Free Spirit [Chapter 2]

FS-Chaeun

Free Spirit

by  tyavi

Astro Eunwoo and Twice Chaeyoung

The Ark Halla and Seventeen Vernon

Seventeen Wonwoo and Lovelyz J.I.N aka Myungeun

and slight appearance of BTS Jimin

Romance, Fluff, School life | Chaptered | PG-17 (for smoking, kissing, cursing and strange addiction content)

Previous part :

1

Summary :

“Batang beracun ini tidak pantas berada di sela-sela bibir seorang gadis.”

.

.

.

Di Hagnon High School ketampanan tidak ada artinya. Kemampuan akademislah yang diutamakan. Hanya nilai sempurna dan peringkat teratas yang dapat membawamu berkuasa atas segalanya, termasuk menunjuk seorang gadis biasa yang baru saja menginjakkan kaki selama dua bulan di Hagnon menjadi wakilnya. Ya, Cha Eunwoo bisa melakukannya dan ia memanfaatkan kewenangannya itu dengan baik. Berbanding terbalik dengan Han Chaeyoung yang merasa masa remajanya terancam saat sebuah kalimat ditambahi telunjuk teracung ke arahnya dilakukan oleh pemuda itu.

“Aku mau dia yang menjadi wakilku.”

Jangan suruh Chaeyoung menanyakan ‘kenapa’ karena ia pun telah melafalkan kata itu jutaan kali di depan hidung Cha Eunwoo.

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa harus dirinya?

Tapi rasanya Chaeyoung tidak akan bertanya lagi kalau tidak ingin merasa jengkel setengah mati dengan jawaban Eunwoo yang berbunyi, “Karena kau dua tahun lebih muda dariku tetapi berada di kelas yang sama, pasti ada sesuatu yang berbeda darimu, ‘kan?”

Ugh, demi Neptunus! Kalau bukan Papa Chaeyoung yang tidak sabaran memasukkannya ke dalam Sekolah Dasar hanya karena Chaeyoung sudah dapat membaca koran saat baru berumur empat tahun, ia tidak mungkin sudah berada di kelas dua Sekolah Menengah sekarang. Yeah, padahal itu karena Chaeyoung kecil selalu dititipkan pada nenek dan kakeknya. Chaeyoung ingat sekali waktu itu ia selalu menghabiskan pagi hari di pangkuan kakeknya yang sedang membaca koran, menunggu sang nenek memanggang pai apel cokelat kesukaannya. Jadi kalau Chaeyoung harus mengonfirmasi, tidak ada hal yang begitu istimewa pada dirinya yang sekolah lebih cepat dua tahun.

Tak cukup harus bergaul dengan teman-teman yang lebih tua dua tahun darinya, Chaeyoung harus menghabiskan masa-masa berumur lima belas tahunnya di dalam ruang Student Council bersama seorang pemuda yang menyebalkan—tapi tampan. Okay, yang terakhir itu Chaeyoung tidak ingin munafik. Cha Eunwoo memang tampan, sampai-sampai Chaeyoung sempat tertegun selama sepuluh menit (tidak lebih!) sebelum akhirnya terpaksa merubah impresinya pada pemuda itu 180 derajat. Yeah, Chaeyoung baru saja masuk ke Hagnon sebagai murid pindahan dari Busan dan langsung disuguhi Eunwoo yang tengah berpidato di depan—sebelum pelantikannya sebagai ketua Student Council. Mengetahui si siswi baru lebih muda dua tahun darinya, Eunwoo serta-merta menunjuknya sebagai wakil ketua. What’s going on earth?

Jangan kau bayangkan menjadi pendamping—wakil—ketua Student Council yang super pintar dan tampan itu menyenangkan. Suka memerintah, mengritisi hasil kerjanya, memaksanya lembur merombak laporan bulanan, menyuruhnya membeli ini itu, dan bahkan membuat Chaeyoung menjadi tukang bersih-bersih dadakan. Itu semua hanya sekelumit dari banyaknya sifat menyebalkan seorang Cha Eunwoo yang baru terkuak saat Chaeyoung hanya berdua dengannya di ruang satu petak itu. Oh, rasanya Chaeyoung ingin mengutuk nama Cha Eunwoo jutaan kali. Kalau memang pemuda itu selalu tidak puas dengan hasil kerjanya, kenapa ia memilih Chaeyoung sebagai wakil?!

Untungnya sekali pun Chaeyoung tak pernah berniat untuk mengundurkan diri karena kalau boleh jujur, diam-diam Chaeyoung mulai menikmati statusnya sebagai wakil ketua student council. Entah kenapa ia sangat antusias setiap Eunwoo mengadakan rapat untuk kegiatan sekolah selanjutnya, karena pada saat itu Eunwoo selalu memberi Chaeyoung kesempatan untuk menyumbangkan idenya. Bukankah sangat menyenangkan bisa mengadakan acara sekolah seperti apa yang kau idamkan? Nah, itulah yang membuat Chaeyoung menggunakan kesempatannya dengan sebaik-baiknya. Disamping sikap menyebalkan Eunwoo, pemuda itu selalu mau bertukar pikiran dengannya. Eunwoo bukan tipe orang yang akan mengambil keputusan sebelah pihak, ia akan dengan sabar mendengarkan pendapat-pendapat dari anggotanya. Tipikal pemimpin idaman.

Less sugar coffee.”

Tangan Chaeyoung refleks menekan tombol minuman kopi kalengan itu di mesin penjual minuman otomatis. Menjadi partner Eunwoo selama dua bulan belakangan membuatnya hafal di luar kepala apa saja tentang pemuda itu, termasuk minuman kesukaanya, kopi tanpa gula. Setelah itu ia menekan tombol jus jeruk kalengan untuk Wonwoo, dan memilih susu kotak rasa vanila untuknya.

Setelahnya Chaeyoung kembali memintal langkah kembali ke ruang student council dengan sebelah tangan membawa dua minuman kaleng dan tangan satunya memegang susu kotak yang mulai diseruputnya. Chaeyoung baru saja memutar kenop pintu saat mendapati Eunwoo tidak sendirian, ramai malah. Ada Seokmin dan Minghao yang duduk mengelilingi meja kerja Eunwoo dengan sebuah majalah terbuka di depan mu—tunggu! Apa Chaeyoung tidak salah lihat? Majalah yang menampilkan foto perempuan dengan bentuk tubuh sempurna sebagai cover itu seperti…err, majalah dewasa?

Chaeyoung yang masih berada di ambang pintu, mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha memastikan kalau ia benar-benar tidak salah lihat.

Hei, apa mereka sudah gila membaca majalah dewasa di ruang Student Council?!!

“Bagaimana menurutmu, Eunwoo?” Seokmin berujar pada si Ketua yang duduknya di tengah-tengah mereka.

“Menurutku yang rambutnya pendek lebih cantik.”

“Dia? Hei, kau suka gadis berambut pendek?” timpal Minghao yang duduk di sebelah kiri Eunwoo.

“Iya.”

Sontak Seokmin menepuk pundak Eunwoo keras. “Hei, ternyata seleramu itu yang sek—oh! Hai, nona Wakil!” Pemuda Lee yang baru menyadari presensi Chaeyoung di ruangan itu kini berseru seraya melambai ke arahnya. Membuat dua lelaki—yang semula memusatkan atensi pada buku yang sama sekali tidak mau Chaeyoung sentuh—menoleh ke arahnya. Tersenyum canggung, Chaeyoung menggerakan tungkainya mendekati meja Eunwoo. Diletakkannya minuman kaleng pesanan si Ketua di atas meja sambil ekor matanya curi pandang ke arah majalah yang kini diabaikan di atas meja. Di lembar yang terbuka terlihat seorang gadis bersurai auburn berpotongan bob mengenakan jaket kulit dengan celana super pendek. Yeah, setidaknya gambar itu tidak terlalu vulgar untuk ukuran majalah dewasa. Menyadari ke mana gadis itu memandang, Eunwoo lekas menutup majalah di hadapannya dan melemparkannya ke arah Seokmin.

“Astaga!” Seokmin berseru. “Aku lupa kalau Chaeyoung masih dibawah umur. Maaf, nona Wakil!” Lee Seokmin memeluk majalah kesayangannya sambil menunduk-nunduk ke arah Chaeyoung. Tentu membuat Chaeyoung lantas melempar tatapan membunuh ke arahnya. Hei, mereka pikir mereka sudah cukup umur??

Tak mau mendapat amukan dari Chaeyoung (karena jujur saja, Chaeyoung tidak suka disinggung perihal umurnya yang lebih muda) Minghao menarik Seokmin untuk pergi dari ruang Student Council. Dan sepeninggal dua makhluk mesum (menurut Chaeyoung) itu, Chaeyoung mendudukkan diri dan memincingkan mata ke arah Eunwoo yang sedang membuka pengait minuman kalengannya.

“Beberapa waktu lalu, kau menegur Vernon karena berkelahi. Mengatakan padanya apa ia pantas disebut siswa teladan.” Melipat kedua tangan di depan dada, Chaeyoung meneruskan. “Tapi barusan kau membaca majalah dewasa, tuan Ketua. Sekarang apa kau bisa sebut dirimu siswa teladan?”

Meneguk sejenak minuman favoritnya, Eunwoo menjawab santai. “Aku tidak membacanya, mereka yang menunjukkannya padaku.”

Chaeyoung mendengus. Cih, bagaimanapun ‘kan dia juga melihat!

“Andai yang lainnya tahu bagaimana Ketua Student Council mereka sebenarnya,” sindir Chaeyoung, sontak membuat Eunwoo menanamkan tatapan pada manik karamelnya. Eunwoo membalas seraya menjungkitkan sebelah alis.

“Apa kau berencana merusak reputasi partner-mu sendiri? Lagipula itu manusiawi, nona Wakil. Bagaimanapun aku adalah lelaki, ‘kan?”

Kalau hanya memetakan sebuah smirk di paras tampannya, Chaeyoung tidak masalah. Justru ia sudah biasa diberi senyum miring menyebalkan—tapi tampan—itu. Namun, haruskah pemuda Cha itu mengucapkannya dengan jarak sedekat ini. Chaeyoung jadi was-was.

“Mengediplah, Wakil.”

Layaknya sebuah perintah, Chaeyoung serta-merta mengerjapkan matanya. Tanpa sadar sudah sepuluh detik ia menatap wajah Eunwoo yang jaraknya lumayan membahayakan itu tanpa berkedip. Lekas Chaeyoung menyedot susu kotaknya cepat-cepat lantaran kelewat malu tertangkap basah memandangi partner—tampan—nya itu.

Manik hazel Eunwoo bergantian memandang wajah polos namun merona milik Chaeyoung dan susu kotak yang tengah diminumnya. Meneguk kopi hitamnya sekali lagi, Eunwoo tertawa ringan seraya menoyor dahi Chaeyoung dengan telunjuknya.

“Harusnya aku tidak mencandai bocah.”

Sial, Cha Eunwoo!

***

Koridor utama Hagnon High School rasanya masih luas kendati ratusan siswa mulai berdesakan di sana. Bahkan kendati waktu baru bergulir selama lima menit, murid Hagnon yang berbondong-bondong menuruni tangga telah mencapai baris terakhirnya. Semua pasang mata berporos di titik yang sama, pemandangan yang sama, objek yang sama, yaitu sepasang siswa-siswi yang terang-terangan tengah bermesraan di tengah-tengah koridor. Memagut bibir satu sama lain seakan tak peduli pada ratusan manusia yang memusatkan atensi kepada mereka. Jujur saja, boro-boro mengacuhkan bagaimana orang lain memandang, menghentikan degup lancang di dalam dada karena sentuhan lembut di bibir saja sulit. Bahkan iris hazel si pemuda masih setia membelalak—terkejut atas aksi sang gadis yang begitu tiba-tiba.

“Apa mereka sudah gila?”

“Siapa mereka?”

“Bukankah itu Vernon, si peringkat pertama? Dengan siapa dia?”

Oh, God! Itu Lee Halla, ‘kan?”

“Mereka pacaran?!”

Sejurus kegiatan kasak-kusuk yang mulai kentara terdengar, Halla menjauhkan wajahnya. Membuat Vernon tak perlu repot-repot menghitung mundur demi menenangkan detakan jantung dan juga krisis oksigen yang mendadak melanda. Halla memutar kepala, mengobservasi sekelilingnya dengan retina. Mendapati hampir seluruh murid Hagnon—entah itu seangkatan atau satu dan tiga angkatan di atasnya—tengah menelanjanginya dengan tatapan, tak terkecuali sepasang kekasih yang berdiri tak jauh darinya. Jung Chanwoo dan Shannon Williams.

Halla tidak tahu apa yang terjadi padanya. Awalnya, ia pikir dengan begini—mencium Vernon di depan umum—setidaknya ia bisa membuat Chanwoo cemburu atau menganggap Halla sudah melupakan hubungan mereka yang telah berakhir. Sehingga Halla tidak akan terlihat menyedihkan di mata seorang Jung Chanwoo. Tapi kini, mengapa ia merasa Chanwoo menatapnya demikian—dengan sorot mata yang tidak dapat Halla pahami dan ekspresi yang tidak terdefinisi. Halla bahkan tidak tahu apa Chanwoo terkejut atau malah merasa jijik padanya. Yang Halla bisa lakukan di detik selanjutnya adalah pergi. Berlari sejauh mungkin dari para manusia yang suka mengkritisi. Mengabaikan seorang pemuda blasteran yang masih bungkam dengan mata membulat, menunggu penjelasan dari si gadis yang kini memilih untuk melarikan diri.

“Lee Halla!”

***

Melangkahkan kaki radius tiga meter dari ruang student council, otak pintar Wonwoo baru ingat kalau ia menitip dibelikan minuman pada Chaeyoung tadi. Ah, ia memang pelupa. Kedatangan dua penghuni asing—Minghao dan Seokmin—di ruang student council membuatnya tidak ingat lantas pergi begitu saja setelah menanyakan sedikit hal pada Eunwoo. Dan kini Wonwoo harus membeli sendiri jus jeruknya karena dahaganya belum terpuaskan. Sekon selanjutnya ia melangkahkan kaki ke arah mesin penjual minuman otomatis terdekat. Memasukkan uangnya, ia pun menekan tombol jus jeruk. Agak lama Wonwoo menunggu seraya bersiul kecil namun tak terdengar juga bunyi kaleng yang jatuh—pertanda minumannya sudah keluar. Dan kini siulan di bibirnya berhenti, berganti kening pemuda itu yang mengerut perlahan. Ada yang tidak beres.

Satu tepukan ia layangkan pada mesin berbentuk kotak itu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Nihil. Si mesin tidak juga bereaksi pun minumannya enggan menyembul barang separuh.

“Hei, berikan minumanku!”

Wonwoo mulai sinting karena memarahi mesin penjual minuman otomatis. Dan sekonyong-konyong ide cemerlang melintas di benaknya. Mungkin tepukannya tidak cukup kuat untuk menggetarkan mesin itu, kenapa tidak ia tabrak saja mesinnya?

Merenggangkan sejenak kedua lengannya dan memutar bahu lebarnya—melakukan sedikit pemanasan. Wonwoo mengambil beberapa langkah mundur untuk—

“Aw!”

“Ah!”

Wonwoo terkejut saat tungkainya justru menginjak kaki seseorang. Dan dari pekikannya, tanpa menoleh pun Wonwoo sudah tahu kalau itu seorang gadis. Berbalik, sang gadis telah menunduk sambil mengaduh. Ugh, injakan Wonwoo segitu kuatnya, ya?

“Maaf, kau tidak apa-apa?”

Refleks Wonwoo memegangi lengan gadis itu—membantunya berdiri seraya berusaha mencari tahu siapa gadis yang(tidak sengaja) diinjaknya. Sukses berdiri, si gadis menengadah meski ekspresinya masih merenggut lucu, membuat Wonwoo dapat melihat jelas rupa sang gadis bersurai sebatas leher yang ternyata manis untuk dipandang. Bahkan rambut model bobnya itu tampak sempurna menbingkai wajah ovalnya. Wonwoo jadi penasaran siapa gadis itu karena rasanya ia belum pernah melihatnya.

“Ini aku.”

Suara barusan sukses membuat Wonwoo menghentikan aktivitasnya mengamat-amati sang gadis di hadapan. Pasalnya, dibanding wajah yang dirasa asing di netranya, suara si gadis cukup familiar. Mengingatkannya pada teman sekelasnya yang bernama,

“Park Myungeun?”

“Haruskah kau memanggil nama lengkapku?” sahut gadis Park itu dengan alis berjungkit.

Refleks Wonwoo melepaskan pegangannya pada lengan Myungeun. “Ternyata kau. Astaga, kukira siapa, kau terlihat berbeda.”

“Aku hanya memotong rambutku. Apa sebegitu berbeda?”

“Iya,” Wonwoo menjawab jujur. Terbiasa melihat Myungeun dengan surai panjang bergelombang tak disangka membuatnya sepangling ini saat gadis itu memotongnya pendek. Mengelus dagunya perlahan, Wonwoo melanjutkan. “Kau terlihat lebih—

“Jeon Wonwoo!”

“Kak Jimin?”

“Senior Park?”

Kemunculan seorang pemuda berperawakan sedang menginterupsi ucapan Wonwoo. Pemuda yang tak lain adalah Park Jimin—kakak lelaki Myungeun—itu langsung merangkul pundak Wonwoo akrab.

“Aish, jangan panggil aku begitu. Panggil Kak Jimin saja, atau tidak usah pakai embel-embel ‘Kak’ juga boleh, kok.” Jimin tersenyum sampai garis matanya membentuk bulan sabit.

“Oh, Myungeun.” Ia baru menyadari kehadiaran sang adik rupanya. Wonwoo yang berada di dalm rangkulan melempar tatapan heran.

“Jadi ini benar-benar Myungeun?” ia berusaha mengonfirmasi.

“Tentu saja, Wonwoo. Memangnya kau kira siapa? Oh, apa karena Myungeun memotong pendek rambutnya?” Jimin bertanya yang lantas dijawab anggukan kepala oleh Wonwoo. Beringsut mendekat, Jimin melanjutkan ucapannya dengan nada berbisik. “Kalau kau mau tahu, itu karena Myungeun ingin terlihat lebih dewasa.”

Namun masih dapat didengar Myungeun karena kini gadis yang tak lain adalah teman sekelas Wonwoo itu memasang wajah masam.

Kak Jimin menyebalkan!

“Oh iya, Wonwoo. Kau ‘kan sudah tidak menjabat ketua student council lagi, berarti tidak terlalu sibuk, ‘kan?” Jimin mengalihkan pembicaraan karena tidak mau mendapat amukan dari Myungeun. “Mainlah kerumahku, sudah lama sekali.”

“Iya, Senior Park—aw!” Wonwoo meringis saat satu jitakan mendarat di kepalanya.

“Sudah kubilang jangan panggil aku begitu!”

Membuat Myungeun geleng-geleng kepala. Jimin tidak sadar kalau ia baru saja memukul kepala seorang siswa peringkat satu di angkatan Myungeun.

***

“Lee Halla!”

Vernon menghirup oksigen banyak-banyak, napasnya terengah karena ikut berlari, menyusul Lee Halla. Beruntung kini mereka sudah sampai di destinasi—Halla berhenti tepat di atap sekolah—karena kalau tidak mungkin Vernon sudah menyerah karena kemampuan berlari Halla perlu diberi penghargaan. Lama-lama Vernon merasa kalau Halla akan membunuhnya hari ini juga karena tak puas-puasnya mengerjai jantungnya—mengacaukan detakan serta aliran darahnya. Pertama jantungnya menddak berdetak abnormal saat gadis itu menciumnya dan sekarang jantungnya harus bekerja ekstra karena Vernon baru saja diajak lari maraton oleh Lee Halla.

Selepas mengatur napas serta kerja jantungnya menjadi normal, Vernon mulai memintal langkah kea rah Halla.

“Lee Halla.” Surai legam sang gadis dimainkan angin saat Halla menolehkan kepala ke arah sumber suara. Melempar tatap ke arah Vernon dengan wajah tanpa ekspresinya.

“Menjadi pacar pura-pura. Apa maksudnya?” tanya Vernon lantang, menyinggung perihal kalimat yang terucap dari bibir gadis itu beberapa saat lalu.

“Tidak ada.” Lagi-lagi Halla berujar ringan, sangat ringan namun membuat rungu Vernon perlu mencerna selama beberapa jenak.

“Hah?”

“Aku hanya asal bicara.”

Hey, apa kau juga minum di atap sekolah,” ujar Vernon yang lantas disambut tatapan dingin dari kedua manik karamel Halla. “Aku hanya bercanda.”

Ha. Padahal Vernon rasa gadis itu benar-benar mabuk.

“Sesuatu yang kau sebut pacar pura-pura itu,” Vernon berujar lagi. Mengambil beberapa langkah mengusir spasi di antara mereka. “Aku tidak mau melakukannya.”

Halla tak menjawab. Bibirnya terkatup rapat seakan ia enggan menanggapi. Justru irisnya menyiratkan tatapan seolah Vernon adalah alien yang sedang bicara—sulit untuk Halla mengerti.

“Untuk apa? Toh, yang lain mengira kita benar-benar pacaran.”

Manik Halla memincing.

“Kau menciumku, Nona.”

Ap-apa?!, Halla membatin dengan manik membelalak.

Lagi-lagi Vernon mengambil langkah mendekat. “Daripada berakting di depan umum, bagaimana kalau—”

Kalau apa? Apa cowok gila ini menyukaiku? Ia mau menembakku, hah?! Cih, dia pikir aku seperti gadis lainnya yang akan…

“—kita berteman?”

“Hah?”

Vernon dengan semangat memamerkan senyum merekahnya pada Halla seraya berujar antusias. “Kita berteman. Aku menjadi temanmu dan kau menjadi temanku.”

Bullshit!

Halla membuang muka dan mendengus, membuat netra Vernon serta-merta melebar— terkejut atas umpatan gadis itu. Sepersekian sekon berikutnya Halla memincingkan matanya pada Vernon.

“Tidak ada yang namanya teman di hidupku.”

Halla mengamit sebungkus rokok dari kantung seragamnya dengan gusar, mengeluarkan satu batang, dan menyelipkannya di antara kedua belah bibir peachnya.

Sejenak tertawa meremehkan. “Semua orang sama saja, pada akhirnya mereka akan mening—hei!”

Halla memekik atas tindakan Vernon yang tiba-tiba mengambil batang rokok di mulutnya, menjatuhkannya lantas menginjaknya hingga rata dengan tanah.

“Batang beracun ini tidak pantas berada di sela-sela bibir seorang gadis.”

Halla berdecih.

“Hansol Vernon Chwe, kau pikir siapa dirimu beraninya mengam—”

Halla tak melanjutkan perkataanya karena sebuah lollipop telah lebih dulu membungkamnya, dan dilakukan oleh si pemuda Chwe.

“Maaf, aku tidak tahu kau suka rasa apa dan kebetulan aku hanya punya yang rasa jeruk.”

Alis halla nyaris menyatu .

“Kau bisa mengemut itu jika mulutmu iseng.” Vernon menyudahi perkataannya dengan senyuman khas yang tampak sempurna di paras kebaratannya. Sukses membuat Halla tertegun sesaat.

“Beritahu aku rasa apa yang kau suka dan aku akan menyiapkannya lain waktu.”

Mengulum sejenak rasa manis yang lumer di lidahnya, Halla berdecak. Mendekatkan wajahnya dan membiaskan rupa cantiknya di kedua iris hazel Vernon.

“Tidak, terima kasih,” imbuhnya dengan senyum meremehkan. Lantas menarik gagang lolipop di dalam mulutnya dan mengembalikannya pada Vernon dengan cara memasukkannya ke dalam mulut lelaki itu yang sedikit terbuka.

“Untuk permennya dan tawaran pertemanannya.”

Vernon terkejut—lagi-lagi—atas aksi Halla. Bahkan tak lagi menghalau saat tungkai gadis itu melangkah, hendak meninggalkan atap sekolah. Dan tepat saat kenop pintu yang menghubungkan atap sekolah dan tangga nyaris tergapai, Halla membalikkan tubuhnya.

.

.

.

“Hei, cowok bule. Berhenti mengikutiku.”

TBC

 1452698073279

4 thoughts on “Free Spirit [Chapter 2]

  1. Gak nyangka eun woo yg tegas Dan berwibawa ITU suka baca mjalah yg begituan. Gak cocok bget sm muka polos nya.
    Jiahh, rokok nya dganti sm lolipop. Unyu banget sih kamu Vernon.>_ <

  2. Oemji ada sesuatu ya antara pak eunwoo dan bu chaeyoung. Unyu juga mereka berdua tapi yah…. cembokur dikit iya dikit kok dikit banget ((ini apa))

    Kukira bakal kefokus ke eunwoo sama chaeyoung aja ngeliat ke bagian cast mereka ditaroh di paling awal, dan akhirnya terungkap sudah hubungan vernon chwe dan lee halla hahahahahah… entahlah aku harus ngedukung mereka temenan aja atau mau lebih. Lanjutannya ditunggu^-^

    • hahaha duhh maaf yaa bikin cemburu :”””

      ohh maaf aku salah nempatin namanya. eunwoo dan chaeyoung juga punya bagian banyak tapi ceritanya lebih berfokus di hubungan hanon 🙂
      hahaha teman atau tidaknya bisa dilihat di chap tiga. udah aku post hehe
      makasihh sudah membaca dan meninggalkan jejak ^^
      maaf telat balesnya ya

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s