuku jarang menghubungiku, tapi aku benar-benar berterima kasih padanya. Ibumu yang mengajariku bertutur kata yang baik disini, yang membuatkanku makan, dan yang mengurusku. Sedangkan kamu, kamu yang pertama kali mengajakku keliling Seoul walaupun saat itu kamu juga baru pindah dari Jepang, kamu yang ngajarin aku bahasa Korea, dan kamu juga berani banyak berkorban untukku. Aku menyadari ini karena sikapmu tadi siang padaku, terima kasih, Myo.”

“Apa aku boleh berbagi beban bersamamu, Jack?”

“Tentu, kau bisa membagi bebanmu untukku, aku akan selalu bersamamu, adikku.” Jackson tersenyum lalu mengacak poniku, “Sekarang, kita makan malam saja dulu, lalu kita sharing tentang masalahmu itu, hm?”

“Mahasiswa psikologi memang hebat dalam membujuk, ya,” ujarku lalu tertawa kecil. Jackson tertawa juga, andai saja kau bukan saudaraku, Jack.

Diluar sana, Ibu Mina memperhatikan sikap Jackson terhadap anaknya, ia tersenyum, lalu senyumannya pudar ketika ingat bahwa Jackson dan putrinya tidak tahu tentang kebenaran yang selama ini ibu Jackson tutupi.

“Aku harus membuat Mina dan Jackson tahu bahwa Jackson bukan saudara kami, dan aku ingin lelaki itu menikah denganku,” gumam ibu Mina lalu berjalan menuju dapur karena Mina dan Jackson kini berjalan menuju keluar kamar.

to be continued

 

finished at february, 17 2016 at 19:55 wib

 

Yatta! Akhirnya ini selesai juga, aku gak tau kenapa ide cerita ini menarik buatku walaupun ceritanya mainsream, haha. Ini bakalan aku buat twoshot aja, soalnya aku punya utang chaptered banyak hiks. Pairing masih jarang, ya? Gapapa deh biar banyak yang nge-couple-in JacksonxMina wkwk XD

last, want to review?

love, miki.

 

Advertisements

3 thoughts on “[Twoshot] Problem(s)

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s