[Ficlet] For You

for-you-puchanl"For You–;
__________________________________________________

For You by puchanli

‖ Sehun & Luhan – EXO ‖

Ficlet ⁞ Angst, Friendship ⁞ Teen

“I own nothing but the storyline”

cr. poster to kissforxx @ Cafe Poster


© puchanli, 2015.

Di sini dingin―tidak seperti biasanya. Rintikkan hujan di luar seharusnya sehangat dulu, aroma tanah bercampur air seharusnya seharum dulu, dan kehangatan yang seharusnya ada dalam dekapan kini hanya tinggal dalam kenangan. Angin menerpa mesra pipi lelaki yang sedari tadi masih berkutat dengan jendelanya. Seolah cuaca sedang baik, ia biarkan dirinya bercampur dengan alam malam itu―hanya untuk melepas kerinduan yang terus memuncak.

Tidak akan ada yang bisa terulang seperti dulu lagi, begitu pikirnya. Matanya yang sayup perlahan terpejam bersamaan dengan secuil memori yang berputar di alam bawah sadarnya.

“Hyung akan kembali.”

Pembohong. Kau tidak akan kembali.

“Hyung tidak akan meninggalkanmu, Sehun.”

Dusta!

Kali ini pipinya perlahan basah, bukan karena hujan tapi karena pelupuknya sudah tak kuasa menahan desakan air mata. Ia dekap erat raganya yang mulai bergetar, terus berusaha untuk menahan emosi agar tidak menguasainya lagi. Satu tarikan nafas dan kelopak matanya terbuka, pemandangan kelam langit Seoul tampak makin memperburuk suasana hatinya.

“Sehun, apa kau sudah makan?”

“Ayo kita beli bubble tea berdua, Sehun. Hyung yang akan mentraktirmu kali ini.”

“Hyung sedang membuat ramen, apa Sehun ingin semangkuk juga?”

Bisakah kita…

“Sehun, di mana sepatu Hyung yang biasanya di dekat lemari Chanyeol?”

…mengatur mas lalu…

“Hyung sangat mengantuk, Sehun. Lain kali saja main gonggi-nya.”

…untuk mengulang semua…

“Yah! Jangan mandi terlalu malam, Sehun! Kau bisa terkena demam!”

…kenangan kita berdua…

“Yah! Sehun-ah! Berhenti! Berhenti menggelitikku!”

…Luhan hyung?

Petir menyambar langit abu-abu tatkala nama itu tersebut, diikuti gemuruh yang bersahutan seolah tak menghiraukan kepiluan semu yang dirasakan si lelaki di pinggir jendela. Kepalanya tertunduk lesu, nafasnya terasa makin berat seiring dengan pikirannya yang terus berkeliaran. Ia pejamkan matanya erat-erat untuk segera menghapus kenangan-kenangan itu.

Tapi apa daya?

Sebongkah kenangan yang lain bermain layaknya sebuah film dalam pikirannya.
Kejadiannya pada bulan Oktober, musim gugur 2015.

“Berita resmi, dia sudah pergi,” dengan menunduk lesu tak seperti biasanya, seorang lelaki yang dikenal sebagai ketua grup mengumungkan apa yang baru saja sang manajer katakan.

Tidak ada yang membalas, tidak ada yang bergeming. Dorm yang biasanya ramai bak taman kanak-kanak kini tenggelam dalam keheningan yang mencekam. Berita kedua setelah kepergian yang pertama tak ubahnya badai dalam telinga mereka. Belum genap 6 bulan, sudah ada yang menyusul pergi lagi.

Hati terasa tersayat belati, terlebih lagi akan semua perkataan yang seharusnya ditepati. Tak ada yang bisa Sehun lakukan selain mengunci dirinya dalam kamar, dan tersedu syahdu. Ia bersembunyi―tak ingin menunjukkan emosinya pada para hyung-nya.

Tapi apa daya?

Oh Sehun juga manusia biasa, dia tak bisa menahan sebongkah rasa kehilangan yang menggandrunginya. Meskipun orang-orang di sekitarnya tak pernah putus asa untuk terus menghiburnya, baginya sama saja tanpa kehadiran satu hyung-nya itu.

Hati kecil Sehun tak hentinya bertanya, apakah itu berarti persaudaraan kita berakhir, hyung?

Namun masih tak ada jawaban, hingga tahun akan segera berganti.

Hujan turun semakin deras, makin menghiasi kepiluan yang dirasakan. Sehun memaksa matanya untuk terus terbuka, mengamati jalanan di luar yang masih saja ramai. Sepasang manik matanya berputar ke langit-langit. Tak banyak bintang-bintang yang bertebaran kala itu, bahkan beberapa mulai menghilang entah kemana. Sehun mengubah posisi duduknya, membiarkan tangannya menopang dagunya. Ia lirik sang rembulan di antara taburan bintang.

Tak pernah merasa puas, layar dalam memori otaknya kembali menayangkan kenangan.

“Wah, bulan tampak sangat bersinar malam ini,” seulas senyum tulus terukir di bibir sang hyung, matanya berbinar indah.

Sehun memutar matanya untuk menangkap cahaya bulan malam itu. Ia mengangguk.

“Kau tahu, Sehun. Ketika aku mengamati bulan seperti ini, aku jadi ingat orang-orang yang aku sayangi, orang-orang yang aku rindukan. Ah, aku jadi rindu keluarga di China.”

Kedua pasang mata Sehun tak meninggalkan sang rembulan tatkala semuanya terekam sangat nyata dalam pikirannya. Seolah menyapa pandangan Sehun, bulan seakan tampak makin bersinar. Sesungging senyum kecil terbentang di mulut mungil Sehun. Dengan menghela nafas panjang, ia berbisik lembut, mengirimkan pesan lewat sanubari kepada sang rembulan.

Luhan hyung, aku harap kau selalu bahagia dimana pun kau berada. Aku di sini akan selalu mendukung dan mendoakanmu. Jaga baik-baik keadaanmu, hyung. Aku menyayangimu.

Sehun.

__________________________________________________

(a/n).

penghujung tahun 2015; khusus untuk hunhan feels!
—puchanli.

( h a r l e q u i n. )

Advertisements

One thought on “[Ficlet] For You

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s