[Drable] Freelance – Rimorso

rimorso-by-minjung

An awkward story

Presented by OtherwiseM

Originally posted on http://otherwisem.wordpress.com/

Amazing Cover by https://yunatwentyone.wordpress.com

 

|| [Boyfriend] No Minwoo and You || Angst, Romance || Drabble (266 words) || PG-13 ||

 

Pepatah mengatakan, kesedihan bagaikan banjir dan penyesalan bagaikan tsunami. Kini, tsunami hebat telahmenenggelamkanku ke dalam lautan penyesalan tak berdasar.

.

.

.

“Setelah lama menghilang, baru sekarang kau muncul dan bertingkah seolah tak terjadi apapun. Mengabaikan perasaanku yang terombang-ambing. Lucu sekali.”

Telapak tanganku memerah lantaran zat tanduk tipis yang tumbuh melekat di ujung jari menekannya kuat-kuat. Netraku yang dipenuhi bulir bening memandangnya lekat-lekat.

Kejamnya waktu berhasil merubah Minwoo jadi sosok yang teramat asingbagiku. Dulu kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyum, kini kedua sudut bibirnya tertarik membentuk seringai. Dulu sinar matanya teduh menenangkan, kini sinar matanya tajam menegangkan.

Benar-benar tidak dapat kukenali.

“Kau menyesal sekarang?”

Suaranya yang mengalun dihantarkan sepoi angin seakan menampar wajahku kuat-kuat. Menyeretku keluar dari memoar indah bersamanya yang membelenggu erat.

“Berhentilah mengikutiku lagi. Aku tidak butuh orang sepertimu. Toh di luar sana juga ada jutaan orang yang lebih baik.”

Seperti orang bodoh, satu-satunya yang dapat kulakukan adalah memandang bagian belakang tubuhnya yang lambat-laun diburamkan jarak serta temaram lampu jalanan.

Satu tetes.

Dua tetes.

Bertetes-tetes hingga tak dapat kuhitung.

Kemudian pacu tungkainya dijeda kedua lenganku yang melingkar erat di tubuhnya. “Ja-jangan pergi … kumohon ….”

“Kau sendiri yang dulu meninggalkanku. Lalu sekarang menahanku. Seperti orang bodoh saja.”

“Maafkan aku, Minwoo.”

Hening yang menggantung buat likuid yang sejak tadi mati-matian kutahan meluncur keluar tanggulnya. Masa bodoh dengan hamparan manusia yang pandangi kami penuh kurioritas. Kedua belah bibirku enggan lagi merapalkan serentet sanggahan saat realita memaksaku bungkam dan mencoba menerima segalanya.

Desah napas terdengar sebagai satu-satunya respon. Disusul dampal tangan yang memaksa pagutan itu terlepas. Punggungnya yang kian menjauh samar-samar singgahi netraku.

Dan sekarang aku tak bisa lagi menahannya. Pun mengelak dari fakta bahwa aku melubangi hubungan ini dengan titik-titik ego yang berubah jadi lautan penyesalan.

Bodoh.

—End—

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s