[CHAPTER 2] VOILER LA VÉRITÉ

1446914659784

 

Apreltian’s present

Kim Myungsoo | Bae Sooji | Jung Soojung

Featuring

Ji Saehyun | Jeon Jungkook | Other’s

Sad-Romance | Angst | Family | Friendship

Chaptered

PG-15

Disclaimer

Cast belong GOD, their parents and agency, but OC aren’t. The story and plot are mine. So, don’t be a plagiat guys. If you don’t like with this story or maybe ‘cause a pairing that I using in this story, it’s so easy! Just don’t read it!

 

WARNING!!!

Typo everywhere… ‘cuz I’m THE QUEEN OF TYPO Hahahah

Dan karakter castnya OOC banget!

 

Poster by Yuna Lazuardi Lockhart

Fanfict ini juga pernag dipost disini

Tak selamanya sebuah ikatan akan mengikat cinta selamanya

***

 

Previous Chapter :

“Saehyun-ah…”

 

“Sudah kubilang berapa kali padamu kan, kau harus rajin untuk mengunjungiku. Dia sudah semakin tumbuh besar sekarang, eonnie.”

 

“Maafkan aku, Saehyun-ah…”

 

“Jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada dirimu sendiri.”

 

BRUKKKKK!!!!

 

“Maaf, aku buta. Jadi tidak bisa melihat kehadiranmu. Sekali lagi aku minta maaf.”

 

 

***

 

 

Chapter 2 :

Seorang suster muda berlari diantara kesibukan orang-orang yang melanda Wooridul. Dengan sangat tergesa-gesa ia membuka sebuah pintu ruangan dokter,

 

“Ji songsaengnim! Ada kabar buruk!”

 

 

***

 

 

Mwo?!!!” Saehyun tercengang mendengar kabar mengejutkan yang disampaikan suster tadi.

“S-suster Yoon, benarkah itu? Ma-maksudku pendonornya menghilang? Ah, bukan! M-ma-maksudku donornya yang telah hilang?!” saking terkejutnya, Saehyun sampai tak bisa mengucapkan kalimat dengan jelas.

 

Ne,Ji ssaem. Aku dengar donor yang sudah disiapkan untuk operasi yang akan kau laksanakan telah dicuri oleh seseorang yang tak dikenal, dokter.” Sesal suster yang diketahui bernama Yoon Moura itu.

 

“Tidak mungkin… bagaimana ini, bahkan aku sudah menyuruhnya untuk segera memulai rancangan pemeriksaan sebelum operasi…” Keluhnya terlihat frustasi.

 

Kreeeeet

 

Pintu ruangan Saehyun terbuka, memperlihatkan seorang pemuda tampan yang nyaris sempurna dengan balutan kemeja biru laut dan jas dokternya yang melekat indah ditubuhnya, ditambah tubuhnya yang bisa dibilang cukup proposional.

 

Dilihatnya saehyun tengah menunduk sembari menjambak frustasi rambut sebahunya dengan kencang.

 

“Saehyun-ah… Ah, maaf suster Yoon, bisa kau tinggalkan aku dengannya?” Pinta dokter muda tadi pada suster Yoon. Ada rasa tak enak hati karena ia mengusir suster Yoon secara tidak langsung.

 

Ne, kalau begitu saya permisi dulu, dok…” suster Yoon membungkuk sekilas dan segera setelahnya ia melangkah ke luar dari ruangan Saehyun.

Selepas kepergian Suster Yoon, dokter muda nan tampan itu menghampiri Saehyun yang masih setia dalam posisi terakhirnya.

 

“Ada apa, Jeon? Aku sedang tidak ingin bicara sekarang ini.” Sergah Saehyun sebelum pemuda tampan yang ia panggil Jeon itu bicara, tanpa mengubah atensinya dari meja datar berwarna cokelat yang ia jadikan sandaran tangannya.

 

“Maaf tapi, aku hanya ingin mendiskusikan sesuatu denganmu…” pinta dokter muda itu dengan tulus terdengar dari suaranya yang lirih nan merdu.

 

Tak ada jawaban atau pergerakan apappun dari Saehyun. Gadis itu masih saja setia dalam posisinya.

 

Merasa tak ada tanggapan, akhirnya pemuda Jeon itu mengeluarkan suara kembali. “Saehyun-ah aku sudah tau semuanya, tapi-“

 

“AHH WAE?!!” sentak Saehyun, posisinya kini telah berpindah menatap tepat dikedua manic hitam legam nan teduh pemuda dihadapannya yang terlihat terkejut akan nada kasar dan tinngi yang Saehyun keluarkan.

 

“Ah, maaf bukan maksudku ingin menyinggungmu, tapi… Ah iya, hasil test dari Lab sudah keluar. Ini…” dokter Jeon menyodorkan sebuah amplop putih berukuran sedang dengan logo Lab rumah sakit tempatmya mengabdi itu.

 

Saehyun mengambilnya dari tangan dokter muda yang tampan itu dan langsung membuka amplop tersebut.

 

 

***

 

 

Kliriiiiiing…

 

Bunyi bel tanda ada penghujung datang sebuah kafe sederhana dikawasan Myeongdeong.

 

Seorang gadis cantik dengan tongkat besi ringan ditangan kirinya melangkahkan kaki jenjangnya memasuki kafe tersebut.

 

“Selamat datang di Vina Café…” sapa salah satu penjaga kasir ber-name tag Lee Hana dengan senyum khasnya yang merekah.

 

Gadis itu membungkuk mengikuti arah asal suara tadi.dan melangkah ke depan kasir hendak memesan sesuatu.

 

“Maaf, ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya sang pegawai.

“Ah iya, aku ingin pesan satu cup coffee.”

“Silahkan pilih menunya, Nona.”

“Maaf, tapi aku… tidak bisa melihat…” dengan nada yang sangat lirih, Soojung-gadis cantik tadi memberitahukan kekurangannya.

“Ah, maaf aku tidak tau… Eum, baiklah aku akan bacakan daftar menunya.”

“Terima kasih…”

 

 

Disinilah ia sekarang. Duduk seorang diri ditengah keramayan taman di kawasan Myeongdeong sembari menyesap coffeenya. Dengan pandangan yang kosong, begi pun dengan pikirannya yang entah kemana.

 

Dengan sangat tiba-tiba, otaknya memutar kembali sebuah memori yang bahkan tak ingin ia ingat. Ingatan tentang kejadian memilukan baginya. Saat dimana ia mendadak tak mampu lagi melihat indahnya dunia, bahkan secercah cahanya pun tak bisa ia lihat. Yang ia bisa, hanya merasakan sentuhan dan mendegar bebunyian.

 

Ya, Soojung bukanlah seorang gadis dengan kebutaan dari lahir. Namun, sebuah kecelakaan merenggut cahayanya. Sekitar beberapa bulan yang lalu.

 

Soojung sudah tak sanggup lagi menahan air matanya yang sedari tadi sudah terkumpul dipelupuk matanya. Kini wajah cantik nan mulusnya telah ternodai dengan buliran-buliran air mata yang sedari tadi berkumpul dipelupuk matanya.

 

Sungguh hatinya sangat sakit jikalau mengingat kembali kenangan pahit itu. Bagimana saat kecelakaannya, saat ia Nampak tak terima dengan diagnosa dokter yang menyatakan bahwa ia mengalami kebutaan total, atau saat hari-hari di awal masa kegelapannya yang sangat membuatnya frustasi.

 

Sampai pada suatu ketika, merasa tak sanggup lagi untuk menjalani kehidupan dalam kegelapan, Soojung pernah mencoba ingin bunuh diri, mengakhiri hidupnya yang gelap dan kelam.

 

Beruntungnya saat itu, ada seseorang yang mencegahnya. Seseorang yang sangat speduli padanya. Tapi itu dulu. Jauh sebelum Soojung tau kalau lelaki yang selama ini peduli padanya dan sedikit-demi-sedikit bisa membuatnya tegar dan tabah mengahadapi cobaan yang begitu berat baginya itu adalah salah seorang penyebab kebutaannya.

 

Hingga akhirnya Tuhan mempertemukannya dengan seorang pemuda tampan nan gagah-menurut instingnya, yang sangat peduli padanya. Seorang dokter muda di Rumah Sakit yang sering ia datangi untuk sekedar check up.

 

“Aah, bahkan sekarang aku merasa bahwa aku merindukannya. Hufth…” Soojung menghela nafasnya, sedetik kemudian sebuah lengkungan manis terukir dibibirnya.

 

“Jeon ssaengseongnim… Hmmmh… Johayeo…” Soojung kegirangan.

 

***

 

Ige m-mw-mwoyaaa??? Tidak mungkin… in-ini pasti salah kan? Hasil testnya salah kan? Jawab aku Jung…” Saehyun menyerang Jungkook dengan berbagai pertanyaan dengan jawaban yang sama, sebenarnya. Ia bahkan sampai bangkit dari duduknya menghampiri si pemuda bermarga Jeon itu.

“Tidak, Saehyun-ah… hasilnya memang seperti itu… sungguh, aku turut menyesal mengetahui hasilnya.”

 

Eo-eon-ni-ee… hiks… hiks…”

Saehyun mulai terisak. Ia sudah tak bisa lagi menahan tangisnya. Tangannya yang memegang kertas hasil lab bergetar hebat. Dengan sigap Jungkook segera merengkuhnya kedalam pelukannya dengan hangat. Seakan ia juga ikut merasakan kesedihan dan kekcewaan yang dialami oleh orang yang ia cintai. Ya. Tanpa sepengatuhan Saehyun, Jungkook diam-diam menaruh perasaan padanya.

 

Diusapnya dengan lembut puncak kepala gadis itu. Berusaha menyalurkan kehangatan yang ia miliki agar bisa menenangkan gadis pujaannya tersebut.

 

“Kenapa? KENAPA HARUS SEPERTI INI?!!” Saehyun berteriak disela-sela isakkannya. Masih dalam posisi yang sama.

 

“Tenanglah…”

 

Dengan segera, Saehyun melepaskan diri dari pelukan Jungkook dengan kasar. “Mwo? Apa kau bilang?”

 

“Saehyun-ah

 

“Enak saja kau! Kau tau, selama ini aku selalu berjuang dengan keras agar bisa membantunya, ta-tapi… ARRGGGHH!!! KAU TIDAK MENGERTI, JUNG!!!”

ARRAYEO! AKU TAU! Aku mengerti apa yang kau rasakan sekarang, Saehyun-ah karena aku juga pernah mengalaminya.” Jungkook mengakhiri kalimatnya dengan nada lirih, bahkan sangat.

 

Saehyun terdiam…

 

“Aku… aku tidak bisa menyelamatkan kakakku sendiri…”

 

“Bahkan… dia… dia mati… merengang nyawa… menahan sakitnya… DIDEPAN MATAKU SENDIRI, JUNG SAEHYUN!!!”

 

Saehyun terkejut mendengar penuturan dari Jungkook. Dilihatnya Jungkook mulai meneteskan air matanya…

 

 

 

 

To Be Continued…

 

Aprel’s Note :

Adakah yang nunggu fanfict absurd ini?? /gak ada/ /peluk kuki/

Maaf ya kalau hasilnya tidak seperti apa yang diharapkan… karena jujur, aku cukup pening-pusing-kleyengan(?) karna pas bikinnya itu pas abis uts.. maklum udah masuk semester atas jadi gitu deh utsnya… memusingkan euy…

maaf juga ya lama tak posting, aku baru terbangun dari sakit heheh curhat

ya udahlah ya, mau gimana lagi, ini lah hasilnya hihi /maafkeun maafkeuun…/ Maaf yaaa kalau kependekan… ^^

 

Eits! jangan lupa tinggalkan jejaknya yooo…

 

/bbuiingbbuiing/ ^^

 

 

Advertisements

6 thoughts on “[CHAPTER 2] VOILER LA VÉRITÉ

  1. Whoahhh… ini kenapa bau baunya sad yaa ? Mencurigakan. Tp msh ttp blm jelas mau dibawa kemana ceritanya. Udh gitu scene main castnya dikit bingiittt… minta ditambahin… yg banyaaakkk…wkwkwk fighting!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s