[Vignette] BURN

burn-alana-pis

BURN

Lee Donghae and Park Jiyeon

Surrealism – Sweet Romance -Dark

Vignette ||  PG ?

Disclaimer ||  I own nothing but the story

Jeng Arin, sesuai janjiku, aku bikin rusuh lagi di sini!

yang ga suka sama ff rusuhku, SKIP aja alias M****at!

Mian, authornya bukan author baik-baik

.

.

“Aku membutuhkanmu untuk membutuhkan aku dan berpikir egois mengenai diriku.”

.

.

.

Ada sesuatu di dalam tatapan matanya yang tidak mudah untuk dimengerti, tapi aku selalu bisa mengerti. Kesedihannya yang berlapis-lapis, dan makna yang selalu dia sampaikan padaku diantara kekuatannya yang rapuh. Begitulah bahasa tubuhnya ketika berhadapan denganku. Dia menyembunyikannya di balik tirai-tirai berwarna hitam kecoklatan. Tirai yang menutupi semua gelisahnya, kesedihannya dan semua emosinya yang tidak terwujut di wajah tampannya, namun aku bisa mendengar gaung teriakannya yang keras dari dalam hatinya. Demi apapun itu, dia sedang meredam amukan dengan kekuatan spiritualnya – aku menyebutnya sebagai nitroglycerin, yang membuatnya tetap merasa hidup, untuk sementara.

Ada satu titik di mana aku merasakan kesedihan yang teramat sangat, ketika dia enggan untuk berteriak meminta bantuan dariku. Aku tak berarti. Kehidupannya yang normal, dan keluarga yang selalu mendukung, juga patner kerja yang sungguh sepadan dan kompeten, juga rumah yang terlihat penuh kedamaian.

Aku memimpikannya bersama dia.

Bersamamu, Lee Donghae.

Aku mencintainya.

Tidak, aku menantang diriku untuk mengatakan cinta padanya karena aku sungguh mengerti dirinya. Mengerti dengan semua kesedihan yang tersirat di matanya, juga senyum ramah yang dia tampilkan ketika dia harus menahan semua rasa sesaknya. Ya, aku mengerti untuk memahami dirinya yang tidak mudah untuk menjelaskan kesepian macam apa yang sedang dia alami. Aku mengerti dirinya seperti aku memahami setiap moment cahaya matahari yang tidak pernah gagal bersinar menerangi siang.

Aku mencintainya.

Mencintai….

Ini adalah hal yang sangat lucu, namun berarti.

Aku dan dia adalah komponen yang berbeda, pada dimensi yang berbeda, dan mempunyai sejarah yang panjang

Aku dan dia, berbeda

Namun aku merasakannya…

Merasakan dirinya, tubuhnya dan sentuhan jemarinya pada kulit putihku. Membayang lembut dan menari dengan banyak gerakan indah dan membuai. Tak bisa aku lukiskan sendiri meski sebagai sosok iblis sekalipun. Ini sebuah fragment dari gairah yang menenggelamkannya. Tubuhku…membuatnya tenggelam. Gairahku membakar gairahnya.

Dia menyentuhkan bulu-bulu lembut malaikatnya di atas kulit mulusku. Dia tidak pernah merasa puas untuk menikmati kecantikan abadi yang kumiliki. Tidak akan pernah puas. Dia senang berpikir bahwa dia mengerti bahwa iblis di dalam diriku lebih berkesan dibanding semua kemunafikan yang selalu dia hadapi di bumi ini.

Ini adalah satu type kesedihan dari sosok seorang Lee Donghae yang mudah untuk membawa dirinya jatuh dalam satu bentuk perasaan yang dinamakan cinta.

Sedangkan diriku, adalah sebuah bentuk betina yang ingin dicintai dengan segala bentuk akal sehatnya.

Donghae mencintaiku karena dia merasa bahwa dia mengerti diriku. Dia mencintaiku seperti aku mencintainya, equivalen dari semua bentuk rasa yang aku rasa. Dia mengerti aku ketika aku membuka hatiku untuk cinta. Sisi gelap dari diriku yang memiliki banyak batasan untuk sebuah kata cinta.

Cinta yang membuat dia bisa menyentuhku, dan aku merasakan sentuhannya, juga ketika kehangatanku menelusup ke dalam kebekuannya.

Aku memilikinya dari neraka dan membuatku sanggup menyentuhkannya pada bibir dan kulit kecoklatannya dengan hasratku. Aku menghidupkan gairah itu.

Gairah yang aku butuhkan, hanya dari tubuhnya.

Donghae – jantungnya berdebar menyebut namaku.

Aku mengecupnya, menciumnya, merangkulnya, bergumul dengannya

Berkali-kali mengecupnya, tak pernah puas, lalu menyesap kenikmatan darinya. Bahkan dengan kecupanku aku berkali-kali membangunkannya. Berkelana di dalam hasratnya. Dia menggila dan semakin dalam mengecap semua madu dari tubuhku.

“Manusia kesayanganku, kau tumbuh menjadi kian manis setiap harinya” bisikku pada sorot matanya.

Dia menampilkan kesan bahagia itu dengan rona merah di pipinya. Aku menyukai itu. Menyukai semua peluh yang keluar dari tubuhnya. Berkilau seperti permata.

“Hm, manusia kesayanganmu ini, kini telah menjadi lebih tua dari tahun-ke tahun.” Bukan sebuah rahasia, jika dia menjadi kekasihku.

Aku adalah iblis yang selama ini tidak pernah ingin meninggalkannya. Dia adalah laki-laki berwajah tampan, memiliki tubuh dan postur yang mempesona, sangat nikmat untuk selalu dilihat. Tatapan mata yang sangat bersahabat, dan bibir yang penuh dengan gairah. Aku sangat memujanya, aku sangat suka menggaulinya.

“Wajahmu selalu tampak cantik meski waktu telah membuatmu dewasa bersamaku.”

“Kau tidak perlu merasa khawatir mengenai waktu. Karena betapapn waktu ini akan habis bagimu, aku akan selalu ada bersamamu. Aku bisa memberikan keabadianku untukmu.”

“Itu sesuatu yang aku inginkan darimu, keabadian hal yang aku mau. Aku sudah mencuri waktumu, cintamu, dan tubuhmu. Aku merasa tak berguna.”

“Dan kau adalah manusia kesayanganku yang sangat bodoh. Aku tidak bisa membiarkanmu tumbuh menjadi tua dan jelek di sisiku. Kau tidak pernah mencuri waktuku, karena aku memberikan banyak waktu untukmu.” godaku

Dia tahu, kalau aku akan tetap mencuri segala kemungkinan untuk tetap membuatnya terlihat lebih muda dari manusia yang bertumbuh bersamanya.

Dia menginginkan keabadian yang diharapkan banyak orang. Namun hanya karena diriku dia menginginkannya. Dia tidak seperti mereka sanggup menukar apapun juga demi kata abadi untuk sebuah kekuasaan.

Mataku nanar,

Keabadianku akan membuatnya hidup dalam kesunyian. Ini adalah bagian dari sisi keegoisanku yang telah membawa Donghae dalam cintaku.

Aku menggairahkannya, dan gairahku sungguh membuat hidupnya penuh dengan gairah. Dia memerlukannya, dan aku memberikannya. Hanya untuknya, meskipun ada banyak manusia yang ingin memalsukan kesedihannya demi mendapatkan diriku. Aku adalah kegelapan dan cahaya. Matahari dan bulan. Api dan air. Dari senyuman di wajah cantikku, juga tubuh molekku, semua dibutuhkannya untuk mengisi hidupnya. Aku telah memilih untuk bersamanya sejak lama.

Aku ingin Donghae memelukku dalam tubuhnya selamanya. Ini lebih dari possessive dari semua keinginan alami di dalam diriku. Obesesi dari sebentuk iblis betina – aku. Aku ingin sebuah senyum, juga air mata dan sebuah ketulusan darinya.

Dia menciumku, merabaku, memberikanku keluasan untuk mendesah dan merintihkannya dalam kenikmatan. Ciuman yang melukis banyak jejak di tubuhku. Kepuasan. Cumbuan ini membuaiku dan terasa nikmat di kedalaman jiwaku yang panas.

Tubuhnya terbakar dan gairahnya tinggi bersamaku. Untuk setiap sentuhan bibirnya, dan untuk setiap kulitku yang bersentuhan dengannya memercikkan nyala api yang kian membuatnya semakin brutal. Keinginanku dari seorang Donghae yang berharap dia menjadi binatang liar ketika mencumbuku, menyerangku dan membuatku terkapar dalam rasa frustasi, tak berdaya, dan luluh dalam cengkraman kejantanannya. Ya seperti itu… lagi dan semakin dalam. Menggeramlah seperti monster kegelapan yang lapar. Jangan berhenti… dia menggeleng, lalu menggeliat lepas. Kemudian menuaikan teriakan yang melambung tinggi ke angkasa.

Napasnya turun satu persatu

“Tapi ini tidak akan menjadi abadi. “ dia mengatakannya dengan sangat sadar. Matanya menjadi redup, dan deru napasnya berangsur lembut.

Aku masih terdiam menikmati hempasan kepuasanku…

Please, jangan katakan itu!” pintaku

Tubuhnya ambruk dalam pelukanku…

“Aku akan berakhir jika kau mengakhirinya. Namun aku tetap bertahan untukmu jika kau mempertahankanku.” Kujelaskan dengan sebuah kecupan di keningnya.

Kebahagiaan mengarungi tatapan matanya. Itu adalah kata-kata yang tak terucap yang berasal dari dalam hatimu. Ini tidak hanya sekedar cinta.

Aku telah membuatnya merasa hidup dalam sebuah ketidakpastian. Ini akan menyakitinya cepat atau lambat. Sebuah penderitaan sebagai akibat dari kefatamorganaanku. Aku mungkin saja mempunyai harapan untuknya, namun aku adalah iblis, di tanganku yang ada hanyalah kematian. Ini adalah kutukan, hukuman untuk hidupku, dan aku tidak bisa menantangnya.

Pada akhirnya aku atau dia akan menderita.

Kekhawatiranku adalah ketika sifat iblisku akan menguasainya dan dia sama sekali tidak akan pernah merasa keberatan untuk menerimaku mengambil semua rasa frustasinya keluar dari bentuk jiwanya.

“Apakah aku bagimu?” dia bertanya padaku ketika lidahnya berkelana di sepanjang leherku – lagi.

Aku mendesah, lalu tersenyum

“Apa maksudmu?” tanyaku, mengusap wajahnya

Hening. Aku tahu akan kegelisahannya

“Kau adalah segala-galanya untukku.” jawabku

“Lima puluh tahun ke depan dari saat ini, apakah kau akan tetap berada di bersamaku dan bernapas dengan napasku?” tanyanya lagi

Aku mengangguk

“Apakah kau akan selalu seperti ini? Kecantikanmu…” dia putus asa dan menenggelaman dirinya di dalam wangi tubuhku.

Hanya sesaat,

Dan aku menggenggam tangannya ketika dia melepaskan pelukannya, sejenak aku kehilangan gairahnya

“Apakah kau akan menikah dengan sesama manusia? Apakah kau akan merasa lelah hidup bersamaku?” tanyaku

“Aku tidak akan pernah lelah untukmu, meskipun aku tidak akan abadi sepertimu. Aku tidak akan menikahi manusia manapun, karena aku telah menjadi milikmu. Kau mengambil semua gairahku. Aku tidak akan mungkin hidup bersama manusia di sisiku.”

Hening sejenak

“Tapi kita tidak bisa hidup seperti ini.” Ungkapnya

“Aku ingin kita hidup bersisian sebagai sepasang kekasih, menikah dan bersama menikmati waktu. Menjalin hubungan yang wajar.” Kalimatnya terasa menggangtung di benakku.

Namun aku tahu,

Selama ini aku adalah bayangan kegelapan yang selalu mengikutinya, hidup bersamanya dan menikmati waktu ke waktu sejalan dengan pemikirannya. Pengertianku dan semua yang dia pikirkan, aku pun memikirkan. Dia mencintaiku dan aku mencintainya…dia mencintai bayangan kegelapan di dalam hidupnya. Aku.

“Donghae, aku adalah iblis. Jalan pikiranku tidak seperti manusia. Jika kau menginginkan semua keinginan manusia itu kau perlakukan bagiku, maka carilah kekasih manusiamu sendiri.”

“Tidak!” teriaknya. Dia tidak menerima perkataanku. Dia sedih dan terluka. “Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan hal buruk itu padaku.”

Aku jatuh dalam rasa bersalah

“Aku mencintaimu.” ujarnya

I know.”

“Aku hanya membutuhkan malam di mana kau tidak hanya menyampaikan cinta dengan sebuah kecupan. Aku membutuhkan siang di mana aku tidak hanya menginginkanmu sebagai bentuk dari mimpiku yang tidak nyata. Aku membutuhkanmu untuk membutuhkan aku dan berpikir egois mengenai diriku.”

Beberapa menit keheningan terasa sangat menyiksaku. Aku tidak melihat jiwamu begitu berwarna. Kesedihanmu yang menorehkan semua itu.

“Jika aku memberikan apa yang kau minta dariku, aku takut kelak semua itu akan berlebihan untukmu. Aku tidak yakin bahwa kau akan sanggup menerima semua itu. Kau akan mudah menjadi depresi, dan semua karenaku. Kau akan terguncang sangat hebat dan perlahan berubah menjadi hangus di tanganku.”

“Aku sangat mencintaimu.” Bisiknya. Donghae membisikannya dengan pelukan erat tubuhnya,

“Aku lebih mencintaimu.” Balasku. “Jika aku memberikan semua yang kau inginkan dariku, maka aku tidak akan melepaskanmu. Kau akan terikat di sisiku selamanya. Tubuhmu, jiwamu…semuanya. Dan kau tahu apa maknanya.”

“Kalau begitu, buatlah aku menjadi milikmu. Aku menerima semua itu.”

“Kau akan menyesalinya.” Ujarku

“Kau sudah bersamaku sejak aku masih kecil.” Sambutnya. “Apa yang akan membuatku menyesal.”

“Aku adalah iblis.” Kutegaskan lagi padanya “Hal baik dari diriku hanya refleksi dari sinar mataku. Kau. Kau adalah hal baikku.”

I love you!”

Kenapa dia tidak berhenti mengatakan cinta padaku.

Kutatap matanya. Dan dia tersenyum dalam kesedihannya ketika aku tak menjawab ungkapan cintanya.

“Seberapa jauh kau akan pergi dariku, aku akan tetap mengikutimu.” Ujarku, dan dia mengangguk

“Aku akan memberikanmu napas seperti aku selalu bernapas.”

“Aku sudah bernapas dengan caramu sejak dulu, saat kita pertama kali bertemu.”

Dan sekejab itu aku mengembalikan semua itu pada awal dia bertemu denganku.

“Dan aku telah bernapas di dalam cintamu pada saat kita bertemu.” Bisikku ketika dia memejamkan matanya dan menghilang bersamaku.

Fin.

.

.

Advertisements

14 thoughts on “[Vignette] BURN

  1. Hemmm Jiyi itu bagaikan sisi gelap manusia/?

    Iblis dan manusia dua hal yg bertentangan karena mereka diciptakan dari hal yg berbeda tapi mereka sudah saling jatuh cinta terus siapa yg patut disalahkan karena semua itu

    Bang Ikan rela melebur bersama Jiyi
    Begitu juga Jiyi yg rela membuat Bang Ikan melebur bersama’a

  2. masih nggak paham..
    yg aku ngerti cuma donghae sbg manusia mencintai dgn tulus sosok jiyeon yg notaben’a sbg ibls
    slebih’a ga ngerti, apa stlah it donghae dn jiyeon mati???

  3. Jiyeon iblis cantik..pernah ku debgar ada iblis yang jatuh cinta ma manusia.begini x ya,,tapi ga sampai berbalas sih,cuma manusia nya itu di bikin ga nikah” ,karna dia hanya milik iblis itu ,, seremm

    • Bukan, Donghae muksa sama Jiyeon. Jiyeon kan iblis. Dia mengambil jiwa raganya Donghae untuk masuk ke dalam dunia Jiyeon. Begitu. Karena mereka sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Meskipun jiyeon iblis dia mencintai Donghae yg hanyamanusia. Donghae juga, walau dia manusia, yg notabene ciptaaan Tihan, musuh dari iblis, tapi Donghae mencintai Jiyeon. Dia rela untuk melebur bersama Jiyeon. FF ini musrik. Manusia yg tunduk sama iblis. Jangan dipikirin. Tapi makasih udah mampir.

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s