[Oneshot] Tokyo

req-zahrafifah

T O K Y O

Poster by Laykim @ Indo Fanfiction Arts

Zahrafifah’s storyline

A Oneshot fanfiction with PG rating and Romance, Friendship, and (maybe) comedy.

Starrin’

Park Jiyeon | Yamada Ryosuke

AKB48’s Iriyama Anna as Yamada Anna | OC’s Hamasaki Akira

And slight! Bae Suzy and Krystal Jung.

 

Warning!

 

| TYPO(S) | ABSURD STORY |

| EYD BERANTAKAN | ALUR KECEPETAN |

 

 

Gadis berdarah Korea ini memandang sekeliling dengan tatapan cemas. Ia takut tidak bisa kembali ke negara asalnya. Ia takut tidak ada yang mau membantunya. Gadis itu merutuki keputusannya untuk ikut ke Tokyo bersama teman-temannya. Ia sebenarnya tahu bahwa anak bodoh sepertinya pasti tidak akan ada yang ingin membawa. Di Seoul saja gadis ini hanya mempunyai beberapa teman. Apalagi disini? Ia sama sekali tidak memiliki teman.

Park Jiyeon, gadis berdarah Korea ini perlahan melangkahkan kakinya memasukki taman yang cukup ramai. Pandangannya memandang setiap wajah orang yang berada disekitar taman, ia mencari orang yang bisa menampungnya. Gila? Memang, ia tak peduli yang mau menampungnya lelaki atau perempuan.

Excuse me,” Jiyeon menepuk pundak seorang pria yang sepertinya seumur dengan Jiyeon. Pria itu menoleh menatapnya, gadis itu langsung membungkuk sedikit. “Can you help me? My name is Park Jiyeon, I’m from South Korea—” gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya, ia bingung harus berkata apalagi. Nilai bahasa Inggris disekolahnya benar-benar hancur. Kalian bertanya bagaimana dengan bahasa Jepang Jiyeon? Sama minim-nya dengan nilai bahasa Inggris.

Pria dihadapan gadis itu mengernyit bingung. Jiyeon merasa sangat bodoh sekarang. “Pakai saja bahasa negara-mu, aku juga mengerti.” Pria itu tersenyum tipis menatap Jiyeon. Jiyeon semakin terlihat bodoh sekarang, entah sadar atau tidak Jiyeon mendesis kecil. “Kau berasal dari Korea, ‘kan?” tanya lelaki itu lagi. Jiyeon mengangguk ragu.

“Apa kau mau menampungku? Aku tersesat di Tokyo, kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Jepang-ku sangat minim, maukah kau menolongku? Aku benar-benar membutuhkan pertolongan.” Jelas Jiyeon disertai tatapan melas. Ia tidak peduli pria ini jahat atau tidak, yang terpenting baginya adalah tempat tinggal.

“Aish, bagaimana bisa kau pergi ke Jepang sendiri tanpa persiapan? Atau setidaknya kau membeli kamus terlebih dahulu.” Pria Jepang itu tertawa kecil saat melihat ekspresi Jiyeon yang menurutnya lucu itu. “Tenang, aku akan membantumu. Adikku pasti akan senang jika aku membawa seorang gadis.” Pria itu lalu mengulurkan tangannya. “Kita belum berkenalan, ‘kan? Yamada Ryosuke, terserah kau ingin memanggilku apa. Senang berkenalan denganmu.”

“Senang juga bertemu denganmu, Park Jiyeon.” Balas Jiyeon lalu tersenyum kecil. “Kau benar-benar akan menampungku?” tanya Jiyeon memastikan. Yamada mengangguk kecil menjawab pertanyaan Jiyeon. “Terima kasih, Ryosuke-san.”

“Panggil saja Yamada.” Yamada tersenyum kecil yang membuat Jiyeon semakin bersemu. Gadis itu lalu menunduk kecil menanggapi ucapan yang terlontar dari bibir Yamada. “Ji? Bagaimana kalau kita pulang?” tanya Yamada lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk digenggam Jiyeon.

“Eh?” Jiyeon menatap tangan Yamada yang menggantung disampingnya. Perlahan, gadis itu membalas uluran tangan Yamada. Ya, gadis itu menggenggam tangan Yamada. Orang yang baru saja dikenalnya selama beberapa menit yang lalu. “Apa adikmu berada dirumah?” tanya Jiyeon saat mereka sudah melangkah menjauhi area taman tersebut.

“Um, adikku sedang tidak dirumah. Ia sedang studi wisata bersama teman sekelasnya. Kira-kira ia pulang sekitar 4 hari lagi,” balas Yamada yang membuat kepala Jiyeon mengangguk mengerti. “Apa ibumu tahu kau berada di Jepang?” tanya pria itu yang membuat senyuman diwajah Jiyeon memudar.

“Ibuku tak peduli aku pergi kemana. Ia tak pernah menganggapku dari aku kecil. Ia hanya peduli pada adikku yang katanya lebih baik dariku, ia selalu memojokkanku didepan teman-temanku. Aku tak tahu apa salahku hingga ibuku bersikap seperti ini padaku.” Jelas Jiyeon yang membuat Yamada menatapnya bersalah.

Gomen,” Yamada menghentikan langkahnya lalu menghadapkan tubuh Jiyeon kearahnya. “Apa kau menangis sekarang?” tanya pria itu lalu menghapus kristal bening yang terdapat pada pipi Jiyeon. “Uljima,”

“Aku tak apa,” Jiyeon tersenyum memastikan, gadis itu benar-benar seperti memilikki kakak sekarang. Walaupun Yamada baru dikenalnya selama kurang lebih sepuluh menit, tapi pria ini begitu hangat sehingga Jiyeon dapat merasakan apa arti kehangatan dari sebuah pertemanan.

Malam ini malam pertama Jiyeon tidur di rumah milik keluarga Yamada. Gadis itu bingung, apa Yamada hanya tinggal berdua dengan adiknya? Ia kini sudah duduk di ruangan dimana orang Jepang biasa makan.

“Yama-kun, apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Jiyeon hati-hati. Pria Jepang dihadapannya mengangguk. “Ibu dan Ayahmu apa tidak tinggal disini?” tanya Jiyeon yang dibalas senyuman tipis terlebih dahulu.

“Ibu dan Ayahku sama seperti ibumu. Tapi—mereka melakukannya pada adikku, aku tak ingin adikku dijauhi seperti itu jadi aku memutuskan tinggal disini bersama adikku.” Jawab Yamada yang membuat Jiyeon merasa tidak enak.

“Maafkan aku,” ujar Jiyeon lirih. Gadis itu merasa bersalah karena membuat Yamada mengingat kembali masa lalunya. Pria dihadapannya ini hanya tersenyum lembut pada Jiyeon yang membuat suasana hati Jiyeon aman dan membuat debaran jantungnya semakin kencang.

“Tidak apa, sudah seharusnya kita saling terbuka, bukan?” tanya Yamada yang membuat Jiyeon mengangguk menanggapinya. “Bagaimana jika malam ini kita berkeliling? Sudah lama sekali aku tidak berkeliling komplek.” Tawar Yamada yang membuat anggukan Jiyeon semakin antusias. “Habiskan makananmu.” Ujar Yamada lalu tangannya mengelap kuah ramen yang terdapat pada ujung bibir Jiyeon. “Kalau makan hati-hati.”

Setelah selesai makan, mereka berdua sudah berjalan keluar rumah milik Yamada. Mata gadis itu sedari tadi memandang sekitar komplek dengan tatapan kagum, senyuman dibibir mungil gadis itu terus tersungging tanpa memudar sedikit pun.

“Ji, apa kau tidak dingin?” tanya Yamada saat melihat penampilan Jiyeon saat ini. Jeans selutut, kaos lengan pendek, lalu jaket rajut tipis. Jiyeon menoleh kearahnya lalu menggeleng kecil. Ia tahu bahwa gadis disampingnya ini kedinginan. “Kau tak pandai berbohong,” gumam Yamada lalu memakaikan jaketnya pada pundak Jiyeon yang membuat Jiyeon berbalik kearahnya.

“Apa tidak apa-apa?” tanya Jiyeon dengan kening berkerut yang membuat senyuman diwajah Yamada semakin berkembang. Gadis ini satu-satunya gadis yang membuat Yamada tertarik, gadis ini merupakan gadis pertama yang membuat debaran jantungnya semakin kencang, ia jatuh cinta pada gadis ini saat pertama kali melihatnya.

“Tidak apa, aku tak tega jika melihat seorang gadis kedinginan seperti ini.” Yamada lalu menggenggam tangan Jiyeon erat. “Ini baru hangat,” gumam pria itu namun masih terdengar ditelinga Jiyeon. Pipi gadis itu sudah mulai bersemu kembali.

Aish, apa ia akan terus berbuat seperti ini? Ini membuat pipiku selalu memerah, Jiyeon memejamkan matanya sekilas. Gadis itu lalu memandang sisi wajah Yamada, sebuah senyuman tipis terukir di wajah gadis itu. “Yama-kun,” panggil Jiyeon pelan, pria itu lalu menatap Jiyeon yang berada disampingnya. “Aku—apa aku tidak merepotkan?” tanya gadis itu pelan, mata gadis itu kini tertuju pada tangan mereka yang saling bertaut.

“Aish, sudah kubilang, kau sama sekali tidak merepotkan, Ji. Walaupun kau setahun tinggal dirumahku, aku sama sekali tidak merasa terbebani karenamu. Bagaimana jika selama beberapa hari ini aku akan mengajakmu berkeliling Tokyo?” tanya Yamada diakhir kalimatnya, Jiyeon mengangguk senang mendengar apa yang baru saja Yamada ucapkan. “Oh, ya, kalau nanti kau datang kembali ke Tokyo, kau bisa menginap dirumahku, walaupun bersama teman-temanmu.” Lanjut pria itu yang langsung disambut senyuman lebar dibibir Jiyeon.

“Terima Kasih!” seru Jiyeon senang, gadis itu hampir memeluk pria itu tapi ia sadar bahwa Yamada bukanlah seorang perempuan, ia lelaki. Dan Jiyeon merasa aneh jika mereka berpelukan sekarang. “Apa boleh aku tinggal disini beberapa minggu?” tanya Jiyeon yang dibalas anggukkan dari Yamada.

Jiyeon mengerjapkan matanya saat cahaya matahari sudah memasukki kamar-nya. Gadis itu lalu melihat jam weker disamping tempat tidurnya, dengan mata yang masih setengah tertutup Jiyeon membuka pintu kamar lalu segera berjalan menuju dapur. Gadis itu segera memasak sesuatu dengan bahan yang ada. Beberapa menit kemudian gadis itu mendengar sebuah pintu terbuka, sudah ia pastikan bahwa Yamada baru keluar kamarnya.

Ohayou, Yama-kun.” Sapa Jiyeon tersenyum kecil. Yamada yang masih terlihat mengantuk langsung berjalan kearah Jiyeon dan membantu gadis itu memasak.

“Jangan memaksakan berbicara bahasa Jepang selagi aku masih mengerti bahasamu, Ji.” Yamada mengacak rambut Jiyeon yang masih acak-acakan. Jiyeon memekik kecil, reaksi Jiyeon membuat bibirnya menyunggingkan senyuman.

“Rambutku sudah acak-acakan, Ryo,” keluh Jiyeon lalu merapikan tatanan rambutya yang semakin acak-acakan itu. “Kau sudah gosok gigi?” tanya Jiyeon yang disambut anggukan dari Yamada. “Cuci mukamu, kau terlihat sangat mengantuk.” Seru Jiyeon lalu mendorong Yamada menjauh darinya.

Setelah segalanya telah siap, Jiyeon segera mengajak Yamada makan makanannya. Gadis itu memang kurang pandai dalam pelajaran, tapi ia mempunyai bakat memasak dan beberapa di bidang seni. Gadis itu menatap Yamada was-was, ia takut Yamada tidak menyukai makanan yang ia buat. Ia memang membuat nasi goreng kimchi, dan ia takut makanan yang ia buat tidak sesuai dengan lidah Yamada.

“Bagaimana?” tanya Jiyeon pelan, gadis itu lalu meminum air yang berada digelasnya. Yamada tersenyum senang kearah Jiyeon, senyuman itu yang membuat Jiyeon merasa lega walaupun sedikit. “Jawab aku,” lanjut Jiyeon dengan ekspresi yang menurut teman-temannya aneh itu.

“Ini sangat enak.” Jawaban yang dilotarkan Yamada membuat senyuman diwajah Jiyeon kembali muncul, gadis itu benar-benar tak percaya ada yang menyebut masakannya enak selain Suzy dan Krystal.

“Syukurlah kalau kau suka. Aku kira hanya Suzy dan Krystal saja yang menyukai masakanku.” Jiyeon tersenyum senang. Gadis itu lalu kembali melanjutkan acara makannya. “Kau tahu? Jika aku menikah, aku ingin pergi ke Okinawa bersama keluarga baruku. Aku ingin pergi kesana, tapi aku tidak begitu berharap.” Ujar Jiyeon lalu tersenyum miris.

“Jika kau traveling ke Jepang lagi, kau boleh mengajakku ke Okinawa. Sudah lama sekali aku tak pergi kesana,” Yamada berujar disela-sela makannya. Ia benar-benar mengerti bagaimana perasaan Jiyeon.

“Aku pernah kesana saat ayah dan ibuku masih bersama. Saat itu aku berumur sembilan tahun, sudah lama sekali bukan? Saat itu aku bertemu seorang lelaki yang aku kira seumur denganku. Ia memanggilku dengan nama Miki. Ia selalu memanggilku seperti ini; Miki-chan, kau sangat cantik. Dan apa kau tahu? Disitu aku tersipu oleh ucapannya, aku berada disana selama seminggu. Selama itu juga aku selalu disebut cantik olehnya. Aku menyesal pulang ke Korea saat itu. Setelah kami liburan di Okinawa, ayah dan ibu bertengkar dan memutuskan untuk berpisah, ayah bilang padaku seperti ini; maaf karena ayah tak mampu menjadi ayah yang baik untukmu, ayah tahu bahwa Jiyeon kecewa, maafkan ayah Ji. Saat ayah berbicara seperti itu aku ingin kembali pada masa-masa kami liburan di Okinawa. Itu liburan terakhir kami bertiga, dan aku menyesal karena tidak mengingat nama anak lelaki itu dengan baik.” Jiyeon tersenyum kecut di akhir kalimat panjangnya. Yamada merasakan bahwa ia sangat familiar dengan sebutan Miki ini.

“Apa anak yang memanggilmu itu meminta dipanggil dengan nama Ryo-san?” tanya Yamada yang membuat Jiyeon tersedak. Kenapa Yamada lebih tahu nama pria itu dariku? Batin Jiyeon, gadis itu segera meminum air putih yang berada di gelas. “Lama tidak bertemu, Miki-chan.” Sapa Yamada saat Jiyeon sudah selesai minum.

“Kita—pernah bertemu di masa lalu? Aish, kau berubah sangat banyak, aku benar-benar tidak mengenalimu. Tapi sekarang aku lebih suka memanggilmu Yama, bukan Ryo.” Jiyeon kembali memakan makanannya hingga habis, karena memang makanannya tinggal sedikit.

“Aku juga lebih suka memanggilmu Ji. Karena aku tahu kau orang Korea. Dulu aku kira kau itu orang Jepang, asal kau tahu saja. Aku benar-benar menyukai tatanan rambutmu yang dulu, Ji.” Yamada terkekeh kecil, dulu rambut Jiyeon yang sebahu ini membuat Jiyeon terlihat cantik. “Jika rambutmu seperti ini, kau harus mengikat rambutmu.”

“Kenapa? Apa salah jika aku menggerai rambutku?” tanya Jiyeon merapikan meja makan lalu berjalan dan mulai mencuci piringnya. Yamada mengekor dibelakang Jiyeon lalu membantu gadis itu.

“Tidak juga, kau hanya boleh menggerai rambutmu saat kau memakai dress. Style-mu lebih bagus saat kau bertemu denganku di taman. Jeans selutut, kaos lengan pendek, sepatu, dan rambutmu yang kau ikat. Itu lebih menarik, Ji.” Yamada mengelap piring-piring yang sudah Jiyeon cuci, gadis itu lalu menoleh kearahnya.

“Baiklah, aku akan mengikat rambutku nanti.” Jiyeon lalu berjalan meninggalkan Yamada yang masih mengelap piring. “Aku akan pergi ke kamar mandi. Kau tidak berbohong, kan untuk acara hari ini?” tanya Jiyeon lalu berbalik menatap Yamada yang kini menatapnya

Yamada mengangguk menjawab pertanyaan Jiyeon sebelum bibirnya berujar. “Aku akan menjadi tour guide-mu selama kau di Jepang. Tapi aku punya satu syarat,” pria itu berjalan mendekati Jiyeon. Gadis dihadapannya ini menatapnya bingung.

“Syarat apa?”

“Kau harus menemaniku di acara reuni sekolahku dua minggu kedepan. Aku tidak mungkin mengajak Annin ke acara itu.” Yamada memasukkan tangannya kedalam saku celananya.

Jiyeon menatap Yamada tak mengerti. “Kenapa gadis itu tidak bisa pergi bersamamu?” tanya Jiyeon bingung. Yamada terkekeh kecil lalu tangannya mengusak poni milik Jiyeon gemas.

“Mereka semua tahu bahwa Annin adalah adikku. Intinya, kau hanya perlu mengikuti apa yang aku mau. Aku hanya memberimu satu syarat, Ji.” Yamada segera berjalan melewati Jiyeon lalu memasukki kamarnya.

Jiyeon sudah siap berangkat hari ini. Gadis itu memakai dress putih selutut, flat shoes kesayangannya yang sengaja ia bawa, serta rambut yang ia biarkan tergerai. Gadis itu sudah menunggu Yamada diluar rumah. Beberapa pasang mata pria menatapnya, lalu pria-pria itu mulai menggoda Jiyeon.

“Ji, ayo.” Yamada membuka pintu rumah lalu matanya melihat Jiyeon sedang diajak berbicara oleh seorang pria yang ia kenal. “Aish, kau ini jangan mengganggu gadis-ku.” Ujar Yamada memakai bahasa Jepang yang sama sekali Jiyeon tak mengerti. Gadis itu hanya menatap Yamada lalu menatap pria tadi yang sekarang berlalu dari hadapannya saja.  “Apa sedari tadi kau ditatap seperti itu, Ji?” tanya Yamada yang dibalas anggukan dari Jiyeon.

“Apa yang kau katakan pada pria itu?”

“Jangan mengganggu gadis-ku. Memangnya kenapa?” tanya Yamada diakhir kalimat. Jiyeon mendesis kecil, sejak kapan aku menjadi gadisnya? Anaknya saja bukan, batin gadis itu lalu menghela nafasnya.

Jiyeon menggigit bibir bawahnya ragu. “Apa penampilanku hari ini aneh sampai-sampai mereka memandangiku seperti itu?” tanya Jiyeon yang dibalas gelengan dari Yamada.

“Kau terlihat sangat cantik hingga mereka menatapmu seperti itu.” Yamada mengulurkan tangan kanannya agar digenggam oleh Jiyeon. Gadis itu langsung menyambut uluran tangan yang Yamada berikan untuknya.

“Kau harus menjadi tour guide-ku.” Jiyeon terkekeh kecil diakhir kalimatnya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat parkir yang sebenarnya hanya disamping rumah. Yamada mempersilahkan Jiyeon masuk setelah mobilnya sudah berada diluar. “Oh, ya. Apa Annin akan menyukaiku nanti? Aku bahkan belum mengetahui wajah gadis itu.” Jiyeon menatap Yamada sekilas, pandangan gadis itu kini memandang luar jendela yang menampilkan suasana komplek yang sudah mulai ramai.

Yamada menoleh sekilas kearah Jiyeon. Pria itu lalu kembali memandang lurus kedepan. “Aku yakin Annin akan menyukaimu, ia sangat ingin mempunyai kakak perempuan. Tadi malam juga aku sudah menghubunginya, ia kata ia akan berbagi kamar denganmu. Ia ingin bercerita banyak hal padamu, ia ingin bermain bersamamu.” Pria itu tersenyum sekilas sebelum melanjutkan. “Aku dan Annin pernah tinggal di Korea. Saat itu aku mendapat beasiswa di Seoul University, aku dan Annin memutuskan untuk tinggal di Korea hingga studiku selesai, setelah itu kami pulang ke Jepang dan Annin melanjutkan studinya disini.” Terang pria itu yang membuat kepala Jiyeon mengangguk mengerti.

“Jika aku mempunyai otak sepertimu, mungkin aku tak akan pernah tersesat di Tokyo.” Jiyeon menggumam kecil. “Tapi, jika aku pandai aku takkan pernah bertemu denganmu lagi, terkadang aku yang lamban ini membuat keadaan semakin membaik, kecuali ibu dan teman-temanku yang takkan pernah mengatakannya.” Lanjut Jiyeon tersenyum kecut, “Hanya Suzy dan Krystal yang mau berteman denganku, mereka benar-benar orang yang tulus padaku. Tidak seperti yang lainnya, hanya memanfaatkanku saja.” Jiyeon kembali tersenyum kecut.

“Sekarang aku dan Annin juga temanmu, seperti Suzy dan Krystal.” Kalimat yang dilontarkan Yamada membuat senyuman Jiyeon merekah kembali. Kali ini bukan senyuman kecut yang tadi ia tampilkan. “Bagaimana? Kau itu sebenarnya baik, Ji. Tapi karena sifatmu yang ceroboh kau jadi dijauhi seperti ini.” Lanjut Yamada yang membuat bibir Jiyeon menaik, mendesis. gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal.

“Mencoba menenangkanku tapi menjatuhkanku diakhir kalimat. Tidak sopan sekali,” cibir Jiyeon yang disambut tawa dari bibir pria disampingnya. Kening gadis itu mengerut, apa ada yang salah dengan ucapanku? Gadis itu bertanya pada dirinya sendiri. “Apanya yang lucu, eoh?” tanya Jiyeon lagi, pria itu masih tertawa walaupun tidak sekeras tadi. Kening Jiyeon semakin berkerut ketika Yamada memasukkan mobilnya ke basement apartemen yang bisa Jiyeon kira apartemen mewah.

“Tidak, aku hanya ingin tertawa karena kau ini sangat lucu, Ji.” Pria itu lalu memarkirkan mobilnya ditempat parkir. “Kita parkir disini saja, disini adalah rumah keduaku. Ini hadiahku pada ulang tahun Annin kemarin, ia bilang ia ingin tinggal bersamaku di Apartemen,” terang Yamada ketika ia melihat Jiyeon menatapnya dengan tatapan; kenapa kita kesini?

Merek berdua sudah turun dari mobil milik Yamada. Tangan mereka sudah bergandengan secara otomatis. Well, ini memang tidak seperti pertemanan biasa, mereka seperti mempunyai perasaan satu sama lain, namun mereka masih tidak ingin saling mengakuinya.

“Kau ingin beli apa?” tanya Yamada saat mereka sudah memasukki area taman bermain. Jiyeon menatap sekeliling, ekspresi yang terpancar diwajah Jiyeon membuat Yamada ingin mengecup pipi gadis itu, tapi ia sadar bahwa ia dan Jiyeon masih berteman, walaupun mereka sudah berteman sejak kecil.

Cotton candy,” Jiyeon tersenyum layaknya anak kecil saat matanya melihat penjual permen kapas itu. Gadis itu lalu menarik Yamada menuju tempat dimana penjual permen kapas itu berada. “Aku mau ini,” bisik Jiyeon pelan. Gadis itu tahu bahwa berbicara dengan bahasa asing di Jepang sangat tidak sopan. Yamada mengangguk lalu segera pria itu membelikan permen kapas untuk Jiyeon.

Mereka berdua berjalan mengelilingi area taman bermain dengan keadaan yang bisu. Mereka berdua tidak berbicara satu sama lain, melainkan mereka hanya berbicara dengan pikiran mereka masing-masing.

“Sudah makan permen kapasmu itu? Mau main permainan dulu atau makan?” tanya Yamada memecah keheningan lalu memandang Jiyeon yang sedang memakan permen kapasnya dengan lahap. Kebiasaan gadis itu belum hilang, jika makan pasti ada yang menempel di daerah mulutnya. Tangan pria itu terulur untuk mengusap sisa permen kapas diujung bibir Jiyeon. “Aish, kau ini sudah besar Ji. Kalau makan hati hati,” ujarnya seraya tersenyum tipis. Jiyeon membeku, gadis itu terkadang harus merutuki Yamada karena terus menerus melakukan ini padanya.

Masih dengan tatapan polos, Jiyeon berkedip beberapa kali saat menatap Yamada yang sedang tersenyum padanya. Aish, kenapa aku terlihat sangat bodoh lagi sekarang? Ini yang kedua kalinya, batin gadis itu. Sebelah tangan gadis itu mulai memilin-milin renda yang berada di rok dress miliknya.

“Ayo, kita main terlebih dahulu!” seru Yamada tanpa memperdulikan tatapan Jiyeon yang menatapnya bingung. Pria itu segera menarik tangan Jiyeon agar ikut dengannya.

Setelah mereka puas bermain dan mereka sudah kenyang dengan makanan mereka tadi, kini mereka berdua sudah memasukki area bioskop. Jiyeon segera memilih film yang ingin mereka tonton berdua, film dengan genre horor.

“Apa benar kau akan menonton film horor, Ji?” tanya Yamada yang dijawab oleh anggukkan antusias dari Jiyeon. Pria itu menghela nafasnya kasar. “Apa kau tak akan takut?” tanya pria itu lagi, kali ini Jiyeon tidak mengangguk, melainkan gadis itu menampilkan ekspresi berpikir.

“Mungkin aku akan takut sedikit, tapi itu hanya sedikit. Maka dari itu, kau harus selalu ada disampingku. Kau tak boleh kemana-mana, janji?” tanya Jiyeon yang dibalas anggukan lemas dari Yamada. Pria ini benar-benar tidak menyukai dengan hal-hal yang bersangkutan dengan bau-bau horor. “Apa kau takut tentang horor? Kita masih bisa memesan tiket film yang lain bukan? Selagi kita belum memesan tiketnya,”

“Tidak usah, aku akan menontonnya bersamamu.” Jawab Yamada yang disambut senyuman Jiyeon yang menurutnya menawan itu. “Kapan film-nya mulai?” tanya pria itu pada Jiyeon. Gadis itu melirik arloji yang melingkar dengan manis di pergelangan tangannya.

“Dua puluh menit lagi,” jawab Jiyeon. “Bagaimana jika kita membeli popcorn dulu?” tanya Jiyeon lagi, lelaki dihadapannya ini mengangguk menuruti apa yang Jiyeon katakan.

Hari ini hari dimana Annin pulang ke rumah. Gadis berdarah Jepang itu memasukki rumahnya yang masih terlihat sepi itu. Telinga gadis itu mendengar suara seseorang yag sedang memasak di dapur.

“Kakak? Apa kakak sudah bangun?” tanya gadis itu lalu membuka sepatu dan menggantinya dengan sendal rumah. Gadis itu mengangkat kopernya lalu menyimpannya didepan pintu kamar miliknya. Langkah kaki gadis itu berjalan menuju dapur. “Eonni?” tanya Annin saat sepasang irisnya melihat sosok Jiyeon yang sedang memasak.

Jiyeon menoleh, lalu gadis itu menatap Annin yang sedang tersenyum padanya. Gadis itu menghentikan sementara kegiatan masak-nya yang memang tinggal sebentar lagi ini.

“Oh, annyeonghaseyo, Yamada Anna imnida, kau bisa memanggilku Annin, eonni.” Annin membungukuk sekilas lalu berjalan menuju Jiyeon yang tersenyum kearahnya.

“Ah, annyeong, Park Jiyeon imnida,” balas Jiyeon tersenyum kaku. Ia tak menyangka bahwa adik Yamada bisa se-cantik ini. Gadis ini merupakan gadis yang sopan, cantik dan terlihat cerdas. “Annin-chan, kau mau menolongku memasak?” tanya Jiyeon ragu. Annin mengangguk antusias sebagai jawaban pertanyaan Jiyeon yang tadi.

“Apa eonni tahu? Kakakku itu sangat malas jika dihubungkan dengan memasak. Aku tak pernah memasak berdua selama ini, kau yang pertama bagiku. Aku tak tahu kenapa aku sangat ingin melihatmu saat kakakku menelponku bahwa ada seorang gadis yang menginap dirumah. Aku sangat ingin mempunyai seorang kakak perempuan yang selalu mengerti diriku, eonni. Tidak seperti kakakku yang cuek itu.” Annin sudah mulai membantu Jiyeon, tangan gadis itu sudah terampil sekali jika memegang pisau. “Kau memang sangat cantik, eonni. Tak salah jika kakakku terlihat memerah saat membicarakanmu denganku, hehe.” Lanjut Annin diakhiri kekehan diakhir kalimatnya.

Jiyeon mengulum senyumnya. “Aku tidak secantik dirimu, Anna.” Jiyeon tersenyum lembut. Annin menatap Jiyeon sekilas lalu tersenyum kecil.

“Bagaimana bisa aku melebihi cantikmu? Kakakku saja bilang kau sangat cantik, ia sama sekali tak pernah memujiku.” Annin berbisik kecil karena ia sudah melihat sosok kakaknya yang baru keluar dari kamar mandi. “KAKAK!” seru gadis itu lalu memeluk kakaknya yang sudah tidak terlihat mengantuk ini.

“Anna-chan!” pria itu segera memeluk Annin erat. “Aku sangat merindukanmu.” Bisik pria itu ditelinga adiknya tersebut. Annin melepaskan pelukan kakaknya dengan berusaha keras, tapi usahanya itu gagal.

“Kakak, pelukanmu itu terlalu erat, bodoh! Aku bukan Annin kecil yang selalu diantar jemput olehmu. Aku sudah berubah, aish!” gerutu Annin saat kakaknya semakin erat memeluknya. “Kakak! Aku sedang membantu Jiyeon eonni memasak!” keluhnya lagi lalu gadis itu mendorong dada kakaknya agar menjauh. Usahanya kali ini benar-benar sukses. Ia berhasil terlepas dari kakaknya tersebut.

Mereka bertiga kini sudah selesai makan. Annin yang terus memandang kakaknya dengan tatapan; aish, kakakku ini benar-benar memalukan. Gadis itu kini menatap Jiyeon lalu bertanya pada kakak perempuannya ini.

Eonni, apa nanti malam kau mau pindah ke kamarku? Aku ingin mempunyai teman sekamar.” Tanya Annin yang ditanggapi oleh kakaknya.

“Aish, biarkan Jiyeon tidur di kamar tamu. Lagian kamarmu juga belum rapi.” Ujar Yamada lalu menekankan beberapa kata pada kalimat terakhir. Annin mencibir kecil menanggapi kakaknya yang memang menyebalkan ini. “Kenapa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Yamada menatap Annin yang sudah menatapnya juga.

Jiyeon hanya bisa menggeleng saat melihat tingkah laku adik dan kakak ini. Mereka berdua memang tidak bisa akur sejak tadi pagi. “Aku akan pindah ke kamarmu, dan kita akan merapikan kamarmu bersama, Annin-chan.” Ujar Jiyeon yang mengembalikan senyuman diwajah Annin.

“Kau memang bukan kakak yang baik, lihat Jiyeon eonni saja tidak masalah, kenapa jadi kau yang ambil pusing?” tanya Annin lalu gadis itu mengangkat piringnya. “Terima kasih makanannya.” Gadis itu membungkuk lalu segera berjalan menuju dapur.

Malam ini Jiyeon akan tidur bersama Annin, sudah bisa gadis itu pastikan bahwa Annin akan bertanya tentang banyak hal sebelum mereka tertidur. Gadis itu kini sudah siap dengan piyama yang ia bawa dari Korea, ia hanya tinggal menunggu Annin selesai dari kamar mandi dan memulai Girls Area malam ini.

Eonni, apa kau mengenal kakakku sudah lama?” tanya Annin saat ia sudah memasukki kamarnya. Jiyeon mengetukka jari telunjuknya di dagu, menampilkan ekspresi berpikir.

“Aku mengenal kakakmu saat aku masih kecil. Waktu itu aku dan keluargaku berlibur ke Okinawa, dan aku bertemu dengan kakakmu. Ia selalu memanggilku dengan ‘miki-chan’ ia pikir aku merupakan orang Jepang.” Jawab Jiyeon yang ditanggapi anggukan dari Annin. Malam ini merupakan malam panjang bagi Jiyeon maupun Annin karena ini pertama kalinya bagi mereka berdua satu kamar dengan seseorang yang mengerti mereka.

Jiyeon sudah siap untuk malam ini. Ia harus menepati janjinya sebelum ia kembali ke Korea beberapa hari lagi, berada di Tokyo beberapa hari membuatnya sangat senang. Mungkin, jika ia seorang penulis maka ia akan menjadikan kisah hidupnya di Tokyo ini sebagai karangan yang akan beredar di toko-toko buku dan mungkin akan berada di tempat yang terdapat tulisan ‘best seller’.

“Kau siap?” tanya Yamada saat ia sudah melihat Jiyeon yang mulai memilin-milin ujung renda dress yang baru saja Yamada berikan untuknya. Annin mengintip mereka berdua melalui kaca jendela kamarnya. Gadis itu tersenyum ketika melihat kakaknya tersenyum.

“Aku yakin kau menyukai Jiyeon eonni, dasar kau memang tidak punya nyali, kakak.” Gumam Annin lalu gadis itu berbaring di kasur miliknya, memikirkan apa yang harus ia lakukan agar kakaknya benar-benar meminta Jiyeon menjadi kekasihnya. Sebenarnya Annin sudah memberi nasihat pada kakaknya tadi, ia sudah meminta kakaknya agar segera berpacaran dengan Jiyeon.

.

.

.

Mereka berdua sudah sampai di salah satu kafe tempat dimana reuni sekolah Yamada berlangsung. Mereka berdua berjalan dengan tangan yang saling bertaut. Mungkin itu sudah kebiasaan mereka jika mereka berjalan berdampingan.

“Yama-kun!” seorang gadis langsung memeluk Yamada ketika pria itu baru memasukki pintu masuk bersama Jiyeon. Gadis itu lalu melepaskan pelukkannya dan segera mengecup pipi pria itu. Jiyeon menggigit bibir bawahnya dengan erat, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya.

“Akira! Jangan main menciumku begitu saja,” keluh Yamada lalu menghela nafasnya pelan. Well, beberapa minggu berada di Jepang membuat Jiyeon lumayan mengerti apa yang mereka bicarakan.

Gadis yang dipanggil Akira itu mengerucutkan bibirnya kesal. “Kenapa aku tidak boleh memeluk dan menciummu? Aku tidak membawa pasangan malam ini,” keluh gadis itu. Kini, gadis itu mengalihkan tatapannya menuju Jiyeon yang sedang menunduk. “Ini pasanganmu?” tanya Akira lalu menunjuk Jiyeon dengan telunjuknya.

“Jangan menunjuk kekasihku seperti itu, Hamasaki!” seru Yamada lalu menarik Jiyeon masuk kedalam ruangan. Gadis bernama Hamasaki Akira itu mendengus, lalu menatap Jiyeon kesal.

“Berani-beraninya ia merebut Yama-ku!” gumam gadis itu lalu segera berjalan menuju pojok ruangan.

Jiyeon dan Yamada tidak saling bicara sedari tadi, mereka hanya diam dan memandang orang-orang yang berlalu-lalang didepan mereka. Yamada merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini, ia harus kembali membuat Jiyeon berbicara padanya lagi seperti biasanya.

“Jiyeon-ah, maafkan Akira karena ia menunjukmu begitu saja,” pria itu memulai percakapan. Jiyeon menoleh kearahnya, lalu senyuman kembali terukir di wajahnya yang semakin terlihat cantik.

“Tak apa, itu juga salahku karena aku datang kesini. Aku bukan keluarga besar sekolah ini dan aku datang bersamamu. Terlihat jelas bahwa gadis itu menyukaimu, Yama.” Jiyeon tersenyum tipis. “Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya gadis itu yang hanya dibalas anggukan dari Yamada. “Kenapa kau menyebutku sebagai kekasihmu?” pertanyaan yang dilontarkan Jiyeon membuat Yamada terdiam.

Setelah terdiam beberapa saat, pria itu lalu menghela nafasnya dan berujar; “Karena aku menyukaimu, Ji. Tidak, aku mencintaimu.” ujar Yamada yang membuat Jiyeon yang terdiam. Jadi, Yama juga menyukaiku? Berarti yang Annin katakan malam itu benar, batin gadis itu lalu menutup matanya sekilas. “Jiyeon-ah, saranghata,” pria itu kini mengecup bibir Jiyeon sekilas yang membuat tubuh Jiyeon kaku begitu saja, mata gadis itu membola dengan apa yang baru saja pria itu lakukan padanya.

Na—nado saranghata, Yama-kun.” Gadis itu mencoba mengontrol detak jantungnya yang berdetak tak karuan itu. “Apa ini sudah telat jika kita menjalin hubungan, oppa?” tanya gadis itu yang kini memakai embel-embel oppa pada kalimatnya.

“Aku memang terlalu telat mengucapkannya, tapi apa bisa kau tinggal di Tokyo sebulan lagi? Karena sebulan lagi aku akan dipindah ke Korea oleh kantorku,” Yamada menatap Jiyeon dengan tatapan melas yang sudah sering ia berikan pada Jiyeon beberapa minggu ini.

Jiyeon mengangguk, “Ya. Aku akan tinggal beberapa minggu lagi disini, tapi tidak sampai satu bulan, oppa.” Balas Jiyeon yang membuat senyuman diwajah Yamada semakin lebar.

Saat aku berada di Tokyo pertama kali, aku bingung harus meminta tolong pada siapa, akhirnya aku mengira-ngira wajah yang kelihatannya orang baik-baik dan mencoba meminta tolong pada mereka. Aku memang nekat, bukan? Hahaha. Aku masih beruntung karena aku dipertemukan dengan Yamada yang merupakan teman kecilku yang kini menjadi kekasihku. Disini segalanya dimulai, di kota Tokyo yang berada di negara Jepang aku menemukan seseorang yang benar-benar menerimaku apa adanya. Ia benar-benar tidak melihat cara kerja otak-ku yang memang lamban ini. Dan terima kasih pada teman-temanku yang berani meninggalkanku sendiri di Tokyo. Tanpa adanya kalian mungkin aku tak dapat bertemu pangeranku ini, hehe. Terima kasih juga buat adikku, Yamada Anna yang selalu memberi support kepadaku. —Park Jiyeon.

fin.

 

Hi, it’s a long time no see, haha~ sorry banget aku baru update sekarang. Aku bener-bener gak tau harus cuap-cuap apa di fiksi ini. Aku ngerasa fiksi ini ancur banget gak tau kenapa 😦 maaf banget kalo typo menyebar dimana-mana. Ini udah aku edit-edit tapi itu typo bener-bener ngeselin 😦 maafin kalo pairingnya aneh banget. Aku gak tau kenapa tbtb masangin Jiyi sama Yama. Mianne, kalau ceritanya bener-bener aneh, huhu:”)) maaf juga kalo alurnya kecepetan, cerita gak jelas, dan aku gak kasih detail yang jelas mereka berdua dateng ke tempat apa. Aku belum pernah kesana walaupun referensi tentang Jepang numpuk 😦 aku gak tau kenapa males gitu kalo misalnya harus kasih detail-nya 😀

 

Last, Neomu neomu gamsahamnida buat yang udah mau baca fiksi ini,

jeongmal mianhae buat yang ngerasa fiksi ini kurang banget

(emang kurang banget ini mah)

Saranghae~ ❤

 

sign,

 

zahrafifah ❤

Advertisements

21 thoughts on “[Oneshot] Tokyo

  1. Wah keren cerita’y, meski aku kurang bgtu mengenal so2k artis pria’y tpi aku sgt menikmati setiap rinci alur’y… Author emang juara ^^

    • Halo, kakak. Makasih ya udah komen di fiksi ini. Ryosuke emang jarang banget dikenal di dunia per fanfictionan/? Apalagi kalau ff-nya collab antara koreaxjepang. Ditunggu fiksiku yang lainnya ya

      Love,

      Miki-chan

  2. Jiyeon bner” nekat bnget ya,, Utung aja jiyeon ktemu sma yamada,, cwok yg baik,, n gk nyangka teryata dlu waktu kecil mereka pernah kenal,, mereka bner” jodoh deh.. Sequelnya dong thor …

    • Hahaha emang dia itu nekatnya gak nahan 😀 kalo dia gak ketemu sama Ryo gimana coba? Sequelnya aku pertimbangin lagi ya kak, makasih banget udah mau baca fiksi ini ❤

      love,

      miki-chan ❤

  3. Wahhhh Jiyi di pairing sama orang jepang dan seperti’a Q pernah lihat si Ryosuke(?) Tapi lupa dimana maklum Q cinta’a sama mas Yuki Furukawa dan Haruma Miura hehehe tapi tetep sweet kok FF’a dan gilaaaaa Jiyi antara sial atau beruntung ye nyasar di Tokyo ehh malah ketemu cwo baik hati macam Ryokuse dan langsung ditolong dan beakhir menjadi sepasang kekasih walau terkesan” terburu” dan alur’a yg gampang kebaca doang sih tapi dari segi ide bagus ditunggu FF Jiyi yg lain kalau bisa sama aktor Jepang yg Q sukai itu dan bisa berchapter hehehe

    • UWAAA, KAKAK JATUH CINTA SAMA MAZ YUKI SAMA MBAK MIURA JUGA?! KITA SAMAAA~~ ❤

      well, makasi banget udah nyempetin baca+komen di fiksi ini, aku ucapin makasih banget ❤ Jiyi itu emang beruntung gitu ya dirikuh jadi iri zeperti ini ((abaikan kakak)) makasih udah kasih masukan buat bikin ff Jiyi ama maz Yuki, aku pertimbangin lagi kak ❤

      last, Tysm komennya kakak! ❤

      love,

      miki-chan

  4. Waaahhhh jiyi sprti ϑi asing kn oleh eomma na, aigoo pasti dy sgt kesepian,,
    Syukurlah yama mw nolongin, ehh trnyta tu tmn kecil na hihihii ^^
    Yama sgt brtanggungjwb.. Bgs lh dy bs bhs korea.. Lw G̲̮̲̅͡å bisa2 jiyi na pusing sndiri hrs pake bhs isyarat ,,,
    Bgs na ni da sequel chapter ttg khdpn yama-jiyi ϑi seoul na ntk,

    • Hi, kak makasih ya udah nyempetin baca fiksi ini, sequel-nya bakal aku pertimbangin lagi ya kak ❤ tks buat komennya ❤

      love,

      miki-chan ❤

    • Hi, kak, first aku ucapin big thanks banget karena kakak udah baca fanfiksi aku, second maafin aku karena ini ancur banget hehe 😀 sequel? Aku pertimbangin lagi, ya.

      Last, Tysm udah komen kak! ❤

      Love,
      Miki-chan ❤

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s