[ Oneshoot ] Summer Memories

summer memories_bebi

Summer Memories©

Ravi – VIXX | Irene – RV | Teens | OS | Hurt | Romance | lil bit comedy

written by

p i n k s u m m e r

(!) ditulis dengan kemampuan diksi yang minim

hope you still enjoy~

but, sorry if you still find typo[s]

***

“Sometimes I wonder have a time machine and playback

 my Summer memories…”

***

“Sudah lama kau tidak mengunjungi Kakekmu bukan? Dia pasti sangat merindukanmu…lagipula ini adalah Musim Panas cuaca di Jeju sangat bagus kau pasti akan suka.”

Irene mendesah pelan lewat kaca jendela bus, iris aquamarinenya menelusuri hamparan ladang gandum yang dia lewati sepanjang perjalanan. Berkat kata-kata Ibunya itulah dia sekarang berada disini, di dalam bus yang sebentar lagi akan membawanya ke Desa kecil yang ada di Pulau Jeju.

Menghabiskan sisa liburan musim panas di Jeju bukanlah pilihan yang salah, Jeju adalah pulau yang cantik dengan pantai indah dan landscape yang memanjakan mata tapi dengan setumpuk tugas Sekolah yang belum dia selesaikan, Irene tak benar-benar bisa menikmati liburannya.

Menutup buku sejarah dipangkuannya, Irene membuka kaca jendela bus membiarkan rambut coklatnya tertiup angin. Sudah lama rasanya Irene tak mengunjungi Kakeknya di Jeju, mungkin sudah dua tahun yang lalu sejak asma Kakeknya mulai kambuh.

“Ya! Aggashi tolong tutup jendelanya, kau membuat rumput lautku jadi beterbangan!” protes Ajjuhma yang duduk disebelah Irene.

Irene segera menutup kembali jendelanya dan meminta maaf, “Aa…maafkan aku…maafkan aku.” ucapnya berulang kali, dia lupa jika ini bukan Seoul melainkan salah satu desa kecil di Jeju yang dimana rata-rata penumpang busnya adalah para lansia dengan semua hasil laut dan bumi.

Irene baru bisa mendesah lega saat bus menurunkannya di tempat tujuan, sebuah rumah sakit kecil dimana Kakeknya saat ini dirawat. Pamannya bilang untuk langsung pergi ke rumah sakit daripada harus ke rumah dulu.

Rumah sakit dengan dua lantai, terlihat teduh di musim panas ini. Halamannya ditumbuhi bunga baby breath dan bunga matahari seolah menyiratkan sekali bahwa ini adalah musim panas.

“Bae Min Ho? Ahh…dia ada di kamar nomor delapan belas. Silahkan lurus lewat ke koridor sebelah sini, Aggashi.”  seorang perawat dengan senang hati menunjukkan jalan ke kamar Kakeknya dirawat saat Irene bertanya.

Jadi dengan langkah ringan membawa sekeranjang jeruk yang dia beli di pelabuhan Irene bersenandung pelan mencari kamar Kakeknya dirawat, dia pasti senang dengan kedatangan cucu kesayangannya ini.

“Kakek! Ini aku cucu kesayanganmu dataaang!!” seru Irene riang setelah menjeblak membuka pintu salah satu kamar. Tapi tiga detik setelahnya dia mengerjap-ngerjapkan matanya saling tatap dengan orang yang—jelas bukan Kakeknya—duduk diranjang. Rambut pirangnya tertutup sedikit oleh snapback merah dan meskipun tangannya ditusuk jarum infus dia terlihat santai dengan mackbook dipangkuannya.

Keheningan sesaat itu dipecahkan oleh suara berat namja itu, sambil menatap memicing kearah Irene. “Kau bukannya…”

Tapi sebelum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Irene sudah membungkukkan badan dan cepat-cepat pergi sambil merutuki kebodohannya yang tak bisa membedakan angka tujuh belas dan delapan belas.

***

“Aaah…itu sangat memalukan Kakek! Hampir saja aku berlari memeluknya tadi.” cerita Irene sembari mengupas kulit jeruk disamping ranjang Kakeknya.

Kakeknya hanya tertawa mendengar cerita perjalanan cucunya, Kakek Irene menderita penyakit asma dan sewaktu-waktu dia bisa pingsan karna kesulitan bernafas jadi untuk sementara dia berada di Rumah Sakit menjalani perawatan.

“Bocah itu juga dari Seoul, dan rasanya kalian satu Sekolah bukan?” kata Kakeknya, yang dibicarakannya adalah anak laki-laki dari kamar sebelah.

Irene mengangguk, “Iya…tapi aku tidak begitu mengenalnya, selain itu aku tidak tahu kalau dia bisa ada disini.”

“Hmm…bocah itu setiap musim panas selalu menjalani perawatan disini, kalau tidak salah rasanya dia sakit apa yaa…?”  gumam Kakek Irene berusaha mengingatnya.

Irene mengibas-ngibaskan tangannya, “Sudahlah Kakek…daripada membahasnya sebaiknya dengarkan saja ceritaku, oeh?” dan Irene pun mulai berceloteh tentang kegiatannya di Sekolah juga teman-temannya.

Bercerita dan menggambar adalah hobi Irene, dia bisa lupa waktu jika sudah bercerita. Beruntung seorang perawat mengingatkan Irene bahwa Kakeknya butuh waktu untuk istirahat jadi dia terpaksa melanjutkan ceritanya besok.

“Bye…aku akan kesini lagi bersama Paman.” ujarnya sebelum pergi dan Kakeknya hanya mengangguk tersenyum.

Langkah kaki Irene terhenti sebentar di depan kamar nomor tujuh belas dengan label nama Kim Ravi. Nama yang tak asing bagi Irene karna dia sering melihatnya pada daftar nama anak yang absen pada kemah musim panas Sekolah.

“Pantas saja dia tak pernah ikut kemah…ternyata dia disini?” desahnya pelan. “…tapi kenapa dia harus pergi ke Jeju untuk berobat?”

“Karna rumah sakit ini punya kebun bunga matahari yang cantik…”

Irene terlonjak oleh suara berat dibelakangnya dan saat menoleh dia mendapati penghuni kamar nomor tujuh belas, tersenyum lebar padanya. Meskipun menggunakan piyama rumah sakit dia samasekali tak terlihat seperti orang sakit, bahkan untuk ukuran orang yang rutin ada di rumah sakit dia terlihat fashionable dengan snapback yang dipakainya.

“Oh? Kau membawa pr musim panasmu?” dia melirik buku sejarah dan kertas gambar dalam dekapan Irene.

*

Irene tak tahu bagaimana bisa dia ada disini, di kamar nomor tujuh belas. Dan dia juga tak pernah tahu bahwa seorang Kim Ravi sangat pandai menggambar. Dia tak pernah bicara dengan Ravi sebelumnya, mereka satu Sekolah dan satu angkatan tapi berbeda kelas. Yang dia tahu tentang Kim Ravi adalah dia orang yang cukup populer tapi tak pernah terlibat dalam kegiatan Sekolah, sejenis orang yang kehadirannya hanya bisa disadari oleh orang-orang terdekat.

Dari cerita Ravi sendiri, Irene jadi tahu alasan Ravi tidak pernah terlihat dalam kemah musim panas Sekolah, dia selalu menjalani pengobatan untuk jantungnya disini, di Rumah Sakit terpencil pulau Jeju.

“Huwaah…kau bisa jadi seorang pelukis jika kau mau.” puji Irene terpana dengan kemahiran Ravi menggoreskan pensil diatas kertas gambar.  Irene bahkan tak sadar sampai mencondongkan tubuhnya ke ranjang Ravi terlalu jauh.

“Oii…oii…kau menekan badanku, bodoh!” protes Ravi. Irene hanya nyengir dan kembali pada posisinya tadi yang duduk disisi ranjang Ravi. “Kau ‘kan ikut club melukis, hal seperti ini saja kau tidak tahu.”  ternyata selain pandai menggambar, Irene jadi tahu bahwa Ravi adalah orang yang jahil dan suka mengumpat.

Irene menopang dagunya dengan kedua tangan memperhatikan Ravi menyelesaikan gambar sketsa bunga matahari, “Sejak kapan kau mulai datang kesini?—Ngg…aku hanya bertanya jika kau keberatan itu tidak…”

Ravi menoleh dan tersenyum sebentar, “Daripada bertanya aku sakit apa, kau sepertinya lebih penasaran dengan alasanku memilih rumah sakit ini.”

Irene menjulurkan lidahnya, “Apa peduliku kau sakit apa? Ada begitu banyak rumah sakit di Seoul tapi kau jauh-jauh pergi ke Jeju, menurutku itulah yang aneh—Aww?!” Irene meringis pelan mengusap keningnya yang baru saja disentil Ravi.

“Aku sudah mengatakannya tadi…” tangan kiri Ravi bergerak untuk membuka tirai jendela disamping ranjangnya, dan terlihatlah langit sore yang menjingga dan hamparan bunga matahari yang luas. “…bunga matahari disini sangat cantik.”

Benar kata Ravi, bahkan pemandangan ini lebih dari cantik. Angin sore berhembus lembut melewati celah-celah jendela yang terbuka membuat tirai jendela melambai tertiup angin.

“Cantik bukan?” kata Ravi tersenyum memandang keluar jendela, “Pada saat musim panas di sore hari adalah waktu yang tepat untuk melihat kebun bunga matahari ini…” ada nada sendu terselip di dalamnya membuat hati Irene sedikit terenyuh karna bagaimanapun juga Ravi adalah orang sakit.

Ravi kembali beralih pada Irene dan tersenyum, sungguh senyuman Ravi dengan latar belakang hamparan bunga matahari dan langit jingga adalah hal terindah sekaligus rapuh yang pernah Irene lihat.

“Nih, punyamu sudah jadi.” ujar Ravi mengembalikan kertas gambar Irene dan alam bawah sadarnya. “PR sejarahmu sudah selesai belum?”

“Ng?”

“Kalau belum kau bisa datang lagi kesini.” katanya sok kebapakan dan menepuk puncak kepala Irene pelan.

Irene cepat-cepat beringsut dari tempat duduknya dengan semburat merah dipipinya, “A-aku memang akan datang kok! Tapi datang untuk Kakekku tahu!”

Ravi mendengus tertawa, “Lalu kenapa wajahmu jadi merah begitu?”

“Ya! I-ini karna sinar matahari tahu! Sinar matahari!” kilah Irene dengan wajah yang entah kenapa semakin memanas tapi itu jelas bukan karna sinar matahari.

***

“Kau bilang kau tidak akan datang?”

Irene membuang wajahnya kearah lain sambil mendekap buku sejarahnya, “A-aku hanya habis mengunjungi Kakek ku dan ngg…karna kau tidak melihat ada yang menjengukmu jadi aku ngg…ngg…Aah sudahlah! Harusnya kau berterimakasih ‘kan ada gadis cantik yang menjengukmu!”

Ravi mendengus geli mendengar kalimat terakhir Irene, “Aku tidak butuh gadis cantik…aku butuh gadis sexy.” kekehnya membuat wajah Irene terasa panas.

Irene menggelembungkan kedua pipinya menolak untuk bicara lagi, jadi dia hanya duduk menyaksikan Ravi yang tengah menghabiskan makan siangnya di ranjang. Di dorong oleh rasa penasaran pada makanan Ravi yang menurutnya sama sekali tidak enak, dia akhirnya buka suara.  “Kau makan ini setiap hari?”

“Ng?” Ravi menoleh setelah menyuap potongan pare rebus dengan sumpit kemulutnya dan sukses membuat Irene bergidik, rasanya pasti sangat pahit. “Huwee? Kau mau? Ini baik untuk jantung tahu…” kata Ravi santai, bahkan dia menyodorkan potongan pare yang dijepit sumpit kepada Irene.

Irene membuat gerakan muntah untuk menolaknya, “Tidak, terimakasih jantungku masih baik-baik saja.”

Ravi tertawa pelan, entah kenapa terdengar begitu miris. “Kalau begitu kau orang yang cukup beruntung.” ujarnya.

“Separah itukah?”  tanya Irene hati-hati, sungguh Ravi tidak terlihat mempunyai sakit apapun, mungkin ini semua karna efek wajah cerianya yang selalu tertawa. Ravi juga sepertinya sangat terkenal di Rumah Sakit ini, terbukti para Dokter dan perawat yang disini selalu membicarakan tentang keceriaan yang dia bawa selama di Rumah Sakit.

Ravi kembali beralih ke nampan makan siangnya yang tinggal setengah, sementara Irene masih menunggu dan setengah menyesal sudah mempertanyakaan pertanyaan seperti itu pada Ravi, jadi dia menundukkan kepalanya dan mengucapkan kata maaf dengan pelan.

“Hahaha…kenapa kau minta maaf?—Ahh sore ini kau tidak acara bukan?”

“Nee?”

Ravi tersenyum lebar dengan mata berkilat semangat, “Aku akan menunjukkan sesuatu yang hebat padamu.”

***

Irene tidak menyesalinya, dia bahkan bersyukur memutuskan untuk menghabiskan sisa liburan musim panasnya di Jeju dengan tambahan seorang tour guide, Kim Ravi.

Ravi telah mengajaknya ke perbagai tempat di penjuru desa, ke sungai mencari ikan, mencuri tebu di kebun, berburu kunang-kunang dekat hutan pinus, bermain petak-umpet di hamparan bunga peony  atau hanya duduk diatas bukit menikmati indahnya bunga matahari yang mekar sempurna. Tapi itu semua dilakukan sembunyi-sembunyi karna bagaimanapun juga, Ravi adalah seorang pasien rumah sakit.

Selama itu pula Irene jadi mengenal sosok seorang Kim Ravi yang tak pernah dia tahu sebelumnya.  Siapa yang menyangka jika Ravi ternyata bercita-cita menjadi seorang Dokter? Atau ternyata dia cukup pandai bernyanyi? Irene bahkan dibuatnya terpana saat Ravi dengan nekat bernyanyi di sebuah kedai ramyeon dekat Rumah Sakit.

Dan Irene pun mulai bisa melihatnya, kondisi tubuh Ravi yang lemah. Dia tak bisa berlari terlalu lama, saat mereka bermain petak umpet pun Irene dibuat panik karna Ravi tiba-tiba pingsan dengan wajah pucat.

Irene hanya mampu menangis kencang melihat Ravi yang terbaring lemah di ruang ICU dengan semua alat bantu pernapasan kala itu, dan berpikir semua adalah salahnya. Sesaat dia pikir Ravi akan meninggalkannya untuk selamanya. Jadi saat Ravi kembali mengajaknya untuk bermain maka Irene akan menolaknya mentah-mentah. Dia tak ingin melihat Ravi dalam keadaan tak berdaya seperti itu, rasanya sesuatu dihatinya tersayat hanya dengan memikirkan bahwa Ravi bisa meninggal kapan saja.

Angin sore berhembus lembut diatas bukit, membuat batang-batang kurus bunga Matahari bergerak tertiup angin, terlihat seolah bunga-bunga kuning itu menari menghantarkan mentari yang sebentar lagi kembali ke peraduannya.

Irene duduk mendekap kedua lututnya, memandang semua keindahan ini dengan rakus karna besok dia sudah tak dapat melihatnya lagi. Masa liburannya sudah habis, Seoul juga Sekolah sudah menunggunya. Untuk pertama kalinya, dia ingin agar masa liburan di perpanjang karna meninggalkan semua ini hanya membuatnya sedih.

“Nikmatilah selagi kau bisa…”

“Hmm…kau benar.” gumam Irene mengiyakan ucapan Ravi yang duduk di sebelahnya, beralaskan rumput berdua menemani tenggelamnya Matahari. Dia menoleh ke direksi Ravi dimana Ravi sendiri ternyata diam-diam juga melirik kearah Irene, jadi Irene cepat-cepat kembali menoleh kearah lain. “Eheem…k-kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Irene gugup.

“Oeh…setelah dipikir-pikir Gadis cantik jauh lebih menarik daripada Gadis sexy.”  sahut Ravi dengan nada menggoda, sesuai harapannya selain rona merah dilangit, rona merah juga menghiasi pipi Irene.

“Aiishh berhenti menggodaku, dasar bodoh!” Irene memukul-mukul pelan bahu Ravi, karna dia tak ingin melukai orang yang dia sukai.  Ya, entah sejak kapan dia mulai menyukai semua hal tentang Kim Ravi, senyumnya, cara uniknya saat memaksa Irene untuk makan pare, kehangatan genggaman tangannya, atau hal kecil lainnya dari Ravi yang tanpa sadar membuatnya jatuh hati.

“Hiks…hikss…”  Irene menghentikan gerakan memukulnya, tangannya yang terkepal hanya mengambang tak jelas di udara. Dia menangis karna harus pergi meninggalkan Jeju dan namja yang mulai menarik hatinya begitu jauh, Kim Ravi. “Hiks…hiks… dasar bodoh…bodoh…bodoh…” gumamnya tak jelas, entah ditujukan untuk siapa.

Sisa tawa diwajah Ravi pun perlahan memudar, bagaimanapun juga Irene adalah satu-satunya teman yang dia punya selama di Rumah Sakit selain pasien yang lain. Dia bisa mengerti apa yang Irene rasakan padanya saat ini, dia bukanlah tipe namja yang tak peka dengan perasaan seorang gadis.  Tangan kanannya yang dipenuhi bekas suntikan jarum perlahan bergerak untuk menepuk-nepuk pundak Irene. “Jangan menangis…berhentilah menangis…”

Irene segera mengusap airmata di pipinya dengan punggung tangan, sadar bahwa menangis adalah hal yang memalukan. “Berjanjilah padaku, bahwa besok kita akan bertemu di Sekolah.”

Ravi tersenyum tipis dan menggeleng pelan, “Besok aku akan menjalani transplantasi jantung baru…”

Irene tercekat, transplantasi? Bukankah itu berarti operasi?

“Semuanya akan baik-baik saja…” ucap Ravi masih bisa terkekeh, mengusap sisa airmata diwajah Irene dengan ibu jarinya. “…simpan airmatamu untuk pemakamanku, hm?”

Irene sudah berniat membuka bibirnya untuk protes, tapi sesuatu yang lembut dan hangat menahannya. Anehnya, Irene tak menolaknya dia ingin menikmatinya sisa-sisa kehangatan Ravi lewat bibirnya. Perasaan Irene membuncah tanpa dia minta, saat itulah dia tahu bahwa perasaannya terbalaskan.

Bersamaan dengan senja yang menggantung dilangit, Irene akan mengingat semuanya. Semua kenangannya Musim Panasnya, lembut dan hangatnya ciuman pertamanya yang basah oleh airmata.

***

Seoul, Seika High School

“Fuaah…”

Irene mengusap pelan keningnya yang bercucuran keringat, minggu ini sudah memasuki musim gugur, peralihan dari musim panas ke musim dingin. Pekerjaan menyapu daun-daun kering di halama Sekolah yang membuat Irene menjadi berkeringat.

“Arhh…aku benar-benar menyesal ikut club berkebun bodoh ini!” sesalnya melempar sapunya ke tanah, dan angin yang berhembus kencang menerbangkan daun-daun kering yang sudah dia sapu membuatnya berteriak geram.

Tapi salahnya sendiri yang memutuskan masuk ke club berkebun tahun ini, dimana artinya mengorbankan diri sebagai pengurus halaman Sekolah. Irene juga masuk kedalam club Basket Sekolah dan belajar bernyanyi pada temannya, Wendy. Selain itu dia juga belajar keras memperbaiki nilai Biologinya yang hancur agar kelak bisa masuk ke Universitas Kedokteran.

Benar, tanpa sadar Irene telah mengikuti jejak Ravi selama di Sekolah. Masuk ke dalam club yang Ravi ikuti, juga mengambil concern materi yang sama dengannya. Hati kecilnya selalu membawanya untuk mencari sisa-sisa keberadaan Kim Ravi.

Hampir sebulan berlalu sejak Sekolah kembali di mulai setelah libur Musim Panas, selama itu pula Ravi absen tak ada kabar. Irene sendiri terlalu takut untuk menghubungi-nya, takut jika kemungkinan buruk yang tak dia inginkan benar-benar terjadi. Demi menenangkan hatinya, Irene memutuskan untuk melupakannya dan pura-pura bahwa tidak pernah terjadi apapun meskipun kenangan Musim panas itu selalu menari-nari di kepalanya.

Hei…Tuhan, bisakah kau kirimkan aku sebuah mesin waktu?

Aku ingin memilikinya agar aku bisa mengulang

Kenangan Musim Panasku…

Lembut dan hangatnya ciuman pertamaku

Aku tidak ingin melupakannya…

***

The end


Author note

Huwaah…huwaah…

akhirnya bisa bikin FF yang serius gak ada gesrek-greseknya /?/

setelah diliat-liat jadi malu dan pengen masuk ke lubang kelinci T^T

Ini FF genre hurt pertama, and i have no idea about that karna jujur gak suka genre hurt paling takut baca klo udah pake embel-embel hurt-nya takut mewek dan kepikiran, i hate sad ending T^T /terakhir kali baca ampe mewek dan kepikiran hikss…meskipun udah secara special dibikinin jdi happy end/ Tapi akhirnya berani bikin juga dengan otak gesrek ini maka jadilah FF hurt absurd diatas huweeh…

Bagi aku VIXX tu kayak anggote rookies 7 + Kazekage.. Leo itu Sasuke, Ravi itu Naruto, Ken itu Shikamaru, Hyuk itu Kiba, Hongbin itu Neji ?, N itu Gaara /apalah ini? abaikan/

Nngg…jadi terimakasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk baca FF ini, see you in my another hurt story again—muacch ❤ ❤ ❤

Kolom komentar? Ohh itu wajib boleh diisi kok, pake apa aja boleh muehehe 😀

***

Omake

***


“Bae Irene?”

“Ah nee?”

“Tolong kau masukkan semua bola itu ke keranjang sebelum pulang ya?”

Irene melirik kearah lapangan dimana bola basket berserakan dimana-mana, pasti sangat berat mengerjakannya seorang diri. “Ahahaha…tentu saja Pelatih!” sahutnya dengan nada riang yang buat-buat, padahal dalam hati dia sudah mengumpat Pelatih basket yang menyiksanya dengan latihan yang berat. Ahh… bermain basket ternyata tidak semudah yang dia bayangkan.

Anak-anak lain tampak sudah meninggalkan Hall olahraga, sementara Irene masih harus mengumpulkan semua bola basket itu dan memasukkannya kedalam keranjang.

“Fuuh apa mereka sengaja menyiksaku ya?” gumam Irene sembari melempar bola basketnya kedalam keranjang dari jarak jauh. “Ckk…lihat saja saat aku sudah bisa mencetak treeshoot…” Irene kembali memungut satu bola untuk dia lempar lagi, “…mereka pasti akan—“

“Oi…oi… kau melemparnya ke tempat yang salah tahu!”

Rasanya tubuh Irene membeku seketika, seperti orang bodoh dia hanya menatap diam mengabaikan protes dari namja berambut pirang yang nyengir kearahnya dari depan pintu Hall olahraga.

Pluk…

Bola basket ditangannya pun terjatuh dan mematul di lantai, tapi tak perlu menunggu pantulan bola basket itu berhenti, mengusap kasar airmata yang entah sejak kapan muncul dia berlari secepat yang dia bisa menyebrangi lapangan dan menghambur memeluk namja itu.

Ehem…Tuhan, boleh aku ganti permintaanku?

Tolong kirimkan seorang Pendeta padaku

karna aku ingin menikah dengannya sekarang

Haha…tidak aku hanya bercanda!

Oi…oi jadi kau tidak mau menikah denganku?

Tahu begitu lebih baik aku mati saja dan tak perlu repot operasi

Aa…Yak?! Kau tidak boleh mati, bodoh!

Ehem…Tuhan?

Biarkan dia terus ada disisiku, boleh ‘kan?

Oi…Tuhan, aku juga bisa meminta sesuatu?

Aku ingin terus hidup bersama gadis cantik tak sexy ini, boleh ‘kan?

***

Summer Memories — End

***

Advertisements

7 thoughts on “[ Oneshoot ] Summer Memories

  1. nice ff…!! kyaaa i have a goosebumps,, kekekekekekekekekeke
    aduhh kenapa ravi gitu banget sih? dan kenapa pairingnya irene? demi apa! aku suka bangettt, dua ultimate biasku d jadiin satu,,,, ahh Ravi is life ^^
    keep writing! 😀

  2. KAK BEBIIIII~~~~~ INI FLUFF TAPI HURT (apa ini) kakak, kapan aku bisa seperti dirimu, zenpai:’) ini aku syuka syekaliii~

    love,

    miki-chan ❤

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s