[Oneshot] Love And Guilty

love and guilty

Title || Love And Guilty

Author ||  Mochaccino

Maincast || Park Jiyeon and Song Mino

Support Cast || Im Siwan

Genre || Romance || Sad /AU

Rated || G

Length || Oneshot

 

Tentang pekik camar yang meramaikan senja, dan teluk terasa begitu sepi meski debur ombak telah menyampaikan pesan. Mataku menawarkan cerita, yang tertangkup di kilau sunset di daun kelapa. Aku masih mengharapkanmu, bisikku padamu. Dan senyumanmu menjernihkan langitku yang suram. Senja beranjak malam.

Pantaiku sepi,

Aku masih menantinya. Aku masih berharap dia akan tiba. Mungkin satu atau dua jam lagi. Toh aku juga sedang tidak terburu-buru. Mataku menangkap kelebat camar-camar di kejauhan. Diantara angin laut yang menghempas semua letihku. JIyeon. Aku masih berujar tentang benih-benih cintaku yang semakin mengakar dihati. Aku masih menginginkanmu hingga kini.

Cerita mengenai kita beberapa kali mengambang. Tidak jelas dengan hatiku, begitu juga dengan hatimu. Kita selalu bersama, melewati banyak waktu, namun ada sesuatu yang tidak bisa kita tembus di sana. Bahkan aku pun tidak bisa berpikir dengan alur yang kita jalani. Entah ada apa dengan hubungan ini?

Menghitung waktu yang teramat lambat di senjaku. Masih ada sisa hingga mentari itu menghilang dari dunia. Kamu masih belum datang. Kuhela nafasku lagi. Kali ini sambil tersenyum pada buih-buih ombak yang mempermainkan kakiku.

Waktu itu, kita, kamu dan aku berlari di sepanjang pantai, menyisakan jejak kaki yang begitu panjang dan tak beraturan. Sebentar saling melempar pandang. Sebentar saling tersenyum. Aku begitu mengagumimu. Pesonamu yang lembut. Dan entah untuk berapa lama aku menyimpan cerita hati ini untukmu.

Sesekali kita bercanda, diantara ombak-ombak yang memecah kebisuan. Senyummu menebarkan rasa gugub di benakku. Dan warna senja membalut aura mistis di wajah cantikmu.

“Jika ujianmu lulus aku akan memberikan hadiah khusus untukmu .” Janjiku ketika angin-angin laut mempermainkan rambut panjangmu, menutupi sebagian wajahmu. Tanpa sengaja aku menyibakkannya. Kau tertegun sesaat, namun akhirnya tersenyum.

“Apa aku boleh tahu Oppa?” tanyamu lembut.

“Nanti kau akan tahu.”

“Bagaimana jika aku tidak lulus ?”

“Kalau tidak lulus ya tidak jadi aku berikan.” aku tersenyum menggodamu. Dan sedikt saling meninju menjadi bumbu manis di akhir senja.

“Bagaimana denganmu Oppa?”

“Apa?” Aku menoleh. Jantungku berdebar ketika menemukan tatapan lembut itu.

“Bersemangtlah!” Jiyeonku memberikan semangat untukku. Manis.

“Ya. ” jawabku singkat.

Senja sudah beranjak kian pekat. Dan bayang -bayangmu belum juga tampak. Apakah kamu tidak jadi datang? Aku mulai gelisah. Dan perlahan perasaan takut itu menyeruak. Perasaan yang sama saat kau mengatakan bahwa kau akan pergi dari sisiku.

Dulu,

“Oppa!” panggilmu ketika kau menemuiku di gerbang sekolah. Hari itu sangat membuatku frustasi. Kepanikanmu sungguh menjadi ketakutan di benakku.

 

“Ada apa?”

 

“Aku menunggumu Oppa.” ujarmu sambil menyeret tanganku untuk mengikutimu. Membawaku pada sisi yang sepi. Raut wajahmu cemas.

 

“Ada apa?” tanyaku lembut. Memegang dua pundakmu dengan kedua tanganku. Matamu begitu dalam menatapku. Perasaanmu tergambar di sana. Aku tidak tahu apa yang akan kau katakan waktu itu, namun entah kenapa aku sudah bisa merasakan kegelisahanmu.

 

“Ada sesuatu yang terjadi?” tanyaku

 

“Aku harus pergi, Oppa.”

 

Untuk sesaat aku tertegun, mencoba mencari arti dari perkataanmu, namun gagal.

 

“Memangmya kau akan pergi ke mana? Dan kapan kau akan kembali?”

 

Pertanyaanku terdengar runyam di kepalamu. Kau menggeleng, dan aku semakin cemas.

 

“Aku tidak tahu. Ada masalah dalam keluargaku. ” banyak yang ingin kau sampaikan saat itu, namun bibirmu tidak bisa bergerak banyak.

 

“Maksudmu?”

 

“Ayah dan ibuku berpisah. Mereka bercerai, Oppa.”

Aku sering mendengar mengenai pertikaian yang kerap terjadi pada orangtuamu. Mereka memang terlihat tidak harmonis. Namun bercerai —ini mengerikan.

 

“Bercerai ?” Tidak ada kata lain dari mulutku selain mencoba menenangkanmu dengan usapan tanganku.

 

“Aku akan tinggal bersama Ayahku di Busan.”

 

“Itu jauh. Tapi kenapa? Bagaimana dengan ibumu” timpalku dengan perasaan hancur.

 

“Ya. Jauh. Aku tidak tahu. Bukan aku yang memutuskan. Jika Ayahku sudah mengatakan demikian, maka hal itulah yang harus terjadi. Oppa, aku takut! ” ulangmu datar

 

“Takut? Takut apa? ” sebenarnya akupun takut. Aku sangat takut aku tidak bisa menemuimu lagi. Aku takut kehilangan jejak mengenai dirimu. Ini membuatku hampir gila.

 

“Aku akan meninggalkan kehidupan yang selama ini sudah aku jalani. Lalu aku akan berada di tempat yang asing dengan orang-orang yang benar-benar berbeda. Aku sungguh takut!”

 

Ucapanku tertahan pada ancaman kegugupan. Tanganku gemetar saat itu. Sepertinya jiwaku tidak sanggub menerima semua perkau kataanmu. Masalahnya kau akan pergi.

 

” Kita mungkin tidak akan bertemu lagi!” nada kalimatmu berat.

 

“Jangan! Jangan mengatakan perkataan bodoh seperti itu. Kita pasti akan bertemu — lagi. Kau tinggal mengatakan, di mana kau tinggal, lalu aku akan sesering mungkin menemuimu. Aku berjanji, Jiyeon.”

 

“Aku pasti akan sangat merindukanmu.” ujarmu dalam senyum yang terpaksa. Wajah polosmu entah kenapa terlihat begitu lucu dengan senyum seperti itu. Kamu tahu bagaimana rasanya tersenyum dalam tatap mata yang sedih, tanpa mengangkat tulang pipimu.

 

“Kau pasti akan mendapatkan banyak teman di sana. Dan mungkin juga kekasih.”

 

Kali ini Jiyeon tersenyum dengan tulus.

 

“Tapi pasti tidak akan sepertimu, Oppa.” wajahmu bersemu merah apalagi aku.

 

“Itu pasti. Tidak ada yang seistimewa diriku. ” aku menyudutkan senyumku. Merasa bangga dengan diriku sendiri. Namun tidak tahu apa yang membuat aku bangga.

 

“Kita berlari ke pantai lagi..!” ajakmu tiba-tiba yangkemudian langsung melesat meninggalkan langkahku yang masih tertancap di tempatku

 

“Baiklah!” gumamku—

 

“Kali ini yang kalah harus mentraktir makan bosam!” teriakmu ketika mendahuluiku berlari.

 

 

 

Siang itu hingga senja, kita menghabiskan waktu kita di pantai. Untuk terakhir kalinya. Dan setelah itu, aku tidak berani untuk melihatmu pergi. Aku melaknati diriku yang pengecut. Mungkin saja kamu menangis saat itu, ketika aku tidak berada di sana untuk menjabat tanganmu, mungkin. Atau memelukmu. Atau melambaikan tangan saat bayanganmu menghilang. Sungguh aku tidak sanggub.

 

Lalu satu mimggu kemudian, emailmu datang. Memberikan setitik pencerahan di hatiku. Aku bersorak bahagia. Harapan itu kembali muncul, dan aku berlari sepanjang jalan menuju sekolah. Angin-angin itu seakan-akan menerbangkan semua kegundahanku. Sehun menepati janjinya. Begitulah aku melerai raguku.

 

Kita bertemu untuk pertama kalinya setelah kamu pergi meninggalkanku, adalah saat kau merayakan ulang tahunmu yang ke tujuh belas tahun. Aku memberikan sebuah gelang yang terbuat dari perak. Mungkin tidak terlalu bernilai, namun kamu menerimanya dengan sangat bahagia. Dan itu yang membuat benda itu menjadi berharga.

 

Meskipun semua berjalan dengan baik, namun kita akhirnya semakin jarang bertemu. Aku hanya sesekali mengunjungimu di Busan. Itupun untuk waktu yang sangat singkat. Aku harus meneruskan pendidikanku di perguruan tinggi di Seoul. Dan kamu masih menjalani hari-harimu sebagai murid sekolah menengah atas.

Dua jam sudah berlalu. Dan masih sepi. Aku mulai mencari pegangan. Mencoba menguatkan hatiku. Namun aku masih berharap Jiyeon datang. Warna langit dipantaiku sudah menjadi gelap.

Aku melihatmu terakhir kali dua tahun lalu. Pada satu perayaan Natal di Seoul. Namun itupun bukan bersamaku. Sudah kukatakan, aku hanya melihat tidak bertemu. Ada seseorang di sampingmu. Entah siapa. Dan terlihat kamu begitu menyayanginya. Kita berjalan bersisian. Kau, dia dan aku pada sisi yang tidak kau lihat. Aku bisa mendengar tawamu, bisa merasakan keceriaanmu dan entah kenapa aku seperti hilang dalam hidupmu. Berakhir pada episode yang baru.

Kau menggenggam tangannya. Berjalan menikmati malam penuh lampu berkilauan. Sebenarnya malam itu sangat berkesan. Suasana sangat ramai, meskipun dingin karena musim salju masih dipertengahan. Aku semakin merapatkan mantel usangku, membetulkan sarung tanganku dan melindungi kupingku dari hawa dingin yang semakin menggigit dagingku. Lagu-lagu Natal membahana di setiap sudut tempat. Aku terduduk di pinggir kolam dekat dengan pohon Natal raksasa. Sedikit memohon sesuatu di malam yang penuh keajaiban itu. Permohonan. Dirimu. Cintamu. Seharusnya kau bersamaku, saat itu. Sekali lagi aku bergumam, sungguh malam yang sangat berkesan. Kutepuk lagi dadaku yang terasa sesak. Aku membiarkannya.

Lalu email itu datang lagi. Setelah melewati malam tahun baru. Kau mengirimkan sebuah foto. Fotoku ketika aku berada di pusat kota. Diriku? Aku terkejut. Benar-benar terkejut. Dalam foto itu aku bersama dengan seorang gadis. Tentu saja aku mengenalnya. Namanya Irene. Dia adalah temanku. Kami sedang melewati malam tahun bersama. Dalam tulisanmu, kamu begitu memuji

To: Mino Oppa

Subject : Dia cantik!

Dear Mino Oppa,

Kapan-kapan kau harus mengenalkan aku padanya. Dia sangat cantik, cocok untukmu.

Pesan sesingkat itu membuatku tercengang. Kau sukses membuat hari-hariku dikerubungi bayang-bayang gerutumu. Apakah kau merasa cemburu? Ataukah kau benar-benar tulus mengatakan hal itu.

Namun apapun itu, sungguh membuatku tersenyum geli. Prasangkamu begitu buntu. Tidak bisakah kamu berpikir lain? Aku sengaja tidak membalas emailmu. Aku ingin meyakinkan diriku, apakah kau benar-benar terganggu jika tidak kujelaskan semua itu.

Lalu emailmu datang lagi. Kali ini terlihat sangat berhati-hati sekali dengan kalimat-kalimatmu. Aku membacanya dengan sedikit resah.

.

.

To: Mino Oppa

Subject : Apa kau marah?

Dear, Mino Oppa

Kenapa kau tidak membalas suratku. Apa kau tidak suka dengan foto itu? Apa kau marah, Oppa? Aku minta maaf, karena saat mengambil foto itu, aku tidak menyapamu! Aku sedang bersama dengan orang lain. Dan aku tidak ingin kau melihatnya. Aku sungguh minta maaf.

.

.

Lalu aku langsung membalasnya. Mungkin juga karena ingin mengungkapkan rasa gundah di hatiku, sekaligus ingin sedikit memarahimu.

.

.

To: Jiyeon

Subject : Mad

Sebenarnya apa yang kau lakukan di Seoul waktu itu? Kenapa kau tidak mengunjungiku? Apa kau sudah tidak menganggabku lagi? Aku tidak perduli kau bersama siapa , namun aku sangat tidak suka jika kau tidak menghormatiku lagi. Kalau kau ingin tahu siapa dia yang bersamaku, kenapa kau tidak menyapa kami waktu itu? Mungkin kau tidak akan bertanya padaku lewat surat dan mengirimkan foto yang membuatku semakin marah padamu.

.

.

Entah kenapa aku bisa menjadi begitu kejam. Kenapa aku begitu tega mengutarakan semua itu tanpa berpikir dua kali. Akankah kamu membenciku, atau mungkin kamu akan menghilang selamanya dari hidupku.

.

.

To: Mino Oppa

Subject : Sorry

Aku minta maaf. Aku sungguh-sungguh tidak berani. Tolong jangan marah padaku. Aku berjanji aku akan menemuimu jika aku ke Seoul.

.

.

.

To: Jiyeon

Subject : Stupid Jiyeon

Aku sebenarnya tidak ingin marah padamu, aku tidak tega memarahimu. Tapi sebaiknya kau tidak perlu memikirkanku lagi. Bersenang-senanglah dan belajarlah dengan baik. Apakah aku boleh tahu, siapa dia?

.

.

Aku seperti merasa bersalah saat bertanya tentang teman lelakimu. Ternyata aku juga pernah melakukan hal yang sama.

.

.

.

To: Mino Oppa

Subject : Pulang kampung

Aku akan pulang ke Daecheon untuk mengunjungi ibuku saat musim panas nanti. Aku sangat berharap kita bisa bertemu di sana.

.

.

Tentu saja aku senang saat membaca pesanmu. Pulang ke kampung halaman adalah hal yang sangat aku rindukan terlebih jika bisa bertemu denganmu.

Setiap harinya aku lalui tanpa sabar, ingin segera menjumpaimu. Sungguh, aku menjadi hampir gila karena menghitung waktu yang sepertinya berjalan lambat.

Sudah gelap. Malamku sudah mendekap erat tubuhku. Dingin. Dan angin-angin berhembus semakin kencang, menghantarkan deburan ombak yang menghempas kian jauh dari bibir pantai. Dia hampir mengenaiku. Cipratan airnya sedikit menerpa wajahku. Sehun. Kau tidak datang.

Aku berjalan melalui jalan-jalan sempit menuju rumahku. Lampu-lampunya sudah menyala menemani langkah-langkahku. Berat. Ada dorongan dalam hatiku yang memaksaku menendang kerikil-kerikil itu, terhempas. Sepertinya itu yang aku rasakan. Terhempas.

Melewati rumahmu yang terlihat lengang. Seperti tidak ada kehidupan. Mungkin tidak terlalu sepi, dari sini aku bisa mendengar ada suara nyanyian, mungkin dari acara televisi atau radio. Ibumu sangat menyukai lagu-lagu klasik. Sangat menyentuh hatiku. Aku merinding dibuatnya.

Menurut sebagian orang di pemukiman ini, ibumu mengalami sedikit depresi dengan semua yang terjadi dalam keluargamu. Perceraian itu, juga kehilangan hak mengasuh atas dirimu, membuat hidupnya hampa dan sepi. Seandainya kau tidak pergi bersama Ayahmu, mungkin ibumu akan menjadi wanita yang menyenangkan.

Lega seandainya saat ini kau berada di dalam sama. Sedang bersama ibumu, duduk bersamanya sambil menikmati teh dan menonton acara teve bersama. Dadaku berdedub kencang. Namun pada akhirnya aku kembali melangkah, meninggalkan gelisahku hanya di depan pintu pagar rumahmu.

Langkah-langkahku tiba pada ujung jalan. Pada pagar kayu setinggi dua meter, dengan begitu banyak ornamen bunga menghias tembok batunya. Ibuku sangat menyukai bunga. Dia menanam beberapa macam bunga di halaman belakang rumah, dan beberapa diantaranya juga dijual. Ibuku adalah wanita yang sangat tegas. Dia sangat berpendirian. Sejak kecil aku mendapatkan bimbingan yang cukup keras darinya. Namun demikian dia sangat menyayangiku. Seorang laki-laki tidak boleh manja dan cengeng, betapapun berat jalan kehidupan yang harus dilaluinya.

Ibuku tidak pernah membantuku bangun saat aku terjatuh. Dia membiarkanku untuk bangun sendiri dan melarangku untuk menangis. Mungkin itu ada baiknya juga. Karena bimbingan seperti itu pada akhirnya melatih mentalku juga. Di saat-saat aku merasa jatuh, aku nisa menguasai diriku sendiri, dan bangkit dari masalahku sendiri. Di saat-saat itulah aku menemukan makna seorang ibu di hatiku.

Sekarang dia, ibuku sudah tidak sekuat dulu. Dia lebih senang berada di dalam rumah. Menyulam adalah kegiatannya yang akhirnya menyita banyak waktunya. Tapi biarlah, toh anak-anaknya sudah tidak terlalu membutuhkan tenaganya lagi. Ibuku bisa meluangkan banyak waktunya untuk dirinya sendiri. Dan mungkin kini saatnya untukku membahagiakannya. Menjadi malaikatnya.

“Oppa!”

Suara itu langsung membuatku terbangun dari lamunanku. Baru saja aku akan membuka pintu pagarku.

“Jiyeon.” pandanganku tertuju di sisi kanan pintu. Mengapa sejak tadi tidak kulihat dirimu. Aku langsung menghambur ke arahmu, menatapmu yang tersenyum seperti bidadari di kegelapan.

“Aku menunggumu sejak tadi..”

Aku tersenyum. Sungguh tidak habis kupikir. Mengapa bisa kau menungguku di sini sementara sejak tadi aku menunggumu di pantai. Tempat kita bermain dulu.

“Maafkan aku. Apakah sudah lama kamu di sini?”

“Belum. ” jawabmu singkat. Suaramu kian lembut, dan parasmu kian cantik. Kau sudah menjelma menjadi wanita. Aku tersenyum. Agh! Ingin sekali memelukmu. Membelai rambutmu dan mengucapkan kata-kata rindu di telingamu.

Kita berdiri seperti orang bodoh, mematung tanpa berkata-kata. Sesekali menatap dan tersenyum.

“Oppa, sepertinya kau bertambah tinggi!” serumu kemudian.

“Aku tidak tahu , mungkin juga.” jawabku. “Kau terlihat lebih kurus. Apa kau makan cukup di sana?”

“Aku merasa bertambah gemuk?” sahutmu

“Tidak. Kau lebih kecil dari terakhir kita bertemu waktu itu.” sangkalku.

“Mungkin aku terlalu lelah.”

“Jagalah kesehatan!” lanjutku.

“Hm.” jawabmu.

“Masuk..?” ujarku menawarkan. Namun kau menggeleng. Dan aku baru menyadari sesuatu. Ibuku. Tentu saja. Kuhela nafasku berat. Bersandar pada tembok.

“Bagaimana jika kita berjalan-jalan saja. Belum begitu malam.” kau memberikan saran. Sebentar aku menatapmu , begitu tidak tega membiarkan kakimu lelah. Sejak tadi sudah menungguku, dan sekarang harus berjalan lagi hanya untuk bersamaku.

“Kita mencari tempat yang enak untuk ngobrol!” akhirnya aku melangkah bersamamu, melewati jalan-jalan yang tadi kulalui. Kita bersisian. Agak jauh. Wajahmu begitu lembut tertimpa cahaya lampu-lampu jalan.

“Kau sudah makan?” tanyaku sesaat kemudian.

“Belum.Bagaimana kalau kita mencari tempat untuk makan?”

“Oke! Aku juga lapar. “

Melangkah di bawah lampu-lampu jalan. Selangkah demi selangkah. Aku sungguh tidak bisa membayangkan perasaan bahagiaku. Setelah sekian waktu berpisah, tentu saja aku sangat mensyukuri pertemuan ini.

Aku menatapmu dalam keremangan. Kau semakin membuat hatiku berdegub kencang. Apakah kau sengaja kembali untukku?

“Bagaimana dengan kuliahmu, Oppa?” tanyamu lirih.

“Biasa saja. ” jawabku.

“Apa kau menikmati hari-harimu?”

Debur ombak yang terdengar di kejauhan hampir menyamarkan kelembutan suaramu. Aku tersenyum, mataku lekat di wajahmu. Kau menunduk.

“Jujur aku tidak terlalu menikmati. Aku cenderung bosan dan ingin segera bebas dari bangku kuliah.” jawabku singkat.

“Kau terlihat semakin dewasa. ” ujarmu.

“Apa kau mau coba katakan kalau aku lebih terlihat tampan?”. Rasa narsisku terlihat seperti hal yang bodoh. Dia mengulum senyum. Mungkin menertawai kebodohanku.

Aku tergelak.

“Ya. Kau terlihat tampan juga. ” ujarmu polos.

“Aku sudah tahu kau pasti akan mengatakan hal itu. Hanya ada dua orang yang mengatakan aku tampan di dunia ini. Yang pertama, jelas ibuku, lalu yang kedua pasti kau.”

Lalu aku mengajakmu masuk ke sebuah kedai ramyun.

“Tidak apa-apa kalau kita hanya makan ramyun saja?”. Ujarku menawarkan. Toh, hal itu bukan masalah lagi. Sehun terlihat sudah merasa nyaman di tempat dia duduk.

“Kita tidak akan cukup waktu menemukan tempat yang lain lagi. Perutku sudah sangat lapar. Aku akan makan apa saja yang kita temui pertama kali.”. Jiyeon menghela napasnya.

“Jiyeon-ah!” Tegurku lembut

“Hum?”

“Siapa dia?” tanyaku absurt

“Siapa?”. sambutmu.

“Laki-laki yang bersamamu pada perayaan Natal waktu itu?” jelasku hati-hati. Namun pantaskah aku bertanya tentang hal itu?

“Dia.”. kau melempar asa mu padaku. Aku menangkapnya dengan gundah. Dia. Itu bukan jawaban. Hanya provokasi untuk emosi yang terbendung. Aku menahan gejolak cemburu di hatiku.

“Sepupuku.”. Jawabmu. Dan kepalaku seperti disiram seember air es. Dingin, segar…

“Dia putra dari pamanku. Namanya, Siwan.”

“Ow…”. Hanya itu jawabanku? Aku mengutuk diriku sendiri yang terlanjur berpikir kasar tentang laki-laki itu.

“Aku minta maaf telah berpikiran buruk terhadapnya.”

Jiiyeon tidak menaggapi.

“Aku hanya mengira kalau dia adalah namjachingumu.” ujarku ragu.

“Makanlah! Ramyunnya sudah di depanmu!”. Aku sampai tak sadar, ketika penjual Ramyun itu sudah meletakkan semangkuk penuh mie panas di hadapanku.

Akhirnya kami menikmati makan malam ini dengan perasaan tak menentu. Memang kami belum bisa mencairkan suasana seperti dulu lagi. Rasa canggung dan bayangan masa yang telah kami lewati di tempat yang berbeda membuat kami sepertinya hilang keterikatan. Seperti dua orang asing yang baru bertemu.

Kami menyelesaikan makan malam ini dengan cepat. Setelah semua selesai kami habiskan. Aku menatap Jiyeon lagi. Dia sepertinya sudah tidak lesu lagi. Pipinya begitu berwarna dan berseri-seri. Meski terlihat masih aneh. Ada apa dengan dia. Kenapa dia tidak melepaskan topinya meski saat ini malam dan udara terasa sedikit hangat di dalam kedai ini.

Kau tersenyum melihat ekspresiku yang tengah mengamatimu.

”Ada apa di wajahku?” tanyamu sambil mencoba menutupi wajahmu

“Akan kemana lagi sekarang?” tanyaku tak menaggapi pertanyaan itu.

“Sepertinya kita harus kembali pulang. Aku berjanji pada ibuku tidak akan lama meninggalkannya. Kami sudah lama tidak bertemu. Dia sangat merindukan aku. Apa tidak keberatan jika kita kembali.”

Sebenarnya aku masih ingin bersamamu, namun aku pun mengerti, kerinduan ibumu sama seperti kerinduanku padamu. Aku mengangguk

“Oppa!”

“Hum?”. Aku memutar badanku dan berhadapan denganmu lagi. Kali ini lebih dekat. Kita sempat bertemu senyuman. Bibirmu. Aku sungguh ingin menikmati itu.

“Ada sesuatu yang ingin kukataan.”

“Mengenai apa?”

Sepertinya kau ragu untuk megatakannya, lalu akhirnya hanya menggeleng dan menunduk.

Kami kembali berjalan melewati jalan-jalan yang sepi. Angin malam semakin menghantam sistem pertahanan tubuh kami. Aku merapatkan hoodyku dan melihat ke arahmu yang menahan hawa dingin itu dengan melingkarkan tanganmu di dada. Aku baru sadar ternyata kau tidak memakai baju hangat.

“Kemana jaketmu?”

“Lupa.” jawabmu

Sebentar aku menawarkan hoodyku tapi kau menolak. Baiklah.

“Kapan kau kembal ke Busan?” tanyaku

“Lusa.”

Aku mengangguk. Terlalu singkat kebersamaan kita saat ini. Aku sepertinya masih ingin menikmati kedekatan ini lebih lama.

“JIyeon!” Panggil sebuah suara. Kami menoleh berbarengan. Dan aku melihatnya. Sosok laki-laki itu, yang kau bilang adalah sepupumu. Siwan. Dia melangkah mendekati kami. Tiba-tiba kau menjadi gelisah, diam dan terpekur diantara kegugupan. Kau menatapku dengan pias. Ada apa? Tanyaku dalam hati.

“Kau pergi terlalu lama. Katanya hanya membeli makanan kecil, aku mencemaskanmu.” namja bernama Siwan itu membawa jaket untuk Jiyeon. Hm, sepupu yang baik. Pikirku.

” …dan ini siapa?”. Dia bertanya dengan raut curiga. Kemudian mendekat ke arahku

“Aku Mino. Song Mino. Teman Jiyeon .” jawabku memperkenalkan diri.

“Jadi dia yang sering kau ceritakan padaku ?” ujar Siwan dengan senyum. Kau menarik tangannya dan mematutkan bibirmu. Sepertinya kau sedang memberi sebuah isyarat padanya. Apa itu? Dia mengulurkan tangannya padaku.

“Kenalkan, aku Siwan. ” Lalu dia melirik ke arahmu lagi. “Aku namjachingunya. Apa dia sudah mengatakannya padamu. “

Entah kenapa aku tersenyum ketika mendengar hal itu. Kutarik nafasku dalam-dalam dan mencoba menata suasana hatiku yang tiba-tiba kacau. Kulirik dirimu yang menatapku janggal. Mencoba memberi pengertian dari sorot mata yang kupikir lugu. Tapi pada akhirnya aku tersenyum juga ke arahmu.

“Jadi dia sering bercerita tentangku?” tanyaku.

Aku melangkah bersama Siwan, meninggalkanmu yamg melangkah dibelakangku, mengikuti langhkahku yang seakan melayang diantara kesesakan nafasku. Kutepuk dadaku lagi. Hampa…

Tak ada kata-kata perpisahan saat kita berpisah. Hatiku sedang di rudung kekesalan. Kau bahkan tidak memberikan penjelasan apapun. Sepertinya apa yang dikatakan Siwan memang benar adanya. Baiklah. Aku kembali ke Seoul, sementara kau dan Siwan kembali ke Busan. Kita berpisah untuk ke dua kalinya.

Aku mencoba untuk tidak memikirkanmu sejak hari itu. Namun ternyata sulit. Bayang-bayang wajahmu masih melekat di mataku. Ada sesuatu yang membuatku gelisah di malam itu. Mengenai sikapmu yang cenderung diam. Kenapa kau tidak seceria dulu.

Untuk bertanya, tentu saja aku masih enggan. Aku berusaha untuk menenangkan perasaanku. Mencoba untuk bersikap sportif memang mebutuhkan perjuangan. Tidak mudah untuk menerima kenyataan. Aku masih berharap bahwa kau tidak akan menikah dengan laki-laki itu. Masih banyak kesempatan dan aku masih ingin memperjuangkan yeoja yang sangat kuinginkan sejak aku bersekolah dulu.

Beberapa waktu berlalu. Aku menerima sebuah telepon dari Siwan. Dia memintaku datang ke Busan. Tidak jelas untuk alasan apa. Aku pikir dia akan menikah, dan mengundangku untuk menghadiri acara pernikahannya. Buntu. Otakku ingin meledak seketika.

Kenapa untuk hal seperti ini kau tidak mengatakannya langsung padaku. Marah? Mungkin. Aku menganggapmu benar-benar tidak menghargaiku sebagai teman dan juga sunbaenim. Lupakan! Aku tidak ingin mempersulit kisahmu dengan kerumitanku. Akhirnya aku datang ke Busan.

Siwan menemuiku langsung di sebuah gedung. Aku tidak cukup tahu mengenai Busan, namun aku tahu betul gedung itu bukanlah tempat yang menyenangkan untuk sebuah pertemuan. Aku bertanya dalam hati, di mana dirimu. Kenapa kau tidak ikut menemuiku. Apa kau tidak mau melihatku merasa sedih dan terluka. Jangan khawatir mengenai hal itu, karena aku sudah mempersiapkannya dengan sangat matang. Bahkan aku sudah menyiapkan rencana kedua seandainya aku gagal dengan rencana pertamaku untuk membuatku merasa tidak terluka. Arrrg! Aku sungguh ingin berteriak.

”Kau datang juga.” Wajahnya sedih. Siwan menyalamiku. Dia mempunyai senyum yang menyenangkan.

”Hm, kalau boleh aku tahu kenapa kau mengundangku datang?” tanyaku langsung. Aku masih mencari bayangmu di sekitar sini. Nihil.

”Ini karena aku mendapatkan pesan dari Jiyeon untuk membawamu ke sini setelah dia…”

Siwan menghentikan kalimatnya, dan aku mengernyit.

”Setelah apa?” kepalaku miring

”Dia ingin kau memaafkannya.” ujar namja itu dengan tatapan teduh bersahabat.

”Maksudmu?” Aku masih tidak mengerti

Lalu Siwan mengeluarkan sebuah catatan kecil. Sebuah nomor. Kepalanya mengangguk dan mencoba untuk tetap ramah.

”Ini adalah nomornya. Kau bisa menemuinya di dalam.” sambungnya

Aku menoleh ke dalam gedung itu. Jantungku meloncat hingga kemulutku. Rasanya sangat tidak mungkin memikirkan hal yang teramat aneh ini. Bagaimana mungkin kau bisa berada di dalam gedung penyimpanan abu itu?

”Kau pasti bercanda!” hardikku cepat. Kutarik kerah bajunnya hingga dia berdiri lebih dekat padaku. Siwan tak bergeming dengan tatapan hampa.

”Aku minta maaf karena berbohong padamu waktu itu. Jiyeon yang memintanya begitu. Aku adalah benar-benar sepupunya. Dan dia selama ini mendderita leukimia. Ayahnya sengaja membawanya ke sini untuk mendapatkan perawatan dengan baik di sisinya.”

”Ayahnya membawanya ke sini karena dia bercerai dengan istrinya.”

”Ya itu benar. Namun Jiyeon memang sudah sakit saat itu.”

Aku terduduk lemas di bangku beton. Kenapa kau mendustaiku Jiyeon? KENAPA?

”Masuklah! Dia pasti senang melihatmu.”

”Kapan?” tanyaku. Tanganku mengepal menahan emosi juga kesedihan yang tak terukur dalamnya. Kepalaku bahkan tidak bisa kurasakan masih berada di tempatnya. Semua seperti tidak membuatku merasa nyaman menjadi seorang laki-laki. Dalam hatiku begitu marah karena aku tidak mengetahui semua ini dan kenapa aku begitu tumpu. Kenapa aku tidak mencari tahu?

”Apa?” Siwan terlihat resah

”Meninggalnya?” ulangku lirih

”Dua hari lalu.”

”Dan kau baru mengatakannya padaku sekarang!”

”Ini pesan darinya. Aku tidak berani melanggarnya. Tapi jangan khawatir. Dia sangat bahagia saat menutup matanya. Dia mengatakan padaku, kalau kau terlihat sangat tampan. Kau membuatnya bahagia.”

Bullshit! Makiku dalam hati. Kau membohongiku, Jiyeon! Apa kau pikir aku akan memaafkanmu?

Aku berjalan meninggalkan gedung peyimpanan abu itu dengan lunglai. Apa yang harus kulakukan kini. Harapanku benar-benar mati sekarang. Kau sama sekali tidak memberikan kesempatan padaku untuk memilikimu. Bahkan ketika kau harus mengalami penderitaan itu, kau tidak memberiku ijin untuk mengetahuinya. Apa kau benar-benar menganggapku teman?

Sepanjang perjalanan aku menggerutu. Memakimu dan memaksamu untuk menghadapiku. Namun kau tidak pernah muncul. Aku begitu kesal dan ingin segera menarikmu ke sisiku. Ada apa denganku?

Anginnya begitu kencang. Kenapa angin laut terbawa hingga ke sampai ke sini. Aku masih mencari bayanganmu diantara kesibukan manusia di sekitarku. Jiyeon! Panggilku dalam hati. Kau harus memberikan penjelasan padaku. Kenapa kau membuatku seolah-olah merasa bersalah seperti ini. Kau sangat tidak adil.

”Jiyeon!”

BRAKH

Ada banyak suara di sekitarku. Apa yang terjadi. Beberapa saat kemudian.

”Ada yang mengenali orang ini?” tanya seorang polisi pada kerumunan orang di sekitarku.

”Oppa!” panggil sebuah suara. Aku menoleh dan melihatmu sedang mematutkan mulutmu ke arahku. Akhirnya kau muncul juga. Dengan cepat aku menghampirimu.

”Kau !” Aku mendorongmu menjauh dari kerumunan.

”Oppa, kau tidak boleh seperti ini!” kau memarahiku. Sinar matamu sungguh galak tapi aku tidak perduli.

”Kau masih berani bicara padaku setelah membohongiku begitu parah.”

”Aku tidak bermaksud seperti itu , Oppa! Mianhae. ”

”Apa kau pikir aku akan memaafkanmu?” Aku masih belum bisa menerima permintaan maafmu.

”Oppa, cepat pergi! Aku tidak ingin kau bersamaku.”

”Apa kau mengusirku? Beraninya kau mengusirku!” aku menyerangmu dengan serbuan bertubi-tubi. Kau hanya menunduk.

”Oppa…aku mencintaimu. Aku tidak ingin membuatmu sedih.”

”Kalau kau mencintaiku seharusnya kau mengatakannya padaku dan tidak menutupi kenyataan hidupmu padaku. Apa kau tahu, aku pun begitu mencintaimu, aku bahkan rela melakukan ini untukmu.”

Aku memelukmu erat. Dan saat itulah aku baru menyadari bahwa aku sudah meninggalkan semuanya demi dirimu.

***

”Ada yang mengenali orang ini?” tanya petugas polisi itu lagi. Seorang namja mendekat dengan wajah yang depresi.

”Ya, aku mengenalinya. Namanya Song Mino. Dia adalah kekasih dari sepupuku yang baru meninggal dua hari yang lalu.” jawabnya.

Polisi itu mencatatnya. ”Jadi dia sengaja melakukan ini untuk menyusul kekasihnya. Begitu?”

Siwan menatap tak berdaya.

FIN

Advertisements

10 thoughts on “[Oneshot] Love And Guilty

  1. Hiksssssss nangisssssss bacanya 😭😭😭😭
    Pas tau jiyeon ternyata udh meninggal bener2 nyesekk bacanya
    Dan miris bgt mino nyusul jiyeon dgn cara begitu
    😢😢😢

  2. busettttttt seorang lana alana bkin ff sedihhh kaya nya gak ssuai ama k yg bys nya deh lana,, tipe2 author kya km tuh ccok nya bkin ff yg smut knyol gtu,, heeee
    yahhh lana knp ff nya sdih gtu sih.nysekkk kan bacanya

  3. Sediiiiih…. Berasa lagi nonton endless love endingnya, ini mah semacam untold love gitu kayanya, semacem aku. *curcol* dikit hehehe, bedanya aku tetap berakhir di abu-abu, tidak putih dan tidak juga hitam, setidaknya Jiyeon dan Mino sudah sama” tau. Semoga bahagia… Btw aku suka bahasanya,

  4. Ternyata jiyeon dan mino memiliki perasa’an yg sm tp sayang mrk tidak di takdirkan hidup bersama di dunia,,,bahkan mrk saling mengutarakan perasa’an stlh sm” meninggal

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s