Persona Non Grata [Shot 2/END]

persona non grata

Persona non grata

Author : Jinho48

Genre : Angst, Fantasy, Sad

Cast :

  • Lee Jonghyun (CNBLUE)
  • Gil Eun Hye (Actress) as Jo Ara

Length : Twoshot

Summary : “There is a certain someone who seems ordinary. You may not be interested. But the person quietly spends the day alone. Certain people just can’t talk about all of the old stories. So, they just live. There is a certain someone who wants to be an average person.”

Poster by LittleRabbit @IFA

#

Pagi ini ada berita menggemparkan di Seoul International High School. Banyak murid yang berkumpul di lorong utama. Mereka penasaran dengan sosok murid baru yang katanya berbeda dari yang lain. Murid itu sangat spesial dan menakutkan bagi mereka. Para murid itu sibuk menggunjingkan anak baru itu. Jujur saja, mereka menolak kehadiran murid baru yang katanya adalah vampir. Dia adalah vampir yang baru saja keluar dari tahanan VSC.

Tapi kedatangan sosok yang di tunggu-tunggu pun tak segera tiba hingga jam pertama di mulai. Akhirnya mereka memasuki kelas mereka masing-masing. Tak lama setelah mereka masuk, seorang pemuda tampan berjalan dengan santai melewati lorong utama. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang administrasi. Setelah selesai dengan urusan administrasi, salah satu staf mengantarnya menuju kelas barunya.

Kemudian keduanya berhenti di sebuah ruang kelas. Pertama staf itu masuk dan mengatakan pada guru yang mengajar. Barulah setelahnya murid baru tadi di persilahkan masuk. Sontak para penghuni kelas itu terdiam. Mereka mulai mencerna situasi yang ada saat ini. Para gadis memuji ketampanan pria itu sementara para laki-laki menduga bahwa murid baru itu adalah vampir. Mereka berbisik-bisik hingga menimbulkan suara gaduh.

“Semuanya harap tenang! Hm, silahkan perkenalkan dirimu, Nak.” Ujar Min Saem mempersilahkan murid baru itu.

Annyeonghaseo. Naneun Kim Woobin imnida. Bagapseumnida.”

YA! Neo… vampire?” tanya salah seorang siswi yang duduk di paling ujung belakang.

Ne. Waeyo? Apa kalian takut? Tenang saja, aku tidak minum darah manusia. Aku vampir vegetarian. Hanya meminum darah hewan. Tolong kerja samanya!” tegas Woobin sembari membungkukkan badannya. Sontak para penghuni kelas mulai berisik.

TUK TUK

“Harap tenang! Baiklah, silahkan duduk di tempat yang kosong. Kita lanjutkan materi yang tadi.” tukas Min Saem. Lantas Woobin membungkuk pada gurunya lalu berjalan ke bangku yang kosong.

Woobin pun mengeluarkan bukunya dan mulai fokus pada penjelasan gurunya. Ia mengabaikan tatapan dari seisi kelas. Walau sejujurnya ia tak nyaman dengan tatapan itu tapi dia hanya diam. Dirinya harus bertahan hingga lulus nanti sehingga ia benar-benar bebas dari kukungan VSC. Baginya, VSC sangatlah memuakkan. Mereka adalah kumpulan manusia brengsek yang suka mengusik kehidupan vampir.

Hyung!” bisik seseorang dari arah kirinya. Ia pun menoleh dan mendapat pemuda tampan yang di temuinya semalam.

Annyeong, Jonghyun-ah.” sapanya sembari tersenyum ramah.

“Kau gila. Benar-benar gila. Kenapa memutuskan untuk sekolah dengan identitas aslimu?”

“Memang kenapa? Aku tidak keberatan sama sekali. Terserah mereka mau melakukan apa padaku. Yang penting aku bisa bebas dari VSC sialan itu.”

Ckck, kau sungguh luar biasa, Hyung. Semoga hari-harimu menyenangkan, eoh.”

Araseo. Sudahlah. Perhatikan saja penjelasan songsaenim. Kita lanjut nanti saja.”

Akhirnya jam istirahat pun tiba. Woobin memilih untuk pergi meninggalkan kelasnya. Sementara Jonghyun masih terdiam di tempatnya. Diam-diam dia mendengarkan pembicaraan teman-temannya yang jelas tidak suka akan kehadiran Woobin disini. Mereka mulai mengatakan hal-hal kasar. Lalu Sehun –salah satu murid –mengambil spidol dan ia berjalan ke bangku Woobin. Dia mencoret-coret mejanya.

Kemudian yang lain pun ikut-ikutan. Ada yang mencoretinya dengan spidol, lipstick, dan lain sebagainya. Jonghyun jadi gerah melihatnya. Dia bangkit dari kursinya secara tiba-tiba dan otomatis kini ia menjadi sorotan. Perlahan ia berjalan ke lokernya. Di ambilnya sebuah bungkusan kecil bertuliskan jus anggur dan dia juga mengambil sebuah botol kecil berisi wasabi. Dengan santainya dia menuangkan wasabi itu di kursi Woobin.

“Aku ikut berdistribusi oke?” ucapnya yang membuat para murid tertawa. Lantas di menyumpalkan wasabi itu di mulut Sehun. Otomatis semuanya terkejut dan Sehun tampak kepedasan.

YA! Apa yang kau lakukan?” teriak Jongin sembari menarik kerah baju Jonghyun lalu ia meninju pemuda tampan itu.

“Hah, dia bisa melakukan sesuatu sesukanya, kenapa aku tidak bisa, eoh? Rasakan itu!” ujar Jonghyun santai kemudian ia beranjak meninggalkan kelas.

Namun Jongin menahannya dan ia memukuli Jonghyun dengan membabi buta. “Brengsek kau, Lee Jonghyun!” maki pemuda itu.

Ara yang menyaksikan hal itu pun hanya diam saja. Tapi tiba-tiba ia teirngat sesuatu. Lalu ia segera menarik Jongin menjauhi Jonghyun. Di bantunya pemuda itu berdiri lantas dia menatap tajam teman sekelasnya yang berkuli tan itu. Begitu pula sebaliknya. “Apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhnya, eoh?” tanya Ara ketus.

“Justru aku yang harusnya bertanya seperti itu. Apa yang kau lakukan? Dia harus di beri pelajaran karena berani macam-macam pada adikku. Tidak semestinya kau ikut campur, Ara-ya.”

“Tentu saja aku harus ikut campur. Dia kekasihku! Jangan berani-berani kau melukainya atau aku akan membuatmu keluar dari sekolah ini. Camkan itu! Ini berlaku untuk yang lainnya juga. Mulai saat ini, jangan sentuh Jonghyun-ku!” teriak Ara yang membuat teman-temannya tercengang. Termasuk Jonghyun dan Woobin yang baru saja masuk.

Setelah itu, Ara menarik Jonghyun keluar dari kelas. Dia juga menarik Woobin menjauh. Kedua pemuda itu saling bertatapan sejenak lalu Woobin terkekeh geli sementara Jonghyun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Akhirnya mereka bertiga tiba di ruang kesehatan. Ara segera membersihkan luka yang ada di wajah Jonghyun lalu menutupnya dengan plester. Sedangkan Jonghyun hanya tertawa. Luka seperti itu tidak ada artinya untuk dia.

“Lain kali jangan mencari masalah dengan mereka. Aku tak suka ada perkelahian di depanku. Dan tadi aku teringat bahwa kau itu gampang lelah jadi aku menolongmu. Tolong jangan salah paham. Lupakan yang tadi. Anggap saja kita impas sekarang.” ujar gadis itu datar.

“Hm, araseo. Gomawo, Ara-ya.” Ucap Jonghyun seraya tersenyum manis.

Lalu Woobin menatap gadis jutek itu, “Hng… kenapa kau membawaku juga?” tanyanya ragu.

“Ambil meja dan kursi baru di gudang! Tempatmu sudah di kotori oleh teman-teman. Termasuk pria idiot ini.”

Eoh? Kau mengotori tempatku, Jonghyun-ssi?” tanya Woobin pura-pura terkejut.

“Tentu saja. Itu hal yang seru, Woobin-ah. Wae? Kau tidak terima? Mau memukulku?” tantang pemuda itu dengan polosnya.

Ara yang mendengarnya hanya memutar bola matanya kesal sedangkan Woobin menatap tajam pemuda berkulit putih pucat itu. “Kenapa? Pukul saja kalau kau mau. Tapi ku sarankan kau tidak melakukannya. Kau tidak dengar ucapan gadisku tadi? Jangan melukaiku atau kau akan di keluarkan. Oh, betapa cintanya dia padaku.” Lanjutnya dengan nada jahil.

Ia mengerling pada gadis yang ada di depannya itu. Sementara gadis itu mengalihkan padangannya. Jujur saja, dia malu karena ucapan Jonghyun barusan. Woobin pun hanya bisa menahan tawanya. Dia tidak ingin membuat Ara kesal. Dengan cepat Ara mengembalikan wajah judesnya lalu ia menatap Jonghyun dengan tatapan tajam. “Hanya dalam mimpimu. Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu.” Ujarnya ketus.

“Apa kau yakin, eoh? Bagaimana jika nanti kau jatuh cinta padaku karena terlalu membenciku. Haha…” goda Jonghyun yang membuat pipi Ara merona.

“Ah, sudahlah. Aku kembali ke kelas sekarang. Ingat, jangan macam-macam lagi!” ujarnya kemudian pergi meninggalkan ruang kesehatan dan kedua pria idiot yang tengah tertawa keras.

Ara POV

Pagi ini aku berangkat lebih awal karena ada pelajaran tambahan sebelum jam pelajaran pertama. Tak lama setelah aku sampai, pelajaran tambahan pun di mulai. Aku fokus memperhatikan penjelasan dari Lee Saem. Sesekali aku mencatat hal yang penting. Sejenak ku edarkan pandanganku ke sekeliling dan aku tak menemukan sosok Lee Jonghyun. Biasanya dia ada di belakang bersama Woobin tapi kini Woobin hanya sendirian di belakang.

Tidak sengaja tatapanku dan Woobin bertemu. Ia tersenyum lalu menulis sesuatu di bukunya dan ia menunjukkan apa yang di tulisnya kepadaku. Aku membacanya dengan seksama dan aku langsung menatapnya tajam sementara dia malah terkekeh geli. Dasar gila! Aku pun segera mengembalikan tatapku ke depan. Tapi aku kembali mememikirkan apa yang di tulis Woobin tadi. Haruskah aku pergi?

Karena sibuk berpikir, aku tak sadar bahwa jam pelajaran tambahan telah berakhir. Aku baru sadar ketika guru iru keluar dari kelas. Tanpa pikir panjang, aku langsung membereskan barangku lalu berlalu meninggalkan kelas. Entah ini salah atau benar aku tak peduli. Sekarang yang ku pedulikan adalah pria itu. Jujur, aku khawatir padanya. Semoga dia baik-baik saja.

“Ara-ya, mau kemana?” tanya Hajin sebelum aku pergi. Dia mencekal pergelangan tanganku. Ia merupakan teman dekatku di sekolah.

“Aku ingin menemui Jonghyun. Dia sedang sakit. Tolong katakan pada guru jika aku ada urusan mendadak, oke?”

“Oh, baiklah. Akan ku sampaikan.” Sahutnya sembari mengangguk paham. Ia pun melepaskan cekalannya.

Gomawo, Hajin-ah. Sampai nanti.”

“Iya, hati-hati. Sampaikan salamku padanya oke? Semoga dia cepat sembuh.”

“Pasti! Aku pergi dulu. Annyeong!” Setelah itu aku pun segera pergi meninggalkan kelas dengan perasaan yang tak tentu.

Aku berlari keluar gerbang sekolah yang sudah kembali di buka dan segera mencari taksi. Setelah mendapatkan taksi, aku segera menyuruh supir taksi untuk mengantarkanku ke daerah Gangnam-gu. Saat ini tujuanku adalah rumah Jonghyun. Woobin mengatakan jika pemuda itu sednag sakit makanya tak berangkat sekolah. Ah, semoga tidak parah. Aku takut jika Jonghyun pingsan atau mimisan lagi.

Sampai di depan rumahnya, aku segera turun setelah membayar taksi dan bergegas membuka pintu pagarnya. Aku menggedor pintu rumahnya namun tidak ada sahutan. Astaga! Apa dia pingsan? Oh, bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Hm, tunggu sebentar. Aku punya nomor ponselnya kan? Coba aku telepon dia. Semoga dia tidak kenapa-kenapa. Dengan segera aku mengambil ponselku dari saku rok dan menghubunginya.

Yeoboseyo?

“Jonghyun-ah?”

Wae? Ada apa?”

“Dimana kau sekarang? Kenapa tidak masuk?”

Oh, kau rindu padaku? Kau mengkhawatirkanku ya?

YA! Bukan begitu. Tadi Woobin yang menyuruhku untuk mencarimu. Katanya kau sedang sakit.”

Ah, jadi karena dia? Hm, aku baru saja keluar dari apotek. Apa kau ada di rumahku sekarang?”

“Apotek? Apotek yang ada di pertigaan itu?”

Iya. Aku akan menunggumu di Mirae Cafe. Datanglah kemari jika kau ingin menemuiku!

“Hm, araseo.”

Sampai nanti, Ara sayang~

MWO? YA! Neo…”

KLIK

Sial! Dia memutus sambungan telepon terlebih dahulu. Dengan segera aku keluar dari perkarangan rumahnya Aku berjalan menyusuri trotoar yang akan membawaku ke arah pertigaan terdekat. Tadi dia bilang Mirae Cafe kan? Berarti, aku harus berbelok ke kanan. Aku berjalan ke arah tersebut dan ku dapati Jonghyun sedang bermain gitar di depan kafe. Beberapa pejalan kaki yang melihatnya pun berhenti sejenak dan menikmati permainannya.

Sejemang, aku berhenti untuk melihatnya bermain gitar. Permainannya sungguh apik dan membuatku ingin mendengarnya terus. Ku pejamkan kedua mataku agar lebih terasa nikmatnya musik yang dimainkan Jonghyun. Tanpa sadar aku pun tersenyum tipis lalu saat permainannya terhenti aku pun membuka mataku dan kembali berekspresi datar. Aku segera berbalik dan pergi namun sebuah suara mengintrupsi gerak kakiku.

“Hei, Jo Ara! Jika kau ikut mendengarkan dan menontonya, kau harus bayar. Jangan asal pergi.”

Aku menoleh dan mendapatinya yang tengah menatapku. Sejenak aku memperhatikan ke sekeliling. Para penonton sudah membubarkan diri dan aku memberanikan diriku untuk pun berjalan mendekatinya. Ku hentikan langkahku di hadapannya. Tanganku terulur untuk memberikan uang seribu won ke dalam wadah gitar. Lalu aku menatapnya. Begitu pula dengannya. Ia tersenyum lalu kembali memetik senar gitarnya.

There is a certain someone who seems ordinary. You may not be interested. But the person quietly spends the day alone. Certain people just can’t talk about all of the old stories. So, they just live. There is a certain someone who wants to be an average person.”

Setelah ia selesai bernyanyi, aku pun terdiam. Berusaha untuk mencerna makna yang tersimpan di balik lagunya. Hm, seseorang yang tidak di inginkan kehadirannya ya? Orang itu merasa kesepian dalam menjalani hidupnya. Ah, lagu yang menarik. Aku merasa lagu ini seperti penggambaran dari perasaan Jonghyun saat ini. Tadi dia bernyanyi dengan penuh penghayatan sehingga mampu membuatku terlarut.

“Bagaimana? Apa penampilanku keren barusan?” tanyanya sembari membereskan barang-barangnya.

“Hm, lumayan. Tapi, kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau sedang sakit?”

Setelah mengendong tas gitarnya, dia berdiri tegap dan menatapku dalam. “Memang apa salahnya? Aku bosan berada di dalam rumah dan aku juga sedang malas ke sekolah. Hm, terima kasih karena telah datang. Perasaanku jauh lebih baik sekarang, Ara-ya. Gomawo.” Ujarnya sembari tersenyum manis.

Dengan kikuk aku membalas senyumnya. “Ne. Tapi itu tidak akan terjadi tanpan Woobin. Lebih baik kau berterima kasih padanya juga. Syukurlah jika kau merasa lebih baik. Ah, sepertinya aku harus kembali ke sekolah sekarang. Annyeong!” Namun baru saja aku hendak melangkah, dia menahan pergelangan tanganku. Otomatis aku menoleh ke arahnya.

“Jangan pergi! Temani aku jalan-jalan, Ara-ya. Jebal!” pintanya dengan wajah melas. Aku hanya bisa menghela napas lalu mengiyakan permintaannya.

“Baiklah. Jangan lama-lama oke? Sebentar saja.” Ujarku lalu aku berjalan terlebih dahulu. Dia pun menyusulku dan menggandeng tanganku. Aku pun hanya diam membiarkannya melakukan itu. Terserah dia saja mau membawaku kemana. Hah.

Kemudian kami berhenti di depan toko aksesoris. Dia pun menarikku masuk ke dalam toko itu. Aku hanya diam dan mengikutinya tanpa protes. Ia melihat-lihat topi, gantungan kunci, kacamata, gelang, hingga akhirnya dia berhenti di rak jepitan rambut. Jonghyun menarik tanganku sehingga aku menjadi lebih dekat dengannya. Tangannya melepas tanganku lalu jari-jari panjangnya menyusuri deretan jepitan yang tersusun rapi.

Aku pun mengambil salah satu jepitan rambut berbentuk pita berwarna putih dan memiliki corak floral. Itu tampak cantik. Lalu aku mencoba menempelkannya di rambutku dan melihatnya di kaca. Dari kaca, aku bisa melihat sosok Jonghyun yang tengah menatapku. Aku segera menjauhkan diri dari kaca dan mengembalikan jepitan tadi di tempatnya namun pria itu merebutnya dari tanganku. Ku tatap dia dengan tatapan heran.

“Itu cantik. Aku akan membelikan ini untukmu.”

Huh?”

“Aku akan melakukan apapun asalkan kau akan bersikap baik padaku dan Woobin Hyung. Sikapmu selama ini terlalu jutek, keras, dan kasar pada kami dan beberapa teman sekelas kita. Lagipula, hanya kau yang di dengar oleh teman-teman kita. Aku ingin kau menyuruh mereka untuk tidak mengganggu Woobin Hyung lagi.”

“Kenapa? Memang siapa Woobin untukmu? Jangan-jangan kau gay dan tertarik padanya ya?”

Tsk! Gay? Tentu saja tidak. Aku masih normal, Ara-ya. Bagiku, dia itu sahabat sekaligus kakak yang terbaik di dunia ini. Jika tidak ada dia, mungkin aku sudah mati sejak dulu.”

“Maksudmu? Jangan-jangan kau… vampir juga?” tanyaku dengan nada terkejut.

Namun dia hanya diam lalu mengambil tanganku. Jari-jarinya menelusuri garis berwarna biru dari daerah lengan bawahku hingga ke pergelangan tanganku. Lalu ia mendekatkan pergelangan tanganku pada mulutnya yang sedikit terbuka. “Jo Ara, kau memiliki pembuluh darah yang bagus.” Ujarnya lalu ia sedikit menjauhkan wajahnya. Aku menatapnya dengan tatapan takut.

“Apakah kau takut, Ara-ya?” tanyanya dengan suara rendah dan itu membuatku sedikit gugup.

Aniyo. Aku tidak takut padamu.” Kemudian dia menatapku sekilas.

“Kalau begitu, jangan merasa terintimidasi. Kami tidak meminum darah manusia.”

Dengan segera aku menarik tanganku lalu aku sedikit menunduk. Suasana ini membuatku canggung. Lantas kami hanya saling diam untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya dia menarikku ke kasir. Setelah membayar jepitan yang tadi, ia membawaku pergi ke tempat lainnya. Aku hanya diam mengikuti langkahnya. Saat ini pikiranku benar-bernar blank. Aku masih berusaha untuk mencerna semua yang baru saja terjadi.

Jonghyun POV

“Jonghyun-ah!” teriak seseorang dari arah belakang.

Aku pun berhenti menyusuri lorong yang mengarah ke pintu gerbang dan segera berbalik. Orang itu mendekatiku dengan napas terengah. Dia terdiam untuk menetralkan napasnya sejenak. Ada apa ya? Aku kan sudah bosan dan ingin segera pulang. Lagipula ini sudah larut malam. Hah, pelajaran tambahan dan ekskul-lah yang membuatku masih ada di sekolah hingga malam begini.

Wae?” tanyaku ketika ia mulai tenang. Gadis itu menatapku dengan tatapan panik.

“Ara sedang bertengkar dengan Hajin di atap. Cepat datang ke sana!” ujarnya.

Mwo? Apa maksudmu? Ara bertengkar dengan Hajin? Bukankah mereka teman baik?”

“Aku juga tidak tahu. Lebih baik kau lihat saja sendiri. Di sana juga ada Woobin.”

“Hah? Baiklah. Terima kasih atas informasinya, Jiyeon-ah.” ujarku lalu segera berlari menuju ke atap.

Sesampainya di atap, aku melihat Ara tergeletak di dekat sofa lusuh yang ada di atap. Aku bergegas menghampirinya lalu ku periksa keadaannya. Pelipis dan lengannya terluka. Tanpa pikir panjang, ku lepas dasiku lantas mengikatkannya di luka yang ada di lengan gadis itu. Kemudian aku menjilat darah yang keluar dari pelipisnya hingga luka itu tak mengeluarkan darah lagi. Setelah itu aku mengedarkan pandanganku kesekeliling.

Dimana Woobin Hyung dan Hajin? Aku terus mencari sosok keduanya hingga aku mendapati mereka ada di atap sekolah yang berada di sisi lain. Mereka sedang berkelahi. Apa? Bagaimana bisa? Woobin Hyung tidak mungkin menyerang seorang gadis. Tidak bisa di biarkan! Aku harus ke sana. Segera aku berdiri dan hendak menggunakan kekuatanku sebagai vampir tapi aku ingat peraturan dari VSC.

Jadi, aku memilih berlari menyusuri atap demi atap yang rendah hingga bisa sampai ke sana. Tapi baru saja aku akan berlari, ada yang mencegahku. Dia menarik tanganku sehingga kini kami berada di atap tempat Woobin Hyung dan Hajin berkelahi. Aku membulatkan mataku. Kulihat sosok yang tadi membawaku kemari. Gadis ini… bagaimana bisa? Dia menatapku dengan sorot mata yang tajam sembari tersenyum simpul.

“Apa kau terkejut, Jonghyun Oppa?” bisiknya tepat di telingaku hingga membuat tubuhku menegang. “Lebih baik kau melihat saja dari seberang sana. Lihatlah bagaimana aku dan Hajin akan menghabisi kakak kesayanganmu itu.” lanjutnya. Sedetik kemudian aku kembali berada di seberang, tempat semula dimana di situ Ara masih tak sadarkan diri. Lantas gadis tadi kembali ke tempat Woobin Hyung dan Hajin berkelahi.

Gadis itu bergabung dengan Hajin lalu segera menyerang Woobin Hyung dengan brutal. Bisa kulihat bahwa kakak laki-lakiku itu mulai kualahan. Aku harus membantunya. Tak peduli jika nanti aku mendapat hukuman dari VSC karena menggunakan kekuatanku di lingkungan manusia. Perlahan aku mendekati Ara. Ku usap wajahnya yang sedikit pucat dan aku menatapnya dengan tatapan sendu.

“Ara-ya, maafkan aku! Kau tidak seharusnya terlibat dalam hal ini. Dan kalau aku boleh jujur, aku mencintaimu. Yah, aku sangat mencintaimu. Tapi sungguh sayang karena kita tidak bersatu. Kita berbeda, Ara. Aku vampir dan kau manusia. Semoga kau hidup bahagia selalu. Kau tahu arti dari lagu yang ku nyanyikan tempo hari? Itu adalah ungkapan perasaanku. Kau pasti mengerti maksudnya. Aku tahu kau gadis yang pintar sayang. Terima kasih karena telah mengisi hariku. Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal, Jo Ara.” Ujarku panjang lebar yang diiringi dengan turunya air mataku.

Aku bangkit dan menghapus air mataku secara perlahan. Ku pejamkan kelopak mataku sejenak lalu aku membukanya dan segera berlari menjauhi Ara namun sekali lagi, langkahku tertahan saat aku hendak pergi ke seberang sana. Suara lirih yang terdengar jelas di telingaku. Aku mematung sejenak. Lalu ku balikkan badanku dengan kaku. Kini aku bisa melihat Ara yang telah membuka matanya dan menatapku sendu.

“Jonghyun-ah…” panggilnya lirih. Aku pun berjalan mendekatinya dan berjongkok di hadapannya.

“Bisakah kau membuatku menjadi sama sepertimu? Jika kau tak bisa menjadi sama sepertiku, biarkan aku yang menjadi sepertimu. Jadikan aku vampir, Jonghyun-ah. Aku tak ingin berpisah denganmu. Jujur, aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu. Kumohon!” pintanya dengan suara parau. Dia menangis di hadapanku dengan tatapan memelasnya.

“Tapi… aku tidak ingin membawamu masuk lebih dalam lagi ke dalam kehidupanku. Aku tidak ingin kau berada dalam bahaya, Ara-ya.”

Oppa, jika aku masih menjadi manusia, justru aku berada dalam bahaya. Orang yang mengincarmu pasti akan mengincarku terlebih dahulu. Jebalyo, Jonghyun Oppa.”

Aku terdiam sejenak. Kupikirkan matang-matang hal itu dan rasanya itu tidak buruk. Dengan dia berubah menjadi vampir, dia bisa melindungi dirinya ketika aku tidak ada di dekatnya nanti. Benar! Aku harus merubahnya menjadi vampir agar dia bisa melawan semua bahaya yang ada. Kami pun saling bertatapan. Perlahan tanganku terulur dan ku hapus air mata di pipinya dengan lembut.

“Apa kau yakin sayang?” tanyaku memastikan. Dia pun menangguk mantap.

“Baiklah. Persiapkan dirimu, Ara-ya.” Setelah itu dia memejamkan matanya dan aku segera mendekatkan mulutku ke arah lehernya.

Segera ku gigit lehernya hingga ia menggeram pelan. Aku pun menjauhkan mulutku dari lehernya dan bergegas untuk menjauh. Kini Ara telah berubah. Matanya tak lagi berwarna kecokelatan. Irisnya telah berganti menjadi warna biru terang. Dia berdiri dan berjalan menghampiriku lalu ia mengandeng tanganku. Kemudian di detik berikutnya, kami sudah ada di seberang. Bertepatan dengan tumbangnya Woobin Hyung. Ia terluka parah.

Ara meminggirkan tubuh Woobin Hyung lalu ia menatap kedua gadis yang ada di depannya dengan tatapan nyalang. Aku pun hanya terdiam. Tapi aku tersadar ketika Ara mulai menyerang kedua vampir jahat itu. Segera ku fokuskan diriku agar kekuatan vampirku tidak padam. Aku bergegas menyerang Hajin sementara Ara melawan Jiyeon. Kami bertarung mati-matian.

Pertarungan ini berlangsung sengit. Baik aku-Ara maupun Hajin-Jiyeon tidak ada yang mengalah. Kami berusaha untuk menjatuhkan satu sama lain. Hingga akhirnya, Ara berhasil membunuh Jiyeon. Kini tinggal kami bertiga. Hajin masih tetap menyerangku. Tak peduli akan rekannya yang sudah mati. Ara pun membantuku namun dengan sekali pukulan telak dari Hajin, ia tersungkur. Aku terkejut melihatnya dan segera menghampirinya.

Cih! Kau begitu menjijikan, Jonghyun-ah! Bagaimana kau bisa hidup dengan tenang setelah membunuh kakakku yang merupakan sahabat baikmu, eoh? Kau benar-benar brengsek. Sungguh, kenapa kakakku hanya ingin kau di tahan? Kenapa tidak dihukum mati saja?” teriaknya dari jarak 3 meter.

“Maksudmu? Aku tidak mengerti, Hajin-ssi. Kakakmu? Memang siapa kakakmu? Kau siapa? Aku tak merasa pernah mengenalmu.”

“Kakakku adalah Jung Yonghwa. Dia adalah sahabatmu dulu. Kalian begitu dekat hingga akhirnya kejadian itu terjadi. Kau dan kakakku menyukai manusia yang sama. Kalian berdua sempat bertengkar. Tapi pada akhirnya kakakku mengalah padamu. Dia menemui gadis itu dan mengatakan bahwa kau mencintai gadis itu dan Yonghwa Oppa juga meminta gadis bernama Seulgi itu untuk menerimamu.” Jelasnya. Ia menghirup napas dalam-dalam lalu kembali melanjutkan ceritanya.

“Lalu kau melihat mereka berdua jalan di Sungai Han. Kau kehilangan kontrol atas dirimu. Dengan kejinya kau membunuh kakakku dan gadis itu. Di saat terakhir hidupnya, Yonghwa Oppa meminta pihak VSC untuk menghukum dirimu dengan menghilangkan memorimu tentangnya, Seulgi, dan juga aku. Sekarang, aku menuntut balas padamu. Kau juga harus mati! Bersama gadis itu juga.” Lantas dia kembali menyerangku dan dengan sigap aku menangkis serangannya. Ara pun bangkit dan ikut menyerang Hajin.

Sejujurnya aku sangat terkejut mendengar penjelasannya tapi tidak ada waktu bagiku untuk terkejut terlalu lama. Aku harus mematahkan serangannya agar aku, Ara, dan Woobin Hyung tetap hidup. Kami terus berkelahi hingga pada akhirnya aku berhasil membunuhnya. Dia tergeletak tak berdaya 5 meter dariku dan Ara. Dengan tenaga yang tersisa, dia berbicara lagi kepadaku.

Tsk! Jika aku mati, kau juga ikut mati, Jonghyun-ah. Lihat saja nanti! VSC pasti akan menghukum dirimu dan Woobin. Dan ingat, di kehidupan selanjutnya, kupastikan kau mati di tanganku.” Setelah itu tubuhnya berubah menjadi abu dan menghilang entah kemana.

Aku pun jatuh terduduk. Perlahan ingatanku tentang Jung Yonghwa, Kang Seulgi, Jung Hajin, dan Park Jiyeon mulai kembali. Ara menarikku ke dalam dekapannya. Tanpa sadar air mataku mulai mengalir. Memori masa laluku itu benar-benar kelam. Aku tidak menyangka bahwa aku pernah kehilangan kendali seperti itu. Bahkan sampai membunuh sahabat dan gadis yang ku cintai.

“Sudahlah, Oppa. Lebih baik kita pergi sekarang! Kita harus mengobati Woobin Oppa.” Ujar Ara lembut.

Aku hanya mengangguk lalu bangkit dan segera mendekati Woobin Hyung. Dengan segera aku menggendongnya. Kami bertiga pergi ke tempat yang amat jauh. Setidaknya kami harus menghindari VSC dulu untuk sementara waktu. Cepat atau lambat VSC pasti akan menghukumku dan Woobin Hyung. Mungkin Ara pun terkena hukuman juga. Aish, menyebalkan. Kenapa kami harus terjebak dalam situasi seperti ini sih? Tsk! Sial!

Epilog

Setelah pertarungan itu, Woobin dan Jonghyun tak pernah lagi terlihat. Mereka di musnahkan oleh VSC karena telah melanggar aturan untuk kesekian kalinya. Sementara itu, Ara di tahan di rumah tahanan VSC untuk beberapa tahun ke depan. Kehidupan Ara begitu kacau saat ini. Dirinya masih terpukul atas kejadian dimana Jonghyun di musnahkan. Pemusnahan itu sengaja di lakukan di depan matanya sehingga menorehkan luka batin yang mendalam.

Ara selalu melamun tak peduli akan siksaan yang ia dapatkan dari para penjaga ataupun tahanan lain. Yang ia lakukan hanya diam sembari memanggil Jonghyun setiap malamnya. Terkadang dia pun menangis. Pikirannya hanya di penuhi oleh Jonghyun dan Jonghyun. Hingga pada akhirnya ia memilih untuk menghabisi dirinya sendiri. Dia mengumpulkan seluruh kekuatannya lalu ia memukul dinding penjara.

 

Pukulannya pun membuahkan hasil. Seberkas cahaya masuk ke dalam penjara itu dan tepat mengenai tubuh gadis mungil. Perlahan tubuhnya mulai terbakar setetes airmata terjatuh dari pelupuk matanya. Sengatan matahari tak lagi ia pedulikan karena kini ia hanyalah seonggok tubuh tanpa jiwa yang hanya ingin menjemput kematiannya sendiri.

Perlahan-lahan kulitnya mengeluarkan asap karena terbakar matahari. Tubuhnya pun mulai goyah, ia tak kuat lagi dan terjatuh. Ruangan itu sepi, hanya ada dirinya dan beberapa vampir yang tidak peduli padanya. Mereka sibuk menghindari terpaan sinar mentari. Hingga akhirnya tubuh Ara terbakar, dan ia menghilang musnah tanpa jejak menjadi abu.

“Jonghyun-ah, kita akan bertemu lagi. Di kehidupan selanjutnya, aku akan tetap mencintaimu.”

END

Helo~ akhirnya saya menyelesaikan FF khusus yang di request oleh Mamih Lia. Woah, maaf lama updatenya. Sempet ada kendala sedikit sih hehe. Semoga mamih engga kecewa sama hasilnya.

Jangan lupa RCL! Mian for typo~ Gomawo^^

Advertisements

5 thoughts on “Persona Non Grata [Shot 2/END]

  1. MAAFKEUN SAYA BARU NEMU FF INDAH INI SEKARANG 😭😭

    wow meskipun beberapa scene ngambil dari orenji marmalade tapi lanjutannya, storylinenya tetep konsisten!

    Dan jujur aku agak ngakak/myane myane/ pas baca kalo Yonghwa jd vampir dan rebutan cewe sama Jonghyun. Maafkeun tp waktu di dramanya yang ada tulisan “Leader Idol Group Jung Yong Hwa, Vampire?” aja aku udh ngakak guling-guling dan selalu begitu tiap kali nonton sampe skrg 😂/digampar boice/. Apalagi ini aduh jadi vampire yg udah ditikung plusplus (langsung dibunuh sekalian cewenya), masih baik banget pula, entah kenapa bawaan pengen ketawa aja :’v

    saran nih, alurnya agak terlalu cepet apaya, maksudnya keburu-buru gitu apalagi kan ada scene yg ambil di dramanya, nah ada yang terkesan terburu-buru gitu buat nyambunginnya.

    Terus, itu Jonghyunnya mati gitu aja dan Mbak Ara juga ikutan mati? Wae not happy ending waeee padahal udah demen ada yang bikin ff jonghyun (shiwoo) – ara *oke ini murni karena saya ga terima si akang byebye dan ga merhatiin genre* :’v

    Overall ini udah bagus, kamu kreatif dan niat buat bikin ff inspired by orenji marmalade ini dan memuaskan jiwa shiwoo-ara shipper saya :’) terus berkarya dan fighting! ^^/ maaf kalo saya komennya kepanjangan dan terkesan ngejudge /-\

    Salam, Yulbam

    • Annyeong sebelumnya makasih udah sempetin baca dan akhirnya komen…
      Komentarnya panjang banget. Sampe bingung mau bales apa nih hehe 😀
      Terimakasih atas sarannya. FF ini emang di kerjain buru-buru karena udah terlalu lama gak di lanjutin.. Yg request FFnya udah ngomel-ngomel minta di lanjut jadi ya beginilah jadinya. Endingnya sad karena saya suka sad haha 😀
      Sekali lagi terimkasih ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s