[4/5] 23:23

23-23-puchanli23:23–;
__________________________________________________

23:23 part 4 by puchanli

‖ Kris Wu, Jessica Jung – Luhan, Park Chanyeol ‖

Chaptered ⁞ Action, Drama, Angst, Tragedy, Romance ⁞ Teen

“I own nothing but the storyline”

cr. poster to Bekey @ Cafe Poster

teaser • prolog • 1/5 • 2/5 • 3/5


© puchanli, 2015.

Sekelebat sinar hangat menyentuh kulitku. Meninggalkan jejak dan perintah untuk segera bergegas dan memulai hari baru. Kubuka mataku dengan malas dan sebuah hal aneh tiba-tiba terlintas dalam pikirku, semuanya hanya mimpi?

Namun ketika kulirik sweeter rajutan nenek di sofa sebelah, ternyata masih berlumuran darah. Bukan mimpi, hal yang kemarin memang telah terjadi.

Nenek sudah membuatkan pancakes dengan selai nanas yang dulu sering ia buatkan untukku. Seperti tak biasa, meskipun rasanya sangat enak tapi ada hal buruk yang membuatnya hambar. Seluruh nafsu makanku turun drastis, seketika. Kulirik jam dinding di dapur. Pukul 07.00. Biasanya pagi ini Kris akan mengetok pintu rumahku enam kali dengan jeda tiga-tiga. Namun tak ada suara pintu diketok setajam telinga bisa mendengar, terutama dengan jeda tiga-tiga.

Aku kembali mendesah panjang, bangkit dan segera menuju ruang kerjaku. Kembali berkutat berjam-jam dengan lembaran-lemabaran yang entah akan penting atau tidak. Akan selesai sesuai deadline atau tidak.

Melewati tiga jam setelah waktu makan siang, pintu rumahku diketok. Sayangnya iramanya tidak enam kali dengan jeda tiga-tiga, namun irama asing tiga kali dengan lemah. Aku bangkit dengan malas dan membukakan pintu depan.

Seorang lelaki kemarin malam, Luhan, berdiri di depan pintu dengan tanpa kacamata hitamnya dan pakaiannya yang tampak lebih santai. Dan baru kusadari ternyata Luhan memiliki sepasang mata mungil seperti mata kijang.

Annyeonghaseyo Jessica-ssi,” ia menyapa dengan bahasa Korea yang fasih.

Annyeonghaseyo,” aku hanya membalas sewajarnya. “Masuklah.”

Luhan duduk di sofa depan dengan raut waspada yang terukir jelas. Segera kutangkap sinyal itu. “Apakah rumahmu tidak ada orang?” Ia bertanya tiba-tiba.

Sekarang justru aku yang merasa waspada, ada apa ini? Apakah Luhan akan membunuhku? Tidak, tidak mungkin, dia bilang perintah terakhir dari ketua tim-nya adalah untuk melindungiku.

“Nenekku sedang tidur siang.”

“Baguslah,” Luhan menimpali. “Maksud kedatanganku adalah, seperti yang ingin kau ketahui tentang kejadian semalam. Aku sudah membahasnya bersama Jenderal Zhon dan ia setuju untuk memberitahumu tapi dengan syarat, kau tidak bisa menyebarkan cerita ini dalam bentuk apapun.” Matanya tajam menatapku.

Aku menelan ludah, gugup. Persyaratan seperti ini tidak pernah ada dalam kehidupan seorang jurnalis, jadi lebih sulit untukku mengangguk. Namun aku tetap mengangguk, karena bagaimana pun juga hal ini ada hubungannya dengan Kris.

“Kau tahu perselisihan yang terjadi antara China dan Korea atas alasan ras, bukan?” Luhan memulai setelah menghela nafas.

“Ya, tentu saja aku tahu,” aku menyahut. “Aku sedang membuat esai tentang itu.”
Sepasang mata kijang itu membesar, membuatnya tampak seperti kijang yang sedang mencari makan. Kemudian ia terdiam, cukup lama. “Kurasa lebih baik tidak dilanjutkan.”

“Apa? Tunggu dulu, tidak bisa seperti itu!”

“Nona, kau seorang jurnalis, tugasmu menulis dan menulis dan menulis, dan jika aku memberitahumu tentang kasus ini, pasti akan kau tulis, apalagi ini untuk esaimu,” Luhan menyela. “Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi.” Ia hendak bangkit.

“Hei, tenang, tunggu dulu,” aku meraih lengannya. “Baiklah, aku berjanji aku tidak akan melakukannya. Aku akan menyimpannya saja dan tidak menyebarkannya. Aku berjanji.”

Luhan berhenti sebentar. “Dan kalau kau melanggarnya, kau harus siap dengan hukuman mati, dengar?” Nadanya terkesan mengancam.

Mati, lagi. Aku sudah muak dengan apapun ini yang menyangkut nyawa. Semalam penuh dengan bunyi tembakan, jeritan, bau darah, dan kematian sudah cukup membuatku mual. Walau begitu pada akhirnya aku tetap mengangguk setuju, “aku lebih baik menyusul Kris daripada harus berbohong.”

Reaksi dalam wajah Luhan seolah berkata, ‘gadis ini benar-benar sudah gila.’

Akhirnya atas bujukan dan desakan, Luhan pun melanjutkan ceritanya. “Ras China, persebarannya sangat pesat di seluruh dunia ini. Mereka hampir ada di semua negara, sedangkan ras Korea yang sejatinya memang berbeda dengan ras China mengalami penyusutan dalam pertumbuhan. Itu menyebabkan pengurangan kependudukan di Korea dan pertumbuhan yang pesat di China. Karena itu, banyak sekali rakyat China yang melakukan urbanisasi dan pindah ke negara-negara di sekitarnya.”

Aku mengangguk setuju, apa yang dikatakan Luhan juga ada dalam lembaran tugas esaiku, sesuai riset yang sempat kulakukan ketika aku masih di Amerika. Luhan kembali menarik nafas, “seperti yang kita berdua tahu, mayoritas penduduk Tionghoa yang melakukan urbanisasi adalah para pengusaha yang akan membuka usaha baru atau cabang usaha di berbagai sektor ekonomi di Seoul. Hal itu mengkhawatirkan pemerintah Korea karena itu berarti perekonomian Korea bisa sepenuhnya diambil alih oleh China. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi adanya perubahan ekonomi, akhirnya dilakukanlah sebuah penghabisan penduduk secara rahasia. Pemerintah mengeluarkan sebuah tugas untuk beberapa orang terpercaya di Korea untuk menghabisi penduduk keturunan Tionghoa yang menetap di Korea.”

Luhan mengeluarkan sesuatu dari koper kecil yang baru kusadari ternyata ada bersamanya. Beberapa lembar kertas dikeluarkannya. Terdapat foto beberapa orang di sana. “Inilah orang-orang yang diturunkan pemerintah Korea untuk menghabisi ras China. Dari kiri ke kanan ada Kim Minseok, Kim Junmyeon, Byun Baekhyun, Kim Jongdae, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Kim Jongin, dan Oh Sehun. Mereka semua adalah agen mata-mata Korea terlatih yang bertugas tiap malam untuk menyusupkan sebuah pil yang berukuran mikro. Pil itu bukan pil sembarang; melainkan pil beracun yang bisa membunuh seseorang hanya dengan menyentuhnya selama beberapa menit.”

Aku tertegun, kembali teringat mengenai esaiku. Sungguh, selama aku mulai berniat membuat esai ini, tidak pernah terlintas sedikit pun untuk menulis tentang agen rahasia atau mata-mata. Semuanya benar-benar di luar kemampuan berpikirku.

Kuamati foto-foto yang dibawa oleh Luhan. Seseorang yang bernama Chanyeol yang ada di dokumen ini memiliki wajah yang sama dengan pria penembak Kris kemarin. Pastilah pembunuh itu bernama Park Chanyeol!

“Mereka mulai bergerak dan misi itu segera didengar oleh pemerintah China setelah ada kabar kematian penduduk keturunan Tionghoa di Korea secara misterius. Kemudian Jenderal Zhon, atasan kami yang juga ketua dari Kemiliteran China, memilih orang-orang lulusan terbaik Sekolah Militer di China untuk menjadi mata-mata sekaligus menggagalkan misi mereka. Dan orang yang terpilih adalah ketua tim Yifan, atau Kris, Yixing, Zitao, dan aku. Kami satu tim, dengan Wu Yifan sebagai ketuanya,” Luhan berhenti sebentar. “Seperti yang kau tahu, tidak mudah untuk kami mendapat panggilan misi sebagai mata-mata itu. Kami sudah melalui latihan berat sejak lulus SMA dan ketua Yifan adalah satu-satunya yang berhasil lolos melalui semua ujian dengan nilai yang sangat memuaskan, jauh dari rata-rata. Dia termasuk murid teladan pada masa itu.” Sesinggung senyum terlukis di wajahnya.

Aku benar-benar tertegun mendengarnya, percampuran antara kagum, terharu, dan cinta tergabung menjadi satu. Kepada sosok lelaki yang bersedia mengorbankan nyawanya demi aku. Demi diriku seorang!

“Jenderal Zhon memberi tugas untuk kami yaitu untuk memberi suntikan intensif kepada penduduk yang telah terkontaminasi pil pembunuh tadi. Ia juga memberi kami tempat tinggal secara berpencar di seluruh Korea dan meminta kami untuk menggunakan nama samaran selama tinggal di sini. Dan ketua Yifan ditugaskan di Seoul, ibukota Korea, dengan tugasnya yang tidak mudah, mengingat di sinilah banyak penduduk keturunan Tionghoa. Maka kami sepakat untuk menggunakan waktu tengah malam sampai terbit fajar untuk bekerja,” Luhan berhenti lagi untuk menarik nafas. “Dengan berbekal suntikan dengan zat penawar di dalamnya, kami mulai berpencar ke seluruh tempat umum di Korea. Dan tugas kami akan selesai pada waktu matahari akan terbit.”

Aku mengangguk paham, sekarang aku bisa menemukan benang merah dari semua pertanyaan tak terjawab yang selalu menghantuiku di tiap malam. Pantas saja dia mempunyai banyak suntikan seperti psikopat, selalu menghilang di malam hari seperti vampir, dan muncul dengan misterius di pagi hari seperti alien. Psikopat, vampir, alien, atau apapun itu, ternyata dia adalah seorang pahlawan.

“Dua tahun kami di sini dan Jenderal Zhon mendapat laporan bahwa ketua Yifan dikabarkan dekat dengan masyarakat sipil,” Luhan memandangku tajam. “Dan orang itu adalah kau, Nona.”

Aku menghela nafas.

“Menurut janji yang telah disepakati sebelum kami ditugaskan, kami tim mata-mata sudah bersumpah untuk tidak mempunyai hubungan apapun dengan masyarakat sipil, terlebih lagi dengan penduduk Korea. Karena itu sama saja dengan mengorbankan diri sendiri,” Luhan mengubah posisi duduknya. “Jenderal Zhon menganggap ketua Yifan telah melanggar sumpahnya dan Jenderal Zhon telah memperingatinya untuk segera menjauhimu, namun dia tetap tidak melakukannya. Sampai akhirnya Jenderal Zhon memberinya peringatan keras dan ultimatum akan membunuhmu jika ia tetap tidak menurut.”

Jantungku berpacu, berdegup makin kencang. Aku diam membisu, Luhan masih melanjutkan cerita panjangnya.

“Ketua Yifan tak ingin itu terjadi, maka ia pun berusaha untuk lebih menjaga jarak denganmu. Dia memblokir namamu dari kontaknya, tidak menemui atau bahkan menyapamu dalam waktu lama. Dalam hatinya, ia bertekad untuk tidak akan membawa namamu dalam misinya. Dia tidak ingin kau ikut dalam bahayanya hidup seperti ini. Dia mencoba membohongi perasaannya, membohongi dirimu, membohongi semua orang hanya karena dia ingin kau selamat. Dia ingin memperjuangkan tanah airnya sekaligus ingin melindungimu, Nona.”

Dadaku kembali terasa nyeri yang mendesak hingga kerongkonganku, membuatku sulit untuk menarik nafas. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sangat tersentuh, terharu, dan tertegun. Hatiku luluh lantak sekaligus setelah mendengar semua yang dikatakan Luhan. Semua yang ada dalam pikiran Kris, yang tertutup rapat di balik wajah rupawannya. Dia selalu punya alasan atas apa yang dia lakukan. Seketika tangisku pecah, memenuhi seluruh ruangan.

Kris, tidakkah kau dengar aku menangis untukmu saat ini?

“Jenderal Zhon tetap ingin melakukan niat untuk membunuhmu,” Luhan kembali melanjutkan setelah menyodorkan tiga lembar tisu untukku. “Dan niatnya adalah kedatangan kemarin malam. Ketua Yifan yang mengetahui itu segera memintamu untuk meninggalkan rumah ini malam itu juga. Dia tidak bisa melihat dirimu terperangkap dalam ketakutan, dia tahu kau akan takut dan tenggelam dalam kepiluan dan dia tidak ingin itu terjadi padamu. Tapi kau benar-benar tidak menurutinya karena saat itu kau sedang marah dengannya. Maka malam itu ia menyesali apa yang telah ia lakukan dan bersumpah akan mati untuk melindungimu.”

Aku sudah tak mampu lagi menjelaskan semua yang kurasakan saat ini. Aku merasa semuanya bercampur menjadi satu. Lebur menjadi perasaan baru. Hanya untuk Kris. Hanya untuk Kris Wu.

“Malam itu kau keluar rumah sendirian. Ketua Yifan ingin sekali untuk keluar dan membawamu pergi ke tempat yang aman, namun aku melarangnya dengan alasan misi. Dan setelah kau menghilang cukup jauh, dia segera keluar rumah menuju rumahmu untuk menemui nenekmu. Beberapa menit kemudian dia kembali, dengan air matanya. Untuk pertama kalinya ketua tim memperlihatkan ekspresinya kepada kami. Dia segera mengambil secarik kertas dan menulis di atasnya,” Luhan mengeluarkan selembar kertas dari balik saku jasnya. “Ini surat yang dia tulis untukmu, dia menitipkan surat ini padaku dan melarangku untuk membukanya. Hanya kau yang boleh membuka dan membacanya dan itu akan terjadi jika dia sudah mati.” Luhan menyodorkan selembar kertas yang masih terlipat rapi kepadaku.

Aku menerimanya dengan gemetar. Suhu tubuhku tidak beraturan, naik dan turun tak tentu. Aku ingin menangis lebih keras dan merasa amat sangat bersyukur untuk semua waktu yang telah aku habiskan bersamanya. Bersyukur karena aku telah mengenalnya.

“Setelah menulis surat ini, Zitao memberi kabar bahwa mata-mata Korea mengetahui penyamaran kami. Dan mereka sedang menjalankan misi untuk melakukan penyerangan terhadap kami. Itu sebuah berita mengejutkan karena berita itu datang mendadak. Ketua Yifan segera menyusun strategi bersama kami, dan segera melupakan kedatangan Jenderal Zhon. Di saat Jenderal Zhon datang, ketua Yifan segera memberitahu misi dan strategi yang telah ia susun. Beberapa menit kemudian, rumah ketua tim telah dikepung. Kami segera kabur dan berpencar. Mereka memaksa masuk dan entahlah, sepertinya mengacak-acak isi rumah ketua Yifan. Oh, dan aku sempat melihat ketua Yifan meninggalkan handphone-nya di rumahnya. Ketua Yifan adalah target utama mereka, jadi mereka lebih mengincar ketua daripada kami. Meskipun kami sudah berusaha, tapi tetap tidak sebanding. Mereka dengan delapan orang sedangkan kami hanya empat. Satu banding dua.”

Suara Luhan bergetar, menggetarkan hatiku yang ikut piuh mendengarnya.

“Kami mengalami kesulitan dengan duel satu lawan satu, ketika tiga dari delapan orang menahan kami, lima orang dari musuh menyerbu ketua Yifan. Aku sudah tidak ingat lagi selanjutnya, karena setelah itu kami benar-benar berpencar. Semuanya terjadi begitu cepat, mata-mata Korea perlahan mati satu persatu. Secara teknis, kubu kami menang, tapi kami juga kalah. Kami sangat terdesak dan kemungkinan menang sangat kecil. Aku tidak tahu bagaimana jelasnya, tapi akhirnya aku menemukanmu bersama ketua Yifan yang sudah meninggal,” Luhan berhenti bercerita dan kini menatapku, masih dalam kebisuan.

Aku sudah tak bisa lagi menanggapi semua yang Luhan katakan. Di tanganku yang gemetar ada surat peninggalan dari Kris yang isinya lebih berharga dari apapun. Untuk terakhir kalinya, untuk kali ini saja, jika aku bisa meminta satu permintaan, aku ingin Kris kembali, di sini bersamaku. Aku ingin dia kembali. Aku ingin setidaknya membalas atas semua yang telah dia lakukan padaku.

“Nona, kuharap semua itu cukup untuk menjawab semua pertanyaanmu, termasuk pertanyaan siapa sebenarnya ketua tim Yifan,” Luhan berkata pada akhirnya. “Jika ketua tim memberimu surat itu, aku juga ingin berpesan, aku sangat berharap padamu untuk tidak menyebarluaskan kasus ini. Ini adalah misi rahasia dan kami tidak ingin negara lain ikut andil dalam kasus ini, kasus ini termasuk cerita sakral, sama seperti Tragedi Holocoust yang ditutup-tutupi.” Luhan mengemasi semua barang-barangnya. “Oh ya, pemakaman ketua Yifan sudah dilaksanakan tadi pagi-pagi sekali secara rahasia. Maafkan kami, kami tidak bisa mengundangmu dalam seremoni itu, karena seperti yang kau tahu, itu acara rahasia. Tidak ada masyarakat sipil yang ikut berperan. Tapi, jika kau ingin berkunjung ke makamnya, ini alamatnya.” Luhan mengulurkan satu lembar kertas kecil kepadaku. “Makam itu terbuka untuk umum.”

Aku hanya mengangguk dan setelah itu Luhan berpamitan dan berlalu. Sekarang aku sendiri, bersama dengan surat peninggalan Kris. Perlahan kubuka tiap lipatannya yang rapi. Kemudian sebuah tulisan tangan dalam hangeul tertera jelas di atasnya. Kris menulis:

Dearest Jessica Jung,

Jessica noona, jika kau sedang membaca ini itu berarti aku telah mati dan Luhan sudah melaksanakan tugasnya.

Jessica noona,
Aku hanya ingin minta maaf atas semua yang telah kulakukan padamu. Aku tahu aku telah banyak melukai hati dan perasaanmu, tapi sungguh, demi Tuhan aku benar-benar tidak ingin melakukannya. Maafkan aku telah membuatmu merasa tidak dihargai atas semua pertanyaanmu, maafkan aku atas semua keegoisanku terhadapmu, maafkan aku telah membuat hidupmu tertekan. Maafkan aku telah membawamu hidup dalam sulitnya hidup yang kualami. Aku benar-benar minta maaf, Noona.

Jessica noona,
Seseorang pernah mengatakan padaku, jika orang lain telah memberikan waktunya padamu, itu berarti dia telah memberikan sebagian dari hidupnya untukmu. Aku ingin berterima kasih kepadamu, telah menjadi pengisi waktuku, telah menjadi ‘bahu’ ketika aku ingin ‘menangis’, terima kasih pula karena itu berarti kau adalah bagian dari hidupku. Terima kasih untuk semua keceriaan yang selalu kau bagikan kepadaku, kesenangan, dan kasih sayang yang kau berikan padaku.

Jessica noona,
Aku berharap semoga kita bisa kembali bertemu, meskipun itu berarti tidak akan mungkin. Semoga kau bisa bahagia, menjalani hidupmu sebagai jurnalis, menjadi sesosok wanita yang sangat kau idamkan seperti ibumu. Semoga kau bisa semakin hangat seperti matahari pagi dan semoga kau bisa seperti bulan yang selalu terang, bahkan di langit yang berkabut.

Untuk yang terakhir, atas tiga paragraf sebelumnya, yang menjadikan poin khusus adalah bahwa sebenarnya aku sangat mencintaimu, Noona.
Terima kasih atas waktu-waktunya yang berharga. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dan mengenal Noona dengan baik.

Yours truly,

Kris Wu

Tanganku seketika melemas, surat itu jatuh ke lantai, bersamaan dengan tubuhku yang juga ikut berlutut. Aku menangis sejadi-jadinya, membiarkan diriku perlahan tenggelam bersama aliran kepiluan yang membawaku ke hilir air mata. Aku meraih surat itu dan memeluknya erat, berharap dengan begitu sosok Kris bisa muncul kembali dan melakukan hal yang sama.

Namun dia tetap tidak kembali. Raganya tidak ada di sini, suaranya tidak lagi terdengar, tawanya tidak lagi bisa dirasakan, tapi jiwanya masih melekat dalam surat ini. Kris masih hidup dalam tiap huruf yang ia tulis di surat ini. Dia masih tersenyum seperti biasanya dalam tiap paragrafnya. Dia masih melambai ke arahku dengan senyum gummy-nya yang menggemaskan. Dia masih di sini. Kris masih di sini. Dia ada di sini. Di hidupku, yang semu dan tak terlihat.

Aku memakan beberapa lapis kue jahe buatan nenek. Setelah itu kuurungkan niatku untuk melanjutkan tugas esaiku, aku sudah terlalu lelah melalui banyak hal hari ini. Tubuhku penat karena petualangan yang meregang nyawa dan aku ingin istirahat. Dan semuanya terasa cepat ketika diringkas dalam satu momen. Nenek sudah tertidur pulas di kamar sebelah. Aku masih berbaring di tempat tidurku dengan memandang langit-langit putih kamarku.

Kris, apakah langit-langitmu juga putih? Atau justru indah seperti kahyangan?

__________________________________________________

(a/n).

akhirnya mau selesai ouo maaf kalo lama banget update-nya. maklum lah habis uas hehehe
—puchanli.

( h a r l e q u i n. )

Advertisements

2 thoughts on “[4/5] 23:23

  1. Uuughhhh kris cinta bgt ma jessica smpe brkorbann yaaampunnn, trnyata critanya bgtu yahh antar korea dan china, china bner” kalah jumlahh…ddduhhh kriss terencana bgt sih smpe bkin surat, jessica bner” hrus tabah, next chap-nya ditunggu HWAITING!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s