[Ficlet ] Never Ending Pattern

never ending pattern-alana

 Seulgi and Sehun

In

~ Never Ending Patern ~

 

 

Bisa saja aku mengatakan bahwa laki-laki itu’ yang sedang menatapku dengan pengertian ambigunya mungkin sangat tidak sesuai dengan keinginan hatiku, sifatnya adalah persamaan dsri bentuk pengekangan. Jika aku bisa bersikap lebih tenang dan menaruh semua bentuk emosi di dalam lipatan tanganku, maka dia akan memberikan padaku hadiah senyuman yang dia pikir sangat aku sukai. Sayangnya aku memang menyukai senyumnya.

 

Senyuman yang akhirnya membentuk sabit pada matanya itu terkadang menghadirkan sebuah alur yang panjang dalam ingatanku. Tidak bisa terbilang dengan ukuran apapun, meski aku sangat menyukai mengenai pertemuanku dengannya. Seorang Sehun, yang pendiam itu mempunyai sejarah yang tidak terlalu rumit denganku. Pertama kali melihatnya, dia sedang terduduk sendiri di sebuah bangku taman di dekat pertokoan. Peristiwa itu mungkin kujadikan titik awal kenapa aku begitu menyukai kegiatan bodohnya yang mungkin kuanggab sepele, membaca. 

 

Dia membawa dua sampai tiga buku ke sana dan menghabiskan sekitar tiga jam untuk memusatkan pikirannya pada baris-baris tulisan dari sastra dan kemajemukan ilmu ekonomi. Meski aku tidak mengerti kenapa dia menggabungkan dua jenis bacaan yang berbeda untuk di jadikan satu di dalam otaknya. Tapi baiklah, sepertinya pun tidak akan bertumbukan di dalam sana. Semua berada pada porsi dan tempat yang bisa dipilahnya. 

 

Dunianya mendadak terpisah seketika dengan alam semesta ketika dia larut dan tenggelam di dalam bukunya. Ya, semula kupikir seperti itu. Umumnya seseorang jika sedang berkutat asik dengan kegiatannya, maka dia akan melupakan dunia disekitarnya. Dunia real yang dia huni dengan segala kerumitannya. Namun tidak. Dia sengaja duduk di bangku itu, hanya sekedar ingin membuatku tertarik padanya. Alasan itu dia sebut belakangan ini, belum lama setelah aku menanyakan mengapa dia duduk di sana waktu itu.

 

Hal konyol yang aku syukuri dalam hati. 

 

Aku sangat tertarik dengan semua ekspresi yang dia tampilkan ketika bola matanya yang indah itu bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti deretan kalimat di dalam bukunya, juga kerut keningnya yang seolah-olah sedang mencerna maksud dari tulisan yang dibacanya, pun alisnya seperti ikut berdiskusi ketika dia saling mendekat. Semua itu membuat fenomena sendiri di dalam hatiku. Kenapa aku menjadi lebih sering tersenyum, ketika melihatnya dari pada mengutukinya dengan sebutan aneh atau kutu buku. Dan selebihnya aku menyukai pesonanya yang tenang dan sama sekali tak terusik kehadiranku.

 

Ya, aku menyapanya lebih dulu. Bukankah itu baik, ramah terhadap seseorang terlebih dia tampan. Dia mendongak sejurus mataku menemukan bongkahan senyum yang dia berikan. Baiklah senyuman itu menghipnotisku untuk terus mengingatnya hingga detik ini.

 

Sikapnya yang sedikit pendiam itu ternyata menyimpan sekelumit perkara yang lebih bagusnya aku katakan sebagai posessive, meski dia terkadang menolak untuk dikatakan seperti itu, alih-alih dia melakukannya atas dasar mncintaiku. Tingkahnya yang cenderung menjadi pegawalku tidak pernah aku kritik sebelumnya sampai pada suatu ketika aku membutuhkan perlakuan yang lebih dari kata melindungi.

 

“Can you love me?”

 

Tentu saja dia tergagap dengan mulut terbuka. Dia merasa bahwa apa yang sudah dilakukannya merupakan bentuk dari cinta. 

 

“Itu bukan cinta.”  bisikku lirih. 

 

Dia hanya mengkritik dan mengomentari semua yang kulakukan. Semua yang dia katakan berdasarkan theory yang dia baca dari buku. Pengertian cinta seperti apa yang dia deskripsikan dan implementasikan dalam kehidupan percintaan ini. Terkesan kaku. 

 

Tidak ada perdebatan yang berarti. Dia hanya tidak menyukai aku terlalu banyak mengkritik perhatiannya. Sehun senang jika aku menuruti semua perkataannya. 

 

Aku lelah, namun aku mencintainya. Semua ini tidak akan pernah berakhir. Aku tidak tahu apakah aku harus mengikuti alurnya atau terlepas dari struktur kehidupannya. struktur kehidupan yang serupa dengan sebuah pola rumit yang berkesinambungan dan tak akan pernah berakhir. Namun seperti yang sudah aku katakan tadi, aku mencintainya, dan cintaku adalah polaku sendiri yang ingin aku setubuhkan dengan stuktur pola rumit yang dia miliki. Hidup ini indah, namun tidak mudah.

 

 

A/n

 

Sehun egois, posessive, kutubuku. Seulgi, sangat sabar menghadapi Sehun. Lambat laun pasti akan terjadi titik temu.

5 thoughts on “[Ficlet ] Never Ending Pattern

  1. wihh suka nih >< duh bahasanya mereuka nanti pasti saling melengkapi ^^
    btw setauku di cover itu emang seulgi bukan irene~

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s