[Chapter 9] Alien-Accident

Accident

bangsvt‘s present

AlienThe IntroductionThe Transformation

How Can It Be…Jealously DreamWhatSenior Taehyung?Wonwoo–Accident

OC’s Lee Yuna — Seventeen’s Jeon Wonwoo — BTS’s Kim Taehyung

PG15

Romance, School life, Fantasy

Sebelum berjalan ke arah lapangan, aku melihat Hayoung berlari sambil menutup mulutnya. Heol! Jangan-jangan…
Tanpa pikir panjang lapangan basket adalah tujuanku sekarang.
BRAK
“Jeon Wonwoo!” Teriakkanku menggema di lapangan basket saat kakiku menapak di lantai lapangan.
“Y-yun,” seketika gendang telingaku dipenuhi lirihan Wonwoo. Pandangan ku fokus mencari arah sumber suara, dan…

Tubuh seorang Jeon Wonwoo tergeletak lemas di dekat ruang gudang. Wajahnya yang babak belur membuat dia terlihat sangat kasihan.

Deg deg deg
Kenapa dia terlihat sangat tampan walau babak belur seperti ini?  Kenapa aku jadi berdegup jika dekat dengan dia? Ish! Mikir apa sih aku? Yuna-ya, ingat Senior Taeh- mengingat Senior Taehyung jadi ingat perbincangannya dengan Wonwoo tadi siang. Apa Senior Taehyung juga se-
“Yun, jangan melamun.”
“Hah, apa? Kau bilang apa tadi?” Lamunanku buyar begitu Wonwoo memegang tanganku.
“Aku bilang-”
“Eh, jangan pegang-pegang!” Buru-buru aku melepaskan tanganku dari genggaman Wonwoo, membuat laki-laki itu gelagapan.
“Yun, aku suka kamu.” Refleks mataku melirik ke arahnya. Kata-kata yang sama yang dia lontarkan kepadaku tadi siang. “Yun aku-”
STOP!” Aku membanting handuk di tanganku. Pernyataannya itu sangat membingungkan. Dia bilang dia menyukaiku tapi dia selalu berdekatan dengan Hayoung, maksudnya apa?
“Aku menyu-”

“Aku bilang stop! Apa kau tidak mengerti perkataanku?” Baru saja dia ingin menjawab pertanyaanku, lontaran fatal aku keluarkan. “Aku lupa jika kau seorang alien yang tidak akan mengerti perkataanku!” Dan aku segera berlari menuju kamarku. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan sekarang dan aku tidak perduli.

Makan malam kami diselimuti suasana hening. Tidak hening juga, sih, tapi jika dibilang ramai juga tidak, intinya hanya suara hentakkan sumpit dan mangkuk yang menyelimuti keheningan makan malam kami. Baik aku dan Wonwoo tidak ada yang membuka suara sedikit pun. Kalau Kak Sungyeol, dia sedang pergi berlibur dengan teman-teman kampusnya untuk tiga hari kedepan.

“Aku sudah selesai, terima kasih untuk makanannya.” Mataku melirik ke arah orang di depanku. Wonwoo berjalan masuk langsung ke kamarnya tanpa membantuku. Mau tidak mau, tugas mencuci piring malam ini adalah aku.

Huh, hanya mencuci dua mangkuk dan beberapa sumpit saja rasanya sampai selelah ini, apalagi Kak Sungyeol yang harus mencuci berpuluh-puluh piring restaurant. Berbicara tentang Kak Sungyeol, aku belum menelponnya hari ini.
BRAK!
“Yun-”
“Kau membuatku kaget, bodoh! Sudah sana-sana pergi!”
“Bis yang Kak Sungyeol tumpangi mengalami kecelakaan.” Aku tidak sedang bermimpi, kan? Aku hanya salah dengar, kan?
“Haha! Aku sedang tidak mood bercanda, Jeon Wonwoo, sudah sana, aku butuh istirahat.” Bukannya jawaban yang kuterima, Wonwoo malah membawaku menuju ruang tengah. Televisi di depanku sedang menampilkan saluran berita yang membuatku tak dapat menahan tangisku.
“Ya, permirsa di rumah. Saat ini saya sedang berada di lokasi TKP kecelakaan sebuah bis dari Universitas Dayum. Diperkirakan kejadian ini berlangsung sore tadi, bis terguling dan mengakibatkan dua puluh orang meninggal di tempat dan enam belas orang kritis.” Aku menintihkan air mataku semakin deras begitu daftar korban meninggal ditampilkan di layar kaca. Dengan jelas aku dapat melihat nama Kak Sungyeol terpampang di daftar tersebut. Pelukan Wonwoo seperti penenang bagiku. Dengan erat dia memelukku dan menenangkanku yang masih menangis.
“Wonwoo, Kak Sungyeol…” Aku tak dapat melanjutkan kata-kataku karena tangisanku sudah mengalir dengan deras menghentikkan kesempatanku untuk berbicara. Aku shock, shock karena kakakku satu-satunya harus pergi meninggalkanku.

“Yang sabar, ya.” Aku dapat merasakan tangan Wonwoo mengelus rambutku di tengah isakkan-isakkanku.

Seoul malam begitu indah, namun tidak seindah malamku. Hari ini malamku sangat kelam. Ditemani dengan dinginnya namun dijauhi dengan indahnya malam Seoul. Aku putus asa. Putus asa karena keluargaku satu-satunya sudah pergi. Walaupun di rumah masih ada Wonwoo, namun tidak terasa sama dengan keberadaannya Kak Sungyeol.
Aku putus asa, Kak.
TIN! TIN!

To Be Continue

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s