[Vignette] Freelance – Beautiful Liar

beautiful liar3
Author: Sonnenblume21

Judul FF: Beautiful Liar

Cast: Jung Taekwoon of VIXX, Kwon MinA of AOA
Rating:PG-15

Length FF: Vignette

Genre: Sad, Songfic

DIsclaimer:

FF ini murni karya author. Tapi setelah author review(?), FF ini mirip salah satu scene drama Wonderful Days. Bagi yang tahu scene tersebut, author mohon maaf sebelumnya karena author bukan sengaja menyama-nyamakan /bow/ Akhir kata, happy reading~

It was an unexpected line that led us to the next chapter

            Awal musim dingin. Angin berhembus perlahan menyentuh wajah lelaki yang berdiri di halte bus itu. Jarum jam berdetak menunjukkan angka sepuluh, tepatnya pukul sepuluh lewat tujuh menit. Lelaki itu merapatkan jaket saat angin lagi-lagi berhembus dingin menerpanya.

Lelaki berbadan tegap itu menggigil kedinginan, sudah hampir sepuluh menit ia berdiri di halte bus ini namun tak satu pun bus lewat. Jalanan tampak lengang. Entahlah, mungkin orang-orang lebih memilih menghabiskan malam yang dingin ini di rumah mereka dan meringkuk di bawah selimut yang hangat atau sekedar menikmati coklat panas dengan keluarga mereka.

“Jung Taekwoon!”

Angin berhembus disertai seruan yang memanggil namanya. Pelan, lelaki yang merasa namanya dipanggil itu menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya berlari tergopoh ke arahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?! Di mana anakku? Di mana Uri Mina?!” setengah berteriak, wanita paruh baya itu memberondong Taekwoon dengan pertanyaan.

Namun alih-alih menjawab, lelaki yang dipanggil Jung Taekwoon itu hanya mengedipkan matanya satu kali, menatap dingin wanita yang berdiri di sebelahnya.

Wanita itu tampak gusar. Ia melirik koper yang berdiri di sebelah kanan sang lelaki.

“Kau.. apa yang akan kau lakukan pada anakku? Katakan padaku di mana dia!”

“Aku tidak tahu..” jawab Taekwoon singkat. Ia kembali beralih menatap jalanan di hadapannya.

“Kau…” wanita itu tampak geram, ia mengambil satu langkah mendekati Taekwoon dan bersiap memukul lelaki itu. Taekwoon dengan gesit menahan tangan yang hampir saja melayang ke arahnya.

“Apa kau sudah gila, Nyonya Kwon? Kau ingin memukulku sekarang?” tanya Taekwoon mulai emosi.

“Kau berbohong! Aku yakin kau tahu di mana dia! Katakan padaku di mana dia sekarang!” wanita yang dipanggil Nyonya Kwon itu berteriak frustasi.

“Kenapa tidak kau tanyakan saja pada anakmu!” Jawab Taekwoon seraya mengibaskan tangan wanita paruh baya itu dengan kasar.

Sekarang wanita itu benar-benar putus asa. Ia menangis tergugu di hadapan Taekwoon. Taekwoon mengalihkan pandangannya. Sejenak ia terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Namun ia tidak peduli.

Masih dengan menangis, wanita paruh baya itu berlutut.

“Jangan bawa Mina-ku pergi..” katanya. “Dia sudah menghilang sejak sore dan meninggalkan sepucuk surat agar aku tidak mencarinya. Dia bahkan meninggalkan ponselnya di rumah.” wanita itu menunduk.

Taekwoon masih tak bergeming.

“Kumohon, Taekwoon-ah, jangan lakukan itu. Jangan lakukan, aku mohon padamu. Mina adalah putri paling berharga di rumah kami. Dia putri kami satu-satunya. Aku mohon jangan bawa dia pergi.” Dengan suara bergetar, wanita paruh baya itu memohon.

Taekwoon masih enggan menyahut. Ia melirik wanita itu sekilas. Bajunya berantakan dan bahkan ia hanya menggunakan sandal di malam yang dingin ini.

“Aku akan melakukan apa pun untukmu, asal kau jangan membawa ia pergi. Apapun, Taekwoon-ah. Apapun!” kali ini, wanita paruh baya hampir bersujud. Ia sudah benar-benar tak peduli dengan rasa malu dan gengsinya selama ini.

“Berdirilah.” Sahut Taekwoon, akhirnya. “Jangan membuatku terlihat kejam.”

Wanita paruh baya itu menurut. Ia berdiri meskipun kedua tangannya masih mengatup di depan dadanya, memohon.

“Keluarkan ayahku dari penjara.”

Wanita itu terkejut.

“A-apa? B-bagaimana aku bisa mengeluarkan ayahmu dari penjara?”

Taekwoon menatap wanita paruh baya itu tajam.

“Bagaimana kau bisa mengeluarkan ayahku dari penjara?” Taekwoon mengulang pertanyaan wanita itu, sarkatis. “Tentu saja kau bisa, Nyonya Kwon! Kau memiliki banyak uang,” sengitnya tajam, “..dan kau tahu bahwa ayahku tidak bersalah.”

Wanita itu terkesiap.

“Kau memperkerjakan ayahku di perkebunanmu seperti budak. Kau merendahkan keluargaku hanya karena kami orang miskin. Kau bahkan memperlakukan ibuku dengan kasar. Dan sekarang? Kau diam saat ayahku difitnah sebagai pencuri di tempat kerjanya sendiri.” Taekwoon kali ini benar-benar marah. Wajahnya memerah dan giginya bergemeletuk menahan emosi.

“Kau pikir aku tidak tahu apa yang telah mereka lakukan pada ayahku? Apa kau pikir aku sebodoh itu? Kau bisa membohongi dirimu sendiri dan menutup telinga dari kebenaran. Tapi aku tidak akan membiarkan ayahku membusuk di penjara bukan karena kesalahannya.”

“Apa yang akan kau lakukan untuk menebus semua dosamu, Nyonya Kwon? Apakah mengeluarkan ayahku dari penjara sesulit itu?” tanyanya dingin. “Atau.. kau tidak ingin melihat anakmu lagi? Baiklah..”

Nyonya Kwon tersentak.

Geurae! Aku akan melakukannya! Aku akan melakukannya. Bawa kembali Mina pulang. Bawa kembali anakku pulang.” Sahut wanita itu dengan suara bergetar.

Taekwoon tersenyum sinis.

“Aku ingin ayahku bebas. Sekarang.”

“A-apa?”

“Kau ingin anakmu pulang malam ini bukan? Aku juga sama. Bebaskan. Ayahku. SEKARANG!”

***

This is not the future I thought of

Kepala Mina terantuk-antuk ke depan dan ke belakang. Matanya terpejam.

Taekwoon berdiri di ambang pintu stasiun. Melirik jam di dalam stasiun yang menunjukkan pukul 00.11. Ia memperhatikan gadis mungil itu dari kejauhan untuk waktu yang cukup lama.

Mina membuka matanya saat kepalanya terantuk ke depan. Ia mengerjapkan matanya kemudian melirik jam di dinding. Refleks, ia menoleh ke ambang pintu dan tersenyum senang mendapati Taekwoon sudah berdiri di sana.

“Oppa!” panggilnya riang.

Taekwoon berjalan gontai menuju gadis itu. “Kau sudah menunggu lama?”

Aniyo, aku baru saja datang.” Sahutnya sambil tersenyum manis.

Diam. Taekwoon tak menjawab. Ia justru memandangi gadis itu lamat-lamat.

Gadis itu tersenyum kikuk. “Baiklah, sebenarnya aku sudah menunggu sejak tadi. Tapi tidak apa-apa karena Oppa sudah di sini sekarang.”

Tanpa sepatah kata, Taekwoon menarik dua koper milik gadis itu dan menyeretnya keluar.

“Oppa, kita mau ke mana? Harusnya kita pergi ke sana.” Gadis itu menunjuk arah yang berlawanan. Ia menarik-narik lengan Taekwoon. Namun pemuda itu terlalu kuat untuk badan sekecil dirinya.

“Oppa!” gadis itu berdiri di depan Taekwoon. Menghalangi jalan pemuda itu.

“Apa yang Oppa lakukan? Kita mau ke mana? Dan mana tas Oppa?” gadis itu memberondong dengan pertanyaan. Ia baru menyadari bahwa lelaki itu samasekali tak membawa tas satu pun.

“Kau sudah terlalu lama menunggu. Aku rasa kau butuh istirahat.”

Gadis itu menaikkan alisnya, tanda tak mengerti.

Taekwoon menghela nafas dalam. “Pulanglah, Kwon Mina.”

“Pulang? Aku pikir kita akan akan pergi?” tanyanya sambil memiringkan kepalanya.

Taekwoon mengalihkan pandangannya, tak mau menatap gadis itu.

“Kau pasti lelah. Pulang dan beristirahatlah di rumah.” Taekwoon kembali menarik koper Mina.

“Tunggu!” Mina memegang pergelangan tangan Taekwoon. “Apa maksudmu, Oppa? Bukankah kita akan pergi? Bukankah kita sepakat akan pergi malam ini? Pergi jauh supaya Ibuku tidak menyakitimu lagi. Apa kau sudah mengajak ibu dan adikmu pindah juga? Apa mereka sudah sampai sekarang?”

Taekwoon menggeleng. “Kita tidak akan pergi.”

Mina mengernyitkan keningnya. “Apa? Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat? Bukankah kita setuju untuk melakukan ini, Oppa? Kenapa kau tiba-tiba membatalkannya? Ada apa?” Mina berulang kali menanyakan pertanyaan yang sama.

“Aku.. tidak bisa melakukan ini bersama orang yang tidak kucintai.”

Mina mencelos. Ia mengedipkan matanya berulang kali, menatap Taekwoon tak percaya.

“Apa maksudmu? Siapa orang yang tidak kau cintai?” bodoh. Pertanyaan bodoh. Bukankah sudah jelas siapa jawabannya?

“Kau. Mina. Kwon Mina.”

Angin berhembus memainkan anak rambut Mina. Gadis itu hanya terdiam, mendongak menatap Taekwoon yang kini sedang menatapnya. Matanya memanas.

Kemudian gadis itu tertawa getir.

“Ei, apa yang kau katakan? Oppa, kau tidak bersungguh-sungguh, ‘kan?” Mina menggoyang-goyang lengan Taekwoon.

Taekwoon tak menjawab. Wajahnya samasekali tak menunjukkan emosi, membuat gadis mungil itu terhenyak.

“Kau mengatakan hal itu dengan sengaja, bukan begitu? Jangan mengatakan hal-hal seperti itu hanya untuk menggagalkan rencana kepergian kita malam ini, Oppa.” Mina masih tertawa kikuk meskipun airmata sudah memenuhi pelupuk matanya.

Taekwoon menghela nafas. Bagaimana ia akan menjelaskan semua ini?

Mina menunduk menyadari tidak ada perubahan di wajah Taekwoon.

“Lalu.. kenapa kau mengajakku pergi, Oppa?” tanyanya lirih, hampir terisak.

Ada hening yang panjang sebelum Taekwoon menjawab. “Karena aku ingin membuat keluargamu menderita.”

Kali ini Mina yang terdiam. Ia mengerjapkan matanya, tak percaya.

“Aku ingin melihat apa yang bisa dilakukan keluargamu agar anak gadis satu-satunya di keluarga mereka tidak pergi. Aku ingin melihat kehancuran keluargamu saat anak kesayangan mereka tidak ada lagi di rumah. Aku ingin keluargamu memohon dan mengemis kepadaku supaya aku mengembalikan anak mereka.”

Seketika tubuh Mina terasa dingin dan panas secara bersamaan. Tak ada satu patah kata pun yang mampu keluar dari mulutnya. Bibirnya terkatup rapat. Ia terdiam, lama. Ia benar-benar tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Ia seperti tuli. Airmata yang ia bendung selama ini turun perlahan, tanpa isakan.

“Kenapa kau diam? Kenapa kau tidak menjawabku?” Taekwoon balas menatap Mina. “Pukul dan makilah aku. Kau boleh mengataiku brengsek, pengecut, bangsat, dan hal kotor lainnya. Aku memang seorang yang seperti itu. Lalu setelah itu pulang dan beristirahatlah di rumah. Lupakan bahwa aku pernah mengajakmu pergi.”

Mina masih tak bergeming. Hatinya terlampau sakit hingga ia tak bisa mengumpat pada pemuda yang sudah mempermainkannya. Mina menatap Taekwoon dalam-dalam. Ia kembali bertanya pada hatinya, terlampau sakit atau terlampau mencintai?

“Tapi, Oppa…” Mina bersuara, “kau tidak jadi mengajakku pergi, apa kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan? Apakah keluargaku sudah memohon dan mengemis kepadamu?”

Taekwoon terdiam, membuat airmata Mina mengalir lebih deras.

“Tidak, aku tahu kau tidak sekejam ini, Taekwoon-oppa. Apa yang sudah Ibuku lakukan padamu? Apakah ia mengatakan hal yang tidak-tidak? Maafkan.. maafkan aku, maafkan keluargaku karena telah membuatmu menjadi kejam seperti ini. Jangan menjadi kejam hanya untuk menyakitiku, Oppa. Ini bukan dirimu.”

Taekwoon memejamkan matanya. Tidak, ia tidak boleh lemah. Apakah Taekwoon tidak menyesal dengan apa yang tadi diucapkannya? Tentu saja ia menyesal. Sangat menyesal. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Rasa benci dan muak yang ia rasakan kepada keluarga Mina mampu mengalahkan semuanya. Bertahun-tahun hidup dibawah hinaan orangtua Mina. Dianggap miskin dan tidak pantas, bahkan hanya untuk berteman dengan gadis mungil itu.

Sejak kanak-kanak, Mina sering bermain di perkebunan milik Ayahnya. Ia senang bergaul dengan siapa saja. Hanya satu orang yang tidak bisa ia ajak bermain, yaitu Jung Taekwoon. Anak lelaki yang saat itu berusia sembilan tahun itu sudah sangat membenci keluarga Mina. Bahkan Mina yang polos dan tidak tahu apa-apa itu juga menjadi sasarannya. Bertahun-tahun Mina mencoba meraih Jung Taekwoon namun lelaki itu tak bergeming. Hingga suatu hari, rasa penasaran dan ingin berteman itu menjadi sesuatu yang lebih rumit. Mina telah jatuh cinta pada Jung Taekwoon.

“Apa hatimu tidak akan pernah berubah, Oppa? Apakah setelah bertahun-tahun ini hatimu masih tetap sama? Apakah tidak akan pernah ada kesempatan bagiku?” Mina mendongak, menatap Taekwoon sedih.

“Kalau masih ada kesempatan bagiku, sekecil apa pun itu, tidak apa-apa. Aku akan menunggu.” Mina tersenyum. “Oppa… aku masih menunggu hatimu untuk berubah.”

Mungkin itulah senyuman yang akan dilihat Taekwoon untuk terakhir kalinya sebelum gadis mungil bernama Kwon Mina itu berbalik pergi menyeret dua koper besarnya. Kwon Mina, apa pun yang terjadi gadis itu tidak pernah menangis. Tidak untuk malam ini. Dari semua sikap dingin dan kejam yang ditunjukkan Taekwoon kepadanya, untuk pertama kalinya lah ia melihat gadis itu menitikkan airmata, karena dirinya.

Taekwoon menatap punggung Mina yang mulai menjauh. Salju turun untuk pertama kalinya mengiringi kepergian gadis itu.

“Apa yang akan kau lakukan kalau kau tahu bahwa hatiku sudah berubah, Kwon Mina?”

It is a beautiful pain to let you go, I have to kill myself inside

Please be happy, so that at least my lie can shine

Advertisements

4 thoughts on “[Vignette] Freelance – Beautiful Liar

  1. hanjirrrrr taekwon bikin nangis bombay T.T karakter mina kurang keliatan thor jadi kurang greget mina. penggambaran leo udah keren cocok jadi manusia dingin~ wkwkwk ^^ karena pernah liat potongan scene ini di drama jadi alur nya udah ketebak tapi kerennn~ bahasanya kerennn~ semangat terus nulisnya thorrr~ fightingg~

    • Wah, terimakasih sudah baca dan mau komen XD
      Iyaa~ emang ceritanya fokusnya cuma ke Leo hehe dan sebenernya aku belum bisa ngebagi fokus2 gitu T_T ini ff pertama yang berani aku publish xD
      Sekali lagi thanks komennya<3

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s