Could We Marry? [Part 1]

Oyewyn. K Present

could-we-marry2

Scriptwriter Oyewyn. K || Poster Designer Aqueera @ Poster Channel || Genre Romance-Fluff || Starred CNBLUE’s Jung Yong Hwa and Actress’s Park Shin Hye || Disclaimer This is original from my mind. No plagiarsm! No Silent readers!

~Story Begin~

.

.

.

.

.

Sepasang anak manusia berjalan beriringan menyusuri jalanan malam kota Cambridge, menikmati indahnya kota besar nan terkenal di Negeri Paman Sam itu. Kedua tangan mereka yang bertautan itu berayun lamban mengiringi langkah kecil kaki jenjang mereka. Keduanya tersenyum bahagia, meskipun udara dingin tapi cinta membuat mereka merasa hangat. Kini tak ada lagi batu sandungan untuk hubungan mereka. Badai telah berlalu dan kini pelangi indah telah tampak di depan mereka. Pelangi indah yang akan mengiringi kebersamaan mereka menuju masa depan yang cerah.

Shin Hye dan Yong Hwa sama – sama terdiam menikmati kebersamaan yang baru saja kembali dapat mereka raih bersama. Senyum indah seolah terpatri permanen di wajah rupawan kedua manusia itu. Kebahagian yang membuat hati mereka berbunga – bunga, kupu – kupu berterbangan dari perut, dan kembang api indah meletup di dada. Mereka hanya sedang terlalu bahagia saat ini dan menikmatinya dalam kebersamaan yang hening.

Kini mereka berdiri  di pinggir sebuah jembatan. Menikmati suara desiran air yang mengalun lembut. Yong Hwa memeluk Shin Hye dari belakang. Dengan posesif Yong Hwa mengalungkan tangan kanannya di leher dan bahu Shin Hye sedangkan tangan satunya memeluk erat pinggang Shin Hye.

“Yongie. . .”

Ne?”

Saranghae. Jeongmal saranghae.

Nado saranghae. Neomu neomu saranghaeyo Jung Shin Hye.

Yya! Namaku Park Shin Hye!”

“Jangan rusak keromantisan ini, sayang.” Ujar Yong Hwa lembut dan mengecup rambut Shin Hye penuh sayang.

Dan kini keduanya kembali dalam keheningan cinta yang indah. Tak ada keindahan, kebahagian, dan kedamaian yang bisa menandingi keheningan cinta mereka.

“Ayo kita pulang. Aku bisa dihajar hyung jika terlalu lama mengajakmu berjalan – jalan di malam hari.”

“Ne. Kajja! Aku mau tidur dan memeluk oppa.” Cengir Shin Hye dan langsung menautkan tangannya dengan Yong Hwa dan berjalan menuju apartementnya bersama dengan Hyun Joong.

Mereka kembali berjalan beriringan dengan kemesraan yang membuat semua orang iri, meskipun keduanya hanya berdiam diri. Tapi itu cukup terlihat manis untuk setiap orang yang berpapasan dengan mereka. Hingga tak terasa kini mereka sudah tiba di kediam Shin Hye dan Hyun Joong.

Oppa! I’m home!!” Teriak Shin Hye begitu berhasil memasukkan kode pengaman pintu apartementnya.

Hyun Joong tidak menyahut tapi dia langsung menghampiri suara riang adik kesayangannya itu dengan senyum manis.

Oppa, kau tahu? Pria itu membiarkan aku kelelahan berjalan kaki. Kasihan kaki indahku ini, padahal besok aku harus bekerja.” Adu Shin Hye berbohong. Hyun Joong tahu itu hanyalah guyonan seorang Park Shin Hye yang selalu ingin melihat wajah kesal dari pria yang dicintainya.

Mwoya? Apa kau bilang? Aku sudah menawarkan diri untuk menggendongmu tapi kau menolaknya. Dan sekarang kau menyalahkanku? Unbelieveable!” Rutuk Yong Hwa

No! Aku yang memintamu untuk menggendongku tapi kau tidak mau. Kau bilang badanku berat.”

Aigoo, Nyonya Jung. Kau benar – benar tak bisa dipercaya.” Gerutu Yong Hwa.

Oppa, i wanna sleep now. I’m tired. And i wanna sleep with you.

Okey dear. Let’s take a sleep now.” Respon Hyun Joong. “Just go away.” Katanya beralih pada Yong Hwa yang sukses menjatuhkan rahanganya melihat dan mendengar sikap Shin Hye.

.

.

.

Mentari kembali bangkit dari peraduannya. Menyinari bumi Cambridge dengan kehangatannya. Pagi ini Shin Hye tidak hanya bersama dengan Hyun Joong tapi juga Yong Hwa yang telah bermalam di sana. Oh ya, hari ini hari Minggu makanya mereka sangat santai menikmatinya. Tak seperti pagi biasanya. Yong Hwa yang menonton televisi tertawa terbahak – bahak karena acara komedi yang ditontonnya. Jujur saja, hal ini sedikit mengganggu Shin Hye dan Hyun Joong yang terbiasa dengan keheningan pagi.

Shin Hye memilih sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Shin Hye tahu Hyun Joong pasti merasa terganggu dengan kebisingan yang Yong Hwa ciptakan, dengan segera ia meminta Hyun Joong untuk membantunya yang sibuk di dapur.

Oppa!! Tolong bantu aku!!” Teriak Shin Hye dari dapur. Dan dengan sigap Hyun Joong segera menghampiri Shin Hye.

Berakhir dengan keduanya sibuk dengan kegiatan memasak.

Yong Hwa menyadari bahwa kini dirinya hanya seorang diri di ruang tengah dan memutuskan untuk mencari Shin Hye di dapur. Dan kenyataan yang dia temukan adalah bahwa Shin Hye dan Hyun Joong sedang asik memasak berduaan. Yong Hwa si pencemburu pun datang dan berusaha mencari perhatian dari belahan jiwanya itu.

Honey, i’m hungry.”

Just wait for a while. Okey?” Hanya itu respon yang didapatnya dari Shin Hye.

Hyun Joong yang memperhatikan itu hampir menyemburkan tawa tapi dia tahan. Tiba – tiba terlintas ide jahil dari otaknya yang melihat Yong Hwa menekuk rapat wajahnya.

“Shin Hye, apa yang harus aku lakukan dengan sayuran ini?”

“Kau harus memotongnya miring, oppa.”

“Seperti ini?”

“Bukan. Seperti ini.” Kata Shin Hye mengajari Hyun Joong dengan memegangi tangan Hyun Joong.

Hyun Joong langsung melemparkan senyum lebar yang sangat menjengkelkan untuk Yong Hwa. Sungguh, saat ini Yong Hwa sangat ingin menyiram wajah Hyun Joong dengan segelas air yang ada di hadapannya.

Oppa, tolong ikat ulang tali apronku ini.” Pinta Shin Hye yang sudah memunggungi Hyun Joong.

Okey, sweetheart.” Pamer Hyun Joong pada Yong Hwa.

“Yya!! Kalian berdua! Hentikan semua ini!” Teriak Yong Hwa frustasi melihat kemesraan mereka yang sangat luar biasa menurutnya.

“Ada apa denganmu, bodoh?” Tanya Shin Hye dengan wajah innoncent.

Mendapat respon dingin itu Yong Hwa hanya bisa bungkam seperti anak kecil yang baru saja mendapat teguran dari ibunya. Hingga akhirnya makanan siap disantap oleh mereka bertiga.

“Selamat makan!” Ucap Shin Hye riang dan mulai memakan hasil makanananya selepas berdoa mengucap syukur atas kebaikan Tuhan padanya. Ketiganya menikmati makanan enak itu dengan lahap tanpa mengeluhkan satu hal pun.

Selepas makan, Shin Hye membereskan meja makan dan mencuci piring. Kali ini Yong Hwa yang tidak mau ketinggalan langkah dari Hyun Joong dengan sigap membantu Shin Hye mencuci semua piring dan perlatan masak yang digunakan oleh Shin Hye tadi. Mereka mencuci piring bersama. Sesekali bercanda dengan mesra. Dengan jahil Yong Hwa menempelkan busa pencuci piring ke hidung mancung Shin Hye. Yang tentu saja dibalas dengan hal yang sama oleh Shin Hye. Tanpa terasa mereka memakan waktu satu jam hanya untuk mencuci piring bersama. Penulis merasa bahwa Yong Hwa bukannya meringkankan pekerjaan Shin Hye tapi justru menambahnya. (abaikan-red).

.

.

.

Neon naege banhaesseo banhaesseo

dalkomhan naesarange nogabeoryeosseo

Neon naege banhaesseo banhaesseo

hwangholhan nae nunbiche chwihaebeoryeosseo

Ponsel Shin Hye berdering tanda panggilan masuk untuknya. Masih dengan rasa kantuk yang kuat Shin Hye meraih ponsel yang dia letakkan di atas nakas itu dan mengangkatnya.

Yeob

Noonaaa!!!” Belum selesai sapaannya sudah terdengar teriakan memanggilnya. Tidak salah lagi itu adalah Kang Min Hyuk. Dan benar itu terbukti saat Shin Hye mengecek ponselnya untuk melihat si pemanggil itu.

Eoh, ada apa Hyukkie?” Tanya Shin Hye dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.

Noona, sudah tidur ya? Ah, mianhe. Noona lanjutkan saja tidurnya.”

“Katakan saja sekarang.” Kata Shin Hye setelah membenarkan suaranya.

Noona, bagaimana kalau kita liburan bersama?”

“Kau tahu sendiri aku malas melakukan hal seperti itu. Lebih baik tidur di rumah.”

Mwo? Yya! Noona! Kau harus mengikuti liburan ini. Titik.” Kata Min Hyuk dengan nada memaksa tapi tetap terdengar manja.

Hmm… aku tidak dapat menolak saranghaneun Hyukkie.” Tukas Shin Hye sedikit mengejek.

Ne, kau tidak dapat menolak pesona Hyukkie.” Balasnya ditambah dengan kekehan kecil. “Aku akan mengirimkan beberapa destinasi liburan untuk kita nanti melalui email. Jaljayo noona. Saranghae.” Imbuhnya lagi.

Nado saranghae, Hyukkie.”

Dan komunikasi itu pun terputus. Min Hyuk kembali melanjutkan kegiatannya di Seoul sedangkan Shin Hye kembali memasuki lama bawah sadarnya.

Kini mentari kembali bersinar seiringan dengan alarm dari jam yang terletak di atas nakas Shin Hye. Wanita cantik itu menggeliatkan tubuhnya yang telah cukup beristirahat meskipun mendapat sedikit gangguan di tengah malam tadi. Dengan sigap Shin Hye melangkahkan kakinya menuju kamar mandi kemudian membuat sarapan sederhana berupa roti panggang dan selai untuk dirinya dan Hyun Joong.

Good morning.” Sapa Hyun Joong yang telah lengkap menggunakan jas hitam untuknya bekerja.

Morning oppa.” Balas Shin Hye diakhiri dengan kecupan singkat di pipi kakak tersayangnya itu.

Kemudian mereka duduk di bangku masing – masing dan mulai menikmati sarapan pagi sederhana mereka dengan penuh ketenangan, tidak seperti beberapa hari lalu ketika Yong Hwa menginap bersama mereka. Dan setelah itu mereka langsung berjalan beriringan menuju lobby untuk mengambil mobil dan siap berangkat menuju kantor. Mereka siap melaksanakan setiap tugas dan kewajiban mereka sebagai seorang pemimpin perusahaan.

.

.

.

Tap. Tap. Tap.

Suara derap  sepatu mengiring langkah seorang pria yang membawa seikat bunga liar memasuki wilayah perkantoran Shin Hye. Dengan senyum gagah dan langkah penuh percaya diri dia bergegas menuju ruangan kekasih hatinya. Dia sudah tidak sabar melihat senyum bahagia kekasihnya yang mendapat bunga liar indah darinya. Dia tidak sabar mendapat ungkapan terimakasih berupa kecupan hangat dari bibir manis kekasihnya. Dan dia tidak sabar untuk mendapatkan ungkapan kata cinta sederhana dari wanita diklaim sebagai miliknya itu.

Kriiet…

Pria tampan itu membuka pintu dengan pelan. Dan pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah seorang wanita anggun sedang terpaku pada layar laptop di depannya. Entah apa yang dilihat wanita itu, tapi itu sukses membuat sang wanita tidak menyadari kehadiran dirinya di ruangan itu. Dengan langkah perlahan di mendekati wanita itu untuk memberi sedikit kejutan. Mungkin. Hingga kini dia berdiri di belakang singgah sana milik seorang Park Shin Hye.

Gyut.

Dicoleknya bahu wanitanya itu. Tentu saja wanita itu langsung menoleh ke belakang dan mendapati seikat bunga liar indah kesukaannya di depan wajahnya. Pria itu sukses, Shin Hye tersenyum senang.  Masih sibuk berkutat dengan bunga yang didapatkannya, Yong Hwa pun memunculkan dirinya yang sedari tadi berjongkok di belakang singgah sana Shin Hye.

“Kau tidak mau mengucapkan terimakasih? Atau kecupan untukku? Atau mengatakan kau mencintaiku?” Tukas Yong Hwa, mungkin lebih bertanya akan hal – hal yang sudah dia pikirkan sedari tadi.

“Kau sungguh pamrih tuan.” Itu jawaban dari Shin Hye.

Hhh, lebih baik aku kembali ke kantor dan makan siang bersama sekretaris baruku yang cantik.” Yong Hwa melangkah sangat perlahan menuju pintu keluar, berharap Shin Hye akan mecegahnya.

Ga! Aku akan makan siang bersama dengan klien baru yang tampan.” Kata Shin Hye sedikit mengeraskan suaranya agar Yong Hwa dapat mendengar itu dengan jelas.

Shin Hye terkikik kecil menahan ledakan tawa yang sedari tadi ia tahan. Sangat menyenangkan menggoda Yong Hwa-nya itu. Yong Hwa yang mendengar itu menatap Shin Hye tajam dan melangkah cepat keluar. Melihat itu Shin Hye melangkah cepat mengejar Yong Hwa dan memeluk pria tampannya dari belakang.

Thank you, bee. I love you.

Sebenarnya Yong Hwa telah luluh dengan dua kalimat sederhana dari bibir manis Shin Hye. Oh tidak, dia telah luluh sejak Shin Hye memeluknya erat dari belakang. Tapi dia bersikeras untuk tidak mempedulikan Shin Hye. Mungkin ini lebih disebut gengsi.

“Mana kecupannya?” Kata Yong Hwa datar.

Mwoya? Ini di kantor, sayang.”

“Kecup aku atau aku yang mengecupmu. Sekarang.” Tegas Yong Hwa. “Di sini.” Tunjukknya pada bibirnya.

Bergegas Shin Hye mengecup bibir Yong Hwa, niatnya hanya sekilas tapi ternyata Yong Hwa telah lebih dulu menahan tengkuknya. Kini itu bukan hanya sekedar kecupan melainkan cumbuan. Yong Hwa menyesap lembut bibir cherry Shin Hye. Bibir yang selalu dia rindukan, bibir yang telah menjadi candu untuknya. Yong Hwa menyalurkan setiap perasaaannya melaluiu cumbuan dalam itu. Semua pegawai yang melihat mereka hanya bisa tersenyum. Entah jenis senyum apa itu, hanya mereka yang tersenyum yang mengerti arti senyuman itu.

Baru saja Hyun Joong akan menghampiri dua insan yang dimabuk cinta itu tapi mereka telah melepaskan diri dengan sendirinya.

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Tidak ada hyung. Kami hanya ingin makan siang bersama. Hyung mau bergabung?” Tukas Yong Hwa seolah tidak terjadi apapun di antara dirinya dan Shin Hye. Sedangkan Shin Hye, wajah wanita itu sudah memerah seperti tomat. Dia hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya dari semua orang.

“Ayo, kita makan siang.” Hyun Joong ikut bertingkah seolah tidak terjadi apa – apa karena melihat Shin Hye yang sudah malu setengah mati karena ulah Yong Hwa.

Mereka pun berjalan beriringan keluar kantor menuju salah satu restoran yang tak jauh dari kantor Shin Hye. Mereka memesan makanan masing – masing dan menunggu dengan tenang.

Yong Hwa sibuk membayangkan hal yang baru saja dia lakukan. Sedangkan Shin Hye sibuk memikirkan bagaimana dia harus bersikap pada pegawainya. Hal ini pasti akan segera menyebar ke setiap sudut kantor saat mereka selesai menikmati makan siang mereka.

Makanan mereka telah tiba, dan masing – masing menikmati pesanan mereka. Sesekali ketiganya bercakap – cakap ringan membicarakan hal yang tidak ada hubungannya sama seklai dengan pekerjaa. Hingga akhirnya Shin Hye mengingat bahwa Min Hyuk menelponnya semalam.

“Min Hyuk menelponku semalam. Dia mengajak kita untuk berlibur. Bagaimana?”

“Itu ide yang bagus. Sudah lama kita tidak berlibur bersama. Aku ikut.” Putus Yong Hwa semangat.

“Aku juga. Kita bisa menyerahkan pekerjaan kita pada bawahan. Tidak ada pekerjaan berat yang harus kita tangani belakangan ini.” Timpal Hyun Joong.

“Ini pilihan destinasi yang dikirmkan Min Hyuk padaku.”

“Bali, lombok, sulawesi, dan papua. Semuanya berada di Indonesia.”

“Ya, aku juga sudah mencari sedikit informasi mengenai destinasi itu dan semuanya sangat bagus dan indah. Banyak beberapa spot yang baru sedikit dijamah oleh para turis.” Jelas Shin Hye.

Vacation!!! We’re coming!!!” Seru Yong Hwa semangat.

“Aku ingin ke papua. Itu adalah surga bagi Indonesia. Sangat banyak keindahan di sana yang jarang dinikmati oleh wisatawan.”

“Kau benar oppa. Aku ingin ke Raja Ampat. Aku sangat tertarik dengan destinasi wisata yang satu itu. Woaahh, melihat gambarnya saja aku sudah tergiur. Apa lagi jika melihatnya langsung.” Timpal Shin Hye menanggapi perkataan Hyun Joong.

Okay! Papua, tunggu kami!” Seru Yong Hwa sekali lagi menyetujui perkataan Shin Hye

“Baik, aku akan segera mengabari Min Hyuk.” Tukas Shin Hye mengakhiri topik bahasan mereka. “Ah, jaman makan siang telah berakhir ayo kita kembali ke kantor, oppa.” Imbuh Shin Hye mengajak Hyun Joong.

“Bagaimana denganku?” Tanya Yong Hwa menunjuk dirinya sendiri.

“Ya kembali ke kantormulah. Bodoh.” Respon Hyun Joong.

.

.

.

Kini mereka siap untuk berangkat setelah menyiapkan segala keperluan dan persyaratan untuk berlibur ke Papua. Semua orang sangat bersemangat. Semuanya berangkat dari Seoul karena memang mereka harus mengurus surat – surat perizinan mereka dari sana. Romobongan mereka berjumlah tujuh orang yang terdiri dari Hyun Joong, Yong Hwa, Jong Hyun, Min Hyuk, Jung Shin, Shin Hye, dan So Min. So Min adalah kakak perempuan Yong Hwa yang diajak untuk menemani Shin Hye, tidak mungkin Shin Hye bisa melayani kelima pria itu seorang diri ditambah lagi dengan sikap mereka yang terkadang super kekanakan. Tapi keberangkatan mereka tidak langsung ke Papua, melainkan transit terlebih dahulu di Jakarta dan setelah itu bersama dengan seorang tour guide mereka melakukan perjalanan menuju Papua. Perjalanan mereka menempuh jarak yang sangat jauh karena memang tujuan mereka adalah salah satu ujung Indonesia, Pulau Pupua yang sangat terkenal keeksotisannya. Sesampai di Papua mereka memilih untuk menginap di sebuah hotel terlebih dahulu untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sangat kelelahan dan mengalami jetlag karena perjalanan yang sungguh sangat jauh.

Setelah istirahat selama beberapa hari mereka mulai melakukan trip liburan mereka di Papua ini. Pertama tama mereka mengunjungi salah satu taman wisata yang bernama Taman Wisata Teluk Cendrawasih. Di sana mereka akan menikmati pemandangan bawah laut yang sangat indah sekaligus terbesar di Indonesia. Di sana terdapat bermacam – macam karang dengan warna yang sangat indah begitu juga dengan keanekaragaman ikan yang hidup di sana. Selain itu di sana juga terdapat permandian air panas alami yang mengandung belerang yang tentunya sangat baik untuk kesehatan kulit. Ini pasti akan menjadi bagian terbaik untuk Shin Hye dan So Min. Oh, dan juga Min Hyuk yang sangat merawat kulit susunya itu.

diving-hiu-pausshannon

Ini adalah wisata laut terindah yang pernah dijelajahi oleh mereka. Mereka bisa melakukan diving secara langsung bersama hiu paus dan juga lumba – lumba yang berenang tenang di sekitar mereka tanpa harus takut akan ancaman kebuasan apapun. Bahkan Shin Hye dengan beraninya menopangkan tubuhnya untuk dibawa berkeliling oleh salah satu hiu paus yang ada di sekitarnya. Mereka semua sangat terpukau akan kekayaan alam bumi papua. Benar – benar berbeda dengan tempat lain. Tempat ini sungguh pantas disebut surga laut.

Setelah puas menikmati wisata bawah laut itu mereka pergi ke Pulau Mioswaar, menikmati pemandian air panas  yang kaya akan belerang. Di sana mereka merilekskan setiap saraf dan  otot mereka yang sudah lelah berenang dan bermain bersama dengan hewan laut yang mereka kunjungi.

“Ini sungguh menakjubkan. Aku sangat puas berlibur di sini.” Tukas Shin Hye dengan mata terpejam menikmati hangatnya air yang merilekskan setiap saraf tubuhnya.

“Kau tidak menyesal membuang uangmu untuk liburan ini, bukan?” Sambung Hyun Joong dengan nada yang sedikit mengejek.

“Hei! Kalau ini namanya bukan membuang uang. Tapi menikmati surga dunia.” Timpal Jung Shin dengan posisi yang sangat santai.

Hhh, noona ini. Ini baru satu destinasi. Kita masih punya sembilan tempat lain yang akan kita kunjungi.” Tanggap Min Hyuk sang penggagas liburan mereka kali ini.

Jangan ada yang mengira bahwa mereka berada di satu kolam yang sama. Shin Hye dan So Min mereka memang berada di kolam yang sama tapi tidak dengan pria – pria itu. Pria – pria itu ada di kolam sebelah.

Mereka selesai menikmati setiap fasilitas alami yang di sediakan Papua dan segera kembali ke penginapan untuk istirahat dan menyiapkan kembali tubuh mereka untuk perjalanan besok menuju Danau Sentani, danau terbesar di Papua dengan luas 9.360 hektar.

“Nona, apa tempat wisata di Papua ini hanya berjumlah sepuluh?” Tanya Min Hyuk kepada tour guide mereka.

“Tentu saja tidak, tapi inilah yang terbaik dari Papua. Ya meskipun wisata lain tak kalah indah dari sepuluh tempat yang akan kalian kunjungi.” Jawab sang tour guide yang bernama Wulan.

“Apa semua tempat wisata di Indonesia sama seperti di Papua?” Kali ini So Min yang bertanya.

“Tentu saja tidak. Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang memiliki keanekaragaman suku, budaya, kuliner, dan kekayaan alam yang unik.” Tanggapnya. “Mungkin jika semua wisata di Indonesia sama seperti di Papua itu menjadi membosankan.” Imbuhnya lagi.

“Tapi kenapa kau sangat menyarankanku untuk memilih Papua sebagai tujuan liburan kami jika memang seluruh Indonesia memiliki keindahan?” Min Hyuk kembali bertanya.

“Papua adalah daerah terluar Indonesia yang selama ini kurang diketahui dan dimintai oleh turis luar negeri. Selama ini turis hanya mengetahui Bali sebagai destinasi wisata pilihan asal Indonesia. Jadi pada intinya aku hanya ingin mengenalkan Papua kepada wisatawan asing yang salah satunya adalah rombongan kalian ini. Dan satu hal lagi, Papua adalah harta berharga yang Indonesia miliki.” Balas gadis itu.

Perjalanan ini pun berakhir dengan percakapan panjang antara Min Hyuk dengan Wulan sang tour guide mereka. Sedangkan yang lain sudah tertidur karena kelelahan. Sebenarnya ada sedikit rasa tertarik dari Min Hyuk terhadap tour guide-nya ini, makanya sedari tadi dia ingin mendekatinya dengan bahan pendekatan mengenai wisata.

.

.

.

Sesuai dengan perencanaan kali ini mereka akan menyambangi Danau Sentani.  Danau indah yang dikelilingi oleh 21 pulau yang berada di ketinggian 75 meter di atas permukaan laut. Di sini mereka tidak akan melakukan kegiatan yang melelahkan. Mereka hanya akan memancing dan memuaskan lidah mereka dengan berbagai macam kuliner yang memanjakan lidah dan perut kosong mereka.

wisata-danau-sentani-dimana126469_620danau-sentani-1

Shin Hye memancing bersama dengan Yong Hwa. Awalnya dia ingin mencoba itu sendiri tapi ternyata dia gagal, Yong Hwa melihat itu terkikik geli tapi kemudian dia membantunya. Dan tak lupa mengambil kesempatan dalam kesempitan itu.

Dengan segera Yong Hwa menghampiri Shin Hye menuju punggung wanitanya itu. Dia memegang tangan wanitanya yang sedang menggenggam alat pancingnya seolah memeluk Shin Hye.

“Kau benar – benar tidak mampu melakukan apapun, sayang.” Ini sebuah ejekan meskipun ada kata sayang diakhir kalimatnya. “Calon suamimu ini akan dengan senang hati mengajarimu sampai mahir.” Imbuh Yong Hwa sebelum Shin Hye melayangkan balasan atas ejekannya.

“Kau harus menggenggamnya erat seperti ini.” Tukasnya sambil mengeratkan genggaman tangannya dan Shin Hye terhadap alat pancing Shin Hye. Sungguh ini hanyalah sebuah modus dari seorang Jung Yong Hwa.

“Dan harus melemparnya dengan kekuatan besar seperti ini.” Katanya lagi sambil mengayunkan tangannya, tangan Shin Hye, dan alat pancing yang mereka genggam ke atas dan mengayunkan kembali ke bawah seolah melempar alat pancing itu.

Dan modus itu diakhiri dengan kecupan singkat dari Yong Hwa di pipi Shin Hye.

Di sisi lain, Min Hyuk memancing bersama Wulan yang ternyata sangat mahir dan cukup kuat untuk menarik ikan besar yang ditangkapnya seorang diri. Sedangkan Jung Shin dan Jong Hyun memancing sendiri – sendiri dan sesekali saling menjahili satu sama lain. Sedangkan Hyun Joong dan So Min hanya duduk santai menatap teman – temannya memancing. Merka menunggu hasil tangkapan teman – temannya itu.

“Kau sangat kuat ya nona.” Tukas Min Hyuk yang melihat Wulan sangat kuat menarik ikan hasil tangkapannya.

“Ah, tidak. Masih lebih kuat ibu – ibu asli Papua ini.”

“Tapi aku tidak pernah mengenal perempuan yang sekuat dirimu sebelumnya.”

“Hahaha. Kau bisa saja tuan.”

“Ah, jangan memanggilku seperti itu. Panggil saja aku oppa, kau baru berusia dua puluh tahun bukan?”

Ne tuan… ah maksudku oppa. Tapi kau juga jangan panggil aku nona. Bisakah kau panggil aku Wulan? Jika itu tidak nyaman kau bisa memanggilku Min Ji.”

“Baiklah Ji-yi

Wulan mahir berbahasa Korea karena dia pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke Korea. Tepatnya di In Ha University. Jadi selama ini mereka berbicara dengan mudah dalam bahasa korea. Karena Wulan melihat sudah cukup hasil tangkapan ikan mereka ia memutuskan untuk menyiapkan bahan untuk mengolah ikan air tawar yang berhasil mereka pancing.

Dengan cekatan Wulan menyiapkan bumbu dan rempah – rempah sesuai dengan kebutuhan yang dia perlukan. Dia memasak dengan lihai dan sangat cekatan. Setelah beberapa waktu untuk memasak berbagai macam olahan ikan tersaji di meja yang disiapkan oleh Shin Hye dan So Min. Semua olahan berupa masakan Papua.

Woaah… ini benar – benar enak Ji-yi!” Puji Min Hyuk yang mulai menyantap hasil masakan Wulan.

“Kau terlalu berlebihan oppa.” Balas Wulan tersipu akan pujian Min Hyuk.

“Ji­-yi? Nugu?” Tanya Jung Shin bingung dengan perkataan Min Hyuk.

“Aku. Jika kalian sulit atau merasa tidak nyaman memanggilku Wulan kalian bisa memanggilku dengan nama Min Ji.” Tukas Wulan menjawab kebingungan Jung Shin.

“Lalu kenapa kau memanggil Min Hyuk dengan sebutan oppa?” Kali ini Jong Hyun mengungkapkan isi pikirannya.

“Karena dia lebih muda dariku. Aku berusia 25 tahun dan Ji-yi berusia 20 tahun. Itu adil.” Kali ini Min Hyuk yang menjawab kebingungan Jong Hyun sambil merangkul erat pundak Wulan. Dia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mungkin ini dia pelajari dari Yong Hwa.

“Itu tidak adil karena itu berarti dia juga lebih muda dari kami dan harus memanggil oppa kepadaku, Jung Shin, Yong Hwa hyung, dan Hyun Joong hyung.” Kata Jong Hyun menanggapi alibi Min Hyuk.

“Dan juga memanggilku dan So Min eonni dengan sebutan eonni.” Tambah Shin Hye.

“Baiklah aku akan menyanggupinya. Tapi ada baiknya kita habiskan semua ini. Jika tidak tolong pilihlah yang benar – benar ingin kalian makan dan masakan utuh lainnya akan ku berikan pada mereka.” Katanya dan menunjuk beberapa penduduk asli yang duduk tak jauh dari mereka.

Dan mereka pun kembali menikmati makanan yang telah dimasak oleh Wulan dengan nikmat sambil berbincang kecil dan juga diselipi kemesraan antara Yong Hwa dan Shin Hye serta si pemuda yang sedang jatuh cinta Kang Min Hyuk terhadap Wulan. Dan hari ini mereka tutup dengan menikmati sunset di Dana Sentani

.

.

.

Kali ini mereka akan mengunjungi Lembah Baliem tempat beberapa suku Papua bermukim. Perjalanan dari tempat mereka menginap ke Lembah Baliem cukup rumit dan berliku sehingga membuat beberapa dari mereka merasa mabuk. Tapi sungguh mereka terkagum dengan pemandangan yang disediakan oleh Tuhan selama perjalanan. Sungguh sangat indah. Tak hentinya mereka memuji keindahan tanah Papua yang baru pertama kali mereka ketahui dan kunjungi. Mereka berharap bahwa mereka adalah orang Korea pertama yang dapat menikmati pemandangan yang sangat menakjubkan ini.

panorama-lembah-baliem

SAMSUNG CSC

lembah_baliem_01

 Pertama kali mereka menginjakkan kaki di sana mereka terkaget karena adanya perempuan yang berteriak minta tolong karena diculik. Yang kemudian terlihat beberapa orang yang menggunakan pakaian perang adat dari beberapa pasukan dari dua suku berbeda. Tapi yang unik adalah adanya musik yang mengiringi peperangan ini.

“Ada apa ini Ji?” Tanya Min Hyuk penasaran dengan wajah yang tak lepas memandang apa yang terjadi.

“Bisa dikatakan itu adalah pertunjukkan drama. Dulu di sini memang sering terjadi perang saudara antar suku. Kini itu tidak pernah terjadi lagi tapi diganti dengan festival dan pertunjukkan drama perang saudara. Dan itulah yang sedang kita saksikan saat ini.” Jelas Wulan masih tetap menonton pertunjukkan yang disediakan oleh penduduk asli.

Di Lembah Baliem ini mereka bertahan selama tiga hari karena festival itu berlangsung selama tiga hari lamanya. Dalam tiga hari itu Yong Hwa sungguh memanfaatkan keadaan untuk terus bersama dengan Shin Hye. Tangan mereka tak pernah terlepas, selalu terpaut erat. Mereka berjalan – jalan mengunjungi setiap stand yang berdiri dalam festival itu.

Chagiya, lihat itu!” Seru Yong Hwa menunjuk seorang pria dewasa berkulit gelap asli Papua yang sedang memahat sebuah patung dari kayu. Mereka berdua pun berjalan menghampirinya.

“Ayo kita beli sebagai oleh – oleh untuk eomma dan appa.” Pinta Shin Hye berbinar, karena hasil pahatan itu sungguh sangat unik dan indah. Penuh dengan ukiran detail yang rumit namun hasil buatan tangan manusia. Sungguh sangat kreatif, pikir Shin Hye.

Mereka pun membeli beberapa patung kayu itu dan kembali melanutkan perjalanan mereka mengunjungi beberapa stand yang memikat mereka. Menikmati festival ini menjadi kesempatan untuk mereka membeli buah tangan untuk orang – orang terdekat mereka. Hasilnya, tangan mereka penuh dengan belanjaan berupa patung kayu, tas, kain, dll. Hal ini juga berlaku pada yang lainnya terkecuali Wulan yang memang sudah beberapa kali menjadi tour guide untuk turis yang mengunjungi Papua.

“Bagaimana perasaan kalian setelah menjelajahi sebagian kecil Papua?” Tanya Wulan mulai membuka pembicaraan.

“Luar biasa! Sungguh, di sini masih sangat asli. Ditambah lagi dengan penduduk yang sangat ramah.” Jawab Jung Shin sambil mengacungkan dua jempolnya mantap.

“Aku jadi ingin menjelajahi bagian lain dari Indonesia.” Kali ini So Min bersuara menyetujui tanggapan Jung Shin tadi.

Yang lain pun juga menanggapi pertanyaan Wulan dengan positif.

Mereka pun berjalan – jalan bersama menyusuri Lembah Baliem dengan semangat, menikmati setiap pemandangan indah yang tersaji untuk mata mereka.

“Ayo kita foto bersama!” Ajak Jong Hyun.

“Ya! Kita belum pernah berfoto selama di sini.” Setuju Jung Shin.

“Mari, biar aku foto kalian.” Seru Wulan sambil meminta kamera yang dipegang oleh Hyun Joong.

Klik.

Satu foto telah didapat.

“Ayo ganti gaya!” Seru So Min.

Klik.

Foto dengan gaya bebas yang sedikit absurd didapatkan oleh Wulan.

“Aku ingin foto berdua dengan Shin Hye!” Seru Yong Hwa agak keras.

“Baiklah, akan ku foto kalian.” Respon Wulan yang mendengar permintaan Yong Hwa.

Hasil fotonya sangat bagus. Mereka mengalami backlight tapi itu membuat foto mereka menjadi berupa siluet pria yang sedang mencium kening wanitanya penuh sayang. Dan juga beberapa foto lain yang mengagumkan dengan background indah bumi Papua.

Dan selepas itu mereka langsung melanjutkan perjalanan ke Desa Wisata Sauwandarek. Mereka akan melakukan home stay di sana di rumah salah seorang penduduk. Para pria berada di rumah yang sama dan para wanita berada di satu rumah yang lain.

.

.

.

Kini mereka tiba di tempat terakhir untuk liburan mereka, yaitu Raja Ampat. Wisata nomor satu yang dimiliki oleh Papua. Kebanggan Papua. Pesona indah yang selalu membuat mata jatuh cinta padanya. Raja Ampat terdiri dari empat pulau yang menjadi sebab mengapa temapt itu dinamakan Raja Ampat. Tempat yang merupakan surga bagi 75% biota laut dunia, yang terdiri dari 1.511 ikan dan penyu laut. Siapapun bebas menyelam di sini kapanpun.

balbulol3-1024x651photo-by-ethan-daniels-raja-ampatraja-ampat-6

Sungguh sangat indah. Ini membuat Yong Hwa berpikir akan menjadi pengalaman tak terlupakan jika melamar Shin Hye di tempat ini. Meskipun mungkin hanya dengan cara yang sangat sederhana, jauh dari kata romantis dan mewah. Dan dia merundingkan pada semua rombongannya terkecuali Shin Hye tentunya. Akhirnya dengan kerja sama bersama pihak setempat mereka menyiapkan acara pelamarn bawah laut dari seorang Jung Yong Hwa.  Di sebuah batu karang di kedalaman 50 meter sudah terdapat kain putih bertuliskan You MUST Marry Me, Park Shin Hye! yang nantinya akan dipegang oleh Yong Hwa. Tapi untuk menuju tempat itu Shin Hye harus melalui beberapa petunjuk lain berupa kain putih dnegan tulisan -tulisan lain.

“Noona! Aku bertaruh kau tidak berani menyelam sendirian di tempat ini!” Tukas Min Hyuk memancing Shin Hye agar menyelam sendirian menuju kejutan untuknya.

“Aku berani! Kalian saja baru berani menyentuh hiu paus setalh aku melakukannya.” Shin Hye terpancing.

“Baiklah ayo lakukan! Kata Wulan di bawah sana akan ada petunjuk kemana kau harus berenang untuk dapat melihat keindahan laut Raja Ampat.”

“Baik. Aku akan mengganti pakaianku dan bersiap.” Tukas Shin Hye dan pergi menyiapkan dirinya.

Dan di perahu dia bertemu dengan Wulan yang akan memandunya.

“Aku rasa oppa telah memberitahu eonni untuk mengikuti petunjuk yang telah aku letakkan di dalam sana.”

“Iya. Jadi kapan aku bisa memulainya?”

“Kapanpun eonni mau.”

“Baiklah. Aku pergi. Sampai nanti!”

Byurr.

Shin Hye memulai acara menyelamnya. Dia terus menyelam ke dalam emngagumi setiap warna – warna indah dari makhluk laut di sana. Tapi di kedalaman 10 meter ada sebuah petunjuk arah dan sebuah kalimat bertuliskan KAU ADALAH YANG TERINDAH UNTUKKU. Dan Shin Hye kembali mengikuti arah yang telah ditunjuk dalam kain petunjuk itu.

Di kedalaman dua puluh meter kembali ada petunjuk arah dan kalimat lain yang bertuliskan KAU ADALAH KEHIDUPANKU. Shin Hye tersenyum haru, dia sadar ini adalah perbuatan dari prianya. Dan kembali mengikuti arah itu sambil tetap menikmati prmandangan bawah laut yang sangat memanjakan matanya.

Kembali lagi Shin Hye menemukan kain petunjuk dan bertuliskan sebuah kalimat KAU TIDAK BISA HIDUP TANPA DIRIKU. Itu ditemukan di kedalaman tiga puluh meter. Membaca kalimat itu Shin Hye tertawa kecil dan mengangguk membenarkannya. Untung saja sedari tadi Shin Hye menyalakan kamera bawah lautnya dengan mode video jadi dia merekam semuanya.

Berikutnya di kedalaman empat puluh meter terdapat petunjuk dan kalimat lain lagi KAU TIDAK AKAN BISA MEMBENCIKU. Kalimat yang lagi – lagi dibenarkan oleh Shin Hye. Dia memang tidak bisa membenci Yong Hwa apapun yang terjadi di antara mereka. Karena dia sangat mencintai prianya itu.

Dia kembali mengikuti petunjuk itu akan tetapi dia tidak menemukan apapun di kedalaman lima puluh meter itu. Dia melihat sekeliling dan semua kosong tak ada petunjuk apapun hanya karang besar dan biota – biota laut penghuninya. Tapi tiba – tiba ketika dia kembali berbalik sudah ada seorang pria muncul dari balik karang besar itudengan memegang sebuah kain yang bertuliskan YOU MUST MARRY ME, PARK SHIN HYE! Shin Hye berkaca – kaca, dia sangat bahagia. Masih dengan keterkejutannya Yong Hwa mendekati Shin Hye dengan posisi seperti berlutut memohon. Dia mengambil tangan kanan Shin Hye dan menyelipkan sebuah cincin sederhana dari rotan yang terlihat cukup cantik untuk dikenakan wanita itu. Adegan ini hanya diakhiri dengan pelukan penuh kehangat, tidak ada ciuman karena itu tidak memungkinkan. Dan setelah itu mereka menyelam bersama menikmati pesona bawah laut Raja Ampat.

To Be Continued

HUAAAAHHHH!!!! Bagaimana? Memuaskan gak?? Jujur sebenarnya aku merasa ini agak melantur juga tapi Cuma ini yang terlintas dipikiranku. Alasan lainnya adalah karena aku mau kita ga Cuma melihat pesona luar negeri tapi juga dalam negeri yang bahkan gak akan ada habisnya untuk dikagumi oleh diri kita sendiri. Btw, maaf klo mengecewakan. Maaf juga kalo misalnya YongShin momennya sangat sedikit. Semoga Could We Marry Part 2 akan lebih memuaskan lagi.

Saranghae.

Advertisements

9 thoughts on “Could We Marry? [Part 1]

  1. Lamaran di bawah laut? Waawww 🙂 so romantic.

    Apalagi destinasi raja ampat, kebayang gak sih? Kalau ada yang lamaran di situ.. kkkkk

  2. Agneeeess….
    postermu udah jadi, aku publish di wpku liahanif.wordpress.com
    HPku ilang nes, HP suamiku jg ilang. Rugi banyak banget ini jutaan. Huweeee….
    Kabarin Apel ijo sama Ayun, poster mereka blm jadi. Tpi kalo Ayun, yang 1 udah jadi deng.
    Suruh mereka sms ke q ya nes 085791462829

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s