[Red Velvet-Series] APPA: Gwaenchana

red-velvet-joy

APPA
Drabble-Series versi Red Velvet

featuring Park Joy

“Tidak apa-apa, Ayah, aku baik-baik saja.”

(566 words)

by zulfhania

∴ GWAENCHANA ∴

“AARGGHH!”

Suara erangan dan teriakan dari dalam rumah terdengar begitu keras hingga luar rumah bahkan ketika Joy belum melangkahkan kakinya masuk ke dalam pekarangan rumah. Langkah Joy terhenti begitu saja dengan tangan memegang pintu pagar usai mendengar erangan suara ayahnya itu. Wajahnya mendadak kebas, rahangnya mengeras, pandangannya kosong, matanya berkaca-kaca, napasnya tertahan, dan tangannya memegang pintu pagar dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Berbagai peristiwa lalu yang pernah ayahnya lakukan padanya mendadak terputar dalam ingatannya. Membuatnya merasa takut.

Joy baru saja memutuskan untuk berbalik badan dan urung masuk ke dalam rumah ketika kembali mendengar suara erangan dan teriakan yang kemudian disusul oleh suara barang pecah. Tampaknya ayahnya melempar barang-barang berbeling itu lagi hingga pecah berkeping-keping.

Joy kembali menghentikan langkah. Kali ini rahangnya semakin mengeras. Batinnya bergemuruh antara ingin menghampiri ayahnya atau meninggalkan ayahnya. Tetapi Joy merasa tidak sanggup untuk masuk ke dalam rumah pada saat ayahnya dalam keadaan seperti itu. Ia takut, ia terlalu takut.

‘Jaga ayahmu, Joy…’

Suara terakhir ibunya sebelum wanita itu pergi meninggalkannya dan juga dunia yang fana ini terngiang di telinga Joy ketika Joy hendak melangkahkan kaki kembali untuk keluar dari pekarangan rumah. Kembali, langkah Joy terhenti. Ucapan ibunya berdengung-dengung di dalam telinganya.

‘… jangan tinggalkan dia, Joy. Temani dia.’

Joy menyerah. Ia memutuskan untuk berbalik, lalu melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah seiring dengan airmatanya yang mengalir melewati pelupuk matanya. Tangannya terkepal erat saking takutnya, sementara tangan lainnya memegang gagang pintu hendak membuka pintu depan rumah.

Ketika pintu rumah sempurna terbuka, suara erangan ayahnya terhenti dan tatapan Joy bertemu dengan manik merah yang mengkilap marah pada mata ayahnya. Ayahnya memegang guci kecil yang merupakan guci kesayangan ibunya, hendak melempar guci itu ke sembarang arah untuk meluapkan amarahnya. Tetapi hal itu tidak jadi dilakukan ayahnya ketika pandangan mereka bertemu. Ayahnya kembali meletakkan guci kecil tersebut ke tempatnya, lalu dengan langkah lebar berjalan menghampiri Joy.

Joy memandangi ayahnya dengan tatapan awas. Tubuhnya gemetar, tangan yang satunya semakin terkepal, sementara tangan lainnya semakin memutih karena menggenggam erat gagang pintu di belakangnya. Ia sempat melihat sekujur lengan ayahnya yang dipenuhi darah, bahkan di wajah ayahnya terdapat bercak-bercak merah yang bisa dipastikan itu adalah darah ayahnya sendiri. Joy semakin ketakutan.

“AARGH!”

Ayahnya kembali mengerang sambil menarik rambut Joy dengan kasar hingga ke ruang tengah. Joy berteriak kesakitan. Tangannya terlepas dari gagang pintu hingga pintu itu tertutup sempurna oleh angin yang berhembus masuk ke dalam rumah yang rasanya lebih mirip seperti neraka.

Setelah itu, terdengar suara teriakan-teriakan yang terdengar lebih parau dan memilukan daripada sebelumnya di dalam rumah itu, karena kali ini bukan hanya suara erangan ayahnya yang terdengar, melainkan juga teriakan pilu dari seorang perempuan bernama Joy yang hidup bersama ayahnya yang memiliki personality disorder.

Borderline personality disorder, itulah nama gangguan yang dimiliki ayahnya. Pada saat gangguan itu kambuh, ayahnya akan menyakiti dirinya sendiri dengan melempar barang-barang berbeling hingga pecah dan menggoreskannya di sekujur lengannya hingga berdarah. Dan satu-satunya obat yang dapat menyembuhkannya dari gangguan itu adalah menyakiti oranglain.

Joy adalah obatnya. Obat ayahnya di saat gangguan itu kambuh.

Kristal hangat itu mengalir pelan membasahi wajah Joy ketika ayahnya memukulnya bertubi-tubi dengan tangan kosong. Itu menyakitkan, benar-benar menyakitkan. Tetapi Joy tidak mengelak, ia membiarkannya. Tidak apa-apa, asalkan ayahnya sembuh, asalkan ayahnya berhenti menyakiti dirinya sendiri, ia rela menjadi obat ayahnya.

‘Meskipun ini menyakitkan, tetapi tidak apa-apa, Ayah, aku baik-baik saja,’ bisik Joy lirih dalam hati.

-fin.

Karena waktu itu aku udah buat drabble-series EOMMA versi boyband yaitu Infinite, kali ini aku membawa drabble-series APPA versi girlband yaitu Red Velvet! Series ini dimulai dari Joy, kenapa? Well, karena dia adalah biasku. Selamat membaca, readers, jangan lupa tinggalkan feedback 🙂

Baca juga drabble-series EOMMA versi Infinite:
Doll – Woohyun || Save Me – Myungsoo || Clubber Boy – Hoya || Girl – Sungjong || Dirty Work – Sunggyu || Just Believe – Sungyeol || Blind – Dongwoo

NEXT SERIES: HAID featuring Kim Yeri

Regards,

Zulfa Azkia (zulfhania)

Advertisements

One thought on “[Red Velvet-Series] APPA: Gwaenchana

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s