[Oneshot] Last Give

12721677_605175592962799_981361019_n

Last Give

Jinho48 Storyline

Kim Jihoo (OMG) | Koo Junhoe (iKON) | Choi Yewon (OMG)

Sad Romance

PG-16

This story is mine. Don’t be plagiat. Happy reading^^

“Hanya ini yang bisa ku berikan padamu. Semoga kau senang dengan hadiahku. Saranghae~”

@ @ @ @

Semburat jingga keunguan telah menghiasi langit. Gerombolan burung terbang menuju sarangnya. Mentari pun tengah bersiap kembali ke peraduannya. Angin yang berhembus sepoi membuat suhu di sekitar menjadi lebih dingin.

Para pejalan kaki pun merapatkan mantel mereka dan bergegas kembali ke rumah. Seperti yang dilakukan oleh seorang gadis bermantel cokelat muda yang kini tengah berjalan terburu-buru. Sesekali ia melirik jam tangan rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Aish! Kenapa tadi macet sih? Jadi terlambat aku pulang. Eomma pasti akan mengomeliku.”

Gadis itu berjalan cepat sembari terus menggerutu. Tadi saat pulang sekolah, ia naik bis dan terjebak macet di jalan karena ada kecelakaan lalu lintas. Makanya dia telat pulang ke rumah dan ia yakin bahwa ibunya akan mengomel nanti. Di sisi lain, ada seorang pria yang tengah berjalan cepat sambil bermain ponselnya. Kemudian ia menyimpan ponselnya dan berlari. Di tikungan, ia bertubrukkan dengan gadis tadi. Gadis itu pun jatuh tersungkur dan pria tadi terdiam.

YA! Akh! Sakit tahu! Jalan pakai mata jangan pakai lutut!” cecar gadis itu sambil membersihkan sikut dan bajunya yang kotor.

“Maafkan aku,” ujar pemuda itu seraya membantu gadis SMA itu bangun.

Tsk! Kau harus tanggung jawab. Punggungku sakit tahu! Kau itu–“ cibiran gadis itu terhenti ketika ia mendongak dan menatap tepat manik pemuda itu.

“Akan ku berikan nomor ponselku. Kau bisa menghubungiku jika ada luka serius,” ujar pria itu seraya menyodorkan selembar kartu nama.

Gadis itu pun tersadar  dan segera mengambil kartu nama itu. “Eh? Baiklah. Aku akan menghubungimu nanti.”

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa!”

Pemuda itu pun segera pergi dari situ. Ia berlari meninggalkan gadis yang masih mematung sembari tersenyum tipis. Dia senang bisa bertemu pria tampan seperti itu. Kemudian ia teringat bahwa ia harus segera pulang.

Jadi dengan cepat ia berlari namun ia merasakan sakit di tungkai kakinya. Meski begitu, ia tetap berlari menuju ke rumahnya sebelum ibunya marah. Tak lama ia sampai di rumah dan ibunya tengah menonton televisi di ruang tengah bersama kedua saudaranya.

“Aku pulang!”

Ya! Choi Yewon! Kau darimana saja? Kenapa baru pulang?”

Aigoo, eomma membuatku terkejut. Tadi jalanan macet dan aku sempat bertubrukkan dengan seseorang. Kaki dan punggungku sakit sekali. Aku mau istirahat duluan. Selamat malam, eomma, oppa, eonni!”

“Eh? Apa kau tak apa? Perlu eomma obati?”

“Tidak perlu eomma. Aku bisa mengobatinya sendiri. Selamat malam~”

Gadis bernama Yewon itu segera masuk ke dalam kamarnya. Ia membuang tasnya ke sembarang arah. Lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur. Rasanya seluruh tubuhnya sakit dan dia malas untuk membersihkan diri. Dia ingin langsung tidur saja. Tapi sebelum ia tidur, ia masih sempat memandangi kartu nama pria tadi sembari membayangkan wajah tampan pemuda itu.

Aigoo… tampan sekali pemuda itu. Hm, Koo Junhoe? Nama yang keren untuk pemuda tampan seperti itu. Lihat saja, kita pasti akan bertemu lagi, Junhoe Oppa.”

Setelah itu ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya sembari memeluk kartu nama milik Junhoe. Dia tertidur dengan senyuman sumingrah di wajahnya. Sepertinya dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada pemuda bermarga Koo itu.

@ @ @ @

Yewon POV

Hari ini aku janjian dengan Junhoe di kantin Seoul Medical Center. Aku datang seperempat sebelum jam janjian kami. Wah aku benar-benar tak sabar ingin menemuinya. Aku membeli milkshake cokelat dan roti keju untuk sarapan. Karena terlalu semangat aku jadi tidak ingat untuk sarapan tadi. Rencana pagi ini ia akan menemaniku untuk memperiksakan kaki dan punggungku. Sungguh rasanya masih sakit sekali.

Beberapa lama kemudian, orang yang ku tunggu pun datang. Aku  tersenyum ke arahnya dan ia hanya menarik sedikit kedua ujung bibirnya. Tsk! Tipe pemuda dingin. Tapi tak apalah. Dia tampan, haha. Lantas ia mempersilahkanku untuk duduk dan kami pun duduk. Baik aku maupun dia sama-sama diam. Aku bingung harus berujar apa dan dia juga tidak mengatakan apapun. Suasananya jadi canggung.

“Hm, jadi, bagaimana? Mau periksa sekarang?” tanyanya setelah sepuluh menit kami saling terdiam.

“Ya. Ayo! Aku sudah membuat janji dengan salah satu dokter kenalanku.”

“Baiklah.”

Setelah itu kami berdua berjalan menuju ruangan Dokter Yoon, teman ayahku. Aku sudah membuat janji dengan beliau dua hari yang lalu. Sesampainya kami di ruangan, beliau telah menunggu dan langsung menyuruh asistennya untuk membantuk memeriksaku.

Aku mejalani serangkaian pemeriksaan dan hasilnya baru keluar 2 jam lagi. Lalu aku dan Junhoe memilih untuk pergi ke taman rumah sakit dulu. Kami duduk di salah satu bangku dan taka da percakapan apapun di antara kami.

Kulihat raut wajahnya yang tak tenang. Hm, apa dia sedang terburu-buru? Tapi aku hanya diam. Tak ada niatan untuk bertanya. Aku takut jika nanti dia akan pergi. Hah… aku tak ingin pertemuan kami berakhir dengan singkat. Akankah kami bisa bertemu lagi? Ku tundukkan wajahku. Aku masih ingin bertemu dengannya lagi.

“Hmm, apa tak apa jika kau aku tinggal? Aku masih ada urusan. Dua jam lagi kita bertemu di depan ruangan dokter itu. Bagaimana?”

“Ah, begitu? Baiklah. Sampai nanti. Terima kasih, Junhoe Oppa.”

“Iya, sama-sama. Aku pergi dulu!”

Setelah itu dia pergi meninggalkanku sendiri. Tapi aku penasaran. Aku ingin tahu apa yang terjadi padanya. Akhirnya ku putuskan untuk mengejarnya. Untung dia belum jauh. Kini dia sedang naik lift ke lantai 5. Aku pun melewati tangga darurat hingga akhirnya aku sampai di lantai 5. Kulihat Junhoe berjalan ke arah kanan. Aku mengikutinya. Tak lama kemudian dia berhenti di depan sebuah pintu ruang rawat. Dia tak lantas masuk ke dalam.

Maniknya menatap sendu ke arah sosok yang di rawat di dalam sana. Ia mengulas senyum lalu masuk ke dalam ruangan tersebut. Setelah dia masuk, aku mendekat dan mengintip dari balik kaca. Kulihat Junhoe menggenggam tangan gadis itu erat-erat.

Siapa gadis itu? Apakah itu kekasihnya? Tapi kenapa dengan gadis itu? Apa dia sakit? Hah… entah mengapa dadaku merasa sesak melihat pemandangan itu. Lantas aku melihat papan nama yang tertera. Kim Jihoo? Jadi, gadis itu bernama Jihoo?

Tak mau menambah rasa sesakku, aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Kini tujuanku ada atas sekolahku. Aku ingin mengungkapkan seluruh emosiku di sana. Semua ini membuatku sesak.

Aku mencintainya pada pandangan pertama tapi sayang dia sudah punya kekasih. Menyedihkan bukan? Sepertinya pria itu sangat mencintai gadisnya. Hah…. Apa aku harus melupakan perasaanku? Atau membiarkannya hingga nanti tenggelam sendiri? Ah, entahlah.

Sesampainya di atap sekolahku, aku langsung berteriak sekencan-kencangnya untuk meluapkan segalanya. “AAAARRRRGGGHHHHH!!!!”

“Kenapa harus dia? Kenapa aku harus mencintai pria yang sudah memiliki kekasih? Apa tidak bisa rasa ini berpindah pada orang lain yang lebih layak? Aku seperti orang bodoh karena mencintai pria yang sudah menjadi milik orang lain. Kenapa aku harus jatuh cinta padamu, Koo Junhoe? KENAPA? AAARRRGGHHH!!!! Aku benci semua ini!”

Hiks… kenapa takdir begitu kejam padaku? Kenapa dari sekian banyak pemuda yang pernah ku temui, aku harus jatuh cinta pada Koo Junhoe? Kenapa? Hiks… Junhoe Oppasaranghae…”

Aku pun jatuh terduduk sambil menangis hingga akhirnya aku teringat jika aku harus ke rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan. Hah. Aku harus bertemu dengannya lagi. Sebenarnya aku senang tapi aku juga merasa sakit.

Hm, tapi aku harus tetap menemuinya. Ku harap ini yang terakhir. Walau sejujurnya aku masih ingin bertemu dengannya. Segera ku hapus air mataku lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahku sebelum akhirnya aku pergi ke rumah sakit.

@ @ @ @

Semakin hari Yewon dan Junhoe semakin dekat meski hubungan mereka sedikit kaku karena Junhoe adalah tipe orang yang tak terlalu ramah. Mereka masih saja berteman walau terkadang Yewon merasa tersakiti dengan sikap dan perkataan pria itu. Dia juga masih tetap mempertahankan perasaannya pada Junhoe dan sampai sekarang pria itu tak tahu perasaan Yewon.

Saat ini, mereka sedang jalan-jalan di taman dekat rumah Yewon. Tadinya Junhoe menolak tapi gadis itu memaksa karena mood-nya sedang buruk. Mau tak mau pun Junhoe menemani gadis yang sudah di anggapnya seperti adiknya sendiri. Lagipula dia juga bosan di rumah walau sebenarnya dia malas keluar rumah. Setelah berkeliling, mereka pun memutuskan untuk istirahat di salah satu bangku.

Oppa…”

“Iya?”

“Hm, apa oppa percaya pada cinta pada pandangan pertama? Pernahkah kau merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama?”

“Percaya tidak percaya sih. Tergantung. Ada yang merasakan hal seperti itu dan ada yang tidak. Dan aku tidak pernah merasakannya.”

“Oh… Apakah kau sudah punya pacar?”

Huh? Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Bagaimana rasanya pacaran? Aku ingin merasakannya juga. Selama 17 tahun hidupku, aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Aku iri dengan dua sejoli yang sedang berjalan di dekat kolam itu. Kapan aku bisa merasakannya ya?”

“Hahaha…”

“Kenapa tertawa, Oppa? Kau sudah pacar kan? Bagaimana rasanya?”

“Tak apa. Rasanya, ya, begitu.”

“Begitu bagaimana?”

“Nanti kau akan merasakannya sendiri jika kau sudah punya pacar.”

“Hmm… lalu, apakah salah jika ada seorang gadis yang menyukai pria yang sudah mempunyai kekasih?”

“Memang kenapa? Apa itu kau?”

“Tidak aku hanya bertanya.”

“Hayo, ngaku! Kau menyukai seseorang, eoh? Siapa?”

Ish, bukan aku. Sudahlah. Lupakan saja!”

“Hey, jangan marah. Menurutku itu tidak salah. Kan tidak ada yang tahu datangnya cinta.”

“Begitukah? Lalu, apa yang harus gadis itu lakukan? Tetap mencintainya atau melupakannya?”

“Err… entahlah. Aku juga tidak tahu.”

Aish. Jawabanmu tak membantu sama sekali, Oppa.”

“Lalu bagaimana lagi? Memang aku tidak tahu.”

“Hmmm…”

“Kau marah?”

“Tidak. Oppa!”

Waeyo?”

“Apakah kau tahu siapa gadis ini? Apa ini pacarmu?” tanya Yewon sambil menunjukkan sebuah foto di ponselnya.

Junhoe membulatkan matanya. “Mwo? Darimana kau dapatkan foto ini?”

“Rumah sakit. Aku tak sengaja melihat kau masuk ke ruangan gadis itu. Perawat bilang kau memang selalu datang ke sana. Dia pacarmu kan? Jihoo… Kim Jihoo. Dia cantik, Oppa.”

“Apa kau mencari tahu tentangku?”

“Tidak. Aku hanya mencari tahu tentang gadis itu. Dia membuatku tertarik karena dia kekasihmu. Aku penasaran gadis mana yang mau dengan pangeran es sepertimu, hehe…” ujar Yewon sembari terkekeh. Niatnya hanya menggoda Junhoe tapi mimik pemuda itu tampak tak senang.

“Kau tahu? Aku tak suka dengan orang yang suka ikut campur kehidupan orang lain dan juga orang yang banyak bertanya sepertimu. Sudah cukup aku bersabar selama ini. Hapus foto gadis itu. Aku tak ingin kau ikut campur dalam kehidupan pribadiku.”

Junhoe pun beranjak dari tempatnya. Ia menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya kembali berbicara. “Aku pergi dulu. Kau bisa pulang sendiri kan? Selamat tinggal!” Setelah itu pemuda jangkung itu pergi meninggalkan Yewon sendiri dalam keheningan.

Yewon merasa hancur karena Junhoe pergi meninggalkannya. Dia merasa bersalah karena membuat pria itu marah. Harusnya dia tak menanyakan hal itu. Sekarang dia benar-benar menyesal. Perlahan air mata menuruni kedua belah pipinya. Ia merasa kehilangan orang yang berharga karena kecerobohannya.

“Junhoe Oppa, mianhae. Jebal kajimarayo. Hiks, jebalyo! Nan neol saranghae, Oppa. Kajima!” Lantas Yewon pun bangkit dari bangku. Dia mengusap air matanya kasar lalu berlari mengejar Junhoe. Tapi dia terlambat.  Pria itu berada di seberang dan baru saja masuk ke dalam bus.

Andwae! Kajima, Oppa! Jebal!” teriak Yewon  kemudian berusaha untuk mengejar bus itu namun ia tak menyadari jika ada truk yang melaju dengan kencangnya dan kecelakaan pun tak terhindarkan.

TIN TIN

KYYAAAAA!!!!! JUNHOE OPPA!!!”

BRAK

@ @ @ @

Junhoe POV

“Tuan Koo?”

“Dokter? Ada apa?”

“Ada kabar baik. Nona Kim mendapatkan donor jantung. Ada seorang gadis yang mengalami kecelakaan dan dia mendonorkan jantungnya untuk Nona Kim.”

“Apa? Jihoo mendapatkan donor?”

“Iya, Tuan Koo. Kami akan segera mempersiapkan ruang operasi untuk Nona Kim.”

“Baiklah, dokter. Terima kasih!”

“Haha, berterima kasihlah pada Tuhan karena memberikan malaikat untuk menolong kekasih anda, Tuan. Baiklah, saya permisi dulu.”

“Ya Tuhan, terima kasih. Sayang, kau akan segera sembuh. Kita akan kembali bersama lagi. I miss you so bad, Jihoo-ya. Cepatlah sembuh, sayang. Aku mencintaimu.”

Hari ini sungguh menggembirakan karena Jihoo akan segera sembuh dan bisa kembali bersamaku. Aku tidak sabar melihatnya kembali tersenyum ceria. Aku sungguh menyayanginya lebih dari apapun. Nanti aku harus berterima kasih pada keluarga orang yang telah bersedia mendonorkan jantungnya untuk kekasihku.

Jihoo sudah lama menderita kelainan jantung yang membuatnya sering keluar masuk rumah sakit. Walau begitu, aku tetap menyayanginya dengan tulus. Aku menerimanya apa adanya. Tak peduli dengan kekurangannya. Justru aku ingin menjadi pelindungnya hingga akhir. Aku ingin menjadi pelengkap agar hidupnya lebih sempurna.

“Permisi, Tuan Koo! Kami akan membawa Nona Kim ke ruang operasi.”

“Ah ya, silahkan.”

Lalu aku pergi keluar dari ruangan terlebih dahulu. Hmm, aku merasa ada yang janggal. Tapi apa? Err… Yewon? Kenapa tiba-tiba aku jadi teringat dengannya? Apa kabarnya? Dia tidak menghubungiku sejak kemarin. Aish, aku jadi merasa bersalah. Aku pasti telah menyakiti hatinya. Ku akui sikapku kemarin agak kasar. Apakah dia marah padaku?

Bagaimana ya? Hm, haruskah aku menemuinya nanti untuk meminta maaf? Atau aku hanya perlu mengiriminya pesan? Aish, entahlah. Nanti saja ku pikirkan. Yang penting sekarang adalah Jihoo. Aku pun mengikuti perawat yang membawa Jihoo ke ruang operasi. Aku menunggunya di luar ruang operasi. Ya Tuhan, aku mohon sembuhkan kekasihku. Aku sangat mencintainya.

Aku terus menunggu hingga akhirnya operasi berakhir. Dokter keluar dengan wajah sumringah dan itu membuatku mau tak mau juga ikut tersenyum. Beliau mengatakan jika operasinya berjalan lancer dan tubuh Jihoo tidak menolak organ baru itu. Lantas dia di pindah ke ruang perawatan. Aku pun berterima kasih pada dokter itu.

“Terimakasih, dokter!”

“Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu.”

“Tunggu! Ada yang ingin ku tanyakan.”

“Ada apa, Tuan?”

“Siapa yang telah mendonorkan jantungnya pada Jihoo? Aku ingin berterima kasih pada keluarganya.”

“Hm, anda bisa menemui keluarga pendonor di Sungai Han setelah kekasih anda pulih nanti.”

“Kenapa begitu, dok?”

“Prioritaskan kesembuhan kekasih anda dulu, Tuan. Saya akan memberi tahu anda jika keluarga pendonor siap bertemu dengan anda. Kalau begitu, saya permisi dulu.”

Aku terdiam sejenak. Setelah dokter itu pergi, aku berjalan menuju ke ruang perawatan Jihoo. Hm, aku penasaran dengan siapa yang telah mendonorkan jantungnya. Ah, sudahlah. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhan Jihoo. Nanti aku akan mengajak Jihoo juga ketika bertemu dengan keluarga pendonor.

@ @ @ @

Sore ini, Junhoe akan bertemu dengan keluarga pendonor. Dia sudah menunggu di salah satu bangku yang ada di pinggir Sungai Han. Tapi hanya dia sendiri, tanpa Jihoo. Tadinya dia ingin mengajak kekasihnya namun keluarga pendonor hanya ingin bertemu dengan Junhoe. Entah kenapa begitu. Junhoe juga tak tahu dan dia hanya mengikutinya.

Junhoe menunggu sembari memikirkan Yewon. Yah, dia masih merasa bersalah pada gadis manis itu. Tak lama, seorang pria datang membawa sebuah kotak sedang berwarna biru muda. Dia mendudukkan diri di sebelah Junhoe hingga membuat pemuda jangkung itu terkejut karena tadi dia sedang melamun.

“Ah, maaf aku terlambat dan mengejutkanmu.”

“Tidak apa. Hm, anda keluarga pendonor?”

“Ya, aku kakaknya. Choi Sungmin imnida. Senang bertemu dengan anda, Tuan Koo.”

“Eh? Anda tahu nama saya?”

“Tentu saja. Koo Junhoe kan?”

Junhoe menganggukkan kepalanya. “Saya ingin berterima kasih pada anda karena adik anda telah bersedia mendonorkan jantungnya untuk kekasih saya.”

“Iya, sama-sama. Bagaimana kondisi kekasihmu? Sudah membaik?”

“Hm, sekarang dia sudah sembuh total. Aku benar-benar bersyukur dan berterima kasih.”

“Oh ya, adikku menitipkan kotak ini untuk anda,” ujar Sungmin seraya menyodorkan kotak yang tadi di bawanya.

Junhoe menatap kotak itu sekilas lalu menerimanya. “Apa ini?”

“Buka saja! Kalau begitu, aku pergi dulu! Selamat tinggal!” pamit Sungmin. Lalu ia beranjak dari tempatnya dan sebelum pergi, dia menepuk bahu Junhoe sekilas.

Kini hanya tinggal pemuda jangkung itu sendirian di bangku. Perlahan dia membuka kotak itu. Entah kenapa dia agak ragu dan perasaannya tidak enak. Di dalam kotak itu, ada surat dan sebuah kotak kecil lagi. Ada syal berwarna merah juga.

Lantas Junhoe membuka kotak kecil itu dan ternyata itu berisi jam tangan pasangan. Lalu dia mengambil surat yang ada. Dia membuka amplopnya lalu membacanya. Dia terkejut melihat siapa penulis surat itu. Ia enggan membacanya tapi dia tetap saja membacanya hingga akhir.

Dear Junhoe Oppa’

Annyeong! Ketika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Apa kabar, Oppa? Kau baik-baik saja kan? Bagaimana dengan Jihoo Eonni? Dia sudah sembuh kan? Aku turut senang ya! Selamat akhirnya oppa bisa bersama Jihoo Eonni lagi. Bisa menciptakan momen indah bersama lagi. Hehe…

Oppa, aku berterima kasih padamu karena telah hadir ke dalam hidupku dan membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Kau membuatku merasa lebih berarti. Maafkan aku karena selama ini selalu menyusahkanmu dan membuatmu kesal. Aku sungguh tidak bermaksud mengganggumu. Aku hanya ingin berteman dekat denganmu.

Eh, kau ulang tahun saat Jihoo Eonni di operasi kan? Wah, selamat ulang tahun. Semoga kau sehat selalu dan bahagia selamanya. Maaf karena aku tak bisa menemuimu langsung. Kau tahu, Oppa? Setelah kau pergi, aku menyesal dan aku langsung mengejarmu tapi sayangnya aku mengalami kecelakaan. Tapi jangan merasa bersalah. Aku tak apa dan ini bukan salahmu.

Diriku sungguh beruntung masih di beri kesempatan untuk sadar dan menulis surat ini. Oppa, jagalah Jihoo Eonni baik-baik! Karena aku akan selalu hidup di dalam tubuhnya. Aku yakin tubuhnya tak akan menolak jantung yang ku berikan. Karena jantung kami berdetak untuk pria yang sama, untuk pria yang berharga, dan untuk pria yang sama-sama kami cinta.

Sepertinya sampai disini saja. Aku sudah lelah sekali, Oppa. Aku ingin tidur dengan tenang dan damai. Selamat tinggal, oppa. Hanya ini yang bisa ku berikan padamu. Semoga kau senang dengan hadiahku. Saranghae~

With love,

Choi Yewon

Junhoe sangat sedih karena tak bisa bertemu lagi dengan Yewon. Ia juga menyesal karena terakhir bertemu dia telah melukai hati gadis itu. Ini semua karena salahnya. Yewon mengalami kecelakaan karenanya. Dia merasa bersalah sekali.

Namun dia berterima kasih pada gadis itu karena telah memberikan hadiah yang indah. Bukan hanya syal dan jam tangan, tapi jantung untuk Jihoo. Junhoe berharap di kehidupan selanjutnya bisa membalas kebaikan dan cinta Yewon. Dia mendoakan yang terbaik untuk gadis itu.

END

Allo~
Udah lama engga ngepos FF ya? Tiba-tiba datang dengan FF nista ini. Hehe… 😀

Maaf kalau ada typo. Aku sudah berusaha untuk mengedit sebaik mungkin. Namanya manusia, kalau ada salah, mohon maklum yak? 😀

Oke, jangan lupa RCL yah!^^

 

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s