[TWOSHOOT] Bad Stranger Part 1

OYEWYN PRESENT

bad stranger (arin yessy @ indo fanfictions arts)

Scriptwriter Oyewyn. K || Poster Designer Arin Yessy @ Indo fanfictions Arts || Genre Romance-Sad || Starred CNBLUE’s Jung Yong Hwa and Park Shin Hye || Disclaimer This is original from my mind. No plagiarsm! No Silent readers!

~Story Begin~

.

.

.

.

“Oppa, dia tidak menghubungiku beberapa hari ini.” Rengek seorang yeoja.

“Mungkin dia sedang sibuk mengerjakan tugas akhirnya.” Jawab teman bicaranya itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari koran yang sedang dia baca.

“Tapi aku merindukannya.” Rengeknya lagi.

“So, just call him.” Saran namja itu masih terfokus dengan korannya.

“Shireo!” Tolak sang yeoja dan melangkahkan kakinya kesal menuju kamarnya dan tidak lupa membanting pintunya.

“Aiiish, yeoja itu! Kenapa jadi aku yang kena imbasnya. Aigo… JUNG YONG HWA!!!” Gerutu sang namja itu sambil mengacak – acak rambutnya frustasi.

“Jangan menggerutu oppa! Aku mendengarnya!” Teriak yeoja itu dari dalam kamarnya.

“Yya! Park Shin Hye! Ini rumahku. Terserah aku mau melakukan apa.” Balas namja itu.

“Geure! Ini rumah oppa, jadi aku akan pergi.” Kata yeoja yang keluar dari kamarnya dan menuju pintu keluar.

“Mwo!!! Yya!!! Shin Hye, kau mau kemana eoh? Ini sudah malam dan aku belum makan malam.” Kata namja itu sambil berusaha mengejar yeoja itu tanpa sadar bahwa dia hanya berpakaian rumahan, bahkan dia menggunakan sandal rumahnya. Tapi Shin Hye terus berlari menuju restoran terdekat dari rumahnya.

Sebenarnya dia melarang Shin Hye keluar bukan karena dia belum makan malam tapi karena dia khawatir dan tidak pernah membiarkan yeoja itu keluar rumah sendirian kapanpun itu. Karena dia sangat menyayangi yeoja itu, yeoja yang kini dia sayangi sebagai seorang adik perempuan bukan lagi yeoja yang dia cintai sebagai seorang yeoja.

“Yya! Park Shin Hye! Untuk apa kau ke sini dengan pakaian seperti ini eoh? Kau ingin selingkuh? Akan ku adukan kau pada Yong Hwa mu itu.” Omel namja yang tadi mengejar Shin Hye dengan nafas tersengal.

“Nde, aku mau selingkuh. Jadi oppa jangan mengganggu aku. Arraseo?” Jawab Shin Hye ketus lalu masuk ke dalam restoran tanpa memedulikan keberadaaan Hyun Joong yang sudah kesal setengah mati dengan sikapnya saat ini.

Sebenarnya saat ini Shin Hye akan menemui salah satu partner kerjanya untuk proyek Elysium, mall kelas atas dengan fasilitas berteknologi canggih. Dan sebenarnya, Hyun Joong sendirilah yang mengatur jadwal kali ini, karena partner kerja mereka kali ini adalah hoobae Hyun Joong saat SMA dulu. Tapi mungkin Hyun Joong lupa.  Jadi Hyun Joong mengejar Shin Hye masuk ke dalam restoran itu.

“Yya, Shin Hye beraninya kau meninggalkanku!” Omel Hyun Joong sambil menjewer telinga Shin Hye.

“Oppa!!! Kau lupa hari ini kita ada acara makan malam dengan presdir Cho Group.” Bisik Shin Hye sengit.

“Apa maksudmu?? Seingatku kita tidak ada acara semacam itu malam ini.” Balas Hyun Joong melepaskan jewerannya sambil berusaha mengingat hal yang terlupakan olehnya.

”Dia Presdir Cho, yang akan berkerja sama dengan kita untuk pembangunan Elysium, kau sendiri yang mengatur jadwal ini oppa.” Ujar Shin Hye. Sedangkan lawan bicaranya itu masih berusaha keras untuk mengingat. Hingga tak lama kemudian dia menepuk dahinya, tanda bahwa ia telah mengingat hal yang terlupakan itu.

“Annyeong Presdir Cho, lama tak jumpa” Sapa Hyun Joong kikuk.

“Annyeong hyung, lama tak bertemu.” Balas Persdir Cho yang bernama lengkap Cho Kyuhyun.


Ya begitulah kehidupan Shin Hye sekarang setelah kembali ke Cambridge untuk mengurus perusahaan miliki appa-nya. Bisa dikatakan mereka masih sama seperti dulu, hanya saja kini Shin Hye lebih berekspresi. Hyun Joong senang dengan kenyataan itu, menurutnya Shin Hye terlihat lebih manusiawi.  Kehidupan Shin Hye di Cambridge penuh dengan kesibukan, karena kini dia harus mengisi waktunya untuk mengurus perusahaan Park Corp sebagai seorang presdir. Belum lagi sekarang dia harus mengurusi proyek barunya Elysium. Sedangkan Yong Hwa di Seoul disibukkan dengan targetnya untuk segera menyelesaikan kuliahnya yang sempat tertunda. Hal ini membuat mereka sulit untuk berkomunikasi sehingga keduanya tersiksa dengan rasa rindu. Dan seperti biasa keduanya merasa gengsi untuk mengungkapkan kerinduan itu.

Akan tetapi di balik itu semua, siapa yang tahu jika suatu saat nanti ada orang – orang yang berusaha untuk merusak kebahagiaan yang baru saja mereka raih dengan susah payah. Siapa yang tahu jika orang – orang yang terlihat baik ternyata memiliki niat jahat di dalam hatinya. Siapa yang tahu jika orang yang kau percaya ternyata hanyalah orang yang memanfaatkanmu. Dan itulah kehidupan, penuh dengan rahasia yang tidak dapat ditebak. Karena kehidupan seperti sebuah pinata besar yang tidak kita ketahui permen jenis apa yang ada di dalamnya. Seperti sebuah benang panjang yang tidak diketahui akan menjadi apa setelah ditenun. Seperti lukisan Monalisa yang tidak diketahui apa maknanya. Seperti ruangan rahasia tertutup yang tidak bisa dibuka untuk dilihat isinya. Semua terjadi begitu saja, semua tersusun begitu saja. Meski sudah  menyusun rencana seindah mungkin tapi dengan mudah hidup mengubah arusnya membentuk jalur lain yang lebih sulit untuk dilalui.


“Aigoo, dimana ponselku? Kenapa aku tidak menemukannya beberapa hari ini?? Bagaimana aku bisa menghubunginya? Aiishh…” Gerutu Yong Hwa pada dirinya sendiri.

Ya, beberapa hari ini Yong Hwa tidak dapat menemukan ponselnya dimana pun tempat yang dia kira. Dan dia tidak membeli ponsel yang baru bahkan yang hanya untuk dia gunakan sementara. Bukan, bukan karena dia tidak memiliki uang untuk membelinya. Tapi baginya ponsel itu sangat berharga karena di ponsel itu tersimpan semua kenangan bersama dengan Shin Hye. Selain itu, jujur saja ia tidak hafal nomor ponsel kekasihnya sendiri. Sehingga kini dia diliputi rasa bingung dan takut. Bingung kemana dia harus mencari ponselnya itu dan kenapa dia bisa dengan sangat sering melupakan ponselnya. Dan takut, takut jika Shin Hye akan merajuk padanya karena masalah yang sangat sering terjadi ini. Jujur saja, ia tidak masalah jika Shin Hye merajuk karena itu membuktikan bahwa Shin Hye benar – benar mencintainya. Yang menjadi masalah adalah sulitnya membujuk Shin Hye untuk berhenti merajuk. Meksipun ia sadar bahwa ini adalah murni kesalahan dirinya. Masih dirundung kebingungan tiba – tiba seorang namja —sebut saja Min Hyuk— masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi. Oh, bahkan dia berteriak seenakanya tidak berpikir bahwa suaranya itu mengganggu orang si sekitarnya.

“Hyuuung!!!! Lihat ini. Lihat. Noona meng-upload fotonya dengan seorang namja tampan dan kelihatannya mereka sangat akrab.” Teriaknya semangat dan memperlihatkan ponselnya pada Yong Hwa tanpa sadar bahwa saat ini Yong Hwa tidak dalam keadaan yang bisa dikatakan baik.

“Baru beberapa hari aku tidak menghubunginya dia sudah membuat keonaran seperti ini. Lihat saja nanti Jung Shin Hye.” Batin Yong Hwa dan dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi tak berapa lama kemudian sebuah ide terlintas dibenaknya dan dia merebut ponsel Min Hyuk dari tangan sang empunya seperti seorang pencuri.

“YYAA!!! Hyung! Kembalikan ponselku!!” Teriak Min Hyuk sebal sambil mengejar – ngejar Yong Hwa.

“Shireo! Aku pinjam sebentar.” Balas Yong Hwa sambil terus berlari dari kejaran Min Hyuk. Sambil berlari dia mencari kontak Shin Hye dan mencoba menghubungi yeojanya itu.

“Hyuuung!!! Kau menelpon noona?? Matikan sekarang! Itu mahal hyung!” Teriak Min Hyuk kesal sekaligus gemas melihat sikap Yong Hwa yang seenaknya. Tapi dia malah mendapatkan sebuah death glare dari sang pencuri dan hal ini sukses membuatnya bungkam namun sesekali mencibir pelan.

“Jangan menggerutu karena aku bisa mendengarmu.” Omel Yong Hwa.

“Mwo? Kenapa jadi aku yang kena omel padahal aku adalah korban di sini.” Sindirnya. Baru saja Yong Hwa ingin membalas sindiran Min Hyuk ternyata panggilannya sudah dijawab.

“Yeoboseo” Sapa seorang yeoja lembut.

“Annyeong chagi. Apa kau—”

“KAU! KEMANA SAJA KAU SELAMA INI EOH?!! KENAPA BARU SEKARANG MENGHUBUNGIKU?!! DAN KAU TIDAK MENGGUNAKAN PONSELMU! KU KIRA KAU SUDAH MATI, TAPI TERNYATA TIDAK.” Belum selesai Yong Hwa berbicara tapi wanitanya sudah menyemprotnya lebih dulu dengan omelan —tepatnya teriakan— panjang. Ada rasa senang dan rasa takut sekaligus mendengar suara Shin Hye yang seperti itu

“Maaf sayang, aku lupa dimana meletakkan ponselku beberapa hari ini.” Balas Yong Hwa pelan. Dia tahu jika dia membalasnya dengan emosi maka sama saja dia memulai perang dengan Shin Hye.

“Kau! Kenapa kau menggunakan ponsel Hyukkie?” Kata Shin Hye masih dengan emosi tapi kini dengan nada yang jauh lebih rendah daripada sebelumnya

“Karena hanya dia yang ada di sini. Lagipula aku sudah meminta ijin padanya.” Bela Yong Hwa.

“Mworago?! Kau bilang apa hyung? Meminta ijin padaku? Kapan? Kau bahkan merebutnya dariku.” Kata Min Hyuk keras setelah mendengar pembelaan Yong Hwa pada Shin Hye dan tentu saja dia mengatakannya dengan keras berharap Shin Hye mendengarkannya. Benar saja, Shin Hye mendengarnya dan langsung meminta Yong Hwa untuk memberikan ponsel pada MinHyuk. Tapi sebelum ponsel itu kembali pada pemiliknya Yong Hwa lebih dulu menyalakan loudspeaker ponsel itu untuk mendengar percakapan Min Hyuk Dengan Shin Hye.

“Hyukkie, apa Yong Hwa sudah meminta ijin padamu untuk menelponku dengan ponselmu?” Tanya Shin Hye lembut pada Min Hyuk sangat berbeda jauh dengan nada bicaranya pada Yong Hwa.

“Aniyo noona, dia bahkan merebut ponselku seperti seorang pencuri.Dia juga menatapku seperti berkata kalau dia akan membunuhku jika aku tidak mengijinkannya menggunakan ponselku.” Kata Min Hyuk sambil tersenyum licik pada Yong Hwa.

“JUNG. YONG. HWA. Mati kau!” Teriak Shin Hye pada Yong Hwa, dia tahu bahwa ponsel itu di-loudspeaker. Di saat yang sama Min Hyuk berjalan cepat ke arah pintu keluar, mengantisipasi kejadian buruk atasnya yang mungkin akan dilakukan oleh Yong Hwa karena perbuatannya barusan. Ya, di sangat senang mengerjai Yong Hwa dengan Shin Hye sebagai senjata andalannya. Tapi setelah itu, terdengar seseorang berbicara dengan Shin Hye yang mengatakan bahwa ada rapat yang akan segera dimulai yang berarti dalam hitungan detik sambungan telepon ini akan segera dimatikan. Mendengar itu Min Hyuk bersiap – siap membuka pintu keluar untuk segera berlari dari Yong Hwa yang kini menatapnya seperti binatang buas yang siap menangkap dan menelan mangsanya.

“Hyukkie, aku akan segera rapat. Jaga dirimu baik – baik. Dan kau Jung Yong Hwa, jika terjadi sesuatu pada Hyukkie maka kau akan segera tahu akibatnya. Annyeong.” Kata Shin Hye setelah seseorang yang berbicara padanya keluar.

“Annyeong noona. Saranghae!” Balas Min Hyuk sambil membuka pintu dan mengambil ancang – ancang untuk berlari kencang.

“Nado saranghae.” Balas Shin Hye sebelum menutup sambungan telepon mereka.

KLIK. Telepon terputus.

Min Hyuk pun segera mengambil langkah seribu menuju dapur tempat Yong Hwa eomma memasak untuk makan siang mereka, mencari perlindungan dari wanita paruh baya yang sudah dia anggap sebagai eommanya sendiri.


Di sisi lain, ternyata ponsel Yong Hwa berada di tangan seorang yeoja bernama Seo Joo Hyun, yang akrab dipanggil Seo Hyun. Seo Hyun adalah yeoja yang merusak pertunangan pertama Shin Hye dan Yong Hwa dan perlu diketahui bahwa dia sudah menyukai Yong Hwa  sejak pertemuan pertama mereka. Dia sangat senang dulu saat Yong Hwa mengajaknya pergi ke klub malam berdua, berharap mereka akan melakukan ‘sesuatu’ yang dapat dijadikan senjata olehnya untuk menghancurkan pertunangan itu karena dia tahu jika sesuatu itu terjadi maka Yong Hwa akan dengan mudahnya jatuh cinta pada Shin Hye. Tak hanya itu rasa sukanya pada Yong Hwa terus bertumbuh hingga kini rasa suka itu berubah menjadi rasa obsesi untuk memiliki Yong Hwa. Dalam hati dan pikirannya selalu berkata, Yong Hwa adalah miliknya dan tak ada seorang pun yang boleh memilikinya kecuali dirinya sendiri. Hal ini pun membuatnya menghalalkan semua cara untuk menjadikan Yong Hwa miliknya bahkan meskipun itu harus melukai dirinya sendiri, tapi apapun itu asalkan dia bisa memiliki Yong Hwa maka dia akan melakukannya. Tapi, kenapa ponsel Yong Hwa ada padanya?? Jawabannya adalah karena dia membimbing Yong Hwa untuk menyelesaikan tugas akhir —skripsi— kuliah Yong Hwa. Hal ini pun dimanfaatkannya untuk sering bertemu dengan Yong Hwa, dia juga membuat pertemuan itu berlangsung lama namun menuai hasil yang sedikit.

Hari ini merupakan jadwal pertemuan dengan mereka di kafe milik Jong Hyun, alasannya adalah supaya ia bisa berkumpul dengan sahabat – sahabatnya itu dan juga agar dia tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun dari kantongnya. Tapi sayangnya hari ini ketiga sahabatnya memiliki urusan masing – masing sehingga hari ini dia tidak bisa berkumpul dan berbincang – bincang dengan mereka.

“Yong, aku membawakan ponselmu. Minggu lalu kau meninggalkannya dan aku selalu lupa untuk memberikannya padamu. Dan hari ini aku mengingatnya.” Kata Seo Hyun sambil menyerahkan ponsel milik Yong Hwa yang sudah beberapa hari bermalam di rumahnya. Tentu saja dia sudah  membongkar ponsel milik Yong Hwa.

“Nde, aku ke toilet dulu. Kau pesan saja minuman dan makanan lebih dulu.” Kata Yong Hwa dan meninggalkan ponselnya di meja. Tak lama setelah Yong Hwa pergi ponselnya berdering, panggilan dari Shin Hye. Mengetahui itu Seo Hyun itu tanpa ragu dia mengangkat panggilan itu.

“Yeoboseo” Kata Seo Hyun dengan nada biasa.

Mendengar yang mengangkat teleponnya bukan orang yang dicari melainkan seorang yeoja membuat Shin Hye emosi, “Siapa kau? Mengapa ponsel Yong Hwa ada padamu?”

Dengan santai tanpa rasa bersalah dan dengan nada kemenangan Seo Hyun berkata, “Aku Seo Hyun, kau mengingatku?? Yong Hwa sedang bersamaku tapi dia sedang ke toilet sekarang. Ada yang pesan yang harus ku sampaikan padanya??”

Tanpa menjawab perkataan Seo Hyun, Shin Hye yang telah dipenuhi emosi langsung memutuskan panggilannya. Dan Seo Hyun, wanita licik itu menghapus riwayat panggilan Shin Hye yang baru saja terjadi. Tak lama kemudian Yong Hwa kembali dari toilet, setelah itu mereka mulai membicarakan hal – hal yang berkaitan dengan skripsi Yong Hwa dan beberapa kali di selingi dengan candaan kecil diantara keduanya. Kini Seo Hyun yang akan pergi ke toilet hanya sebentar saja kemudia dia kembali ke meja dan kembali membicarakan skripsi sambil menikmati makanan dan minuman yang tadi di pesannya.

“Hyun, sepertinya kalungmu akan terlepas.” Tegur Yong Hwa sambil menunjuk kalung yang hampir terlepas dari leher Seo Hyun.

“Ah, benar. Bisa kau pasangkan lagi untukku?” Pinta Seo Hyun Sambil melepas kalungnya dan memberikannya pada Yong Hwa. Tanpa menjawab Yong Hwa berdiri dan mencoba memasangkan kalung itu dari depan, dia memiringkan kepalanya ke kiri sementara Seo Hyun ke kanan sambil memejamkan matanya (Author note: jadi kayak orang yang ciuman gitu. Ngertikan??). Tapi karena sulit dan tidak berhasil dia akhirnya melangkahkan kakinya ke belakang Seo Hyun mencoba lagi memasangkan kalung itu. Tidak disadari oleh Yong Hwa seseorang memotret kejadian itu.

~Flashback on~

Saat Seo Hyun pergi ke toilet dia menemui seseorang.

“Potret gambar dengan baik setiap moment yang menurutmu pantas untuk diambil. Kau taukan moment seperti apa itu?” Tukas Seo Hyun pada seseorang itu.

“Ya, aku tau itu. Ingat kau harus membayar lunas setelah aku mengirim hasilnya padamu.” Balas seseorang itu.

“Tenang saja, kau seperti tidak mengenalku saja.” Balas orang itu

~Flashback off~

“Gomawoyo.” Seru Seo Hyun dan hanya mendapat balasan berupa gumaman dari Yong Hwa. Setelah itu mereka kembali membicarakan skripsi. Tak terasa hari sudah petang dan alat penghitung waktu sudah menunjukkan bahwa saat ini pukul 07.00 yang artinya mereka harus menyudahi pertemuan hari ini.

“Mau ku antar pulang?” Tanya Yong Hwa berbasa – basi kesopanan pada Seo Hyun.

“Tidak perlu, aku menunggu jemputanku saja.” Tolak Seo Hyun.

‘Tumben dia tidak minta diantar. Tapi biarlah ini justru menguntungkanku.’ Batin Yong Hwa tak memedulikan alasan Seo Hyun menolak untuk diantar pulang olehnya.

Selepas kepergian Yong Hwa, Seo Hyun melihat keadaan sekitar memastikan tidak ada orang terutama Yong Hwa, Jong Hyun, Min Hyuk, dan Jung Shin di sekitarnya dan melihat apa yang akan dia lakukan. Setelah dipastikan tidak ada orang – orang itu dia melangkahkan kakinya menuju sebuah mobil yang terparkir rapi tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

“Mana hasilnya?” Pinta Seo Hyun pada seseorang yang tadi dibayarnya untuk memotret. Tanpa menjawab, orang itu menyodorkan dua lembar foto terbaik yang dia dapatkan tadi. Puas melihat hasilnya Seo Hyun memberikan amplop cokelat berisi uang sisa melunasi pembayarannya karena orang itu melaksanakan tugasnya dengan baik.

“Ini sisa uangmu. Emailkan foto itu ke alamat email yang ku tuliskan di balik amplop itu.” Tanpa menunggu jawaban dari orang itu Seo Hyun pergi menuju taksi yang tadi dia panggil untuk pulang ke rumah nyamannya.


“Sekretaris Yoon.” Panggil seorang namja bermarga Cho.

“Iya tuan.” Jawab orang yang  dipanggil itu.

“Tolong cari tahu semua hal mengenai nona Park. Dari hal yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit. Semua tentang kehidupan keluarga, pendidikan, bisnis, dan cintanya.” Perintahnya sang Presdir Cho Group.

“Baik Tuan, akan saya laksanakan segera. Permisi.” Kata sekretaris itu kemudian ia membungkukkan badannya sedikit lalu keluar menuju ruangannya kembali.

Cho Kyuhyun. Anak laki – laki tunggal dari keluarga kaya dari pemilik Cho Group, kelahiran Seoul, 03 Februari 1988. Dia juga merupakan anak kedua dari pasangan Cho Yeung Hwan dan Kim Hanna, anak pertama adalah seorang perempuan yang 3 tahun lebih tua daripadanya bernama Cho Ahra. Cho Kyuhyun dan keluarganya tinggal di Jepang dan berteman dengan Shin Hye saat duduk di bangku sekolah dasar. Dan dia sudah menyukai Shin Hye sejak pertemuan pertama mereka. Dulu, Shin Hye memanggilnya Kyu-Chan, menurut Shin Hye nama itu menarik dan hanya dia yang boleh memanggil Kyuhyun seperti itu. Kini Kyuhyun berada di Cambridge karena dia tahu bahwa Shin Hye ada di Cambridge maka dari itu dia juga bersedia menjadi partner dalam pembanguna Elysium. Dia berharap Shin Hye mengenalinya tapi ternyata dia salah, Shin Hye tidak mengenalinya sama sekali. Dia maklum akan hal itu karena dia menyadari perubahan fisiknya yang sangat signifikan dibandingkan dengan dirinya waktu sekolah dasar dulu. Tujuannya ke Cambridge adalah untuk menarik Shin Hye kembali ke dalam kehidupannya.

~Flashback on~

Buugh… Buughhh… Bughh…

Segerombolan siswa SMP menghajar seorang siswa sekolah dasar. Mereka melakukan ini karena mereka tahu bahwa siswa sekolah dasar itu adalah anak orang kaya jadi mereka memaksanya untuk memberikan uangnya pada mereka. Selain itu juga karena mereka senang menyiksa siswa sekolah dasar yang pendek, gendut, dan kaya. Ditambah lagi bocah itu adalah anak yang pemalu, penyendiri, dan penakut jadi mereka dapat memastikan bahwa anak itu tidak akan mengadukan perbuatan mereka kepada siapapun.

“Heii!!! Pergi kalian!!!” Teriak seorang bocah perempuan sambil melempari batu ke arah gerombolan anak nakal yang lebih besar daripadanya.

“Siapa kau?” Tanya seseorang di antara mereka.

“ Aku Park Shin Hye. Aku temannya. Jika kalian tidak pergi sekarang maka aku akan memanggil oppa ku untuk membawa kalian pada orang tua kalian.” Ancam gadis cilik itu dengan bahasa jepang yang belepotan karena dia baru pindah ke tempat ini. Bukannya takut pada ancaman gadis cilik itu mereka malah melangkahkan kakinya mendekati gadis cilik itu.

“OPPPPAAAA!!!!!!!” Teriak gadis cilik itu memanggil seorang penjaganya yang dia anggap sebagai oppa kandungnya. Dan orang yang dipanggil itupun segera berlari cepat menuju sumber suara teriakan. Sedangkan segerombolan anak nakal itu melarikan diri entah kemana.

“Ada apa sayang?” Tanya pria yang dipanggil oppa itu.

“Oppa, dia terluka. Ayo kita bawa dia ke klinik.” Pinta gadis itu pada pengawal yang dia panggil Jong Ki oppa. Dan pria itu pun menuruti permintaan gadis cilik yang sangat dia sayangi itu. Setelah mendapatkan perawatan yang baik dari petuga kesehatan yang bertugas bocah itu tertidur sehingga mereka harus menungguinya hingga dia bangun.

Tak lama kemudia bocah itu siuman.

“Ngghhh…” Lenguh bocah itu.

“Kau sudah sadar?” Tanya gadis cilik itu antusias dengan mata yang berbinar – binar. Cantik. Satu kata yang dapat mendeskripsikan wajah gadis itu di mata sang bocah. Wajah oval dengan mata bulat beriris cokelat terang berbingkai alis tebal yang tersusun rapi di atas matanya, ditambah dengan hidung macung serta bibir tipis ceri semakin menyempurnakan wajahnya. Dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis cilik itu.

Tak kunjung mendapat respon untuknya gadis itu kembali bertanya padanya, “Namamu, siapa?”

“Namaku Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Dan kau?” Responnya.

“Aku? Park Shin Hye. Panggil aku Shin Hye.” Balas gadis cilik itu dengan cengir lebar yang menunjukkan susunan giginya yang tidak lengkap.

“Baiklah Kyu-chan. Kau tinggal dimana? Beritahu oppa, supaya kami bisa mengantarmu pulang.” Tanya gadis cilik bermarga Park itu lagi.

“ Aku tinggal di daerah Azabu. Nanti aku akan menunjukan jalan pada kalian.” Kata bocah itu. Kemudian Jong Ki menyelesaikan semua biaya administrasi agar segera mengantarkan bocah itu dan diri mereka sendiri pulang karena hari sudah sore.

“Aku juga tinggal di sana, pasti kau sekolah di sekolah internasional yang ada di sana kan??” Celoteh gadis cilik itu.

“Iya, bagaimana kau tahu? Jangan – jangan kau juga akan bersekolah di sana ya?? Kalau begitu ayo berteman.” Balas bocah lelaki itu dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

“Benar! Jadi, ayo berteman.” Kata gadis itu dan menyambut jabatan tangan bocah bernama Kyuhyun itu.

~Flashback off~


“Hi, Hyun Joong and Shin Hye aren’t here now. Please leave your message and we will call you soon.” Terdengar suara rekaman mailbox dari seberang telepon.

“Aigoooo, kemana Shin Hye? Kenapa tak dapat aku hubungi dari tadi.” Omel Yong Hwa pada ponselnya yang baru kembali padanya.

“Coba telepon Hyun Joong hyung.” Saran seseorang yang tak lain adalah Min Hyuk.

“Kenapa kau selalu datang tiba – tiba bodoh. Mengagetkanku saja.” Kata Yong Hwa.

“Aku sudah mengetuk pintu berkali – kali, tapi hyung tidak mendengarnya jadi aku masuk saja langsung.” Bela Min Hyuk.

“Terserahlah. Tapi saranmu tadi sepertinya bagus untuk di coba.” Timpal Yong Hwa menyetujui saran Min Hyuk untuk menghubungi Hyun Joong. Tapi lagi – lagi teleponnya tidak diangkat bahkan kali ini teleponnya ditolak membuatnya geram. Tak lama kemudian masuk sebuah pesan dari Hyun Joong padanya.

From: Hyun Joong hyung.

Ada apa? Aku sedang sibuk saat ini.

To: Hyun Joong hyung

Kenapa ponsel Shin Hye tidak dapat ku hubungi? Aku sudah mencobanya berulang kali tapi tidak bisa. Kau sedang bersama dengannya kan hyung?

From: Hyun Joong hyung

Ya, dia bersamaku. Dan katanya, aku harus menjawab tidak tahu padamu untuk semua pertanyaan mengenai dirinya. Jadi jangan tanya lagi atau aku akan dibunuhnya karena ber-sms ria denganmu di saat rapat penting.

Yong Hwa terkejut mendapat balasan itu dan memutuskan untuk tidak melanjutkannya lagi. Dari pada harus memikirkan hal itu lebih baik mendiamkan Shin Hye beberapa waktu untuk mendinginkan kembali kepalanya sedangkan dia kembali memikirkan skripsinya yang tinggal tahap finishing saja. Yong Hwa pun akhirnya menghubungi Seo Hyun agar mereka bertemu di kafe Jong Hyun dalam waktu 30 menit ke depan.

Triing.

Bunyi lonceng pintu kafe, tanda bahwa seorang pelanggan datang. Tapi itu bukan pelanggan melainkan Jung Yong Hwa sahabat dari sang pemilik kafe. Semua pegawai mengenalnya, bagaimana tidak? Yong Hwa adalah satu – satunya orang yang pernah mereka lihat memarahi Jong Hyun di depan mata semua orang yang ada di kafe itu.

“Apa Jong Hyun ada?” tanya Yong Hwa pada salah satu pegawai yang berdiri di dekatnya.

“Ada tuan, beliau ada di ruangannya. Beliau bilang dia tidak ingin diganggu siapapun.” Jelas pegawai ber-nametag Juniel itu menunduk takut. Tapi Yong Hwa tidak peduli dan tetap melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Jong Hyun tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Seperti dugaannya, Jong Hyun sedang bersama dengan seorang yeoja. Mereka berciuman sangat panas serasa bahwa dunia ini adalah milik mereka berdua saja. Yeoja itu, Yong Hwa mengenalnya. Dia Seung Yeon, salah satu hoobae-nya di kampus. Perlu diketahui bahwa yeoja ini berbeda dengan yeoja yang sebelumnya di bawa Jong Hyun ke ruangannya.

“Yya, hyung! Kau mengganggu acaraku saja” Keluh namja bermarga Lee itu pada Yong Hwa.

Dia Lee Jong Hyun. Pria berusia 25 tahun ini memiliki hobi bermain dengan wanita meskipun hanya sampai batas bercumbu saja. Tapi pria kelahiran Busan, 15 Mei 1990 ini merupakan salah satu sahabat Yong Hwa yang memiliki dua kepribadian—begitu Yong Hwa, Min Hyuk dan Jung Shin menyebutnya—. Saat berkumpul dengan orang – orang yang sangat dekat dengannya sikapnya sangat manja dan cerewet berbeda 180˚ dengan ketika dia berada di lingkungan luar, dia sangat dingin seperti gunung es dan juga jangan lupa seorang player. Tak lupa pria bergolongan darah A ini sangat menghormati Yong Hwa sebagai sahabat dan seorang kakak laki – lakinya dan menyayangi Min Hyuk dan Jung Shin sebagai adik laki – lakinya serta menyayangi Shin Hye sebagai kakak perempuannya. Dia juga merupakan anak tunggal dari pemilik JH entertaiment.

“Heh, bodoh. Jangan terlalu sering bermain dengan wanita – wanita macam itu. Kau bisa kehabisan yang baik dan bagus seperti Shin Hye nanti.” Nasehat Yong Hwa tak begitu kaku melainkan layaknya teman seumuran yang berbicara santai.Yong Hwa selalu merasa bahwa dia memiliki tanggung jawab atas ketiga sahabat yang sudah dia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.

“Ya, aku tahu hyung aku melakukan ini juga karena aku ingin mencari wanita yang benar – benar tepat untukku. Lagipula aku sudah belajar dari kebodohanmu dulu.” Jawab Jong Hyun santai tidak menolak maupun menerima nasehat dari Yong Hwa.

“Lebih baik hyung berhati – hati pada Seo Hyun. Aku memiliki firasat buruk mengenai dirinya.” Imbuhnya lagi. Kini berbalik, Jong Hyun yang menasehati Yong Hwa.

Tok. Tok. Yok

Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Yong Hwa dan Jong Hyun tahu pasti itu adalah salah satu karyawan Jong Hyun.

“Masuk.” Kata keduanya, kemudian pelayan itu masuk dengan wajah yang menghadap ke arah bawah.

“Maaf tuan, nona Seo Hyun telah menunggu anda.” Kata karyawan bernama Juniel itu pada keduanya.

“Baiklah, katakan padanya sebentar lagi aku akan menemuinya.” Putus Yong Hwa. Mendengar itu Juniel keluar dengan kepala yang masih menunduk.

“Sepertinya dia perempuan yang baik, bagus, dan tepat untukmu.” Kata Yong Hwa sekilas lalu menepuk pundak Jong Hyun pelan sebelum dia keluar untuk menemui Seo Hyun.


“Cha! Selesai! Besok kau tinggal meminta persetujuan dari dosen Kwon lalu menjalankan sidang dua minggu lagi dan berakhir dengan wisuda bulan depan.” Kata Seo Hyun pada Yong Hwa. Sesungguhnya di hati Seo Hyun terbersit sedikit rasa sedih karena setelah ini pasti mereka akan jarang bertemu. Tapi dia sudah mempunyai rencana besar sebelum hal itu terjadi.

“Nde, semua ini berkat dirimu juga.Sebagai tanda terimakasihku, bagaimana jika sehari setelah sidang kita pergi jalan – jalan? Kau yang menentukan tempatnya.” Tawar Yong Hwa pada Seo Hyun.

Tentu saja tanpa berpikir panjang Seo Hyun menerima tawaran Yong Hwa itu. Kapan lagi Yong Hwa akan melayangkan tawaran seperti ini padanya. Hal ini pasti sangat dimanfaatkan oleh Seo Hyun untuk membuat keonaran hubungan Yong Hwa dengan Shin Hye apa lagi beberapa waktu lalu dia mengangkat telepon dari Shin Hye untuk Yong Hwa ini akan menjadi semakin mudah dan menarik untuk dirinya. Ini adalah kesempatan emas yang tak boleh terlewatkan dan harus dimanfaatkan setiap detiknya.

‘Akan ku berikan hadiah terbaik untukmu sayang. Bersabarlah hari itu akan segera tiba untukmu.” Batinnya dibalik senyum manisnya pada Yong Hwa.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang. Selamat berjuang untuk sidangmu. Hwaiting!!!” Pamitnya pada Yong Hwa dan memberi semangat seraya mengepalkan kedua tangannya dan mengangkatnya keatas dan menggoyangkannya. Dia butuh waktu yang sangat banyak untuk merencanakan setiap detail hal yang akan dia lakukan bersama Yong Hwa.

Sesampainya di rumah, Seo Hyun menyambar ponsel untuk menghubungi orang yang beberapa waktu lalu dia bayar untuk memotret dirinya dengan Yong Hwa. Dia akan membayar orang itu lagi untuk melakukan hal yanng sama.

“Hei! Aku ada perkejaan baru lagi untukmu. Kau mau?” Tanyanya langsung tanpa berbasa – basi terlebih dahulu bahkan dia tidak mengucapkan salam. Tidak memiliki sopan santun sama sekali jika sudah berhubungan dengan ambisi dan obsesinya.

“Perkerjaan apa?” Tanya orang itu kembali.

“Ikuti aku berkencan dengan Yong Hwa dan potret kami di moment – moment yang baik seperti saat di kafe kemarin. Bagaimana?” Jelas Seo Hyun.

“Bayarannya?” Tanya orang itu lagi tanpa menjawab pertanyaan Seo Hyun.

“Dua kali lipat dari yang kemarin.” Tembak Seo Hyun.

“Tiga kali.” Pinta orang itu.

“Tidak. Dua kali.” Tukas Seo Hyun.

“Kau tidak bisa menawarku nona. Berikan aku tiga kali lipat. Jika tidak silahkan cari photographer lain.” Tegas orang itu.

“Baiklah tiga kali lipat.” Putus Seo Hyun mengiyakan permintaan orang itu, karena dia photographer terbaik yang selama ini dia gunakan jasanya.

“Akan ku kirimkan pesan padamu untuk waktu dan tempat pastinya minggu depan.” Imbuhnya lagi lalu memutuskan telepon itu tanpa menunggu balasan dari lawan bicaranya.

‘Brengsek! Dia memerasku!’ Batinnya kesal. Tapi apa mau dikata, dialah yang terbaik untuk saat ini. Lagipula tidak peduli berapapun biayanya dia akan tetap membayarnya demi mendapatkan seorang Jung Yong Hwa. Dia duduk di meja kerjanya sambil memegang pulpen dan buku dihadapannya. Dia, Seo Hyun, selalu menyusun rapi setiap rencananya demi keberhasilan dalam mencapai tujuannya. Apalagi hal ini menyangkut Jung Yong Hwa maka dia akan memikirkannya dengan serius. Sangat Serius.


Tok. Tok. Tok.

“Masuk” Kata orang yang ada di dalam ruangan itu.

“Presdir, ini semua data mengenai nona Park Shin Hye.” kata seseorang yang baru saja masuk ruangan itu sambil menyerahkan amplop coklat besar berisi sebundel kertas yang tertuliskan semua hal mengenai Shin Hye seperti yang diminta oleh atasannya itu beberapa waktu lalu.

“Terimakasih sekeretaris Yoon. Kau melakukannya dengan sangat baik.” puji sang atasan sambil milai membaca berkas yang dia terima.

“Baik tuan. Permisi.” kata pria yang dipanggil sekretaris Yoon itu lalu kelaur dari ruangan meninggalkan atasannya seorang diri.

Melalui berkas itu Kyuhyun tau mengenai semua kehidupan Park Shin Hye. Bagaimana kehidupan SMA-nya, bagaimana kisah cinta Shin Hye dengan pria bernama Jung Yong Hwa, bagaimana kehidupan Shin Hye di Cambridge, dan lain – lain. Ia juga tahu kenapa Shin Hye tidak mengingat dirinya. Ya, Shin Hye pernah mengalami kecelakaan yang membuatnya amnesia. Mulai saat ini dia bertekad untuk membuat Shin Hye kembali mengingatnya dan menariknya kembali dalam hidupnya. Bagaimanapun caranya, akan dia lakukan. Demi ambisinya. Demi perasaannya. Demi obsesi yang dia artikan sebagi cinta. Setelah dia selesai membaca semuanya dia beranjak dari tempatnya saat ini untuk menemui Shin Hye dalam rapat proyek Elysium.

“Sorry sir, was you made a reservation?” tanya seoranmg resepsionis kepadanya.

Ya, mereka akan melakukan rapat di salah satu restoran terbaik di Cambridge, dimana setiap pelanggan harus melakukan reservasi (pemesanan tempat) terlebih dahulu sebelum makan di sana.

“”Yes, i think my secretary was do it.” jawab Kyuhyun dengan bahasa inggris yang lancar. Tentu saja mana mungkin pebisnis hebat seperti dirinya tidak dapat menggunakan bahasa inggri dengan lancar akan sangat memalukan untuknya jika dia tidak bisa.

“Sorry, which who?” tanya resepsionis itu lagi.

“Mr. Cho.” jawab pemimpin dari Cho Group itu.

“Okay, now you can follow her.” jelas resepsionis itu sambil menunjuk pelayan yang akan mengantar Cho Kyuhyun.

“Thank you.” balas Kyuhyun lalu berlalu mengikuti pelayan yang berada beberapa langkah di depannya.

Tak lama setelah dia sampai di ruangannya Shin Hye tiba bersama dengan Hyun Joong. Selalu seperti itu dan mereka tampak mesra seperti sepsang kekasih. Bahkan sebelum membaca laporan dari Sekretaris Yoon Kyuhyun sempat berfikir bahwa mereka seperti itu.

“Hi, kau sudah lama menunggu?” sapa Hyun Joong.

“Tidak hyung. Aku juga baru tiba beberapa menit yang lalu.”balasnya dan hanya ditanggapi dengan anggukan kepala dari Hyun Joong dan Shin Hye. Setelah itu Kyuhyun meminta pelayan untuk memberi tahu kepada bagian dapur untuk memesan makanan yang sudah dia pesan setibanya di ruangan makan yang dia, Hyun Joong, dan Shin Hye tempati saat ini. Kemudian sambil menunggu makanan tiba mereka bertiga berbicang santai mengenai proyek mereka, terkadang diselingi candaan dan nostalgia dari ketiganya.

“Kyu” tiba – tiba Shin Hye memanggil pria bermarga Cho yang ada di hadapannya.

“Ya?” sahut Kyuhyun.

“Cincin itu. Bagaimana kau memilikinya?” tanya Shin Hye menanyakan cincin yang tersemat di jari manis Kyuhyun.

“Ini? Aku membelinya dari sebuah toko waktu aku masih kecil. Seorang sahabatku juga memilikinya.” jawab Kyuhyun.

“Benarkah? Itu sangat cantik.” balas Shin Hye, ia ingat bahwa ia memiliki cincin seperti itu yang dia simpan di kamarnya yang berada di Seoul.

“Cincin ini memiliki cerita. Kalian mau mendengarnya?” tawar Kyuhyun tiba – tiba dan disambut dengan respon baik oleh Shin Hye dan Hyun Joong.

Kyuhyun pun mulai bercerita, “Sejak kecil hingga SMA aku tinggal di Azabu, Jepang. Baru saat kuliah aku pindah ke Cambridge dan bertemu dengan hyung di sana. Dulu ketika masih di Jepang aku memiliki badan yang gemuk dan pendek, hal itu membuatku menjadi sasaran empuk berbagai macam pembullyan oleh murid – murid di sekolahku. Hingga suatu saat ketika aku sedang di keroyok oleh beberapa siswa yang merupakan kakak kelasku ada seorang gadis yang menolongku bersama dengan oppa-nya. Dia sangat canti, pintar, dan manis. Masih melekat erat diingatanku wajahnya, dia berwajah oval dengan mata bulat beriris cokelat terang berbingkai alis tebal yang tersusun rapi di atas matanya, ditambah dengan hidung macung serta bibir tipis ceri semakin menyempurnakan wajahnya. Dia membelaku tanpa rasa takut sedikitpun. Dia adalah teman pertamaku, teman yang benar – benar tulus padaku tanpa peduli siapa aku. Dia yang kemudian juga menjadi cinta pertamaku, cinta pertama yang hanya dapat ku pendam tanpa ku sampaikan padanya. Suatu ketika dia memberitahuku bahwa di tahun ketiga SMP nanti dia akan kembali ke Korea. Mendengar hal itu selama setahun aku bekerja paruh waktu untuk memberikan sebuah hadiah kepadanya, aku tidak mau menggunakan uang yang diberikan oleh orangtuaku. Menurutku jika itu terjadi maka hadiahku tidak akan ada artinya. Tibalah hari dimana kami akan berpisah, aku memberika cincin yang ku beli dengan hasil jerih payahku sebagai hadiah perpisahan kami.”


Sidang Yong Hwa berakhir dengan sukses dan hari ini adalah hari dimana ia akan pergi dengan Seo Hyun menepati tawarannya beberapa waktu lalu. Dan hari ini adalah hari yang sudah ditunggu – tunggu oleh Seo Hyun, hari dimana ia akan menyiapkan hadiah terbaiknya untuk pasangan Yong Hwa – Shin Hye. Mereka pergi ke Lotte World, tempat pertama yang diinginkan Seo Hyun untuk dikunjungi. Dan tentu saja diikuti oleh orang bayaran Seo Hyun, selain itu tidak ada halangan apapun. Hanya ada Seo Hyun, Yong Hwa, skenario buatannya, dan hari yang indah.

“Kemarikan ponselmu” titah Seo Hyun pada Yong Hwa.

“Wae?” tanya Yong Hwa bingung.

“Aku akan menyimpannya. Tak ada yang boleh mengganggu hari ini.” putus Seo Hyun lalu memasukkan ponsel Yong Hwa ke dalam tas bermerk miliknya.

Baru Yong Hwa akan melayangkan protes tapi Seo Hyun telah berbicara lebih dulu, “Ayo kita main ke wahana itu.” tunjuk Seo Hyun pada salah satu wahana romantis untuk sepasang kekasih. Akan tetapi Yong Hwa menolaknya dan memilih untuk masuk ke wahan rumah hantu yang berada tak jauh dari mereka saat ini. Tanpa menunggu persetujuan Seo Hyun dia pergi menuju wahan tersebut dan mau tak mau Seo Hyun mengikutinya. Di dalam wahana ini Seo Hyum mengambil kesempatan untuk memeluk Yong Hwa. Di belakang mereka tak lupa orang itu memotretnya. Keluar dari wahan itu ternyata ada stand yang menjual foto dari kamera tersembunyi yang ada di dalam wahana itu, Seo Hyun pun membeli foto mereka berdua yang kelihatan paling mesra.Setekah itu mereka memainkan berbagai macam wahana dan terakhir mereka memainkan wahana yang pertama kali ditunjuk oleh Seo Hyun, dia memaksa Yong Hwa untuk masuk ke dalamnya sehingga Yong Hwa akhirnya ikut masuk bersama dengannya. Sedangkan orang bayaran Seo Hyun berdiri di tempat tinggi yang tak jauh dari mereka agar dia bisa tetap mengambil foto mereka berdua dengan kualitas yang baik dan tentu saja wajah mereka terlihat dengan jelas. Itu adalah permainan terakhir mereka, setelah itu Yong Hwa  mengantar Seo Hyun pulang ke rumah untuk bersiap makan malam yang diinginkan Seo Hyun.

Yong Hwa menyesal telah memberikan tawaran pada Seo Hyun, dia takut Seo Hyun merencanakan sesuatu seperti yang dikatakan Jong Hyun saat itu. Mereka akan bertemu di tempat dan waktu yang telah Seo Hyun tentukan. Mereka berdua akan malam di salah satu restoran mewah terkenal yang terletak di Seoul yang berada di sebuauh gedung bertingkat dengan pemandangan romantis yang selalu diimpikan setiap wanita. Yong Hwa mengenakan kaus putih berlapiskan jas semi-formal dengan celana blue jeans, setelan casual yang membuatnya tampak tampan namun tetap terkesan berkelas. Sedangkan Seo Hyun mengenakan dress selutut berbahan satin yang berwarna pastel bermotif simple berpadu dengan flatshoes senada, setelan casual yang sangat pas bersanding dengan Yong Hwa. Hal ini tentu saja sudah diatur oleh Seo Hyun dan dengan bodohnya Yong Hwa meluluskan permintaan itu begitu saja. Seo Hyun memesan tempat di balkon luar yang menambah kesan romantis makan malam mereka berdua. Makan malam ini berjalan dengan sangat lancar sesuai dengan rencana milik Seo Hyun hingga tiba saatnya ia memulai sandiwaranya. Ia berjalan menuju pinggir balkon untuk melihat pemandangan Seoul di malam hari. Seoul nampak indah, berhiaskan warna – warni lampu jalanan dan geudng – gedung.

“Yong, kemarilah. Tolong bantu aku.” pinta Seo Hyun sambil mengayunkan telapak tangannya menyuruh Yong Hwa mendekat ke arahnya.

“Ada apa?” tanya Yong Hwa.

“Bisa kau lihat leherku? Di sini terasa perih. Apa ada luka?” kata Seo Hyun sambil memegang lehernya. Yong Hwa pun mendekatinya, dia memegang bahu Seo Hyun dari belakang dan memnundukkan sedikit kepalanya mencoba melihat apa ada luka di leher Seo Hyun. Sehingga jika dilihat dari belakang Yong Hwa seperti sedang mencium leher Seo Hyun.

“Tidak ada apa – apa.” tukas Yong Hwa

“Benarkah? Padahal terasa perih. Baiklah, terimakasih.” sahut Seo Hyun manis.

“Aaw!” pekik Seo Hyun tiba – tiba, membuat Yong Hwa menoleh kearahnya.

“Kenapa?” tanya Yong Hwa khawatir.

“Mataku kelilipan. Di sini banyak sekali debu. Bisa kau meniupkan mataku? “ pintanya lagi pada Yong Hwa. Tanpa menjawab Yong Hwa meniup mata Seo Hyun, kali ini Yong Hwa terlhat seperti menangkup wajah Seo Hyun sayang dan mencoba menciumnya.

Setelah itu mereka pulang, Yong Hwa mengantarkan Seo Hyun pulang kerumah. Tapi Seo Hyun tidak mau diantar dengan mobil sampai di depan rumah, dia ingin Yong Hwa memarkirkan mobilnya di jalan lalu berjalan kaki mengantar Seo Hyun sampai depan rumahnya. Lagi – lagi Yong Hwa terpaksa menurutinya karena hari sudah larut malam sehingga tidak mungkin membiarkan seorang yeoja pulang sendirian berjalan kaki di malam yang gelap. Ketika dalam perjalanan tiba – tiba heels sepatu Seo Hyun patah, tetapi dia tidak mau melepaskan sepatunya sehingga dia terlihat tidak nyaman ketika berjalan. Merasa iba, Yong Hwa pun menjongkokkan dirinya di depan Seo Hyun, menawarkan Seo Hyun untuk digendong tanpa berbicara. Seo Hyun mengerti dan langsung naik ke punggung Yong Hwa.


Drrrttt…ddrrrttt….drrtt…

Ponsel Hyun Joong bergetar tanda bahwa ada pesan singkat yang masuk.

From: Presdir Kyu

Hyung, eomma sedang di Cambridge. Dia bilang sangat merindukanmu jadi dia ingin kau datang untuk makan malam bersama. Kau boleh mengajak Shin Hye jika mau.

Sedangkan yang menerima pesan singkat itu pada pukul 07.00 di hari Sabtu yang seharusnya menjadi hari tenang miliknya menggerutu hebat karena tidurnya terganggu. Dia pikir pesan singkat dari seorang presdir perusahaan besar adalah sangat penting sampai harus mengirimkannya sepagi ini tapi ternyata dia salah. Meskipuun dia akui bahwa dia juga merindukan Kyuhyun eomma tapi apa harus dia mengirimkan pesan itu sepagi ini? Setelah selesai Hyun Joong mencoba untuk kembali tidur.

“Oppa!! Ireona! Ireona palli!!!!” teriak Shin Hye di saat Hyun Joong baru saja memejamkan matanya beberapa detik yang lalu dari depan pintu kamar.

“Yya!!! Park Shin Hye!! Aku ingin tidur sebentar lagi saja. Oke?”  teriaknya dari dalam kamarnya.

“Just 10 minutes dear. Please.” sebelum Shin Hye melayangkan protes Hyun Joong lebih dulu memohon dengan lembut kemudian jatuh dalam tidurnya. Mendengar itu Shin Hye kembali menyelesaikan masakannya dengan cepat supaya dapat kembali membangunkan Hyun Joong. Kali ini dia masuk ke dalam kamar Hyun Joong.

“Oppa, ireona! Ini sudah 10 menit dan aku sudah selesai memasak sarapan” kata Shin Hye sambil menggoyangkan tangan Hyun Joong. Sedangkan yang dibangunkan tidak memberikan respon sedikitpun atas tindakannya malah semakin menenggelamkan dirinya di dalam selimut tebal yang hangat. Melihat itu Shin Hye memilih untuk menarik selimut itu, tapi lagi – lagi dia tidak mendapatkan respon. Hingga akhir terlintas sebuah ide jitu yang pasti akan membuat Hyun Joong langsung meninggalkan kasur empuknya. Shin Hye kembali ke dapurnya.

“Awww!!!  Oppaaaa!!!!!!” teriak Shin Hye keras.

“Appoooo!!! Appo oppa… Hiiksss.” rengek Shin Hye keras.

“Hwaaaaa!!! Appo… Appa appo… hikss… hiksss… Yong Hwa-ya appo… hueeeee…” tangis Shin Hye semakin kencang.

Tepat sekali! Hyun Joong yang mendengar rengekan dan tangisan Shin Hye langsung melompat dari kasurnya menuju asal suara tangisan Shin Hye.

“Shin Hye-ya, gwechanayo?”

“Mana yang sakit?”

“Kemarilah tunjukan pada oppa.”

Hyun Joong menyerang Shin Hye dengan kekhawatirannya. Tapi yang dikhwatirkan malah sedang sibuk menahan tawanya.

“Shin Hye katakan dimana yang sakit sayang.”  pinta Hyun Joong sambil mengusap kepala Shin Hye lembut. Dia sangat khawatir.

“Buahahahaha!!!! Kau harus melihat wajahmu saat ini oppa. Hahahaha!!!” Shin Hye tertawa keras dan tak bisa berhenti sampai dia merasa perutnya keram karena terlalu lama tertawa.

Hyun Joong kini mengerti bahwa dia sedang dikerjai oleh Shin Hye. Jadi dia memilih melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Setelah itu dia makan di meja makan lalu ke ruang tengah untuk membaca koran paginya. Dia diam seribu bahasa, dia ingin membalas perbuatan Shin Hye. Dia tahu Shin Hye tidak akan betah jika didiamkan terlalu lama.Benar saja, Shin Hye mengira bahwa Hyun Joong marah besar padanya, dia menyesal karena telah membuat Hyun Joong khawatir padanya.

“Oppa…” kata Shin Hye memanggil Hyun Joong, tapi dia tidak mendapat respon.

“Oppa…. Oppa marah eoh?” tanya Shin Hye pada Hyun Joong sambil menusuk – nusuk bahu Hyun Joong dengan jari telunjuknya, tapi lagi – lagi Hyun Joong tidak menanggapi perbuatannya.

“Oppa. mianhe…” kata Shin Hye menyesali perbuatanna. Dia takut Hyun Joong marah padanya karena Hyun Joong sama sekali tidak menanggapi setiap perbuatannya sejak tadi.

“Oppa…. jangan begini. Oppa boleh marah saja. Aku menyesal oppa…Aku tidak akan mengulanginya lagi… Oppa bicaralah.” rengek Shin Hye menggoyangkan tangan Hyun Joong. Matanya sudah berkaca- kaca.

Hyun Joong tidak tahan lagi jadi dia langsung melayangkan senyumnya pada Shin Hye dan berkata, “Aku sangat khawatir tadi kau tau? Jadi jangan ulangi itu lagi.”

“Ne, yakso. Saranghae oppa.” tukas Shin Hye berjanji.

“Nado.” balas Hyun Joong lalu mengecup kening Shin Hye sayang.

“Hmmm, nanti malam kita akan makan di apartement Kyuhyun.” imbuh Hyun Joong memberitahu Shin Hye tentang ajakan Kyuhyun padanya.


Ting..tong…

Bel apartement Kyuhyun berbunyi. Dia tahu siapa yang datang.

“Biar aku saja yang membuka pintu eomma.” tukasnya pada wanita paruh baya yang merupakan ibu kandungnya. Lalu dia berjlan  menuju pintu.

“Hyung… Shin Hye… Selamat datang.” sambutnya hangat.

“Annyeong. Dimana eommonim?” tanya Hyun Joong tanpa berbasa – basi.

“Sepertinya kau sangat merindukannya. Eomma sedang memasak untuk makan malam di dapur.” kata Kyuhyun. Lalu Hyun Joong segera menuju dapur.

“Eommonim. Bogosipho.” kata Hyun Joong sambil merentangkan tangannya menyambut Kyuhyun eomma dalam pelukannya.

“Nado Hyunnie. Kau semakin tampan dan terurus. Kau sudah memiliki kekasih eoh?” kata Kyuhyun eomma dalam pelukan Hyun Joong.

“Ani, aku tidak memiliki kekasih. Aku hanya tinggal dengan adikku saja eommonim.” jawab Hyun Joong. Tapi begitu Kyuhyun eomma melihat Shin Hye, beliau melepaskan pelukan Hyun Joong dan berjalan ke arah Shin Hye.

“Aigoo, apa ini kau Hye-ah? Aku sangat merindukanmu.” kata Kyuhyun eomma langsung memueluk Shin Hye, sedangkan Shin Hye bingung kenapa Kyuhyun eomma mengenalnya meskipun Shin Hye akui bahwa wajah Kyuhyun eomma sangat familiar untuknya.

“Ne, aku Shin Hye. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” kata Shin Hye pada Kyuhyun eomma.

“Mwo? Kau melupakanku? Berarti kau melupakan Kyuhyun yang selalu kau panggil Kyu-chan?” tanya Kyuhyun eomma pada Shin Hye.

“Maaf apa maksud ahjumma? Apa aku sedekat itu dengan Kyuhyun? Setahuku dia hanya dekat dengan Hyun Joong oppa karena mereka satu kampus meskipun aku mengenalnya dulu tapi ya sebagai temannya oppa.” balas Shin Hye bingung dan Kyuhyun eomma hanya menatap puteranya sedih. Beliau tahu bahwa Kyuhyun sangat mencintai Shin Hye, lebih dari perasaan seorang sahabat. Beliau sangat tahu itu.

“Sudahlah eomma, jangan membuatnya bingung.” kata Kyuhyun pada eommanya dengan tatapan sendu. Sedangkan Hyun Joong yang melihat adegan itu sama bingungnya dengan Shin Hye karena dia tidak mengetahui apa – apa dengan masa lalu Shin Hye.

“Mari makan aku sudah selesai menyiapkannya.” kata Kyuhyun eomma mengajak mereka menikmati makan malam yang sudah disiapkannya. Mereka makan dalam keheningan, hanya terdengar dentingan sendok dan piring. Setelah semua selesai Kyuhyun eomma dan Shin Hye membereskan meja makan dan semua peralatan makan serta memasak yang kotor sementara kedua namja yang tersisa —Hyun Joong dan Kyuhyun— bersantai di ruang kerja Kyuhyun.

“Bagaimana bisa eomma mengenal Shin Hye?” tanya Hyun Joong penasaran dengan kejadian tadi.

“Kami tinggal di Jepang, kau tau itu. Lalu Shin Hye adalah bocah wanita cantik yang aku ceritakan kemarin di restoran. Bahkan aku ada di Cambridge saat ini adalah karena dirinya. Aku tahu semua yang terjadi Shin Hye setelah dia pindah dari Jepang baru – baru ini setelah aku meminta Sekretaris Yoon mencari tahunya.” tukas Kyuhyun.

“Tapi kenapa kau diam saja waktu pertama kali bertemu dengan Shin Hye?” tanya Hyun Joong lagi.

“Waktu itu aku kira Shin Hye tidak mengingatku karena perubahan fisik yang signifikan pada diriku tapi ternyata tidak. Dia pernah mengalami amnesia. Aku sedang berusaha membuatnya ingat padaku. Hyung ingat waktu di restoran kemarin? Dia menanyakan padaku mengenai cincin ini, kupikir rangsanganku padanya berpengaruh.” jelas Kyuhyun.

“Shin Hye, cinta pertamaku. Aku akan berusaha mendapatkannya apapun yang terjadi. Aku tahu dia juga mencintaiku waktu itu, eomma bilang pandangan Shin Hye padaku sama seperti pandanganku pada Shin Hye.” imbuh Kyuhyun lagi.

“Tapi dia sudah memiliki dan dimiliki oleh Yong Hwa. Kau tahu itukan, Kyu?” protes Hyun Joong.

“Menurutku saat ini hatinya hanya sedang bermimpi hyung. Aku hanya perlu membangunkannya dari mimpi itu. Menyadarkannya dan membawanya kembali ke kehidupan nyata dimana dia mencintaiku sebagai seorang pria.”  tukas Kyuhyun percaya diri.

“Kau tahu, wanita yang pernah ku ceritakan padamu? Wanita yang membuatku jatuh cinta karena tatapan matanya, wanita yang selalu meminjam bahuku, wanita yang selalu meminjam telingaku, wanita yang selalu meminjam punggungku, wanita yang telah mencintai pria yang selalu menyakitinya. Itu Shin Hye.” kata Hyun Joong mengingat hari – hari dimana dia mencintai Shin Hye sebagai seorang wanita.

“Sekeras apapun aku mencoba, selembut apapun aku mencoba. Hatinya tidak pernah tergeser sedikit pun. Perasaannya pada Yong Hwa seperti akar pohon yang mencengkram kuat di tanah. Tak pernah goyah. Hingga akhirnya aku menyerah untuk mencoba, aku takut jika apa yang aku lakukan malah melukainya. Hingga akhirnya aku melepaskannya, mengembalikannya pada Yong Hwa, dan mencoba untuk mencintai dan menyayanginya sebagaimana perasaan seorang kakak pada adiknya.” imbuh Hyun Joong.

Tanpa kedua pria tampan itu sadari ternyata Shin Hye berada di depan pintu. Tadinya dia ingin memanggil mereka berdua karena Kyuhyun eomma menyuruh mereka untuk mengobrol berempat di ruang tengah tapi semua itu batal begitu mendengarkan pembicaraan kedua pria itu. Jujur saja, Shin Hye merasa bersalah pada Kyuhyun. Dia tidak tahu apa yang terjadi, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Kini dia memilih keluar apartement pamit kepada Kyuhyun eomma mengatakan bahwa ia ingin ke minimarket sebentar. Dalam perjalanan dia berusaha mengingat masa kecilnya, memang ibunya pernah bilang dulu waktu dia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama keluarganya tinggal di Jepang. Tapi ibunya tidak pernah memberitahukannya mengenai teman atau apapun, bahkan tentang kecelakaan yang pernah dia alami. Dan memang benar juga kalu dia tidak pernah mengingat cerita tentang masa – masa sekolah dasar dan sekolah menengah pertamanya. Dia berusaha keras tapi dia malah merasakan pusing yang luar biasa. Dalam pikirannya terpampang potong – potongan gambar kehidupan yang tidak pernah dia alami sebelumnya, suara tawa seorang bocah lelaki yang tidak pernah dia dengar. Semua terasa berputar, kepalanya pusing, kemudian semua menjadi gelap gulita.

“Kyunnie… Hyunnie…” teriak panik Kyuhyun eomma dari ruang tengah.

“Ada apa eomma?” tanya Kyuhyun panik.

“Tolong kalian cari Shin Hye. Ini sudah 15 menit dia keluar tapi dia belum kembali juga.” kata Kyuhyun eomma panik, matanya berkaca – kaca, beliau takut terjadi apa – apa pada Shin Hye.

“Memang Shin Hye kemana?” kali ini Hyun Joong bersuara dia panik dan berlari menuju pintu keluar. Dia harus menemukan Shin Hye, dia takut terjadi apa – apa pada adik tersayangnya itu.

“Dia bilang ingin ke minimarket tapi belum kembali juga, padahal jarak dari apartement ke mini market hanya 5 menit saja.” kata Kyuhyun eomma.

“Aku pergi.” pamit Kyuhyun buru – buru laru berlari dengan kencang, tidak ingin ada waktu sedikit pun yang terbuang. Begitu juga dengan Kyuhyun dia menyuruh eommanya untuk menunggu di rumah saja. Mereka sudah melewati minimarket yang dimaksud oleh Kyuhyun eomma tapi dia tidak di sana. Mereka terus mencari wanita itu, hingga akhirnya mereka melihat kerumunan orang yang mengelilingi sesuatu. Melihat itu Hyun Joong langsung menghampiri mereka dan diikuti oleh Kyuhyun. Benar seperti dugaan Hyun Joong, orang – orang itu mengelilingi Shin Hye tapi tak satupun dari mereka berusaha menolongnya.

“Pardon, she is my sister. Let me in please.” seru Hyun Joong begitu mendapati Shin Hye. Dia langsung menggendong Shin Hye dengan gaya bridal lalu menerobos keluar untuk membawanya ke tempat yang lebih terbuka. Setelah Shin Hye sadar dia tidak kembali ke apartement Kyuhyun melainkan ke apartement miliknya karena ini adalah permintaan Shin Hye. Dia juga meminta agar Kyuhyun mengatakan pada eommanya supaya tidak usah khawatir, Shin Hye baik – baik saja. Lalu mereka berpisah. Melihat keadaan Shin Hye saat ini Hyun Joong bingung harus bagaimana. Dia ingin bertanya, tapi melihat kondisi Shin Hye sepertinya Shin Hye juga tidak mengetahuinya. Dia ingin menenangkan, tapi tidak tahu bagaimana caranya karena dia tidak pernah tahu seperti apa masa lalu Shin Hye. Jadi untuk saat ini dia hanya diam menunggu sampai Shin Hye mau berbicara dan dia hanya bisa menyiapkan pundak dan punggungnya untuk menjadi sandaran Shin Hye sebagaimana biasanya. Tapi mengingat perkataan Kyuhyun yang ingin menarik Shin Hye kembali ke dalam hidupnya dia sedikit merasa takut. Takut jika nanti Kyuhyun hanya akan menyakiti dirinya sendiri seperti sebagaimana dia dulu. Dia juga takut jika nanti Kyuhyun melakukan berbagai cara, dari cara yang halus sampai dengan yang kasar. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan ke depannya jadi dengan bijak dia membiarkan waktu yang menunjukkan arah dan dia tinggal mengikuti kemana alur itu membawanya.

Sesampainya di rumah Shin Hye langsung masuk ke kamarnya dan Hyun Joong hanya mengikutinya saja. Tanpa mengganti bajunya Shin Hye merebahkan dirinya di ranjang hangatnya, menutupi dirinya dengan selimut tebalnya, dan memejamkan matanya. Sebelum pergi Hyun Joong membenarkan posisi selimut Shin Hye kemudian mengusap sayang kepala Shin Hye, menyingkarkan poni yang menutupi dahinya lalu mencium sayang dahi Shin Hye, berusaha menyalurkan rasa sayangnya melalui kehangatan ciumannya. Tetapi saat dia akan keluar dari kamar Shin Hye, Shin Hye menahannya.

“Oppa, tetaplah di sini. Temani aku.” pinta Shin Hye.

“Ne, oppa akan di sini sampai kau tidur sayang.” jawab Hyun Joong perhatian.

“Ani, tidurlah di sini oppa.” Pinta Shin Hye lagi, dia menggeser tempatnya memberikan ruang untuk Hyun Joong. Dia selalu melakukan ini jika merasa tertekan atau perasaan apapun yang bukan perasaan baik. Berusaha mendapatkan kehangatan seorang kakak dari Hyun Joong.


Langit cerah semakin menghiasi hari indah yang dinanti oleh Yong Hwa hari ini dia akan merencanakan dan menyiapkan hari pelamaran Shin Hye. Rencananya dia akan melamar Shin Hye di depan semua orang pada saat wisudanya. Dia akan menyanyi dalam acara hiburan itu dan saat itu juga dia akan melamar Shin Hye. Dia mengundang kedua orangtuanya, orangtua Shin Hye, Hyun Joong, Jong Hyun, Min Hyuk, Jung Shin, dan yang paling penting Park Shin Hye. Dia sangat bersemangat menyusun rencana ini. Tentu saja dia tidak melakukannya sendiri selalu ada ketiga sahabatnya yang selalu membantunya tanpa diminta. Maka dari itu ia mengirimkan undangan kepada Shin Hye dan Hyun Joong untuk menghadiri acara wisudanya. Hal ini diketahui orang – orang terekatnya, bahkan Seo Hyun pu mengetahuinya. Tentu saja Seo Hyun memiliki rencana sendiri untuk merusak semua persiapan manis Yong Hwa untuk Shin Hye, seperti biasa. Seo Hyun tahu kapan Yong Hwa akan mengirimkan undangan itu pada Shin Hye dan rencananya ia akan mengirimkan hadiah untuk Shin Hye dihari keberangkatan Shin Hye ke Seoul. Rencana yang sangat sempurna dari Seo Joo Hyun.

“Hyung, kau akan menyanyikan apa diatas panggung?” Tanya Min Hyuk pada Yong Hwa.

“Kau akan tahu nanti. Tugasmu hanya membantuku menyiapkan semua ini.” Balas Yong Hwa tanpa mengalihkan konsentrasi untuk kertas ditangannya.

“Beritahu kami hyung agar kami bisa mengiringi.” Imbuh Jung Shin.

“Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri. Kalian hanya perlu membantuku menyiapkan semua ini.” Balas Yong Hwa tak jauh berbeda dengan jawabannya pada Min Hyuk.

“Kuingatkan sekali lagi hyung padamu. Berhati – hatilah pada Seo Hyun.” Kata Jong Hyun mengingatkan Yong Hwa untuk kedua kalinya.

“Ya ya ya, akan kuingat itu.” Balas Yong Hwa pada Jong Hyun dengan nada bicara yang tidak serius.

“Aku pergi dulu. Ada urusan bisnis dengan seseorang.” Tukas Jong Hyun lalu pergi meninggalkan tiga orang sisanya.

“Aku ikut hyung!” Teriak Min Hyuk dan Jung Shin bersamaan.

“Tidak. Aku ingin sediri saja.” Balas Jong Hyun lalu melanjutkan langkah kakinya keluar. Sedangkan Yong Hwa yang medengar itu hanya diam saja. Dia tahu bisnis apa yang akan dilakukan oleh Jong Hyun. Tentu saja bermain wanita. Apa lagi yang akan dia lakukan jika hanya ingin melakukannya sendiri.

“Sudahlah, kalian ikut aku saja bantu menyiapkan kejutannya.” Kata Yong Hwa mulai angkat bicara.

“Tapi kami lapar hyung.” Tukas kedua mahkluk kelaparan itu.

“Nde, kita makan dulu baru pergi. Eotte?” Tawar Yong Hwa akhirnya.

“Makan sepuasnya dan hyung yang membayarnya. Oke?” Jawab Jung Shin.

“Mow?! Itu namanya pemerasan.” Kata Yong Hwa dan melayangkan pukulan ringan ke kepala kedua dongsaengnya itu.

“Kami belum makan dari semalam hyung. Ayolah bantu kami.” Kali ini Min Hyuk berbicara dan mengeluarkan aegyo-nya yang selalu berhasil.

“Aiish, bagaimana bisa aku memiliki adik seperti kalian ini eoh?” Gerutu Yong Hwa.

“Ayo hyung. Kami lapar…..” Tukas Jung Shin sambil meniru ekspresi melas milik Min Hyuk.

“Baiklah. Kajja.” Akhirnya Yong Hwa mengalah pada mereka. Selalu begitu dan tak pernah berubah. Merekapun pergi menuju restoran cepat saji yang terletak tak jauuh dari tujuan Yong Hwa. Toko Cincin tempat ia memesan cincin pelamarannya untuk Shin Hye.

“Hyung kemarin itu ku lihat kau pergi berkencan dengan Seo Hyun si tukang ubi itu.” Tanya Jung Shin dengan mulut yang penuh dengan makanan.

“Habiskan dulu makanan dimulutmu itu bodoh baru berbicara.” Tukas Min Hyuk sambil memukul kepala Jung Shin pelan.

“Uhhukkk.” Jung Shin terbatuk.

“Kau membuatku tersedak bodoh.” Omel Jung Shin melotot pada Min Hyuk dan meminum minumannya.

“Aku tidak berkencan. Hanya membayar kebaikannya padaku selama penyusunan skripsiku. Ya, hanya ungkapan terimakasih saja.” Kata Yong Hwa

“Tapi aku melihat seseorang yang mengikuti kalian.” Imbuh Jung Shin.

“Benarkah? Tapi aku tak merasa diikuti siapapun.” Balas Yong Hwa santai.

“Sepertinya kau harus benar – benar memikirkan peringatan Jong Hyun hyung, hyung.” Timpal Min Hyuk.

“Oh ayolah, kalian terlalu berpikiran negative tentang Seo Hyun.” Kata Yong Hwa mengakhiri pembicaraan itu diakhiri dengan kekehan singkat.

Ya, Yong Hwa terlalu berpikir positif untuk semua yang telah dilakukan oleh Seo Hyun padanya. Berbeda dengan ketiga sahabatnya yang tidak pernah suka melihat kehadiran Seo Hyun diantara mereka. Terutama Jong Hyun yang memiliki firasat kuat. Tapi mau sekeras apapun mereka mengingatkan Yong Hwa semua itu tidak akan ada gunanya jika Yong Hwa sudah mengambil keputusan sendiri. Berulang kali mereka menunjukkan sifat tidak suka pada Seo Hyun secara terang – terangan dihadapan Yong Hwa. Tapi yang terjadi malah mereka yang terkena omelan Yong Hwa. Yong Hwa bilang tidak seharusnya mereka bersikap seperti itu. Sikap mereka seperti anak kecil yang tidak suka melihat seseorang dekat dengan ayahnya. Tapi mereka tidak menyerah. Mereka akan terus berada di sisi Yong Hwa dan Shin Hye membantu mereka dalam setiap keadaan. Membuat mereka menjadi satu untuk seterusnya tanpa peduli sesulit apapun batu loncatan yang harus mereka lalui. Banyak jalan menuju Roma jadi tentu saja banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjauhkan Seo Hyun dari dua insan yang mereka sayangi itu.


Ting… Tong…

Terdengar bunyi bel apartement Hyun Joong.

“Oppa, tolong bukakan pintu. Aku sedang memasak.” Teriak Shin Hye dari arah dapur.

“Ne.” Balas Hyun Joong yang berjalan ke arah pintu.

“Siapa oppa?” Tanya Shin Hye yang masih menyiapkan meja makan mereka.

“Tukang pos. Ada surat dari Seoul untukmu dan aku.” Jawab Hyun Joong.

“Surat apa?” Tanya Shin Hye lagi.

“Surat undangan wisuda Yong Hwa. Akhirnya dia selesai kuliah juga ya. Anak bodoh itu.” Tukas Hyun Joong da tertawa ringan.

“Kapan acaranya?” Tanya Shin Hye lagi.

“Nanti saja kita bicarakan. Aku sudah lapar Nyonya Jung.” Kata Hyun Joong tidak menjawab pertanyaan Shin Hye.

“Aku tahu kau senang Tapi tak kasihan kah kau pada perutku ini?” Imbuh Hyun Joong.

Surat undangan wisuda Yong Hwa telah tiba pada Shin Hye dan Hyun Joong. Dan mereka akan berangkat sehari sebelum acara wisuda dilaksanakan. Rencana Shin Hye dia akan mengatakan pada Yong Hwa bahwa ia tidak akan datang. Tapi Hyun Joong tidak sependapat dengan Shin Hye, memang dia akan mengiyakan rencana Shin Hye tapi dia lebih berpihak pada rencana Yong Hwa. Tentu saja, Yong Hwa sudah menyampaikan rencananya pada Hyun Joong. Shin Hye sudah memiliki rencana dari jauh hari untuk hari istmewa itu. Dia akan menggunakan gaun terbaik miliknya untuk acara wisuda Yong Hwa. Setelah itu mereka makan malam bersama di apartement mewah Hyun Joong. Sambil membicarakan rencana Shin Hye untuk hari istimewa Yong Hwa. Yang tanpa Shin Hye sadari Yong Hwa sudah memiliki rencana lebih dulu dan mendapatkan sekutu yang menjamin keberhasilan rencananya. Bagaimana tidak Yong Hwa sudah memiliki rencananya sejak dia menulis skripsinya. Dan semua kemungkinan yang  telah dia perkirakan, dia punya cara menanggulanginya.

“Oppa, aku akan mengatakan pada Yong Hwa bahwa yang bisa datang ke Seoul haya kau karena aku memiliki meeting penting saat itu. Oke?” Kata Shin Hye.

“Haruskah? Itu terdengar seperti bermain petak upmet.” Balas Hyun Joong.

“Tentu saja harus oppa!” Tukas Shin Hye tegas. Sebenarnya lebih terdengar seperti memaksa dan merajuk di telinga Hyun Joong.

“Baiklah. Tapi ada syaratnya.” Kata Hyun Joong.

“Apa?” Tanya Shin Hye antusias.

“Apapun yang dilakukan Yong Hwa padamu saat mengetahui kau ada di Seoul selama itu masih pada batas yang wajar kau harus menerimanya. Aku tidak mau ikut campur urusa kalian berdua. Oke?” Kata Hyun Joong.

“Siap!” Kata Shin Hye sambil hormat kepada Hyun Joong. Seperti prajurit kepada komandannya.


From: Seo Hyun

Bagaimana persiapan kejutan untuk Shin Hye?

To: Seo Hyun

Sudah 75%. Kau akan membantuku kan?

From: Seo Hyun

Tentu saja. Dengan senang hati. Kapan Shin Hye datang?

To: Seo Hyun

Sehari sebelum hari wisuda. Karena penerbangan memakan waktu ± 20 jam maka dia akan berangkat dua hari sebelum hari wisuda dan tiba di Seoul pada pagi hari sehari sebelum hari wisuda.

From: Seo Hyun

Okey! Hwaiting, Yong Choding!

Yong Hwa tanpa curiga membalas pesan singkat dari Seo Hyun. Tidak mengetahui bahwa sebenarnya Seo Hyun menanyakan kapan Shin Hye akan datang agar dia bisa megirimkan ‘hadiah’ untuk Shin Hye pada waktu yang tepat. Sesungguhnya Yong Hwa memang memberitahu Hyun Joong tentang keinginan dan rencananya melamar Shin Hye tapi dia tidak memberitahu secara detail bagaimana acara pelamaran itu berlangsung. Begitu juga dengan yang lain, dia meminta bantuan tapi tidak memberitahu secara jelas tujuannya. Hanya dirinyalah yang benar – benar tahu seperti apa rencana yang dibuatnya untuk mengejutkan Shin Hye dan semua orang tentunya. Seo Hyun sungguh – sungguh menjalankan apa yang telah dia rencanakan dan hanya memikirkan kemungkinan terbaik baginya tanpa memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada dirinya.

“Aku sudah mengirimkan foto itu melalui email. Kau tinggal mencetak dan mengirimkannya ke apartement Hyun Joong.” Kata seorang melalui telepon.

“Baiklah. Jangan lupa bayaranku Seo Hyun.” Kata orang lawan bicaranya.

“Tenang saja. Aku akan membayarmu sesuai dengan kesepakatan kita sebelumnya.” Balas yeoja bermarga Seo itu.

Seo Joo Hyun atau yang akrab dipanggil Seo Hyun. Wanita yang terobsesi dengan Yong Hwa menjalankan rencananya dengan baik sebaik kerja keras Yong Hwa menyusun rencana miliknya. Dia  tersenyum puas membayangkan keberhasilannya dan impiannya yang sebentar lagi akan terwujud. Dimana dia dan Yong Hwa menjadi sepasang kekasih seperti yang di angan – angannya selama ini.   Melihat rusaknya hubungan Yong Hwa dengan Shin Hye seperti yang dia lihat beberapa tahun lalu saat ia menjadi EO untuk pertuangann Yong Hwa dan Shin Hye yang pertama.

“Selamat menikmati hadiah dariku Shin Hye-ssi” Kata Seo Hyun puas lebih kepada dirinya sendiri.


Sinar mentari menerobos masuk ke dalam ruangan tempat seorang yeoja beristirahat dari kepenatan keseharian yang rutin ia jalani melalui celah celah jendela kamar yang memang sengaja ia buka semalam. Disertai kicauan indah burung – burung kecil yang tinggal di dahan pohon yang hidup di samping gedung itu.

“Eeunnggghh…” Lenguh yeoja itu bangun dari tidur cantiknya dan mengulet ria mengisyaratkan bahwa tidurnya malam tadi nyenyak.

Setelah bangun ia menuju kamar mandi kemudian ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, seperti biasa. Lalu sambil menunggu makanan matang ia membangunkan namja yang merupakan kakak laki – laki kesayangannya, Kim Hyun Joong. Dia sangat bersemangat hari ini. Tentu saja itu semua karena hari ini adalah hari keberangkatan mereka —Shin Hye dan Hyun Joong—. Mereka akan menggunakan penerbangan malam jadi pagi hingga siang ini mereka hanya akan ada di apartement. dan menyiapkan segala sesuatu untuk dibawa ke Seoul.

“Oppa! Irreona.” Tukasnya membangunkan namja yang masih tertidur lelap di ranjang hangat miliknya.

“Wait for me. Just 5 minutes more. I need more sleep Shin.” Ucap namja itu sambil menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya.

“Okey, just 5 minutes. Promise me?” Balas Shin Hye.

“Boleh minta waktu lebih?” Tawar Hyun Joong masih bersembunyi di balik selimutnya.

“No! Just 5 minutes. If you didn’t wake up at  the time, i’ll flush you with cold water.” Tegasnya lalu keluar, melanjutkan acara memasaknya. Mendengar hal itu Hyun Joong hanya mendesah kasar. Shin Hye terlalu semangat hari ini. Dia memaklumi itu. Tapi, HARUSKAH DIA MENGGANGGU TIDUR CANTIKNYA SEPAGI INI?!!!! Menurut Hyun Joong, Shin Hye sudah gila ini hari Sabtu dan ini baru pukul 06.00 pagi dan dia harus mendengarkan ancamannya itu. Ini Gila! Kapan Shin Hye akan menikah dengan Yong Hwa agar dia bisa menertawakan Yong Hwa yang dibangunkan Shin Hye dengan cara yang errrr….. bisa dibilang cukup mengerikan.

“Here we go! Wake up now oppa!” Kata Shin Hye setelah selesai memasak. Sebenarnya ini sudah lebih dari 5 menit. Tapi tukang tidur itu tidak bangun juga.

“Your time was end oppa. Wake up now!” Tukas Shin Hye lagi, tapi yang dibangunkan tidak meresponnya sedikit pun.

“I SAID, WAKE UP NOW KIM HYUN JOONG!!!” Teriak Shin Hye dengan kedua tangan berada di masing – masing pinngangnya. Jangan lupa, dia berteriak tepat di samping Kim Hyun Joong. Tapi lagi – lagi, pria itu tidak bangun juga jadi sesuai dengan yang telah dikatakannya tadi dia mengambil segelas air dingin untuk membangunkannya.

BYUURRR….

“Aaaahhhh! Are you crazy?! Its cold Ssinz!” Omel Hyun Joong tidak terima.

“Ini bahkan sudah lebih dari 5 menit oppa. Masih untung aku menyirammu dengan segelas air dingin saja, bagaimana jika aku menyirammu dengan seember air dingin beserta dengan es-nya?” Balas Shin Hye tidak mau kalah.

“Mwo?! Kalo seember lebih baik sekalian saja aku ikut ICE BUCKET CHALLENGE.”  Balas Hyun Joong lagi. Lalu bangkit dan menuju kamar mandi.

“Bersihkan kekacauan itu. Aku tidak ingin melihatnya setelah selesai mandi. Arraseo?!” Imbuh Hyun Joong lagi sebelum menutup pintu kamar mandi.

“Ye, arraseo.”Jawab Shin Hye dan mulai membersihkan kekacauan yang dia timbulkan.

Setelah semua beres mereka makan bersama dan kemudian mereka berkemas untuk menyiapkan keberangkatan mereka.

Ting. Tong.

“Oppa, tolong buka pintunya. Sepertinya ada tamu.” pinta Shin Hye halus dia merasa agak takut karena kejadian tadi. Tanpa menjawab Hyun Joong membukakann pintu dan ternyata yang datang adalah seorang kurir pengantar barang. Dia mengantarkan sebuah amplop coklat dan saat membukanya ternyata isinya adalah beberapa lembar foto yang menggambarkan kegiatan mesra seorang namja dan yeoja, namja itu adalah Jung Yong Hwa sedangkan sang yeoja dia tidak mengenalinya. Matanya melotot kaget, rahangnya mengeras. Dia marah. Kim Hyun Joong marah melihat foto – foto itu tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Menyembunyikannya atau memberitahukan hal ini dari Shin Hye. Atau ini adalah rencana Yong Hwa? Ah, tapi tidak mungkin apa iya untuk menyukseskan acara itu Yong Hwa harus mencium seorang gadis lain?? Masih berkelut dengan pikirannnya, Shin Hye datang menghampirinya.

“Itu apa oppa?” Tanya Shin Hye penasaran.

“Bukan apa – apa.” Jawab Hyun Joong.

“Benarkah? Kalo bukan apa – apa seharusnya aku boleh melihatnya.” Kata Shin Hye penasaran dan mencoba merebut itu dari tangan Hyun Joong.

“Shin.” Hyun Joong memanggil Shin Hye.

“Ne? Wae?” Kata Shin Hye.

“Bagaimana jika kita berlibur saja ke Jepang? Sekalian aku ingin tahu tempat kau mengenal Kyuhyun seperti apa.” Kata Hyun Joong. Shin Hye yang melihat hal itu merasa ada yang aneh dengannya.

“Tidak bisa sekarang oppa. Kau tahu sendiri acara ini penting untuk Yong Hwa, mana mungkin aku tidak hadir di acara ini. Lagipula kenapa oppa tiba – tiba berkata seperti itu?” Tukas Shin Hye bingung dengan sikap Hyun Joong padanya saat ini.

“Ah.. ah.. ti..tidak ada apa – apa. Aku ke kamar mandi dulu.” Kata Hyun Joong lalu berlalu menuju kamar mandi. Dan dia meletakkan amplop itu di bawah bantal sofa setelah memastikan Shin Hye tidak melihat itu. Tapi tanpa dia ketahui Shin Hye mengikutinya dan mengintip dimana Hyun Joong meletakkan benda itu. Shin Hye mengambilnya dan membuka amplop itu. Sama halnya dengan Hyun Joong dia kaget. Melihat foto – foto itu satu persatu dengan tatapan itu percaya. Lutunya lemas dan dia terduduk begitu saja di lantai yang dingin. Air mata meluncur begitu saja membasahi kedua pipi lembutnya. Dia menangis sedu tapi tidak menimbulkan suara yang keras, hanya sesekali terdengar isakan pilu. Hyun Joong yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk menenangkan pikirannya tentu saja kaget melihat Shin Hye yang terduduk di lantai dengan memeluk erat kedua lututnya. Kepalanya tertunduk ditutupi kedua tangannya. Dia menangis terisak. Tidak begitu keras suaranya tapi terdengar sangat memilukan di telinganya. Amarahnya kembali naik. Saat ini juga inginrasanya dia mencaci maki dan memukuli pria yang menyebabkan Shin Hye seperti ini. Shin Hye menyadari keberadaan Hyun Joong di belakangnya, dia berbalik dan memeluk Hyun Joong erat.

“Oppa…” Panggil Shin Hye lirih. Tatapan matanya sangat berbanding terbalik dengan saat dia menerima undangan wisuda Yong Hwa beberapa waktu lalu.

“Oppa…” Shin Hye kembali bersuara. Suara indah dan riang yang biasa didengar oleh Hyun Joong kini berganti dengan suara menyedihkan yang sarat dengan rasa sakit dan kecewa. Hyun Joong tidak mengatakan apapun dia hanya memeluk Shin Hye mencoba memberikan rasa nyaman melalui pelukannya. Dia membiarkan Shin Hye menangis sepuasnya, membasahi kaos yang dia kenakan saat ini.

“Oppa… Dia menyakitiku.” Shin Hye menangis volume tangisannya meningkat dari yang sebelumnya. Lagi – lagi Hyun Joong hanya diam sambil terus mengusap punggung Shin Hye sayang.

“Dia menkhianatiku lagi oppa… Dengan yeoja yang sama…” Tangis Shin Hye meledak. Dia berteriak sedih di dada Hyun Joong, dia memukul dada Hyun Joong menyalurkan perasaa yang saat ini dia rasakan.

“Oppa… sakit… Di sini sakit….” Dia memukuli dadanya sendiri sambil terus menangis di dada Hyun Joong.

“Oppa tolong…” Lirih Shin Hye. Setelah tangis Shin Hye mereda Hyun Joong menghapus jejak air mata itu dengan kedua ibu jarinya. Untuk pertama kalinya iaya melakukan ini lagi setelah Shin Hye kembali pada Shin Hye.

“Sst… Uljima.. Everything gonna be okay. I promise you.” Kata Hyun Joong mencoba menenangkan Shin Hye dengan kata – katanya.

“No! You can’t do it oppa. Cancel our flight tonight. And let’s do a trip to Japan as you want.” Kata Shin Hye tegas. Tatapan mata itu menyiratkan perasaan marah, kecewa, dan sedih.

“Kau yakin? Tidak ingin ke Seoul dan segera menyelesaikan masalah ini?” Tawar Hyun Joong.

“No, i didn’t need it. I’ll broke up with him. As soon as possible.” Tukas Shin Hye tegas dengan mata yang menyala.

“Jangan terbakar emosi Shin. Pikirkan dengan baik atau kau akan menyesal di kemudian hari. Kita ke Jepang malam ini untuk beberapa hari ke depan. Kita akan menenangkan pikiranmu. Okey?” Kata Hyun Joong sabar. Dia tidak ingin Shin Hye kembali menjadi si pemurung yang terus menangisi pria itu. Karena dia tahu hanya Yong Hwa lah sumber kebahagiaan Shin Hye yang sebenarnya. Dibalas dengan anggukan setuju dari Shin Hye

“Kau mau makan?” Tanya Hyun Joong lagi. Dibalas dengan gelengan kepala dari Shin Hye.

“Minum?” Tanya Hyun Joong lagi. Lagi, dibalas dengan gelengan kepala dari Shin Hye.

“Lalu?” Tanya Hyun Joong lagi. Dia khawatir dengan keadaan Shin Hye saat ini.

“Aku lelah. Aku mau tidur. Temani aku oppa.” Kata Shin Hye lirih.

“Baiklah ayo kita tidur.” Kata Hyun Joong dan menggendong Shin Hye seperti anak bayi menuju kamar Shin Hye. Dan mereka istirahat di sana. Shin Hye yang tidur sambil memeluk Hyun Joong erat dan Hyun Joong yang mengusap kepala Shin Hye penuh rasa sayang.


“Apa yang terjadi? Kenapa Shin Hye tidak hadir? Aku harap tidak terjadi apa – apa pada Shin Hye. Atau mungkin dia sedang sibuka sampai tidak bisa datang ke acara wisudaku ini? Tapi kenapa Hyun Joong hyung tidak menghubungi ku?” Pertanyaan – pertanyaan itu terus berputar – putar di kepalanya saat ini. Dia memang kecewa karena Shin Hye tidak hadir dan semua itu tentunya merusak semua rencana yang sudah disusun sebaik mungkin. Tapi dia terus mencoba berpikir positif. Dia menjalankan prosesi wisuda itu dengan tidak semangat. Di sisi lain, seorang yeoja di tempat duduk di bagian belakang tersenyum puas karena recananya berhasil. Dan mungkin sebentar lagi tujuannya akan tercapai dengan sempurna.

“Chukkaeyo Yong Choding!” Seru Shin Hye setelah acara berakhir dan menemui Yong Hwa di depan pintu ballroom.

“Ne, terimakasih Hyun-ah.” Sahut Yong Hwa tak bersemangat.

“Ayo kita foto bersama.” Pinta Seo Hyun.

“Baiklah.” Turut Yong Hwa. Dan mereka pun berfoto bersama menggunakan kamera Seo Hyun dan menguploadnya ke beberapa socmed miliknya tidak lupa menyebutkan nama Shin Hye di sana.

Licik. Satu kata itulah yang bisa menggambarkan sifat Seo Hyun.

Yong Hwa memutuskan untuk pergi ke Cambridge untuk mengetahui kenapa Shin Hye dan Hyun Joong tidak hadir di acara wisudanya. Dan ia ingin bekerja dia perusahaan Jung Corp yang berada di Cambridge jadi dia bisa terus mengadakan pertemuan dengan Shin Hye sekaligus mengembangkan bisnis milik ayahnya. Berharap besar bahwa tidak terjadi apa – apa dan semuanya akan baik – baik saja. Semoga saja harapannya itu adalah nyata. Karena setelah di wisuda dia berulang kali mencoba menghubungi Shin Hye setiap jamnya. Dia juga mencoba menghubungi Hyun Joong. Berharap salah satu dari mereka meresponnya dan memberikan penjelasan kepadanya. Karena semua ini sudah mulai membuatnya gila, sudah lebih dari seminggu Shin Hye dan Hyun Joong tidak bisa dihubungi. Tidak ada yang mengetahuui apa yang terjadi dengan kedua orang itu. Semua orang mengkhawatirkan mereka. Tapi Yong Hwa lah yang merasa menjadi paling gila di antara semuanya dan merasa bahwa dia harus segera menemukan kedua manusia itu.

Hari yang telah ditentukan tiba beruntung sehari sebelum keberangkatannya Hyun Joong menghubunginya.

From: Hyun Joong Hyung

Kapan kau akan tiba di Cambridge? Aku akan menjemputmu. Oh ya, Shin Hye tidak aku beritahukan mengenai kedatanganmu kemari. Tak apa bukan?

To: Hyun Joong Hyung

Kemana saja kau hyung? Kenapa tak pernah menghubungiku? Aku akan tiba lusa sekitar pukul 04.00 p.m. Aku pikir tak apa jika Shin Hye tak mengetahui kedatanganku.

From: Hyun Joong Hyung

Kau akan mengetahui semua jawaban untuk pertanyaanmu itu ketika kau tiba di Cambridge. Jadi bersabarlah.

Hyun Joong hanya bisa mengeraskan rahangnya jika mengingat nama Yong Hwa. Saat ini dia hanya ingin membuat wajah tampan itu babak belur karena keadaan Shin Hye saat ini. Bahkan keadaan Shin Hye saat ini lebih buruk dari pada waktu Hyun Joong menyukai Shin Hye sebagai seorang wanita.

“Kenapa ini terjadi saat aku sudah bersusah payah untuk melepaskannya untukmu?? Kenapa kau tidak menepati janjimu untuk melindunginya? Kenapa kau membiarkannya terluka lagi dan membuatnya menangis? Haruskah aku menjauhkanmu dari Shin Hye??” Batin Hyun Joong kesal. Rasa iba, marah, kecewa bercampur menjadi satu karena kejadian ini. Dia tidak tahu harus bagaimana. Ditambah dengan keadaan Shin Hye yang sangat terpuruk.


Sudah seharian Shin Hye mengurung diri di kamarnya. Meskipun hari ini tidak cerah tapi dia bisa beraktivitas di luar kamarnya bukan? Seharusnya dia bisa menemani Hyun Joong. Setidaknya dia bisa bersikap bahwa dia baik – baik saja. Shin Hye inginbegitu tapi rasa kecewa ini begitu dalam digoreskan oleh Yong Hwa. Bukan. Ini bukan lagi sebuah goresan tapi ini seperti luka yang terbentuk karena pisau yang menancap di hatinya. Begitu perih meskipun sudah tidak mengalirkan darah lagi. Padahal luka lama itu mulai menutup dan tinggal menunggu sedikit waktu lagi bekasnya ikut menghilang. Tapi ternyata hal itu tidak terjadi, kini bahkan ada luka baru yang lebih dalam terbentuk di hatinya. Luka dalam yang terus terasa perih meskipun darah sudah tidak lagi mengalir keluar dari sana. Luka yang akan sangat sulit untuk menghilangkan bekasnya.

Shin Hye duduk di depan jendelanya yang dialiri air hujan yang menetes deras. Mewakili tangisan pilu dari rasa sakit yang dia rasakan saat ini. Tatapannya kosong, tak terbaca apa yang sedang ada dipikirannya. Bahkan meski dia sedih dia tidak menangis. Hulu air matanya sudah mengiri karena terlalu banyak air mata yang terkuras dari sana. Menyisakan tatapan kosong yang nanar.

“Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” (Soekarno) Gumam Shin Hye kepada dirinya sendiri. Menatap kosong tetesan air hujan yang belum juga mereda.

Kemudian terdengar helaan nafas kasar, terdengar bahwa si penghela itu sengat kelelahan. Ya, kelelahan karena cerita cintanya. Kenapa manis rasa cinta itu hanya dia rasakan dalam waktu yang sangat singkat. Kenapa dia harus dikecewakan lagi di saat dia ingin mulai kembali memepercayainya. Pertanyaan yang terus memenuhi isi kepala Shin Hye. Terdengar dramatis memang, tapi itulah kenyatanya. Mungkin jika kau mengalami hal ini, keadaanmu juga akan sama seperti keadaan Shin Hye saat ini. Tanpa Shin Hye sadari sepasang mata indah menatapnya prihatin. Pemilik mata itu ingin mendekat, tapi dia tahu bahwa saat ini objek tatapannya itu sedang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.

Karena tidak tahu harus berbuat apa Hyun Joong memutuskan untuk menghubungi Kyuhyun, orang yang mengklaim dirinya sebagai sahabat Shin Hye. Memintanya untuk datang dan menghibur Shin Hye. Setidaknya membuat Shin Hye keluar meninggalkan kamarnya yang saat ini memiliki aura dingin mencekam. Benar saja, tak lebih dari satu jam pria itu datang, membuat Hyun Joong berpikir untuk membuat Shin Hye pergi menjauhi Yong Hwa untuk hidup bahagia bersama dengan pria itu.

“Shin, Kyuhyun datang.” Kata Hyun Joong sambil berjalan menghampiri Shin Hye yang masih asik memandangi jendela basahnya.

Tak kunjung mendapatkan respon Hyun Joong berjalan mendekati Shin Hye dan mengelus puncak kepala wanita yang penting untuknya itu, berharap segera mendapatkan respon.

“Shin, Kyuhyun datang. Dia bilang ingin ngobrol denganmu.” Kata Hyun Joong masih sambil mengelus puncak kepala Shin Hye.

“Suruh saja dia masuk ke kamarku, oppa.” Kata Shin Hye dengan senyum tipis terpaksanya.

“Baiklah.” Kata Hyun Joong patuh. Kemudian memberi isyarat agar Kyuhyun masuk ke ruangan tempat dia berdiri saat ini.

Kyuhyun pun melangkah masuk ke dalam kamar Shin Hye menatap Shin Hye dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Mengandung banyak arti. Tatapan iba, sedih, bahkan kelicikan terkandung di wajah tampan miliknya. Kyuhyun merasa sedih dengan keadaan Shin Hye saat ini. Terlihat begitu rapuh, tapi dibalik itu dia melihat kesempatan emas untuk membuat Shin Hye menjadi miliknya. Bukankah itu keuntungan besar untuknya? Sepertinya Dewi Fortuna sangat mengagumi ketampananya hingga diberikan keberuntungan seperti ini.

“Hai!” Sapa Kyuhyun riang. Dan dibalas dengan senyum tipis dari Shin Hye.

“Mau bercerita?” Tukas Kyuhyun. Berusaha membuat Shin Hye membagi beban dengannya.

“Tidak ada yang harus diceritakan.” Kata Shin Hye datar.

“Benarkah? Sepertinya aku bukan sahabat lagi di matamu.” Balas Kyuhyun dengan nada kecewa.

“Tidak. Bukan begitu. Hanya saja ini terlalu dramatis dan sedikit berlebihan untuk diceritakan.” Kata Shin Hye panik. Takut Kyuhyun kecewa.

“Tak ada yang terlalu dramatis ataupun berlebihan untukku jika itu menyangkut dirimu.” Kata Kyuhyun.”Tapi jika kau belum siap aku akan menunggu.” Imbuhnya.

Setelah itu mereka terdiam cukup lama dengan pikiran masing – masing serta mencoba ketenangan untuk diri masing – masing. Terutama Shin Hye.

“Mau mendengarkan ceritaku?” Kata Kyuhyun tiba – tiba, memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka.

“Boleh.” Sahut Shin Hye.

“Ada seorang pria yang begitu mencintai seorang wanita. Tapi sayang pria itu hanya bisa menahan perasaannya karena hubungan keduanya hanyalah sebatas teman. Pria itu begitu menjaga perasaan sang wanita tanpa memedulikan perasaannya sendiri. Pria itu selalu mendengar kisah sang wanita bersama dengan pria yang wanita itu cintai. Sedangkan sang pria selalu menceritakan kisah pilunya kepada sebuah photo yang diambil diam – diam, photo wanita yang dicintai dalam diam itu. Meskipun hanya berbicara dengan photo itu tapi dia selalu merasa lega karena bisa berbagi kisahnya. Setidaknya ada yang mendengarkan ceritanya meski yang mendengarkan itu tidak menanggapi karena yang mendengarkannya hanyalah benda mati. Jadi, jika benda mati bisa membuatnya merasa lega apa lagi jika dia berbagi cerita dengan mahkluk hidup lainnya. Intinya adalah berceritalah jika beban yang kau rasakan begitu berat padaku. Meskipun aku tidak bisa memberikan solusi yang pasti tapi setidaknya hal itu bisa membuatmu merasa lebih ringan.” Kata Kyuhyun akhir. Membuat Shin Hye melihat ke arahnya dengan mata berkaca – kaca.

Tak lama kemudian tangisan Shin Hye pecah. Dia memeluk Kyuhyun erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang Kyuhyun. Menyalurkan seluruh rasa sakitnya yang tak kunjung menghilang hingga saat ini. Kyuhyun hanya membiarkan air mata Shin Hye membasahi kaus polo miliknya, menunggu sampai Shin Hye merasa lebih tenang. Hal ini berlangsung selama satu jam hingga akhirnya tangisan itu mereda menyisakan isakan – isakan halus dari bibir cherry milik Shin Hye.

“Maaf.” Kata Shin Hye menatap Kyuhyun dengan mata sembabnya.

“Siap bercerita?” Tanya Kyuhyun halus sambil menyeka bekas aliran airmata Shin Hye

“Saat aku SMA aku jatuh cinta pada seorang pria. Aku menjadi penggemar rahasianya selama bertahun- tahun. Ternyata pria itu adalah pria yang dijodohkan untukku oleh appa. Aku terus berusaha bersikap baik padanya dan mencoba membuat dia jatuh cinta padaku. Hingga puncaknya, aku melihat dia mencumbu seorang wanita dengan panas dihari peringatan pertunangan kami. Aku pergi ke Cambridge melanjutkan hidupku dan bertemu dengan Hyun Joong oppa. Dia mengejarku ke Cambridge dan kami bertunangan kembali karena aku merasa bahwa dia sudah benar – benar mencintaiku. Lalu appa kembali mengirimku ke Cambridge mengurus perusahaan di sini membantu Hyun Joong oppa. Sedangkan dia melanjutkan kembali kuliahnya di Seoul. Dia akan melangsungkan wisudanya dan mengundang kami. Tapi pagi di hari keberangkatan kami, aku mendapat kiriman photo berisikan kemesraannya bersama dengan wanita yang sama dengan yang dia cumbu saat pertunangan pertama kami. Dia mengkhianati ku lagi. Aku kecewa dan dilema sekarang. Haruskah aku kembali padanya jika dia meminta?? Haruskah aku memaafkannya? Bahkan luka ini lebih menyakitkan dan lebih dalam dari luka yang sebelumnya.” Cerita Shin Hye tanpa menoleh pada Kyuhyun, hanya memandang kosong jendela kamarnya.

“Kalau begitu, genggamlah tanganku. Teruslah bersamaku. Dan aku akan terus bersama denganmu. Menjagamu agar tak tersakiti.” Kata Kyuhyun.

“Dan menjadikanmu milikku selamanya.” Kata Kyuhyun dalam hatinya.

CCUUUUUUTTTTTTTT!!!!!!

Nothing to say. Males edit jadi jangan heran kalo tersebar typo diberbagai kata.

LEAVE YOUR COMMENT AFTER READ THIS FF.

Thank you ^^

Advertisements

4 thoughts on “[TWOSHOOT] Bad Stranger Part 1

  1. ini aq kyknya prnah bc yg sblmnya tp lp jdulnya..ne ep ep lnjtn.ya…

    ihhh jhtnya si ubi.. g pp deh klo shin hye dsktin yong hwa msh ada hyun jong m kyuhyun yg siap menerima shin hye kshn klo seo hyun yg dskiti…siapa coba yg mau sm dia hahaha…mknya ngebet bget m yong hwa…

    yong jg trll brfkr positif..
    dtgg lnjtnya u

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s