[Oneshoot] Freelance – Can You Hear My Heart

pH4Wilh

 Title: Can You Hear My Heart? || Author: Phiyun

Cast: Kim Woo Bin | Park Jiyeon

 Cast Support : Xi Luhan | Lee Min Ho

Genre: Romance | Family | Married Life

Poster Credit:   Gflows @ Baca Fanfic.wordpress. (Thank’s ^^)

Cerita ini hanya fiksi belaka namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Cerita kali ini aku fokuskan ke Pov Jiyeon ya ^^

*** Happy  Reading ***

“Ayah tak akan setuju bila kau pergi kesana! Kau harus meneruskan perusahaan milik ayah setelah kau lulus kuliah.”

“Ayah… bisakah kau menyetujui permintaan ku kali ini saja?” Balasnya dengan suara yang parau.

Andwae!! Kau itu anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini, sudah seharusnya kau meneruskan perusahaan yang sudah ayah dirikan untuk mu.” Bentak laki-laki paruh baya itu. Kemudian Nyonya Kim pun berkata. “Woo Bin-ah tolong dengarkan perkataan Ayahmu kali ini saja.”

“Ta-tapi… Eomma... a-aku..” Belum sempat Woo Bin membalasnya, perkataan pria itupun di sela oleh Tuan Kim. “Ayah tak ingin mendengarkan lagi perkataanmu yang seperti ini lagi!”

Mendengar ada suara yang ribut diruang keluarga akupun langsung berlari untuk melihatnya. Disana sudah ada ayah dan ibu mertua sedang beradu argument. Aku hanya bisa melihatnya dari balik tembok tak jauh dari sana. Aku takut bila kehadiranku menggangu pembicaraan mereka. Namun nampaknya kehadiran ku diketahui oleh Nyonya Kim.

“Jiyeon-ssi… apakah itu kau?” Panggil Nyonya Kim. Mendengar nama ku dipanggil, aku pun kemudian keluar dari persembunyian dan mulai berjalan masuk kedalam ruangan tersebut. “Maafkan aku Eommonim, Abeonim bila menggangu pembicaraan kalian.” Ucapku dengan suara yang pelan sambil menundukan kepala.

Tiba-tiba Woo Bin lalu berjalan kearahku dan berkata. “Apa kau baru sadar, kedatanganmu memang menggangu bahkan sebelum ini pun kehadiranmu sangat menggangu hidupku.” Seraya tersenyum sinis kepadaku. Aku sudah biasa dengan sikap dia yang seperti itu jadi aku tak terlalu mengambil hati. Lalu akupun membalas perkataannya. “Maaf bila aku sudah mengganggumu. Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki itu semua.” Dengan ragu aku bertanya.

“Haha!!!” Tawanya geli tapi seketika air mukanya langsung berubah saat kedua mata kami beradu pandang. “Kau mau tahu apa yang bisa kau perbuat untuk ku?” Tanyanya sembari sebelah pundakku di cengkramnya cukup kencang.

Untuk beberapa saat aku merasa sangat takut dengan sorot matanya saat menatap diriku, padahal aku sudah biasa diperlakukan seperti ini namun tetap saja jantungku selalu berdebar-debar saat berada didekatnya.

“Enyahlah kau dari hadapan ku sekarang dan untuk selamanya.” Bisiknya pelan di sebelah daun telinga ku. Mendengar kalimat itu dari dirinya, seketika bibirku terkunci rapat. Tengorokan ku tak mampu mengeluarkan satu katapun. diriku terasa tercekik dan aku pun merasakan sesak di dada.

Tiba-tiba Nyonya Kim berkata didepan putranya dengan wajah yang marah. “Yak!!! Kim Woo Bin-ah… kau tak boleh berkata itu pada istrimu! Tak pantas kau berucap seperti itu!” Kata Nyonya Kim sembari berkacak pinggang.

Mwo? Eomma…!! di depan mata kalian semua apa yang aku katakan dan yang aku pilih selalu saja salah, semua tak pantas dimata kalian berdua. Kenapa tak sekalian saja kalian berkata aku tak pantas menjadi putra kalian!!! Itu akan lebih baik bila aku memang bukan anak kalian.” Teriak Woo Bin, kemudian pria berpostur tinggi itupun pergi beranjak dari ruangan tersebut dengan wajah yang kesal.

“Yah!!! Woo Bin-ah… berhenti.” Panggil pria paruh baya tersebut namun panggilannya tak di gubris oleh putranya. Bahkan diriku hanya bisa terdiam terpaku seraya menatap belakang punggu namja itu dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca dan tanpa aku sadari airmatakupun  terjatuh.

“Jiyeon-ah… apakah kau baik-baik saja?” Tanya nyonya Kim kepadaku, sontak aku langsung segera mungkin menghapus airmata yang menetes dipipiku  dan kemudian membalikkan tubuhku dan berkata. “Nde… Gweanchana  Eommonim.” Ucapku.

Setelah itu akupun mulai bertanya kepada Tuan dan Nyonya Kim tentang masalah apa yang dibicarakan saat tadi dengan nada yang sedikit canggung. “Kalau aku boleh tahu sebenarnya apa yang baru saja kalian rundingkann tadi? Maaf bila aku sudah bersikap lancang.” Dengan suara yang pelan.

“Jiyeon-ah, kau tak perlu sungkan, Nak. Kau kan sudah menjadi salah satu keluarga kami, jadi kau berhak mengetahuinya.” Balas Nyonya Kim. Setelah itu Nyonya dan Tuan Kim menceritakan apa yang baru saja mereka perdebatkan dengan Woo Bin kepada ku.

Cukup lama aku mendengar penjelasan dari kedua orang tua suami ku. Dan aku bisa menarik kesimpulan kalau sebenarnya kedua orang tua Woo Bin sangatlah sayang kepadanya atau lebih tepatnya mereka itu takut kehilangan sosok putranya untuk waktu yang cukup lama.

“Jadi kesimpulannya, Abeonim dan Eommonim tak setuju bila Woo Bin-ssi melanjutkan study kedokterannya ke AS?” Ujar ku.

Nde…” Balas mereka bersama-sama.

Waeyo?

Lalu Tuan Kim pun mambalas pertanyaanku. “Karena anak itu seharusnya meneruskan perusahaan yang sudah aku bangun dan lagipula kalian berdua baru saja menikah satu bulan, tak mungkin kan suami mu di AS sedangkan kau ada di Korea?”

“Itu tak jadi masalah olehku, Abeonim sungguh.” Balasku sambil tersenyum.

“Kau pikir dia kesana sebulan atau dua bulan? Woo Bin berada disana itu mungkin 2 atau 3 tahun bahkan bisa lebih lama lagi. Apa kau siap ditinggalkan oleh suami mu selama itu?” Tanya Tuan Kim padaku dan aku pun menjawabnya dengan yakin dan tegas kepada Tuan Kim.

“Aku siap melakukan itu semua, bila itu demi kebaikan dirinya aku rela melakukannya. Jadi aku mohon kepada Abeonim dan Eommonim tolong ijinkanlah dia untuk pergi melanjutkan study-nya, anggap saja ini adalah permintaan seorang anak kepada kedua orang tuanya. Mohon di pertimbangkan.” Tuturku  seraya menundukan kepala kepada mereka berdua.

“Baiklah, akan kami pertimbangkan.” Balas Nyonya Kim dengan nada yang berat. Mendengar itu hati ku merasa senang dan dengan wajah yang ria aku membalas berkataan ibu mertuaku dengan senyuman yang mengembang di wajahku. “Kamsahamnida, Eommonim… Abeonim.”

Ternyata tanpa Jiyeon sadari Woo Bin masih berdiri dibelakang tembok untuk mendengar percakapan mereka secara diam-diam. Lalu laki-laki jangkung itupun bergumam. “Apa yang baru saja ia pinta kepada orang tua ku? Dengan mudahnya perkataan gadis itu dapat meluluhkan hati mereka berdua yang dingin dibandingkan dengan perkataanku yang sebagai anak kandungnya. Sebenarnya disini siapa anak kandungnya? Kau atau aku?” Ungkapnya dengan menghela nafas yang berat.

~~~ooo~~~

Setelah selesai berbincang-bincang dengan kedua mertua ku, kemudian aku pergi ke dapur. Disana aku  membuat secangkir teh dan bekal makan siang untuk dibawa oleh suami ku, Kim Woo Bin ke RS dimana ia bekerja. Setelah selesai, aku kemudian meminta tolong kepada pembantu rumah tangga keluarga Kim untuk mengantarkan secangkir teh buatan ku ke ruang kerja Woo Bin.

Ahjumma, tolong bawakan minuman ini ke ruang kerja Tuan Woo Bin.”

Nde… agashi. Tapi kenapa Nona tak pernah mengantar minuman secara langsung kepada Tuan Woo Bin setelah hari itu?” Tanya wanita paruh baya itu.

“Ah.. kebetulan sekarang aku sedang membuatkan bekal siang untuk Tuan Woo Bin, jadi tolong Ahjumma antarkan ya.” Kilahku dan aku mulai pura-pura sibuk menyiapkan bekal makan siang untuk Woo Bin, padahal semuanya sudah siap di kotak makan siang suami ku.

Setelah pembantu rumah tangga itu pergi mengantarkan secangkir teh ke ruang Woo Bin, aku pun segera bersiap-siap untuk pergi kesekolah karena ini adalah semester terakhirku di SMA dan sekarang aku disibukkan dengan namanya pelajaran tambahan jadi meskipun hari sabtu dan minggu sekolahan libur tapi untuk kelas 3 tak ada hari yang namanya libur. Kami tetap belajar seperti biasa hanya waktunya masuknya saja yang agak disiangkan untuk hari sabtu dan minggu tapi pulangnya tetap sama jam 3 siang.

~~~ooo~~~

Aku tahu kalau dia tak pernah mencintaiku. Kami berdua disatukan bukanlah dengan rasa saling cinta tapi, apakah dia tak bisa sedikit saja baik padaku? Aku tak pernah memintanya untuk menyukaiku meskipun hanya aku yang menyukainya. Mungkin benar kata orang bilang, rasa cinta itu akan tumbuh sedikit demi sedikit bila kita selalu bersama namun sepertinya hanya aku yang merasakannya sedangkan dirinya tidak.

Sepanjang hari dia selalu memperlihatkan wajah dinginnya didepanku, bahkan saat kami berdua diatas ranjang yang sama, dia bahkan bertingkah laku seperti tak mengenalku. Ya, kami berdua sudah tidur bersama selama satu bulan belakanggan ini tapi yang kita lakukan hanyalah tidur sepanjang malam. Kalian pasti bingung bila menjadi diriku. Bagaimana mungkin selama satu bulan bersama dan tidur diatas ranjang yang sama tidak pernah terjadi sesuatu diantara kami berdua. Aku sendiri heran.

Padahal aku pernah suatu hari merayunya dengan hanya memakai lingery yang cukup seksi tapi tetap saja dia tak menyentuhku, jangankan menyentuh berkatapun tidak bahkan saat aku terbagun dia sudah tak ada disampingku, alhasil disaat pagi harinya aku terkena flu karena kedinginan sepanjang malam. Tapi anehnya saat malam itu aku bermimpi aneh, didalam mimpiku aku bermimipi kami berciuman, dia menciumku dengan lembut untuk pertama kalinya. Tapi itu tak mungkin kan? Menyentuh diriku saja tidak pernah ia lakukan apalagi menciumku.

Tingkah laku ku seperti orang bodoh pastinya saat itu. Jadi semenjak saat itu aku tak pernah memakai pakaian seperti itu lagi. Didalam hatiku sering berkata. Apakah diriku tak menarik dimatamu? Apakah aku tak cukup cantik? Kalimat itu yang selalu ingin aku katakan kepadanya tapi kalimat itu hanya bisa aku pendam dalam hati. Mungkin saja memang benar diriku bukanlah wanita idamannya bahkan mungkin saja ia membenciku meskipun aku mencintainya.

~~~ooo~~~

~Pov Woo Bin~

“Tok..tok…tok…” Terdengar suara ketukan pintu dari luar.

“Silakan masuk.” Ucapku sambil tetap sibuk dengan berkas-berkas perusahaan Ayah dan file-file kedokteranku.

“Permisi Tuan, saya mengantarkan minuman ini untuk Tuan muda.”

“Taruhlah diatas meja sana, nanti akan saya minum.” Perintahku dengan posisi yang masih sama.

Nde…” Kemudian wanita paruh baya itupun pergi dari dalam ruang kerjaku setelah menaruh secangkir minuman tepat dimana aku menyuruhnya.

Hampir satu jam aku mengurusi semua berkas-berkas perusahaan Ayah dan tidak itu saja aku juga harus merapikan file-file pasien ku. “Tubuhku seperti akan hancur bila kedepannya aku harus selalu melakukan hal sama seperti ini.” Ujarku sambil menghela nafas yang panjang.

Setelah selesai merapikan semuanya, aku pun beranjak dari atas bangku kerja ku dan berjalan ke sofa panjang yang tak jauh dari sana. Kemudian aku duduk diatas sofa panjang tersebut untuk merenggangkan semua otot-otot tangan dan kaki ku yang sedikit menengang sambil meminum secangkir teh yang sudah disiapkan oleh pembantuku tadi.

Setelah puas beristirahat sejenak aku mulai melanjutkan aktivitasku untuk pergi bekerja di perusahaan Ayah. Untungnya pekerjaan ku sebagai dokter spesialis jantung tak mengharuskan ku  untuk selalu bekerja setiap hari. Waktu kerjaku dirumah sakit hanya satu minggu sekali jadi aku bisa menghandel semuanya meskipun tubuhku akhir-akhir ini sangatlah lelah.

Apalagi selama sebulan ini waktu tidurku sangatlah terbatas. Aku tak bisa tidur karena dari bulan lalu statusku bukanlah lagi singel melainkan suami dari gadis yang sama sekali tak aku kenal bahkan umur gadis itu sangatlah muda dari pada umurku. Usia kami berdua terpaut 7 tahun dan itu cukup dibilang jauh perbandingannya.

Setiap malam aku selalu merasa canggung bila tidur seranjang dengan dirinya, bagaimana tidak aku ini kan seorang lelaki sedangkan dia seorang wanita. Dan lagi status kami bukanlah lagi orang lain, kami berdua adalah sepasang suami istri. Apalagi setiap malam bahkan setiap hari Ayah dan Ibu selalu mengingatkan ku bila diriku ingin menggauli istriku aku harus memakai pengaman. Karena dia masih harus menyelesaikan sekolahnya. Mendengar perkataan mereka membuatku malu dan tertawa didalam hati. Bagaimana mungkin aku akan menyentuh dirinya, bila diriku saja tak mencintai gadis itu. Kami di nikahkan hanyalah sebagai balas budi, karena   kedua orang tuaku pernah ditolong oleh kedua orangtua gadis itu. Setelah orangtua gadis itu meninggal dalam kecelakaan, Ayah dan ibuku tak tega pada nasip gadis itu dan akhirnya aku dinikahkan olehnya. Ya aku menikah dengan gadis pilihan Ayah dan ibuku. Awalnya aku menolak tapi aku merasa sedikit kasihan juga kepada gadis itu dan akhirnya aku menyetujuinya.

Namun pernah suatu malam pertahananku hampir roboh karena gadis kecil itu. Gadis itu memakai pakaian tidur yang sangat minim sampai-sampai aku bisa melihat lekuk tubuhnya yang ditutupi oleh sehelai pakaian yang tipis yang terlihat menerawang yang melekat di tubuhnya. Jantungku selalu berdebar-debar saat malam itu, bahkan aku mulai berpikiran tak jernih saat tangannya menyentuh tubuhku dengan tak sengaja. Saat aku membalikan tubuhku untuk melihat dirinya, ternyata Jiyeon sudah tertidur dengan pulasnya. Gadis itu tidur seperti tak takut bila nanti saat ia tertidur aku menyerangnya.

Saat pertama kali kedua mataku menatap wajahnya  yang tertidup pulas dan pandangankupun turun kebawah dan berhenti di bibirnya. Aku seperti tersihir dengan bibirmya yang berwarna peach tersebut, di saat itulah tanpa aku sadari aku telah mengecup bibirnya untuk yang pertama kali bahkan itu bisa dibilang sentuhan intim yang pertama kali aku lakukan pada dirinya. Dengan cepat  aku berusaha mengembalikan akal sehatku dan disaat itu juga untuk pertama kalinya aku menginap sepanjang malam di ruang praktek ku di rumah sakit.

Saat itu aku merasa seperti orang gila. Tak tahu apa yang harus aku lakukan saat nanti bertemu dengan dirinya. Aku merasa tak enak hati bila suatu saat dia mengetahui perbuatanku padanya. Setan apa yang merasuki ku saat itu. Aku juga bingung pada saat itu. Maka dari itulah sikapku lebih dingin dihadapannya meskipun sebenarnya jantungku selalu berdebar-debar saat menatap wajahnya bahkan disaat manik ku menatap kearah bibirnya yang tipis berwarna merah jambu itu. Jantungku semakin berdebar-debar keras. Sebenarnya apa yang baru saja aku lakukan pada dirinya saat malam itu, apakah karena aku tergoda oleh kemolekan tubuhnya ataukah  diriku mulai…

~Pov Woo Bin-end~

~~~ooo~~~

~Saat Didapur~

Eomma, kenapa Nona Jiyeon selalu membuatkan bekal untuk Tuan muda Woo Bin secara sembunyi-sembunyi? Padahal diakan bisa memberikannya langsung kepada suaminya?” Tanya anak gadis pembantu rumah tangga itu.

“Mungkin Nona Jiyeon tak mau membuat Tuan muda Woo Bin cemas, sehingga dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Saat Eomma bertanya kepadanya, Nona Jiyeon selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Dia melakukan itu semua karena itu adalah tugasnya sebagai istri dan dia juga senang melakukan semuanya itu untuk Tuan Woo Bin.”

“Wah, aku tak menyangka dengan sikap Nona Jiyeon dia seperti sudah menjadi seorang istri  ya, eomma.” Ucap anaknya lagi dan ibunya pun menjawab. “Ya, betul sekali. Dia sudah menjadi ibu rumah tangga yang  baik meskipun sikap baiknya selalu dibalas dengan dingin oleh Tuan Woo Bin.” Balas wanita tua itu dengan lesu.

Ternyata saat mereka sedang berbicara. Woo Bin sedang ingin berjalan kedalam dapur dan perkataan mereka berdua didengar oleh pria itu. Woo Bin sempat kaget dengan perkataan wanita paruh baya itu kalau selama ini yang membuat bekal siang untuk dirinya adalah Jiyeon sang istri. Dia masih sempat-sempatnya membuatkan kotak bekal untuknya padahal Woo Bin tahu kalau akhir semester ini adalah waktu yang sangat sibuk untuk Jiyeon. Karena gadis itu harus melaksanakan UN.

Woo Bin pun lalu berjalan masuk kedalam dapur seperti biasa. Tingkah lakunya tetap dingin seperti tak pernah terjadi sesuatu saat disana. Dengan suaranya yang  berat iapun bertanya kemana istrinya berada sekarang kepada wanita paruh baya tersebut.

“Dimana Park Jiyeon?”

“Nona Jiyeon pergi kesekolah, Tuan.”

“Hari ini? bukannya sekolah libur di hari sabtu dan minggu?” Tanya Woo Bin lagi.

“Apakah Tuan lupa, kalau Nona Jiyeon sekarang sudah kelas 3 SMA. Jadi bagi murid kelas 3 hari sabtu dan minggu dibuat untuk memperdalam mata pelajaran pokok yang akan di ujikan.” Wanita tua itupun menjelaskan.

“Ah… begitu. Baiklah kalau begitu saya berangkat kerja dulu.” Saat Woo Bin hendak pergi tiba-tiba pembantu rumah tangganya memanggilnya. “Tuan muda tunggu sebentar. Anda lupa membawa bekal makan siang anda.” Lalu kotak bekal siang itu sudah beralih tangan. Setelah menerima kotak makan, Woo Bin pun melanjutkan jalannya namun tiba-tiba pria tinggi itu menghentikan langkah kakinya dan kemudian menoleh kebelakang dan berkata. “Apakah, Ajummah tahu dimana tempat  sekolahan Jiyeon?” Tanyanya.

“Eh…???” Wanita tua itu sempat kaget saat mendengar perkataan Woo Bin, karena baru kali ini Woo Bin menanyakan tentang Jiyeon bahkan dia juga menanyakan keberadaan istrinya kepada wanita tua itu.

~~~ooo~~~

~Pov Woo Bin~

Setelah diberitahukan dimana sekolah Jiyeon, Aku langsung menghidupkan motor sport ku untuk menyusulnya dan binggo saat tak jauh dari kediamanku aku melihat gadis itu sedang berlari kencang untuk mengejar bis dan “Brukk!!!” Jiyeon pun jatuh saat ia sedang berlari. Melihatnya terjatuh, aku pun lalu mulai mempercepat laju kendaraanku tapi tiba-tiba gadis itu bangkit dan berlari kembali.  Aku sempat kanget dan  langsung mengerem pedal motorku dengan cukup kencang.

Akhirnya gadis itu berhasil masuk kedalam bis dengan wajahnya yang riang. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat melihatnya dari kejauhan. “Yah, kau memang gadis yang aneh Jiyeon-ah. Kenapa kau masih saja menyunggingkan senyuman disaat dirimu habis terjatuh tadi.” Ucapku seraya menghela nafas yang panjang.

Tidak disana saja, aku tetap mengikutinya dari belakang bis. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini. Jiyeon pun lalu turun di pemberhentian bis tak jauh dari terminal kereta bawah tanah. Tenyata gadis itu akan menaiki kereta bawah tanah menuju sekolahnya. Kemudian aku mulai memarkirkan motorku dan mulai berlari mengejarnya masuk kedalam terminal kereta api bawah tanah.

“Kemana perginya gadis itu.” Kataku dengan kedua mata yang sibuk mencari sosoknya dan tak sengaja aku melihat Jiyeon sedang menuruni anak tangga yang cukup tinggi, kemudian aku mulai bersembunyi dari dirinya, aku tak mau kalau dia melihat keberadaanku.

Setibanya Jiyeon dibawah dia melihat ada seorang wanita tua sedang mengangkat sebuah koper yang cukup besar di tangannya. Melihat itu Jiyeonpun mengulurkan tangannya untuk membantu orang tua tersebut. “Halmeoni, mari aku bantu.” Katanya kemudian ia membantu nenek-nenek tua itu mengangkat koper yang cukup besar keatas.

Saat Jiyeon sudah tiba dipuncak, dia melihat kalau wanita tua itu masih berjalan cukup jauh menaiki anak tangga tersebut dengan nafas yang berburu cepat. Jiyeon pun lalju jalan menghampiri wanita tua itu. “Apakah Halmeoni bisa aku tinggal sekarang?” Tanya gadis itu dan wanita tua itupun menjawabnya dengan angukan kepalanya. Jiyeon pun lalu pergi meninggalkan wanita tua itu namun baru saja ia menuruni dua anak tangga langkah kakinyapun terhenti dan untuk beberapa detik gadis itu melihat jam arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Masa bodoh!” Umpatnya. kemudian Jiyeon langsung berlari menghampiri wanita tua itu.

Halmeoni, mari aku antarkan anda ke atas.” Kata Jiyeon sambil berjongkok di hadapan nenek itu.

“Tidak perlu, Nona. Kau bisa pergi sekarang.” Balas Orang tua itu tapi perkataan wanita tua itu tak didengar oleh Jiyeon dan tubuh wanita tua rentan itupun langsung digendongnya ke atas punggungnya. Terlihat dengan jelas betapa lelahnya Jiyeon saat menggendong wanita tua itu tapi dia tetap saja menyunggingkan senyuman kepada wanita itu setelah dirinya berhasil mengantarnya kepintu keluar stasiun yang ada diatas tangga.

Aku  semakin kagum terhadap gadis itu. Meskipun dia sedang berburu waktu, dia masih saja mau menolong seseorang bahkan orang yang tidak ia kenal sekalipun. Kemudian Jiyeon langsung melanjutkan perjalannya menuju pemberhentian kereta bawah tanah. Mataku tak bisa lepas saat menatap dirinya yang sedang berlari dengan kedua lutut yang terluka menuju kereta yang baru saja berhenti untuk mengambil penumpang lainnya.

“Yah, apakah tubuhmu terbuat dari besi? Dengan kedua kakimu yang terluka kau masih saja bisa berlari setelah kau menggendong wanita tua itu.” Ucap pelan sambil tetap memandangi dirinya.

Saat Jiyeon masuk kedalam kereta tersebut aku pun ikut masuk kedalam di sebelah gerbong pintu yang lain. Mungkin karena hari libur banyak penumpang yang pergi berjalan-jalan menggunakan kereta bawah tanah. Dari kejauhan aku melihat tubuh Jiyeon terdorong-dorong oleh pengujung yang lainnya.

Secara refleks aku langsung berjalan menghampirinya saat sebentar lagi aku tiba disana ada seorang namja memasang badan untuk melindungi Jiyeon. “Luhan-ssi! Kau ada disini juga.” Kata Jiyeon kepada laki-laki itu. “Nde…” Lalu tubuh Jiyeonpun dirapatkannya ke belakang pintu dan posisi mereka berdua sekarang ini saling bertatapan.

Tiba-tiba jantungku terasa perih, seperti tertusuk-tusuk oleh beribu-ribu sebilah pisau. Entah kenapa kau tak terima bila gadis itu disentuh oleh lelaki lain dan aku juga tak suka saat Jiyeon memberikan senyumannya kepada pria lain selain diriku.

“Kim Woo Bin-sii, Neo michesseo?! Kau sudah tergila-gila  kepada gadis itu…” Gumam ku dengan kedua tangan yang mengepal kencang sambil tetap menatap tajam kearah Jiyeon yang masih tersenyum dihadapan pria itu.

~Pov Woo Bin – end~

~~~ooo~~~

“Jiyeon-ah… Yah… Park Jiyeon-ssi…” Terikkan dari orang yang ada disampingku membuatku terbangun dari lamunanku.

“Eh…? ada apa Luhan -ssi?”

“Adanya aku yang bertanya padamu, kenapa sedari tadi kau menoleh kebelakang terus? Apakah kau sedang di buntuti oleh seseorang?” Tanyanya.

“Ah… ani.. Aku hanya merasa sedikit lelah.” Balasku. Tak mungkin kan aku berkata kalau aku merasa sedari tadi ada yang sedang mengawasi diriku kepada Luhan. Bisa-bisa nanti dia akan berpikiran macam-macam

.

“Jiyeon-ah, kedua lututmu berdarah?” Kata Luhan dengan ekspresi yang kaget seraya mengelus-elus kedua lututku. “Tenang saja, Luhan-ssi ini Cuma luka ringan saja.” Kataku.

“Mari aku gendong.” Tawarnya. Tapi aku mencoba untuk menolaknya secara halus. “Tidak perlu, Luhan-ssi, aku baik-baik saja lagipula ini hanyalah luka kecil.” Namun perkataanku tak di indahkannya dia malah tetap memaksa ku untuk menerima tawarannya.

“Luhan-ssi, aku benar-benar tak apa-apa!” Kali ini aku berkata dengan nada yang sedikit tinggi. “Sudahlah kau terima saja tawaranku.” Saat Luhan hendak menggendong tubuhku tiba-tiba dari belakang  ada seseorang yang melintas dan tubuh Luhan pun didorongnya. “Pergi menjauhlah kau dari istriku, dasar laki-laki brengsek!!!” Umpat pria itu.

Kedua mataku terbelalak lebar. Aku tak percaya dengan apa yang barusan saja aku lihat. “Kim Woo Bin-ssi…” Ujarku dengan ekspresi wajah yang terkejut. “Gwenchana?” Tanyanya sambil memeriksa setiap jenjang tubuhku dan aku membalasnya dengan anggukan kepala. Lalu Tubuhku langsung di angkatnya dengan mudah kedalam dekapannya.

“Deg…deg..deg…” Seketika telingaku mendengar suara detak jantungnya. Tapi tunggu dulu. Apakah ini suara detak jantungnya atau suara detak jantungku yang sekarang bergemuruh kencang saat diriku  bersandarkan di atas pelukannya. Kemudian dengan hati-hati aku tonggakkan kepala ku ke atas untuk melihat wajahnya dan seperti biasa Woo Bin selalu memasang wajah yang dingin saat bersama dengan ku.

“Ah… berarti suara debaran ini adalah milik ku, tak mungkin ia merasakan berdebar-debar saat bersama dengan ku. Tapi kenapa aku jadi sedikit kecewa, bukannya aku sudah sering diperlakukan seperti ini terhadap dirinya?” Lirih batinku sembari menatap kedua manik lelaki itu yang sedang menatap tajam kearah depan.

~~~ooo~~~

~Setibanya Dirumah~

Kami berdua disuruh ikut pergi keruang kerja Tuan Kim untuk membicarakan suatu hal. Entah kenapa hatiku menjadi takut dan tiba-tiba pria yang selama ini acuh padaku kali ini sangat perhatian sekali kepadaku. Ya… Kim Woo Bin, suami ku yang sangat dingin sekarang menggengam lembut jari jemariku saat kami berdua hendak pergi bersama keruang kerja ayah mertua bersama dengan ibu Woo Bin.

Setibanya disana Tuan Kim sudah duduk di sofa panjang dekat meja kerjanya dan kemudian Nyonya Kim menyuruhku dan Woo Bin untuk duduk bersama dengan dirinya di sofa panjang tersebut.

“Kim Woo Bin-ssi, ada sesuatu yang ingin, ayah katakan padamu. Setelah Ayah pikirkan matang-matang, aku menyetujui kau untuk melanjutkan study mu di AS.” Kata Tuan Kim dengan suaranya yang berat.

“Benarkah itu, appa?”

“Hheemm…” Sambil tersenyum dihadapan putranya dan mengangukkan kepala. Mendengar itu seketika hatiku sangat lega dan senang tapi entah kenapa didalam hatiku terasa ada sesuatu yang hilang. Aku merasakan takut kehilangan pria yang ada disampingku ini.

Disaat aku menatap dirinya tiba-tiba lelaki yang ada disampingku langsung memeluk ku. Sontak akupun terkejut. Dia nampak sangat senang saat dia di ijinkan melanjutkan pendidikannya di AS. Lalu kenapa aku menjadi sedih sekarang? bukannya ini keinginanku dari awal, membuatnya bahagia dan selalu mendukungnya dari belakang. Meskipun hati ku terasa pilu namun tak ada alasan bagiku untuk menahan kepergiannya. “ Chukhae, Woo Bin-ah…” Sambil menepuk-nepuk pelan belakang punggung lelaki yang sangat aku sayangi ini.

~~~ooo~~~

Setelah itu Woo Bin lalu pergi ke rumah sakit untuk mengurus segala surat perpindahannya ke AS. Dia juga memberi tahu ku bahwa kemungkinan dia tak akan pulang malam ini dan waktu itupun aku pakai untuk menyiapkan beberapa pakaian dan obat-obattan untuk  akan ia bawa ke AS.

Sepanjang malam aku sama sekali tak bisa tertidur bahkan saat jam sudah menunjukan pukul 2 pagi. Perasaan ku sedari tadi tak bisa tenang, kenapa harus sekarang ia pergi setelah hubungan kami mulai dekat. Mungkin ini memang jalan yang terbaik yang sudah disiapkan Tuhan untuk kita berdua. aku yakin 100% kalau Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk umatnya.

Tak lama kemudian kedua mataku mulai terasa berat dan akhirnya aku pun tertidur lelap di depan bangku ruang tamu. Awalnya aku ingin menunggu Woo Bin pulang tapi sepertinya rencanaku gagal total karena diriku sudah jatuh tertidur dengan lelap disana.

~~~ooo~~~

~Pov Author~

Tak beberapa lama kemudian Woo Bin pun tiba. Saat pria itu masuk kedalam rumahnya ia sudah melihat ada sosok seorang wanita sedang tertidur lelap di atas bangku ruang tamu. Dengan perlahan-lahan pria itu datang menghampirinya.

“Jiyeon-ah? Dasar gadis keras kepala, sudah aku suruh untuk tidak menungguku dia malah masih saja menungguku.” Ucapnya pelan sambil membelai lembut rambut panjang sang gadis yang menutupi sedikit wajahnya.

Dengan hati-hati sang pria mengangkat tubuh gadis itu kedalam pelukannya dan menggendongnya masuk kedalam kamar bersamanya setelah itu tubuh gadis itu pun dibaringkannya di atas ranjang dan kemudian tubuh mungil gadis itupun ditutupinya dengan selimut.

Tak sengaja Woo Bin melihat sudah ada beberapa koper yang sudah bertengger di pojok lemari. Pria itupun penasaran dengan isi dalam koper itu, dengan sangat hati-hati iapun membukanya secara perlahan-lahan dan tepat dugaannya. Isi dalam koper itu adalah beberapa baju yang sering ia kenakan untuk bekerja yang sudah terlipat rapi dan ada beberapa obat-obatan untuk diperjalananya bila ia merasa pusing maupun masuk angin.

“Woo Bin-ah, kau memang pria yang bodoh. Kenapa baru saat ini kau menyadari kebaikan istrimu? Jiyeon-ah… kau membuatku tak bisa pergi terlalu lama dari sisimu.” Kata Pria itu dengan nada yang pelan. Kemudian Woo Bin membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan kemudian kepala sang gadispun ditaruhnya di atas lengannya. “Mimpilah yang indah, Park Jiyeon-ah..” Ujarnya kemudian namja itupun mengelus-ngelus sebelah pipi gadis itu dengan lembut dan kemudian  puncak kening milik  gadis itupun ia kecup dengan mesra.

~Pov Author-end~

~~~ooo~~~

~Di pagi harinya~

Dengan mata yang masih berat aku pun membuka mata. Kemarin malam aku mengalami bermimpi yang sangat indah dan sudah hampir terakhir belakangan ini aku sering memimpikan Woo Bin ada di dalam mimpiku. Apakah karena aku sangat takut kehilangan dirinya atau mungkin itu semua karena aku sangat mencintainya. Dan saat aku kedua mataku terbuka bertapa kagetnya diri ku. Saat aku terbangun aku sudah ada didalam pelukan Woo Bin. Pria itu mendekapku dengan lembut dengan kedua tangannya yang kekar.

Aku berusaha untuk melepaskan tubuhku dari pelukannya namun percuma, karena tenagaku tak cukup kuat untuk terlepas dari pelukannya dan lagipula didalam hatiku, inilah yang aku tunggu-tunggu selama ini. bisa tidur bersama dengan dirinya dan saling berpelukan tak seperti dulu saat kami tidur saling memunggungi. Dengan perlahan-lahan tubuhku pun aku rapatkan lebih dalam lagi kedalam pelukan namja itu dan setelah itu aku melanjutkan mimpi indahku didalam pelukannya.

~~~ooo~~~

~Di Bandara~

Hari ini adalah hari dimana Woo Bin pergi ke Amerika. Hatiku sedih saat melepaskan dirinya tapi aku harus terlihat senang dihadapannya karena aku tak mau Woo Bin mengkhawatirkan  diriku.

Appa, Eomma aku pergi dulu ya.” Kata Woo Bin dihadapan kedua orang tuanya.

Nde… jagalah dirimu baik-baik saat disana.”

“Heemm… Appa, Eomma juga jaga kesehatan ya saat diriku tak ada dirumah.” Balas Woo Bin.

Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Woo Bin lalu berpamitan kepada ku. “Park Jiyeon-ah… aku titip kedua orang tua ku ya.” Aku pun membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala. Kedua mataku pun tiba-tiba memanas saat menatap wajah Woo Bin.

“Kau juga harus jaga kondisi tubuhmu ya, Jiyeon-ah. Jangan sampai kau sakit saat aku tak berada disampingmu.” Tambahnya.

“Heemmm… kau tak perlu mencemaskan diriku Woo Bin-ah. Aku akan baik-baik saja disini.” Dan seketika air matakupun tumpah. Aku tak sanggup untuk menahan airmata ini lebih lama lagi. Melihat aku mulai menangis pria itu pun mendekatiku dan kemudian kedua jari jemarinya menghapus lembut airmata yang membasahi kedua pipi ku.

“Kenapa kau menangis? Apakah kau menyesal sudah memperbolehkan ku pergi?” Tanyanya dengan suara yang pelan sambil menatap kedua mataku dengan tajam. Lalu aku menjawabnya dengan menggeleng-gelengkan kepala ku dengan cepat dan kemudian berkata. “A-ani… aku bahagia bila aku bisa mewujudkan impianmu. Karena impianmu adalah impianku juga.”

“Benarkah?”

“Hheemm…” Balasku dengan angukan kepala kemudian menyunggingkan senyuman tipis dihadapannya.

“Jiyeon-ah, ada satu pesan yang belum sempat aku katakan padamu.”

“Apa itu, Woo Bin-ah.”

Kemudian Tubuhku ditariknya kedalam dekapannya dan setelah itu Woo Bin berbisik lembut disebelah daun telinga ku. “Saranghae… Jiyeon-ah… saranghae…” Seketika kedua kakiku lemas namun dengan sigap Woo Bin langsung menopang tubuhku. “Apakah kau baik-baik saja Jiyeon-ah?” Tanyanya dengan wajah yang cemas.

Lalu kedua tanganku menyentuh kedua pipi namja yang sangat ku cintai ini. “Ini bukan mimpi kan, Kim Woo Bin-ssi…? Kalau ini mimpi aku tak ingin bangun dari mimpi indah ini…” Ucapku dengan nada yang bergetar.

Kemudian Woo Bin melepaskan sebelah tanganku dari pipinya dan pria itu pun kemudian mencium punggung tanganku dan berkata. “Ini bukanlah mimpi, Jiyeon-ah.” Katanya dengan halus dan kemudian pria yang ada dihadapan ku itu pun mengecup bibirku untuk beberapa detik. Untuk seperkian detik nafasku terhenti dan kedua mataku pun terbuka lebar. Ini bukan mimpi, teriak batin ku. Ini nyata. Aku tadi baru saja berciuman dengan suami ku, Kim Woo Bin.

“Apakah kau sudah sadar, Nyonya Kim Woo Bin? Ini bukanlah mimpi ini kenyataan.” Katanya dengan suaranya yang parau. “Benarkah?” Kataku lagi dengan ekspresi wajah yang masih terkejut.

Nde…apakah aku harus mengulangnya kembali, untuk memastikannya.” Dengan senyuman nakal dan aku pun menjawabnya. “Mungkin? Sepertinya aku harus memastikannya lagi…” Dan kamipun berciuman untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku yakin bila ini adalah nyata. Bibirku pun dilumatnya dengan lembut dan ciuman kedua itu aku rasakan sangat manis dibandingkan dengan ciuman pertama kami.

~~~ooo~~~

~1 Tahun kemudian~

Dear, My lovely Woo Bin-ah… 

Bagaimana kabarmu sekarang Woo Bin-ah, semoga kau disana baik-baik saja. Tak terasa Sudah satu tahun kita tak berjumpa, apakah kau merindukan ku disana? aku harap kau disana merindukan ku karena aku disini sangat merindukanmu, Woo Bin-ah… Apakah kau tahu sekarang aku sudah lulus sekolah dan aku pun mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolahku di Universitas negeri ternama di seoul.

Di sana aku mengambil jurusan business, aku sengaja mengambil jurusan itu agar aku bisa membantu Abeonim dalam mengurusi perusahaan beliau selama kau belajar study di AS. Meskipun aku tak semahir dirimu dalam hal perkantoran minimal aku bisa membantu Abeonim dalam memperincikan pembukuan perusahaan. Kau tak perlu memikirkan keadaan Eommonim dan Abeonim karena aku akan menjaganya untuk mu jadi bersemangatlah, suami ku. Dan jangan lupa untuk mengenakann pakaian yang tebal saat musim dingin, kebetulan bulan ini adalah musim dingin di korea dan nampaknya disana juga musim dingin juga kan, Woo Bin-ah? Satu lagi yang mau aku ingatkan kepadamu jangan telat makan ya… Meskipun kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu namun kau harus tetap menjaga kondisi tubuhmu.  

Salam sayang dan rindu

Dari istrimu tercinta

Park Jiyeon

Setelah membaca surat dari istri tercintanya Park Jiyeon, Woo Bin sangatlah senang. Diapun tersenyum-senyum saat membaca ulang kembali surat tersebut. Tanpa ia sadari tingkah lakunya di lihat oleh teman satu ruangannya Dokter Lee.

“Kenapa kau terseyum sendirian, Dokter Kim?” Tanya sahabatnya.

“Ah… a-ni… aku hanya sedang senang saja saat membaca surat yang baru dikirim oleh istriku.” Balasnya kemudian surat itupun di lipatnya kembali dan setelah itu disimpannya dengan rapi didalam laci meja kerjanya. Setelah itu Woo Bin mengenakan jubah dokternya untuk memeriksa pasien.

“Dokter Kim, apakah kau tak membalas surat dari istrimu?” Tanya sahabatnya. Dan setelah itu Woo Bin pun membalas. “Mungkin nanti aku akan membalasnya saat aku ada waktu senggang.” Ucapnya sambil menyunggingkan senyum tipisnya kepada Dokter Lee.

~~~ooo~~~

~1 Tahun berikutnya~

Dear, My lovely Woo Bin-ah…

Hallo sayang ku, apa kabar dengan dirimu? Kenapa surat ku tak kunjung kau balas. Apakah kau begitu sangat sibuk disana, sampai-sampai kau tak ada waktu membalas suratku atau bahakan jangan-jangan kau belum sempat membaca surat ku yang sebelumnya.

Semoga kau disana sehat selalu ya, Woo Bin-ah… aku tahu kau pasti sangat sibuk jadi sebisa mungkin jagalah kesehatanmu dan jangan lupa untuk beristirahat yang cukup.

nega bogosipho jugketsso, Woo Bin-ah. Aku ingin segera bertemu dengan mu saat ini juga. Apabila kau sudah membaca suratku ini, tolong balaslah suratku. Aku ingin tahu bagaimana kabarmu disan,nde…

Salam sayang dan rindu

Dari istrimu tercinta

Park Jiyeon

Ini adalah kali keduanya Woo Bin mendapatkan surat dari Jiyeon. kali ini wajah pria itu terlihat sedih karena dia merasa menyesal tak bisa membalas surat dari istri tercintanya karena dia sangat sibuk. Kebetulan saat itu teman sekamarnya datang dan kemudian bertanya kepada Woo Bin kenapa ia berwajah murung.

“Kenapa kau terlihat sedih, Dokter Kim? Harusnya kau merasa senang.“ tuturnya.

Dengan nafas yang berat iapun menjawab. “Aku takut bila waktu ku di sini akan lebih panjang dari waktu yang ku perkirakan. Aku sangat ingin bertemu dengan dirinya. Bagaimana kalau tiba-tiba ia datang menemui ku tapi aku tak bisa bertemu dengan dirinya?”

“Ada satu cara agar kau bisa bersama dengan dirinya mungkin kurang lebih seminggu.”

“Benarkah, bagaimana itu? Tolong beri tahu aku…” Balas Woo Bin dengan wajah yang riang.

“Satu-satunya cara adalah…”

~~~ooo~~~

~2 Tahun kemudian~

“Dokter Kim, ada surat untuk mu.” Kata seorang perawat kepada Woo Bin kemudian surat beramplop merah jambu itupun sekarang ada didalam gengamannya. Woo Bin pun langsung membuka isi dalam surat itu dan tiba-tiba ada suara seorang yeoja  berteriak memanggil namanya.

“Yak!!! Kim Woo Bin-ssi…”

Dengan kedua mata yang terbuka lebar pria itu pun berkata. “Jiyeon-ah…” Dan gadis itupun kemudian langsung berlari kearah dirinya dan merekapun berpelukan.

Bogosiphoyo, Woo Bin-ah…”

Nado… Na , neomu – neomu  bogosiphoyo, Jiyeon-ah.” Ujar Woo Bin sambil mempererat dekapannya di tubuh mungil gadis itu. Dan saat Woo Bin hendak ingin mencium Jiyeon dengan cepat gadis itu menghalangi bibir Woo Bin dengan sebelah telapak tangannya yang hampir menyentuh bibirnya yang berwarna merah merekah tersebut. Sontak pria itu kaget dengan apa yang dilakukan oleh Jiyeon.

“Kau ku hukum, kau tak boleh menciumku karena kau  tak pernah membalas surat dariku selama 4 tahun terakhir ini.” Kata Jiyeon seraya melepaskan tubuhnya dari dekapan Woo Bin. “Ta-tapi… Jiyeon-ah…”

“Tak ada kata tapi…” Tambah gadis itu dengan senyuman.

Tiba-tiba ada salah satu perawat yang menghampirinya. “Dokter Kim, jadwal operasi akan segera dimulai.” Kata suster tersebut.

Mendengar Woo Bin ada jadwal untuk operasi Jiyeon pun menyuruh suaminya untuk segera pergi. “Sudah pergilah, aku akan menunggumu disini.”

“Ta-tapi…”

Tak lama kemudian datanglah Dokter Lee dan pria jangkung itu mengambil map yang ada di tangan suster tersebut. “Operasi ini aku yang akan handel, karena sekarang dokter Kim sedang mangambil cutinya selama seminggu kedepan.” Kata Dokter Lee.

“Min Ho-ssi, Gomawoyo…” Ujarnya dengan wajah yang riang.

Nde… pergilah, kau tak perlu cemas tentang pasien-pasienmu.” Katanya kemudian Dokter Lee dan Suster tersebut pergi keruang operasi tanpa Woo Bin. Gadis itu sempat bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Kemudian Woo Bin pun menggengam erat jari jemari Jiyeon dan menariknya pergi bersama dengan dirinya.

Kajja…

“Tapi… Woo Bin-ah kemana kita akan pergi?” Tanya Jiyeon.

“Memangnya kita mau kemana lagi, Jiyeon-ah. Kita akan pergi untuk honeymoon lah.” Balasnya kemudian sambil menyeringai.

Mwo? Apakah kau lupa, kalau kau sedang aku hukum?” Ucap gadis itu sambil berkacak pinggang dihadapan Woo Bin. Tapi ancaman gadis itu dianggap oleh pria tersebut seperti angin lalu kemudian Woo Bin menarik lengan Jiyeon dan sekarang lengan pria itu sudah melingkar mesra di atas pinggang milik Jiyeon.Alhasil tubuh mereka berduapun saling menempel cukup dekat dan setelah itu Woo Bin berbisik lembut di hadapan Jiyeon. “Aku tahu kalau aku di hukum untuk tidak mencium mu disini karena  nanti aku akan mencium mu dan memeluk mu disepanjang malam dan yang jelas bukanlah disini, jadi persiapkanlah dirimu, Nyonya Kim Woo Bin.” Ujarnya sambil menatap tajam kedua manik milik Jiyeon dengan tatapan penuh arti. Tak lama kemudian Jiyeon pun membalas perkataan Woo Bin dengan wajah yang terkejut. “Nde…??!”

Yak!! Kim Woo Bin…

Kenapa kau tak pernah membalas surat ku? Apakah kau sangat sibuk sampai-sampai kau tak bisa membaca dan bahkan membalas suratku? Minimal kirimlah surat dengan kata aku baik-baik saja. Apakah begitu sulit kau lakukan untuk istrimu ini? Setiap hari aku selalu menunggu surat darimu, tapi tak ada satupun surat yang kau kirim untuk ku. Ini bukan sebulan maupun satu tahun kita tak berjumpa, ini sudah 4 tahun kau tak ada kabar berita sama sekali. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu, Woo Bin-ah…

Saat nanti aku bertemu dengan mu kau akan menerima hukuman dariku pada di saat itu juga. Mungkin saja saat kau belum selesai membaca surat dariku ini, aku sudah ada dihadapanmu dan berlari kedalam pelukanmu. Karena kali ini aku sendirilah yang mengantarkannya padamu.

 

Salam rindu

Park Jiyeon

 

PS: Saat aku bertemu dengan mu dan berlari kearahmu, tolong janganlah kau lepaskan lagi diri ku untuk yang kedua kalinya. Tapi seandainya kau tak bisa melakukannya saat ini. Maka akulah yang akan melakukan semuanya untuk mu. Karena aku sangat mencintaimu dan sangat merindukanmu.

-The End –

~~~ooo~~~

Annyeonghaseo yeorobun ….

Ketemu lagi sama Phiyun disini (^-^)/

Ini kali kedua aku publish FF buatan ku disini, mudah-mudan kalian semua gak bosen yah ketemu aku terus, hehe 😀

Aku buat ff baru lagi nih kali ini Castnya Sih Kim Woo Bin sama biasku Jiyeon, hehee 😀 maap yah kalau ceritanya rada gaje, soalnya baru pertama kali buat Jiyi di couple-lin sama Woo Bin, hihi… Semoga kalian menyukainya yah ^^

Maaf bila banyak Typo’s yang bertebaran saat membaca cerita ini, maklum author juga manusia biasa ^^

Jangan lupa RCL-nya ya Chingu karena komentar dari kalian semua adalah sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam menulis cerita selanjutnya ^^

Oh iya FF ini pernah aku publish di blog pribadiku disini : https://taraqueensfanfictions.wordpress.com/

Khamsahamida (^-^) v

Advertisements

21 thoughts on “[Oneshoot] Freelance – Can You Hear My Heart

  1. ihhh finally jiyeon udah rujuk sama woobin , ada sequel gaaa? agak ga srek aja belum tau honeymoon mereka 😂

  2. Ff nya bagusssss aku suka
    Walaupun awalnya woobin ga suka sama jiyeon akhirnya woobin bisa liat ketulusan jiyeon juga trus dy jth cinta deh sama jiyeon kkkkk
    Aku suka
    Nice ff thorr

  3. lama bgt mereka berpisahnya,4 tahun ngk ketemu apa mereka tahan.kalau aq mah ngk.
    woobin disana bukannya kuliah,tapi koq ngk lulus,apa dia sekalian dapat pekerjaan disana.

  4. romantis sekali woobin sama jiyeon coba jiyi manggilnya oppapasti lebih imut lagihahaha
    kasian luhandidorong sama woobin pas lg asik2an sama jiyeon
    hppy ending, chukaaae kalian ^^

  5. Penantian yang berbuah kebahagiaan untuk jiyeon ,,,,tapi ko aku aga ga mudeng pas end nya ya :v di situ wonbin ga ngejelasin kenapa dia ga balas surat dari jiyeon… :v

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s