[Drable] About Us 3#

about us3#

About Us
3#Memory
by. Mochaccino
Kim Kai and Theodora Josephine/Theo (OC)
Romance/Psychology
Drable


Satu cangkir teh jasmine lengkap dengan uap yang masih mengepul di atasnya. Juga seorang Theo yang sedang menghalaunya dengan tiupan-tiupan lembut dari hembusan napasnya yang beraroma mint. Uap panas itu berkejaran dengan detak jantung Theo.

Dia sedang memikirkan bagaimana menjadi lebih objective dengan perasaannya. Jongin bukan sebuah momok yang akan selalu membuatnya merasa hidup dalam guncangan. Dia hanya bentukan dari partikel-partikel hatinya pun dengan warna yang merah.

“Take a deep breath!” bisiknya sendiri.

Kemudian kakinya terpangku di kaki satunya dengan gaya yang anggun. Pakaian yang casual terpadu dengan manis sesuai dengan warna wajahnya. Bahasa camera sesaat lalu menjadi saksi phose selfienya. Dunia mengakui, kalau Theo cantik. Kelopak matanya yang bernuansa pastel itu harus memicing ketika menyesap rasa segar yang diterima lidahnya. Seulas pink tertinggal di cangkirnya. Dia cantik dari berbagai sisi. Unik. Bentuk presisi wajah yang manis itu terpasang dengan cute. Agak kekanak-kanakan, but dia memang selalu menjadi pusat perhatian.

Detik jam yang kesekian. Theo mulai bosan. Dia melihat ke arah luar. Cuacanya sedang buruk. Bahkan hampir tidak ada sinar matahari pun yang menghangatkan wajah kota ini, langit begitu muram. Banyak angin dan sepertinya lebih dingin dari kemarin. Hujan lebat mungkin akan menjadi tujuan sore ini. Tapi untunglah di dalam ruangan ini terasa begitu hangat. Ekspresinya terlihat cozy dengan warna lampunya, aroma rotinya, juga alunan musiknya. Theo terhipnotis dalam cerita beberapa musim lalu.

Langkah-langkah kaki yang mendekatinya. Theo menoleh. Seorang laki-laki dengan garis wajah sedikit keras menatapnya Pakaian putihnya terlihat melambai dramatis seiring tarikan senyumannya yang janggal. Theo beringsut dari posisi duduknya. Sesaat hanya menunggu apa yang akan dilakukan sosok itu padanya. Bukan Theo melainkan sosok yang tergeletak di atas meja di tengah ruangan itu dengan tubuh setengah telanjang.

Matanya berkedip dengan cepat ketika sosok berbaju putih itu mengambil pisau dari atas meja. Mulutnya terbuka setengah.

”Apa yang akan kau lakukan padanya?” tanya Theo terbata-bata dengan tubuh gemetar.

”Aku hanya akan memberikan dia memory yang baru.” ujarnya dengan niat yang bulat. Theo menggigit bibirnya. Lalu menunduk dengan sikap hening tak bergeming. Memory yang baru berarti tidak akan ada lagi Theo di dalam ingatannya.

Bening itu menitik dengan lembut di telapak tangan Theo. Jongin. Bisiknya dalam hati.

Bahunya di tepuk,

”Menunggu dia?” Theo mendongak pada seonggok Jongin yang menemukannya dalam sikap beku. Gadis berambut merah itu akhirnya mengurai senyuman.

”Hari ini tidak ada dia. Duduklah dan kita nikmati kesan hari ini supaya kau bisa menyimpan wajah sore ini dalam memorymu kembali.” Terutama sekelumit memory mengenai Theo.

????

Note.What Memory? Semakin absurt.

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s