[VIGNETTE SERIES] Love is … (The Fallen Leaf)

VIGNETTE SERIES – LOVE IS…

by Arin Yessy (Raviis)

N | LEO | KEN |RAVI | HONGBIN | HYUK

starring VIXX Ken & Irene Red Velvet

Romance, Hurt/Comfort

PG-12

happy reading

.

.

Tawa Ken terdengar hambar menyeruak dalam dinginnya udara Café yang mereka hirup. Sementara Irene hanya menegakkan sebelah alisnya, meminta penjelasan dari sikap Ken yang terlihat sangat kaku pagi ini.

Semuanya terlihat salah bagi keduanya. Irene terlalu naif menyembunyikan perasaannya sementara Ken sangat pandai berakting bersikap seolah semuanya berada dalam kondisi normal. Kendati fakta berkata sebaliknya.

Tawa Ken terhenti. Manik mata hazel Irene membuatnya terkesiap. Gadis itu hanya menatapnya sendu. Ada sebuah rahasia yang ingin ia ungkapkan. Hal yang tak ingin Ken dengar dari bibir gadisnya.

Irene mengembangkan senyumnya kemudian. Ia meraih cangkir keramik berukiran bunga itu. Teh hijaunya hanya bersisa untuk satu atau dua kali tegukan saja, ia memilih untuk mengurungkan niat dan meletakkan cangkir itu kembali. Ia menatap kearah sebuah amplop berwarna putih yang juga tengah dipandang lekat-lekat oleh Ken.

“jadi kau serius tentang ini?” Ken memecah kesuanyian yang sempat tercipta di antara mereka.

“iya, aku sudah mendaftarkan keberangkatanku.”

Ken termenung.

“apa ini semua karenaku?”

Irene mendesah pelan. Perasaannya kacau balau tak karuan. Ingin sekali ia mengatakan bahwa benar apa yang diucapkan oleh lelaki yang hingga saat ini masih berstatus sebagai kekasihnya itu. Semuanya karena Ken yang terlalu sibuk. Irene merasa di abaikan. Ia harus berusaha menyingkirkan semua sifat manja dan egonya yang besar agar Ken bisa sukses seperti sekarang. Awalnya, semuanya berjalan dengan lancar sampai saat Irene merasa berada dalam titik jenuhnya.

Menunggu adalah hal yang paling ia benci di dunia. Ia merasa hambar ketika Ken tak lagi berusaha keras untuk mempertahankan hubungan mereka. Atau ketika Ken selalu berkilah, membatalkan janji mereka bertemu tak hanya satu atau dua kali. Atau ketika Irene sudah merasa muak ketika Ken tak mengangkat panggilannya. Dan terakhir mungkin rasa cinta itu sudah musnah sekarang.

“jawab aku Irene..” Ken menatap lekat-lekat sosok Irene yang hanya menunduk. Ia meremas kuat-kuat rok beludru yang dikenakannya. Batin Ken bergejolak sama halnya seperti yang  dirasakan oleh gadis itu.

Ia masih sangat mencintai Irene.

Cangkirnya masih terisi penuh oleh teh hijau yang mulai mendingin. Sama halnya dengan hatinya yang masih terasa penuh bagi Irene seorang.

Ken merutuki ketidakberdayaannya, Irene terlalu berharga sama halnya dengan impiannya.

“maafkan aku Ken, tapi kali ini ijinkan aku meraih impianku seperti yang sudah kau lakukan.” Irene angkat bicara. Ia sangat pandai menata raut wajahnya hingga seolah tak tampak sedikitpun kesedihan dihatinya. Kendati jika Irene ingin, ia bisa saja meluapkan semua amarahnya pada lelaki yang sedang duduk dihadapannya ini.

Namun sekal lagi Irene terlanjur lelah. Egonya sudah hilang entah sejak kapan. Dan ia ingin semuanya berjalan sesuai kehendak Ken. Karena Irene tak ingin berjuang dan memaksakan arah hubungan mereka harus sesuai dengan kehendaknya.

Irene menghela nafasnya yang terasa menyesakkan dada. Ia beralih memandang dedaunan yang mulai berguguran menandakan musim gugur segera menjelang. Sangat damai terasa ketika suasana Café belum terlalu ramai di pagi hari. Coat tebal yang ia kenakan lebih memberikan kehangatan yang nyata untuk seorang Irene. Dan Ken, gadis itu bahkan sulit mengingat kapan Ken terakhir memeluknya, memberi kehangatan untuknya.

Daun-daun yang jatuh ke tanah hanya berakhir dengan terinjak-injak atau terbang ditiup angin, sehingga tak mungkin dapat kembali mencium aroma dahan dan ranting pohon.

Begitupun dengan hubungan mereka. Yang sudah terlanjur aneh dan kaku.

“maafkan aku Irene..”

Irene tersenyum simpul. “tidak ada yang salah Ken, tak ada yang perlu dimaafkan. Mungkin memang hubungan kita harus berjalan seperti ini.”—itu adalah kalimat terpanjang yang Irene ucapkan sepanjang pagi ini.

“apa yang harus kulakukan agar hubungan kita bisa kembali seperti dahulu?”

Ken membuang jauh-jauh sifat ceria yang selama ini melekat pada dirinya. Karena hanya Irene lah yang paling mampu menjungkir balikkan hatinya. Hanya melihat sosoknya saja sudah membuat rasa bersalah itu semakin menghujam jantungnya. Irene hanyalah gadis polos yang setiap hari berushaa memaklumi segala kesibukan  dan sikap acuh Ken.

Dan kali ini hal yang paling Ken takutkan akhirnya terjadi. Yakni ketIka Irene mulai lelah dnegan hubungan mereka.

Dalam lubuk hati yang terdalam rasa cinta itu masih sama besarnya seperti dahulu. Namun tampak Irene sudah menghabiskan tegukan terkahir the hijaunya, hingga kini sorot mata sayu Ken tertuju pada cangkir yang telah kosong. Hatinya semakin teriris ketika cangkir miliknya masih penuh.

Ia masih ingin berlama-lama menghabiskan waktu bersama Irene, berbanding terbalik dengan keinginan gadis itu yang inin cepat-cepat meninggalkannya.

“aku tidak tahu hubungan masa lalu seperti apa yang kau maksud Ken? Maksudmu hubungan dimana hanya aku yang berusaha menghubungimu? Atau hubungan seperti kau yang selalu mengacuhkanku?” Kali ini perkataan sarkatis Irene benar-benar  bermaksud untuk menyakiti hati Ken. Ia telah banyak berkorban dalam hubungan mereka, tak adil rasanya jika Ken tak merasakan rasa seperti sakit hati seperti yang sudah sering Irene alami.

“jadi separah itu kah keadaannya?” Ken tertawa hambar. Tak mungkin membujuk Irene. Gadis itu tengah serius dengan ucapannya, juga keputusannya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri—hal yang Ken tahu tak pernah Irene ingin sebelumnya.

Irene mengemasi buku-bukunya. Pembicaraan ini semakin tak berguna rasanya.

“kali ini terserah apa keputusanmu Ken, aku sudah lelah selalu menjadi seseorang yang mencoba bertahan di ujung dek perahu. Kau tahu, Aku tak sekuat itu.”

“aku pergi..”

Irene menegakkan tubuhnya. Ia mengembangkan senyum terakhir kalinya sebelum ia berbalik.

Bagaimanapun, semarah apapun ia pada Ken,, namun fakta bahwa Ken adalah laki-laki yang pernah membuatnya bahagia, membuat degub jantungnya berdetak berkali-kali lipat, dan mencintainya tak pernah bisa dipungkiri. Dan Ken adalah laki-laki yang pernah memberinya sebuah keyakinan dimana cinta mampu menghadapi berbagai rintangan, kendati keyakinan bodoh itu entah hilang kemana sekarang ini.

Kenyataannya cinta tak mampu menghadapi berbagai rintangan seperti yang ditulis oleh filsuf filsuf dan penyair. Cinta hanyalah omong kosong ketika hanya satu pihak yang mempertahankannya.

Dan Irene lebih memilih untuk pergi. Cangkir tehnya yang kosong lebih cepat harusnya menjadi sebuah pertanda yang dapat ditangkap oleh Ken, bahwa ia ingin meninggalkan laki-laki itu secepat mungkin. Demi dirinya dan juga Ken.

Ken hanya memandangi kepergian Irene dengan sedikit sesal. Manik matanya tertuju pada isi kedua cangkir yang terlihat amat kontras, yang terlihat adalah keinginan Irene untuk terbebas dari hubungan mereka. Kemudian, Sebuah senyum hambar terlukis di bibir lelaki tampan itu.

Sepertinya perpisahan adalah jalan terbaik untuknya dan Irene.

 

END.

 

special thanks buat Jeng Alana dan ide cemerlangnya,, aku request lagi boleh khan? kkkkk

 

Next is our precious visual Hongbin!

Advertisements

4 thoughts on “[VIGNETTE SERIES] Love is … (The Fallen Leaf)

  1. Akhirnya aku bisa juga mampir ke sini, setelah menunggu sekian waktu lamanya. Bener kata primbon, aku harus menunggu hari dan tanggal yang bangus untuk membaca ff ini.

    merinding aku bacanya. hatiku seperti tertusuk-tusuk, tertindih-tindih, terdesek-desek, tergesek-gesek, terciprat-ciprat dan terhempas sama seperti daun yang ditrbangkan angin terus jatuh ke tanah dan terinjak kaki dan nempel di bawa masuk ke rumah terus di marahin, bawa sampah ke rumah. / halah/

    aku ga nyangka ide orang stress di jadiin kayak gini. jadi terhura dan tersanjung. melayang aku… keren, Jeng Arin Ravi.

    kayaknya pas baca itu, aku lagi duduk di depan mereka, nonton mereka ngobrol terus bantuin Irene minum tehnya, jadi tehnya Irene cepet habis. mau minum punya Ken , di pelototin melulu. Ken galak banget.

    halah ngelantur lagi. beginilah kalo orang stress. pokoknya keren sekali. aku jadi pengen gantiin Irene buat Ken. Ya ken lupakan sudah Irene. ntar aku bikinin teh lagi, tapi cangkirnya ga kembang-kembang, gambarnya Pokemon aja. biar seru. atau Bakugan.

    Sekian Jeng Arin, komentar ga penting ini.ntar aku aktipin lagi WA ku supaya bisa ngobrol lagi masalah ide, siapa tahu kalo sama Hongbin bisa membicarakan masalah diary. begitu. Diary yang ketahuan dan terbaca oleh si Cewek. hahah..

  2. titip spot dulu..ya ampun ini yg waktu itu… aduh beneran di bikin. olalala….ntar sore aku bacanya. maklum baru kembali ke dunia goib ini.

  3. Huweeh…huweeh…
    Kenjumma ngapain sia-siain cewek kek Irene T^T ditinggal pergi noh skarang :’)

    uhuk yang ini ngena banget sumpah “Cinta hanyalah omong kosong ketika hanya satu pihak yang mempertahankannya.”

    Fix aku terhura karna ini series /nunggu Hyuk ver/
    can’t wait for next series >_< *mulai bayangin Hongbin yang topless*

    Ganbatte senpai ❤ ❤ ❤

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s