[Vignette] Perfect In Love

Lanlanlan

Title ||  Perfect In Love

Author || Mochaccino

Main Cast ||  Robert Pattinson and Kristen Stewart

Genre || Fluff Romance 

Rated || G

i Own Nothing But The Story!

.

.

 

 

 

 

 .

.

 

Agak sedikit dingin di sini….dan sepertinya aku sendirian

 

Belum lagi sempat aku membuka mata, angin pagi bercampur kehangatan yang samar namun lembut, menyapa kulitku. Ini bukan tentang sebuah pagi yang biasa.  Pagiku kali ini lebih istimewa.  Hanya alunan Diego Modena yang terkadang berganti dengan Silk Road, Kitaro yang memanjakan kemalasanku. Aku sangat menikmati suasana pagiku yang tenang. Aku sungguh menyukainya. Pagiku… hm, kali ini memang agak sedikit dingin.

 

Siluet emas kemerahan membayang tak beraturan dalam mataku yang masih terpejam. Lalu hitam, dan berganti lagi, seperti gelombang yang bergerak dinamis pada sebuah layar. Ada dedaunan yang bergoyang, juga tirai yang berkelebat di jendela yang terbuka.  

 

Hmm….Pantas saja, jendelanya sedang terbuka. Mereka sedang menikmati tidurku, atau aku yang menikmati pagiku bersama mereka. Agh..siapa yang perduli. Kutarik selimutku lagi.

 

Dimana aku tadi?  Apa aku bisa melanjutkan mimpiku lagi. Rasa-rasanya sudah sangat terlambat untuk kembal ke alam mimpi. Aku sudah melupakan cerita yang sesaat lalu membuatku merasa hilang.

 

 

Lalu aku mendengarnya. Langkah kaki. Dia berjalan ke arahku. Sedikit tersamarkan oleh gemericik air kolam di luar jendela. Figur yang indah menari di anganku. Dia seperti melangkah diantara kelembutan jasmine dan latte. Ada bunyi benda logam dan keramik yang bercengkrama diantaranya. Juga suara telapak kaki yang berjalan di lantai kayu.  Nyaris tidak terdengar. Gesekan kain celananya seperti perdebatan tak berarti yang mengikuti gerak tubuhnya yang semakin terwujud mendekati diriku. Membuat jantungku berderap kian kencang. Apa yang sedang dia coba lakukan untukku. 

 

 

Ini terlalu sempurna untuk sebuah pagi pertama yang aku nikmati bersamanya. Senyumku tertangkup begitu saja di dalam bantal lembutku. Wangi yang tak bisa kurumuskan. Aku terlena …hanya sesaat. Sama sekali bukan kesalahan yang merugikan. Bukan dirinya. Dia mempunyai keindahan yang nyaris sempurna. Dia menyerupai pagiku yang indah.

 

 

“Wake Up !”  lalu suara itu yang kudengar di sebelahku. 

 

Merdu.

 

Indah.

 

Sangat khas dan sedikit agak dalam, seperti berada di dalam tenggorokkannya. 

 

Menenangkan. 

 

Tone lembutnya bercampur dengan aroma papermint , dan omelet. Hmm…kayu manis, mungkin white lilac, Apa-apaan ini? Apa yang telah dia lakukan sepagi ini ? Kenapa aromanya begitu nikmat. Aku jadi enggan untuk membuka mata, alih-alih ingin lagi merasakan desah hangat nafasnya di telingaku. Atau aku begitu takut untuk menjumpai sosok tampannya yang dengan kulit menawannya itu sedang menggodaku dengan pesona tubuh setengah telanjangnya. 

 

Ugh… kugigit bibir bawahku dengan cepat. 

 

“Honey…”  dia memanggilku Honey. Mungkin pipiku memerah kali ini. Semoga dia tidak melihat pergerakan tulang pipiku yang terangkat akibat bibir ini begitu tak berguna karena menolak bekerja sama untuk tetap diam.

 

“Aku tahu kau sudah bangun. ”  Ucapnya lagi sambil menyentuhkan jemarinya di pundakku.

 

Dingin. 

 

Kulitku tersentuh dingin. Namun lembut. Dia merayap mengikuti lekuk gemetarku. Tapi kemudian, berhenti begitu saja. Jarinya terangkat diatas jemariku…. tolonglah jangan hentikan. Ucapanku tertelan kembali ke dalam lambung,  dan cukup memaksa keningku untuk berkerut.

 

Kenapa begitu sunyi. Apa hanya sampai di situ saja 

 

“Please open your eyes…!”  bisiknya di dekat bahuku. Setengah merengek, setengah merayu… setengah mengintimidasi…seksi…

 

Desah nafasnya menerpa sekujur dagu dan leherku.  Kutarik bahuku dengan cepat demi menahan rasa geliku yang bodoh. Dia menyadari aku sedang mencoba bersikap manja, supaya dirinya semakin membuat diriku terperosok lebih jauh dalam kelembutan sikapnya.

 

“Sweetheart…!”  sapaku dengan suaraku yang masih serak. Intonasi yang belum kusempurnakan dan menghilang bersama senyum yang menyambutku. Senyumannya. 

 

Kenapa dengan senyuman itu…

 

“Kau mau sarapan ?”  Tangannya meraih nampan dengan segelas orange juice dan sepotong roti gandum bakar rendah kalori. 

 

Menarik.

 

Mataku membulat sempurna dengan apa yang terpampang di depanku. Paket sarapan lezat tapi tidak membuatku gemuk plus pelayan tampan yang menyajikannya dengan pelayanan yang super istimewa. Tapi sepertinya aku belum berselera untuk makan.  

 

Raut cemberutku menjadi pusat perhatiannya. 

 

Dia mengawasi ekrpresi janggal di wajahku. Apa aku lupa mengatakannya…ehm.. Robertku, dia memiliki dua bentuk mata yang yang selalu berhasil membuat tatapanku selalu berada di sana. Ya, mungkin sekitar 40%-nya, karena 60% sisanya sudah terbagi di tempat lain. Seperti jemarinya ketika dia menyentuhku, lalu hidungnya yang begitu tinggi menjulang seperti puncak alpen, setelah itu… eum…bibirnya. Tentu saja. Bibirnya yang melankolis, lembut , penuh dimensi dan warna…. atractive. 

 

“Kenapa ?”  Nada kecewa yang membuatku merasa bersalah.

 

“Sebentar !”  

 

Akhirnya aku berlari dengan hanya mengenakan pakaian seadanya-pun tanpa pakaian dalam dan langsung menuju ke kamar mandi diiringi lirikan mata dan senyuman gelinya. 

 

Aku malu

 

Lalu beberapa menit kemudian, aku kembali dengan wajah yang lebih segar. 

 

Ya, tentu saja aku tidak mau terlihat jorok dengan memakan sarapanku tanpa menggosok gigiku terlebih dahulu. Meskipun suamiku tidak akan memperhitungkan hal itu. 

 

O God! 

 

Aku menyebutkan nama suamiku dengan cara yang indah. Ini sangat sempurna ketika aku bisa membuatnya tersenyum. Ini sungguh menyentuh hatiku. Matanya menyipit dengan sudut melengkung seperti parabola atau bulat sabit….

 

“Aku pikir kau tidak suka dengan makanan ini .”  Robbert menarikku kembali ke atas pembaringan. 

 

So lupakan tata krama mengenai aturan makan yang baik. Kita sedang berbulan madu, sehingga mau makan di mana saja itu adalah syah menurut hukum peraturan rumah tangga…ku. 

 

“Kau tidak makan ?” tanyaku, sambil menggigit roti gandum yang diolesi madu. Sedikitpun aku tidak berpaling dari manik matanya yang sepertinya ingin menanyakan tentang perasaanku mengenai roti gandum yang sedang bercengkrama dengan lidahku.

 

Aku mengangguk.

 

“Enak.” jawabku singkat.

 

“Apa roti gandumnya terlalu kering ?” tanyanya lagi.

 

Aku menggeleng.

 

“Tidak.” 

 

Dia tersenyum, lalu mengacak-acak rambutku yang masih belum ku sisir lagi. Dan terus berada di sana hingga aku merasa risih. Lalu aku meyingkirkan tangannya dengan berat hati dan berdiri. 

 

Tujuanku adalah jendela terbuka itu.  Aku ingin melihat suasana pagi yang sedikit agak berbeda kali ini. Berbeda karena ada seorang Robert yang…dia sudah ada di belakangku.

 

“Apa kau tidak kedinginan …?”  

 

 

 

Tangannya melingkar di pinggangku, memberikan punggungku kehangatan lebih dari biasanya. 

 

“Tidak lagi…”  sebentar kulirik kesejukan di matanya. 

 

Mata itu berbicara lain tadi malam. 

 

Redup, namun tajam. Begitu kuat mentransfer energy perasaanya yang tersalurkan lewat cahaya satin yang redup transparant diantara tebaran cahaya limit di sisku. Dan keindahannya berkilauan diantara helai rambut basahnya yang sebagian menutupi wajahnya … 

 

“Kau harus meghabiskan sarapanmu..”  sebuah saran atau perintah.

 

“Kau saja yang menghabiskan juice-nya. ”  

 

“Kenapa ?” dahinya berkerut

 

“Karena aku lebih suka susu dari pada minuman asam dipagi hari.”

 

“Susu…?” sebuah cengiran yang nakal membayang majemuk .

 

“Ya. Apa kau tidak suka susu…?”

 

“Suka.”  Robert langsung menyentuh bagian dadaku yang berada dalam rengkuhannya. Aku tersenyum.

 

“Ya, tentu saja. Terlebih dengan kemasannya !”   sahutku diselingi tawa renyahnya. Dia menarikku kembali ke pembaringan.

 

“Berapa lama kita akan berada di dalam kamar ini ?”

 

Robertku, hanya sedikit mengangkat bahunya. 

 

“Apa kau bosan ?”  

 

Aku menggeleng mendengar pertanyaan konyol itu. Kucubit pipinya.

 

“Ini bukan masalah bosan..”  kutarik nafasku dalam-dalam. Merasakan tulang punggungku meregang dengan luas sepertinya sungguh nikmat. Oksigen terselip diantaranya, meninggalkan jejak kesejukan di sekujur tubuhku. Tidak seberapa lama, dia melangkah keluar kamar melewati pintu yang masih terbuka.

 

“Aku harus menelepon ibuku..”  katanya sambil meninggalkanku dengan sarapanku. 

 

Kenapa dia ingin menelpon ibunya di saat-saat seperti ini? Apa dia ingin menanyakan bagaimana caranya membuatku merasa tidak bosan.

 

Ufh…  kenapa ini ?  

 

 

Perutku bergejolak. Mungkin aku terlalu kasar menelan potongan roti tadi. Texture gandumnya yang kasar, mungkin menyiksa kondisi lambungku. Aku berlari ke arah kamar mandi dan menuntaskan kondisi kacau balau di dalam perutku dengan …muntah. 

 

 

Suaraku terdengar mengerikan untuknya. Mungkn seperti monster yang akan meledak. Robert tiba-tiba menyeruak di sisiku, mengusap puncak kepalaku dan memeganggangi bahuku. Lalu menyeka keringat di dahiku diantara helai rambutku yang tak beraturan.

 

“Kenapa ? Ada apa ?”  Wajahnya terlihat lebih pucat dari pada aku. 

 

“Aku tidak tahu…”

 

Lalu terdengar suara tidak jelas dari ponsel yang di denggamnya.  

 

“Kenapa…?”  Suara itu masih terdengar . Di menjawabnya sambil membimbingku kembali ke tempat tidur.

 

“Istriku muntah. Dia terlihat lemas. Mungkin dia sakit.”

 

Aku hanya melirik Robertku dengan perasan yang aneh. Menghitung beberapa hari ini aku memang belum mendapatkan siklus bulananku. 

 

Apakah aku hamil…

 

 

Lalu aku dan Robert berpandangan. Dia menutup ponselnya sementara aku memegang tangannya dengan erat. Kami sama-sama saling bertanya lewat tatapan mata. 

 

 

Apakah aku hamil….

 

 

Dan ….  

 

uphs…

 

Mungkin saja…

 

wajahku memerah

 

 

Dia memelukku dengan kasih. Rasa-rasanya lucu…mendengar hal ini. Di hari pertama sebagai suami istri lalu mendapat kejutan bahwa aku ternyata memang telah memiliki benih Robert di dalam perutku. Pantas saja aku menjadi malas beberapa hari ini…

 

“Kau hamil…aku sangat yakin…Ibuku mengatakannya tadi.”  

 

Aku menikmati aroma lembut di sekitar lehernya yang putih. Meraba detak jantungnya yang berkata…

 

“Aku bahagia karena kau sudah mengandung anakku.  Aku tidak bisa melukiskannya dengan apapun. “Aku tersenyum lembut.

 

Ya, memang hari ini adalah hari pertama kami menjadi suami istri, namun aku sudah menjalin hubungan dengannya sejak dua tahun lalu. Dan….  ya, apapun itu, aku tidak pernah menyesali kalau aku menyerahkan segala-galanya untuk hidupnya. 

 

“Bagaimana ini ?”  tanyaku mencandainya. Aku hanya merasa kalau mungkin saja dia belum siap dengan kehadiran bayi ini.

 

 

“Apa maksudmu dengan bagaimana ?”  

 

“Apa kau siap menjadi seorang Ayah.”

 

“Apa kau meragukan aku ?”

 

Jemarinya berkutat dengan jemariku. Untuk sebentar kami hanya diam, mengenang kembali kebersamaan yang begitu indah sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menikah. 

 

Kami sempat berpikir modern mengenai hidup bersama tanpa pernikahan. Ya, hanya sebuah perjanjian di atas selembar surat. Tadinya seperti itu…namun akhirnya ada juga sisi pemikiran kuno kami yang menyadarkan bahwa perjanjian itu tidak sekedar di atas kertas, melainkan lebih jauh dari kesan hitam di atas putih… ada kuasa yang jauh menguasai kehidupan yang akan menjamin bahwa janji suci itu adalah sebuah tanggung jawab dan abadi di hadapannya.

 

Dan pada akhirnya aku merasa beruntung telah berjanji untuk hidup bersamanya…

 

 

fin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s