Chemical Equilibrium by ZulfArts

tumblr_nekh2dLPiO1u0ik2wo1_500.jpg

 

 

Shawn x Bobby

Enjoy!

 

Perbedaan yang membuat kita satu. Kalimat itu didengar Bobby beberapa waktu lalu dari kakak kelasnya yang tengah mengincar gadis cantik dengan kepribadian berbanding terbalik seperti dirinya. Baguslah, Jinhwan berhasil membuat Bobby sedikit lebih percaya diri untuk mendapatkan hati Shawn.

Pasalnya, kepribadian mereka layak disamakan dengan minyak dan air, langit dan bumi, juga putri dengan seekor itik buruk rupa. Bobby tahu, wajahnya dianugerahi sedikit ketampanan yang sisanya berupa sifat tengil. Pemuda itu senangnya usil. Alih-alih bersikap romantis kepada Shawn, Bobby lebih memilih mengganggu gadis itu sebagai gantinya.

Shawn, si gadis pintar berkacamata, selalu memakai rok di bawah lutut, dan buku tebal khas mahasiswa kedokteran selalu ada di pelukannya. Terkadang, Bobby berpikir kenapa ia tak dilahirkan saja sebagai buku kedokteran yang sekali pandang langsung bikin ngantuk? Setidaknya benda itu jauh lebih beruntung untuk bisa berada di pelukan gadis polos semacam Shawn, bukannya diacuhkan karena terlihat seperti preman layaknya Bobby ketika sedang mengganggu gadis itu.

“Shawn, pacarmu itu buku tebal yang bikin ngantuk, ya? Kenapa tak coba berkencan denganku? Siapa tahu buku tebalmu itu mengajakku duel untuk berebut gadis calon dokter.” Bobby menyejajarkan langkahnya dengan gadis itu. Shawn bukan gadis yang dingin, dia kelewat polos. Sampai-sampai raut wajahnya terlihat ketakutan setiap berada di dekat pemuda tengil itu. Shawn bukan tipe gadis cuek, tapi tipe gadis rumahan yang polos nan penurut. Apalagi kepada orang tuanya.

Suatu yang patut dibanggakan, sih. Setiap selesai melewati kuliahnya, tanpa ba-bi-bu pasti gadis itu langsung berpendar menuju halte. Gadis penurut itu selalu sampai di rumahnya tepat waktu.

Dan Bobby terlalu berbanding terbalik dengan gadis itu.

Bobby selalu nongkrong di kampus sebelum pulang. Tangannya bukan penuh dengan buku tebal, melainkan udara hampa nan kosong. Tak ada yang digenggamnya selain sebuah ransel lunglai berwarna biru donker yang sudah bladus setia bertengger di pundak kanannya. Tatapannya bukan takut dan polos, tapi tengil dan tak jarang menantang. Bahkan teman-temannya pun kadang ingin meninju wajahnya, entah dalam motif apa.

“A-Aku mau pulang..” Shawn menjawab dengan suara pelan. Matanya kentara sekali menghindari saling pandang. Banyak orang yang bilang Shawn itu gadis tak sopan, gara-gara matanya yang tak mau beradu ketika sedang bercakap. Padahal Bobby yakin sekali, gadis itu hanya kaku dan takut dengan orang-orang yang belum cukup dekat dengannya.

Lantas, apa yang harus Bobby lakukan?

Jadilah sekarang ia bertemu Hanbin. Anak fakultas ilmu kimia yang katanya bisa disamakan dengan dokter cinta. Bobby sebenarnya tak mau mengakui itu, Hanbin hanya seorang pecandu polly pocket yang syukurnya dianugerahi otak yang lumayan cerdas.

“Dalam sains, ada yang disebut hukum kesetimbangan kimia. Di mana jika kau membiarkan air yang mengisi setengah botol yang ditutup rapat tak lagi terlihat proses menguap-mengembunnya, berarti mereka telah memasuki titik kesetimbangannya.”

“Hanbin, kau tahu aku bodoh. Jangan dipersulit begitu, lah.” Hanbin hanya menatapnya datar, mencoba mencari padanan kata yang tepat untuk menyetarakan otak cerdasnya dengan otak pas-pasan milik Bobby.

“Begini, kau dan Shawn itu kan kentara sekali perbedaannya. Salah satu cara untuk membuat kalian melebur tanpa terlihat sesuatu yang aneh adalah dengan menggunakan hukum kesetimbangan. Coba dekati dia baik-baik, jangan diganggu terus! Siapa tahu Shawn bisa luluh,” Hanbin mulai mengalihkan atensinya pada manhwa yang isinya cerita romantis. Bobby berpikir sejenak, bagaimanapun caranya ia harus mengerti apa yang temannya bilang.

*l**

Saat itu, Shawn hendak menuju halte untuk pulang. Seperti biasa, gadis itu memakai pakaian feminin berwarna lembut di bawah lutut. Tangannya seakan enggan melepas buku tebal dengan berbagai nama latin di dalamnya. Okulusnya mengarah ke bawah, menampakkan bahwa gadis itu benar-benar tak ingin banyak berinteraksi dengan orang lain dan mengharapkan kakinya segera menapaki pelataran rumah.

Latarnya pas sekali, langit selimut oranye menyemarakkan angin sore. Bobby sudah janji pada dirinya sendiri, untuk beberapa menit saja tak akan bersifat tengil agar bisa mendekati Shawn. Kata-kata Hanbin sebelumnya cukup nempel sampai ia berusaha jalan santai sambil menyejajarkan langkahnya dengan Shawn.

Gadis itu sontak terkaget, niatnya tak ingin berinteraksi dengan siapapun malah mendapati pemuda yang senang mengganggunya tepat di sebelahnya. Ia berjalan cepat-cepat, masih merasa takut dengan pemuda itu. Bahkan ada organ di dada sebelah kirinya yang berdetak cukup cepat, juga wajah yang terasa begitu panas. Kenapa Shawn bisa berlebihan begini, ya?

“Jangan jalan cepat-cepat, Shawn! Aku hanya akan mengantarmu. Hari sudah sore, kupikir akan banyak orang jahat menjelang malam,” perkataan Bobby sukses membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Shawn terjebak di dalam sebuah kehidupan monokrom. Antara pasrah dan menolak, antara ingin menentang dan kaku, juga pura-pura berani dan takut. Semuanya seperti perhitungan binomial, jika jawabannya bukan ya, pasti berakhir tidak. Shawn terlalu polos bahkan untuk menimang pikirannya sendiri.

Jadilah dia duduk pada jok bus bersama pemuda sipit itu sekarang. Aneh juga, sih. Tak biasanya Bobby bertingkah sediam ini. Biasanya dia tengil dan selalu berceloteh tentang buku tebal milik Shawn. Tapi dengan elegannya dia sekarang duduk santai sembari memperlihatkan sedikit senyumannya untuk Shawn, membuat gadis itu semakin merunduk karena panas di wajahnya.

Tak ada yang memulai pembicaraan. Hanya ada suara gerungan dari pedal gas yang diinjak, juga klakson dari mobil-mobil yang terlihat sibuk. Baik Bobby maupun Shawn bingung untuk memulai. Shawn yang memang kaku, dan Bobby yang memikirkan perkataan Hanbin sampai sekarang.

“Shawn,” akhirnya Bobby sadar. Kalau bukan ia yang memulai, tak akan pernah ada kesempatan lain. Jalanan menuju rumah Shawn itu tak sepanjang jalanan Seoul menuju Indonesia. Waktunya akan terkikis sia-sia jika pemuda itu tak segera memulai.

Shawn sedikit menaikkan dagunya.

“Kemarin Hanbin bilang, kalau aku ingin dekat denganmu, aku harus bisa mencapai titik keseimbangan. Tapi aku masih bingung, haruskah aku sendiri yang menyamakan sikap dan sifatku agar bisa kau terima? Tapi… Selama itu buatmu tak apa sih, hehe,” ternyata sifat tengilnya tak sepenuhnya hiang. Bobby masih sempat-sempatnya menggoda gadis itu.

“Aku serius tentang mengajakmu kencan. Tentang buku tebal yang lebih beruntung dariku pun itu serius. Aku tak mengeluarkan omong kosong, Shawn. Dan sekedar informasi, aku tak pernah seserius ini.” Shawn tak membuka katup bibirnya, dan kembali merunduk. Ada rasa kecewa di hati pemuda itu, mungkin saja Shawn menolaknya.

Tapi kenyataannya, wajah gadis itu panas sekali. Darahnya berdesir cepat dan berkumpul di sekitar pipinya, menampakkan warna kemerahan yang merona. Shawn tidak mengerti, seumur hidupnya baru kali ini merasakan hal se-aneh dan se-ekstrem ini.

“Kau menunduk terus, aku ditolak ya?” Bobby berpaling ke arah jendela sebrangnya. Wajahnya kentara sekali kecewa. Mungkin juga ia kurang matang berpikir, dan terlalu termakan omongan Hanbin.

Hening beberapa saat, sampai akhirnya sesuatu yang mengejutkan menghampiri pemuda itu. Cup! Sekarang pipi tirusnya sudah terkontaminasi bubuk-bubuk cinta dari Shawn.

“Ma-Maaf…” Shawn kembali menunduk, membuat pemuda di sebelahnya gemas minta ampun.

“Jangan menunduk terus, memangnya lehermu tak sakit, hm? Sini liat kamera ponselku! Senyum, ya?” Klik! Terpatri mata Bobby yang segaris dengan senyum lebarnya. Shawn menatap ke arah kamera dengan wajah bingung tapi tetap menampakkan sedikit senyuman. Ternyata tak butuh waktu lama menuju kesetimbangan, selama keduanya menerima untuk melebur bersama.

“Aku harus unggah di SNS! Dunia harus tahu kalau aku sudah sampai di titik kesetimbangan!”

Fin.

A/N : Sekedar info, nama asli Bobby itu Kim Jiwon. Jadi cerita ini tuh alesan kenapa Claire di cerita 600s ngamuk ngamuk x3 tapi oe kok ngerasa gj banget yha? :’3 Ini butuh banget review guys, mohon kritik dan sarannya yaaaa :’3

Advertisements

7 thoughts on “Chemical Equilibrium by ZulfArts

  1. Thanks banget zul udah bikin ff Bobby my loph ini, ya walaupun mungkin bukan buat aku. Tapi aduh, kenapa kamu buat oc nya mirip aku seh? *kegeeran*. Jadi kan rasanya berflower flower hatiqoeh. Anak kedokteran lageh, pake kacamata lageh, aqoe bingits*ini jadi ngereview ocnya doang wkakkaka*. Ceritanya ya pastilah saya suka, DA BEST! Lophe you zulfanio alexandra 😘😘😘😘

    • Damn dat zulfanio xD dih jep, ini ocnya kan saya banget wkwkwk…. syukur kalau suka, trins sudah baca hahaha

  2. Pertama-tama Nabil harus memberikan penghargaan setinggi-tingginya karena kamu membuat mas hanbin jadi pinter. But reality doesn’t works like we want yhaaa, kalau kamu nonton mari and I, u will find out that hanbin is….

    Nabil suka ceritanya jul. bacaan ringan yang menerbang-nerbangkan hatiqoe wkwkwk. Bikinin nabileun atuuh ih

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s