[FICLET] Why Did You Leave?

WHY DID U LEAVE

Apa kau pernah kehilangan hatimu? Tidak kan?
Maka jangan bersedih masih ada ruang disana…
Mungkin itu untukku.


“Kenapa dia harus pergi?”

Dulu, aku suka melihat embun menyapa. Dulu, menyeruput teh hangat ditemani kebul asapnya jadi kebiasaan. Dulu, merajut bulu hewan ternak diendap sunyi malam penuh mesra. Dulu, sepeda beroda nun tipis itu asyik dikayuh sore hari. Dulu kala hujan menerjang gema hitungan air bocor dilantai dua siap menghiasi waktu. Dulu, mesin cuci penuh dengan dua pasang kaus kaki kompak warna. Dulu kenop pintu jarang dibuka. Dulu, televisi ditengah ruangan sering memutar lantun classic 90-an. Semua itu, kesukaannya. Kesukaan Kim Jongin.

“Jangan diingat-ingat …”

Seolah membaca isi kepalaku, gadis berkepang dengan lipgloss norak merah muda itu berseru, memanggil bunyian akhir namaku dengan penuh iba, namanya Luna. Masih membisu, gadis kepangan itu mengetuk pundakku lembut, mengelusnya seraya menatap langit-langit. cowok itu tidak ada bedanya katanya. Lebih baik tidak icip-icip tipe cowok ujarnya.

“Krystal.”

Aku tak beranjak untuk menengadahkan pandangan kepadanya, masih menatap lantai berpola seirama bundar hijau. Luna dia sahabatku katanya. Katanya jangan bersedih kalau diputusin cowok. Krystal katanya, barusan, ia memanggil namaku, tapi aku malas mendongak, aku rindu panggilan hangat berbunyi “Soojung-a…” Aneh. Memanggil nama yang jelas-jelas kubenci – soalnya seperti nama nenek- kataku dulu, tapi aku rindu.

“Cowok brengsek” kata gadis kepangan itu. Pacar Taeyeon statusnya. Oh, tunggu sebentar, mantan tepatnya, ya! Mantanku. Surai dirty blonde, kaus abu-abu oblong, ucapannya manis semanis gula-gula kapas, suaranya berat sirat makna, kala tersenyum ribuan kupu-kupu seperti menghujam mata. “Cowok idaman.” Julukan yang masih lelaki itu miliki hingga detik ini. “Cewek yang beruntung.” Dulu, itu julukan untukku. Jung Soo Jung, oh salah- seharusnya Krystal Jung-adik kelas yang punya wajah cukup menarik, surai kacang, penyair yang indah, lihai dalam drama, bersuara apik. Tak secantik gadis lain, tapi lumayanlah, kata gadis dipojok koridor yang berkerumun berbisik pelan. Sayang nya julukan itu sudah tak lagi untukku.

“Tidakkah kau lelah memikirkannya terus?”
Luna sekali lagi bersuara dengan intonasi iba. Sweater biru koral itu bergerak pelan, menarik kursinya kearahku, memelukku.

“Janganlah bersedih.”

Aku juga mau begitu. Tapi hatiku berkata tidak, aku harus bersedih. Hey, maksudku, siapa yang tidak sedih ketika kau harus putus dengan lelaki semenawannya? Lelaki sepengertian dirinya? Bukankah kau juga akan begitu?

Aku mencoba melepaskan pelukan itu perlahan, bukan Karena muak dengan aroma anggrek manis ditubuhnya, melainkan penolakan untuk tidak bersedih.

“Dasar cewek!”

Suara yang familiar. Sesosok lelaki berdiri diambang pintu, bahkan dari dehamannya saja aku bisa mengenalinya. Baju flannel, pantofel yang entah ia curi darimana, dan sebuh tautan alis yang kini menampik perhatianku. Apa yang kau lakukan disini? Belum sempat bertanya lelaki itu bersuara lagi.

“Apa kau bersedih karena lelaki itu memutuskanmu? Atau karena ia sudah mendapat yang baru?” Sialan.

“Diamlah kau Hum, ngomong seenak jidat!” Gadis kepang itu angkat bicara, memukul lengan lelaki itu kencang, hingga ia sanggup meringis kesakitan.

Maksudku, apa perempuan tidak akan bersedih kalau patah hati? Bahkan 90% keyakinanku semua perempuan didunia pasti merasakannya jika ada diposisiku. Laki-laki memang sama. Sama-sama tidak mengerti, sama-sama tidak bias menjaga hati, sama-sama keras kepala, sama-sama egois.

“Hey, lelaki memang semuanya brengsek.” Seolah dapat membaca pikiranku ia berujar.

“Lelaki memang tidak mengerti perasaan perempuan, tapi tidakkah perempuan juga begitu?”

“Sehun…” Luna  mencoba menghentikan Sehun yang memulai pidatonya lagi. Tetapi aku tak ingin menolak, terkadang perkataan lelaki ini benar. Namun terkadang pernyataannya terlalu dalam hingga bisa mengiris ulu hati siapapun yang mendengar.

“Sekarang mari kita bicarakan soal hatimu. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Dia pergi meninggalkanmu, meninggalkan hatimu, ingat! Dia tidak pergi membawa hatimu. Apa kau masih siuman Soo Jung? Jika iya kau masih punya kesempatan mengisi ruang hati itu lagi. Kau hanya perlu membersihkannya sekarang. Apa 3 hari menangis hatimu juga belum bersih? Jangan membuat lelah dirimu sendiri, ada 7 orang didunia ini yang mirip dengan dirimu, begitupun dengan jongin, pasti ada 6 sisa  Jongin didunia ini. Kalau kau tak kuat untuk meninggalkannya yang perlu kau lakukan adalah mencari 6  sisanya. Kalau kau masih berakal jernih cobalah cari yang lebih baik daripada dirinya. Kalau kau perlu sesuatu akan kulakukan, adakah?”

“Sehun, bisakah kau… menjadi orang yang lebih baik itu?”

Ia tersenyum menghampiriku, lalu memelukku. “Aku akan, tapi kalau aku menyakitimu maafkan aku, aku yakin ada yang lebih baik dariku jika itu terjadi. Tapi untuk saat ini biar ruang hatimu untukku. Ya?” Aku mengangguk dan menyelam dalam dekap hangatnya.

“Oh ya, apa pertanyaanmu sudah terjawab?”

“Apa?”

“Kenapa dia pergi? Itu karena kau akan menemukan yang lebih baik…”

“Bagaimana bisa kau mendengarnya…”

“Karena aku punya telinga.”

“Bukan, maksudku, bagaimana kau tau aku mengucapkannya.. Padahal kau baru datang, atau jangan-jangan kau mengu..”

“Aku sudah lama disini, menunggumu menemukan yang lebih baik,sejak dulu.”

FIN.


 a/n: Hy ini ff comeback so hope u guys like it, udah lama gak nulis jadi kaku hiks T^T

Advertisements

3 thoughts on “[FICLET] Why Did You Leave?

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s