Complicated Way [CHAPTER 1]

uh2

1~ The Hated Person

Chaerin tidak mengerti jalan pikiran kedua orang tuanya. Mereka berpisah 5 tahun yang lalu, tapi tiba-tiba hari ini Chaerin menyadari bahwa ia sudah tinggal bersama orang tuanya. Lengkap. Bersama ayah, juga bersama ibu.

Matanya mengawasi orang tuanya dan sang adik yang dengan riang membawa kardus-kardus berisi baju dan beberapa barang penting, yang Chaerin yakini hampir separuhnya adalah barang-barang ibu. Paling koleksi-koleksi barang antiknya.

Taerin tersenyum lega, berhasil menurunkan salah satu kardus besar yang ia tidak tahu sama sekali isinya. Kemudian ia melirik Chaerin yang dengan setengah konsentrasi setengah melamun bermain Get Rich di ponselnya.

Taerin mendekat, lalu menggeleng kepalanya sok frustasi, menanggapi kakaknya yang bahkan tidak sadar ia sudah kalah dari lawan mainnya.

Eonni, kau kalah.”

Chaerin mengerjap. Ia mengerang kesal saat baru menyadari kekalahannya. Ponselnya digeletakkan asal di bagian kanan sofa, membiarkan ponsel itu tenggelam di antara tumpukan bantal yang berantakan.

“Ada apa dengan Eonni?” Taerin ingin sekali-sekali menunjukkan perhatian pada Chaerin, jadi ia mengambil ponsel itu, mendekapnya erat dan duduk di samping Chaerin.

Chaerin mendengus, menggaruk kepalanya bingung. “Aku tidak tahu. Kupikir aku sudah gila.”

“Baguslah kalau kau sudah sadar,” sambar Taerin yang akhirnya menerima cubitan di lengannya. Teringat pada bekas cubitan berwarna biru yang menempel pada tangannya beberapa bulan lalu, Taerin langsung kabur ingin mengadu kepada ibu.

“Awas kalau kau mengadu!” Chaerin sudah tahu kelakuan adiknya. Ibu terlalu menyayangi Taerin hingga Chaerin selalu dipandang dengan sebelah mata. Untungnya ia masih mendapat jatah kasih sayang, jadi Chaerin tidak perlu repot-repot protes.

Tangannya menelusuri bantal-bantal itu, namun ia tidak menemukan apa yang ia cari. Kemudian ia sadar Taerin sudah mengambil ponselnya. Chaerin berlari menaiki tangga, mendatangi kamar ibunya di mana Taerin sudah merengek-rengek kepada sang ibu.

Chaerin memperhatikan tangan Taerin dan menyambar ponselnya. “Terima kasih sudah mencuri ponselku.”

“Sama-sama, dan aku tidak mencuri ponselmu. Eonni sendiri yang membuangnya,” bantah Taerin dengan wajah polos dan menggemaskan untuk perempuan berumur 14 tahun, tapi Chaerin yang melihatnya memberengut jijik.

Ibu duduk di depan meja rias, membereskan peralatan make up-nya yang sempat teracak saat diletakkan di dalam kardus. Beberapa saat kemudian, dahinya mengerut. Beliau mencari-cari sesuatu, tapi ia tidak bisa menemukannya juga.

“Chaerin, bisa kau bantu Eomma?” Chaerin menaikkan kedua alisnya, tidak biasanya ibu meminta bantuan kecuali jika ibu memang sedang sangat lelah.

“Apa?” tanya Chaerin.

“Belikan Eomma bedak? Bedak Eomma hilang,” ucap ibu masih dengan mata yang mencoba mendeteksi salah satu benda pentingnya yang terlanjur masuk ke dalam kardus. Selanjutnya beliau meributkan penyesalannya yang tidak pernah datang lebih awal. Selalu terjadi belakangan.

Permintaan ini tidak penting. Apa Chaerin harus berjalan kaki menuju mall yang ia tidak ingat sama sekali letaknya? Mereka tinggal selama 5 tahun di Incheon dan tidak pernah kembali! Mengingat fakta itu Chaerin tiba-tiba kebingungan bagaimana bisa ayah dan ibunya rujuk kembali. Ah, Chaerin ingat. Ibu selalu pergi ke luar kota setiap bulan. Pastilah untuk bertemu ayah.

Tunggu, apa yang ia pikirkan? Sekarang adalah waktunya untuk protes.

Chaerin melirik Taerin yang cekikikan dengan gemas. “Tapi kenapa tidak menyu—”

“Kakak selalu menjadi yang mengalah dan bertindak cepat, tidak ingat?”

Ayah sudah berdiri di pintu, bersandar pada dinding sementara kedua tangannya dilipat di depan dada. Mendengar perkataan ayah lantas membuat Chaerin tidak tahan memutar bola matanya.

“Aku tahu. Itu adalah prinsip Ayah.”

Ayah menanggapinya dengan tawa, mendekati Taerin dan memeluk bahu putri keduanya erat. “Taerin masih kecil. Kau tidak mau ia tersesat, ‘kan?”

“Ayah! Taerin sudah besar!” koreksi Chaerin, namun ia mendiamkan bibirnya ketika ayah mengangkat tangan menyuruhnya berhenti berbicara.

“Tidak,” tegas ayah singkat yang berarti Chaerin tidak boleh membantah beliau sama sekali. Ayolah, ini adalah skenario kehidupan keluarganya yang paling ia benci.

Chaerin menatap sinis adiknya yang bersiul-siul pura-pura tidak peduli situasi padahal di dalam hati tertawa puas.

“Aku kasihan padamu yang tidak bisa dewasa,” Setelah mengatakannya Chaerin keluar dari kamar orang tuanya dan membanting pintu, mengagetkan anggota keluarganya yang masih setia berada di sana.

“Jangan lupa belikan Ayah banyak buah!” Ayah berteriak kencang saat sadar bahwa ia menginginkan buah saat ini, meskipun tidak yakin Chaerin mendengarnya.

Ayah dan ibu menghela napas, sedangkan tawa yang sejak tadi Taerin tahan ia keluarkan juga. Pada akhirnya meskipun ia adalah anak bungsu hukuman tetaplah hukuman, menerima pukulan pada tangannya bukanlah hal yang langka.

“Ibu!” Taerin mengeluh, mengusap tempat menerima pukulan ibu yang sebenarnya tidak terlalu sakit, justru tidak terdeteksi oleh saraf-sarafnya.

Ibu meletakkan jari telunjuk di bibir. “Jangan menertawakan Kakakmu.”

“Aku tahu,” sahut Taerin mengangkat bahu, lalu keluar dari kamar untuk membereskan barang-barangnya.

Ibu dan ayah saling bertatapan, beberapa detik kemudian keduanya tertawa. Ada rasa puas di hati mereka setiap kali mampu mengerjai anak-anak mereka sendiri.

Chaerin memakai sepatunya sambil duduk di lantai, sekalian merenungi nasibnya sebagai seorang kakak yang harus mengalah kepada adik. Dilahirkan sebagai kakak bukanlah keinginan Chaerin, Tuhanlah yang sudah menentukannya. Jika Chaerin dibolehkan membuat cerita kehidupannya sendiri, mungkin menjadi anak dari mafia paling terkenal di Korea dan ahli dalam memegang senjata sejak kecil juga sudah membunuh banyak orang terdengar keren. Tapi itu pikirannya saat SMP dulu. Sekarang, ia sadar bahwa hidupnya saja sudah susah. Apalagi menjadi anak mafia? No, Chaerin jadi merinding membayangkannya.

Sepatunya telah terpasang rapi di kakinya. Chaerin berdiri dan memegang daun pintu kayu depan rumahnya, namun menyadari ada sesuatu yang sempat ia lupakan Chaerin terdiam.

Ah, aku tidak tahu jalan menuju mall.

Chaerin mendesah keras. Benar, tidak ada ingatan tentang jalan-jalan di Korea. Yang ia tahu hanya rumahnya lumayan dekat dengan salah satu mall di Seoul, tapi ia tidak ingat sama sekali dengan jalan yang mengarahkannya ke tempat itu. Memakai taksi juga sepertinya hanya akan menghabiskan uang. Lalu, Chaerin terdiam lagi.

Aku belum minta uang.

Eomma!”

Chaerin menggebrak pintu kamar, detik berikutnya ia membeku melihat pasangan suami-istri itu sedang berpelukan di atas kasur. Chaerin menutup matanya, kesal. Kelakuan mereka sudah seperti pasangan remaja yang tidak tahan diri untuk bermesraan.

Tanpa babibu dan basa-basi, Chaerin mengambil dompet ibunya di laci meja rias. Setelah mengambil beberapa lembar uang yang sebenarnya lebih dari cukup untuk sekedar membeli bedak, Chaerin langsung turun ke bawah dan keluar dari rumah sebelum mendengar ocehan dari ibunya.

Terik panas matahari sepertinya sedang berniat memberikan warna baru pada kulit Chaerin. Ini musim panas, musim paling dibenci oleh Chaerin. Ia tidak suka menghabiskan waktu di luar, bermain game di kamar lebih baik dari menghabiskan energi mengganggu anjing-anjing tetangga. Sebenarnya, itulah kegiatan musim panas teman-temannya saat ia tinggal di Incheon. Mereka tipe hiperaktif yang tidak bisa berlama-lama diam di tempat mereka. Kadang Chaerin hanya ikut-ikut saja, mengawasi mereka sekaligus menghibur diri sendiri setiap ada anjing yang mengejar anak-anak itu.

Chaerin berjalan dengan menutup matanya, ia yakin tidak ada yang mau menabraknya di hari sepanas ini. Tidak ada anak-anak yang mau mengajak sepeda mereka jalan-jalan dan pingsan karena dehidrasi. Buktinya, kini Chaerin memandangi sebuah taman yang sepi. Tanpa penghuni satupun. Lalu matanya tertuju pada pohon rindang yang menutupi sebuah kursi kayu panjang di sana.

Mungkin aku bisa istirahat dulu, Chaerin berkata pada dirinya sendiri. Ia tahu ia baru saja berjalan sekitar 7 menit yang lalu, tapi hello, siapapun pasti akan cepat lelah jika menyangkut musim panas.

Chaerin duduk di sana. Pohon itu berfungsi dengan baik. Meskipun Chaerin masih merasakan ada matahari yang sedikit menyusup lewat dedaunan-dedaunan hijau itu, rasa sejuk lebih mendominasi. Ia merasa sangat tenang sekarang.

Pikirannya selalu bermain setiap ia merasa sejuk. Sedikit demi sedikit bayangan masuk ke dalam otaknya. Chaerin masih ingat dengan jelas, hari di mana ia merasa hari tersialnya tidak pernah tergantikan. Selalu menjadi hari di mana ia terakhir menginjakkan sekolah dasarnya di Seoul 5 tahun yang lalu.

Kakinya yang pendek melangkah riang, dengan matanya yang mengamati seorang laki-laki yang berjarak 5 meter darinya. Sebentar lagi, Chaerin akan dapat menemui laki-laki itu dan memberikan surat di tangannya. Terdengar mainstream mungkin jika memberikan hal-hal semacam surat, tapi sesuatu yang mainstream bagi orang lain justru mengasyikan bagi Chaerin pribadi.

Chaerin merasa ketika melangkah, ia seperti berlarian di atas awan. Ada kupu-kupu yang sedang menari-nari di perutnya. Sesuatu juga akan meledak di bagian dada kirinya, tempat di mana yang ibu katakan adalah tempat menyimpan perasaan yang Chaerin kini rasakan untuk laki-laki itu. Entahlah, ia mengartikannya sebagai perasaan di mana Chaerin ingin sekali berbagi permen dengan laki-laki itu. Asal kalian tahu, Chaerin tidak pernah mau membagi permen kesukaannya dengan orang lain, sekalipun ayahnya yang paling ia kagumi.

Namun tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang menghantam kepalanya, membuat badannya oleng dan berikutnya yang Chaerin tahu, pakainnya telah basah. Di sekelilingnya ada ikan-ikan yang berlari-larian, mau protes kepada Chaerin yang mengganggu tempat tinggal mereka. Chaerin terjatuh ke dalam kolam ikan karena sebuah bola menyerang kepalanya.

“Maafkan aku!” Laki-laki dengan sudut mata yang tajam dan rambut kecoklatan yang bercampur dengan warna merah, menghampirinya namun kemudian ia bungkam.

Chaerin menutup wajahnya. Bukan karena ia malu menjadi pemandangan anak-anak yang sedang bermain di sekelilingnya, tapi karena menemukan suratnya sudah bercampur menjadi satu dengan air kolam. Begitu Chaerin meraih surat itu, tulisannya sudah luntur dan kertasnya pun sudah terlihat seperti dirobek-robek menjadi potongan kertas.

Laki-laki yang menjadi dalang pelempar bola kaki dari kejadian itu memegang tengkuknya, melihat seorang perempuan menangis bukan hal yang langka karena ia sendiri adalah anak yang jahil, tapi kejadian seperti ini untuknya adalah pertama kalinya. Membuat seorang perempuan malu bukanlah style-nya.

“Sehun, apa yang kau lakukan?” Suara dengan perawakan tenang dan lembut itu sudah sangat dikenal oleh Chaerin. Lantas ia mendongak, melihat laki-laki yang ia suka berdiri di hadapannya. Perasaan malu langsung menghantamnya menit itu juga.

“Minta maaf pada Chaerin!” Laki-laki itu memukul kepala adiknya yang langsung meringis. Adiknya itu ingin marah karena sang kakak tidak punya hak apa-apa untuk memukulnya, tapi meminta maaf adalah kewajiban yang harus ia pentingkan dulu saat ini. Laki-laki itu dengan terpaksa mengangguk.

“Eeuhhmm… Maaf, aku tidak se—”

“Huaaaa!”

Chaerin langsung berlari, menembus kerumunan orang itu. Ia tidak tahu pasti ke mana kakinya akan membawanya, tapi yang pasti Chaerin tidak ingin berada di sana. Dan semenjak kejadian itu, julukan “Gadis Ikan” tiba-tiba menjadi hal yang harus ia terima sebelum pergi dari kota modern tersebut.

Chaerin mendesah. Kenapa ia harus mengingat kejadian itu lagi? Mengingatnya hanya membuat perasaan menjadi tida enak. Kesejukan yang awalnya menyenangkan itu berganti menjadi hawa panas dalam otaknya. Chaerin berdiri dari duduknya. Awalnya ia berniat untuk tidur, tapi ia tidak punya niat itu lagi. Lagipula ia harusnya berada di mall sekarang.

Perhatiannya jatuh pada sebuah kolam ikan yang letaknya berada beberapa meter dari kursi panjang tadi. Ah, Chaerin baru ingat. Kolam ikan yang selalu hadir pada imajinasinya adalah kolam ikan ini. Taman ini adalah taman tempat ia sejak kecil selalu bermain bersama teman-temannya. Taman yang letaknya strategis, dekat dengan sekolahnya dulu.

Kenangan itu kembali menusuk-nusuk otaknya, memberikan sensasi sakit yang tidak nyata, namun bisa menjatuhkan air mata lewat mata Chaerin. Hari itu terlalu menyakitkan. Hari itu adalah hari ia mendapat julukan Gadis Ikan, tapi tak hanya itu. Hari itu adalah hari terakhir ia melihat laki-laki yang tidak pernah tidak melintas dalam benaknya meskipun laki-laki itu tidak pernah ia jumpa lagi.

Chaerin mengusap air matanya. Ia tidak boleh menjadi perempuan yang sama dengan dirinya 5 tahun lalu. Bukan perempuan cengeng yang selalu ribut ingin membeli boneka setiap minggu, bukan si manja yang merasa permen adalah benda paling berharga di hidupnya—tidak sampai permen itu meninggalkan lubang pada giginya. Kini Chaerin adalah perempuan keras kepala yang bisa membedakan mana yang benar dan salah—menurutnya, Chaerin yang tidak akan menunjukkan betapa lemahnya dirinya kepada orang lain.

Lalu menandak semuanya menjadi memusingkan. Badannya oleng, terjatuh ke depan. Benda yang membentur kepalanya ikut terjatuh, mengapung di permukaan air kolam yang dingin. Ingatan akan hari itu kembali datang dengan sangat cepat, membuat emosi Chaerin meledak saat ia menyadari dirinya sudah berada bersama para ikan itu. Sejak kapan ada orang yang bermain bola di sini? Sepertinya ia sudah lama melamun.

“Maafkan aku,” Seorang laki-laki mengenakan baju bola berwarna hijau mendatanginya, langsung mengulurkan tangan pada Chaerin. Mendengar kalimat barusan Chaerin merasa skenario itu terulang lagi.

Chaerin setengah tertawa setengah mendengus jengkel, menampar tangan kekar itu dengan tangannya sendiri, lalu berdiri dengan kakinya sendiri tanpa bantuan. Ia kemudian menatap sinis laki-laki itu.

“Kau… minta maaf? Kau pikir mudah minta maaf? Ah, minta maaf memang mudah tapi memaafkan lebih sulit dari mendorong tembok besi!” Chaerin berteriak tidak tentu, kata-katanya terdengar tidak masuk akal. Tembok besi? Apa hubungannya dengan tembok besi? Tapi Chaerin tidak peduli, amarahnya meledak sekarang.

Yang laki-laki itu bisa lakukan hanyalah memegang tengkuknya, merasa bersalah. Persis dengan laki-laki menjengkelkan itu!

“Maaf, aku memang ceroboh. Kau boleh marah,” ujarnya.

Chaerin baru mau berbicara kembali ketika laki-laki bertopi hitam polos mendatangi mereka. Tingginya hampir sama dengan laki-laki itu.

“Hei Sehun, kenapa kau diam saja di sini? Tidak mengambil bo—Eh, Chaerin?” Laki-laki berkulit agak cokelat dan mata dilingkari warna hitam itu terkejut, menutup mulutnya dramatis kemudian tertawa jahil. “Apa kau sedang berenang di hari sepanas ini?”

Tunggu, Chaerin kenal laki-laki itu. Dulu, Taerin sering membawa seorang laki-laki ke rumah mereka. Chaerin ingat selalu mengejek Taerin membawa pacar ke rumah yang langsung dibantah adiknya yang sekarang menginjak kelas 3 SMP itu. Laki-laki itu adalah Tao.

“Tao?” Chaerin tahu Seoul itu tidak seluas China, apalagi mereka tinggal di daerah perumahan yang sama. Tapi ia tidak menyangka bertemu Tao dalam kondisi mengenaskan seperti ini.

Tanpa persetujuan Tao turun ke air, membantu Chaeri keluar dari kolam itu dan mengambil bolanya. Chaeri tidak sengaja melihat laki-laki tadi masih diam menatapnya balik.

Tao mengamati tubuh Chaeri yang basah, lalu menyerngit. “Ada apa denganmu, hah? Ini siang, harusnya kau berada di rumah sekarang.”

“Aku disuruh Ibuku membeli bedak, tapi aku tidak tahu jalannya. Dan ada apa denganku? Kurasa kau bisa bertanya pada temanmu yang satu itu.”

Tao berganti menatap laki-laki itu. “Sehun, apa kau membuat masalah lagi? Kau sudah pernah menceburkan orang lain ke dalam kolam dan sekarang kau menceburkan Chaerin?”

Chaerin merasa ada suatu yang aneh di sini. Menceburkan orang lain? Jadi, laki-laki ini pernah menceburkan orang selain dirinya? Dan nama yang disebutkan Tao barusan. Chaerin merasa ia pernah mendengarnya, tepat setelah nama Sehun diucapkan 2 kali.

“Sehun, apa yang kau lakukan?”

Chaerin terbelalak. Benar! Laki-laki yang ia suka pernah menyebutkan nama itu! Nama laki-laki yang pernah membuatnya jatuh ke dalam kolam dulu!

Laki-laki itu—Sehun memegang tengkuknya untuk kesekian kali, menunduk menatap mata Chaerin yang masih terbengong.

“Maafkan aku, aku tidak sengaja melempar bola ke arahmu,” kata Sehun tulus, tapi bagi Chaerin kata-kata itu penuh dengan keinginan untuk menyakiti hati Chaerin meskipun yang mengucapkannya tidak mengetahui itu.

Chaerin menunduk mengepalkan jari-jemarinya, membuat kuku-kukunya memutih dan telapak tangannya terasa sakit. Tapi tidak sesakit hatinya sekarang.

Tao menepuk-nepuk punggung Sehun dan tersenyum lebar. “Chaerin, Sehun sudah minta maaf, jadi—”

Tao tidak sempat mengakhiri perkataannya karena sesudahnya ia mendapati suara benda jatuh ke dalam air yang sangat keras. Begitu ia melihat siapa yang kali ini menjadi korban, bukannya menolong justru Tao refleks tertawa terbahak-bahak.

“Wow, Sehun, kau merasa bersalah jadi kau menenggelamkan diri sendiri?” Tao menyindir dengan nada mengejek, masih diselingi tawa.

Sehun memutar bola matanya. “Temanmu yang melemparku ke sini.”

Chaerin tersenyum puas, merasa kali ini ia menjadi pemenang di sini. Lalu ia menunjuk Sehun dengan jari telunjuknya.

“Ini pembalasanku untuk yang dulu dan sekarang!” Setelah berteriak Chaerin langsung pergi meninggalkan Tao dan Sehun.

Tao masih tidak berhenti tertawa, namun ia menutup mulut rapat menahan tawa saat Sehun menghujamnya dengan tatapan tajam. Ditolongnya Sehun keluar dari kolam dengan menarik tangannya, tidak menceburkan diri seperti tadi karena Sehun bukanlah perempuan. Tao tidak akan menolong laki-laki dengan mengorbankan diri sendiri, tidak akan pernah.

Sehun berdecak, merenungkan seragam sepak bola dan sepatunya yang basah. Sekarang kakinya terasa tidak enak karena kaus kaki yang lembab. Terpaksa ia harus pulang dengan kaki kosong, karena Sehun tidak suka kakinya dalam keadaan yang tidak mengenakkan.

“Apa perempuan itu gila?” gerutu Sehun yang menerima dorongan di bahu dari Tao.

Tao menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. “Kau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Chaerin tadi?”

Sehun mencoba mengingat-ingat seruan perempuan itu yang terakhir, tapi ia tidak mendapatkan pencerahan. Akhirnya Sehun hanya mengangkat bahu malas. “Tidak tahu.”

“’Ini pembalasanku untuk yang dulu dan sekarang’,” Tao mengcopy kalimat Chaerin beberapa menit yang lalu. “Chaerin, si Gadis Ikan yang kau celakai 5 tahun yang lalu!”

Begitu Tao mengatakannya, Sehun langsung terkejut. Ia baru sadar sekarang kenapa Chaerin sepertinya sangat marah padanya padahal mereka baru pertama kali bertemu. Chaerinlah perempuan yang saat duduk di sekolah dasar dulu ia buat jatuh ke dalam kolam. Saat itu Sehun sangat menyesal karena ia membuat si perempuan kecil itu mendapat julukan yang jelek dan surat miliknya basah. Dan hari ini, apa yang ia perbuat? Sehun tidak pernah memikirkan betapa bodohnya dirinya meskipun nilai Matematika dan IPA-nya berada di atas rata-rata, tapi hari ini ia melakukannya.

Sehun menendang tanah. “Aaah, apa yang harus kulakukan?”

“Kau harus minta maaf,” Tao merasa apa yang barusan ia katakan adalah hal yang paling benar untuk Sehun lakukan. Mengingat sepertinya emosi Chaerin tidak terkendali lagi, pastilah Sehun tidak akan bisa meluluhkan hati Chaerin dengan mudah.

Dan pemikiran Sehun sama dengan milik Tao. Pasti Chaerin tidak akan mau memaafkannya semudah ia merebut permen anak kecil. Lalu entah mengapa ia merasa semua ini menjadi menarik. Awalnya ia mengira musim panas ini akan berjalan membosankan karena ia tidak punya perempuan yang akan menjadi targetnya. Kepribadian playboy-nya membutuhkan mangsa untuk musim ini dan akhirnya Sehun mendapatkannya.

Sehun diam-diam tersenyum licik.

“Akan kujadikan Gadis Ikan itu koleksiku.”

~TBC~

Ini untuk project FF selanjutnya. Yang ini kurasa lebih lancar aja nulisnya, karena bakalan memuat 3 kisah cinta yang berbeda. Mau nebak siapa aja yang kebagian kisah cinta itu? 😀

Dan kalau ada yang bingung, boleh nanya-nanya, kok. Ada yang mau ngasih kritik, saran, atau ide? Monggo, nanti aku bakalan mempertimbangkannya. Aku amatir jadi tolong jangan bash, itu aja 🙂

P.S Complicated Way update tiap 2 minggu sekali, tapi hari Sabtu. Next : 14 November 2015

Advertisements

One thought on “Complicated Way [CHAPTER 1]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s