[1] – Another Star (Re-update)

req-zulfa-another-star1

Ini adalah kisah kecil tentang mimpi, tentang musik, tentang persahabatan, tentang keluarga, tentang kehilangan, dan tentang menemukan. Tentang Krystal, Jongin, Kyungsoo, Suzy, dan Sohyun yang berbagi kisah tentang mimpi mereka yang tertunda.

ANOTHER STAR

by zulfhania || Main cast(s): Krystal Jung [F(x)], Kim Jongin [EXO], Do Kyungsoo [EXO], Bae Suzy [Miss-A], Kim Sohyun [Actress] || Support cast(s): Byun Baekhyun [EXO], Bae Irene [Red Velvet], Kim Taeyeon [SNSD], Jessica Jung [Ex-SNSD], Kim Taehyung [BTS], Kim Myungsoo [Infinite], and others || Genre: School-life, Friendship, Family, Romance, Musical || Rating: PG-15 || Length: Multichapter

Poster by Laykim @ Indo Fanfiction Arts

A/N: Fanfic ini terinspirasi dari Drama Korea Dream High dan Monstar. Ini adalah fanfic lama yang ditulis ulang dengan beberapa perubahan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan kalian bisa mendengarkan musik yang bermain di dalamnya 🙂


Info:
Sebelumnya fanfic ini dibuat dengan nama cast utama seperti di atas, tapi mulai dari chapter 3 (sekarang chapter 1 dan 2 juga sudah diganti namanya) cast utama diganti menjadi:

Krystal Jung diganti menjadi Park Jiyeon [T-ara]
Kim Jongin diganti menjadi Park Chanyeol [EXO]
Do Kyungsoo diganti menjadi Kim Myungsoo [Infinite]
Bae Suzy tetap menjadi Bae Suzy [Miss-A]
Kim Sohyun diganti menjadi Krystal Jung [F(x)]

Adapun cast pendukung (support cast)-nya diganti menjadi sebagai berikut.

Byun Baekhyun tetap menjadi Byun Baekhyun [EXO]
Bae Irene tetap menjadi Bae Irene [Red Velvet]
Jessica Jung diganti menjadi Park Joy [Red Velvet]
Kim Taeyeon diganti menjadi Jessica Jung [Ex-SNSD]
Kim Myungsoo diganti menjadi Do Kyungsoo [EXO]
Kim Taehyung tetap menjadi Kim Taehyung [BTS]

Selain itu aku menambahkan cast tambahan (additional cast) pada fanfic ini yaitu sebagai berikut.

Kim Taeyeon [SNSD], Kim Jongin [EXO], Park Jimin [BTS], dan Kim Sohyun [Actress]

Poster ‘Another Star’ di atas adalah poster lama dengan cast utama yang sebelumnya. Poster baru mulai diganti pada chapter 4.


[Re-update]
∴ Jiyeon, Joy, dan Victory Academy ∴

“Kedengarannya aneh. Bukan seperti itu nadanya. Coba kau ulangi sekali lagi.”

Jiyeon mengerutkan kening. Tangannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang lain mengetuk-ngetuk meja belajarnya sesuai dengan irama yang ia dengarkan dari seberang ponsel. Saat ini ia sedang mendengarkan Irene, sahabat sekaligus partner duetnya, latihan bermain biola untuk penampilan mereka beberapa hari mendatang. Ia menghembuskan napas panjang saat didengarnya lagi-lagi Irene salah not.

“Irene, bukan seperti itu. Itu terlalu tinggi.”

Terdengar helaan napas panjang dari seberang ponsel. “Sepertinya kita perlu bertemu untuk latihan lagi. Agaknya susah sekali kalau kita latihan via ponsel, Jiyi.”

Jiyeon mengangguk, menyetujui usulan Irene. Sadar kalau Irene tidak bisa melihat anggukannya, ia segera menyahut. “Baiklah. Bagaimana kalau besok?”

Jiyeon menutup ponselnya dan menghela napas. Irene menyetujui usulannya untuk latihan musik esok hari di sekolah. Ia tahu kalau saat ini masih hari libur pertengahan semester. Namun sebagai murid dari Victory Academy, ia memiliki hak untuk memakai ruang musik meskipun sedang hari libur. Itulah untungnya bersekolah di sekolah musik seperti Victory Academy.

Bagi Jiyeon, Victory Academy merupakan satu-satunya sekolah yang dapat membantu impiannya tercapai. Jarang sekali Jiyeon menemukan sekolah yang dapat meluluskan muridnya sebagai seorang musisi. Dan Jiyeon menemukan keunikan tersebut pada Victory Academy. Sekolah tersebut memiliki fasilitas dan pelayanan yang amat baik untuk muridnya dalam bermain musik. Guru-guru disana pun begitu baik dan sangat memperhatikan perkembangan murid-muridnya. Bahkan sesekali mereka akan mengirim muridnya untuk mengikuti berbagai kompetisi musik yang pastinya akan membuat muridnya menjadi semakin terlatih. Seseorang di masa lalunya pernah berkata, untuk menjadi orang yang sukses dalam suatu bidang maka diperlukan jam terbang yang tinggi. Dan Victory Academy menerapkan sistem tersebut. Maka dari itu, dalam setiap kompetisi musik tidak sulit untuk menemukan murid Victory Academy sebagai peserta. Karena sekolah tersebut selalu mengirimkan muridnya setiap kali kompetisi musik berlangsung. Seperti itulah yang saat ini dialami Jiyeon. Bersama dengan Irene, ia dipilih untuk mengikuti kompetisi musik tahunan antarsekolah.

Ini bukan pertama kalinya Jiyeon mengikuti kompetisi musik. Sebelumnya Jiyeon pernah mengikuti berbagai kompetisi musik lainnya. Dari yang tampil secara grup maupun solowis. Maka dari itu Jiyeon sudah tidak begitu merasakan gugup yang teramat sangat seperti saat pertama kalinya ia mengikuti kompetisi. Ia justru mengkhawatirkan Irene karena kompetisi musik tahunan antarsekolah nanti adalah kompetisi perdana untuk Irene.

Jiyeon duduk di balik keyboard di sudut ruang kamarnya. Tangannya mengambil posisi di atas tuts-tuts hitam-putih, sementara matanya mengarah pada not-not balok di depannya. Baru saja ia menekan salah satu tuts hitam-putih tersebut, terdengar suara dobrakan pintu dari luar kamar diiringi suara pekikan Joy-ibunya- yang terdengar terkejut.

“Mister Soo!”

Jiyeon menahan napas begitu mendengar suara pekikan Joy. Gerakan tangannya terhenti dan mendadak pandangannya kosong. Pria brengsek itu datang lagi ke rumahnya.

“BAYAR HUTANG SUAMIMU SEKARANG!”

Jiyeon mengenali suara bentakan itu. Itu suara Mister Soo. Seorang rentenir kaya raya yang terbilang sukses dengan usaha ilegalnya di kawasan Seoul. Mantan majikan ayahnya yang kini berubah menjadi seorang yang menyeramkan bagi Jiyeon. Karena ayahnya pergi meninggalkan Mister Soo dengan membawa segudang hutang.

“Kami belum punya uang, Mister Soo. Tolong beri kami kesempatan!” Jiyeon mendengar suara Joy memohon.

“Ah! Alasan! Anakmu saja bisa kau masukkan ke Victory Academy yang mahal itu, masa hutang suamimu selama bertahun-tahun tidak bisa kau bayar?!”

“Jiyeon butuh sekolah, Mister.”

Jiyeon tertegun begitu mendengar suara Joy yang bergetar. Ia menggigit bibir dan menatap kertas berisi balok-balok not dengan mata berkaca-kaca. Ibu, jangan menangis.

Victory Academy bukan satu-satunya sekolah di dunia ini! Kalau kau memiliki hutang, pikirkan dulu hutangmu sebelum kau memasukkan anakmu ke sekolah yang mahal itu!”

“Kau pikir aku tega membiarkan anakku hidup tanpa memiliki mimpi? Mimpi Jiyeon ada disana, Mister. Ada di sekolah itu. Hanya di Victory Academy!”

Jiyeon membekap mulutnya menahan tangis. Ibu…

“Persetan dengan semua itu! Cepat bayar hutang suamimu sekarang juga!”

“Kau benar-benar manusia tak berperasaan!”

“APA?! BERANINYA KAU?!”

PLAK! Terdengar suara tamparan yang disusul oleh suara rintihan Joy.

“Ibu!” Refleks Jiyeon berlari mendekati pintu kamarnya. Ia tak bisa membayangkan Joy ditampar oleh tangan kasar pria itu. Ia hendak meraih gagang pintu, tetapi rasa takut membelenggu dadanya. Ia ingin menemani Joy di luar sana, tetapi ia benar-benar tak bisa keluar saat ini. Ia terlalu takut.

Tubuh Jiyeon meluruh ke lantai seiring dengan airmatanya yang semakin deras mengalir. Tangannya menggenggam erat kalung peace yang terlingkar di leher jenjangnya. Ia menyandarkan wajahnya pada pintu kamar sambil terisak pelan. Sementara suara-suara ribut di luar kamar semakin terdengar jelas.

“Mister Soo, tolong hentikan! Jangan sakiti Ibu…” bisiknya lirih.

* * *

“Sepertinya kau akan pergi keluar.”

Jiyeon menoleh sekilas dan melihat Joy baru saja keluar kamar dengan wajah bantal. Merasa canggung, ia mengambil botol selai dan mengoleskan isinya ke atas roti di tangannya. Sementara Joy berjalan menuju dapur untuk membasuh wajah.

“Ke sekolah. Latihan bareng Irene. Sebentar lagi hari kompetisi,” jawab Jiyeon tanpa menatap Joy.

Joy mengambil posisi duduk di depannya. “Tadi malam Mister Soo kesini,” katanya.

Jiyeon mengangkat kepala, menatap Joy yang kini tertunduk lesu. Ia tertegun begitu menyadari pipi kiri Joy yang tampak memerah. Pasti itu bekas tamparan Mister Soo tadi malam.

Jiyeon kembali mengalihkan pandangannya, berusaha untuk tidak peduli.

“Apa katanya?” tanya Jiyeon dengan suara yang dibuat sedatar mungkin.

“Satu bulan. Semua harus terbayar dalam waktu satu bulan.”

“Satu bulan bukan waktu yang lama untuk mengumpulkan uang sebanyak itu, Bu!” kata Jiyeon. Suaranya meninggi. Kesabarannya sudah habis untuk tidak meledakkan amarahnya pada Mister Soo di depan Joy.

Joy mendesah dan menatap Jiyeon dengan tatapan bersalah. “Maka dari itu Ibu meminta bantuanmu, Jiyeon.”

“Bantuan?”

“Bagaimana kalau kau pindah sekolah?”

Bolamata Jiyeon membulat terkejut. “Pindah sekolah?!”

“Ibu akan mencari jalan lain untuk membayar hutang ayahmu. Sementara itu, kau pindahlah ke sekolah biasa yang lebih murah.”

Mata Jiyeon berkaca-kaca. Ia sudah kehilangan nafsu makannya pagi ini. “Bahkan aku belum sampai setahun bersekolah disana, Bu!”

“Ibu tahu, Jiyeon. Sungguh, Ibu tahu. Tetapi untuk saat ini, hanya jalan itulah yang dapat membantu kita. Mari kita bekerjasama, Jiyeon.”

Jiyeon membuang muka. Ia berdiri dari duduknya. “Aku harus latihan musik. Irene sudah menungguku,” ucapnya kemudian berlalu keluar rumah. Sekaligus menjawab untuk ketidaksetujuannya atas usulan Joy.

* * *

Irene memperhatikan Jiyeon yang duduk termangu di balik grand piano di sudut ruangan. Sudah limabelas menit berlalu dan perempuan itu masih saja tidak bergerak dari tempatnya. Tatapannya kosong menatap tuts-tuts piano di depannya dan sesekali menghela napas berat. Sepertinya ada hal berat yang sedang dipikirkannya saat ini. Tanpa bertanya pun, Irene sudah tahu masalah apa yang sedang menimpa sahabatnya itu.

“Bukankah kita bertemu untuk latihan musik?” tanya Irene membuka keheningan. Berusaha untuk mengalihkan lamunan Jiyeon dari masalah keluarganya.

Jiyeon mengangkat kepala, balas menatap Irene yang duduk tak jauh darinya. “Maaf, Irene.”

Irene berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Jiyeon. Ia menyerahkan selembar kertas pada Jiyeon dan menunjuk balok not pada barisan keempat.

“Kita mulai dari bagian ini. Jangan lengah, Jiyeon.”

Jiyeon mengangguk. Ia menghela napas panjang sebelum memposisikan tangannya di atas tuts-tuts piano. Sementara Irene memposisikan biolanya di antara bahu dan pipinya. Perempuan itu memberikan kode pada Jiyeon untuk memulai permainannya.

Tangan Jiyeon menari di atas tuts piano. Bergerak dengan begitu lincah hingga menghasilkan alunan piano yang begitu indah. Tak lama kemudian, Irene masuk pada bagiannya dan mulai menggesekkan biolanya. Alunan piano kini bercampur satu dengan alunan biola memenuhi ruangan.

Dua jam berikutnya, Jiyeon dan Irene berjalan beriringan menelusuri sepanjang koridor sekolah. Mereka baru saja menyelesaikan latihan musik dan hendak kembali ke rumahnya masing-masing.

“Besok lusa adalah harinya, Jiyeon. Mari kita sama-sama menampilkan yang terbaik,” kata Irene. Tangannya mengayun-ayunkan tas biola yang dipegangnya.

Jiyeon mengangguk. “Tentu saja.”

“Sepertinya Genie High School juga berpartisipasi dalam kompetisi ini. Mereka akan menjadi saingan terberat kita.”

“Eiyy, jangan menurunkan senjata dulu sebelum berperang. Victory Academy itu tidak memiliki saingan. Dalam hal musik, Genie High School tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan sekolah kita.”

“Kau benar,” sahut Irene. “Ini pertama kalinya untukku, Jiyeon. Aku benar-benar merasa gugup.”

Jiyeon menghentikan langkahnya. Ia meraih tangan Irene hingga langkah perempuan itu juga terhenti. Jiyeon menggenggam tangan Irene dan menatap manik perempuan itu dengan begitu dalam. Tetapi entah kenapa Irene malah melihat kesedihan di mata Jiyeon.

“Kau pasti bisa, Irene. Kau tidak tampil sendirian. Ada aku yang akan menemanimu,” kata Jiyeon sambil tersenyum. “Semangat!”

Irene balas tersenyum. Ia balas menggenggam tangan Jiyeon. “Terimakasih, Jiyeon. Aku merasa lebih baik sekarang.”

Keduanya kembali berjalan keluar gedung.

“Kau tidak ada masalah dengan ibumu lagi, kan?” tanya Irene begitu teringat dengan kemurungan Jiyeon saat latihan tadi.

Jiyeon terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Tidak.”

“Kau baik-baik saja, kan?” tanya Irene hati-hati.

Jiyeon mengangguk. Namun mendadak ucapan Joy pagi tadi kembali terngiang di telinganya.

“Irene.”

Irene menoleh dan melihat Jiyeon sedang menatap ke arahnya dengan mata berkaca-kaca. Kemudian ia mendengar Jiyeon berkata dengan suara bergetar.

“Sepertinya besok lusa akan menjadi kompetisi terakhir yang kuikuti untuk sekolah ini.”

* * *

Di dalam sebuah gedung teater, Jiyeon duduk di balik grand piano hitam di atas panggung yang kini menjadi sorotan. Tak jauh darinya, Irene berdiri sambil memegang biola yang diletakkan di antara bahu dan pipinya dengan perasaan gugup. Hampir seluruh mata pengunjung acara tengah mengarah pada mereka dengan tatapan harap-harap cemas. Jiyeon menoleh tersenyum menenangkan teman-temannya yang duduk di barisan bangku penonton. Ia membenarkan posisi kalung peace yang melingkar di leher jenjangnya sebelum memfokuskan diri pada piano di depannya. Beberapa saat kemudian, lampu di atas panggung meredup.

Lampu panggung kembali menyala. Menyoroti Jiyeon yang kini memainkan jari-jemarinya dengan lihai di atas tuts-tuts piano. Ia memainkan opening yang begitu sempurna tepat saat lampu panggung menyorotinya. Menciptakan sebuah alunan melodi piano yang memenuhi gedung teater.

Tak lama kemudian, suara gesekan biola bergabung dengan alunan piano yang dimainkan Jiyeon seiring dengan menyalanya lampu panggung kedua yang menyoroti Irene. Menciptakan sebah kombinasi yang indah antara suara piano dan biola.

Mereka memainkan lagu Passing By. Dengan penuh perasaan dan penghayatan, Jiyeon menarikan jari-jemarinya kesana kemari dengan begitu lincahnya di atas tuts-tuts piano. Irene pun demikian. Ia menggesekkan biolanya dengan amat lincah. Mimik dan gestur tubuh mereka menyesuaikan perasaan yang dibawanya, menciptakan alunan instrumen musik yang terdengar menyentuh perasaan. Lihat saja, bahkan beberapa pengunjung acara mulai memejamkan mata, seakan-akan mereka merasakan emosi yang dimainkan Jiyeon dan Irene dalam alunan melodi tersebut. Mereka seperti mendengar permainan seorang Yiruma, komposer sekaligus pianis ternama yang menciptakan lagu itu, yang bercampur satu dengan kedua perempuan itu. Good performance and good looking.

Pada bagian klimaks instrumen, Jiyeon memejamkan mata. Tangannya masih menari di atas tuts-tuts piano, tetapi segaris airmata mengalir dari pelupuk matanya yang kemudian disusul dengan airmata lainnya. Ia menangis tanpa suara, entah karena apa. Mungkin karena ini akan menjadi penampilannya yang terakhir atas nama Victory Academy.

(Dengarkanlah musik yang bermain; Passing By by Yiruma)

* * *

Suara riuh tepuk tangan membahana di dalam gedung teater. Di atas panggung, Jiyeon menatap medali emas yang kini melingkar di lehernya bersama kalung peace-nya dengan mata berkaca-kaca. Di sebelahnya, Irene juga menatap medali emas di lehernya dengan perasaan tidak menyangka. Lagipula siapa yang akan menyangka apabila ia akan mendapatkan juara pertama pada kompetisi perdananya.

Victory Academy memang selalu menjadi yang terbaik. Selamat untuk kalian berdua,” ucap seorang perempuan yang berdiri di sebelah kanan Irene dan Jiyeon. Perempuan itu mendapatkan medali perunggu sebagai juara ketiga atas penampilannya.

Empire High School juga sudah memberikan penampilan yang terbaik,” kata Irene. Wajah dan matanya tampak memerah karena airmata harunya tidak henti-hentinya mengalir.

Sementara Irene mengobrol dengan perempuan itu, Jiyeon masih menatap medali emasnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berusaha menahan tangis. Bisa jadi juga ini akan menjadi medali emas terakhir yang diperolehnya atas nama Victory Academy.

Sebenarnya Jiyeon masih belum memutuskan akan mengikuti permintaan Joy atau tidak. Namun melihat keadaan keluarganya yang memang tidak memungkinkan untuk mempertahankannya tetap berada di Victory Academy, sepertinya Jiyeon benar-benar harus mempersiapkan diri untuk pergi dari sekolah impiannya itu.

Jiyeon menyeka airmatanya yang jatuh saat ia teringat Joy. Sekilas ia menoleh pada Irene dan seorang laki-laki yang berdiri di sebelahnya. Berharap mereka tidak sempat melihatnya menangis. Beruntung bagi Jiyeon karena Irene masih berbicara dengan perempuan di sebelahnya, sementara laki-laki yang mendapatkan juara dua itu sedang memandang medali perak yang melingkar di lehernya. Jiyeon paling anti memperlihatkan airmatanya pada oranglain, termasuk pada ibunya sendiri.

“Berikan tepuk tangan yang meriah sekali lagi untuk ketiga pemenang kompetisi musik tahunan antarsekolah kali ini dari Victory Academy, Genie High School, dan Empire High School,” tutup si pembawa acara.

* * *

Sebuah medali emas atas kemenangan kompetisi musik tahunan antarsekolah diletakkan di dalam lemari kaca oleh Jiyeon. Berjejeran dengan beberapa piala dan medali lainnya yang juga merupakan prestasi atas kemenangan berbagai kompetisi musik lain yang pernah diikutinya. Jiyeon menatap medali yang diletakkannya dengan senyum getir di bibirnya cukup lama.

Setelah itu ia menutup kembali lemari kacanya dan menguncinya. Ia berjalan menghampiri Irene yang sudah menunggunya di bingkai pintu kelas award. Kelas award adalah tempat dimana murid-murid Victory Academy menyimpan penghargaan-penghargaan atas kemenangannya dalam kompetisi musik. Setiap murid memiliki lemari kacanya masing-masing dan memiliki keberhakan untuk menyimpan prestasinya disana. Irene juga baru saja menyimpan medali emasnya di lemari kaca miliknya.

“Kau benar-benar akan meninggalkan mereka disana? Apakah sebaiknya tidak kau bawa saja?” tanya Irene setelah Jiyeon tiba di sebelahnya. Matanya mengarah pada lemari kaca milik Jiyeon yang berisi medali dan piala yang tak terhitung banyaknya sebelum mengekor langkah Jiyeon keluar gedung.

“Dibawa kemana?” Jiyeon balas bertanya sambil tersenyum miris.

Irene mengangkat bahu. “Rumahmu, mungkin.”

Jiyeon menggeleng. “Kurasa sebaiknya disimpan di sekolah ini saja. Walaupun aku sudah tidak bersekolah disini, aku ingin piala dan medali milikku menjadi jejak kalau aku pernah bersekolah dan mengukir banyak prestasi musik di sekolah ini.”

Irene menghentikan langkah dan menatap Jiyeon dengan marah. “Kau masih bersekolah disini, Jiyeon.”

“Memang. Tapi awal semester genap nanti aku akan pergi dari sini.”

“Kau membuatku khawatir, Jiyi.” Irene menatap Jiyeon dengan prihatin. Jiyeon menunjukkan senyum terbaiknya pertanda bahwa semuanya akan baik-baik saja, namun yang terlihat di mata Irene hanyalah senyum kegetiran.

“Bukankah aku sudah bilang kalau kemarin adalah kompetisi terakhir yang akan kuikuti di sekolah ini? Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena aku sudah memutuskan dan mempersiapkan diri dari awal untuk kepindahan ini.”

Nyatanya, Jiyeon sama sekali belum memutuskan. Ia masih bimbang dengan kepindahannya itu. Ia hanya mempersiapkan diri kalau memang ia tidak memiliki pilihan lain selain meninggalkan Victory Academy.

“Bukan itu yang kukhawatirkan,” kata Irene. “Aku khawatir dengan sekolah barumu.”

Jiyeon terdiam.

“Bukankah kau pernah bilang kalau kau membenci Genie High School? Kau bilang sekolah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sekolah kita? Tetapi kenapa kau malah pindah kesana?”

Jiyeon tidak menjawab.

Mendadak Irene teringat dengan status ibunya Jiyeon yang merupakan guru di Genie High School. “Ibumu yang meminta?” tanyanya kemudian.

Jiyeon tersenyum. Miris. “Hidup ini memang kejam untukku, Irene.”

Lagi-lagi Irene menatap Jiyeon dengan prihatin.

“Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu,” kata Jiyeon.

Irene menghela napas. “Maaf kalau aku bertanya seperti ini padamu. Memangnya kau tidak marah pada ibumu? Impianmu kan ada disini, Jiyi. Hanya Victory Academy yang dapat membuatmu menjadi seorang pianis. Ibumu juga tahu hal ini.”

Jiyeon menengadahkan wajahnya saat dirasanya matanya mulai memanas. Ia tidak boleh menangis hari ini. Ia tidak ingin melalui hari-hari terakhir di sekolahnya dengan tangisan.

“Tentu saja aku marah pada ibuku. Victory Academy memang jauh lebih baik daripada Genie High School. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan saat takdir memaksaku untuk pindah kesana? Memangnya aku bisa melawan takdir-Nya?”

Jiyeon tersenyum pada Irene. Tetapi entah kenapa, untuk yang kesekian kalinya, Irene hanya melihat kegetiran dalam senyum itu.

“Kau pernah bilang padaku kalau kau membenci ibumu, maka dari itu kau selalu merendahkan Genie High School. Tetapi saat ini aku justru malah melihat kalau kau sebenarnya sangat menyayangi ibumu, Jiyeon.”

Jiyeon kembali terdiam.

* * *

Suasana makan malam terasa canggung untuk sepasang ibu dan anak. Hanya terdengar dentingan suara sendok yang beradu dengan piring. Jiyeon menghabiskan makanannya dengan cepat tanpa bersuara. Di depannya, Joy juga melakukan hal yang sama. Walaupun berkali-kali saling melirik diam-diam dan tak sengaja bertemu pandang, mereka sama sekali tidak memulai pembicaraan. Membiarkan keheningan dan kecanggungan terjadi di antara mereka.

Jiyeon menyuap sendok terakhirnya. Ia membersihkan peralatan makannya di dapur sebelum kembali ke kamar. Beberapa saat setelah menutup pintu kamar, terdengar suara ketukan.

“Jiyeon? Apakah kau mendengar suara Ibu?”

Langkah Jiyeon terhenti. Alih-alih membukakan pintu untuk Joy, ia malah menyandarkan wajahnya di pintu kamar. Menempelkan daun telinganya pada pintu kayu tersebut. Aku mendengarmu, Bu…

“Ibu tahu kalau ini berat sekali untukmu. Meninggalkan Victory Academy pada saat-saat seperti ini memang bukanlah hal yang mudah, apalagi kau berharap banyak sekali pada sekolah itu. Tidak ada lagi sekolah musik seperti Victory Academy yang dapat membantu mencapai impianmu sebagai pianis. Tapi, ibumu yang jahat ini telah menghancurkan impianmu, bukan?”

Jiyeon menggigit bibir. Mengerti ke arah mana Joy akan berbicara.

“Maafkan Ibu, Jiyeon.” Suara Joy terdengar bergetar.

Jangan menangis, Bu…

“Maafkan Ibu yang telah menyerah atas mimpimu, Jiyeon. Maafkan Ibu yang tidak bisa lagi membayar biaya sekolahmu disana. Ini memang sulit untukmu, tapi ini juga sulit untuk Ibu. Jadi Ibu harap kau mengerti, Jiyeon.”

Jiyeon membekap mulutnya, berusaha menahan tangis. Tangannya yang lain meraih gagang pintu kamar, tetapi ia tak kunjung membukanya. Ia benar-benar tidak bisa membukanya. Tidak untuk saat ini. Ia malah menggenggam kalung peace yang terlingkar di leher jenjangnya dan menangis tanpa suara.

Tanpa Jiyeon ketahui, di balik pintu kamarnya, Joy melakukan hal yang sama dengannya. Menangis tanpa suara sambil menyandarkan wajahnya pada daun pintu.

Pertengahan semester, pada malam yang begitu dingin, di bawah atap yang sama, terpisahkan oleh pintu kayu, sepasang ibu dan anak menangis dalam diam. Rasa bersalah, takut, dan putus asa bercampur menjadi satu di antara keduanya. Seolah-olah hanya dengan airmatalah yang dapat meleburkan seluruh rasa itu.

Ketika Tuhan memberikan cobaan kepada kita, cobalah untuk menghadapinya tanpa keluhan. Karena Tuhan memiliki ribuan alasan yang tak kita ketahui.-Another Star-

– tbc –

Dear readers,
Halooo~ apakah kalian membaca fanfic ini sampai selesai? Kalau iya, tolong dong berikan feedback-nya. Intro kemarin ternyata lumayan banget viewers-nya, tapi aku sedih gak ada yang komen, padahal aku butuh banget feedback dari para readers. Jadi aku tau apakah kalian tertarik apa engga dengan fanfic buatanku ini. Fanfic-ku ini memang jauh dari kata sempurna, tapi aku ingin mempersembahkan fanfic ini dengan lima tokoh utama; Krystal, Jongin, Kyungsoo, Suzy, Sohyun (mungkin tokohnya kurang menarik untuk kalian) dengan sukacita. Aku terima kritik dan saran kok, maka dari itu aku butuh feedback dari kalian. Feedback dari kalian merupakan vitamin buat aku melanjutkan fanfic ini. Kalau memang kalian masih mau baca, aku akan semakin semangat untuk melanjutkannya. Jadi, tolong yaa… Hargailah author yang sudah menulis 🙂

Regards,

Zulfa Azkia (zulfhania)

Advertisements

19 thoughts on “[1] – Another Star (Re-update)

  1. jiyeon joy kasian bgt , padahal saling sayang salinng peduli tp ketahan dg ekspresi?
    ohh jiyi nerima aja deh , jgn sedih terus donk
    kan juara 2 jg tuh genie high school nya

  2. Aku suka ff nya, apalg main cast nya my baby jiyi
    Huaaahhh aku sampai meneteskan air mata d part akhirnya, kasian bgt sih nasib jiyi, pdhl dia berbakat, tetapi harus d kubur impiannya menjadi pianis karena kendala biaya huufffttt
    Aku penasaran kenapa jiyeon sebel sama ibunya, dan kyknya hubungan ibu dan anak itu sedikit renggang yaa, kyknya sikapnya jiyeon ke ibunya dingin, tp sebenrnya dia sayang sama ibunya, dan aku penasaran ayahnya jiyeon ke mana yaa? Kenapa ninggalin banyak utang??
    Itu kalung peace apa ada artinya buat jiyeon, jgn2 itu pemberian dari seseorng yg special
    Pokoknya aku suka sama ff ini hehe

  3. huaaaa keren thor cerita nya 🙂
    kasian jiyi harus ngerelain mimpinya sekolah di victory academi padahal jiyi murid yg berbakat. emg ayah nya jiyi kmna? mana pake ninggalin hutang yg byk lagi. kan kasian jiyi sama ibu nya.
    moga aja di skolah jiyi yg baru jiyi tetep bisa mewujudkan mimpinya jadi pianis 🙂

  4. Zulfaaa, bagian pertama ini lumayan panjang yaaa…
    Aku suka sama cara kamu deskripsiin tiap bagian di cerita ini. Cuman ada satu yang ngeganjel, buat aku pribadi ada terlalu banyak imbuhan ”-nya” di beberapa paragraf. Jadi agak gimanaaa gitu bacanya.
    Saran aku sih dikurangi penggunaan imbuhan “-nya”. Tadi dalam satu kalimat aku baca ada 3 imbuhan “-nya”.

    Balik ke cerita.
    Tokohnya blum semuanya muncul yaa, aku kepo sama alur ceritanya sih. Kalau untuk tokohnya sendiri aku nggak masalah(yaa walaupun nggak ada bias aku di sini, hehe).

    Kalung peace(entah ini nama kalungnya bener apa nggak) yang dipake Krystal, kok aku ngerasa kayaknya ada sesuatu dibalik kalung ituu. Bener nggak sih?
    Aku jadi penasaran sama asal muasal kalung ini.

    Satu lagi, aku selalu suka sama quote di akhir ceritanya. Kereen 🙂
    Keep writing ^^

  5. Reblogged this on Mémoire and commented:

    “Ketika Tuhan memberikan cobaan kepada kita, cobalah untuk menghadapinya tanpa keluhan. Karena Tuhan memiliki ribuan alasan yang tak kita ketahui.” -Another Star-

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s