Love Race [Chapter 2]

LOVE RACE

LOVE RACE [Chap. 2]

Author: Jinho48 & Anditia Nurul || Rating: PG 13 || Length: Chaptered || Genre: Hate/Love, Action, Romance, Family, Friendship || Main Characters: (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Sena || Additional Characters: XXXX || Disclaimer: We own nothing but storyline and the OC || A/N: Edited! Sorry if you still get typo(s).

“…Mulai sekarang aku akan memanggilmu liebe…”

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

-Author’s POV-

BRUM CKIT DUG

Seorang pengendara motor menghentikan motornya yang melaju secara tiba-tiba. Ia memukul tangki bensinnya dengan perasaan kesal. Setelah meminggirkan motornya, dia turun dan melangkahkan kakinya menuju sebuah bangku yang terletak di taman dekat sekolah. Ekspresinya saat ini benar-benar keruh.

“SIALAN! Dasar pemuda sialan!” maki gadis itu sembari mengacak rambutnya.

“Seenaknya saja dia mengadakan pertandingan seperti itu. Aish! Menyebalkan!”

Dia memejamkan matanya sejenak, lalu kembali membuka kelopak matanya ketika ponselnya bergetar di saku jaket. Dengan segera ia membuka pesan yang baru di terimanya. Geraman terdengar jelas setelah ia membaca pesan itu. Sebelah tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Dia benar-benar marah sekarang.

‘Jika kau tidak segera melakukannya, aku akan melaporkan hal itu pada ayahmu, Queen.’

“Pria brengsek! Bisanya cuma mengancam saja,” umpatnya sebelum membalas pesan itu.

‘Oke, oke, akan kulakukan! Jangan macam-macam kau! Mulai sekarang aku akan memanggilmu liebe. Kau puas?’

‘Liebe? Apa itu?’

‘Sayang dalam bahasa Jerman. Sudahlah! Jangan ganggu aku lagi. Aku sedang les. Nanti saja mengganggunya.’

‘Baiklah. Selamat belajar, My Queen. See ya!’

Gadis itu hanya menatap datar layar ponselnya. Tak ada niat untuk membalas pesan dari pemuda menyebalkan yang dipanggilnya liebe tadi. Sepertinya hidupnya tak akan mudah di Daegu. Ah, ia tidak tahu harus apa. Dia menghela napas sejenak, kemudian merebahkan diri di bangku kayu yang tengah di dudukinya.

PLUK

“EH?”

Ssstt! Jangan protes! Tidurlah!” perintah seseorang yang tiba-tiba duduk di bangku. Kini kepala gadis tadi berada di pangkuan orang asing itu.

“Daehyun Sunbae? Kenapa kau bisa datang kemari?”

“Aku mengikutimu. Sudahlah. Bukankah kau lelah? Tidur saja! Aku akan menemanimu, Sena-ya, ” ujar Daehyun santai. “Ah, sepertinya aku sudah melarangmu memangggilku sunbae. Kau lupa?” lanjutnya.

Sena menggeleng. Dia tersenyum. “Baiklah. Terima kasih, emm… Daehyun Oppa?”

“Nah, begitu lebih baik. Cha, tidurlah. Jika sudah sore, akan kubangunkan!” Sena mengangguk pelan, lalu mulai memejamkan kelopak matanya.

Suasana di sekitar mereka pun hening. Sena tertidur pulas, sedangkan Daehyun hanya diam sembari mendengarkan musik lewat headset-nya. Lalu, pandangan pemuda itu mengarah ke adik kelasnya. Dia mengamati wajah damai gadis itu. Tanpa sadar, senyuman tersungging di bibir tebalnya.

Gadis ini cantik juga,” batin Daehyun.

Salah satu tangannya terulur untuk membelai rambut kecokelatan gadis itu. Daehyun juga memberanikan jari-jarinya untuk menyusuri wajah cantik yang tengah tertidur pulas itu. Netranya mengamati wajah Sena baik-baik. Lantas, tatapannya berhenti tepat di bibir ranum milik gadis itu.

Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sena dan dia mengecup bibir adik kelasnya itu. Daehyun cukup terkejut dengan apa yang di lakukannya. Lekas, ia menjauhkan wajahnya. Seketika tatapannya menjadi kosong dan wajahnya sedikit memerah. Dia tidak menyangka akan melakukan hal seperti itu.

“Apa yang barusan terjadi? Aku menciumnya? Bagaimana bisa?” ujarnya dalam hati.

Daehyun mematung dan juga ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak karuan. Dia masih terus terdiam hingga ponselnya berdering. Sedetik kemudian, dia tersadar dari lamunannya dan segera mengangkat telepon yang diterimanya tanpa melihat siapa yang sang penelepon.

Yeoboseyo?

“…”

Mwo? Suga mengajakmu bertanding? Kenapa?”

“…”

Aish! Kenapa kau membuat masalah dengannya, Youngjae-ya? Baiklah. Aku akan segera ke sana.”

PIP

“Hey, Sena-ya!” panggil Daehyun sembari mengguncang tubuh gadis itu perlahan.

Sena pun sedikit menggeliat. Dia membuka matanya lalu duduk. “Waeyo, Oppa?” tanyanya dengan suara parau.

“Ini sudah hampir malam. Pulanglah! Ada yang harus kukerjakan. Aku pergi dulu, eoh? Hati-hati.”

Nde. Gomawo, Oppa. Hati-hati di jalan. Sampai besok!” balas Sena sembari melambaikan tangan. Lantas, gadis itu pun bergegas pergi dari tempat itu.

-End Of Author’s POV-

@@@@@

-Daehyun’s POV-

Kuturunkan kecepatan motorku begitu dari kejauhan kulihat kerumunan remaja eksis di area jalan tempat balapan motor liar biasanya diadakan. Melihatku datang, seseorang dari beberapa teman satu geng motorku melambaikan tangan, memberi kode di mana aku harus memarkirkan motorku.

Ya! Bagaimana bisa kau dan Suga merebutkan gadis yang sama, hah?” tanyaku, melihat Youngjae dengan tatapan menuntut.

Tsk! Aku tidak tahu kalau Suga ternyata mengincar gadis itu juga! Yang aku tahu, aku menyukai gadis itu dan bagaimanapun aku harus mendapatkannya!” tegas Youngjae, menatapku sengit seolah aku adalah Min Suga. “Aku tidak peduli jika itu artinya aku harus adu balap melawan Suga!”

Kuembuskan napas keras melalui mulutku. Jika Youngjae sudah bertekad seperti ini, tidak ada satu orang pun yang bisa mencegahnya. Lantas, kualihkan pandanganku ke sisi berlawanan dengan tempat teman-teman segengku berkumpul. Di sana, kulihat lelaki berambut blonde, Min Suga, pun tengah bersiap-siap. Namun…, sesuatu segera merebut perhatianku.

Apa aku tidak salah lihat, hah?

Di sana ada… Oh Sena?

Dan, apa aku sedang mengkhayal atau mataku yang benar-benar salah lihat? Sena… dan Taehyung berpegangan tangan? Astaga! Ini pasti mimpi. Tidak mungkin kalau…

Ya! Ya! Apa yang kau lakukan, hah? Kenapa kau malah menampar-nampar wajahmu sendiri? Otakmu sudah tidak beres?” tegur Himchan Hyung.

Sekilas kutolehkan kepalaku ke arahnya, tersenyum kikuk. “Tidak. Aku… aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang mustahil terjadi.”

Himchan Hyung memutar kedua bola matanya jengah mendengar jawabanku.

Mengabaikan responnya, aku kembali memperhatikan apa yang kuperhatiakan sebelumnya. Dan, tepat di saat itu, pandanganku berserobok dengan pandangan Sena. Sontak saja gadis bermata hazel itu mengalihkan wajahnya dariku. Tidak lama setelahnya, gentian pandanganku yang bertemu dengan pandangan mata Taehyung.

Pandangan matanya seperti meremehkanku. Seolah, melalui pandangannya itu, ia ingin mengatakan bahwa… Sena kini berada di pihaknya.

Hah! Seseorang berhutang penjelasan padaku!

-End Of Daehyun’s POV-

@@@@@

-Sena’s POV-

Entah apa yang membuat Daehyun Oppa tampak begitu terburu-buru pergi setelah menerima telepon dari seseorang. Sepertinya ada sesuatu yang buruk.

Usai duduk sejenak setelah dibangunkan tiba-tiba oleh Daehyun Oppa, aku pun bersiap untuk pulang ke rumah seperti perintahnya. Hari mulai gelap. Appa bisa saja mencariku. Gawat kalau dia curiga.

Baru saja aku duduk di atas sadel motor, hendak menyalakan mesin, ponsel di dalam saku jaketku sekali lagi bergetar. Oh, sial! Kuharap yang sedang menghubungiku bukan appa. Lekas kurogoh saku jaket, mengeluarkan ponselku dari sana dan…

Brengsek! Yang meneleponku bukan appa, tapi lebih buruk.

Ya, Kim Taehyung.

“Ada apa?” sahutku begitu kurapatkan ponselku pada daun telinga kiri.

“Datang ke tempat kita pernah bertanding dulu!” Suara deep husky terdengar memerintahku.

Aku mendengus. “Tidak mau! Aku mau pulang!”

“Kau tidak boleh pulang ke rumahmu sebelum datang ke tempat yang kuperintahkan, Queen-ku Sayang.”

“Memangnya kenapa, hah? Ada apa? Kenapa aku harus datang ke tempat itu? Kau mau bertanding denganku lagi?”

Kudengar Taehyung tertawa kecil. Apanya yang lucu? Dasar orang gila!

“Kau harus datang, Sayang. Kalau tidak…, ya, kau tahulah apa yang akan aku lakukan.”

‘PIP’

Lekas kuputuskan panggilan darinya. Aish! Bagaimana dia bisa tahu kalau appa melarangku balapan, hah? Apa dia punya mata-mata? Jincca! Kalau begini terus, dia kapan saja bisa mengancamku. Astaga! Dasar brengsek! Aku benci kau, Kim Taehyung!

Menghirup napas panjang dan melepaskannya perlahan, kulakukan hal itu berkali-kali untuk meredakan emosiku. Tidak lama kemudian, kulajukan motorku menuju tempat yang dimaksud Taehyung. Aku tidak punya pilihan lain.

Sekitar beberapa menit perjalanan, dari kejauhan aku sudah melihat banyak remaja seumuranku berkerumun di tempat aku bertanding dengan Taehyung malam itu. Well, sepertinya akan ada pertandingan lagi.

Motorku masih melaju pelan ketika lelaki kurus berambut golden brown yang kukenal sebagai manusia paling menjengkalkan di muka bumi hadir dalam pandanganku. Beberapa meter di depan, dia berdiri menghadapku sembari melipat kedua tangannya di depan dada, tersenyum lebar seperti menyambut kedatanganku. Astaga! Andai saja membunuh orang bukan sebuah kejahatan, aku pasti sudah melajukan motorku sekencang mungkin dan menabrak orang itu.

‘CKIIIT!’

Roda motorku berhenti sekitar lima sentimeter di depan ujung sepatu Taehyung.

“Sudah kuduga kau akan datang, Queen,” katanya, memamerkan senyum paling menyebalkan dari sekian banyak senyum yang ada di dunia.

Aku turun dari motorku, melepaskan helm dan meletakkannya di kaca spion. “Ada apa? Kenapa kau menyuruhku datang ke sini?”

“Kenapa kau masih bersikap ketus padaku, hah? Aku kan sudah bilang, kau harus bersikap manis, memanggilku dengan panggilan mesra dan lainnya. Kalau tidak, aku akan—”

Aish! Iya, iya!” Aku memotong ucapannya. “Aku tahu! Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Kim Taehyung!” ujarku dengan nada tinggi. Kuambil napas panjang, menghirup udara sebanyak yang bisa ditampung kedua paru-paruku, lalu mengembuskannya perlahan. “Jadi, liebe, kenapa kau menyuruhku datang ke sini?” tanyaku dengan nada super manis yang dibuat-buat.

Ewh!

Taehyung menarikku tiba-tiba. Membuat sisi kiri tubuhku merapat dengan sisi kanan tubuhnya. Tangan kanannya bergerak nakal merangkul pinggangku. Aku melotot ke arahnya dan berteriak, “Ya! Apa yang kau—”

Ssttt! Ingat! Bersikap seperti orang pacaran. Kau paham?” ucap Taehyung tanpa melihat ke arahku.

Sialan!

Lelaki berambut golden brown itu kemudian membawaku bergabung dengan teman-teman geng motornya. Salah seorang dari mereka, yang berambut blonde, Suga, tengah bersiap-siap untuk adu balap melawan seseorang.

“Kau benar-benar mau menantang Youngjae, hah?” Lelaki berwajah imut yang kukenal sebagai Jimin, bertanya pada Suga.

Tunggu! Tadi… dia bilang siapa?

You-youngjae?

A-apa mungkin… Youngjae yang…

Lekas kuedarkan pandanganku ke sekitar, mencari Youngjae yang kumaksud. Ya, Youngjae teman setim Daehyun Sun—maksudku, Oppa. Semoga saja bukan dia! Semoga saja bukan Yoo Youngjae. Karena kalau benar dia orangnya, maka…

“Daehyun Oppa?”

Refleks, bibirku melafalkan namanya ketika pandanganku berserobok dengan pandangannya. Daehyun Oppa ada di sana, di seberang. Sejurus kemudian, kualihkan pandanganku ke arah lain, tidak ingin membuat kontak mata lebih lama dengannya.

Oh, tidak!

Bagaimana ini?

Daehyun Oppa pasti mengira aku telah berkhianat karena berada di kelompok Taehyung sekarang. Gawat! Gawat! Ini gawat kalau Daehyun Oppa meminta kembali motor yang diberikannya untukku.

“Jadi, Daehyun belum tahu soal ini, hah?”

Suara berat Taehyung membuatku menoleh, mendongak melihat wajahnya.

“Dia belum tahu, kan?” ulangnya.

“Kalau dia tahu, memangnya kenapa?” tanyaku sewot.

Lelaki berambut golden brown itu menyeringai. “Karena ini akan semakin menarik kalau Daehyun tahu… kita pacaran.”

WHAT?

@@@@@

Sepulang sekolah, seorang siswi segera berlari ke toilet. Dia mengganti rok seragamnya dengan celana jins belel berwarna biru pudar. Tak lupa ia memakai jaket hitam kulit kesayangannya. Setelah beres, dia bergegas menuju parkiran untuk mengambil motornya. Di parkiran, sahabatnya telah menunggunya.

Tanpa membuang waktu, gadis itu segera mengantar temannya pulang. Gadis itu mengendarai motornya dengan kecepat tinggi sehingga hanya dalam waktu 15 menit, mereka tiba di depan rumah sahabat gadis itu. Sang penumpang pun turun dari motor lalu membuka helmnya begitu pula dengan si pengendara.

“Kau mau kemana setelah ini?”

“Aku? Tentu saja ke tempat Daehyun Oppa. Memang kemana lagi, eoh?”

Keke, siapa tahu kau mau ke rumah Taehyung.”

Aish, tidak akan terjadi. Sudahlah, aku pergi dulu! Sampai nanti, Amber-a!”

Eoh, berhati–hatilah! Jangan membuat masalah, Sena-ya.”

“Hm, araseo. Aku tahu. Tenang saja! Bye!”

Sena memakai helmnya lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya dia melajukan motor kesayangannya menuju ke markas Daehyun. Tak butuh waktu lama untuk sampai di sana. Setibanya di markas, gadis itu tak mendapati rekan-rekan setimnya selain Daehyun dan Baekhyun. Ia memakirkan motornya lalu berjalan menghampiri kedua sunbaenya itu.

“Annyeong, Daehyun Oppa, Baekkie Oppa.”

“Oh, nado annyeong, Sena-ya.” Balas Baekhyun dengan senyum manisnya. Lantas ia kembali menyibukkan diri dengan mesin motor yang tengah ia preteli. Sementara Daehyun hanya diam lalu pergi entah kemana dan hal itu menimbulkan tatapan aneh dari Sena.

Oppa, kemana yang lain? Dan apa yang terjadi pada Daehyun Oppa?”

“Yang lain sedang membeli makanan dan beberapa aksesoris motor. Hm, kalau soal Daehyun, lebih baik kau tanya langsung padanya. Aku juga tidak mengerti dengan sikapnya yang aneh itu.”

Gadis itu pun mengangguk paham mendengar penjelasan rekannya. “Aku mengerti. Baiklah, aku akan menyusul Daehyun Oppa. Lanjutkan saja pekerjaanmu, Oppa! Semangat!” ujarnya lalu ia segera mencari Daehyun.

Akhirnya ia menemukan pemuda itu tengah duduk di pinggir danau kecil yang letaknya tak jauh dari basecamp mereka. Perlahan gadis itu mendekat dan duduk di sebelah sang ketua geng. Tidak ada percakapan di antara mereka. Keduanya membiarkan keheningan menguasai atmosfir di sekitar mereka.

Hingga sepuluh menit kemudian keduanya mulai merasa canggung. Gadis itu ingin membuka suara terlebih dahulu tapi dia ragu. Pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu dimana ia bertemu pandang dengan Daehyun di arena balap ketika ia sedang bergandengan tangan dengan Taehyung.

Dia berpikir, apakah sikap aneh pemuda yang lebih tua darinya ini ada hubungannya dengan kejadian itu? Mungkinkah terjadi kesalah pahaman disini? Karena tak ingin menimbun banyak pertanyaan dan spekulasi, gadis itu pun membuka percakapan terlebih dahulu.

“Daehyun Oppa?”

“Hmm…”

“Kenapa? Kau tampak aneh akhir-akhir ini. Ada masalah?”

Aniyo. Nan gwaenchana. Dan apa yang kau lakukan disini?”

“Yakin? Ah, baiklah. Memang kenapa jika aku kemari? Apakah salah? Aku kan bagian dari tim balapmu, Oppa.”

“Oh ya? Bukankah kau telah berpindah ke pihak Taehyung, Sena-ssi?” tanya pemuda berkulit tan itu dengan sinisnya.

Sena pun membisu. Dia tidak mungkin berpindah ke pihak Taehyung. Haruskah dia menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada Daehyun? Tapi, ia takut jika Daehyun marah. Namun jika tidak bercerita, Daehyun bisa lebih marah dan kecewa nantinya. Jadi, apa yang harus Sena lakukan? Ia benar-benar bingung.

“Sebenarnya… aku tidak berpindah ke pihak Taehyung. Dia membuat sebuah permainan. Ia ingin mengembalikan harga dirinya yang telah jatuh karena ku kalahkan.”

Daehyun tampak terkejut, “Maksudmu? Permainan? Permainan apa, eoh?” tanyanya sembari menatap heran ke arah Sena.

“Siapa yang jatuh cinta terlebih dahulu, dialah yang kalah. Itulah permainannya. Jadi, kami berdua harus bersikap seolah-olah kami berpacaran hingga nanti ada yang jatuh cinta terlebih dahulu, Oppa.” Jelasnya yang cukup membuat Daehyun tercengang.

Lalu gadis itu kembali membuka suara.

“Awalnya aku menolak keras permainan ini tapi dia terus memaksa dan mengancamku. Dia mengancam akan melaporkanku pada ayahku karena aku kembali balapan. Aku pun tak memiliki pilihan lain selain mengikuti permainannya. Maafkan aku, Oppa. Kuharap kau tidak salah paham lagi.” lanjutnya

Pemuda berkulit tan itu membeku di tempatnya. Dia bingung harus memberi tanggapan apa. Hal ini sangat membuatnya terkejut. Diliriknya Sena yang tengah menunduk sambil meremas ujung pakaian yang di gunakannya. Terdengar helaan napas berat yang keluar dari kedua lubang hidung Daehyun.

“Baiklah, aku mengerti. Tapi aku tidak terima hal itu. Aku akan berusaha mengagalkan permainan itu bagaimanapun juga caranya. Lihat saja nanti! Aku tidak akan menyerahkanmu begitu saja pada Taehyung.”

Mwo? Apa maksudmu, Oppa? Bagaimana kau melakukannya?”

“Sudahlah, kau tak perlu mengetahuinya. Lihat saja nanti! Ah, lebih baik aku berlatih untuk lomba balap antar SMA. Mau menjadi lawanku, eoh?” tanya Daehyun sambil beranjak dari tempatnya. Ia pun berjalan kembali ke basecamp dan Sena mengikutinya dengan sedikit berlari.

@@@@@

Malam ini lebih dingin dari biasanya. Tapi itu tak mematahkan semangat seorang pemuda berambut golden brown untuk mempersiapkan diri. Kini ia dan motor besarnya bersiap di balik garis start yang ada di daerah Nam-gu. Dia harus berlatih keras untuk lomba balap antar SMA yang akan dilaksanakan tiga minggu lagi.

Begitu kain merah di lempar ke udara dan terjatuh di aspal, pemuda itu segera memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Di susul oleh dua pria lainnya yang menjadi lawannya untuk malam ini. Ketiganya tidak ada yang mau mengalah. Mereka melakukan manuver-manuver yang cukup apik.

Akhirnya pemuda bermabut golden brown tadi berhasil menjadi yang pertama melewati garis finish. Diikuti oleh pemuda dengan motor Ducati Xerox 999 berwarna pink metalik dan pria dengan motor berwarna hitam menempati tempat ketiga. Setelah itu mereka menghentikan dan memakirkan motor mereka di pinggir arena.

“Whoa, itu tadi sangat keren, Taehyung-ah. Aku suka manuver tajam dan menukik andalanmu itu. Marvelous!” puji seorang pemuda bertubuh pendek dan berkulit tan sembari ber-high five dengan pemuda bernama Taehyung itu.

“Aku setuju dengan Jimin. Dengan cara mainmu yang seperti itu, aku yakin kau bisa mengalahkan Daehyun.”

“Tentu saja, Seokjin Hyung. Aku tidak akan kalah dengan si hitam itu. Akan ku buat harga dirinya jatuh. Sama seperti Sena menjatuhkan harga diriku.”

“Kau pasti bisa, Tae!” ujar Suga singkat. Lantas ia kembali menaiki motornya.

“Mau kemana, Suga-ya?” tanya Seokjin heran.

“Pulang. Eomma menyuruhku untuk pulang lebih awal. Ada makan malam dengan pamanku.” Jawab pemuda berkulit putih susu itu seadanya. Seokjin pun hanya mengangguk paham.

“Hati-hati, Suga Hyung. Sampai jumpa!” ujar Jimin sembari melambaikan tangannya.

“Terima kasih, Suga.” Ucap Taehyung singkat yang dibalas anggukan oleh Suga.

Setelahnya, ia segera meninggalkan tempat itu. Kini tersisa Taehyung, Jimin, dan Seokjin di arena balap itu. Ketiganya hanya diam saja. Seokjin sibuk mengutak-atik ponselnya. Taehyung tengah melamun dan Jimin hanya mengamati kedua temannya itu. Dia tidak tahu ingin melakukan apa sekarang.

“Oh, bagaimana hubunganmu dengan Sena? Ada kemajuan?” tanya Seokjin yang rupanya penasaran dengan hubungan Taehyung dan Sena.

Taehyung tersenyum miring, “Sudah ada kemajuan. Dia mau memanggilku sayang dan bersikap manis padaku. Lihat saja nanti, dia pasti akan bertekuk lutut padaku.” Jawabnya mantap.

“Kau yakin? Bagaimana jika kaulah yang bertekuk lutut padamu?” goda Jimin yang membuat pemuda bersurai golden brown itu mendelik tajam ke arahnya.

“Tidak akan terjadi. Aku tidak akan jatuh cinta padanya terlebih dahulu. Lagipula aku sangat membencinya.”

“Ey, jangan terlalu yakin. Biasanya benci bisa menjadi cinta, lho. Iya kan, Seokjin Hyung?”

“Hm, bisa saja. Ah, lalu, bagaimana hubunganmu dengan kakak tirimu itu, eoh?”

Taehyung mengerutkan keningnya, “Mwo? Kakak tiriku? Maksudmu, pria bantet itu?” tanyanya memastikan.

“Ehm, jangan bilang dia bantet. Aku merasa tersinggung. Karena pada kenyataannya, aku lebih pendek dari dia, Tae.” Protes Jimin yang di sambut gelak tawa dari Taehyung dan Seokjin.

“Haha, mianhae, Jimin-ah. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Hm, hyung, jangan tanya lagi tentang hal itu. Sampai kapanpun jawabannya akan tetap sama. Kau sudah tahu kan bagaimana sifat kami? Selamanya kami tidak akan pernah akur. Aku sudah berusaha untuk mengalah dan bersikap baik padanya tapi apa? Dia selalu saja membuatku kesal.”

“Baiklah. Aku tahu. Aku tidak akan bertanya lagi.” Tukas Seokjin datar.

“Eh, Taehyung-ah, kau ada strategi apa untuk melawan Daehyun?” tanya Jimin penasaran.

“Hm, entahlah. Sedang aku pi–“

Tiba-tiba ponsel Taehyung berdering. Jimin dan Seokjin menatapnya sementara ia hanya diam dan tak segera mengangkat panggilan yang masuk itu. Dia melihat ID Caller-nya sebelum ia menerima panggilan itu. Sejenak dia terdiam ketika melihat nama yang tertera. Akhirnya dia pun mengangkat panggilan tersebut.

Yeoboseyo?”

YA! Kenapa lama sekali mengangkatnya?

“Maaf. Kenapa?”

Cepat pulang! Eomma mengkhawatirkanmu.

“Ah, baiklah. Aku pulang sekarang.”

Bagus! Cepatlah! Aku tidak tahan eomma selalu saja menanyakan anak tak berguna sepertimu.

“Tidak usah mengumpat, Baek. Kau pikir kau berguna? Bisamu juga hanya menyusahkan appa.”

Ck! Dasar adik kurang ajar! Cepat pulang!

KLIK

Taehyung menggeram penuh emosi. Dia memukul sadel motornya dengan keras. Kakaknya itu benar-benar membuatnya marah. Ia berusaha untuk memukuli apapun yang ada di sekitarnya untuk meluapkan emosinya. Dengan sigap Seokjin dan Jimin menahan pemuda itu agar tidak melukai dirinya lebih dari ini. Kedua buku jarinya sudah berdarah.

“Hentikan, Taehyung-ah! Kendalikan dirimu! Jangan sakiti dirimu, bodoh!” teriak Seokjin yang berhasil membuat Taehyung berhenti bergerak dan berteriak.

“Sekarang kau pulanglah! Aku akan mengantarmu.” Tegas Jimin. Lalu ia mengiring Taehyung menuju motornya. Sedangkan Seokjin segera menaiki motornya. Tak lama mereka pun meninggalkan arena balapan itu.

-TBC-

Annyeong!^^
Bagaimana dengan chapter 2 ini? Apa masih pantas untuk di lanjut? Don’t forget RCL! 🙂

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s