[vignette-series] Love is… (possibilities?)

leoxyeri

arin yessy present

VIGNETTE SERIES of VIXX

ravi | ken | leo | hongbin | hyuk | N

Love is…. (possibilities?)

starring VIXX Leo as Jung Leo & RV Yeri as Kim Yeri

fluff, romance, hurt, General

please enjoy and leave your trace

“oppa… kau ada rencana tidak nanti malam?”

Seorang gadis yang  tak seberapa semampai tampak kesulitan menyamai langkah kaki jenjang laki-laki berpakaian rapi yang ada di depannya.

“oppa.. yak! Setidaknya jawab pertanyaanku.”

Gadis itu masih tak menyerah untuk mendekat walau jelas sekali raut wajah kesal dilemparkan oleh laki-laki itu kepadanya. Tapi Justru semangat juangnya malah kian menebal.

“yak, leo oppa!” gadis itu berhasil menarik ujung jas yang dikenakan oleh laki-laki bernama Jung Leo itu.

“aku sibuk!”

“tapi kan besok weekend.. kau seharusnya pergi bersenang-senang. Bagaimana kalau ke lotte world? Aku yakin orang sepertimu pasti belum pernah kesana.” Gadis manis itu masih belum menyerah, kali ini ia sengaja berjalan mundur dan menghalangi langkah Leo.

“mau ya? Mau ya??”

“tidak.”

“hisss.. kau ini old-fashioned sekali! Baiklah bagaimana kalau ke museum? Perpustakaan? Nonton musical?”

“……..”

“tidak mau ya? Ya sudah ke kebun binatang saja bagaimana?”

“……..”

“Ahh! Aku tahu! Bagaimana jika piknik di taman? Pasti Seru sekaliii~” Yeri mulai merasa antusias sendiri walau belum ada tanda-tanda Leo akan menyetujui perkataannya. Sebaliknya laki-laki itu justru semakin mempercepat langkahnya melewati Yeri seolah-olah gadis itu tak ada di sana.

“Yakk! Leo oppa! Tunggu aku…”

Gadis itu juga berusaha mempercepat langkahnya. Namun alangkah malangnya ketika kedua tungkai pendeknya tak mampu menyamai lebarnya jangkah si jangkung Leo.

“jadi karena kau tak menjawab, aku anggap kau setuju!” teriaknya dari belakang yang mau tak mau membuat beberapa orang yang lalu lalang memperhatikan mereka berdua.

Mendadak Leo menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

“Ck..Kim Yeri sudah berapa kali kuperingatkan padamu untuk tidak mengangguku  terus?”

“uwaaahh itu kalimat terpanjang yang kudengar darimu hari ini.”

“Kim Yeri-ssi, aku serius!”

“aku juga serius! Itu kalimat terpanjang yang kudegar dari oppa hari ini.”

Leo hanya melengos pasrah. Ia sudah kehilangan akal menghadapi mahasiswi labil semester awal yang masih terbawa tingkah anak SMA seperti Yeri. Ini sudah semester keempat sejak ia menginjakkan kaki di kampus ini, dan tak pernah ada kata damai dalam kamusnya. Terlebih saat di semester kedua ketika terpaksa ia harus bertemu dengan gadis ajaib bernama Kim Yeri yang mengikuti kelas Ilmu Astrofisika di universitas. Demi banyaknya subject mata kuliah di dunia ini, kenapa gadis itu memilih Astrofisika yang diampunya? Tolong,, ia bisa mati muda jika hal ini terus berkelanjutan.

Leo memilih untuk menghela nafasnya dan balik kanan langkah tenggap maju jalan cepat grakk!

“oppa… tunggu akuuuuu..”

.

.

Ka-talk

Ka-talk

Ka-talk

Ka-talk

Ka-talk

Ka-talk

Ka-talk

Ka-talk

 

“bughh!” sebuah bantal mendarat manis tepat di wajah Leo. Laki-laki itu menghentikan aktivitas mengetiknya dan menatap Hyuk yang pura-pura memejamkan matanya.

“Oi hyung, hpmu berisik sekali aku tidak bisa tidur nih!”

“Siapa yang menyuruhmu tidur di kamarku? Pergi sana!”

“Peace hyung.. AC di kamarku belum dibenerin, jadi aku numpang tidur disini ya”

“tidak boleh! Sana pergi!”

“satu malam saja.. plisseuu”

“Hyuk, kalau kau tak pergi benda ini akan melayang ke arahmu.” Leo menepuk-nepuk sebuah buku tebal yang ada di sampingnya.

“Oke oke! Galak sekali, tidak heran kenapa kau belum bisa mengenalkan calon istrimu pada eomma.”

“Apa?! Katakan sekali lagi!”

Hyuk dengan  santai bangkit dari tempat tidur, sebenarnya ia sedang bersiap-siap lari sekarang.

“kubilang pantas saja kau belum bisa mengenalkan calon istrimu pada eomma karena kau itu galak.”

“Oi jaga bicaramu! Awas kau!” Leo bangkit dari kursinya dengan buku tebal bersampul keras yang sudah ada dalam genggamannya.

“kyaaa lariii…”

Namun seperti biasanya Hyuk selalu pandai menghindar dan tak ada gunanya juga meladeni bocah satu itu. Tingkah adik laki-lakinya sama labilnya dengan tingkah Yeri? Apa? Yeri?? Kenapa tiba-tiba Yeri?

Ugh tahu deh, tapi sekarang Leo memilih kembali mengumpulkan fokusnya dan menyusun materi perkuliahan untuk semester berikutnya. Yah bisa dibilang ia adalah seorang dosen, tepatnya dosen Astrofisika di sebuah universitas negeri di pusat kota Seoul. Otaknya yang cerdas membuatnya lulus pendidikan magister di usia yang relative masih muda, bahkan ia berencana untuk melanjutkan pendidikannya lagi.

“hyung, ngomong-ngomong kau sudah punya pacar?”

Astaga, kenapa bocah tengik itu masih disini.

“bukan urusanmu!”

“ciee,, berarti benar bahwa sebentar lagi aku akan memiliki kakak ipar.”

“eomma…. Sebentar lagi eom—“

“DIAM!!”

BLAMMMM

Leo menutup pintu kamarnya.

“Hyung, jangan lama-lama menjomblo, nanti jadi jones kayak Hongbin lho! Hahahaha”

Argghhh!

Leo menghempaskan tubuhnya di atas ranjang miliknya. Ia sudah kehilangan mood dan focus percuma jika terus memaksakan diri. Tidak di kampus ataupun di rumah, bagi Leo tak ada hari yang benar-benar tenang.

Ka-talk

Ka-talk

Tak ada yan mengiriminya pesan sebanyak ini selain gadis labil itu. Yah meskipun Leo sudah tahu persis, nyatanya tanggannya tergerak untuk meraih handphone yang tergeletak di atas nakas dan membuka aplikasi kakaotalknya.

13 pesan dari Yeri:

Good evening

Annyeonngggggg

Opppaaa >_<

Kau sedang apa?

Sedang memikirkanku? Heheuww

Bagaimana harimu?

Kau sudah makan malam?

Apa benar besok tidak bisa kemanapun?

Yah padahal  besok weekend

Aku tidak bisa melihatmu seharian TT___TT

Oi balas pesanku kek

Ishhh ya sudah aku marah padamu

Bhayyy

 

Leo hanya memandangi handphonenya tanpa ada niat untuk membalasnya. Namun senyum kecil itu sempat terlukis di bibirnya tatkala membaca satu demi satu pesan yang dikirimkan gadis itu padanya. Sungguh lucu sekali. Apakah memang anak-anak jaman sekarang kelakuannya seperti Yeri semua?

Hmm andai saja gadis itu tak memiliki jarak usia yang jauh darinya, andai saja hubungan mereka bukanlah sebagai dosen dan mahasiswi, dan andai saja gadis itu tak selabil ini, mungkin Leo akan mempertimbangkannya sebagai seorang kekasih?

Aigoo.. Leo meneggelamkan wajahnya sendiri di atas bantal.

Sadarlah Jung Leo!

.

.

Pagi yang sangat cerah untuk berolahraga dan Leo tak bisa melewatkan pagi seindah ini walau hanya untuk jogging keliling kompleks kediamannya. Larinya belum sampai sepuluh meter namun sebuah suara yang amat dikenalnya cukup membuat  paginya berubah suram.

“oppa!!”

Leo berpikir untuk kembali ke rumahnya, tapi ia sudah terlanjur berpakaian olahraga lengkap begini. Ck ya sudahlah, anggap saja gadis itu tidak ada.

“Leo oppa,, waa sepertinya kita berjodoh.”

Ah! Leo melupakan satu hal, bahwa Kim Yeri tinggal hanya berbeda blok dari rumahnya. Sebuah kebetulan yang sangat menyebalkan.

“kau ingin berolahraga juga?”

“………”

“ck! Selain galak kau ini juga pelit bicara, menarik sekali.”

Leo hampir shyok mendengarnya. Menarik apanya? Gadis ini pasti sudah tak waras. Atau memang tipe laki-lakinya seperti itu.

“hh menyebalkan sekali ! aku seperti bicara dengan makhluk astral.”

Leo memilih untuk mengabaikan ocehan Yeri dan mempercepat larinya hingga gadis itu berjarak beberapa meter di belakangnya dan semakin menjauh lagi.

“Yak Oppa,, tunggu aku!”

Yeri mengerahkan segala upayanya namun kakinya terlalu pendek selain dari kemampuan larinya yang memang payah. Terlebih ia tak pernah berolahraga apalagi lari-lari pagi seperti ini benar-benar menguras tenaganya.

“hosh hosh…”

“kenapa larinya cepat sekali sih?!”

Langkah kaki gadis itu mulai tak stabil, kecepatannya semakin melambat dan badannya terasa sedikit tak enak.

“kenapa langitnya berputar-putar?” gumamnya pelan.

Brrrukkk!

.

“Kim Yeri,, yeri-ya!” seorang laki-laki muda mendekap tubuh Yeri yang tak sadarkan diri.

“Oi Yeri, bangun oi! Sampai kapan kau betah menutup matamu begitu?”

Suara laki-laki itu, terdengar sangat familiar di telinga Yeri.

“huh? Hyuk oppa?” Yeri mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya, sejujurnya kepalanya masih terasa sangat pusing.

“kau sudah sadar?”

“eoh?”

“Yak! Kenapa kau tiduran di jalan?! Untung aku segera menemukanmu sebelum orang lain membawamu pergi atau menculikmu dan menjualmu ke mucikari.”

“kau ini ngomong apa sih? Siapa yang tiduran di jalan?”

“jadi itu tadi sungguhan? Kau pingsan?”

Yeri mendesah pelan. “menurutmu?”

“lagipula kau ini bodoh atau gila sih, kau kan tidak boleh olahraga berat-berat! Nanti kau— “

“jangan mulai membahasnya.”

“baiklah.. ayo kuantar pulang.” Hyuk beranjak berdiri dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Yeri.

“kau bisa jalan atau mau kugendong?”

“aku bisa jalan sendiri.” Yeri menyambut uluran tangan Hyuk dan berusaha berdiri walau kepalanya kembali berputar, namun Hyuk memegangi tubuhnya dengan erat jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi ngomong-ngomong Yeri tak dapat menemukan Leo. Mungkin laki-laki itu sudah lari jauh dan benar-benar tak ingin di ganggu.

Hhhhh… yeri menghembuskan nafasnya, andai saja Leo yang datang menolongnya.

Sementara seorang laki-laki lain bernama Jung Leo menyaksikan kejadian itu dari kejauhan. Wajahnya datar seperti biasa walau terlihat sedikit sedih? Kecewa? Entahlah,

.

.

Ka-talk

Ka-talk

Ka-talk

Ka-talk

Leo melepaskan kacamata bacanya dan meraih handphonenya, 4 pesan dari Yeri.

Oppa, bisakah kita bertemu besok saat jam makan siang?

Kumohon sebentar saja, ada hal penting yang ingin kutanyakan

Sebentaar saja

5 menit tidak lebih J

Leo mengernyitkan dahinya, tumben gadis ini mengiriminya pesan yang sedikit penting dari pesan tidak penting yang biasanya tiap hari ia kirimkan?

Oke baiklah, mungkin inilah saatnya membuat Kim Yeri berhenti menganggu hidupnya.

5 mnt d tmn blkng kampus jm 13

Dua detik kemudian..

Ka-talk

Yeayy, terimakasih.. good night oppa :*

Leo mulai berpikir lagi, entah kenapa ia juga penasaran akan apa yang Yeri katakana esok. Bukankah biasanya gadis itu selalu tahu dimana harus menemuinya. Kenapa tiba-tiba membuat janji dulu untuk bertemu?

.

.

Laki-laki itu dapat melihat dari jauh sosok Yeri yang duduk gelisah di salah satu bangku taman karena kedua kakinya sedari tadi tak berhenti berayun-ayun. Rambut cokelat panjangnya dibiarkan terurai seolah mengizinkan sang angin untuk menyapanya, dan peacoat soft pink yang dikenakannya terlihat manis membalut tubuhnya yang ramping. Dari sini ia sama sekali tak terlihat seperti gadis labil yang Leo kenal.

Leo menghembuskan nafasnya. Ia memasukkan kedua tangannya di saku coat hitam yang dikenakannya dan berjalan santai menghampiri Yeri.

“Oh! oppa… disini..” Yeri menepuk bagian bangku kosong di sebelahnya. Leo mengamatinya sejenak dan mendudukkan dirinya tanpa sepatah katapun.

Hanya suara angin yang terdengar mendesau. Sejak semenit yang lalu belum ada yang memulai untuk berbicara. Yeri bahkan tampak meremas-remas jemarinya sendiri dengan gugup. Leo bernafas jengah, ia memperhatikan jam tangan analog yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“waktumu tinggal empat menit.”

Yeri menyelipkan anak rambutnya yang terurai di belakang telinga. Ia berdehem sebentar.

“ummm it-uu, ada yang ingin kutanyakan padamu oppa.”

“apa?”

“tapi jangan marah ya? Janji?”

Leo hanya memandangi Yeri dengan tatapan datar.

“baiklah, aku akan mengatakannya sekarang.” Yeri menghirup nafasnya dalam-dalam.

“ini menyangkut perasaanku..”

“……”

“bagaimana ya mengatakannya?”

“…….”

Yeri mulai frustasi, ia kini meremas ujung peacoat yang dikenakannya.

“aku, aku menyukai oppa.. aku ingin tahu apakah kau juga menyukaiku atau tidak.”

Leo masih menatap gadis itu datar.

“hanya itu yang ingin kau tahu?”

“ya, hanya itu. Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan oppa padaku, itu saja.”

“aku tidak punya rasa apapun padamu.”

Yeri sedikit tertegun dengan jawaban cepat Leo.

“apakah oppa tidak berpikir dulu sebelum menjawabnya?”

“tidak perlu. Aku tidak menyukaimu dan tingkah kekanak-kanakanmu.”

“sedikitpun kau tidak menyukaiku?”

“……….”

“tidak?” Yeri mulai merasakan kelu bibirnya, ia tak sanggup berkata apapun setelah ini.

“……….”

“kenapa?”

Leo menghela nafasnya. Sejujurnya ia tak ingin menyakiti Yeri, bagaimanapun gadis itu masih sangat  muda. Tapi memintanya menjadi dewasa sepertinya bukan sebuah kesalahan.

“belajarlah menjadi dewasa Yeri.”

Yeri tertunduk lesu, ia berusaha menyembunyikan wajahnya.

Sementara Leo bangkit dari bangkunya.

“oppa.. kenapa kau jahat sekali padaku?”

Laki-laki itu menoleh ke arah Yeri yang masih tertunduk. Sejujurnya ia ingin melakukan sesuatu karena kelihatannya pernyataannya benar-benar membuat gadis itu terluka. Tapi bukankah lebih baik jika ia memperjelas semuanya sekarang.

“aku tidak pernah memintamu melakukan semua ini untukku Yeri-ya, semua ini akibat dari sikap kekanak-kanankanmu itu. Dan aku ini tetaplah dosen astrofisikamu, jadi bersikap sopanlah sedikit.”

“maafkan aku..”

Leo berlalu dengan kata maaf yang terucap di bibirnya. Dan Yeri tak dapat menahan lelehan air matanya yang jatuh mengaliri permukaan pipinya.

Sepertinya ia salah tentang teori yang dibuatnya selama ini. Perkataan orang-orang tentang ombak di lautan yang dapat memecah batu karang sepertinya tidak selalu benar. Karena ia bahkan tak bisa menyentuh hati Leo.

Setelah beberapa saat akhirnya Yeri mengusap paksa air matanya.

Manik mata hazelnya menerawang ke depan.

“well, sepertinya tak ada yang bisa menahanku untuk berada disini lebih lama lagi.”

.

.

Tepatnya hampir sepekan sejak pertemuan terakhir mereka di bangku taman dan Yeri sama sekali tidak muncul dalam kehidupan Leo. Ada perasaan lega bahwa gadis itu kini tak menguntitnya lagi atau mengiriminya pesan-pesan aneh, namun ketika berpikir tentang Yeri ada sebersit perasaan aneh. Ah benarkah? Tidak mungkin! Leo menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Tapi gadis itu juga tak ada di kampus, ia bahkan tak hadir di kelas. Sebenarnya kenapa gadis itu? Apakah penolakannya tempo hari benar-benar membuatnya terluka?

Leo mengigit bibir bawahnya, sejujurnya ia khawatir juga terlebih gadis itu jauh lebih muda darinya. Ataukah ia harus mencari tahu dari Hyuk? Bocah itu takkan curiga.

“Hyuk..” leo mengamati Hyuk yang sedang menyantap makan malamnya.

“eoh?”

“teman perempuanmu itu, yang tinggal di blok sebelah, siapa itu namanya… eumm—“ leo berusaha untuk tampak tak mencurigakan.

“Yeri?”

“ah iya, kemana dia? dia sudah dua kali tidak hadir di kuliahku.”

“oh,, dia sudah pindah.”

“uhukk!” Leo hampir memuncratkan seluruh isi makanan dalam mulutnya.

“kenapa kau terkejut begitu Hyung? Biasa aja kali..” Hyuk menyodorkan segelas air putih ke arah Leo.

“tid—ak hanya aneh saja karena dia tak meminta izin lebih dahulu.”

“entahlah aku juga tak tahu, dia pindahnya mendadak. Katanya ingin melanjutkan kuliahnya di luar negeri, dan lagipula ayahnya diangkat jadi diplomat di Kanada.”

“Ahh begitu..”

“tapi hyung, kenapa tiba-tiba menanyakannya? Bukankah kau tidak menyukainya?”

“tidak! Lupakan saja aku pernah bertanya padamu.”

Hyuk hanya mengangguk-angguk tanpa menaruh kecurigaan. Sementara Leo memandangi handphonenya dimana sudah enam hari ini tak ada satupun pesan yang dikirimkan oleh Yeri seperti biasanya.

Leo mengerjapkan kedua kelopak matanya. Sepertinya Leo mengerti kenapa alas an waktu itu Yeri memintanya bertemu. Mungkinkah gadis itu ingin agar Leo membuatnya tetap bertahan di Korea? Dan ketika Leo menolaknya, harapannya pupus sehingga tak ada alasan lagi untuk melanjutkan hidupnya disini.

Ah Tuhan, sebegitu sukanyakah gadis itu terhadapnya? Leo bahkan tak mengerti sama sekali kenapa gadis itu bersikap terlalu berlebihan padanya. Ah haruskah ia menyesalinya? Tapi Leo sendiri bahkan tak mampu menelaah isi hatinya. Gadis itu menarik namun terlalu kekanakan, dan jangan lupakan status dan perbedaan usia mereka. Kalaupun memutuskan untuk bersama Leo pun tak yakin hubungan ini akan bertahan lama.

Leo menghela nafasnya… Yeri, gadis itu mungkin akhirnya memang benar-benar sudah menyerah.

.

.

4 tahun kemudian.

Seorang gadis berumur dua puluh tahunan terlihat cantik dengan make up natural dan long dress berwarna beige yang dikenakannya. Sebuah flower crown semakin mempercantik tatanan rambut cokelat panjangnya yang bergelombang. Hari ini ia bertugas sebagai seorang pengiring pegantin di pernikahan sahabatnya.

“Yeri-ya, acara lempar buketnya sudah mau dimulai, Kajja!” Seulgi menarik tangan Yeri dan mereka mulai mengambil tempat di barisan paling depan untuk mendapatkan lemparan buket dari pengantin perempuan.

“Yeri-ya, aku akan melemparkan bunganya ke arahmu, jadi tangkap yang baik ya!” Irene sang pengantin perempuan tersenyum kearah Yeri.

“Okaii eon, aku memang ingin menikah muda hahahh”

Satu

Dua

Tiga

Hap!

Buket bunga itupun melayang ke udara, Yeri hendak menangkapnya namun buket itu masih terlalu tinggi dari jangkauannya. Dan buk! Buketpun jatuh kea rah belakang dimana kebanyakan tamu pria berkumpul. Seorang laki-laki menampilkan wajah datarnya dengan buket yang berada di atas tangannya, semua orang menatap ke arah laki-laki beruntung itu, hingga tak sengaja tatapan keduanya bertemu.

‘Yeri?’

‘Leo?’

 

END

*sorry for absurd story, ini ff ditulis setelah sekian lama mengalami writer block dan nggak bisa nulis ff gara2 UAS hikss

2 thoughts on “[vignette-series] Love is… (possibilities?)

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s