[Ficlet] Paper Plane

Poster FF Ppaper Plane

|Scriptwriter| Vania Akari |Main Cast| Kim Hanbin (B.I) (iKON), Park Yura (OC)|Support Cast| iKON members |Duration| Ficlet |Genre|Hurt-Comfort |Rating| G

“Seandainya waktu bisa kuulang, saat masalahku dapat terbang seringan pesawat kertas………”

“Lagu ini buruk sekali. Aku tidak merasakan apapun dari lagu ini!!!Lagu ini sama sekali tidak layak ada di album kalian!!!” seorang pria paruh baya bertato melemparkan sebuah cd ke atas meja, kemudian pergi dari ruangan itu.Sementara, pria yang menjadi lawan bicaranya mematung ditempatnya berdiri. Kepalanya tertunduk dan ia terlihat sedang menahan air matanya. Ia mengambil cd yang tergeletak itu dengan tangan gemetar, kemudian membuangnya di tempat sampah tepat di depan pintu ruang studio itu.

Namja itu, melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruangan yang dipenuhi kaca. Sebelum masuk, ia berusaha mengembalikan raut wajahnya, ia tidak mau orang lain tahu keadaannya. Di sana ada beberapa namja yang terlihat sedang menunggunya.
“B.I….bagaimana? Lagumu diterima, kan?”
“…..” B.I. tidak mengatakan apapaun ia hanya terdiam, duduk di hadapan namja-namja itu, kemudian mengambil remote audio.
“B.I. hyung, beritahu kami hasilnya, kami sangat penasaran.” rengek Chanwoo dengan ekspresi memelas.
“Kita tidak perlu membicarakannya sekarang.” Jawab B.I. dengan nada datar.
“Ayolah hyung….”
“SUDAH KUBILANG KAN, AKU TIDAK MAU MEMBICARAKANNYA SEKARANG!!!!”
Mendengar jeritan B.I., Chanwoo menjauh dan tidak berani  menatap B.I. Sementara, namja-namja yang lain memandang B.I dalam diam.
“Kita mulai saja latihannya. Aku tidak mau melihat kesalahan kali ini.” Suara B.I melembut, kemudian terdengar alunan musik Rytm Ta.
Namja-namja itu segera mengatur formasi mereka kemudian mulai bergerak mengikuti alunan musik. Kasat mata, gerakan mereka sudah sempurna, namun bagi B.I selalu saja ada kesalahan dalam gerekan teman-temannya.
“Bobby, gerakanmu terlalu lambat!!!”
“Jinhwan, posisimu salah, kau menutupi Junhoe!!!”
“Power, mana powernya? Beri nafas pada gerakan kalian!!!Ulangi!!!”
“Ulangi….”
“Ulangi….”
Setelah 10 kali B.I meminta teman-temannya untuk mengulangi lagu itu, akhirnya B.I menyerah. Ia tidak tahan lagi, ia tidak bisa membendung amaranya, emosinya, kelelahannya, juga tekanan batinnya yang sudah menumpuk sejak lama.
“HENTIKAN!!! Ini sudah H-1 bulan sebelum debut kita. Tapi apa ini???Gerakan kalian masih belum sempurna!!Masih banyak kesalahan di sana-sini!!Lagu-lagu kita masih belum selesai. Bahkan dari 6 lagu, setengahnya belum disetujui. Dari 10 lagu yang kita ajukan semuanya ditolak. Dari 10 lagu yang sudah kita buat sampai kita tidak tidur, semuanya tidak berguna.  AKU LELAH DENGAN SEMUA INI!!!AKU LELAH!!!!” Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya, B.I. pergi dari ruangan itu, dengan bantingan pintu yang cukup keras.

B.I. melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju pintu keluar gedung YG Ent. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang menyapanya. Ia hanya berjalan lurus ke depan.
“B.I……tunggu aku, ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?” Yun Hyeong berusaha menghentikan langkah B.I
“Lepaskan!!! aku harus pergi sekarang!Jangan halangi aku!!” B.I melepaskan tangan Yun Hyeong dari pundaknya.
Saat itu, ia sedang tidak ingin bertemu dan berbicara dengan siapa pun. Yang ia inginkan hanya sendiri, keluar dari kehidupannya yang terasa sangat melelahkan.

–#–

Taxi yang ditumpangi B.I berhanti di depan sebuah taman sepi di pinggiran kota Seoul. Taman itu berada di lingkungan perumahan tua yang kebanyakan penghuninya adalah orang tua, jadi di siang hari seperti itu, taman itu benar-benar sepi. B.I mengedarkan pandangannya ke seluruh taman itu. Ia memandang lekat-lekat dua buah ayunan yang ada di hadapannya. Kelihatannya ia mempunyai kenangan tersendiri dengan ayunan itu. Setelah beberapa menit ia terdiam, perlahan kristal-kristal bening mulai berjatuhan dari mata indahnya.  Air mata yang selama ini selalu ia tahan untuk keluar, hari itu dapat terjun bebas. Ia menangis sejadi-jadinya, ia mengerang keras mengeluarkan semua beban yang ada di hatinya.  Sesekali ia menjerit untuk mengurangi rasa sesak yang terasa di dadanya.  Sebenarnya, menjadi seorang leader di usia semuda itu sangat berat untuknya. Menjadi trainee dari usia sangat muda juga merupakan sesuatu  yang tidak mudah untuk dilalui. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk berlatih dan berlatih. Ia jarang sekali mempunyai waktu luang untuk bermain seperti anak-anak lain seumurannya. Sampai saat ini, saat akhirnya kerja kerasnya akan terbayar, masalah demi masalah terus saja berdatangan seolah ingin menghalangi kebahagiannya. Setalah dulu, ia dan timnya pernah gagal debut, kali ini ia tidak ingin hal itu terulang lagi. Karena itu ia bekerja keras siang dan malam agar ia dan timnya bisa meraih mimpi mereka untuk debut.  Tetapi sekarang ia merasa seakan semuanya tidak memihak mereka.

Setelah ia berhasil menenangkan dirinya, B.I. duduk di sebuah ayunan. Ia mengayunkan ayunan itu perlahan, membiarkan angin musim gugur menerpa wajahnya dan menghilangkan sedikit bebanya.
“Andaikan aku bisa kembali ke masa lalu, saat masalahku bisa menghilang seringan pesawat kertas….”

B.I mendengakkan kepalanya ke atas, memandang langit yang sangat cerah hari itu. Awan-awan seputih domba, berjalan beriringan perlahan mengikuti gerakan angin. Tiba-tiba, ia melihat sesuatu terbang menuju ke arahnya. Benda itu bermotif senada dengan langit biru yang berhiaskan awan.
“Pesawat kertas……”

Tangan mungil Hanbin yang basah sehabis membasuh wajahnya yang penuh air mata, memungut sebuah pesawat kertas yang mendarat di depan kakinya yang menggantung di sebuah ayunan. Ia mengamati pesawat kertas yang ada di tangannya berwarna biru, dan bermotifkan awan. Setelah ia mencoba menjernihkan pandangannya yang buram tertutup air mata, ia menyadari di seluruh pesawat kertas itu terdapat tulisan-tulisan. Saat, ia mencoba membacanya, tiba-tiba ada seorang anak perempuan, berambut pirang ikal berdiri di hadapannya. Yeoja itu menggunakan mantel berwarna pastel, juga sebuah bando minie mouse yang menghiasi rambutnya.
“Ini punyamu?” tanya Hanbin dengan suara serak.
Anak perempuan itu menjawab dengan anggukan, yang membuat rambutnya yang ikal bergoyang indah. Hanbin menyodorkan pesawat kertas itu ke arah yeoja itu.
“Terima kasih” jawab yeoja itu singkat sambil tersenyum.  Ekspresi yeoja itu berubah ketika menyadari wajah Hanbin yang penuh dengan air mata. Yeoja itu kemudian duduk di ayunan yang ada di samping Hanbin, kemudian mengeluarkan sebuah kertas dan pensil dari tas minie mousenya.
“Ini untukmu. Kau terlihat sedih, kau bisa menulis kesedihanmu di sini. Lalu bentuklah menjadi pesawat seperti punyaku. Kemudian lemparkan pesawat ini sejauh-jauhnya karena langit akan menangkap kesedihanmu dan kamu akan tertawa lagi. Aku sering melakukannya dan berhasil. Cobalah!” kata yeoja itu sambil tersenyum.
Dengan ragu-ragu tangan kecil Hanbin meraih kertas dan pensil yang disodorkan yeoja itu. Sambil menahan ingusnya, ia mulai menulis di sana.
“Sudah selesai. Tapi, aku tidak tahu cara membuat pesawat kertas….” ujar Hanbin.
“Baiklah…aku akan mengajarimu cara membuatnya.”
Kedua anak berumur 9 tahun itu, duduk di tanah kemudian mulai belajar melipat kertas-kertas menjadi pesawat kertas. Sesakali terdengar gelak tawa dari mulut kecil mereka. Mereka harus menghabiskan banyak kertas, karena Hanbin selalu gagal membuatnya. Akhirnya, setalah mencoba 10 kali, Hanbin berhasil menyelesaikan pesawat kertasnya.
“Yeee aku berhasill!!” seru Hanbin sambil melompat.
“Nah, sekarang ayo kita terbangkan pesawat ini.”
Kedua anak itu berlari mengelilingi taman, sebelum kemudian melepaskan pesawat kertas itu. Pesawat kertas yang ringan itu, terbang jauh terbawa angin.
“Bagaimana? Kamu sudah tidak sedih lagi, kan?” yeoja kecil itu tersenyum senang melihat wajah Hanbin yang sudah kembali ceria.
“Iya….terima kasih….”
“Yura….Park Yura…..kamu di mana, nak?”
“Wah… sepertinya eommaku mencariku. Aku harus pulang sekarang. O ya, siapa namamu?”
“Aku Kim Hanbin”  kata Hanbin sambil menjabat tangan yeoja itu.
“Oke….Hanbin-a….sampai jumpa lagi!” Yeoja melambaikan tangannya sekali lagi sebelum menghilang di kejauhan.

Sejak hari itu, jika sedang bersedih Hanbin selalu datang ke taman itu. Kemudian, entah bagaimana Park Yura selalu datang di saat yang tepat. Datang di saat Hanbin bersedih dan butuh teman untuk mendengarkan ceritanya dan menerbangkan pesawat kertas bersama.  Hari itu, minggu pertama musim panas, Hanbin kembali datang ke taman itu. Seperti biasa ia duduk di ayunan di sana kemudian menangis.
“Hanbin-a kamu kenapa? Kenapa kamu menangis lagi?” Yura mengambil tempat di samping Hanbin.
“Aku…aku …ditertawakan teman-temanku saat pelajaran menyanyi tadi.”
“Ditertawakan?”
“Iya……mereka mengejek laguku. Padahal aku sudah berusaha dan berlatih semalaman. Bahkan aku mengubah liriknya dan menyenyi seperti yang sering kudengar di tv. Aku menyanyikannya dengan cara rap.”
“Rap? Apa itu?”
“Jadi aku menyanyi tapi seperti sedang berbicara.”
“Aku tidak mengerti…”
“Baiklah akan kunyanyikan sekarang” Hanbin berdiri di hadapan Yura kemudian mulai menyanyikan lagunya. Suara kecilnya yang nyaring terdengar sangat indah dengan alunan rap yang ia nyanyikan. Tetapi, Yura menyadari ada yang kurang dari lagu yang dinyanyikan Hanbin.
“Aku rasa kau melupakan sesuatu. Kalau kau menyanyikannya dengan cara seperti itu, pasti lebih bagus kalau ada musiknya.”
“Benarkah??Baiklah lain kali akan kucoba dengan musik.” Jawab Hanbin dengan tersenyum.
“Sebentar, aku mau memberikan sesuatu untukmu.” Yura berlari meninggalkan Hanbin menuju sebuah kedai es krim. Kemudian Yura kembali dengan dua buah es krim cone coklat di tangannya.
“Ini untukmu…..sebagai hadiah karena kau sudah tidak menangis lagi dan lagumu bagus sekali.”
“Terima kasih minnie mouse.” Jawab Hanbin sambil tersenyum jahil.
“Minnie mouse? Kenapa kau memanggilku dengan minnie mouse?”
“Karena kamu selalu menggunakan bando dan tas minnie mouse….hahaha” kekeh Hanbin di sela-sela mulutnya yang menjilat es krim.
“Kalau aku minnie mouse, berarti aku akan memanggilmu mickey mouse. Karena minnie mouse dan mickey mouse adalah sahabat dan kita juga bersahabat. Janji?” Yura mengangkat jari kelingkingnya kemudian mengaitkannya dengan jari kelingking Hanbin.
“Janji.”

6 bulan berjalan sejak hari itu. Dan selama itu pula Hanbin dan Yura selalu menghabiskan waktu mereka sehabis pulang sekolah di taman itu. Mereka belajar bersama, bermain bersama, belajar menyanyi dan menari bersama. Ritual menerbangkan pesawat terbang saat mereka sedang sedih juga tidak pernah terlewatkan. Hingga suatu hari di minggu pertama musim gugur, kali ini bukan Hanbin yang sedang bersedih namun Yura yang terlihat murung. Yura duduk di ayunan itu sambil menunduk dan wajah sangat pucat dan terlihat kesakitan sambil memegang perutnya.
“Yura….kau kenapa?” Hanbin mendekat ke arah Yura. Saat, Hanbin hampir mencapai Yura, tiba-tiba Yura terjatuh dari ayunan dan tidak sadarkan diri. Dengan panik, Hanbin berlari ke arah Yura dan berusaha menyadarkannnya.
“Yura bangun!!!Kau kenapa???Yura!!”
Tidak lama kemudian, eomma Yura datang dan dengan panik menggendong Yura pergi dari sana, meninggalkan Hanbin kecil yang kebingungan dan berlinagan air mata.
“Yura……”

Sudah 2 minggu semenjak kejadian itu. Sudah selama itu pula, Yura tidak pernah datang kembali ke taman itu. Hanbin setiap hari duduk di ayunan itu hingga senja menantikan Yura. Ia tidak akan meninggalkan taman itu sampai eommanya menjemputnya pulang. Ia sampai terserang flu karena terlalu sering di luar rumah di cuaca sedingin itu. Bahkan, ia sempat ditemukan eommanya dalam keadaan pingsan di sana karena kelelahan.
“Yura….kau ke mana? Kenapa kau tidak kembali lagi?”
“Kim Hanbin…..” tiba-tiba terdengar suara seorang yeoja.
“Yura?” Hanbin mendengakkan kepalanya sambil tersenyum ke arah orang yang ada di hadapannya. Senyumannya seketika sirna, menyadari yeoja yang ada di hadapannya bukanlah Park Yura.
“ Aku membawa titipan untukmu dari Yura.”jawab yeoja itu sambil menyerahkan sebuah pesawat kertas ke tangan Hanbin.
“Lalu, di mana Yura?”
“Katanya dia pergi ke suatu tempat yang sangat jauh.  Baiklah aku harus pergi….”
Sesudah yeoja itu pergi, Hanbin membuka pesawat kertas itu yang sesuai dugaannya di dalamnya berisikan sebuah surat dan juga pin bergambarkan mickey mouse dan minnie mouse.
“Pergi ke tempat yang sagat jauh???”

Halo…..Kim Hanbin, sang Mickey Mouse kecil…
Sebelumnya, aku ingin minta maaf padamu karena aku tiba-tiba meghilang begitu saja dan membuatmu kuatir hahaha. Waktu itu aku sangat sakit, dan aku tidak bisa pergi ke mana-mana selama berminggu-minggu termasuk menemuimu. Aku sangat merindukanmu Kim Hanbin…hehehe…
Sekarang, aku ingin mengucapkan selamat tinggal padamu. Aku dan eommaku harus pergi sangat jauh untuk menyembuhkanku. Katanya di tempat yang jauh di sana ada dokter ajaib yang bisa menghilangkan rasa sakitku….Jadi, sepertinya aku tidak bisa menemuimu lagi….Maafkan aku, aku tidak bisa memberitahukannya secara langsung padamu. Karena aku tidak mau melihatmu menangis lagi.
Pesanku, kau harus tegar. Jangan mudah menangis lagi, oke! O ya….lagu dan tarianmu itu benar-benar bagus. Aku sangat menyukainya. Aku percaya suatu hari nanti kau bisa menjadi penyanyi terkenal. Jangan malu untuk menunjukkannya pada orang lain. Kau pasti bisa Hanbin
JSelamat tinggal, semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi…..

Sahabat terbaikmu,

Minnie Mouse, Park Yura

Air mata Hanbin mengalir deras saat ia selesai membaca surat itu. Hanbin sangat sedih harus kehilangan Yura sahabat pertamanya sekaligus terbaiknya. Satu-satunya yang sanggup menghilangkan kesedihannya dan mampu membuatnya tertawa. Yura juga adalah seseorang yang membuatnya mempunyai mimpi yang besar. Yuralah sahabat yang sampai kapanpun akan tetap menjadi sahabat Kim Hanbin, meskipun ia tidak pernah tahu keberadaan sahabatnya itu.

–#–

“Park Yura, sedang apa kau di sini?”
“Aku sedang mencari pesawat kertasku, tadi aku melemparkannya ke sini.”
“Ayo pergi, bibimu sudah menunggumu.”
B.I. tersadar dari lamunannya, ketika ia mendengar nama seseorang yang sangat ia rindukan itu.  B.I. segera berdiri dari ayunan itu kemudian mengedarkan seluruh pandangannya. Tetapi , ia tidak menemukan siapa pun di sana. Kemudaian,  di kejauhan ia melihat seorang yeoja dengan rambut ikal pirang berjalan dengan seorang ibu. Tiba-tiba jantung B.I seolah terhenti, cairan bening perlahan turun dari matanya.
“Park Yura???”
B.I berlari mengejar yeoja itu. Kali ini, ia tidak ingin kehilangan sahabatnya lagi. Akan tetapi, begitu ia sampai di pertigaan jalan, yeoja itu sudah tidak terlihat di manapun.
“Apakah itu hanya bayanganku saja? Tapi pesawat kertas ini? Aku yakin ini milik Yura.” Ujar B.I dalam hati. Kemudian ia melihat ada sebuah tulisan di pesawat kertas itu.
FIGHTING!!! ^^
Ketika membaca tulisan singkat itu, ia tidak bisa menggambarkan perasaannya antara bahagia atau sedih. Bahagia, karena mungkin Yura benar-benar telah kembali, tapi juga sedih karena ia gagal berjumpa dengannya lagi. Tetapi, setidaknya pesawat kertas itu bisa membuat kesedihannya seketika menghilang dan sebuah senyuman bercampur air mata terpancar di wajahnya.
“Park Yura….akhirnya kau kembali…”

“B.I.!!!!”
B.I menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Di sana ia menemukan Yun Hyeong yang berdiri terengah-engah dengan wajah kuatir.
“Kau ke mana saja B.I.? Kami sudah mencarimu ke dorm, dan ke tempat-tempat yang sering kau kunjungi tapi kau tidak ditemukan di manapun. Untungnya aku teringat taman ini, tempat bermain masa kecilmu. Kami takut kau benar-benar menghilang B.I. Bagaimana keadaanmu sekarang?”
B.I. menjawab pertanyaan Yun Hyeong dengan sebuah senyuman.
“Aku jauh lebih baik sekarang.”

–#–

Satu bulan berlalu sejak har itu. Tetapi, Park Yura belum muncul kembali. Setiap B.I mempunyai waktu luang, sebentar saja, ia selalu menyempatkan diri untuk pergi ke taman itu. Ia berharap, Park Yura, sahabatnya akan datang ke sana untu mencarinya. Akan tetapi, sampai H-1 sebelum konser debutnya, Park Yura belum juga  datang ke taman itu. Terkadangan B.I. berpikir Park Yura yang sebulan lalu itu hanya angan-angannya saja. Keadaannya yang sedang tertekan bisa saja membuatnya berhalusinasi bertemu dengan sahabat kecilnya yang sangat ia rindukan itu. Ia mendesah pelan sambil meletakkan sebuah pesawat kertas serta sebuah tiket konser di sana.
“Aku harap dia benar-benar sudah kembali. Park Yura, aku merindukanmu…..”

“IKON!!!IKON!!!IKON!!!”
Suara ribuan penonton memenuhi gedung Olympic Gimnastic Arena, Seoul.  Para penonton yang sebagian besar adalah gadis-gadis muda menyerukan nama boy group yang sudah lama mereka nantikan debutnya. Masing-masing memegang handbanner dengan nama bias masing-masing. Beberapa di antara yeoja-yeoja itu bahkan ada yang menangis, saking bahagianya bisa melihat langsung penampilan namja-namja tampan yang setiap maam menghiasi mimpi mereka. Konser megah itu dibuka dengan VCR perjalanan jatuh bangun iKON sebelum debut. Sejak mereka ada di program WIN yang belum berhasil memenangkan kompetisi itu sampai program mix & match untuk mencari member fix boy group yang diberi nama iKON itu.
Lagu demi lagu bergantian beralun. B.I. dan seluruh anggota iKON berusaha memberi yang terbaik untuk para fans mereka yang sudah mendukung mereka bahkan sebelum mereka menyandang nama iKON. Di tengah-tengah penampilannya, B.I. selalu mengedarkan pandangannya ke ribuan penonton yang ada di hadapannya.  Ia berharap sahabatnya, Park Yura ada di antara ribuan penonton di sana. Ia ingin menunjukkan pada Yura kalau dia sekarang sudah bukan anak laki-laki berumur 9 tahun yang lemah dan mudah menangis lagi, yang dahulu selalu dilindungi oleh sahabatnya itu. Ia lah yang sekarang ingin melindungi Park Yura. Sekarang ia sudah menjadi penyanyi seperti yang mereka berdua impikan dahulu.

Hingga mereka tiba di salah satu lagu yang sangat berkesan bagi iKON. Karena lagu ini dinyanyikan saat final show WIN saat mereka gagal menjadi juara. Lirik lagu itu, benar-benar menggambarkan mimpi mereka. Di tengah-tengah lagu, B.I . berjalan ke panggung bagian depan untuk menyanyikan  bagian solo rapnya tanpa musik. Saat, panggung tempatnya berdiri mulai terangkat ke atas, di tengah-tengah kegelapan terlihat sebuah pesawat kertas tiba-tiba terjatuh di depan kakinya. Ia memandang sesaat ke pesawat kertas itu.
“Park Yura…….” katanya dalam hati. Kemudian ia kembali melanjutkan bagian solo rapnya tanpa musik itu. Saat ia menyanyikan bagian rapnya, ia teringat saat dahulu orang yang pertama kali memuji lagunya yang disebut rap itu adalah Yura. Ia teringat saat ia menyanyikan lagu rapnya tanpa musik di hadapan Yura dan Yura tersenyum mendengarnya. Senyuman yang akhirnya membulatkan tekatnya untuk bermimpi menjadi seorang penyanyi rap.  Hingga sekarang ia berdiri di sana bersama dengan keenam member iKON yang telah berjuang bersamanya. Mimpinya dan mimpi iKON akhirnya telah tercapai. Saat-saat itu seperti momentum yang sangat membahagiakan baginya. Seolah seluruh kebahagiannya akan kembali.  Sesudah ia menyelesaikan bagian rapnya, ia mengambil pesawat kertas itu dan di sana ada sebuah tulisan.

Congratulation ^^  little mickey mouse Kim Hanbin

Membaca kalimat singkat itu, serta keenam teman-temannya yang ada di sana bernyanyi bersamanya, dnegan ribuan penonton yang mengelu-elukan nama iKON membuat B.I. sangat bahagia. Jika bisa, ia ingin menangis saat itu juga.

Hingga tiba saatnya untuk menyanyikan lagu terakhir yaitu Long Time No See. Kebetulan yang aneh, lagu itu sangat cocok sekali dengan perasaan B.I. saat ini. Perasaan bahagianya, saat sahabatnya yang sudah lama ia rindukan sudah kembali. Sebelum menyanyikan lagu terakhir B.I. menggunakan bando minnie mouse seperti yang sering digunakan Yura dulu.
“Yura….terima kasih kau sudah kembali.”

There are no people who is like you
Even though I have nothing, i don’t need anything
But my world keeps stopping
I feel like there’s not a single flower around me when you’re not with me

Long time no see
My gesture towards you

My gaze towards you, what is this?

You, who were my focus now vanished into memories

I tried so hard to stand in front of you again


My heart keeps beating at the thought seeing you again
Calling your name became a habit, i talk about you all day
I don’t want nobody else
I ran through time baby, just wait a little bit more


In our memories, you’ve been waiting for me
You’re standing in front of me


Long time no see, how have you been now?
you’ve been waiting for me for so long
Now, i’m not going anywhere
Baby don’t worry


Long time no see, i also missed you a lot too
I was lost on the way to you
Now, i’m not going anywhere
Baby don’t worry


Ahah It’s really been a long time
Ahah It’s really been a long time


i had no choice but to leave you waiting for me
i made a promise holding your thin, pale hands
i’m sorry i didn’t kept my promise
i’ll explain to you why i was so late


i was busy overcoming the pain that God gave me
and trying to save my brothers who share my blood and flesh
i kept emptying my heart that was already empty
while i’m reaching for my dream..  it’s just getting bigger
that’s why i was so late


it’s hard to raise up the dream that already been shattered
this is what i have become
and you are still beautiful
it has been a long time, i miss you a lot


In our memories, you’ve been waiting for me
You’re standing in front of me


Long time no see, how have you been now?
you’ve been waiting for me for so long
Now, i’m not going anywhere
Baby don’t worry


Long time no see, i also missed you a lot too
I was lost on the way to you
Now, i’m not going anywhere
Baby don’t worry

 

Oh Baby don’t worry, Let’s be together forever
I promise that i will stay by your side
Oh Baby don’t worry, Let’s be together forever
I’ll be there with you


Long time no see, how have you been now?
you’ve been waiting for me for so long
Now, i’m not going anywhere
Baby don’t worry


Long time no see, i also missed you a lot too
I was lost on the way to you
Now, i’m not going anywhere
Baby don’t worry


Ahah It’s really been a long time
Ahah It’s really been a long time


 –#–

Begitu konser selesai, B.I. segera meninggalkan venue konser dan pergi ke sebuah tempat, yang sangat berharga baginya. Sebuah tempat di mana mimpinya dimulai. Tempat yang menjadi saksi lahirnya seorang Kim Hanbin, leader iKON yang tegar, tahan banting, dan penuh karisma. B.I. segera berlari menuju ke taman itu, bagitu taxinya berhenti. Langkah B.I. terhenti di depan seorang yeoja cantik, berambut ikal pirang dengan dua buah es krim coklat di tangannya yang duduk di sebuah ayunan.

“Ini untukmu…..sebagai hadiah karena kau sudah tidak menangis lagi dan lagumu bagus sekali.”

The End

 

2 thoughts on “[Ficlet] Paper Plane

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s