[1/2] N.O

Untitled-1

“Hanya diriku yang berjuang.”

N.O

SantiiAng-story

Starring by Kim Taehyung x Park Jira (OC)

Sad, little hurt

15, Twoshot

“Hanya diriku yang berjuang.”

878

Tempat yang sama. Tapi waktu yang berbeda.

Embun pagi ini menemaniku menyusuri setiap jalan setapak yang biasa kita lalui. Gelak tawamu selalu terngiang-ngiang ditelingaku. Senyuman manismu selalu nampak disetiap netraku terbuka dan tertutup. Tapi kini senyuman dan gelak tawa itu tidak akan pernah bisa aku lihat dan dengar lagi. Menghilang bersama bayangmu yang semakin menjauh.

Kutengadahkan kepalaku keatas langit. Matahari pagi dan semua makhluk disana adalah saksi bisu. Saksi bisu yang merekam semua kejadian manis dan pahit tentang kita. Saksi bisu yang menyaksikan bagaimana terpukulnya aku ketika kau memutuskan untuk meninggalkanku. Keputusan yang sangat aku benci. Keputusan yang sangat tidak pantas kau ucapkan. Apakah aku terlalu bodoh karena terlalu mencintaimu? Apakah aku dibutakan oleh cinta?

Ciuman itu. Ya. ciuman itu. Apa kau lupa saat kita berciuman kala itu? kau mengucapkan tidak akan meninggalkanku walaupun kau menemukan pria yang lebih baik, lebih tampan, bahkan lebih kaya dariku? Apa kau lupa dengan semua perkatanmu itu? Kau mencintaiku tanpa alasan bukan?

Apakah sekarang kau baik-baik saja? Apa kau bahagia? Apa yang dia miliki sehingga kau meninggalkanku? Apa kekuranganku? Coba katakanlah! Aku akan berubah! Demimu aku akan melakukan segalanya? Apa aku terlalu posesiv? Aku hanya tidak ingin kehilanganmu hanya itu. Hanya itu!

Lagi-lagi semua kenangan manis kita berputar begitu cepat dalam benakku. Bayanganmu terasa begitu nyata. Bayanganmu terus mendekatiku. Tanganmu begitu terasa nyata menyentuh pipiku. Sentuhan yang hangat. Aku mohon. Tetaplah seperti ini.

“Taehyung-ah bangunlah.” Suara itu. Apa aku bermimpi lagi? Kenapa semua ini terasa nyata. Ia benar-benar berada disisiku? Kenapa tiba-tiba mataku terasa begitu berat. Pandanganku semakin kabur. Kenapa bayangan dirinya perlahan menghilang. Kenapa semuanya tiba-tiba berubah menjadi gelap?

“Taehyung-ah.” Samar-samar suara itu terdengar lagi. Suaranya seperti tercekat. Apa dia sekarang melihat keadaanku yang begitu rapuh? Apa dia merasa kasihan kepadaku?

“Taehyung-ah.” Kenapa suaranya semakin menjauh. Sentuhan itu menghilang. Kemana perginya sentuhan itu. Kembalilah.

“Aku sudah lelah dengan semua ini! Relakan aku pergi! Aku sudah bosan denganmu! Kau hanya mengekangku selama ini! Apa kau tidak pernah mengerti perasaanku? Kenapa hanya aku saja yang selalu bisa mengerti akan dirimu? Kapan kau takbisa seperti itu! Kita akhir saja sampai disini. Semoga kau mendapatkan wanita ang lebih baik dariku. Taehyung.” Dia membentakku. Ya dia membentakku.

Mataku membulat dengan sempurna. Semua alat gerakku terasa tidak bisa berguna lagi. Aku, aku tidak merasakan peredaran darahku berjalan seperti biasanya. Aku tidak bisa menghirup udara. Dadaku serasa ditombak oleh bambu runcing. Sakit.

Kukumpulkan seluruh tenagaku yang tersisa. Ku raih tubuhnya dalam pelukkanku. Aku tahu dia hanya berbohong. Dia akan memberikan kejutan padaku. Ya memberikan kejutan padaku.

Tubuhnya meronta-ronta ketika aku mempererat pelukkanku. Pelukklah aku seperti biasanya. Pelukkan yang bisa menenangkanku. “Lepaskan aku, lepas!” Ia mendorong tubuhku.

“Apa kau belum paham juga? Kita sudah tidak ada hubungan lagi! Jadi. Jangan kau berani-berani memelukku lagi. Aku bukan gadismu lagi! Ingat itu!” Lagi-lagi. Kata pahit itu keluar dari mulutmu.

Kata-kata itu sudah cukup membuat semua tenagaku terkuras habis. Sudah cukup. Aku sudah tidak bisa menahan semua air mataku. Biarlah air mata ini terus mengalir, mungkin ketika berhenti rasa sakitku juga akan berhenti. Mungkin. Kupejamkan mataku. Mencoba, apakah rasa sakit itu akan hilang ketika kumembuka kembali mataku?

—-

Author POV

“Hey? Apakah kau baik-baik saja?”

“Eh?”

“Apa kau baik-baik saja?”

“Ah. Aku pikir begitu.”

“Apa kau tidak bisa melupakannya?”

“Dia terlalu berarti bagiku. Dialah penyemangat hidupku.”

“Dia sudah menghianatimu.”

“Ya. Aku tahu.”

“Lalu kenapa kau tidak bisa melupakannya?”

“Aku terlalu mencintainya.”

“Tidak. Kau tidak mencintainya.”

“Apa aku salah?”

“Ya!”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Ingatlah semua kesalahannya padamu. Buanglah semua kenangan manismu dengannya.”

“Aku tidak bisa!”

“Apa pernah kau mencobanya?”

“Belum.”

“Lakukanlah!”

“Tapi-” sebelum selesai Taehyung berbicara. Sambungan telephone sudah diputus begitu saja. Ia sedikit mendengus kesal.

Ingatlah semua kesalahannya padamu. Buanglah semua kenangan manismu dengannya. kata-kata itu terngiang kembali dalam benakknya. “Apa aku harus mencobanya?” Ia terdiam. “Apa bisa? bahkan perbandingannya satu berbanding seribu. Satu untuk kesalahannya dan  untuk kenangannya.”

Taehyung menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak boleh membencinya. Aku harus terus mencintainya dan membuat dirinya kembali padaku. Ya kembali padaku.”

Taehyung melangkahkan kakinya pergi dari kamar tidurnya. Ia langsung mengambil jaket dan kunci motornya yang tergeletak begitu saja disofa ruang tamunya. Apartement Taehyung sudah seperti kapal pecah sejak insiden itu. Semangatnya untuk membereskan rumah hilang begitu saja. Maka dari itu apartemennya begitu kotor. Sampah dan baju kotor berserakan dimana-mana. Bau makanan busukpun tercium dari penjuru ruangan dapur. Semua piring dan gelas tertumpuk diatas meja dapur. Sungguh kotor.

Baru saja ia keluar dari apartementnya dan sedang menyusun rencana untuk membuat gadisnya kembali, ia sudah melihat dirinya bersama lelaki lain. Bergandengan tangan. Bahkan berciuman didepan matanya sendiri.

Api cemburu kini membakar hatinya. Ia melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Tangannya ia kepal kuat-kuat. Rahangnya kini tergambar jelas diwajahnya. Baru saja ia akan mendekati mereka ada orang yang menarik tangannya dan membawanya pergi menjauh dari sana.

“Lepaskan aku! Berani-beraninya pria itu mencium Jira-ku!” Taehyung mencoba melepaskan genggaman orang itu. Tidak bisa tenaga orang itu terlalu besar. Ia terus meronta-ronta hingga Jira dan lelaki itu hilang dari penglihatannya.

“Hentikan! Apa kau lupa? Dia bukan gadismu lagi! Sekarang dia bahagia dengan Seok Jin! Lupakan Jira! Dia baik-baik saja! Seok Jin adalah pria yang baik!” Orang itu melepaskan genggamannya. Ia membentak Taehyung.

“Pria baik kau bilang? Dia sudah merebut Jira dari ku. Jimin! Kau masih berbicara kalau dia baik?” Amarah Taehyung sudah tidak bisa ia bendung lagi. Ia mengarahkan kepalan tangannya kewajah Jimin. Akan tetapi pukulannya tidak tepat sasaran. Jimin itu menghindar.

“Hentikan Taehyung! Ini akan sia-sia! Bukankah kau lupa? Karena terus bersamamu dia sengsara?” Hole! Taehyung terdiam mendengar perkataan Jimin. Kalau dipikir-pikir memang benar. Tapi, itu bukan salah Taehyung. Salahkanlah ayahnya yang sangat jahat itu.

“Lebih baik kita pergi sekarang. Kau tidak pantas mempertahankannya. Ingat hanya dirimu yang berjuang.” Jimin kembali membuka mulutnya. Ia berjalan mendahului Taehyung. Tangannya melambai mengintruksi Taehyung untuk mengikuti dirinya.

Sayangnya Taehyung tidak mengikuti intruksi temannya itu. Ia memilih berlari mengejar Jira. Rasa marah dan kecewa masih menyelebungi dirinya. Taehyung langsung menarik tangan Jira dari genggaman Seok Jin.

Pandangan mereka bertemu. Beberapa detik Jira terdiam dan menelan ludahnya. “Tae-Taehyung. Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku.”

Seribu kemungkinan yang Taehyung pikirkan melenceng sangat jauh. Ia berpikir Jira akan memeluknya. Hah. Cinta memang membutakan.

“Kembalilah padaku. Ak-” Sebelum Taehyung melanjutkan kalimatnya. Satu tinju melayang kearah pipinya. Ia tersungkur.

“Jangan pernah menyentuk Jira. Dia bukan milikmu lagi.” Seok Jin menarik Jira kebelakang punggungnya. Rahangnya mengeras. Tangannya masih terkepal. “Jangan buat aku menjadi orang yang lebih jahat Taehyung-sshi.”

Seok Jin menarik Jira dan membawanya pergi. Taehyung terdiam. Ia menunggu respon Jira. Lagi-lagi dugaannya meleset. Jira tidak melihat dirinya satu inchipun. “Apa sebenci itukah dia padaku?”

“Kau sudah melihatnya bukan? Sudah kubilang-”

“Hanya diriku yang berjuang.” Taehyung melanjutkan kalimat Jimin. Taehyung mencoba bangkit dan mengelap darah disudut bibirnya. “Kau memang benar. Aku tadi hanya memastikan.”

Taehyung melangkahkan kakinya meninggalkan Jimin. Wajahnya sangat datar. Sudah terlalu banyak kepedihan yang ia rasakan sekarang. Apa salah Taehyung? Apa ayahnya tidak mempunyai hati? Apa tidak cukup ia melihat dirinya menderita karena ibunya? Dan sekarang ia harus kembali menderita karena Jira?

Jimin menghembuskan napasnya kasar dan menggelengkan kepalanya. “Ini memang sangat sulit bagimu Taehyung.” Jimin mengikuti langkah Taehyung dari belakang. Ia tahu. Taehyung tidak bisa dibiarkan begitu saja. Masalah besar akan timbul ketika hatinya sedang diterpa masalah.

.

.

.

“Terimakasih Jin.” Jira membuka percakapan. Matanya lurus memandang keluar kaca mobil. “Kau ber-acting ­keren sekali. Sangat menjiwai.”

Jin terdiam dengan semua perkataan Jira. “Aku tidak tahu harus menjawab apa.”

TBC

A/N terereng tereng~ Ini dia buat zupla~~ semoga you like like yeah

Advertisements

6 thoughts on “[1/2] N.O

  1. WHAAATTTTT.-. saya shock waktu baca Jira malah sama Jin :’v padahal saya ngiranya sama Jimin wakak :v oiya sedikit koreksi, posesiv : posesif, menghembuskan : mengembuskan (kalau ga salah) terus tadi ada yang lupa pake spasi hehe :3 saya dagdigdug sendiri bacanya, kok saya kaya yang jahat banget ya :’v

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s