[3] – Another Star (+ Info)

req-zulfa-another-star1

Ini adalah kisah kecil tentang mimpi, tentang musik, tentang persahabatan, tentang keluarga, tentang kehilangan, dan tentang menemukan. Tentang Krystal, Jongin, Kyungsoo, Suzy, dan Sohyun yang berbagi kisah tentang mimpi mereka yang tertunda.

ANOTHER STAR

by zulfhania || Main cast(s): Krystal Jung [F(x)], Kim Jongin [EXO], Do Kyungsoo [EXO], Bae Suzy [Miss-A], Kim Sohyun [Actress] || Support cast(s): Byun Baekhyun [EXO], Bae Irene [Red Velvet], Kim Taeyeon [SNSD], Jessica Jung [Ex-SNSD], Kim Taehyung [BTS], Kim Myungsoo [Infinite], and others || Genre: School-life, Friendship, Family, Romance, Musical || Rating: PG-15 || Length: Multichapter

Poster by Laykim @ Indo Fanfiction Arts

A/N: Fanfic ini terinspirasi dari Drama Korea Dream High dan Monstar. Ini adalah fanfic lama yang ditulis ulang dengan beberapa perubahan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan kalian bisa mendengarkan musik yang bermain di dalamnya 🙂

Previous: [Intro] | [1] | [2]


Info:
Sebelumnya aku minta maaf pada readers semua, karena ada beberapa hal yang tak bisa kusebutkan satu persatu, mulai dari chapter 3 ini cast utama akan diganti. Salah satu alasannya adalah karena kurasa karakter fanfic pada cast utama yang sebelumnya kurang cocok dengan karakter asli mereka di dunia nyata. Tapi 5 cast utama yang sebelumnya tidak akan hilang di fanfic ini, mereka hanya berubah peran sebagai tokoh yang lain. Jadi dengan sangat menyesal, aku mengganti cast utama (main cast)-nya menjadi sebagai berikut.

Krystal Jung diganti menjadi Park Jiyeon [T-ara]
Kim Jongin diganti menjadi Park Chanyeol [EXO]
Do Kyungsoo diganti menjadi Kim Myungsoo [Infinite]
Bae Suzy tetap menjadi Bae Suzy [Miss-A]
Kim Sohyun diganti menjadi Krystal Jung [F(x)]

Adapun cast pendukung (support cast)-nya diganti menjadi sebagai berikut.

Byun Baekhyun tetap menjadi Byun Baekhyun [EXO]
Bae Irene tetap menjadi Bae Irene [Red Velvet]
Jessica Jung diganti menjadi Park Joy [Red Velvet]
Kim Taeyeon diganti menjadi Jessica Jung [Ex-SNSD]
Kim Myungsoo diganti menjadi Do Kyungsoo [EXO]
Kim Taehyung tetap menjadi Kim Taehyung [BTS]

Selain itu aku menambahkan cast tambahan (additional cast) pada fanfic ini yaitu sebagai berikut.

Kim Taeyeon [SNSD], Kim Jongin [EXO], Park Jimin [BTS], dan Kim Sohyun [Actress]

Sekali lagi aku minta maaf atas ketidakkonsistenan dari author yang mengganti nama cast utama di tengah-tengah cerita. Kuharap kalian tetap membaca fanfic ini dan berikan feedback ya. By the way, perubahan nama cast tidak mendukung pada perubahan alur cerita. Hanya cast yang diganti, sementara alur cerita tetap. Tidak ada yang berubah dari chapter-chapter sebelumnya, hanya nama cast-nya saja. Kalau ingin membaca ulang fanfic ini dengan cast yang berbeda, boleh di klik kembali chapter 1 dan chapter 2-nya. Pada intro juga sudah diberikan info tambahan mengenai perubahan cast. Semoga cast terbaru pada chapter ini lebih dapet feel-nya buat kalian ya. Selamat membaca 🙂

Oh iya, poster akan kuganti pada chapter selanjutnya ya 🙂


∴ Komunitas Pecinta Musik dan Ruang Bawah Tanah ∴

“Jadi namamu adalah Park Jiyeon?”

Jiyeon mengalihkan pandangan dari buku bacaan di atas meja pada Suzy yang rupanya sudah berdiri tepat di sebelah mejanya dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan. Jiyeon tidak suka dengan tatapan perempuan itu. Jiyeon tidak suka dengan tatapan murid-murid Genie High School. Pengecualian untuk Park Chanyeol.

“Aku Bae Suzy, ketua kelas disini. Karena kau adalah murid baru, aku akan mengantarmu untuk keliling sekolah. Ayo!”

Jiyeon melihat Suzy berbalik, hendak mengantarkannya untuk berkeliling sekolah. Jiyeon hanya mendengus melihat ketidaksopanan ketua kelas barunya itu.

“Aku tidak mau,” jawab Jiyeon kemudian.

“Apa katamu?” Suzy berhenti melangkah dan menolehkan kepalanya pada Jiyeon dengan mimik terkejut yang terlihat tidak suka.

Jiyeon menutup bukunya, lalu menatap Suzy intens. “Aku bilang aku tidak mau.”

Yya!—” Suzy hendak memarahi Jiyeon ketika Jiyeon malah menyela.

Wae? Kau tidak menerima penolakan? Atau kau memang tidak pernah menerima penolakan sebelumnya?” Jiyeon tersenyum (sok) manis. “Sayangnya mulai hari ini kau harus belajar untuk menerima penolakan, Bung. Karena hidup bukan hanya berbicara tentang menerima maupun diterima, tetapi juga tentang menolak maupun ditolak.”

Jiyeon melihat air muka Suzy berubah. Tampaknya perempuan berponi itu merasa tersindir dengan ucapan Jiyeon barusan. Setelah melemparkan tatapan sebal pada Jiyeon, perempuan itu berbalik dan melangkah keluar kelas dengan langkah lebar.

Di bingkai pintu kelas, Suzy nyaris bertabrakan dengan Chanyeol yang baru saja kembali dari kantin. Untungnya Chanyeol segera menghindar, jadi tabrakan itu tidak terjadi. Ia memandang punggung Suzy yang semakin menjauh sebelum mengalihkan pandangannya ke dalam kelas dan hanya menemukan Jiyeon yang berada di dalam kelas.

“Hei, Murid Baru, kau tidak pergi ke kantin?” sapa Chanyeol sambil melangkah masuk ke dalam kelas.

Jiyeon menoleh ke kanan dan kiri, lalu kembali melihat ke arah Chanyeol yang kini sedang berjalan menuju ke arahnya. “Kau berbicara padaku?”

Chanyeol tertawa. “Memangnya ada oranglain disini selain dirimu?” laki-laki itu malah balas bertanya.

“Kau,” jawab Jiyeon seadanya.

Chanyeol terdiam sejenak, lalu kembali tertawa. “Benar juga ya. Baiklah, aku mengaku kalah.”

Chanyeol sampai di samping meja Jiyeon, lalu memutuskan untuk duduk di bangku milik Krystal.

“Ada apa dengan Suzy? Dia berbicara denganmu?” tanya Chanyeol kemudian.

Jiyeon mengangguk. “Dia mengajakku berkeliling sekolah.”

“Lalu?”

“Aku tidak mau.”

“Kenapa?”

“Dia tidak ramah padaku.”

Chanyeol agak tertawa. “Dia memang seperti itu orangnya.”

Melihat Jiyeon yang tetap diam, Chanyeol pun menambahkan. “Bagaimana kalau aku yang menemanimu berkeliling sekolah?”

“Tetap tidak mau.”

“Kenapa?”

Jiyeon mengangkat bahu. “Hanya tidak ingin.”

Chanyeol mengangkat alis, heran. Namun ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia lebih memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Tentang kejadian di kelas tadi, aku minta maaf karena kau harus melihat kejadian seperti itu di hari pertamamu masuk sekolah ini. Kelas kami memang dipenuhi murid-murid bermasalah, tapi kelas lainnya tidak seperti itu kok. Jadi kau jangan beranggapan yang tidak-tidak mengenai murid-murid Genie High School,” kata Chanyeol.

“Teman-teman sekelasmu memang benar-benar aneh,” komentar Jiyeon.

“Dan sekarang mereka juga adalah teman-teman sekelasmu, Jiyeon,” timpal Chanyeol sambil tersenyum.

Jiyeon mendengus begitu menyadari kenyataan yang satu itu. Benar kata Chanyeol, mereka kini menjadi teman-teman sekelasnya juga. Orang-orang aneh itu. Oh, semoga ia tidak ketularan menjadi aneh seperti mereka.

“Kalau ada yang melakukan macam-macam padamu atau kau merasa terganggu dengan mereka, lapor saja padaku atau Suzy. Kami berdua akan menanganinya.”

Kami berdua?” Jiyeon mengulang kalimat yang diucapkan Chanyeol, lalu tersenyum miris. “Aku merasa sangsi dengan kalimat itu. Sepertinya Suzy tidak akan membiarkanmu ikut campur dalam masalahnya.”

Chanyeol terdiam sejenak, lalu tertawa. Terlihat miris.

“Ya, kau memang benar,” sahut Chanyeol kemudian. “Padahal aku adalah wakil ketua kelas, sudah seharusnya aku ikut campur dengan masalah ketua kelas.”

Jiyeon memandang Chanyeol cukup lama sebelum akhirnya ia bertanya, “Kenapa kau ingin menjadi wakil ketua kelas?”

Chanyeol mengangkat alis, heran dengan pertanyaan Jiyeon yang mendadak. “Siapa bilang aku ingin menjadi wakil ketua kelas? Menjadi wakil ketua kelas itu menyusahkan.”

“Lalu kenapa kau menjadi wakil ketua kelas? Karena hasil voting teman-teman sekelasmu?” tebak Jiyeon.

Chanyeol tersenyum, lalu menggeleng. “Namaku tidak masuk ke dalam voting. Hanya Suzy satu-satunya nama yang masuk voting.”

“Calon tunggal?”

Chanyeol mengangguk.

“Lalu? Bagaimana kau bisa menjadi wakil ketua kelas?”

“Aku mengajukan diri.”

Jiyeon menatap Chanyeol tidak mengerti. “Tadi kau bilang kau tidak ingin menjadi wakil ketua kelas.”

“Aku memang tidak ingin menjadi wakil ketua kelas. Tapi aku berubah pikiran setelah Suzy terpilih sebagai ketua kelas.”

Jiyeon semakin menatap Chanyeol tidak mengerti. “Jadi kau menjadi wakil ketua kelas hanya karena… Suzy? Perempuan jutek itu?”

Chanyeol tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

“Kenapa begitu?” Jiyeon menemukan dirinya bertanya lagi.

“Kupikir Suzy membutuhkan bantuan karena banyak orang yang tidak menyukainya, terlebih dia tidak pernah bersikap ramah ataupun peduli pada siapapun.”

“Tetapi nyatanya dia tetap tidak membutuhkan bantuan, bukan?”

Chanyeol tersenyum miris. “Dia menjadi ketua kelas dengan caranya sendiri.”

“Bukan dengan caranya sendiri, tapi semaunya sendiri,” komentar Jiyeon.

“Kelihatannya kau tidak suka dengan Suzy.”

“Aku tidak suka dengan orang yang tidak bersikap ramah.”

“Tapi aku melihat kau tidak jauh berbeda dengan Suzy.”

Jiyeon melirik Chanyeol dengan tatapan tidak mengerti, sementara lelaki itu hanya balas menatapnya dengan senyum cengiran di bibirnya.

“Aku pikir di kelas ini hanya kau satu-satunya orang yang tidak aneh. Tetapi rupanya kau sama saja dengan yang lainnya. Aneh dan membingungkan,” kata Jiyeon, lalu berdiri dari duduknya.

Sebelum Jiyeon melangkah keluar kelas, ia sempat melihat senyum cengiran Chanyeol yang malah semakin melebar. Jiyeon mendengus lucu melihatnya. Tuh, kan, dia aneh.

* * *

Jiyeon baru tahu kalau gedung sekolah Genie High School rupanya luas juga. Tak hanya halaman depannya yang luas, bahkan di dalam gedungnya pun demikian. Setelah ia keluar dari koridor kelas 1 yang rupanya terdiri dari 10 kelas, ia menemukan toilet perempuan dan toilet laki-laki, serta kantin yang luasnya tak jauh berbeda dengan luas kantin Victory Academy, luas sekali. Di depan kantin ada beberapa ruangan yang tampaknya merupakan ruangan komunitas-komunitas yang ada di Genie High School, salah satunya adalah komunitas pecinta musik yang ruangannya terletak di paling ujung kanan. Di sebelah kiri ruangan komunitas-komunitas adalah ruang guru. Lalu nantinya akan bertemu lagi dengan lobi yang kemudian menghubungkannya lagi ke koridor kelas satu. Oh, jangan lupakan tangga di depan lobi yang menjulang tinggi ke lantai atas, bak tangga-tangga yang ada di dalam istana. Lantai atas adalah area murid-murid senior, maka dari itu Jiyeon tidak menjelajahi lantai atas.

Sebenarnya Jiyeon tidak berniat untuk berkeliling sekolah. Ia tidak ingin mengenal sekolah barunya itu lebih dalam. Ia hanya ingin belajar disana dengan tenang dan damai lalu lulus dengan nilai memuaskan tanpa sama sekali mengetahui apapun tentang Genie High School. Tetapi usai pelajaran sastra berakhir tadi, ia tertarik dengan apa yang diajarkan oleh Taehyung. Sejak kecil, ia memang menyukai sastra. Musik dan sastra adalah hal yang paling melekat dalam diri Jiyeon. Maka dari itu ia berniat pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku sastra disana. Namun setelah menjelajahi gedung lantai satu, ia sama sekali tidak menemukan ruang perpustakaan. Tampaknya ruang perpustakaan ada di lantai dua atau mungkin juga di lantai tiga atau empat. Meskipun begitu, Jiyeon menyukai tata letak ruangan Genie High School pada lantai satu yang hanya berputar-putar saja, tidak terlalu ribet seperti Victory Academy yang tata letak ruangannya seperti labirin.

Tetapi sebenarnya ada suatu hal yang cukup membuat Jiyeon penasaran mengenai Genie High School. Dalam kompetisi musik, Jiyeon seringkali menemukan sekolah tersebut berpartisipasi dan tak jarang pula sekolah tersebut bersaing bersama Victory Academy untuk menjadi yang terbaik. Meskipun Jiyeon selalu berkata kalau Genie High School tidak ada apa-apanya dibandingkan Victory Academy dalam hal musik, tetapi Jiyeon cukup mengakui kalau penampilan murid-murid Genie High School yang mengikuti kompetisi musik tidak bisa diremehkan begitu saja. Nah, yang membuat Jiyeon penasaran adalah bagaimana bisa sekolah biasa seperti Genie High School, yang tidak memfokuskan muridnya untuk belajar musik seperti Victory Academy, bisa menampilkan penampilan yang bisa dibilang cukup memukau untuk ukuran murid dari sekolah biasa, bukan sekolah musik. Jiyeon yakin sekali kalau guru-guru disini tidak seluruhnya paham tentang musik, bahkan tidak ada pelajaran tentang musik di sekolah ini. Hanya ada pelajaran kesenian yang tidak hanya mempelajari seni musik saja, tetapi juga meliputi seni tari, seni teater, dan seni rupa. Itu berarti pelajaran kesenian tidak hanya fokus pada bidang musik, tetapi juga bidang yang lainnya. Jadi, darimana murid-murid Genie High School mendapatkan pembelajaran mengenai teknik bermain musik? Mungkinkah hanya karena bakat individual?

Yya, Park Chanyeol! Kau lama sekali! Kemana saja kau dari tadi?”

Jiyeon yang sedang duduk di dekat pintu kantin sambil meminum bubble tea setelah lelah mengelilingi lantai satu sendirian menolehkan kepala ke arah luar kantin begitu mendengar suara seorang perempuan menyebutkan nama yang ia kenal.

Di luar kantin, tepatnya di depan ruang komunitas pecinta musik, Jiyeon melihat Park Chanyeol berlari menghampiri seorang perempuan berambut pirang yang berdiri di bingkai pintu ruang musik.

“Aku mengambil buku musikku di kelas, sunbae. Aku masih belum hapal lirik lagu dan chord gitarnya jadi aku butuh melihat buku,” kata Chanyeol sambil mengangkat buku musik di tangannya.

Jiyeon memandang ke arah Chanyeol dengan mimik terkejut. Musik?

“Semuanya sudah datang?”

“Tinggal Baekhyun yang belum datang.”

Kemudian Jiyeon melihat Chanyeol bersama perempuan itu bercakap-cakap sambil masuk ke dalam ruang musik.

Merasa penasaran, Jiyeon meninggalkan bubble tea-nya di atas meja lalu melangkah mendekati ruang musik. Dari bingkai jendela, Jiyeon melihat ada tiga orang laki-laki dan seorang perempuan di dalam sana. Chanyeol sedang duduk di atas sofa yang tampaknya sudah tidak layak pakai dengan sebuah gitar di atas pangkuannya sambil memetik senar gitar. Di sebelah Chanyeol, perempuan berambut pirang itu duduk mendengarkan sambil sesekali berkomentar sesuatu. Sementara dua orang laki-laki lainnya tampak sedang mengobrol di atas sofa yang lain. Tetapi ada yang aneh.

Ruang itu adalah ruang musik, tetapi Jiyeon sama sekali tidak melihat satupun alat musik di dalamnya, kecuali gitar yang ada di pangkuan Chanyeol. Jiyeon hanya menemukan dua sofa panjang yang sudah tidak layak pakai, meja kayu dengan beberapa gelas minuman plastik kosong di atasnya, beberapa poster band-band terkenal luar negeri maupun boyband-girlband dalam negeri di sekeliling dinding, dan sebuah lemari kayu yang tampaknya sudah tua di sudut ruangan. Ruangan itu pun ternyata tidak seluas yang ia kira. Lalu darimana ruangan itu bisa dikatakan ruang musik kalau tidak ada satupun alat musik di dalamnya (kecuali gitar Chanyeol)? Ini benar-benar membingungkan untuk Jiyeon.

Ketika keempat orang di dalam sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sebuah suara bariton dari belakang punggung mengagetkan Jiyeon.

“Kau siapa?”

Jiyeon menoleh ke belakang dengan ekspresi terkejut dan menemukan seorang murid laki-laki bertubuh tinggi dengan bentuk mata sipit yang tajam berdiri tepat di belakangnya. Di sebelah laki-laki itu, ada seorang perempuan berponi yang menggaet lengan—oh, tunggu, bukankah perempuan itu adalah Suzy?

“Dia murid baru di kelasku,” Suzy yang menjawab pertanyaan laki-laki di sebelahnya dengan suara datar.

Laki-laki itu tampak mengangkat alis, melirik seragam yang dikenakan Jiyeon, lalu berdecak antusias. “Murid pindahan Victory Academy? Wow, keren. Siapa namamu?”

Belum sempat Jiyeon menjawab, sebuah suara dari belakang punggungnya kembali membuatnya menolehkan kepala ke belakang.

“Oh? Park Jiyeon!”

Itu suara Park Chanyeol. Dan Jiyeon baru menyadari kalau saat ini tatapan keempat orang di dalam ruangan sedang mengarah padanya.

“Apa yang kaulakukan disini?” tanya Chanyeol setelah ia keluar dari ruang musik mendekati Jiyeon. Jangan lupakan senyum ceria yang terbentuk di bibir laki-laki itu. “Kau membuntutiku ya?”

Jiyeon mendengus lucu. “Apapun katamu.”

Toh, ucapan laki-laki itu ada benarnya juga. Ia memang membuntuti Chanyeol setelah melihat laki-laki itu masuk ke dalam ruang musik.

“Oh, jadi namamu Park Jiyeon?” Laki-laki yang berdiri di sebelah Suzy kembali bersuara. Kali ini ia mengulurkan tangan pada Jiyeon. “Namaku Baekhyun. Senior. Kelas 3-2.”

Belum sempat Jiyeon menggerakkan tangannya untuk menyambut uluran tangan laki-laki bernama Baekhyun itu, Suzy sudah menggerakkan tangannya untuk menurunkan uluran tangan laki-laki itu.

“Tidak usah pakai jabat tangan segala,” kata Suzy kemudian.

“Oh, ada yang cemburu rupanya,” ledek Chanyeol sambil tersenyum jahil.

“Diam kau, Park Chanyeol!” bentak Suzy.

Chanyeol hanya menunjukkan senyum cengirannya.

“Baekhyun, kenapa kau datang lama sekali? Bukankah kelas sudah selesai dari tadi?” tanya perempuan berambut pirang yang rupanya juga sudah keluar dari ruang musik.

Laki-laki bernama Baekhyun itu tersenyum meminta maaf pada perempuan berambut pirang. “Maaf, Taeyeon. Tadi ada hal yang harus kuurus dulu bersama perempuan-ku ini,” katanya sambil mengacak rambut Suzy.

Jiyeon mengangkat alis, cukup terkejut. Laki-laki itu adalah pacarnya Suzy?

“Saatnya latihan ya latihan. Saatnya pacaran ya pacaran. Seharusnya kau bisa membagi waktu, sunbae,” sahut Chanyeol.

Perempuan berambut pirang bernama Taeyeon itu memberikan lirikan tajam pada Chanyeol. “Kau juga datang telat, Park Chanyeol! Jadi kau diam saja!”

“Ampun, sunbae, ampun,” kata Chanyeol sambil mengatupkan kedua tangannya. Jangan lupakan lagi senyum cengiran yang terbentuk di bibirnya.

“Jimin dan Jongin sudah datang?” tanya Baekhyun.

“Sudah. Tuh, mereka sedang berdiskusi tentang bagaimana cara mendapatkan pacar! Sungguh, tidak penting sekali!” kata perempuan berambut pirang mengedikkan pandangan pada dua laki-laki yang masih bercakap-cakap di dalam ruangan. “Kami hanya tinggal menunggumu seorang, Baekhyun.”

Sekali lagi Baekhyun memberikan senyum meminta maaf. “Baiklah, kalau begitu ayo kita latihan sekarang. Oh iya, Murid Baru, apakah kau datang ke ruang musik untuk melihat-lihat?” tanyanya lalu beralih pada Jiyeon.

Jiyeon sempat melihat Suzy melirik tajam ke arahnya saat laki-laki bernama Baekhyun itu bertanya padanya. Tampaknya perempuan berponi itu tidak suka saat Baekhyun mengajak Jiyeon berbicara. Karena Jiyeon pun tidak ingin menambah masalah dengan perempuan itu, ia menggelengkan kepala atas pertanyaan Baekhyun. Tetapi sebelum kepala Jiyeon bergerak menggeleng, suara Park Chanyeol menyahut.

“Wah, suatu kehormatan sekali ada mantan murid Victory Academy yang melihat band kami latihan.”

Jiyeon tidak suka dengan ucapan Chanyeol yang menyebutkan ia adalah mantan murid Victory Academy.

Jiyeon berjengit kaget ketika tiba-tiba saja Chanyeol melingkarkan tangan pada lehernya. Tangan laki-laki itu sempat menyentuh kalung peace cross yang melingkar di leher jenjangnya. Kalau saja tangan itu turun ke bawah kalung sedikit lagi, menyentuh daerah terlarangnya, berarti laki-laki dengan wajah menyenangkan itu adalah laki-laki mesum. Mencuri kesempatan dalam kesempitan. Tetapi untungnya itu hanya ada dalam khayalan Jiyeon.

“Baekhyun sunbae, Jiyeon boleh melihat kita latihan, kan?” tanya Chanyeol pada Baekhyun.

Baekhyun tersenyum. “Tentu saja.”

Okeeey!” Chanyeol langsung menyeret Jiyeon untuk mengikutinya masuk ke dalam ruang musik sambil berkata, “Ayo, kita masuk ke dalam! Akan kutunjukkan padamu ruangan rahasia yang hanya boleh dilihat dan dijejaki oleh murid Genie High School.”

Jiyeon mengernyit bingung. Ruangan rahasia?

Rupanya lemari di sudut ruangan itu tidak benar-benar berada di sudut ruangan. Karena di belakang lemari tersebut rupanya ada sedikit celah hingga menunjukkan sebuah pintu kayu yang lebarnya seukuran dengan lemari tersebut. Usut punya usut, rupanya pintu kayu itu bukan pintu kayu sembarangan. Pintu kayu itu memiliki ketebalan yang luar biasa, terlihat dari bagaimana susahnya Chanyeol membuka pintu yang tampaknya berat itu. Chanyeol lalu menyeret Jiyeon masuk ke balik pintu kayu itu, diikuti oleh Baekhyun, Suzy, Taeyeon, dan dua laki-laki bernama Jongin dan Jimin. Ruangan di balik pintu itu gelap, Jiyeon tak dapat melihat apa-apa. Tetapi setelah Chanyeol menyalakan saklar lampu yang terletak tepat di sebelah pintu masuk hingga akhirnya ruangan mendadak terang benderang, Jiyeon sempurna tercengang melihat apa yang ada di depan matanya.

“Kutunjukkan padamu, Park Jiyeon, ruangan rahasia yang hanya boleh dijejaki oleh murid Genie High School. Ruangan musik terkeren di dunia! Ruang bawah tanah Genie High School!”

* * *

Pernahkah kalian masuk ke ruang bioskop? Ruangan bergaung dengan layar lebar yang menempel di dinding pada lantai dasar serta bangku-bangku yang bertingkat dari lantai dasar hingga beberapa lantai di atasnya?

Seperti itulah kira-kira yang pertama kali dilihat oleh Jiyeon saat lampu ruangan dinyalakan. Ruangan musik yang Chanyeol bilang terkeren di dunia. Ruang bawah tanah Genie High School.

Bedanya adalah bukan layar lebar yang berada di lantai dasar sana, melainkan adalah sebuah panggung besar nan megah dengan berbagai macam alat musik di atasnya, bak panggung teater yang ada di Victory Academy. Panggung itu lebar sekali, nyaris menyentuh dinding di sisi kanan dan kiri ruangan. Ada tirai berwarna merah yang terlipat di sisi kanan dan kiri panggung. Ada juga yang terlipat di langit-langit panggung. Apabila ingin menelisik lebih jauh, di belakang panggung ada sebuah backstage yang luas, ruang tata rias, dan juga tempat penyimpanan alat-alat musik. Rupanya berbagai macam alat musik yang ada di atas panggung masih belum seberapa. Masih ada banyak alat-alat musik lainnya yang jauh lebih lengkap di tempat penyimpanan alat-alat musik. Bahkan ada alat-alat musik tradisional juga disana, yang sama sekali tidak ada di Victory Academy.

“Kelihatannya kau terkejut sekali,” komentar Suzy saat melihat Jiyeon sama sekali tidak bergeming di sebelahnya.

Saat ini Suzy dan Jiyeon sedang duduk bersebelahan di salah satu bangku yang berada di tingkat ketiga di dalam ruang bawah tanah sambil memperhatikan Chanyeol, Baekhyun, Taeyeon, Jongin, dan Jimin yang sedang latihan band di atas panggung di bawah sana. Pintu kayu tebal di atas sana yang tadi mereka lewati sudah ditutup rapat sehingga suara musik yang dimainkan kelima orang di bawah sana hanya bergaung di dalam ruang bawah tanah.

“Ini benar-benar di luar batas pemikiran,” kata Jiyeon dengan suara yang terdengar mengambang akibat masih merasa syok dengan kenyataan tersembunyi yang baru dilihatnya tentang Genie High School.

Suzy mendengus lucu mendengarnya. “Di luar batas pemikiran? Kau melecehkan Genie High School?”

Jiyeon melirik Suzy kesal. “Aku tidak berkata begitu.”

“Tapi aku mendengar nada pelecehan dalam suaramu.”

“Terserahlah,” Jiyeon memutuskan untuk tidak menanggapi ucapan Suzy.

“Kau pikir sekolah biasa seperti Genie High School tidak mungkin memiliki ruangan musik di ruang bawah tanah seperti ini?” Suzy memancing.

Tetapi Jiyeon tidak terpancing. Pandangannya terarah pada empat laki-laki dan seorang perempuan yang bermain musik di atas panggung. Chanyeol berdiri di balik stand-mic sambil memainkan gitar dan bernyanyi. Tak ia sangka, rupanya laki-laki itu bisa bermain gitar dan bernyanyi. Permainan musik dan suaranya saat bernyanyi juga lumayan, walaupun tidak bagus-bagus amat. Taeyeon berdiri memainkan bass. Ia juga tidak menyangka perempuan berambut pirang itu bisa memainkan bass, padahal tubuhnya terlihat kecil dan tampak rapuh. Baekhyun berdiri memainkan keyboard. Jiyeon menyukai tangan-tangan lihai dan ekspresi laki-laki itu saat memainkan alat musiknya, tampaknya laki-laki itu sudah bersahabat lama dengan alat musik yang dimainkannya. Jimin berdiri memainkan gitar listrik, dan Jongin duduk memainkan drum. Mereka menyanyikan lagu barat yang Jiyeon tak ketahui judul dan penyanyinya.

Genie High School bukan Victory Academy, yang memfokuskan muridnya untuk belajar musik. Menganggap musik lebih penting daripada pendidikan akademi. Genie High School bukan sekolah musik. Genie High School hanyalah sekolah biasa, seperti sekolah lain pada umumnya, yang lebih memfokuskan pendidikan akademi dibandingkan non-akademi seperti musik. Di ruang bawah tanah ini, suara musik yang dimainkan oleh mereka tidak akan terdengar sampai atas. Suara musiknya akan teredam dan hanya bergaung di dlam ruang bawah tanah. Jadi, seberisik apapun mereka bermain musik, hal itu tidak akan mengganggu kegiatan apapun di lantai satu maupun dua, tiga, dan empat, termasuk kegiatan belajar mengajar di kelas.”

“Kenapa harus dalam bentuk panggung dan bangku-bangku seperti di bioskop? Bahkan ada backstage dan ruang tata rias juga di belakang,” rupanya Jiyeon terpancing dengan cerita Suzy.

“Pelatihan mental,” jawab Suzy. “Dengan bentuk ruangan musik seperti ini, mereka tidak berlatih musik secara main-main. Mereka menganggap diri mereka seolah-olah sedang tampil di atas panggung, di depan ribuan penonton. Seperti yang kukatakan tadi, pelatihan mental. Mereka latihan musik, sekaligus diuji secara mental dengan pemandangan ribuan bangku di depannya. Dengan begitu, mereka akan secara serius berlatih musik hingga mental mereka siap untuk mengikuti kompetisi musik. Maka dari itu, murid-murid Genie High School yang bermain musik di ruang bawah tanah ini tidak pernah main-main. Kalau memang mereka merasa tidak bisa bermain musik, maka mereka tidak akan bermain musik disini. Belajar musik boleh saja, murid-murid komunitas pecinta musik akan dengan senang hati membantu. Tetapi bukan di ruangan ini, melainkan di lantai paling atas, rooftop sekolah. Ada kelas musik yang diadakan murid-murid komunitas pecinta musik tiap akhir pekan disana. Kau boleh datang kesana lain kali. Kau akan melihat betapa banyaknya murid-murid Genie High School yang datang dan belajar musik bersama murid-murid komunitas pecinta musik. Kalau mereka menemukan ada murid yang bisa bermain musik dengan caranya sendiri; maksudnya dengan pembawaannya yang unik, penghayatannya yang dalam, dan beberapa nilai yang hanya diketahui oleh murid-murid komunitas pecinta musik, maka murid itu akan diundang untuk bergabung ke komunitas pecinta musik dan diperbolehkan untuk latihan musik di ruang bawah tanah ini. Murid-murid yang bermain di ruang bawah tanah ini hanya diperuntukkan untuk murid-murid komunitas pecinta musik yang sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi.”

“Wow. Ide yang unik,” decak Jiyeon kagum setelah mendengar penjelasan panjang-lebar dari Suzy. Tampaknya ia mulai tertarik pada Genie High School. “Harusnya murid-murid Genie High School membayar mahal atas pendidikannya di sekolah ini.”

“Memangnya siapa yang bilang sekolah ini biayanya murah?” Suara Suzy terdengar tidak suka.

Jiyeon menoleh pada Suzy dengan kening berkerut.

“Jangan dianggap remeh. Biaya bulanan yang harus dibayar murid Genie High School hanya berbeda 20% dari biaya bulanan yang harus dibayar murid Victory Academy,” kata Suzy.

Jiyeon tertegun. Walaupun hanya berbeda 20%, tapi itu mahal sekali. Tetapi kalau memang benar begitu, kenapa waktu itu Joy bilang padanya kalau Genie High School biayanya tidak terlalu mahal?

“Seperti Victory Academy, orang-orang yang tidak mampu tidak akan bisa semudah itu masuk ke sekolah ini. Kecuali,” Suzy menoleh pada Jiyeon dan memberikannya tatapan sinis yang sama sekali tidak disukai Jiyeon. “Kalau kau memiliki orang dalam disini.”

Kali ini Jiyeon benar-benar tertegun. Ibu…?

Masih pada awal semester genap, pada siang hari yang entah kenapa masih saja terasa dingin, di dalam ruang bawah tanah, di dalam ruangan rahasia yang baru pertama kali dilihatnya, seorang perempuan tenggelam dalam lautan pemikiran yang berkecamuk dalam pikirannya sendiri. Tentang sekolah barunya, tentang kebenciannya pada sekolah barunya, tentang ibunya, tentang kebenciannya pada ibunya, dan juga tentang segala kenyataan tersembunyi yang baru saja diketahuinya. Ia tidak tahu apa yang kini harus dilakukannya setelah mengetahui seluruh kenyataan itu. Yang hanya ia ketahui adalah seluruh kenyataan tersembunyi yang baru saja diketahuinya itu kini mulai merubah sudut pandangnya. Pada sekolah barunya, maupun ibunya sendiri.

“Kau tidak bisa menilai sesuatu hanya dari luarnya saja, karena sesungguhnya ada hal yang tak kauketahui yang tersembunyi di dalamnya.” -Another Star-

-tbc-

Thanks for Anne atas komennya di chapter sebelumnya ^^ Semoga perubahan nama cast yang dimulai pada chapter ini tidak mengecewakan yaa~ Masih selalu kutunggu feedback dari readers yang lain yaa 🙂 Ingat, hargai author yang sudah menulis 🙂 Btw, foto di bawah ini adalah denah gedung lantai satu dan juga ruang bawah tanah Genie High School yaa~

denah lantai 1

Regards,

Zulfa Azkia (zulfhania)

Advertisements

13 thoughts on “[3] – Another Star (+ Info)

  1. jujur aku baca ini karna main cast nya jiyeon ,, hehe
    tp cerita nya keren bgt , ibu nya jiyeon knapa masukin jiyeon k genie pdhl kan gk murah jg
    genie high school daebakk bgt kerenn tuh dr cerita nya
    next yaa

  2. Ternyata sinis2 begitu suzy udh punya pacar, senior lagi haha
    Wah keren bgt yaa ruangan musik sekolah genie, ga kalah sama victoria dong yah, dan ternyata bayarannya juga cukup mahal, tp kenapa ibunya jiyi tetep mindahin d sana, apa karena ibunya guru d sana, mungkin dpt potongan hehe
    Penasaran knp jiyeon benci sama ibunya yah

  3. huaaaa keren bgt ternyata sekolah genie. apalagi ruang musik nya keren ada di bawah tanah gitu. berarti biaya sekolah genie termasuk mahal juga toh? trus knpa ibu nya jiyi bilang kalo biaya sekolah disana lumayan murah?
    penasaran sama chap selanjutnya 🙂

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s