[Ficlet] Glasses

asian-girl-cute-eyes-glasses-kawaii-Favim.com-450401

Glasses

Luhana120

Hong Jisoo a.k.a Joshua (Seventeen), Oh Jina (OC)

Romance, Fluff, School Life | Ficlet (922 words)

 Teen

.

Aku tak mampu melihat matanya jika aku berkacamata.”

.

Hong Jisoo. Hong Jisoo. Hong Jisoo.

Lelaki sialan yang mampu membuatku jatuh cinta padanya. Tak ada yang spesial darinya sebenarnya, hanya saja dia selalu mampu membuatku terbang dengan sendirinya. Mungkin ia tak bermaksud seperti itu, dan mungkin saja hanya aku yang terlalu percaya diri.

Oh, aku bukan seorang pendiam dan pemalu ketika disekolah. Nyatanya, aku seorang gadis yang diragukan jenis kelaminnya oleh teman-temanku. Sial memang. Oh oh, kembali ke Jisoo. Aku juga sering membuka media sosial. Aku juga sering menemui fakta-fakta tentang seseorang yang sedang jatuh cinta.

Diantaranya, jika seorang lelaki menyukai seorang gadis, lelaki itu akan menirukan apa yang dilakukan gadis yang disukainya, dan juga nada bicaranya cenderung rendah ketika berbicara dengan gadis yang disukainya. Entah mengapa, teman curhatku, sebut saja Minri, ia sangat memperhatikan aku dan Jisoo. Dia berkata padaku bahwa cara bicara Jisoo padaku berbeda, lebih halus dan lebih rendah daripada bicara pada gadis lain. Oh Jina, sadarlah! Aku tak boleh terlalu percaya diri.

Dia sangat dingin. Sungguh. Tetapi, aku merasakan pribadi yang hangat saat dia berbicara padaku. Dan yah, aku sendiri juga merasa bahwa cara bicaranya denganku sangat berbeda dibanding gadis lain. Oke, aku terbang sejenak.

Pulang sekolah, pukul 3 sore. Aku masih malas pulang. Aku memutuskan untuk pergi ke atap sekolah. Menikmati semilir angin dan melihat matahari terbenam. Aku bersandar di pembatas atas, dan mencari earphoneku di tas.

“Sial, aku meninggalkannya di laci,”

Tanpa basa basi, aku berlari turun menuju kelas. Oh ya, aku mengikuti klub parkour, jadi jika aku terkunci di sekolah, aku akan loncat ke lantai atas café yang berada tepat di sebelah sekolah. Bahkan, pemilik café itu telah mengenalku dengan baik. Aku juga hobi menuruni tangga dengan melompat antar pegangan tangga. Itu sangat menyenangkan.

Sebelum masuk ke kelas, aku mendapati Jisoo yang sedang membaca komik. Aku tak tahu apa itu karena judulnya ditulis dengan huruf Jepang. Mungkin tentang peperangan atau semacamnya. Melihatnya yang sedang fokus seperti itu, aku melepas kacamataku, baru aku memasuki ruangan ini yang hanya menyisakan Jisoo di dalamnya. Sialnya, entah mengapa, ia duduk di bangkuku. Aku mendekati bangkuku—yah, itu tujuan utamaku— dan menengok laciku.

“Permisi,”

Ia tak menjawab apapun. Matanya tetap tertuju pada komik membosankan yang digenggamnya. Tanganku menggerayangi laci, dan aku menemukan earphone putih. Itu milikku. Aku pun segera beranjak pergi.

“Oh Jina.”

Jisoo sialan! Dia menggenggam pergelangan tanganku, mencegahku untuk pergi. “A-apa?”

Aku tak akan bisa menatap matanya. Aku bersyukur menderita mata minus ini. aku jadi bisa menutupi kegugupanku karena tak dapat melihat wajahnya dengan cukup jelas.

Tiba-tiba saja, dia berdiri dan menatapku lekat-lekat. Sial, dengan jarak sedekat ini, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku sedikit mendongak karena yah, aku pendek dia tinggi. Itu jelas. “Mengapa setiap dekat denganku kau tak memakai kacamata?”

Deg

Jantungku serasa berhenti. Dia menyadari apa yang aku lakukan. Oh Tuhan… Suara beratnya benar-benar mengusikku. Aku ingin lari, tapi cengkeraman tangannya benar-benar kuat. Keringat mulai mengaliri pelipisku. Dia mendekati telingaku. Kemudian berbisik,

“Mengapa, Oh Jina? Sedangkan setelah berbicara padaku kau kembali memakainya. Mengapa?”

Dengan cepat, aku menarik tanganku dan berlari keluar kelas, kembali ke atap dengan kecepatan maksimal. Aku gugup, jantungku berdetak dengan cepat. Aku kembali bersandar, memakai kacamataku kembali. Dan memakai earphone, menyetel lagu sekeras mungkin. Aku menutup mataku, menikmati hembusan angin dan beristirahat sejenak.

Tiba-tiba, aku merasakan ada hembusan nafas menerpa leherku. Aku membuka mataku, dan aku mendapati Jisoo sudah berjongkok tepat beberapa senti dihadapanku.

“Aa! Jisoo-a! Kau mengejutkanku!”

Reflek aku bergeser dan sedikit menjauh darinya. Dia mendekatiku, aku ingin melepas kacamataku. Tapi sial, dia mencengkram tanganku, mencegahku untuk melepas kacamata. Aku tak bisa bergerak, tatapan matanya yang datar benar-benar menembus mataku.

“Kau mulai lagi.”

Aku terdiam. Aku sudah terpojok di sudut pembatas. Aku tak bisa bergerak kemana-mana lagi. “Apa alasannya?”

Aku masih saja terdiam. Aku tak berani menjawabnya.

“Oh Jina, apa aku harus menebaknya?”

Aku menunduk. Tangannya langsung bergerak menyentuh daguku dan memaksaku untuk mendongak, dan mau tak mau, mataku bertemu dengan matanya. “Apa aku harus memaksamu, Jina?”

Aku tetap saja terdiam selama beberapa saat. Aku tak bisa berkutik, nafasku tercekat. Sebentar lagi ia akan tahu kebenarannya. Aku menyukainya. Jika ia tahu aku menyukainya, aku takut dia akan menjauhiku.

Cup

Sialan. Ia mengecup bibirku sekilas, kemudian kembali menatap mataku lekat-lekat. “Apa perlu kulakukan lebih agar kau bicara?”

“Ti-tidak. Tidak perlu.”

Aku mulai berbicara. Bisa-bisa dia menciumiku lagi, atau bahkan lebih parah. Lelaki gila ini benar-benar gila. “Aku menyukaimu. Aku menyukaimu sejak tujuh bulan yang lalu, tepatnya saat aku ujian parkour, dan kau menontonku. Kau puas?”

Cup

“Aku bertanya mengapa kau melepas kacamatamu saat dekat denganku, bukan apakah kau menyukaiku. Apa kurang jelas pertanyaanku tadi?”

Sial! Betapa bodohnya aku. Ia mencuri sebuah kecupan lagi. Hue, ibu selamatkan anakmu ini. “Aku melepas kacamataku saat dekat denganmu karena aku tak berani menatap wajahmu, terutama mata. Aku minus cukup parah, jadi aku tak bisa menatapmu dengan jelas. Intinya, aku tak berani menatap mata tajammu.”

“Begitu?”

“Kau kira aku berbohong?”

Aku yakin, semburat merah menghiasi pipiku saat ini. Jisoo tersenyum! Dia tersenyum. Senyuman yang jarang kali—atau malah tak pernah—aku lihat dengan jarak sedekat ini. Tangannya mengusap ujung kepalaku, kemudian memelukku dengan erat.

“Kau itu aneh.”

“Kau berbeda dengan yang lain.”

“Disaat gadis lain mempercantik dirinya, kau malah mengikuti parkour.”

“Jika kau tidak suka, bi—“

“Aku menyukainya.”

Sejenak, jantungku berhenti berdetak. Suara beratnya terdengar dengan jelas karena ia berbicara tepat disebelah telingaku. “Aku menyukai segalanya tentangmu. Aku mencintaimu.”

Aku membalas pelukannya. “Tak tahukah kau, berapa lama aku menantimu mengatakan hal ini?”

“Tujuh bulan ‘kan? Tadi kau berkata begitu.”

Jawaban sialan. Laki-laki ini tak bisa diajak romantis rupanya -_-.

“MATI SAJA KAU, HONG JISOO!”

Fin

Author kambek hohohoho :v Setelah UAS yang menegangkan dan bikin keringetan karena cuaca yang panas. Okelah, minna, tunggu ff author yang lain yakk! Thalanghaeee~~

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s