[AUTUMN EVENT||ONESHOOT] Our Marriage

OYEWYN AND SELVIAKIM PRESENT

[Autumn Event] Our Marriage

Scriptwriter Oyewyn and Selviakim || Poster Designer Laykim – Indo Fanfiction Arts  || Genre Marriage Life, Drama, Romance, Angst, Family, and Sad || Starred CNBLUE’s Jung Yong Hwa, Park Shin Hye, and SNSD’s Seo Hyun || Requested by Ikenovi ||Prompt Mengapa kau mau menikah denganku jika kau tidak menginginkannya? Apa mungkin kau melupakan janji kita di pertemuan singkat beberapa tahun silam?

Are you really love me?


Kisah ini, hanya sebuah kisah cintaku yang

Bertepuk sebelah tangan.

Aku, mencintai pria jahat itu selama beberapa tahun.

Dia sungguh sudah sangat berbeda dari hari terakhir kami bertemu.

Apakah dia melupakan diriku?

-Park Shin Hye-

Aku sangat tidak menyukai pernikahan ini.

Tidak akan pernah, sampai suatu saat potongan-potongan ingatan muncul dalam otakku.

Seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang selalu bersama.

Mereka sangat senang dan tertawa bersama.

Apakah laki-laki itu diriku?

-Jung Yong Hwa-


Praang!!!

Praaaang!!!

Brrugh!!

Braakkk!!!

Traakk!

Classhh!

Terdengar bermacam – macam suara bantingan, patahan, dan pecahan dari sebuah rumah megah yang sudah diketahui oleh orang banyak bahwa itu adalah kediaman dari seorang pengusaha kaya bernama Jung Yong Hwa. Suara – suara ini kerap terdengar di telinga para pekerja di rumah megah itu tapi tak pernah sekalipun masyarakat umum mengetahui hal ini. Ya, tentu saja mereka takut mengabarkan berita ini karena dari rumah dan keluarga inilah mereka bisa mendapatkan sesuap nasi. Tidak hanya itu mereka juga takut jika mereka melakukan hal buruk itu majikan mereka tak segan untuk menghancurkan kehidupan orang – orang yang mereka sayangi tanpa perasaan ampun.

“Brengsek! Tak bisa kah hanya diam dan mematuhi semua perintahku?!!!” Teriak sang pengusaha itu marah.

“Bagaimana denganku?! Kau pikir aku ini robot yang harus mematuhi seluruh sistem yang kau ciptakan untukku?” Balas seorang wanita yang tak lain merupakan istri dari pengusaha itu. Wanita itu bernama Park Shin Hye.

Teriakan terus menerus bersahut – sahutan, seolah – olah ruangan tempat mereka bertengkar saat ini adalah ruangan kedap suara. Namun, nyatanya tidak. Bahkan semua orang yang melintas di sekitar mereka dapat melihat jelas semua yang terjadi di antara keduanya.

PLAAKKK!!

Tangan besar dan tebal itu mendaratkan tamparan keras di wajah sang wanita. Dan seperti biasa, tak satupun pekerja di rumah itu berani menginterupsi hal ini meskipun mereka merasa kasihan pada nyonya mereka itu. Beberapa yang kaget hanya bisa tersentak dan membungkam mulut mereka dengan tangan mereka sendiri. Mereka hanya bisa berpura – pura buta dan tuli dengan keadaan majikan mereka saat ini. Mereka menyayangi kedua majikan mereka itu, tapi mereka tidak dapat berbuat apa – apa karena mereka hanyalah maid dan butler. Ya, mereka hanya pekerja bawahan yang tidak pantas sama sekali turut campur atas kehidupan rumah tangga majikannya.

“Astaga, istri macam apa kau?!!! Tidak pernah sekalipun menuruti perintah suaminya.” Kata sang suami sambil tertawa remeh, masih dengan mata yang melotot marah kepada istrinya tanpa perasaan bersalah sedikit pun.

“Dan kau, suami macam apa yang menyakiti istrinya sendiri?” Balas sang istri sambil memegangi pipi nya yang memerah panas dengan mata berkaca- kaca yang kapan pun siap meneteskan airmata.

Pertengkaran yang tak pernah ada habisnya dan terjadi berulang – ulang karena sebab yang sama. Dan selalu berakhir sama, sang suami menyakiti istrinya dan menyuruh pekerjanya untuk mengurung istrinya di kamarnya. Ya, mereka tidak pernah tidur di kamar yang sama terkecuali ketika orangtua mereka datang untuk menginap di rumah megah ini.

“Bawa nyonya kalian ke kamarnya. Jangan obati dia atau kalian mendapatkan ganjarannya.” Perintah sang majikan itu lalu melengos pergi dengan angkuh.

Akhir yang seperti biasa, mereka memapah tubuh kurus nyonya mereka dengan hati – hati. Meski ini sudah berkali – kali terjadi mereka tahu bahwa nyonya mereka ini tidak hanya tersakiti secara fisik tetapi juga hatinya. Bayangkan saja, bagaimana jika ini terjadi pada dirimu? Selalu disakiti oleh orang yang kau cintai.

“Tinggalkan aku sendiri.” Perintah nyonya itu dan mengunci pintu kamarnya rapat – rapat.

Dia bersimpuh di depan daun pintu kamarnya itu. Menangis pilu karena hal yang baru saja terjadi. Ini sudah terjadi puluhan kali padanya tapi rasanya tetap sama bahkan selalu menjadi lebih sakit daripada sebelumnya. Menangis pilu dalam isakan kecilnya. Sambil memegangi pipi yang tertampar itu dia memukul – mukul dadanya dengan tangannya yang bebas, berusaha mengalihkan rasa sakit dalam dadanya yang bahkan terasa lebih perih dari pada tamparan keras yang ia terima.

“Sakit….. di sini sakit….”

Eomma… tolong Shin Hye…. Jebal eomma.”

“Tolong… tolong aku… siapa pun… tolong aku”

Frustasi, sedih, sakit, marah, semua emosi negatif dalam dirinya mucul ke permukaan dan bercampur menjadi satu.

“Jung Yong Hwa pabbo! Manusia laknat! Kurang ajar!”

“Aku membencimu! Ya, aku membencimu.”

“Kau pria jahat! Kau pantas mati di tanganku.”

“Hiks… hiks…”

“Tidak, kau tidak boleh mati.”

“Aku mencintaimu pria jahat. Aku mencintaimu.”

Racauan melantun sembarangan di sela – sela tangisan pilunya. Dia begitu mencintai pria itu, pria yang telah mengikat janji suci melalui upacara pernikahan sakral di gereja tempat ia dipermandikan. Tapi apa daya, bahkan pria itu tak pernah sekalipun bersikap lembut padanya. Oh ya, dia pernah, saat mereka berada di pesta – pesta penting perusahaan dan ketika bersama dengan orangtua serta keluarga kedua belah pihak. Berusaha memunculkan image positif atas dirinya. Sungguh pria yang sangat hebat.

“AAARGGHHHHHH!!!!!!” Teriak lagi wanita itu frustasi. Selalu seperti itu di setiap kondisi yang sama.

Barami na ansseureowo

Buesojideut gamssa nal anajuna bwa

Baramdo neul honjaraseo chinguna

Doejago nal ttaraona bwa

Nan gwaenchantago nan gwaenchantago amuri useo bwado

[Story-OST The Heirs]

Suara indahnya mengumandangkan sebait lirik yang menurutnya dapat mewakili perasaannya saat ini.

Jiwanya sungguh tidak bisa dikatakan sehat, karena dia benar – benar tertekan akan kehidupannya saat ini. Dia bukan lagi Park Shin Hye yang dulu, bukan lagi Park Shin Hye yang penuh dengan keceriaan, bukan lagi Park Shin Hye yang penuh dengan energi positif. Kini dia hanyalah seonggok tubuh tanpa jiwa. Melakukan segala sesuatu dengan tatapan kosong seolah – olah tak ada lagi memiliki hal berarti untuk di jalani dalam hidup yang singkat ini. Meski sempat terbersit olehnya untuk tetap bertahan dalam hubungan ini dan mencoba untuk memperbaiki keadaan yang entah bagaimana awal terciptanya pun tidak diketahui ini. Tapi tujuan itu kandas, kini dia sudah terlalu lelah, pertahanannya hancur.

Kini dia hanya menjalani sisa hidupnya dengan kekosongan, menjalani hidup sesusai dengan apa yang telah diatur oleh sang suami yang tidak mencintainya itu. Seperti saat ini, dia setelah lelah membuang seluruh tenaganya percuma yang dia lakukan hanyalah merebahkan dirinya di kasur bukan untuk tidur hanya merebahkan diri dan menatap kosong langit – langit kamarnya, pikirannya sama kosongnya dengan tatapannya. Mungkin jika seorang psikolog memeriksanya psikolog itu akan langsung mengatakan bahwa wanita itu dalam keadaan depresi berat dan harus ditangani secara intensif. Sayangnya, orangtua keduanya benar – benar tidak pernah mengetahui hal ini sama sekali. Jung Yong Hwa benar – benar berhasil menutupi hal buruk ini. Sungguh pria yang berkuasa. Bahkan jika orangtua salah satu dari mereka berencana untuk menginap dia akan membuat rencana itu tertunda untuk membuat Shin Hye tampak baik – baik saja, bahkan terlihat bahagia. Entah bagaimana itu dilakukan tapi dia bisa melakukan hal itu. Sungguh pria yang menakjubkan.


Hari ini orangtua Yong Hwa datang mengunjungi pasangan suami-istri itu setelah diijinkan oleh Yong Hwa. Siang ini Yong Hwa eomma menyuruh Shin Hye untuk mengantar makan siang untuk Yong Hwa ke kantor bersama dengannya. Mengantarkan makan siang spesial yang dia (Yong Hwa eomma) masak dengan tangannya sendiri.

“Ayo berangkat.” Ajak Nyonya Jung.

Ne, eomma.” Kata Shin Hye dan menyusul langkah ibu mertuanya itu.

Sesampainya di kantor Yong Hwa…

“Kau duluan saja ke atas, aku mau ke toilet dulu.” Tukas Nyonya Jung dan meninggalkan Shin Hye sendiri masuk ke lift menuju lantai 22, ruangan Yong Hwa berada.

TING.

Tiba di lantai 22.

Shin Hye melangkah pelan menyusuri koridor menuju ruangan Yong Hwa. Sungguh, bahkan saat ini ingin rasanya dia kembali saja ke rumah jika bukan karena ibu mertuanya itu pergi bersama. Tanpa terasa kini langkah kakinya tinggal beberapa langkah lagi untuk masuk ke ruangan orang yang berstatus sebagai suaminya itu. Aneh, pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Bahkan dia tidak pernah lupa untuk mengunci pintu ruang kerja dan kamarnya terkecuali hari kamis, hari dimana kedua ruangan itu dibersihkan. Dia melangkah mendekat menuju pintu dan tak disangka, pemandangan yang dia lihat adalah pemandangan yang sangat menakjubkan. Pemandangan yang menyugguhkan adegan suaminya sedang mencumbu mesra dan penuh nafsu dengan sekretaris yang sangat dia kenali, Seo Hyun. Masih melekat dengan kuat diingatan Shin Hye bahwa sekretaris bernama lengkap Seo Joo Hyun itu adalah salah satu teman dekatnya di SMA dan dia tidak tahu bahwa teman dekatnya itu ternyata sekretaris pribadi Yong Hwa. Oh, bahkan mungkin lebih dari sekretaris pribadi. Tidak ingin menginterupsi kegiatan panas itu Shin Hye melangkahkan kaki jenjangnya ke meja sang sekretaris untuk menggunakan telepon di situ dan menelepon ke ruangan sang bos.

“Maaf tuan, istri dan ibu anda datang.” Katanya singkat saat Yong Hwa mengangkat telepon itu dan langsung menutupnya.

Setelah itu dia melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Yong Hwa dan berpapasan dengan sekretaris yang dalam keadaan yang bisa dikatakan cukup berantakan. Selang beberapa menit kini Nyonya Jung masuk ke ruangan anak semata wayangnya itu dengan senyum bahagia karena melihat anak dan menantunya sedang bermesraan di waktu makan siang itu. Seandainya saja dia tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya mungkin reaksinya berbeda 180˚ dari yang saat ini ia lakukan. Setelah itu mereka —Shin Hye dan Nyonya Jung— pulang dan menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Tidak ada hal aneh dari ketiganya semua berjalan normal tanpa ada keganjalan sedikitpun jika orang luar melihat hal ini. Setelah semua selesai mereka menunggu kedatangan Yong Hwa untuk makan malam bersama di meja makan, kegiatan yang hanya dilakukan jika ada yang berkunjung ke rumah besar ini. Kemudian dilanjutkan dengan bersantai bersama di ruang tengah lalu tidur. Nyonya Jung di kamar tamu sedangkan Shin Hye dan Yong Hwa di kamar Yong Hwa. Mungkin jika tidak melihat langsung ke dalam kamar Yong Hwa tidak akan ada yang percaya bahwa Shin Hye tidur dilantai hanya beralaskan karpet berbulu dan ditemani sebuah guling dan selimut tipis sementara pemilik kamar tentunya tidur di ranjang empuk berukuran king size ditemani dengan batal dan guling serta selimut tebal yang hangat.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau akan datang ke kantorku bersama eomma?”

“Aku bahkan tidak memiliki ponsel.”

“Kau bisa menelponku dari telpon rumah.”

“Dan kau ingin eomma mengetahui hal yang terjadi selama ini?”

“Ah, sudahlah.”

Dan pembicaraan itu selesai begitu saja.

Hari telah berganti, malam sudah berakhir. Tapi tidak dengan kehidupan monoton Shin Hye. Dia masih berakting seolah – olah menjadi istri yang baik dan bahagia. Tentu saja karena di rumah itu masih ada Nyonya Jung, jika tidak pasti mereka akan diinterogasi besar – besar oleh wanita paruh baya itu. Kegiatan Shin Hye pagi ini bersama dengan ibu mertuanya adalah menyiapkan sarapan dan sarapan bersama – sama juga bersama Yong Hwa tentu saja.

“Kapan aku bisa menimang cucu ya?” Tanya Nyonya Jung kepada dua manusia di meja makan itu. Yong Hwa tetap berusaha menikmati makanannya, sementara Shin Hye tertunduk memikirkan jawabannya.

“Mungkin sampai Tuhan memberikannya eommonim. Kami sudah berusaha keras.” Jawabnya mencoba menenangkan keadaan.

“Ya semoga saja Tuhan memberikan aku cucu dengan cepat.” Kata Nyonya Jung diakhiri dengan helaan nafas panjang.

“Aku selesai. Aku berangkat.” Kata Yong Hwa memecah kecanggungan yang ada.

“Baiklah. Hati – hati.” Kata kedua wanita itu menatap menjauhnya punggung lebar nan kokoh milik Yong Hwa.

“Aku akan pulang siang ini. Kalian akurlah. Aku lihat kalian bersikap seperti orang asing.”

Jinja? Aku tidak pernah merasa seperti itu.”

“Tentu saja. Tapi orang lain bisa melihat dan merasakan hal itu.”


Ini adalah dini hari di saat semua orang di rumah ini sudah tertidur lelap sang pemilik rumah yang bernama Jung Yong Hwa baru saja pulang dengan kondisi mabuk berat. Dari mulut tercium bau alkohol yang sangat menyengat. Shin Hye, nyonya besar rumah itu belum tertidur melainkan masih berdiri tegak menikmati angin malam di balkon kamarnya, dia tahu bahwa Yong Hwa baru pulang dengan keadaan mabuk. Tetap saja dia memiliki empati untuk menolong orang yang sudah hidup bersama dengannya selama beberapa tahun belakangan ini. Dia mencari Yong Hwa di dapur rumah itu. Benar saja, Yong Hwa sedang muntah di wastafel dapur. Shin Hye menghampiri dan memijat tengkuk Yong Hwa, tapi di tepisnya, begitu terus terjadi beberapa kali. Hingga dia akhirnya memilih untuk menyiapkan teh hangat untuk di minum Yong Hwa, tapi yang terjadi teh itu di buang begitu saja.

“PERGI! JANGAN GANGGU AKU!” Teriakan itulah yang didapatkan Shin Hye saat mencoba membantu Yong Hwa.

“Wanita bodoh! Untuk apa kau di sini. Pengganggu.”

“Kau merusak kehidupan indahku. Merusak cita – citaku untuk menikahi Seo Hyun.”

Racau Yong Hwa dalam kondisi mabuk. Begitu banyak umpatan yang dia layangkan pada Shin Hye tanpa peduli apa yang dirasakan oleh orang yang mendengarnya saat ini. Selalu begitu setiap saat.

Tiba – tiba tubuhnya limbung, Shin Hye mencoba menopangnya. Tapi yang diterima Shin Hye, dia di lempar begitu saja. Saat Yong Hwa mencoba berjalan ke kamarnya tubuhnya berjalan gontai sehingga Shin Hye mencoba memapahnya, tapi yang ada Shin Hye malah dilempar bahkan dipukul karena lelaki itu merasa terganggu dengan kehadiran Shin Hye di sisinya.

PLAAKK!

“Kau. Bodoh. Tidak kah kau mengerti saat aku bilang pergi, eoh?”

“Apa aku wanita jalang yang benar – benar tergila – gila padaku, eoh?”

Yong Hwa hampir saja terjatuh dari tangga, untung saja Shin Hye berhasil menangkapnya.

PLAAKKK!

“Kau! Benar – benar.”

“Kau sangat ingin aku menyentuhmu, eoh? Oh, tentu saja, kau sudah hidup bertahun – tahun di sini tapi tak pernah sekalipun aku menyentuhmu.” Kata tuan besar itu sambil menjambak rambut panjang istrinya.

“Baik, kemarilah sayang.” Kata Yong Hwa sambil menarik Shin Hye, menekan tengkuk jenjang milik Shin Hye, dan melumat bibir Shin Hye kasar. Oh, bahkan kata sayang yang terlontar itu terdengar menyakitkan di telinga wanita cantik itu. Akhirnya malam itu pun mereka melakukan hal yang belum pernah terjadi salama bertahun – tahun hidup sebagai pasangan suami-istri. Tidak, tepatnya malam ini Shin Hye diperkosa oleh suaminya sendiri yang dalam keadaan mabuk. Sakit? Tidak, tidak ada rasa itu lagi bagi Shin Hye, rasanya lebih dari sakit sampai – sampai tidak dapat terkatakan olehnya. Entah harus sehancur apa lagi dirinya harus dibuat oleh Yong Hwa.

Malam berganti pagi sinar mentari telah bersinar dan sukses menyusup ke ruang kamar milik Yong Hwa. Di atas ranjang itu hanya terbaring Yong Hwa dengan tubuh polos yang hanya ditutupi oleh selimut tebal. Sedangkan Shin Hye sudah kembali ke kamarnya setelah Yong Hwa selesai ‘mengerjainya’. Dia mandi, berusaha mnenyingkirkan rasa kotor yang menghinggapi dirinya. Bagaimana bisa seorang suami memerkosa istrinya dalam keadaan mabuk sekalipun? Tapi itu tidak penting untuk Shin Hye karena memang Yong Hwa selalu bertindak seenaknya atas dirinya. Yang Shin Hye pikirkan hanyalah dia harus bersikap biasa saja. Meskipun sikap biasa saja yang dimilikinya bukanlah sikap biasa normal yang biasa dilakukan oleh orang lain.


Shin Hye duduk di ruang tengah menonton sebuah acara variety show. Walaupun acara itu sangatlah lucu dengan lelucon yang mereka buat, tetap saja Shin Hye tidak tertawa dia hanya menatap layar tv itu dengan pikiran entah kemana. Seakan-akan memikirkan sesuatu yang salah. Padahal jika dia memikirkan lagi, sejujurnya sesuatu itu tidak apa-apa. Tapi, bagaimana jika dilakukan seperti itu? Setelah membersihkan diri tadi, Shin Hye keluar dari kamarnya menuju ke dapur dan menemukan Yong Hwa yang sudah keluar kamar serta menuju ke dapur dalam keadaan rapi. Tentu saja bersiap-siap pergi ke kantor, mengingat hari ini hari Senin mungkin saja jalanan akan macet. Tapi, bukan itu yang dipikirkan oleh Shin Hye melainkan percakapan tadi pagi.

-Flashback-

“Apa yang terjadi kemarin malam?” Tanya Yong Hwa kepada Shin Hye saat dia baru saja duduk sambil mengurus dasinya.

“Kau bisa memikirkannya,” jawab Shin Hye masih dengan memakan makanannya tanpa mentap ke arah Yong Hwa.

“TAK BISAKAH KAU MENJAWAB PERTANYAANKU?!” Teriak Yong Hwa di dapur. Refleks para maid dan butler terdiam dan menghentikan pekerjaan mereka. Dan memperhatikan pasangan suami istri itu.

“Apa yang harus ku jawab? Kau yang menginginkannya. Bukan aku.” Jawab Shin Hye tetap memperhatikan makanan dan memakannya lagi.

Praaaang!!!

Brrugh!!

Yong Hwa kembali lagi memecahkan semua piring yang ada di atas meja makan dengan menarik kain yang menutupi meja makan lalu menendang kaki meja.

“ISTRI TIDAK BERGUNA!” Teriak Yong Hwa lalu berjalan ke pintu depan rumah kemudian pergi. Setelah itu para maid dan butler langsung menghampiri Shin Hye yang terlihat tidak terkejut atapun takut. Mungkin karena faktor pertengkaran itu selalu terjadi.

“Apakah anda baik-baik saja–Nyonya?” Tanya salah satu maid sambil memandang ke arah Shin Hye dengan tatapan khawatir.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Shin Hye “Aku sudah selesai,” sambungnya sambil berdiri lalu melangkah menuju ke kamar. Sementara para maid hanya memandang iba ke arah Shin Hye.

-Flashback END-

Air mata Shin Hye telah membasahi pipi kanannya. Mengingat percakapan tadi pagi, membuat nya sangatlah frustasi dan sedih. Bahkan mimik wajah yang dia buat pun tidak dapat terbaca. Karena perasaannya yang bercampur aduk. Dia ingin berhenti, dia ingin kabur. Kehidupan pernikahannya di lihat secara umum menampakan ke bahagia. Nyatanya pernikahannya menampakan hanya dirinya yang jatuh cinta dan menjalaninya. Cintanya hanyalah bertepuk sebelah tangan.

Nan gwaenchandago nan gwaenchandago amuri useo bwado (Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja tak peduli berapa banyak aku mencoba tersenyum). [Story – Park Shin Hye]


“Anda ingin pergi kemana, Nyonya?” Tanya salah satu maid ketika melihat majikannya keluar dari kamarnya dalam keadaan rapi.

“Aku akan menginap beberapa hari di Busan. Tiba-tiba saja aku merindukan eomma dan appa,” jawab Shin Hye. “Dan tolong beritahu Yong Hwa, aku akan bilang kepada eomma ku jika dia tidak bisa hadir karena sibuk pekerjaan,” sambung Shin Hye langsung keluar rumah yang megah itu.

“Apakah perlu saya antar?” Tanya supir kepada Shin Hye, Shin Hye hanya menggeleng dan berkata, “Tidak perlu, lagipula aku sudah menelpon salah satu taksi. Sebentar lagi dia juga akan datang.”

TEETT!

Suara bunyi mobil itu mengalihkan perhatian mereka.

“Taksinya sudah datang. Aku akan berangkat dulu, sampai ketemu beberapa hari ke depan” ucap Shin Hye yang langsung masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian mobil tersebut sudah jalan menjauh dari rumah Yong Hwa dan juga Shin Hye. Sementara Shin Hye, hanya menampakkan mimik wajah yang tidak dapat dibaca lagi. Yang hanya dia pikirkan hanya satu. Bertemu kedua orangnya yang berada di Busan.

Karena Shin Hye tidak ingin di antar dengan taksi untuk pergi ke Busan, Shin Hye memilih untuk naik kereta.

“15 menit lagi,” ucapnya dengan nada pelan yang duduk di depan stasiun. Karena waktu yang mungkin dia anggap membosankan, dia memilih membaca buku yang dia bawa dari rumahnya. Tapi kurang dari lima menit, pandangan Shin Hye tidak di buku lagi. Melainkan kepada pasangan yang sedang bergandengan tangan, dan tertawa bahagia. Dua kata yang ada di pikirannya, Yong Hwa. Menurutmu, bersama siapakah dia? Tentu saja, bersama Seohyun yang merupakan teman dekatnya. Hanya Shin Hye yang menyadarinya. Tapi tidak untuk mereka berdua yang sedang di perhatikan oleh Shin Hye.

Tepat waktu yang sepertinya mungkin saja diharapkan oleh Shin Hye, kereta api sudah berhenti. Dan sekarang dia masuk ke dalam kereta, tanpa melihat dua orang yang sudah dia perhatikan sejak tadi.

Seorang perempuan bernama Shin Hye itu, merasa di hatinya seakan-akan tertusuk sebuah pisau. Air mata itu telah menghiasi wajah cantik nya. Dia menangis dalam diam di dalam kereta itu. Dia merasa sendirian dalam pilihan yang dia buat. Sekarang dia berpikir, apakah dia pantas untuk menjadi seorang istri untuk seorang laki-laki yang bernama ‘Jung Yong Hwa’?


“Aku merasa kita tadi diperhatikan oleh seseorang, Yong Hwa-ah” ucap seorang perempuan yang sedang berjalan bersama dengan seorang laki-laki yang bernama Jung Yong Hwa.

“Kapan?” Tanya Yong hwa yang sambil mengemudikan mobilnya.

“Ketika kita berada di stasiun kereta tadi. Mungkinkah…??”

“Mungkinkah apa, Seo Hyun?”

“Mungkin…. Mertuamu? Kau bilang mertuamu tinggal di Busan kan?” Tanya Seohyun yang membuat Yong Hwa terdiam. Yong Hwa berpikir memang keluarga nya Shin Hye tinggal di Busan. Kecuali adiknya yang tinggal Seoul untuk kuliah. Tapi mungkinkah keluarganya Shin Hye berada di Seoul? Itu memang mungkin.

“Mungkin.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Yong Hwa-ah?”

“Aku….. Juga tidak tahu”


“Dimana perempuan itu?” Tanya seorang laki-laki –Yong Hwa, kepada salah satu maid nya ketika baru saja memasuki rumah.

“Nyonya pergi ke Busan untuk beberapa hari karena merindukan orang tuanya. Dan Nyonya bilang, dia akan mengatakan jika Tuan tidak ikut karena sibuk dengan tugas kantor.”

“Baiklah” ucap Yong Hwa setelah mendengar jawaban maid itu. “Lanjutkan tugasmu” sambungnya yang membuat maid itu membungkuk dan pergi meninggalkannya di ruang tengah. Yong Hwa yang mendengar hal itu hanya tersenyum senang. Dia dapat bersenang-senang bersama Seohyun selama beberapa hari. Itulah yang ada dipikirannya, tanpa memikirkan hatinya Shin Hye yang sudah memandang status sebagai istrinya. Tapi, apa yang dia pedulikan? Yang dia pedulikan hanyalah Seohyun.

Mengingat perkataan Seohyun tadi di mobil. Membuat Yong Hwa terdiam. ‘Melihat?’ Itulah yang ada di pikirannya. Apakah Shin Hye naik kereta untuk ke Busan?


“Mengapa kau tidak bilang akan berkunjung ke sini, Shin Hye-ah?” Tanya Ibunya Shin Hye ketika melihat anak nya masuk ke dalam rumahnya sambil membawa tas di tangan kanannya. “Oh, apakah kau akan menginap? Dan dimana suamimu?” Sambung Ibunya.

Nde, eomma. Aku akan menginap beberapa hari. Hmmm, Yong Hwa sedang sibuk dengan tugas kantor nya. Jadi, dia hanya menitipkan salam” jawab Shin Hye sambil duduk di kursi ruang tengah bersama adik satu-satunya dan kedua orang tuanya.

Omo…” ucap Ibunya sambil menggelengkan kepalanya. “Lalu kenapa kau malah kesini?” Sambungnya.

“Masa cuman Shin Hwa ke sini. Aku kan juga mau ke sini. Apakah Ibu tidak merindukanku, huh?”

“Sudahlah kalian berdua. Shin Hye, darimana kamu tahu Shin Hwa ke Busan, kamu kan tidak punya ponsel. Dan, ada apa di pipi kananmu?” Tanya ayah Shin Hye, yang membuat nya memegang pipi kanannya. Merah? Apakah bekas pukulan oleh Yong Hwa ini belum hilang? Padahal sudah beberapa hari.

Aaah, pipi kananku tadi tidak sengaja terbentur kaca mobil, appa. Dan soal tahu, Shin Hwa menelpon ke rumah” jawab Shin Hye yang sambil tersenyum kepada ayahnya. Tapi Shin Hwa tidak mempercayainya.

Noona seharusnya berhati-hati!” Sahut Shin Hwa yang merupakan adik nya. Spontan saja Shin Hye langsung menghadiahkan adiknya jitakan di kepalanya.

Noona,  appo!”

“Kalian itu sudah besar. Shin Hye, lebih baik kamu membersihkan dirimu” ucap Ayahnya Shin Hye. Shin Hye yang mendengarnya hanya mengangguk serta tersenyum lalu berdiri dan menuju kamar lamanya.

Seperti yang dipikirkan Shin Hye sebelumnya. Mungkin jika dia di Busan beberapa hari ini, dia akan melupakan semua masalah yang ada di dalam pernikahannya selama ini.


Seorang laki-laki sedang sibuk mengurus semua dokumen-dokumen yang tengah berserakan di mejanya. Dan dia sedang menelpon seseorang.

“Kurasa dia melihat kita.”

“…..”

“Tenanglah, dia tidak akan mengatakan itu kepada kedua orang tuanya.”

“…..”

Hmm, jalja.”

Ucapan dari lelaki itu–Yong Hwa, telah mengakhiri percakapannya dengan seseorang yang di telpon tadi. Sepertinya, Seohyun. Dan ‘Dia’ yang di sebut tadi, sepertinya Shin Hye.

TOK TOK.

Ketukan pintu itu membuat Yong Hwa melihat ke arah pintu, “Masuk” jawabnya. Beberapa saat kemudian masuk salah satu maid.

“Ibu anda berkunjung, dan dia sedang menunggu di ruang tengah.”

“Katakan padanya, aku akan segera kesana.”

Tap… tap… tap

Terdengar langkah kaki menuruni tangga. Ya, itu adalah langkah kaki Yong Hwa yang baru saja turun dari ruang kerjanya yada berada di lantai dua rumah megah itu.

“Kenapa eomma kemari lagi? Baru kemarin eomma berkunjung.”

“Memang kenapa? Apa aku salah mengunjungi putraku dan istrinya?”

“Tentu saja tidak eomma.”

Jinjayo? Kau seperti menutupi sesuatu Yong-ah.”

Mwo? Tidak ada yang ku tutupi eomma.”

“Kau tidak bisa berbohong padaku. Ingat itu.” Kata Ibu Yong Hwa dengan nada misterius yang membuat Yong Hwa —tentu saja— merasa sangat gugup.

“Dimana Shin Hye?”

“Dia ke Busan. Mengunjungi eommonim dan aboenim.”

“Kenapa kau tidak ikut bersama dengannya?”

“Aku sibuk eomma.”

“Baiklah, aku pulang.”


Sore yang indah dengan semilir angin yang menerbangkan beberapa helai rambut Shin Hye. Wanita itu sedang duduk menikmati sore indah di Busan, itulah pemikiran mereka yang melihatnya. Tapi jauh di dalam sana, hati wanita cantik itu sedang menangis, sedangkan pikirannya melayang jauh ke masa lalunya yang indah.

-Flashback-

Sepasang anak manusia sedang duduk di rerumputan sebuah taman yang dipenuhi bunga -bunga liar yang indah. Tak banyak yang mereka lakukan, mereka hanya sedang istirahat karena terlalu lelah berlarian saling mengejar dan juga mencoba menangkap kupu – kupu yang sedang mencari makanan untuk bertahan hidup.

“Shinji-ya…”

“Kupu – kupu itu cantik ya.”

“Tentu saja, mereka sudah mengalami perjalan panjang untuk menjadi cantik seperti itu.”

“Bagaimana dengamu?”

“Aku? Kalau aku sih sudah cantik sejak lahir. Begitu kata eomma.”

“Eomma mu berbohong.”

“Mwo?”

“Kalau kau cantik pasti kau sudah punya pacar saat ini.”

“Benarkah?”

“Nde.”

“Kalau begitu kau saja yang menjadi pacarku.”

“Aku?”

“Nde.”

“Andwe! Aku tidak mau pacaran dengan anak perempuan jelek sepertimu.”

“Apa?!” “Yya! Jung Yong Hwa pabo-ya!”

Mereka berkejar – kejaran mengelilingi taman yang menjadi tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu bersama. Masa – masa indah pertemanan dua anak manusia tanpa dibebani perasaaan bernama cinta. Setelah kembali merasa lelah mereka kembali lagi beristirahat dengan duduk di rerumputan.

“Aku mau menjadi kekasihmu bahkan juga suamimu. Tapi dengan syarat.”

“Apa?”

“Tumbuhlah menjadi wanita yang cantik dan memiliki sifat keibuan. Jangan berubah menjadi Park Shin Hye yang tidak aku kenal.”

-Flashback End-

“Apa aku kurang cantik? Atau aku tidak memiliki sifat keibuan?”

“Apa yang salah denganku Yongie?”

“Atau kau tidak mengingatku?”

Gumam Shin Hye mengingat masa lalunya bersama dengan Yong Hwa.

Sama halnya dengan kehidupan di Seoul, di Busan pun Shin Hye penuh dengan kemurungan. Hanya saja yang membedakan Shin Hye merasa lebih tenang di tanah kelahirannya ini. Dia bisa berkumpul dengan keluarga yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu. Dia juga dipenuhi perhatian dari anggota keluarga lainnya. Sangat berbeda dengan kehidupannya di rumah megah milik suami kayanya itu.


Pria kaya itu menikmati harinya tanpa ada sang istri yang menurutnya menjadi beban hidupnya. Kini dia sedang bersenang – senang dengan wanita yang merupakan selingkuhannya itu. Wanita bernama Seo Hyun. Pria itu bahkan membawa selingkuhannya untuk menginap dan tidur bersama di kamar hangatnya. Kamar yang bahkan terasa dingin untuk istri sahnya tapi terasa hangat untuk selingkuhannya itu. Oh Tuhan, bagaimana bisa seorang pria yang memiliki istri mengajak selingkuhannya untuk menginap dan menikmati hari bersama di rumahnya. Bahkan pria itu memerintahkan pelayannya untuk meliburkan diri dan membiarkan mereka tinggal berdua. Bukankah itu hal yang tabu?

Di ruang tengah rumah megah itu terdengar tawa riang dua insan manusia yang tak lain merupakan tawa riang milik sang empunya rumah dan selingkuhannya. Tawa riang yang bahkan tak pernah terdengar sebelumnya. Tawa riang yang menggantikan teriakan dan suara keribuatan lain yang memekakkan telinga. Bukankah hal ini seharusnya dia lakukan bersama dengan istri sahnya?

Krieet.

Terdengar decitan dari suara pintu yang terbuka. Suasan mendadak hening. Kedua manusia itu menegang, mengira – ngira siapa yang membuka pintu rumah megah itu dengan mudahnya. Sang istri kah? Atau ibu dari pemilik rumah itu? Jika itu sang istri sah pemilik rumah mereka bersikap biasa saja. Bukankah mereka sudah tertangkap sedang selingkuh sebelumnya? Akan tetapi jika itu ibu dari sang pemilik rumah megah ini maka, matilah mereka berdua.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Raut muka keduanya menegang sempurna.

Ternyata itu adalah suara langkah kaki milik istri sang pemilik rumah megah itu —Park Shin Hye. Keduanya menghembus napas lega. Raut wajah tegang itu pun menghilang berganti dengan raut wajah jijik menatap wanita yang mereka anggap mengganggu kegiatan keduanya. Sedetik berikutnya mereka bersikap semula seolah – olah tak ada orang lain selain mereka berdua. Di saat yang sama Shin Hye menahan rasa sesak yang membelenggu dadanya. Ingin protes, tapi itu tak akan berguna. Jika saja selama ini suami sahnya itu memberlakukannya dengan baik mungkin dengan mudahnya dia mencakar – cakar wanita selingkuhan itu. Wanita yang merupakan teman dekatnya semasa sekolah. Apa pantas wanita selingkuhan bernama Seo Hyun itu disebut sebagai seorang teman?

Haah…” Wanita selingkuhan itu menghela napasnya panjang.

“Sepertinya aku sudah harus pulang chagiya” Katanya pada sang pemilik rumah.

Waeyo? Tinggallah sebentar lagi sayang. Aku masih merindukanmu.”

“Jangan bersikap manja Yong, kita bahkan bertemu setiap hari.”

“Baiklah. Tunggu di sini aku akan mengantarkanmu pulang.”

Sang pemilik rumah megah itu bergegas menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya. Sedangkan wanita selingkuhan itu pergi mencari Park Shin Hye si istri sah.

“Halo Hye-ah. Lama tak berjumpa.”

Ne.”

“Menurutku kau harus segera pergi dari sini karena sebentar lagi Yong Hwa akan menceraikanmu.”

“Itu akan terjadi jika kau mendapat restu dari ibunya. Camkan itu.”

“Kau..!” Teriaknya,  “Kau pengganggu hubungan kami!” Sambungnya.

“Jaga ucapanmu itu Sekretaris Seo, aku ini istri atasanmu.”

“Cih.”

“Atau aku harus menelpon ibu mertuaku sekarang juga dan mengatakan bahwa selingkuhan putranya sedang berbicara denganku saat ini? Atau aku harus mengatakan bahwa putranya berselingkuh dengan sekretarisnya?”

Seo Hyun bungkam. Dia tidak dapat membalas perkataan Shin Hye. Dia kalah telak.

Yong Hwa datang.

“Kenapa kau di sini sayang? Untuk apa berbicara dengan wanita pengganggu seperti dirinya?” Kata pria itu lembut sambil merangkul mesra pinggang selingkuhannya itu.

Sungguh terlihat memuakkan sekaligus menyedihkan di mata Shin Hye.

“Tidak ada. Ayo antar aku pulang.”

“Cium aku dulu.” Pinta Yong Hwa, “Di sini.” Katanya lagi sambil menunjuk bibirnya.

“Dasar Yong Choding.” Kata Seo Hyun manja kemudian mengecup singkat bibir Yong Hwa.

Mereka melupakan kehadiran Shin Hye di ruangan itu.


Sepeninggal Yong Hwa dan Seo Hyun, Shin Hye kembali mengurung diri di kamarnya.

“Menurutku kau harus segera pergi dari sini karena sebentar lagi Yong Hwa akan menceraikanmu.”

Perkataan Seo Hyun membayangi pikirannya. Dia takut, dia khawatir.

“Inikah akhir dari perjuanganku?”

“Apakah aku harus menyetujuinya saat dia mengajukan perceraian itu?”

“Akankah dia bahagia jika hidup bersama dengan Seo Hyun?”

Pemikiran – pemikiran itu memenuhi pikiran Shin Hye. Dia tidak ingin melepas Yong Hwa. Sungguh dia mencintai pria itu dengan tulus dan dia ingin pria itu bahagia.

“Aku bahkan belum berhasil membuatnya ingat padaku.”

EommaAppa… Aku bingung.”

Baru saja dia menenangkan pikirannya dengan mengunjungi orangtuanya di Busan tapi ternyata ketenangan itu hanya bisa dinikmati beberapa detik saja setelah dia menginjakkan kaki di rumah megah ini.


Pagi ini terasa tenang, tidak ada teriakan, omelan, ataupun pertengkaran diantara sepasang suami istri ini. Tapi hal ini justru terasa aneh untuk Shin Hye karena Yong Hwa terlalu diam.

Ekhem” Yong Hwa mengeluarkan suara, memecahkan keheningan di meja makan. Tapi Shin Hye tidak merespon tindakan tersebut.

Tek.

Yong Hwa meletakkan sendok di sisi piringnya.

“Aku ingin kau mengajukan surat cerai untukku.” Kata Yong Hwa yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.

“Kenapa tidak kau saja?” Respon Shin Hye dengan berpura – pura masih fokus dengan makanannya.

“Jika aku yang membuat itu eomma tidak akan menerimanya.”

“Itu tidak ada hubungannya dengan eomma. Kau saja yang buat dan aku dengan mudah menandatangani surat itu.”

“Tidak. Kau yang buat. Agar eomma menerima pernikahanku dan Seo Hyun dengan mudah.”

“Itu tidak akan berpengaruh. Eomma tetap tidak akan menyetujui pernikahanmu dan Seo Hyun.”

Emosi Yong Hwa kembali naik. Kedua tangannya mengepal keras dengan penolakan Shin Hye.

PRAAK!!!

“TIDAK BISAKAH KAU MENURUT PADAKU?!” Teriak Yong Hwa marah.

“KENAPA KAU MARAH PADAKU?! KAU YANG INGIN BERCERAI TAPI KENAPA AKU YANG KAU REPOTKAN?! JELASKAN PADAKU!” Balas Shin Hye tak kalah emosi. Sedangkan Yonghwa kali ini hanya diam mendengarkan Shin Hye berteriak. Bukan itu masalahnya. Tapi dia melihat suatu kejadian yang tidak dia ketahui.

-Flashback-

“Yya! Jung Yong Hwa, apa kau tidak melihat aku yang sedang membawa pot ini?!” Teriak seorang perempuan sambil menangis dengan keras.

“Maafkan aku Shin Hye. Aku tidak sengaja,” jawab Yong Hwa sambil mendekat kepada Shin Hye. Sedangkan Shin Hye tetap menangis dengan kerasnya.

“Berhentilah menangis, Shin Hye. Aku akan menggantinya. Dan jangan lupa panggil aku Oppa, aku lebih tua setahun darimu.”

-Flashback End-

Arrghh!

Teriakan Yong Hwa sambil memegang kepalanya yang tidak sakit itu. Bahkan dia sampai terjatuh hingga membuat Shin Hye yang tadinya emosi, menjadi terkejut hingga menghampirinya.

“Yong Hwa, apakah kau tidak apa-apa?” Tanya Shin Hye yang masih saja dengan perasaan terkejut.

“Aku tidak apa-apa! Menjauh dariku!” Teriak Yong Hwa kepada Shin Hye masih memegang kepalanya.

Arrghh!

“Bagaimana bisa kau tidak apa-apa jika berteriak seperti itu?!”

“Aku bilang aku tidak apa-apa!” Teriak Yong Hwa. Namun kali ini dia tidak memegang kepalanya. Melainkan mendorong Shin Hye sehingga menjauh beberapa senti atau mungkin meter darinya. Dan sayangnya kali ini Shin Hye berteriak kesakitan.

Arrghh!” Teriaknya sambil memegang perutnya. Kali ini, Yong Hwa berhenti berteriak kesakitan melainkan bingung melihat Shin Hye yang seperti itu. Hatinya ingin bertanya. Namun egonya yang tidak ingin.

“Shin Hye, kau meninggalkan ………………….”

Ucapan seorang wanita yang terpotong saat melihat mereka berdua, lalu terkejut bersamaan dua orang pria yang ada di belakangnya.


Keadaan di lorong rumah sakit di UGD itu terlihat beberapa orang di sana. Mereka mengkhawatirkan seseorang yang ada di dalam sana. Termasuk seorang laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.

“Jung Yong Hwa, apa yang terjadi pada Shin Hye?” Tanya seorang lelaki tua yang merupakan ayahnya Yong Hwa.

“Aku tidak mengetahuinya, appa” jawab Yong Hwa sambil menunduk.

“Tapi kami berdua termasuk Shin Hwa, melihatmu dan Shin Hye sama-sama terduduk di lantai!” Teriak ayahnya Shin Hye. Sedangkan ibu Shin Hye hanya duduk sambil menangis memikirkan putri satu-satunya yang ia miliki.


Brruggh!

Brruggh!!

Terlihat seseorang laki-laki yang sedang memukul seseorang.

“Yak, Jung Yong Hwa! Apa yang kau lakukan pada Shin Hye noona?!” Teriak seorang laki-laki yang merupakan adiknya Shin Hye, Shin Hwa. Yang tentu saja Shin Hwa yang memukul Yong Hwa. Singkat cerita, Yong Hwa izin pulang sebentar untuk berganti baju. Dan Shin Hwa juga ikut keluar rumah sakit tapi langsung menarik Yong Hwa ke samping Rumah Sakit yang sepi itu.

“Yak, Park Shin Hwa. Apa kau tidak memiliki sopan santun, huh? Aku lebih tua daripadamu” ucap Yong Hwa dengan tenangnya.

“Cih, mengapa aku harus bersikap sopan padamu?” Ucap Shin Hwa sambil memegang baju atasannya Yong Hwa. Sedangkan Yong Hwa, sudah ada darah yang mengalir di mulutnya.

Noona kau saja bersikap baik padaku. Apakah kau kurang di didik, Shin Hwa?” Tanya Yong Hwa kali ini dengan menyeringai.

Brruggh!!

Shin Hwa kembali memukul Yong Hwa hingga dia terjatuh. Lalu mengangkatnya lagi dan memegang baju atasannya.

“APA KAU PIKIR AKU TIDAK TAHU SEMUA SIKAPMU KEPADA SHIN HYE NOONA?!” Teriak Shin Hwa.

Deg!

Yong Hwa terkejut. Bagaimana bisa Shin Hwa mengetahuinya? Apakah Shin Hye yang memberitahunya? Tapi itu tidaklah mungkin.

“Tidak mungkin jika Shin Hye memberitahu orang lain” ucap Yong Hwa dalam hati.

“Kenapa Yong Hwa? Kau terkejut aku mengetahui semuanya?!” Teriak Shin Hwa.

“Aku pernah berkujung ke rumah mu dan Shin Hye noona. Dan sayangnya aku tidak jadi. Karena aku melihat sebuah pemandangan dimana seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang berpelukan mesra sambil menonton televisi dan tertawa riang!”

“Tapi itu bukan di sebut berkunjung. Melainkan mengantarkan Shin Hye noona kembali ke rumahnya” ucap Shin Hwa yang masih tetap marah kepada Yong Hwa.

Brruggh!

Lagi, Shin Hwa kembali memukul Yong Hwa sehingga membuatnya jatuh kembali. Namun kali ini dia membiarkannya, pergi meninggalkannya. Tapi dia berbalik ke belakang.

“Kau sudah berbeda saat terakhir kali kita bertemu. Berpisahlah dengan Shin Hye noona. Karena aku sudah membencimu.” ucap Shin Hwa lalu pergi meninggalkannya. Sedangkan Yong Hwa hanyalah bingung.

“Berbeda? Terakhir kali bertemu?”

Mengapa banyak semua teka-teki yang harus Yong Hwa jawab?

“Apa aku pernah bertemu dengan Shin Hwa? Termasuk, Shin Hye?”


“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” Tanya Ayah Shin Hye ketika seorang dokter sudah keluar dari ruangan. Sedangkan yang lain, termasuk Yong Hwa yang baru tiba di sana, menunggu jawaban dari dokter.

“Maafkan kami” jawab dokter tersebut.

“Maksudnya, dok?” Tanya Ayah Shin Hye lagi.

“Kami hanya dapat menyelamatkan anak anda. Tapi tidak dengan cucu anda. Dia baru berusia empat minggu, dan benturan keras yang menghantam perut ibunya membuatnya tidak dapat bertahan hidup. Nanti, suster akan memindahkan ke ruang pemulihan.” jelas Dokter lalu melihat mereka semua. “Saya permisi” sambungnya lalu meninggalkan kami.

Deg!

“Shin Hye hamil?” pikir Yong Hwa. Yong Hwa mencari ingatan bagaimana bisa hamil. Lalu kemudian di hanya menatap pintu ruangan yang di dalamnya ada Shin Hye.

Dia yang menghamili Shin Hye. Dan dia yang membunuh anakku.


Sudah hampir satu minggu Shin Hye ada di rumah sakit. Dan perilakunya tetap sama. Hanya bicara yang seperlunya dan bersikap dingin bahkan kepada keluarganya. Di karenakan, awalnya dia sangat bahagia ketika Ibunya memberitahunya mengandung tentang kabar baiknya. Namun dia berubah ketika mengetahui kabar buruknya. Yaitu, anak yang ada di kandungannya meninggal akibat Yong Hwa. Dan mulai saat itu dia tidak pernah lagi menyukai Yong Hwa seperti dulu. Namun membenci Yonghwa. Suaminya sendiri.

Yong Hwa memasuki ruang rawat Shin Hye. Kali ini keluarganya akan ke Busan untuk mengambil beberapa kebutuhan yang diperlukan. Jadinya, kedua orang tua Shin Hye menyuruh Yong Hwa untuk menjaga Shin Hye. Walaupun Shin Hwa bersikeras untuk tetap tinggal. Tapi pada akhirnya, Yong Hwa sendiri yang menjaga Shin Hye.

“Keluargamu sedang ke Busan untuk mengambil barang-barang yang mereka perlukan” ucap Yong Hwa sambil duduk di kursi samping tempat tidur dimana ada Shin Hye di sana.

Diam.

Shin Hye hanya mendengarkan tapi tidak menjawab. Yonghwa sudah mengiranya. Dia akan berbicara sendiri ibaratkan tidak ada seseorang pun di dalam ruangan itu.

“Aku membelikanmu buah. Makanlah biar cepat sembuh” ucap Yong Hwa menatap ke arah Shin Hye.

“Pergilah.”

Ucapan pertama Shin Hye setelah kejadian itu kepada Yong Hwa. Shin Hye menjawab namun tidak menatap ke arah Yong Hwa.

Wae?

“Bukankah kau membeciku?! MENGAPA KAU MASIH TETAP DI SINI?!” Teriak Shin Hye lalu melemparkan vas bunga ke pintu ruangan itu. Sehingga membuat beberapa suster masuk ke ruangannya karena keributan yang Shin Hye buat.

“Lebih baik anda keluar terlebih dahulu” kata seorang Suster kepada Yong Hwa sambil berusaha menenangkan Shin Hye. Yong Hwa pun langsung pergi keluar dan menutup pintu. Yong Hwa masih berdiri di depan pintu.

“Benci? Apakah aku masih membenci Shin Hye?”


-Flashback-

Shin Hye sangat senang dia akan bersekolah SMA di Seoul. Akhirnya dia akan bertemu dengan Yong Hwa. Saat dia sudah tiba di Seoul, dia berusaha mencari rumah Yong Hwa namun tidak menemukannya. Shin Hye menelpon Ibunya, dan Ibunya menyarankan jika Shin Hye lebih baik tinggal di Apartemen terlebih dahulu.

Pagi hari yang indah di hari pertama Shin Hye sekolah SMA di Seoul merupakan kenangan terindah bagi Shin Hye. Karena ternyata Yong Hwa juga bersekolah di sana. Yong Hwa merupakan sunbae yang populer saat itu. Dia berdiri di hadapan Yong Hwa, berharap Yong Hwa masih mengingatnya. Namun yang Shin Hye dapat, Yong Hwa mengabaikannya bahkan memarahinya waktu MOS. Dan itu adalah kenangan buruk Shin Hye pertama kali bersama Yong Hwa.

-Flashback End-


“Yonghwa, kemana saja kau selama ini? Aku merindukanmu” ucap seorang perempuan -Seohyun- kepada Yonghwa yang tengah duduk di depannya. Mereka berdua ada di sebuah café yang ada di dekat rumah sakit tempat Shin Hye di rawat. “Apa Shin Hye sudah menceraikanmu?” Sambungnya lalu meminum pesanannya.

“Belum” jawab Yong Hwa sambil menatap Seohyun. Hanya saja ada sebuah ingatan yang kembali hadir di otaknya.

-Flashback-

“Yong Hwa, appa akan menikahkan mu” ucap Ayah Yong Hwa kepada Yong Hwa saat dia menyuruh Yong Hwa untuk berkumpul di ruang tengah bersamanya dan Ibu Yong Hwa.

“Tapi aku sudah memiliki kekasih!” Teriak Yong Hwa samba berdiri.

“Jung Yong Hwa. Lebih baik kau mengikuti perintah Ayah mu!” Ucap Ibu Yong Hwa.

“Aku tidak akan menikah dengannya! Aku akan menikah dengan Seohyun” Ucap Yong Hwa lalu pergi keluar rumah dan mengendarai mobilnya. Sementara Ayah dan Ibunya berbicara.

“Apa jika kita menikahkannya dengan Shin Hye, dia akan tahu jika itu Shin Hye?” Tanya Ibu Yong Hwa kepada Ayah Yong Hwa yang ada di sampingnya.

“Semoga.”

-Flashback END-

“Aku harus pergi” Ucap Yong Hwa lalu berdiri dan berlari. Sehingga membuat Seohyun dan pengunjung lainnya terkejut.

“Jung Yong Hwa!” Teriak Seohyun.

Yong Hwa masuk ke dalam Taxi. Dia menyuruh supir ke Jalan rumahnya dulu. Rumah kedua orang tuanya. Potongan-potongan ingatan kembali ke dalam otaknya.

-Flashback-

“Yong Hwa, apakah kau tidak kenal dengan Shinji?” Tanya Ibu Yong Hwa setelah masuk ke dalam kamar Yong Hwa. Dan dua hari sebelum pernikahan Yong Hwa dengan Shin Hye.

“Sama sekali tidak.”

“Bagaimana dengan Park Shin Hye?” Seakan tidak menyerah, Ibu Yong Hwa tetap bertanya dengan Yong Hwa.

“Dia pilihan kalian berdua untuk menjadi istri ku.”

“Maksud Eomma, kamu sangat mengenal nama-nama yang eomma sebutkan.”

“Aku sama sekali tidak mengenal nama-nama yang kau sebutkan, Eomma.”

-Flashback END-


Tok Tok.                

Yong Hwa mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya. Setelah dia tiba, dia langsung menuju ke kamar orang tuanya tanpa memperdulikan maid yang bertanya dengannya.

Krieet.

Pintu itu terbuka, dan ibu Yong Hwa berdiri di sana.

“Oh, Yong Hwa ada apa kau kemari?” Tanya Ibu Yong Hwa dengan terkejutnya melihat anaknya yang berada di depannya. “Ayah mu masih di kantor. Apakah Shin Hye baik-baik saja mendengar kabar bayinya?” sambungnya dengan tatapan sedih mengatakan soal bayi Shin Hye.

Eomma, bisakah kita berbicara?” Tanya Yong Hwa yang tidak ingin basa basi.

“Kalau begitu kita berbicara di ruang tamu.”


“Ada apa, Yong Hwa-ah? Kau terlihat sangat serius” Ucap Ibu Yong Hwa yang memulai pembicaraan di antara mereka berdua yang dari tadi hanya berdiam diri di ruang tamu rumah mereka itu.

Eomma, apakah sebelumnya aku mengenal Shin Hye?” Tanya Yong Hwa yang langsung menatap Ibunya. Sedangkan Ibu Yong Hwa terkejut mendengar pertanyaan anaknya. “Ada beberapa ingatan yang muncul di otakku. Dan nama yang ku ingat adalah Shinji dan Shin Hye. Nama-nama itu adalah nama-nama yang Eomma tanyakan padaku waktu dulu” sambung Yong Hwa yang masih menatap Ibunya. Sedangkan Ibu Yong Hwa masih diam menunggu kelanjutan Yong Hwa.

“Siapakah mereka? Apakah aku mengenal mereka?” Tanya Yong Hwa yang masih saja menatap Ibunya.

“Kau sudah dewasa dan mengingat potongan-potongan ingatanmu, Yong Hwa-ah” ucap Ibu Yong Hwa yang membuat Yong Hwa bingung akan ucapannya. “Apa maksud Eomma?” Tanya Yong Hwa yang sangat penasaran.

“Kau dan Shin Hye sangat dekat saat kecil bahkan kau pernah bilang dengan Eomma dan Appa akan menikah dengan Shin Hye saat besar nanti. Lalu ketika kau berusia 11 Tahun sedangkan Shin Hye 10 Tahun, Kau harus pindah ke Seoul karena pekerjaan kami berdua. Tidak sampai 1 minggu di Seoul, kau mengalami depresi atau stress yang sangat berat karena merindukan Shin Hye. Kau bahkan harus berada di rumah sakit hampir 2 bulan” ucap Ibu Yong Hwa menahan nafas sebentar. “Dan dokter bilang, ingatanmu akan terhapus sebagian. Ternyata ingatan yang terhapus adalah ingatanmu dengan Shin Hye. Bahkan hal itu terbukti, ketika Ibu Shin Hye menelpon Eomma jika Shin Hye satu sekolah denganmu. Eomma datang ke Sekolah dan melihat mu yang tidak peduli dengan Shin Hye bahkan memarahinya. Bahkan ketika kau akan menikah dengan Shin Hye, terlihat sangat jelas kau tidak mengingatnya.” Sambung Ibu Yong Hwa dan membuat Yong Hwa diam seribu bahasa meresapi ucapan Ibunya.

“Lalu siapa Shinji?” Tanya Yong Hwa setelah dia diam sedari tadi.

“Shinji merupakan nama yang kau buat untuk Shin Hye. Dan kau bilang kepada Eomma jika anak mu perempuan dengan Shin Hye kau akan memberi nama ‘Shinji’” jawab Ibunya yang terseyum kecil kepada Yong Hwa. “Yong Hwa-ah. Pikirkanlah semua pembicaraan kita tadi. Sebelum semuanya terlambat.”


Yong Hwa kembali menuju ke rumah sakit, selama di perjalanan dia memikirkan penjelasan dari ibunya dengan sungguh – sungguh. Dan entah kenapa saat memikirkan nama Shin Hye dan Shinji ada suatu getaran dalam hatinya.

“Benarkan yang dikatakan eomma tadi?” Tanyanya pada dirinya sendiri. “Haruskah aku menanyakan hal ini pada emmonim? Atau Shin Hwa?” Imbuhnya lagi, dia masih belum puas dengan jawaban dari ibunya sendiri.

Eotokke? Apa yang sebenarnya tejadi?” Erangnya frustasi.

Kini dia merasa bersalah sekaligus bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dan entah kenapa tiba – tiba dia tidak rela jika harus berpisah dengan Shin Hye. Bahkan dia melupakan Seo Hyun begitu saja.

Setibanya di rumah sakit dia hanya duduk di koridor tepat di depan ruangan Shin Hye di rawat. Dia tak berani masuk, tak sanggup melihat wajah Shin Hye saat ini. Semua ini kesalahannya.

“KENAPA INGATAN INI BARU MUNCUL SEKARANG? KENAPA?” Teriaknya frustasi, menggema di sepanjang koridor yang dia tempati saat ini.

“Kau mengingatku? Kau baru mengingatku?” Tanya Shin Hye yang mendengar teriakan Yong Hwa dari dalam kamar.

“Tapi kau terlambat. Semua sudah berakhir. Aku sudah terlalu lelah untuk perasaan ini. Aku tak sanggup lagi menanggungnya, terlalu menyakitkan. Kau bahkan membunuh darah dagingmu sendiri.” Batin Shin Hye.

Ya, Park Shin Hye sudah terlalu lelah untuk menanggung semua luka yang ditorehkan Yong Hwa. Semuanya sudah melebihi ambang batas yang dimiliki oleh seorang Park Shin Hye, wanita lembut dan penyabar yang dulu begitu mencintai Yong Hwa. Satu – satunya wanita berhati malaikat yang mencintai Yong Hwa setelah ibunya.

Kriieett.

Yong Hwa memasuki ruang inap Shin Hye saat sang penghuninya sudah terlelap karena obat yang diberikan. Dia hanya bisa duduk di samping ranjang sambil memandangi wajah istrinya, menggenggam erat tangannya, serta sesekali membelai wajah cantik nan pucat itu dengan tangan yang juga telah menyakiti wajah itu.

“Maafkan aku. Sungguh maafkan aku.”

“Aku akui semua ini memang kesalahanku, dan mungkin tak pantas untuk dimaafkan. Namun, sungguh aku minta maaf.”

Air mata Yong Hwa menetes mulus, sepilu perasaannya. Dia sadar apa yang dia lakukan terhadap Shin Hye selama ini adalah sebuah kesalahan fatal. Yang bahkan jika itu terjadi sebaliknya pada dirinya, dia tidak akan mampu bertahan lama menanggung semuanya.


Mentari bersinar menembus tirai jendela dan menyorot tepat di wajah cantik Shin Hye. Membuat sang pemilkinya terbangun. Salah satu tangannya terasa hangat dan berat, saat dia melihat ternyata tangan itu digenggam erat oleh sang suami yang dulu begitu dicintainya. Dia berusaha menarik tangannya dengan perlahan namun si penggenggam itu iku t terbangun.

“Kau sudah bangun? Selamat pagi.” Sapa Yong Hwa dengan senyum hangat. Senyum pertama setelah bertahun – tahun.

Diam.

Itulah yang dilakukan Shin Hye.

“Aku akan memanggil perawat untuk mengecek keadaanmu.” Kata Yong Hwa kembali mencoba memecah kecanggungan.

“Tidak usah bersikap baik padaku.” Tembak Shin Hye.

Deg.

Yong Hwa terjerembab, dia tak dapat berkutik. Hatinya tertohok.

Inikah yang dirasakan Shin Hye saat mendapat respon dingin dariku? Tidak, rasanya pasti lebih menyakitkan dari ini. Batin Yong Hwa.

Keduanya kembali terdiam hingga Shin Hwa masuk ke dalam ruang inap Shin Hye.

“Pagi noona!” Sapa Shin Hwa ceria begitu melihat Shin Hye sudah terbangun.

“Kenapa kau masih di sini?” Tanya Shin Hwa dingin pada Yong Hwa yang ternyata juga ada di sana.

“Salahkah jika aku menunggui istriku?” Balas Yong Hwa.

Cih! Istri kau bilang?” Tukas Shin Hwa sarkatis. “Noona belum memberitahunya?” Shin Hwa beralih pada kakak perempuan tersayangnya itu, membuat Yong Hwa bingung karena tak mengetahui apapun.

“Kau sudah menyelesaikan hal yang kuminta?” Bukan menjawab, Shin Hye malah mengalihkan pembicaraan.

“Tentu saja! Dengan senang hati dalam dalam tempo singkat aku mengerjakan semua permintaan noona padaku.” Sombong Shin Hwa. “Ige.” Katanya lagi seraya menyerahkan amplop coklat besar berisi berkas perceraian.

“Ini berkas perceraian dariku seperti yang kau minta tempo lalu. Kau tinggal menandatanganinya dan semua berakhir.” Tukas Shin Hye sambil menyerahkan berkas yang tadi dia terima dari Shin Hwa.

Sreeekk.

Yong Hwa merebok berkas itu tanpa melihat isinya.

“KITA TIDAK AKAN PERNAH BRECERAI.” Kata Yong Hwa penuh emosi dan pergi begitu saja.

Tapi sebelum Yong Hwa keluar Shin Hwa telah lebih dulu menarik tangannya.

Dan

.

.

Buughh

Buugh

Buugh

 Berulang kali Shin Hwa menghantam  Yong Hwa dengan tinjuan yang cukup kuat hingga membuat bibir Yong Hwa berdarah dan mukanya dipenuhi lebam.

“SETELAH HAL INI TERJADI KAU MASIH TIDAK MAU MELEPASKANNYA PERGI? KAU GILA? KAU INGIN MEMBUAT DIA LEBH HANCUR LAGI? KAU INGIN AKU MEMBUNUHMU?” Teriak Shin Hwa marah, dia tidak ingin kakaknya tersayangnya lebih hancur lagi.

“Hentikan.” Putus Shin Hye, dia tidak tega melihat orang yang pernah dia cintai itu mati di tangan adiknya sendiri.

Noona hentikan semua ini. Untuk apa kau membelanya lagi setelah semua perlakuannya padamu selama ini? Sudah cukup noona, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri.” Rengek Shin Hwa pada kakaknya itu.

“KAU PUAS!! KAU PUAS JUNG YONG HWA? LIHAT DIA! DIA BAHKAN TERUS MEMBELAMU MESKI DIA TAHU BAHWA KAU BERSALAH!” Marahnya pada Yong Hwa.

“Dia bahkan mau menceraikanmu setelah aku mengancamnya untuk menceritakan semua ini ke keluarga Jung dan Park dan akan menuntutmu ke pengadilan atas kekerasan dalam rumah tangga.” Shin Hwa meneteskan airmatanya. Dia tersakiti, sama seperti kakak satu – satunya itu.

Melihat adiknya menangis Shin Hye turun dari ranjangnya dan memeluk Shin Hwa erat, dia ikut menangis.

Sssttt… uljima… . Aku tidak apa – apa.” Kata Shin Hye mencoba menenangkan Shin Hwa dan dirinya sendiri. “Aku butuh kau untuk menopangku, Hwa-ya.” Imbuhnya semakin mempererat pelukannya.

Mendengar semua perkataan Shin Hwa membuat Yong Hwa sedih. Dia bahkan ikut menangis. Dan entah kenapa dia merasakan bahwa dia mencintai Shin Hye. Sangat mencintai wanita berhati malaikat itu.

“Shinji tolong, jangan ceraikan aku. Aku akan memperbaiki semuanya. Sungguh. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin ada perpisahan. Aku tahu kau masih mencintaiku Shinji. Tolong dengarkan aku.” Mohon Yong Hwa dengan derai airmatanya.

“ADA APA INI?!” Tanya Tuan dan Nyonya Jung bersamaan, kaget dengan situasi yang ada di ruangan Shin Hye saat ini.

“Hye-ah, Hwa-ya. Kalian tidak apa?” Datang Nyonya Park mengahampiri kedua anaknya yang berderai airmata.

Noona harus menceraikan pria brengsek itu eomma. Dia sudah menyakiti nonna-ku. Dia tidak bisa dimaafkan lagi.” Shin Hwa bersuara dalam kebingungan orang – orang yang baru tiba itu.

“Apa maksudnya Yong/Hye?” Tanya Tuan dan Nyonya Jung pada Yong Hwa, sedangkan Tuan dan Nyonya Park pada Shin Hye.

“Aku ingin brecerai dengan Yong Hwa, eomma. Aku tidak bisa menjaga buah hati kami. Aku tidak pantas untuknya.” Kata Shin Hye masih menutupi kejahatan Yong Hwa atas dirinya.

Noona, apa yang noona lakukan? Noona masih melindunginya?” Sela Shin Hwa lagi.

“Diamlah Shin Hwa.” Tegas Tuan Park.

“Bagaimana denganmu Yong Hwa?” Kali ini Tuan Jung bertanya pada putra sematawayangnya itu.

“Aku tidak ingin bercerai. Aku mencintainya appa.” Tukas Yong Hwa menjawab pertanyaan dari ayahnya.

“Ku mohon, lepaskan noona-ku biarkan dia bahagia dengan keinginannya sendiri.” Pinta Shin Hwa bersujud memohon dengan merendahkan harga dirinya di depan keluarga Jung.

Tuan dan Nyonya Park sangat tahu bahwa putranya tidak akan memohon sampai seperti itu jika menyangkut hal yang penting untuk kehidupan Shin Hye. Dia tahu pasti ada hal yang ditutupi oleh kedua anaknya pada diri mereka.

“Aku mohon, setujui permintaan Shin Hye untuk bercerai.” Kali ini Tuan Park ikut memohon.

Melihat hal itu Yong Hwa menyerah. Dengan tatapan sendu dia berkata, “Baiklah, kita bercerai.”

Mendengar pernyataan itu Shin Hwa menghembuskan napasnya lega. Dia tersenyum senang. Di samping itu, Nyonya Jung yang mengetahui arti tatapan itu hanya ikut berpasrah dengan pilihan putra tersayangnya itu. Semua ini adalah pilihan mereka. Mereka berdua yang berhak memutuskan hal – hal mengenai pernikahan yang mereka jalani itu.


Keluarga Jung dan Keluarga Park semuanya hadir dalam sidang perceraian dari anak mereka. Meski berat tapi ini adalah keputusan kedua insan itu.

“Dengan ini saya nyatakan bahwa saudara Jung Yong Hwa dan saudari Park Shin Hye telah resmi bercerai setelah percobaan perdamaian gagal untuk dilakukan.”

Tok. Tok. Tok.

Palu persidangan telah diketukan sebanyak tiga kali, pertanda bahwa keputusan telah diambil oleh sang hakim pemimpin persidangan.

Air muka Yong Hwa menunjukkan kesedihan, sedangkan air muka Shin Hye tidak dapat terbaca. Persidangan telah selesai, satu persatu meninggalkan ruangan itu hingga tersisa sepasang mantan suami istri.

“Terimakasih atas beberapa tahun ini. Maaf jika selama ini aku menyakitimu. Tapi sungguh, setelah mengingat siapa dirimu sebenarnya, aku mencintaimu. Aku akan berusaha untuk mendapatkanmu kembali menjadi milikku.” Tukas Yong Hwa

“Aku memaafkanmu dan aku juga mencintaimu. Tapi maaf, kita tidak lagi bisa bersama. Jangan pernah berusaha untuk mendapatkanku kembali, karena aku akan berusaha untuk berada sejauh mungkin dari pandanganmu.”  Balas Shin Hye.

“Kalau begitu boleh aku memelukmu dan melihat senyum termanismu untuk terakhir kalinya?” Pinta Yong Hwa.

“Kemarilah.” Kata Shin Hye dengan senyum termanisnya dan merentangkan tangannya menyambut pelukan Yong Hwa.

Mereka berdua berpelukan erat, menyalurkan perasaan cintai yang harus mereka akhiri dengan keterpaksaan.

Semua sudah berakhir. Rasa sakit yang lama telah berakhir, meski lukanya belum sembuh. Tapi ada kemungkinan rasa sakit dan luka baru akan muncul esok hari.

FINAL

Huahahahaahhha…. inilah yang terbaik dari kami. Maaf atas keterlambatan yang sangat terlambat. Maaf jika tidak sesuai dengan ekspektasi yang kamu bayangkan. Maaf jika hasilnya tidak memuaskan. Terimakasih karena requestnya mau diambil sama kami. Terimakasih sudah berpartisipasi dalam Autumn Event kami. Jangan bosen untuk join event lainnya ya…

Mohon feedback-nya baik suka maupun ga suka.

Selviakim Note: Hallo yang sudah baca 😀 . Kolab pertama sama orang lain, dan beruntungnya dapat ka Agnes XD . Baru nge-posting sekarang, selvia sibuk sama sekolah, udah kelas 9 😦 . Btw, makasih yang sudah membaca, apalagi ngasih komentar 😉

Advertisements

134 thoughts on “[AUTUMN EVENT||ONESHOOT] Our Marriage

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s