[Multichapter] Vampire Knight – Chapter 3

REQ AYUN

Vampire Knight

“Merah itu melukai putih salju—menyatu dalam pudar, mengoyak asa yang tak tampak. Yang disembunyikan pun terkuak—mengupas sakit yang dalam…”

 

A Fanfic by Yuna lazuardi Lockhart

Starring by:

Infinite’s Myungsoo || T-Ara’s Jiyeon || Infinite’s Woohyun

Other cast by:

The Ark’s Halla || Red Velvet’s Seulgi || EXO’s Sehun || F(x)’s Krystal || Soloist’s IU/Lee Ji Eun || Got7’s Jackson || 2PM’s Taecyeon || VIXX’s Leo || BTS’s Rapmon || Miss A’s Suzy || ex T-Ara’s Ryu Hwayoung & F-ve Doll’s Ryu Hyoyoung || Super Junior’s Leeteuk || Super Junior’s Heechul || Super Junior’s Shindong || Super Junior’s Kyuhyun || SNSD’s Seohyun || Actor’s Kim Woo Bin || SNSD’s Yuri || Red Velvet’s Irene

Note:

This Fiction is adapted by anime with the same title. So, author gak mau nanti tiba-tiba ada yang bilang ini plagiat. Karena author sudah mengatakan secara jelas bahwa fanfiksi ini dibuat hanya untuk memvisualisasi anime tersebut dalam bentuk tulisan dengan cast-cast diatas. Plot bukan sepenuhnya milik author, tapi secara garis besar ceritanya akan mirip dengan animenya. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan kalau nanti ada beberapa bagian atau alur yang berubah^^

Genre: AU, Little Action, School Life, Fantasy, Drama, Sad Romance, Family, Hurt and Comfort

Rating: PG 13

And thankyou so much for your adorable poster, LAYKIM @ Indo Fanfictions Arts

|| Chapter 1 || Chapter 2 ||


Chapter 3: Remorse Fang

Prolog,

“Ini dia tuna carppacio dengan selada dan saus tomat, daging filet dengan sayuran dan krim—benar, ini adalah kreasi baru!”

Pagi itu setenang danau senja dan sesejuk embun, kala Jiyeon dan Woohyun tengah duduk di meja makan—menatap sarapan yang dibuat Leeteuk Park dengan mata yang masih terpejam setengahnya. Dan pria itu, seperti biasa—dengan senyum bahagia memamerkan hasil masakannya pada dua anaknya kemudian ikut duduk, seperti yang biasa dilakukan sebuah ‘keluarga’.

“Kreasi? Kau membangunkanku pagi-pagi begini cuma untuk ini, eoh?” Woohyun mengeluh, mulutnya lebar membentuk huruf O yang besar—menandakan bahwa rasa kantuk itu nyata.

Jiyeon memasukan sepotong wortel ke mulutnya, “Menyebut ini kreasinya, apa menurutmu tidak aneh?”

“Bukan itu maksudku, Jiyi….”

“Lalu apa?”

“Omong-omong, ini adalah hari peringatan untuk kalian,” Leeteuk membuka suara, menarik perhatian dua orang disana.

Gadis itu mengerutkan kening, “Peringatan apa? Seingatku tak ada yang spesial hari ini.”

“Yah, hari ini kalian bukan pelindung, melainkan anggota kedisiplinan yang sesungguhnya.” senyumnya merekah, “Ini adalah hari inspeksi!” serunya kemudian.

><><><

 

Akhir-akhir ini Myungsoo sering melupa. Di menit-menit terakhir menjelang terpejamnya mata, pemuda itu suka sekali mengupas rasa sakit—mengulang kembali ingatan-ingatan buruk yang sebenarnya tak menambah nilai, memaksanya memikirkan kembali semua yang telah dan akan dia lakukan. Dan seperti seharusnya, asrama bulan menjejakan keheningan yang jelas di pagi hari—pun mereka terpaksa menunda waktu istirahatnya hanya untuk inspeksi dadakan yang dibuat Leeteuk … membatalkan niat memasuki alam mimpi.

“Inspeksi asrama dadakan?” pemuda itu menarik nafas, memandang cahaya mentari yang menyelinap di celah-celah kaca jendela.

Disana Seulgi membungkuk—memberikan laporannya,“Ya, tuan…”

“Begitu, terimakasih Seulgi,” ucap Myungsoo seraya pergi.

Pemuda itu kemudian melangkahkan tungkainya cepat-cepat, menyusuri lorong panjang di asrama sebelum berbelok dan menuruni tangga—menimbulkan sedikit perhatian dari para Night Class lain yang sudah berkumpul di bawah. Menjelaskan dengan tenang, Myungsoo kemudian memandang mereka satu per satu.

“Apa yang sebenarnya di pikirkan kepala sekolah?” keluh Krystal, melemparkan atensinya pada apapun—selain Myungssoo.

Jackson terkekeh, “Tidak masalah untukku,”

“Hei, dia mungkin mempunyai rahasianya sendiri.” Sanggah IU.

Leo menyesap tehnya, “Itu benar, saat waktunya tiba kita harus tahu bagaimana sebuah sekolah dijalankan—”

“Sebaiknya kau singkirkan celana yang berserakan dilantai,” sambar Jackson cepat, mengundang perhatian.

Senyuman Leo mengembang, “Baik, celana itu dibuat dari sutra dan di jahit oleh penjahit terkenal, jadi aku tidak akan malu meninggalkannya dimana—”

“Bodoh, bukan itu masalahnya!” seru IU kesal.

Yang lain masih menunggu, sedangkan Sehun sibuk dengan rasa kantuknya.

“Hei, Oh Sehun, sebaiknya cepat bereskan rongsokan milikmu.” bisik Taecyeon penuh penenkanan.

“Rongsokan?”

“Benda tak berguna yang mengisi setiap sudut ka—”

“Kau tak bisa membuangnya, itu adalah harta karun yang kudapatkan ketika kepala asrama Myungsoo melatih kekuatannya!” seru Sehun tiba-tiba, membuat semua pasang mata beralih padanya, termasuk Myungsoo.

Pemuda itu tersenyum tipis, “Sehun, ayo lihat kamarmu….”

“Myung—Myungsoo-ssi, a—aku….”

“Rasanya kita perlu bicara mengenai peraturan asrama,” lanjutnya seraya melangkah pergi.

Sementara itu….

Jiyeon mendorong trolinya mengelilingi asrama, mengetuk setiap pintu kemudian menggeledah keseluruh kamar—membuat pemberontakan tak berarti diantara Day Class yang lain.

“Ini akan disita,” tegasnya, melanjutkan langkah ke kamar berikutnya.

Seseorang menahan lengannya, “Apa salahnya, ini cuma foto kan’?”

“Kalian mengambilnya tanpa permisi kan’?” Jiyeon menarik napas, “Itu masalah besar!”

“Park Jiyi, kau sama sekali tidak mengerti!” kesal gadis itu, merengek.

“Aku hanya—”

“Dia benar, kau tidak mengerti!” seru seorang lagi, “Kau menyalahgunakan posisimu dan sok’ akrab dengan Night Class!”

Tak ada hening barang sejemang. Jiyeon tahu bahwasanya saat-saat seperti ini adalah yang paling sulit bagi murid Day Class, lantas memangnya apa yang bisa ia lakukan?

“Orang sepertimu benar-benar tidak mengerti!” lanjutnya lagi, “Memangnya kenapa kalau anggota kedisiplinan, huh? Ini sudah kelewatan tahu!”

Srett!

“Disita.” singkat Woohyun tiba-tiba, merebut sebuah album foto yang disembunyikan dibalik punggung—kemudian pergi.

Jiyeon mundur perlahan, melanjutkan dorongan pada troli yang dibawanya, “Kau dengar kan?”

Selanjutnya….

“Disita.”

“TIDAK!!!”

“Disita.”

“PARK JIYEON!!!”

“Disita.”

“KYAAA!!!”

“Disita.”

“KAU KEJAM!!!”

“Disita.”

“BERHENTI!!!

“Disita.”

“AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN!!!”

“Disita.”

“DASAR IBLIS!!!”

“Disita.”

“NAM WOOHYUN, MATI KAU!!!”

Dan begitulah … Jiyeon menarik napas dalam, menghirup sebanyak mungkin oksigen yang dibutuhkannya—lantas menyeret sekantung besar barang sitaan yang baru saja membuat seluruh asrama histeris.

“Sial,” keluhnya, sekuat tenaga menyeret benda yang hampir dua kali berat tubuhnya, “Ya, aku mengerti mengapa mereka mengambil foto diam-diam….”

Kemudian manik keemasan itu terpaku pada ratusan—tidak, ribuan foto dan album yang berserakan di dalam kantung. Wajah-wajah Night Class yang tak asing memenuhi kebanyakan foto-foto disana, termasuk Sehun, Krystal, IU, Jackson, Taecyeon, Leo dan … Myungsoo tentunya.

“Mereka itu sangat menawan,” gumamnya lagi, “Tapi vampire…”

Hening sejemang. Gadis itu kemudian tertelan kesunyian, mendadak hampir saja memutar ulang rekaman masa lalu yang selama ini melekat dikepalanya seperti perangko pada surat—seolah bermaksud terus mengingatkannya pada kejadian tak mengenakan itu. Pun Jiyeon sadar kalau ia harus melupakan semuanya, menggelengkan kepala cepat-cepat dan pergi.

“Baiklah, Fighting!” serunya kemudian.

Dan disana, dari balik jendela besar Jiyeon melihat pemuda itu—pemilik iris emerald yang menggoda, tengah duduk menyendiri di balik pohon ek besar. Untungnya, kali ini Jiyeon menemukannya—ini seperti bukan tempat persembunyian Woohyun yang biasa, dimana ia tak pernah ditemukan siapapun—termasuk Jiyeon.

Aigoo, Wohyun … lagi-lagi dia main petak umpet,” keluhnya sebelum melanjutkan langkah.

Sementara itu dibawah, Woohyun mendongakan kepalanya tinggi-tinggi—mencoba menikmati sebanyak mungkin angin yang berhembus, menatap sinar mentari yang menembus celah antar dedaunan yang bergesek. Pun sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk bersantai, kala matahari masih belum terlalu tinggi—ini masih bisa dikatakan pagi, mungkin.

Entahlah, tapi yang jelas Woohyun masih merasakan haus mencekat di kerongkongannya—dalam satu gerakan tangannya kemudian beralih pada leher, bertahan disana sesaat kemudian mencoba melupakan rasa itu. Kenyataannya bahwa pil yang dikonsumsinya selama ini tidak menghilangkan perasaan itu, keinginan yang kuat untuk minum bahkan hanya seteguk—

“Woohyun, kau dimana?” suara itu tak asing, lembut terdengar dari jarak yang dekat.

Dan seiring langkah kaki yang mendekat pemuda itu bangkit, menyembunyikan sekotak pil-nya di saku tepat saat Jiyeon tiba disana—menatap punggungnya.

“Aku sudah selesai.” acuhnya kemudian pergi, meninggalkan sepenggal tanya dalam benak gadis itu.

“Huh?”

Mengikuti Woohyun memamah jarak dari sana hingga ke asrama bulan, Jiyeon melangkahkan tungkainya lamat-lamat mengikuti kaki jenjangnya yang melangkah seirama. Kadang ini seperti judi, menebak-nebak yang mana yang akan keluar—memperkirakan mana yang bisa menang, kemudian nihil. Tak ada satupun tebakan yang benar atau permainan yang dimenangkan—dan Woohyun sesulit ini.

“Eh, kalau di pikir-pikir kita belum pernah masuk asrama bulan kan’?” tanya Jiyeon tiba-tiba, mempercepat langkahnya ketika Woohyun sudah terlampau jauh darinya.

Hening. Cuma sekedar lirikan yang dia dapat setelah mencoba mencairkan suasana diantara mereka berdua, pun Jiyeon tahu bahwasanya ada yang tengah disembunyikan Woohyun tadi.

Dan mereka pun masuk, mendapati seorang penjaga gerbang berdiri disana—dengan tudung hitam dan kulit keriput serta sorot mata menakutkan, mencoba mengintimidasi.

“Huh?”

Jiyeon memasang senyum kikuk, “Eum.. y—yah, kami….”

“Anggota kedisiplinan kan’?” ia bertanya, memusatkan atensi pada mereka berdua, “Silahkan masuk.”

Didalam Myungsoo, Seulgi dan Leo masih sibuk membereskan barang-barang sitaan dari para Night Class, sedangkan Sehun menyibukkan diri dengan kekesalannya pada anggota kedisiplinan. Dari jendela besar itu Myungsoo melihatnya, surai kecokelatan dengan sepasang iris yang manis—memapas jarak dan hampir sampai disana.

Lantas diluar Jiyeon menghentikan langkah mereka tiba-tiba, kemudian menaiki dua anak tangga di depan pintu asrama, “Sebelum kita masuk ke asrama bulan, tunjukan apa yang kau sembunyikan di saku!”

Woohyun terbelalak sejenak, kemudian mengalihkan pandangan—melemparkan atensinya pada seluruh benda disana, apapun kecuali gadis itu.

“Kau menyembunyikan sesuatu, iya kan’?” tanya Jiyeon lagi, “Sebagai anggota kedisiplinan kau tidak boleh melanggar aturan. Jadi cepat keluarkan apapun yang kau sembunyika—”

Sreett….

Langkah yang tak seimbang itu sukses membuat tubuh Jiyeon oleng, memberikan stimultan yang nyata pada Woohyun untuk bergerak sigap—mengayunkan tangan kedepan kemudian menangkap tubuh mungil gadis itu dan….

Brukkk!

Berat tubuh yang datang tiba-tiba itu juga membuat Woohyun oleng, pun tak ada yang terluka tapi ini sukses membuat pemuda itu berjuang keras untuk menahan perasaannya. Detik berikutnya ia menjauhkan Jiyeon, menghindari segala hal yang bisa di hindari.

“Apa yang kau lakukan?!” serunya, menarik napas sambil mendorong tubuh mungil itu.

Dan Jiyeon terkekeh, “Dapat!” sahutnya, menunjukan kotak kecil yang berhasil di ambilnya dari Woohyun ketika jatuh tadi.

“Apa ini obat?” tanya gadis itu kemudian, masih duduk disana tanpa mempedulikan keterkejutan Woohyun.

“Bukan urusanmu.” secepat kilat pemuda itu merebutnya lalu bangkit, meninggalkan Jiyeon.

Sementara Jiyeon dalam keadaan shock, “O—oi, Wohyun, kau mau kemana?!” ia bangkit, menyusul langkah Woohyun yang terlalu cepat, “Apa kau sakit?”

Lagi, Myungsoo memperhatikan semuanya. Ketika mereka berdua masuk kemudian pergi begitu saja. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi yang jelas ini bukanlah perkara yang mudah.

“Anggota kedisiplinan sudah pergi,” Sahut Jackson, melanjutkan langkahnya kembali ke kamar bersama Leo.

Leo tersenyum, “Mungkin inspeksinya di batalkan.”

“Apa?! Bagaimana bisa mereka pergi setelah menghancurkan kebahagian kecilku?!” serunya Sehun, menatap ke jendela dengan wajah sembab, “Koleksiku yang berharga….”

Kemudian satu per satu Night Class kembali ke kamarnya masing-masing. Akan tetapi tersisa Myungsoo disana, masih menatap kepergian Jiyeon dan Woohyun yang sudah tak terlihat—berdiri, kemudian menanamkan atensinya pada langit yang luas.

><><><

 

“Tunggu, Woohyun!” Jiyeon berseru, masih mengejar Woohyun yang sudah melewati gerbang sekolah, “Kau tidak boleh pergi tanpa memberitahu siapapun!”

Gadis itu menarik nafas, memejamkan mata sejenak kemudian menatap punggung Woohyun yang semakin menjauh—meninggalkan sekolah. Tanpa berpikir panjang, Jiyeon memacu tungkainya—menyusul Woohyun yang sudah tak terlihat.

“Woohyun….” gumamnya, “Aku kehilangan dia,”

Lambat berjalan Jiyeon menemukan dirinya sudah sampai di pusat kota. Memandang kesekitar entah mengapa gadis itu merasa ada yang aneh, keramaian itu menusuk pendengaran dan pengelihatannya. Ini seperti dejavu, perasaan seperti dikelilingi banyak orang kemudian satu persatu hilang … hilang … hilang. Dan ketika tersadar Jiyeon terbelalak, menatap jalan setapak yang lurus—melanjutkan langkah.

Sesekali gadis itu terhenti, tersentak setiap ada orang yang keluar secara tiba-tiba dari pertokoan—menatap aneh kemudian berlalu begitu saja. Semakin lama Jiyeon semakin was-was, mempercepat langkahnya secepat yang dia bisa. Perasaannya begitu aneh saat ini, titik-titik kegelisahan dalam dirinya perlahan merayap—menggerogotinya begitu cepat hingga seperti ini.

Brukk!

Jiyeon terhenti, menubruk seorang wanita yang berselisih jalan dengannya. “Maaf,” singkatnya, meninggalkan wanita itu.

Sepeninggal Jiyeon wanita itu menoleh, menatap punggung mungil yang semakin menjauh. Mata merahnya yang menyala kemudian mengikuti bayangan Jiyeon hingga menghilang di belokan. Lantas lengkung sinis itu tercetak disana.

Seiring langit yang mulai sore Jiyeon menjatuhkan tubuhnya di sebuah bangku panjang dipusat kota. Gadis itu menarik nafas panjang, seolah dengan begitu seluruh ketakutan dan kegelisahannya akan pergi bersama hembusan berikutnya. Menatap kosong ke depan, iri keemasan itu melebar sesaat—menampilkan keterkejutan yang nyata.

“Kenapa?” tanya Jiyeon pada dirinya sendiri, “Kenapa aku selemah ini?”

Sekali lagi ia menarik nafasnya, kemudian memejamkan mata—menggelapkan dunianya dalam sejenak. Dan potongan memori itu kembali mengghinggapi kepalanya, memberikan warna merah yang nyata pada pengelihatannya—menimbulkan gemetar pada jemari pucatnya.

“Kupikir ini sudah selesai … kenapa ini harus terjadi setiap kali aku sendiri?” Jiyeon memeluk tubuhnya, meringkuk. “Aku … aku ingat warna merah itu….”

Wuushh….

Dan ketika membuka mata, iris keemasan itu melebar—terbelalak. Warna merah yang dilihatnya begitu nyata di depan mata, dan itu adalah … balon. Sebuah balon berwarna merah beserta seorang anak lelaki yang membawanya. Detik berikutnya Jiyeon menghela nafas lega. Perasaannya sudah lebih baik sekarang, pun sebenarnya ia benci ketika hal-hal seperti ini terjadi padanya—trauma.

Tak jauh dari sana, tiba-tiba saja balon itu terlepas dari tangannya—membuat benda ringan berwarna merah itu tersangkut di pohon. Melihat hal itu Jiyeon lantas bangkit, menghampiri anak lelaki itu kemudian mengambil balon yang sebenarnya tidak tersangkut terlalu tinggi. Dalam satu gerakan ia melompat, menarik talinya dan membawa balon tersebut pada bocah disampingnya.

“Ini dia!” serunya, yang entah kenapa membuat anak itu berbalik—lari meninggalkannya.

“H—hey! Adik kecil,” panggilnya, “Ini milikmu….” tukasnya sambil mengikuti langkah mungil anak itu.

Sementara itu…

“Nah, seperti biasa kan’?” koki itu menyodorkan semangkuk ramyeon pada Woohyun lengkap dengan telur dan kimchi-nya.

Sementara disana Woohyun masih duduk dimejanya, termenung—memikirkan banyak hal. Dan entah mengapa hal-hal tentang Jiyeon benar-benar mengganggunya kali ini. Pergi ke kedai dan makan ramyeon di waktu-waktu ini adalah apa yang paling Woohyun sukai—melupakan sejenak apa yang terjadi disekolah, mengisi perut dengan semangkuk makanan hangat yang lezat.

“Huh?” bingungnya, menatap semangkuk ramyeon panas yang baru matang.

Pria itu tersenyum sambil mengaduk ramyeon untuk pelanggan lain, “Kau terlihat tidak baik hari ini, jadi kutambahkan telur rebus….”

“Oh,” Woohyun balas tersenyum.

Back to Jiyeon….

Ini sudah tiga puluh menit sejak ia mencari bocah pemilik balon itu, dan selama itu pula Jiyeon sudah jauh dari pusat kota yang ramai. Perlahan gadis itu melihat kesekitarnya dan menemukan wilayah yang semakin sepi seiring langit yang hampir gelap. Perasaannya yang tadi perlahan mulai muncul, memberikan stimultan kewaspadaan yang lebih. Dan tak sampai sepersekian detik kemudian irisnya menangkap sosok itu—anak lelaki pemilik balon.

“O—oi tunggu! Kenapa kau lari?!” panggil Jiyeon kuat, lalu memacu langkah lebih cepat.

Mengikuti bocah lelaki yang sudah membuatnya jauh dari pusat kota membuat Jiyeon masuk ke ruas jalan yang lebih kecil, lebih banyak belokan dan lebih sepi. Di depannya anak itu tampaknya masuk ke dalam sebuah katedral tua, dengan jalan setapak berliku disertai anak tangga yang turun melingkar—dan Jiyeon tanpa pikir panjang menuruni anak tangga itu hingga masuk ke halaman katedral.

“Hei, kau lupa balonmu….” Ucapnya ketika melihat anak itu berdiri di depan gerbang, memunggungi Jiyeon—sementara dibelakangnya ada sosok dengan mata merah menyala.

“Ini punyamu kan’?” perlahan tapi pasti gadis itu melangkah, mengikis jarak antara dia dengan anak lelaki itu—kemudian sedikit berlutut untuk memberikan balonnya, “Ambilah….”

Bocah itu berbalik perlahan, dengan tudung yang hampir menutupi separuh wajahnya ia menunduk, seraya lengan mungilnya terulur—menerima balon dari Jiyeon. Akan tetapi—

GREEPP!!

Entah bagaimana caranya tangan mungil itu meyambar kuat lengan Jiyeon. Kuku-kuku panjang mencuat seiring cengkramannya pada gadis itu, sementara Jiyeon masih shock atas apa yang dilakukan bocah itu—pun balon merahnya telah mengudara entah sejak kapan.

“A—ada apa?!” paniknya, berusaha menarik tangan dari cengkraman kecil yang kuat.

Pelan bocah itu mendongak, menampakan wajah menakutkan pada gadis itu. Dengan lengkung menakutkan ia tersenyum, dan dengan taring yang mencuat mulutnya tertawa serta dengan mata merah menyala ia menanamkan seluruh atensinya pada Jiyeon—membuat gadis itu membelalakan mata seketika.

“KYAAAAA!!!”

Wohyun hampir menyelesaikan makannya ketika ia tiba-tiba saja teringat akan Jiyeon—kemudian seolah mendengar teriakannya. Secepat kilat pemuda itu bangkit, meninggalkan beberapa lembar uang di meja sebelum pergi mencari gadis itu. Sial, perasaanku tidak enak!—batinnya.

Dan disana Jiyeon masih berlari. Sekuat tenaga gadis itu mencoba menghindar dari bocah laki-laki menakutkan tadi. Mata merah serta taring tajam mencuat itu terus berputar-putar dikepalanya, mendorong gadis itu untuk terus menghindar. Jalan setapak dengan dua belokan di depan benar-benar sepi, tak ada seorangpun yang lewat. Pun saat ini rasanya ia belum terpojok, tapi mahkluk kecil itu benar-benar menakutkan.

Napas yang tersengal itu menambah kepanikannya, rasa was-was dan gelisah yang memenuhi dirinya seolah belum cukup. Bahkan melihat kesekitar setiap saat rasanya hampir membuatnya gila. Hingga ia tiba di balkon katedral, tidak terlalu tinggi dengan jangkauan pandangan yang luas—ini adalah tempat yang tepat untuk mengawasi dimana mahkluk kecil itu berada.

Sreett… Brukk!!

Sial! Serangan itu datang dari atap. Seorang wanita dengan mata merah dan lengkung menakutkan yang sama melompat dari atas sana, mencoba menyergap Jiyeon yang tampak bingung di bawah. Dan secepat itu pula gadis itu menghindar, berkat pelatihan intensif yang diberikan Leeteuk.

Mengingat balkon yang tidak terlau tinggi, Jiyeon memutar tubuhnya kemudian melompat dalam satu gerakan singkat—mendarat sempurna diawah kemudian melanjutkan langkahnya secepat yang ia bisa. Memasuki katerdral yang kosong itu adalah suatu pilihan baginya, menaiki tangga hingga ke atap merupakan hal yang dirasa paling aman. Apa itu … vampire?—batinnya bertanya.

Menerobos masuk katerdal dan berlarian ke atap, kemudian mendobrak pintunya—Jiyeon tahu bahwa ini adalah dosa besar, tapi rasanya ia tak diberikan pilihan. Ini seperti perintah lakukan atau mati—yang bahkan ketika dia lakukan hidupnya tetap tidak aman. Mahkluk itu masih berkeliaran disekitar sini untuk mencarinya, dan hanya masalah waktu sampai mereka menemukannya.

Ia meringkuk disana, memeluk tubuhnya yang bergetar hebat. Entah kenapa kepalanya suka sekali memutar memori-memori yang tidak menyenangkan—termasuk bayangan mata merah dan taring mencuat bocah tadi, juga vampire jahat yang menyerangnya sepuluh tahun silam. Ini tidak seperti Night Class, mereka benar-benar berbeda.

Vampire….” Jiyeon memegangi tangannya yang gemetar, “Tidak—vampire yang kutahu … mereka begitu menawan dan disukai banyak orang.”

Perasaannya semakin kacau. Sel-sel yang membuatnya tegang nampaknya sudah menguar ke seluruh aliran darahnya—berdesir, membuatnya merinding karena rasa takut. Tidak—aku … aku takut … aku takut….—rengek Jiyeon dalam hati.

Vampire yang kutahu, a—aku mengagumi mereka…” lagi, bayangan tu berputar di kepalanya—tentang Myungsoo yang selalu ia pikirkan dan tentang kejadian sepulluh tahun yang lalu, juga mata merah dan taring yang ditunjukan padanya tadi. Semuanya benar-benar membuat Jiyeon hampir mati.

“Tidak—vampire akan memakanku…” racaunya lagi.

Memejamkan mata sejenak, Jiyeon kemudian meraih althemis—senjata anti vampire—yang ada di balik roknya, mencoba untuk berdiri—lantas kembali siaga dan mengamati kesekitar. Bulir keringat yang turun melalui pelipisnya menandakan ketegangan, akan tetapi otaknya menolak untuk menyerah—terutama dari rasa takut yang menggerogotinya selama ini.

Sementara itu Woohyun sudah sampai dibawah. Feelingnya yang kuat—terutama insting vampire-nya bekerja jauh lebih baik dari pada manusia, dan karena itu juga ia dapat menemukan Jiyeon dengan cepat. Melihat bercak darah di depan katedral, lelaki itu berjongkok kemudian melihat cairan pekat di depannya sebelum—

Wuushh—sreettt… Bruakk!

Wanita itu melompat dari atap, menyerang Woohyun dalam satu gerakan kuat yang nyata. Mata merahnya tampak semakin menyala, sedang taringnya hampir hinggap pada pemuda itu. Dan sepersekon berikutnya….

Greeepp—bruakk!!!

Dalam satu gerakan singkat Woohyun menarik lengannya, kemudian menghempaskan mahkluk itu ke arah lain—menghancurkan dinding kokoh di samping katedral. Bukanya menyerah, senyuman menakutkan itu semakin nyata. Menatap Woohyun dengan manik yang kembali menghitam, berjalan pelan ke arah pemuda itu.

Sreettt—cekcrekk!

Bloody rosse di tarik—senjata dengan peluru anti vampire itu tengah ditodongkan pada sosok mahkluk menjijikan di depannya, “Dan kau telah kehilangan emosi manusiamu,”

Semakin lama langkahnya semakin cepat … lebih cepat … dan lebih cepat—membuat Woohyun semakin memantapkan niatnya untuk menekan pelatuk pistolnya. Namun bayangan itu kembali muncul, sesosok wanita dengan Hanbok putih yang membunuh keluarganya—berlari juga kearahnya. Hingga kuku-kuku tajam yang menghitam itu berhenti tepat beberapa senti di depan wajahnya, kemudian wanita itu mundur selangkah—memiringkan kepala seraya tersenyum penuh arti pada Nam Woohyun.

“Te … man…?” sahutnya pelan.

Lelaki itu terbelalak, menatap lurus pada wanita yang tersenyum aneh padanya—tatapan itu adalah … tatapan kebencian.

“Kita ini teman….” Ucapnya lagi.

Woohyun mengerutkan keningnya, menahan seluruh amarah yang ada sambil menarik napas panjang, “DIAM!!!”

Ckrekk—jederrrr!!!

Timah panas itu kemudian mengudara, melesat cepat dan tepat menuju ke sasaran yang tak lebih dari sepuluh meter jauhnya—terlalu dekat untuk bisa meleset. Dan detik itu juga segumpal cahaya pecah, menguar, menyebar ke segala penjuru seraya menghanguskan setiap inci tubuh wanita itu—mengubahnya jadi asap.

Setelahnya mantel cokelat itu teronggok di tanah, menunjukan bahwa isinya sudah lenyap entah kemana. Dan bocah lelaki kecil berdiri dibelakang, menatap dengan mata merah yang kembali menghitam—serta taring mencuat yang nyata. Sialnya Woohyun bergeming. Dari pada mengacungkan bloody rosse pada bocah itu kepalanya ternyata lebih suka memutar memori masalalunya, ketika ia pernah diserang oleh makhluk yang sama—mahkluk menyeramkan yang ternyata suster terbaik diruang kesehatan.

“Namjoon…?” racau Woohyun tiba-tiba.

Iris emerald pemuda itu melebar, entah mengapa sosok bocah lelaki didepannya berubah menjadi Namjoon—saudara kembar identik yang memiliki manik kehijauan yang sama. Akan tetapi tawa itu pecah, suara melengking memenuhi wilayah katedral yang sepi—sekaligus membangunkan Woohyun dari khayalannya. Secepat mungkin ia membidik anak itu, namun terselip keraguan ketika melihatnya—sehingga pemuda itu pada akhirnya tak melakukan apapun sampai mahkluk itu naik ke atas.

“KYAAAA!!!”

Suara itu datang dari atap katedral. Suara yang paling dikenal Woohyun, dan kepalanya pun langsung menuju ke satu orang, Park Jiyeon.

Sementara Woohyun naik ke atas, Jiyeon berusaha sekuat tenaga mempertahankan hidupnya. Mungkin kalau cuma lari dan menghindar tak masalah, tapi ini tak semudah itu—mendapati mahkluk kecil menyeramkan yang melompat kesana kemari mengincar nyawa bukanlah sesuatu yang biasa, pun ia memiliki althemis—alat itu hanya membantu untuk menghindari, bukan memusnahkan.

Wuusshh… Sreeett….

Dan entah dari mana datangnya bocah itu sudah hinggap di althemis, sementara Jiyeon berusaha sekuat mungkin untuk menjauhkannya. Bertahan dalam posisi berdiri adalah keahliannya, tapi tidak dengan mahkluk menakutkan seperti dia—mata merah yang menyala itu menatapnya intens, memberikan stimulus rasa takut pada gadis itu. Sementara cakar hitamnya yang panjang berulang kali terayun, mencoba meraih Jiyeon yang menahannya.

Sraaakk!!

Sial. Cakarnya mulai menggores kulit Jiyeon. Dan entah mengapa tawa itu menguar, disertai serangan yang semakin agresif dari mahkluk menakutkan itu. Tak kuat menahannya, gadis itu kemudian melompat, berbalik tepat saat taring kecil yang mencuat hampi-hampir melukai lehernya—dan saat itulah bocah penghisap darah itu terlempar beberapa jauh. Akan tetapi—

TENG! TENG! TENG!

Katrol lonceng yang awalnya teronggok itu rupanya tertarik oleh anak itu ketika jatuh tadi, menimbulkan suara lonceng khas katedral yang kuat—suara dan getaran itu mungkin tak masalah jika di dengar dari kejauhan, akan tetapi tidak jika berdiri tepat di depan lonceng besar yang berbunyi nyaring. Suaranya bahkan mampu menggetarkan tubuh mungil Jiyeon, memaksa gadis itu untuk meringkuk dibawah sambil menutup telinga kuat-kuat—sedangkan tawa itu menguar bersamaan dengan suara lonceng.

Sreeettt—pattsss,

Cepatnya lompatan bocah itu hampir saja menerkam Jiyeon, akan tetapi disaat yang sama kakinya berhenti. Mata merahnya yang menyala entah kenapa berhasil kembali normal, kuku hitam panjangnya juga kembali seperti biasa. Sosok menakutkan itu kini berubah sepenuhnya menjadi anak kecil biasa, dengan sorot mata ketakutan yang jelas—serta tubuh yang bergetar hebat, membatu disana.

Perlahan gadis itu membuka matanya. Suara lonceng yang mulai berhenti membuatnya bingung sesaat, pun tawa menakutkan yang menguar itu sudah tak terdengar lagi. Dan irisnya menangkap sesosok anak kecil yang ketakutan, serta seseorang bayangan seseorang yang ada disana—orang yang berhasil membuat mahkluk itu bertekuk lutut hanya karena kehadirannya. Dia adalah … Kim Myungsoo.

“Kasihan, tergelincir sampai sejauh ini….” Pelannya, menatap lurus pada bocah yang ketakutan.

Kemudian kaki jenjangnya melangkah, memapas jarak antara ia dan dan Jiyeon—membuat anak lelaki di depannya mundur beberapa langkah dengan nada ketakutan. Detik berikutnya, Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon lantas perlahan memeluknya dari belakang lalu menutup mata gadis itu dengan sebelah tanganya.

“M—myungsoo sunbae?”

Pemuda itu tersenyum, seraya mata kokoanya yang berubah merah, “Kau melukai orang yang penting bagiku….”

Didepan mereka, anak itu membelalakan mata—menatap aura kuat yang keluar dari Myungsoo dengan cepat. Tak sampai sepersekon berikutnya, mantel cokelatnya sudah teronggok di lantai kayu itu—seiring dengan tubunya yang pecah menjadi molekul terkecil, kemudian menghilang seperti asap.

“Myungsoo sunbae….” Pelannya ketika merasakan aura kuat disekitar.

Myungsoo menyingkirkan tangannya dari mata Jiyeon, membiarkan gadis itu melihat kembali, “Sudah selesai.”

“Anak itu…” jiyeon menggantungkan kalimatnya.

“Level E,”

Jiyeon terbelalak, “Me—mereka bukan vampire, kan’?”

“Tidak, mereka juga vampire.” Pemuda itu menatapnya intens.

“T—tapi—”

“Gadis nakal,” potong Myungsoo cepat, mengusap pipi Jiyeon yang sedikit tergores, “Datang ketempat berbahaya … dan sendirian.”

Pemuda itu kemudian mengulurkan tangannya, mengusap kepala Jiyeon lembut sebelum meraih tangan gadis itu dan mencium buku-buku jarinya. Akan tetapi tiba-tiba saja Jiyeon menarik tangannya, membuat Myungsoo mengalihkan tatapannya—menyelipkan rasa sakit.

“Aku sedang mencari Woohyun,” tukasnya.

“Begitu, dia sudah kembali ke asrama…” Myungsoo memejamkan matanya sejenak, “Ayo, kuantar kau pulang. Kepala sekolah pasti cemas…”

Sementara itu….

Iris emerald itu menatap setiap yang terjadi di atap. Tubuhnya yang terasa panas mulai memberontak, pun rasa haus yang parah di kerongkonganya datang lagi—memberikan rasa sakit di setiap inci tubuhnya, mengalir dalam darahnya hingga ia tak mungkin menghampiri siapapun. Tidak Myungsoo, apalagi Jiyeon.

“Bau darahmu itu … sangat berbahaya untukku,” Woohyun menahan napasnya.

><><><

 

Langit sudah gelap ketika mereka sampai diasrama, dan Jiyeon langsung pergi begitu sampai didepan asrama matahari. Langkah kakinya cepat menuju ke kamarnya, lantas sebenarnya ia masih memikirkan Woohyun. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?—tanya gadis itu dalam hati.

Didalam kamar gadis itu mendapati Halla yang sudah terlihat nyaman ditempat tidur masih membaca bukunya. Diambilnya beberapa perban dan obat merah di laci, kemudian mengobati tangannya. Dalam diam Halla memperhatikan, bukannya enggan untuk bertanya—hanya saja gadis itu tak mau mengganggu konsentrasi Jiyeon.

“Nah, selesai!” serunya bangga, menunjukan tangan yang sudah terbalut rapi.

Halla menoleh, “Terluka lagi, huh?”

“Cuma tegores,” singkatnya, “Ok, malam ini akan kulakukan yang terbaik!”

Gadis itu tertawa, “Kau tetap ceria dan bersemangat walau sudah larut, Jiyi, dan barusan terluka lagi…”

“Eh, ini cuma luka kecil.” Senyumnya mengembang, “Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja!” serunya seraya pergi.

“Dia selalu terlihat ceria,” pelan Halla, kemudian kembali menekuni bukunya.

Diruang kepala sekolah Myungsoo duduk sambil menyesap teh-nya. Menatap lurus pada jendela besar disana, pemuda itu tampaknya memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan dengan Leeteuk Park.

“Jadi kau benar-benar tidak bisa di bodohi ya, Myungsoo…” Leeteuk menarik nafas, “Benar, kau memang berada di level yang berbeda.”

Pemuda itu menatapnya, melarutkan sebutir pil putih yang melebur merah di gelas.

“Darah yang mengalir ditubuhmu berbeda dengan vampire lain, ini adalah darah murni dari keturunan leluhurmu.” lanjutnya, menyesap kembali teh dimeja, “Kau ini jenis langka diantara para vampire…. Satu dari mereka yang paling murni—kau mewarisi kekuatan terbesar dari pemimpin tertuamu, yang bahkah hanya dengan keberadaannya bisa menakuti vampire lain.”

“Kepala sekolah Park, aku percaya padamu—jadi aku tak akan mengganggu.” Kali ini giliran Myungsoo menyesap makanannya, “Tapi, kau mengambil langkah yang terlalu kecil terhadap Woohyun dan masih menganggapnya murid biasa….”

Detik berikutnya ia bangkit, berdiri di depan meja Leeteuk Park sambil menatap dalam pria itu.

“Lantas apa kau akan membiarkan Woohyun menghancurkan impian perdamaianmu?” tanya Myungsoo kemudian, “Keluarga Nam Woohyun dibunuh oleh vampire—dan ditengah lautan darah itu dia bisa bertahan seorang diri … Apa ada yang lebih hebat dari itu?” lengkung sinis itu hinggap pada pemuda itu, “Tapi kau harus ingat, bahwa yang membunuh keluarganya bukanlah vampire biasa. Dia adalah vampire darah murni, sama sepertiku.”

Dilain tempat….

Pelan Jiyeon melangkahkan tungkainya, menyusuri lorong panjang yang menuju ke tempat dimana Woohyun berada, kamarnya. Dengan hati-hati gadis itu berdiri disana, memikirkan lebih dari sekali bahkan hanya untuk mengetuk pintunya.

“Woohyun-ah,” panggilnya pelan, “Aku masuk, ya?”

Tanpa menunggu jawaban Jiyeon memegang knopnya, memutar gagangnya perlahan kemudian membuka pelan pintu kamar Woohyun. Akan tetapi nihil. Tak ada appaun yang didapatkannya disana, kecuali seperangkat ranjang lengkap dengan batal dan selimut yang masih tertata rapi. Kemana dia pergi?—batin Jiyeon bingung.

Melanjutkan langkah, gadis itu berbalik—menyusuli kembali lorong panjang yang mulai sepi di asrama. Sebenarnya ini adalah tuganya yang biasa, pergi memeriksa seluruh asrama dan sekolah diwaktu para Day Class pergi ke alam mimpi. Akan tetapi terselip perasaan yang berbeda kali ini, mungkin Woohyun juga salah satu penyebab—terutama pembicaraan mereka tidak terlalu baik hari ini.

Pyarrrr!!!

Satu lampu tampak sudah memasuki masanya untuk diganti. Suara yang cukup untuk membuat kaget—terlebih serpihan kecil yang membuyar, membuat Jiyeon lebih waspada menatap kesekitarnya. Dan sepersekian detik kemudian kepalanya mulai memotar memori yang masih hangat dalam ingatannya, serangan mahkluk menakutkan di katedral barusan.

Vam—vampire … itu adalah vampire,” racaunya, memeluk tubuh yang mulai gemetar.

Sementara Jiyeon mencarinya, pemuda itu justru duduk di sudut lorong dekat tangga—meringkuk pada sudut jendela besar yang membingkai rembulan yanghampir hilang sepenuhnya, semakin menipis sabitnya. Dengan seluruh kekuatannya Woohyun menahan diri. Menyangkal habis-habisan rasa mencekat di kerongkongannya yang bukan cuma sekali frekuensinya, pun rasa sakit itu telah menjalar sedari tadi—dan yang bisa dia lakukan hanya duduk dan menahan sakit.

Menit demi menit berlalu, dan entah sudah berapa banyak keringat sebesar biji jagung yang keluar dari dahinya—juga rona merah di pipi Woohyun yang disertai rasa panas disekujur tubuhnya. Ini seperti penyakit kronis yang tak ada obatnya, bertahan sekuat tenaga hanya untuk mati. Dan Woohyun benci akan hal itu, menjadi sakit … kemudian dia akan kehilangan sisi manusianya perlahan—berubah menjadi level E yang sepenuhnya.

Pun kepalanya seringkali berpikir, bahwasanya ada hal-hal diluar nalar yang sering diungkitnya—menstimultan memorinya untuk menarik kembali hal-hal indah seperti tentang … Jiyeon. Dan sekali lagi Woohyun benci—sangat benci! Karena ketika keadaannya tengah meradang yang datang ke dalam pikirannya justru orang yang paling dihindarinya, Jiyeon. Bahkan disaat paling menyakitkan pun kepalanya masih membayang senyuman gadis itu, bahkan manik keemasannya yang menatap polos penuh kekhawatiran terhadapnya. Ini sungguh seperti membangun—

“Woohyun-ah,” panggil Jiyeon pelan, menatap pemuda di depannya dengan kegelisahan yang jelas—otomatis membuat Woohyun menoleh.

“Kau pasti sudah tahu,” gadis itu tersenyum kecil—tampak sedikit tenang, “Aku akhirnya mengerti apa yang selama ini kau rasakan … me—mereka, para vampire itu benar-benar menakutkan.” lanjutnya, “Mereka adalah monster penghisap darah dalam wujud manusia…”

Woohyun mengalihkan tatapannya, berbalik sambil berusaha menjauhi Jiyeon yang melangkahkan tungkainya pelan, memapas jarak sedikit demi sedikit.

“Jangan mendekat!” tegas Woohyun kemudian, menghentikan langkah Jiyeon seketika.

Gadis itu tersentak, “Ke—kenapa?” irisnya terbelalak, “Aku ingin bicara denganmu—aku ingin kau juga berbagi cerita denganku … lagi pula kita sama, kan’?”

“Tidak!” suara Woohyun meninggi, “Kita sama sekali tidak sama.”

Mianhae, Woohyun-ah, aku memang egois….” Jiyeon membuang pandangannya, menahan Kristal bening yang hampir membanjiri pelupuk matanya, “Kupikir kita memiliki kepedihan yang sama, tapi nyatanya cuma aku yang bodoh….”

Melihat Woohyun yang masih bergeming, Jiyeon berbalik—melangkahkan kakinya menjauhi pemuda itu, bahwasanya ia tahu kalau teman terbaiknya itu butuh ruang untuk dirinya sendiri.

“Ji—jiyi,”

Sreett….

Entah bagaimana caranya, perban luka yang melilit tangan mungil Jiyeon lepas begitu Woohyun menggenggam tangannya—mencoba untuk menghentikan gadis itu dari kesalahpahamannya, tidak. Kesalahpahaman mereka berdua.

Wuushhh….

Angin bertiup lembut ketika warna merah yang melekat pada perban putih itu melayang di depan matanya, memberikan bau anyir yang menguar keseluruh penjuru indra penciumannya. Dengan mata terbelalak pemuda itu melihat kedalam dirinya—akan tetapi warna merah dan bau yang membuatnya tercekat itu memenuhi dirinya perlahan. Harum lembut yang datang dari Jiyeon—anyir yang pernah dibilangnya menjijikan, tapi inilah yang sangat dibutuhkannya.

Detik berikutnya pemuda itu menarik lengan Jiyeon, membawanya perlahan ke dalam pelukannya—melingkarkan tangannya dari belakang. Iris emerald-nya tampak lenyap ditelan warna kemerahan yang nyata. Ini berlawanan dengan apa yang selama ini diperjuangkannya! Dan yang paling dibenci Woohyun adalah ketika tubuhnya sama sekali tidak sinkron dengan kepalanya—apa yang dipikirkannya tidak sama dengan apa yang tengah dilakukannya sekarang.

Jiyeon terbelalak, “Wo—wohyun?!”

Perlahan satu tangannya menyibak surai kecokelatan gadis itu, kemudian menghirup aroma lembut dari tengkuknya—memejamkan mata seraya menjilat leher jenjang yang selama ini berusaha dihindarinya. Pun tak sampai sepersekon berikutnya taring itu mencuat diantara gigi putih yang tersusun rapi, dengan mulut yang terbuka lebar—siap untuk menerkam. Lantas tanpa menunggu lagi sepasang taring milik Woohyun menyusup diantara kulit susunya, menusuk—merobek lapisan kenyal yang mengalirkan darah segar.

“A—apa yang kau—”

Iris keemasan itu semakin melebar kala Jiyeon merasakan nyeri yang nyata di lehernya, pun ada sesuatu yang tertancap di sana—menyeruak, merobek kulitnya semakin dalam. Dan seketika itu juga gadis itu merasakan aliran darah dalam tubuhnya terhisap, ditarik keluar hingga mengalir sebagian ke sekitar bahu dan punggungnya. Mengalihkan pandangan kesekitar, kemudian iris Jiyeon menangkap sekotak kecil pil yang pagi tadi sempat membuat mereka berselisih paham.

“Wo—woohyun … woohyun, hen—hentikan!” serunya kemudian.

Dalam satu gerakan Jiyeon memusatkan tenaganya disiku, kemudian mengayukannya kebelakang—menyikut Woohyun kuat-kuat, melepaskan diri dari pemuda itu.

“Tidak—berhenti!” memutar tubuh kebelakang, Jiyeon berhasil melepaskan diri.

Gadis itu kemudian mundur beberapa langkah, lalu secepat mungkin menyeka luka yang masih mengalir dari lehernya. Dengan tatapan tidak percaya Jiyeon menatap Woohyun, melihat pekat merah yang menggantikan iris emerald yang selalu disukainya. Matanya … dia memiliki sinar merah yang menyala, dan taring itu keluar dari bibirnya … monster dalam wujud manusia—batinnya.

“Woohyun, kenapa kau—”

Pemuda itu tampak tersentak, mengikuti langkah Jiyeon yang menjauh—pun detik berikutnya warna merah menyala itu padam, mengembalikan manik kehijauan milik Woohyun.

“Jiyi….” Ia mengalihkan pandangannya, melemparkan atensi pada apapun selain gadis itu, “Mianhae,”

Ditempatnya Jiyeon bergeming, menatap lurus pada Woohyun yang masih berlumur darah. Woohyun adalah vampire…?

Sementara itu….

Myungsoo menatap lurus pada Leeteuk Park, “Kau mungkin sudah banyak melihat akhir menyedihkan dari hidup manusia yang cukup untuk membuatmu sakit,” pemuda itu menarik nafas, “Aku benar kan’ mantan pemburu vampire, Leeteuk Park?”

Pria itu masih termenung di tempatnya, menatap lurus pada lawan bicaranya—bergeming, mengheningkan suasana diantara mereka.

“Woohyun tidak bisa menolak kenyataan ini…” lanjut Myungsoo lagi.

Hening. Lagi, kesunyian itu menjerat mereka yang ada di dalamnya—seolah sebuah jawaban yang membenarkan, pun nyatanya cuma setitik senyap yang tak menyelesaikan apapun.

“Manusia yang digigit oleh vampire darah murni … akan berubah menjadi vampire—manusia yang digigit oleh vampire darah murni hanya memiliki dua takdir,” pemuda itu terhenti, melangkahkan tungkainya menuju jendela besar disana, “Mati karena terlalu banyak darah yang dihisap, atau hidup untuk merasakan penderitaan selamanya—karena akan berubah menjadi vampire.”

“Aku tahu—”

“Ini adalah kekuatan yang tidak dimiliki vampie lain—seperti yang kita tahu, sebelumnya Woohyun adalah manusia … dan selama empat tahun ia berusaha menentang insting vampire-nya.” Myungsoo menegaskan, “Aku kagum dengan semangat dan kemauan kerasnya, tapi….”

“Woohyun adalah … vampire?” Jiyeon melihat cairan merah pekat berbau anyir yang tercecer di sekitarnya.

.

.

.

I ‘ll also show you a sweet dream next night….

 

><><><TBC><><><

Advertisements

14 thoughts on “[Multichapter] Vampire Knight – Chapter 3

  1. Huaaaaaaahhh. Rupa na ni dh ϑi post
    Aigoo q telat (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)​

    Serrruuu bgt kisah mrk ni, btw kluarga na jiyi dlu na d bantai vampire Ĵΰƍa ky’ woohyun kh?? Alna dy G̲̮̲̅͡å da ingat2 ttg ortu na, q jd pnsrn dg kluarga na ,,
    Daebak !! Myungie bs tw lokasi jiyi ϑi tempat terpencil tu.. Tp k’ myungie G̲̮̲̅͡å nyatain cinta pd jiyi???
    Akhirnya ketahuan Ĵΰƍa woohyun vampire,, jgn2 jiyi bakal mnjauh krn trauma pd vampire

    • Huahh suka seneng kalo ada yg komennya panjanggg hehehehe… eum gimana jawabnya yahh 😂😂😂 mungkin tunggu chapter berikutnya aja^^ btw thankyou for reading…

  2. duuh sakit sekali hati myungsoo serasa ditolak sama jiyi, mungkin jiyi masib rada takut sama vampire walaupun vampire yg ini udah dia kenal.
    kasian juga namu harua kesiksa mau berubah jd vampire daaan dia berhasil ngisap dsrah jiyi omonaaa apa jiyi akan berubah jd vampire juga? 😮
    ditunggu next chapnya ya ^^

    • Iya nih myungsoo patah hati deh gara2 jiyi… eumm semoga namu juga lebih baik kedepannya… btw thankyouu for reading^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s