When Everything Seems Different Part 2 [TwooShoot]

RainBi365

Present :

Joshua Hong {SEVENTEEN}

Kang Seulgi {Red Velvet}

Tak ada yang bisa menghindari takdir termasuk mencintai seseorang dan hal itulah yang membuat Joshua terkadang merasa bahwa takdir hidupnya menyakitkan.

“Cinta itu akan terpendam seumur hidup kalo lu takut ngungkapinnya ! Jadi lu harus berani !”

Joshua menatap Chanyeol risih. Pria dengan tinggi diatas rata-rata itu memang cocok dijadikan tempat curhat tapi tidak ketika dia mengisi mulutnya penuh dengan kripik kentang snack favoritnya. Joshua merasa risih sendiri ketika Chanyeol berbicara tentang ini itu bersamaan dengan kripik kentang yang menyembur kesana kemari dan buruknya salah satunya mengenai wajah tampan Joshua. Menyebalkan, pikir Joshua sarkastik kemudian mengambil buku tebal untuk menghindari semburan kripik kentang dari mulut Chanyeol.

Bukannya Joashua tidak ingin pindah tempat duduk, tapi, Chanyeol bilang posisi yang paling tepat ketika curhat itu adalah ketika duduk berhadapan dan Joshua tahu persis jika ia menukar posisinya mungkin saja Chanyeol akan pergi dan meninggalkannya dengan kegalauan yang mendalam.

“Jadi, bagaimana ?”

Oke. Satu pertanyaan sukses membuat Joshua tersentak. Pria itu menurunkan bukunya memastikan keadaan aman. Chanyeol sudah kehabisan kripik kentangnya dan ia juga sudah menghabiskan sisa makanannya jadi Joshua rasa ia bisa berbicara tanpa takut kena semburan makanan dari mulut sahabatnya.

Joshua menghela nafas pelan kemudian menghembuskannya kembali secara perlahan. Ia menatap lurus si idiot Chanyeol dengan malas dan menggelengkan kepalanya kecil.

“Masih ragu ?” Tanya Chanyeol sarkastik dan dijawab dengan anggukan oleh Joshua,

Duh, Josh, berapa kali gua harus bilang kalo lu itu harus berani atau lu bakal kehilangan Seulgi ! Jangan cuman dipendam, adanya lu yang sakit !”

“Kalau ditolak gimana ? Seulgi udah punya Jimin, Chan !”

Chanyeol menepuk dahinya yang berkerut, memandang jengah Joshua dengan tatapan dibuat tajam.

Well, yang penting udah nyoba. Ditolak urusan belakangan, daripada lu diem seribu bahasa dan nggak ngapa-ngapain ! seenggaknya lu udah berusaha, bro !” Chanyeol mendelik kemudian menyeruput Ice Americano dihadapannya.

Hening.

Tak ada jawaban dari Joshua atau seruan protes dari Chanyeol. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Mau kemana ?” Tanya Chanyeol ketika tiba-tiba melihat Joshua mengemasi barangnya dan bersiap pergi.

“Ketemu Yoji.”

٭٭٭٭٭

Seumur hidupnya, baru pertama kali ini Joshua merasa mendapat hantaman keras tepat di wajah tampannya. Entah sejak kapan hal itu terjadi Joshua bahkan tidak pernah memprediksi wajah nya akan mendapat jejak telapak tangan berwarna kemerahan layaknya tomat. Baru saja beberapa menit yang lalu Joshua masih mersa Yoji sedang menatapnya tak percaya, terlalu terkejut dengan apa yang lelaki itu ungkapkan dan beberapa detik setelahnya ia merasakan tamparan yang bisa dikatakan cukup keras di pipi sebelah kirinya. Sakit memang. Tapi Joshua mengerti rasa sakit yang ia rasakan tidaklah sesakit apa yang dirasakan oleh hati gadis yang kini sedang menangis terpuruk dihadapannya. Disisi lain pun, Joshua merasa itu adalah sesuatu yang pantas ia dapatkan karena telah menyakiti gadis baik hati seperti Yoji.

Jujur, ingin rasanya Joshua memeluk Yoji yang kini terlihat seperti kupu-kupu rapuh yang kehilangan sayapnya, tapi, disisi lain ia tahu itu hanya akan membuat Yoji merasa semakin tertusuk. Maka beginilah sekarang, Joshua diam ditempatnya tak bergeming meski sebenarnya hatinya juga merasakan perih karena bagaimanapun selama 2 tahun terakhir ini gadis itulah yang member warna pada harinya meski reaksinya terhadap hal itu tidak sekuat perasaannya pada Seulgi.

“Untuk apa masih disini ?” suara getir Yoji membuat tatapan Joshua makin pilu. Hatinya terasa sesak tapi juga ada terselip rasa lega karena ia bisa menyampaikan bagaimana perasaannya yang lam ia pendam.

“Yoji-”

“Pergi Jo ! Tinggalin aku ! kita udah putus kan ? Kamu bebas milih Seulgi, adik kesayanganmu !” Yoji berteriak nyaring dengan suaranya yang serak. Tangisnya semakin menggema membuat seluruh orang menatap kedua pasangan –mantan- kekasih itu.

“Aku nggak maksud-”

“Pergi Jo ! Ngeliat kamu cuman bikin hatiku makin sakit !”

Joshua menghela nafasnya, memandang sedih Yoji yang menutupi wajah basahnya yang sembap.

“Maaf..” ucap Joshua pada akhirnya.

Pria itu berjalan lurus melewati Yoji. Meninggalkan gadis malang itu dengan rasa sakit dan juga kenangan yang sudah mereka jalin selama menjadi kekasih tanpa menoleh kebelakang.

Maaf…

٭٭٭٭٭

Seulgi menatap Joshua bingung. Ia bertanya beberapa kali mengenai pipinya yang merah dan buruknya tanda itu benar-benar mnyerupai bekas tangan.

“Habis ditampar ?” Tanya Seulgi lagi. Kesal. Sudah lebih dari 11x Seulgi bertanya dan Joshua hanya meliriknya malas.

“Marahan ama Yoji, ya ? Atau kamu ngegodain anak orang makanya bisa kena tampar. Duh, Jo ! Kan aku sering bilang jangan jadi player !”

Joshua menghela nafas. Mendesah pelan dan melirik Seulgi malas.

“Ini ? Kamu penasaran kenapa aku bisa dapat jejak super ini ?” Seulgi mengangguk., gadis itu menopang dagunya dan menatap Joshua intens.

“Ceritain !” serunya seperti anak kecil.

“Aku putus.”

“What ? Kenapa bisa ? Kamu selingkuh ?”

Joshua mendelik kesal, menatap jengah gadis dengan kadar rasa ingin tahu yang overdosis itu kemudian memutar bola mata bosan.

“Seul, jangan keseringan makan cemilan ! bikin kamu tambah lemot ! kayak Chanyeol !”

Selgi mengerucutkan bibirnya kesal. Merasa direndahkan karena Joshua membandingkannya dengan Chanyeol si idiot maniak kripik kentang. Padahal pada kenyataannya Seulgi berada sekitar dua atau tiga tingkat di atas Chanyeol untuk persoalan memahami seseorang. Meskipun Seulgi sedikit mengakui bahwa dirinya memang lambat dalam merespon sesuatu yang baru ia dengar atau lihat. Poor Seulgi !

“Oke oke, Jo yang punya otak dengan kapasitas tinggi ! Jadi, mau cerita nggak kenapa bisa kalian putus ?”

Joshua menghela nafas sejenak, mengatur posisi duduknya senyaman mungkin kemudian menatap lurus Seulgi tepat dimatanya.

“Aku jatuh cinta sama orang lain. Dia yang selalu ada buat aku dan selalu bisa bikin aku merasa nyaman. Aku putus bukan karena selingkuh, aku cuman nggak mau Yoji makin sakit karena rasa ku untuk dia udah nggak ada.”

“Hmm. Jadi kamu udah ketemu ama perempuan yang bisa bikin jantung kamu berdetak cepat seperti abis lari marathon ?” Joshua mengangguk mantap.

“Lalu ?”

“Dia sudah memiliki kekasih. Aku ingin menyatakan perasaanku padanya. Namun, aku ragu.”

Seulgi mengerjap-ngerjapkan matanya. Menahan sesak yang membuncha di relung hatinya. Setelah tersiksa lama dengan kehadiran Yoji disisi Joshua, kini ia harus rela –lagi- melepaskan Joshua bersama dengan gadis lain. Gila memang. Tapi terasa sangat menyakitkan.

“Kamu sudah ngungkapin perasaan kamu ?” Joshua menggeleng.

Hening sejenak sebelum akhirnya Joshua menghirup oksigen disekitarnya dan kembali membuka mulutnya.

“Kalau aku bilang, apa kamu yakin perempuan itu bakal nerima aku jadi pacarnya ?”

DEG. Seulgi meremas ujung kaosnya erat. Merasa mendpat pukulan tepat dihati dan hantaman yang keras tepat dijantungnya membuat gadis itu bingung harus menjawab apa atas pertanyaan sarkastik Joshua.

“Aku nggak tahu ! Tapi kamu harus coba mungkin dia juga suka –cinta sama kamu !” kawab Seulgi terpaksa pada akhirnya. Joshua tersenyum menanggapi ucapan Seulgi.

“Ikut aku. Aku akan nunjukin dia ke kamu !” dan tepat saat akhir kalimat Joshua sudah menggenggam taangan Seulgi erat membawanya entah kemana. Entahlah, Seulgi sendiri pun bingung dengan Joshua yang sulit ditebak.

٭٭٭٭٭

Joshua melepaskan tangan Seulgi begitu keduanya sampai. Seulgi melirik bingung Joshua yang membawanya ke rumah Jimin. Dia terus berpikir apa gadis yang dimaksud Joshua ada dirumah kekasihnya atau gadis itu adalah bagian dari keluarga Jimin. Oh tidak ! tolong jangan karena itu hanya akan semakin menyakiti hatinya yang kini sudah hancur.

Joshua melangkah maju, membuka pintu rumah besar itu dan memasukinya diikuti dengan Seulgi yang mengekor dibelakangnya.

“Jim, gua mau ngomong !” seru Joshua.

Jimin yang sadar dengan kehadiran dua makhluk kesayangannya itu menghentikan aktifitasnya –melatih otot- dan menghampiri keduanya.

“Hai sayang.” Sapa Jimin pada Seulgi dan ditanggapi dengan senyum canggung dari Seulgi.

“Mau ngomong apa ?”

#

BUG.

Satu tinju melayang tepat dirahang Joshua membuatnya tersungkur tepat kelantai. Seulgi berteriak histeris menatap Jimin kaget dengan reaksinya atas apa yang baru dikatakan Joshua. Seulgi sendiri sejujut=rnya merasa lebihkaget tapi tak pernah menyangka respon Jimin terhadap lelaki itu jadi sekasar ini.

Joshua terkekeh dari tempatnya dengan sudut bibirnya yang berdarah.

“Lu yang mau gua bilang jujur ! gua udah jujur, jadi, apa salah gua ?” ucap Joshua kemudian berusaha berdiri.

“Lu salah ! kenapa lu baru bilang pas dia jadi milik gua !”

“Lu bilang lu cinta dia ? tapi dia milik gua, brengsek !”

BUG.

Joshua kembali tersungkur. Seulgi menatap keduanya ketakutan meski sejujurnya ia lebih takut pada Jimin yang terlihat seperti kerasukan.

Jimin menarik kaos Joshua bersiap memberikan pukulan namun tangannya ditahan.

“Berhenti…” Gumam Seulgi sembari melirik Joshua.

“Jangan bilang kamu suka dia ?!” Seulgi menatap Jimin dan Joshua bergantian.

“Maaf.” Gumamnya membuat Jimin membelalak tak percaya.

Joshua menyeringai kecil. Jimin menatap lelaki itu tajam kemudian menghempaskannya kelantai.

“Pergi.” Ucap Jimin dingin.

“Jangan perah muncul dihadapan gua !”

“Mulai sekarang gua nggak pernah kenal kalian.”

“Ayo Seul !” ucap Joshua sarkastik. Joshua menatap Jimin sebentar kemudian kenghela nafasnya berat.

“Maaf dan makasih ! Lu sahabat gua yang terbaik, Jim.” ucap Joshua sebelum berlalu meninggalkan kediaman Jimin.

٭٭٭٭٭

Semuanya berlalu begitu cepat. Segalanya berubah. Begitu berebeda, tak ada lagi cerita yang sama. 15 tahun menjalin persahabatan dan semuanya hancur ketika Joshua secara terang-terangan mengungkapan apa yang ia rasakan membuatnya harus merelakan sahabat sepanjang hidupnya itupergi meninggalkannya entah kemana. Tak ada yang ingin memberi tahunya. Jangan tanyakan Yoji padanya karenajujur saja Joshua sendiri tak pernah bertemu dengan gadis itu lagi semenjak hubungan mereka berakhir.

Jujur itu menyakitkan. Dan buruknya semua orang tahu itu.

Tak ada yang bisa menghindari takdir termasuk mencintai seseorang dan hal itulah yang membuat Joshua terkadang merasa bahwa takdir hidupnya menyakitkan. Bukan ini yang ia inginkan, kehilangan segalanya hanya karena satu orang tapi disisi lain satu orang yang ia pertahankan dan membuat segala miliknya menghilanglah bagian terpenting dalam hidupnya terutama hatinya.

Tanpa gadis itu semua terasa semu. Hatinya ibaratkan lubang hitam yang takkan pernah terisi penuh meski berulang kali di isi. Joshua tak pernah menyesal dihari itu. dihari ia mengungkapkan semuanya secara jelas mengenai perasaanya. Ia memiliki Seulgi sekarang.

Seulgi yang selalu mewarnai harinya.

Seulgi yang selalu bisa mengerti dirinya.

Seulgi yang selalu ada ketika ia terpuruk.

Seulgi yang selalu bersedia membuatnya kembali bangkit dan ceria.

Hanya Seulgi…

END

 

Author Note : Ini gaje ! satu kalimat pernyataan yang sumpah ngegambarin semua cerita yang aku buat. Bahasanya berantakan entah kenapa semenjak baca ff author Zhuuuga di wattpad dengan judul Pale Skinned Devil –recommended but just for 17+ aku jadi terus bikin ff dengan bahasa yang terkadang jadi berubah gaul xD Maaf late update buat Jo… sumpah jaringan ngandet dan apesnya malah ketiduran. Sekali lagi thanks for Jo maaf telat dan bikin nunggu lama ampe lumutan.

Advertisements

One thought on “When Everything Seems Different Part 2 [TwooShoot]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s