[Threeshot-2/3] Deep In Your Eyes

DIYE End

Deep In Your Eyes

2nd shot
Cast || Jiyeon and Chanyeol | Hyuna and Xiumin
Genre || Romance | Angst
Rated || PG
Length || Threeshot

Diantara bisikan angin, ada sebuah janji yang telah dicetuskan dalam kebodohanku. Aku melukis garis panjang yang membawaku semakin dalam mengikuti arusnya. Bayangannya yang melintasi langit malam tidak terusik oleh pengakuan bintang-bintang. Dan dari kegelapan malam aku telah menentukan sebuah jalan yang seharusnya aku lalui bersamamu. Aku akan menyesalinya jika aku membiarkanmu pergi begitu saja. Jiwamu, aku sungguh membutuhkannya.

Sesuatu bergerak di depan pintu. Dia melihat sekelebat bayangan yang hampir membuat jatungnya melesat hebat. Wajah pucat itu menyembul dengan sebuah senyuman. Xiumin tercekat. Ada mahluk lain di dalam rumah ini selain Jiyi dan Chanyeol. Siapa dia?

“Hai manis! Apa kau butuh seseorang malam ini?” sapanya sambil mendekat dengan cepat. sedetik saja dia sudah berada di depan Xiumin, merobohkan namja itu dan duduk di atas tubuhnya. Xiumin menganga ketakutan. Dia seperti kehilangan oksigen di sekitarnya. Sesak. O God! Siapa mahluk ini?

“Apa kau ingin sedikit bersenang-senang denganku?” Hyuna mengikis kulit leher Xiumin dengan jemarinya. Darah mengalir perlahan.

Dengan telunjuknya Hyuna menyesap darah yang dia ambil dari leher Xiumin yang terluka.

“Darahmu sungguh manis. Semanis wajahmu.”

“Jiyiiiiiiiiiii!” teriak Xiumin dengan keras. Xiumin menggelepar dengan hati ngilu demi merasakan hawa monster mengerubungi wajahnya.

¬¬¬¬¬

“Kau takut padaku? Kenapa kau takut pada wanita cantik sepertiku?” suaranya bergemerisik. tetesan lirnya menyapa sekujur wajahnya. Wanita yang sangat jorok. Pikir Xiumin.

“Aku tidak takut. Aku hanya tidak mau kau meluakai wajah tampanku ini.”

Hyuna menarikan jemarinya di kulit wajah Xiumin. Dia memperhatikan dengan jeli wajah yang dikatakan tampan oleh pemiliknya ini.

“Kau memang tampan, tubuhmu hangat. Aku suka dengan tubuh namja yang hangat.” Hyuna menelusupkan wajahnya dileher Xiumin. Namja imut itu masih berdoa supaya Jiyi meninggalkan sebentar aktivitasnya bersama Chanyeol di atas sana untuk melihat kondisi sahabatnya yang mungkin akan diperkosa oleh Vampire Hyuna yang …

“Eeerggh!” geram Hyuna ketika dia merasakan sesuatu. Semburat merah di kulit pipinya semakin nyata ketika dia mengerang dengan nada yang sexy. Ditatapnya Xiumin dengan sebuah cengiran.

“Jangan gigit aku!” Xiumin memejamkan matanya. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya beruba menjadi vampire dan berkeliaran di permukaan bumi tanpa jelas arah dan tujuannya. Cita-citanya menjadi seorang arsitek akan musnah.

“Rupanya kau sungguh takut padaku.” bisik Hyuna manis. Dia menjilat lagi telinga Xiumin. Namja bermata bulat indah itu hanya menahan napasnya sambil….

“Yah, kalau kau takut padaku, kenapa kau meremas bokongku?” bisik Hyuna di telinga Xiumin. Namja itu terkesiap. Dia melepaskan tangannya dari bokong Hyuna yang tanpa sadar telah diremasnya.

“Kau suka?” Hyuna menampakkan taringnya yang berkilau di terpa cahaya dari api.

“Kau siapa? Apa kau teman dari Chanyeol?”

Terlihat berpikir sebentar, dia menyibakkan rambut panjangnya yang tergerai di bahunya, menyentuh wajah Xiumin. Siluet itu menimbulkan perasaan aneh di dalam benaknya.

“Chanyeol adalah pasanganku. Dia yang menjadikanku seperti ini.” Wajah Hyuna berubah sendu. Dia tidak menghendaki menjadi manusia separuh monster.Chanyeol yang menjadikannya seperti ini.

“Ta..ta..tapi dia sudah mempunyai Jiyi.” ujar Xiumin. Sesaat namja itu terkesima dengan perubahan wajah Hyuna yang semakin lembut, namun…

BRAKH

“Xiuminie!” Jiyi menerjang tubuh Hyuna . Dia menarik rambut hitam itu dengan entengnya, dan melemparkannya ke dinding kayu. Tubuh itu melesat dan menjebolkan dinding rapuh itu hingga terlempar ke luar. Kayu berserakan di mana-mana. Hancur berkeping-keping. Suasana berubah menegangkan ketika Jiyi melompat dan menumpangkan kakinya pada tubuh Hyuna yang terkapar. Dia meronta di bawah kaki Jiyi.

SREG

Dia menjejak dengan kuat kakinya pada leher Hyuna. Kemudian menancapkan kuku-kuku tajamnya untuk ingin melepaskan kepala Hyuna. Leher Hyuna terkerat dengan keretakan berarti.

“Aarrgh!” jeritannya melengking ke angkasa dengan suaranya yang serak. Matanya membulat mengerikan, semburat kemerahan di sekujur tubuhnya berubah menjadi lebih ungu. Dia hampir tercerabut, jika..

“Jiyi!” Chanyeol menarik tubuh Jiyi agar menjauh dari Hyuna. Lirikannya tajam mengandung tanya menyerang vampire jantan yang sesaat lalu bercumbu dengannya.

“Siapa dia?” Jiyi akan menerjang lagi tubuh Hyuna yang secepat itu bergerak dan mendorong Jiyi dengan sebuah tendangan.

BUG

“Eerrggh!” Hyuna menggeram dengan taring yang menganga.

Tubuh Jiyi terdorong ke belakang bersama Chanyeol yang mendekapnya. Dia menyeringai dan berusaha menahan tubuhnya dengan kaki kanannya yang dia topangkan dengan cepat ke tanah. Angin seakan-akan memberikan bantuan. Dia meloncat ringan dengan satu kali tolakan dan kembali mengarahkan serangan ke tubuh Vampir betina yang tiba-tiba muncul mengganggu malam mereka.

Bila mata emasnya mengayuh naluri keji, membuat Xiumin yang melihatnya tak sanggup untuk berteriak ngeri. Dia terlalu polos untuk melihat semua itu. Xiumin merasa kasihan dengan vampire yang baru saja menyerangnya. Namun Jiyi lebih mengerikan lagi. Apakah dia cemburu ataukah benar-benar marah.

Jiyi membawa tubuh Hyuna melesat dan melintasi pepohonan. Suaranya bergemerosak diantara hembusan angin. Semua terlihat sangat cepat di mata Xiumin. Sebentar saja sudah banyak dahan yang hancur berserakan ke tanah.

“Jiyi!” Chanyeol mengejar dengan cepat. Tubuhnya berusaha untuk menghadang kecepatan Jiyi. Sebuah tumbukan menerjang tubuh langsing yang sedang dilanda emosi ktu dengan hebat, menghempaskannya hingga jatuh ke tanah.

“Kenapa kau menghalangi aku? Dia akan mencelakai Xiumin.” teriak Jiyi sambil melesat lagi mendapati Hyuna yang menyeringai dengan ejekan ketika dia terlepas dari cengkraman Jiyi.

Chanyeol tidak menjawab, dia berusaha menangkap dan memeluk Jiyi. Menguasakan seluruh tenaganya untuk meleraikan emosi gadis yang dicintainya. “Please!” bisiknya ketika Jiyi berhasil masuk dalam dekapnya. Menyelam di dalam lautan emosi Jiyi yang sepertinya tidak bisa dipatahkan. Membawanya pergi sejauh mungkin ke seberang danau.

Dia melihat Hyuna mengejar.

“Oppa! Kenapa kau tidak memelukku, justru memeluknya?” Hyuna berteriak histeris. Sekejap mata Jiyeon langsung melintasi semua kekalutan Chanyeol.

“Apa yang telah kau lakukan padanya?” Pertanyaan Jiyi mengguncang nyalinya. “Kenapa dia memanggilmu Oppa?” Chanyeol menatap lekat Jiyi. ‘”Kenapa dia mengejarmu?” pertanyaan yang bertubi.tubi itu masih belum melahirkan jawaban.

Chanyeol tidak sanggup menjawab. Dia berdiri diantara Jiyi dan Hyuna. Pohon yang begitu tinggi dipijaknya. Hyuna berada di salah satu pohon di dekat mereka. Dia berdiri dengan tubuh meliuk indah. Gaun cobalt birunya terlihat menerawang dan berkelebat kian kemari. Sementara rambutya menerjang udara dengan kemilau yang indah.

Jiyi mendorong tubuh Chanyeol, tubuh yang sesaat lalu bergumul dngannya begitu hebat. Tubuh yang telah di sentuhnya dengan gairah, kini ditolaknya.

“Don’t!” Chanyeol merasa begitu hampa dengan tangan yang begitu kosong yang menolak ditubuhnya.

“Jangan katakan kalau kau telah memilihnya.” Suara Jiyi melemah. Dia bergulat dengan perasaan yang seakan.akan menipunya.

Chanyeol menipunya.

Jiyi menatap sedih. “Setelah apa yang kita lalui sesaat lalu, dan kini aku mengetahui bahwa semua itu hanya leluconmu. Kau tidak pernah berhenti menyakiti orang disekitarmu!”

“Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak menyadari apa yang sudah kulakukan- dulu. Jiyi…”

Jiyi memalingkan wajahnya. Dia tidak mengatakan apapun selain berjalan mundur pada dahan yang semakin meliuk ke bawah, dia menolakkan kakinya kemudian melesat pergi. Bayangan merahnya menembus dedaunan, lalu menghilang.

“Jiyiii!” Chanyeol berusaa mengejar, namun Hyuna menangkap tangannya.

“Apa kau akan melepaskan tanggung jawabmu padaku?” hardik Hyuna.

Mereka saling berhadapan dan meredam emosi. Chanyeol merasa dirinya tidak mungkin bisa hidup bersama dengan Hyuna, sementara dia hanya mencintai Jiyi.

Diantara bisikan angin, ada sebuah janji yang telah dicetuskan dalam kebodohanku. Aku melukis garis panjang yang membawaku semakin dalam mengikuti arusnya. Bayangannya yang melintasi langit malam tidak terusik oleh pengakuan bintang-bintang. Dan dari kegelapan malam aku telah menentukan sebuah jalan yang seharusnya aku lalui bersamamu. Aku akan menyesalinya jika aku membiarkanmu pergi begitu saja. Jiwamu, aku sungguh membutuhkannya.

Chanyeol merintihkan perasaannya pada Jiyi.

“Kenapa kau harus datang di saat yang tidak tepat. ” Seru Chanyeol ke arah Hyuna. Vampire dengan wajah cantik itu dengan manis tersenyum.

“Oppa, bukankah kita ditakdirkan bersama.” jawabnya dengan sebuah sentuhan lembut di wajah Chanyeol. Dia mengelilingi Vampire tampan itu dengan sesekali menjilati lehernya.

“Aku tidak melakukan kesalahan!” bisik Chanyeol.

SRUG!

Lalu seketika itu, rambut nya seperti di tarik ke belakang hingga tubuh Chanyeol terjungkal meluncur jatuh ke tanah.

“Kau tidak boleh mengatakan hal itu pada seorang Hyuna.” Hyuna menumpangkan tubuhnya di atas Chanyeol. Dia sangat bergairah malam ini. “Oppa, kau jangan menjadi laki.laki nakal! Hyuna tidak suka. Sangat tidak suka.” Chanyeol merasakan tenaga Hyuna begitu kuat. Apakah karena vampire betina ini, selalu meminum darah manusia.

“Kau adalah sebuah kesalahan, Hyuna!” sekali lagi Chanyeol mengatakannya, dan Hyuna semakin beringas. Matanya kian membara dengan serbuah cakarannya menyobek dada Chanyeol yang terbuka. Dengan sebuah hentakan Chanyeol berhasil melepaskan dirinya dan melompat menjauh darinsosok Hyuna.

Namun vampire betina itu menyerbu dan mengakungkan lengannya di leher Chanyeol

“Kita seharusnya menikmati malam ini.” bisik Hyuna lagi., dia membuat Chanyeol mengerwang karena sebuah gigitan di bahunya.

Chanyeol melihat lukanya yang menganga lebar itu telah pulih kembali dalam waktu yang singkat. Dia mendaratkan tubuhnya dengan manis di tanah, dan mencengkram leher Hyuna dengan tangan kanannya.

“Jagan bersikap kasar padaku! Atau kau akan tahu akibatnya.” Chanyeol sekuat tenaga ingin menghabisi Hyuna dengan mematahkan batang lehernya, namun dia melihat vampire betina itu berusaha keras untuk melepaskan tangan kokohnya dari leher ramping Hyuna.

“Aku ingin bertanding dengannya. ” ujarnya dalan suara serak. Chanyeol mengernyit. Apa maksudnya dengan bertanding. Apakah dia meminta Jiyeon untuk berduel dengannya. Hyuna tertawa lepas.

“Kau harus memilih, Oppa!” jerit Hyuna dengan suara yang mengerikan. “Aku tidak bisa menerima begitu saja kehadirannya.”

Chanyeol terdiam.

Berduel.

Ini sangat konyol. Berduel hanya untuk memperebutkan dirinya. Jiyi tidak akan sudi melakukannya. Dia pasti akan memilih pergi dan membiarkan Chanyeol hancur dan keropos perlahan-lahan karena perasaan bersalahnya. Jiyi pasti akan lebih memilih membiarkan Chanyeol menyesali kebodohannya dari pada harus bertarung melawan vampire Hyuna.

“Apa kau menyukai dua wanita memperebutkanmu, Oppa?” tanya Hyuna dengan sebuah cibiran

“Sejujurnya tidak! Aku tidak menyukai hal itu. Dulu mungkin aku sangat menyukai jika ada dua wanita bergumul scara erotis di depanku, namun sekarang aku tidak menyukainya. Di dalam hatiku, aku hanya mencintainya, meski aku telah melakukan kesalahan dengan menjadikanmu seperti ini.”

“Kenapa kau menyesalinya. Kau dulu begitu menikmatinya. Kau sangat munafik!” Geram Hyuna dengan nada kecewa.

Baiklah, Chayeol memang brengsek, munafik dan terkutuk. “Dia tidak akan sudi berduel denganmu.” Umpatnya.

“Aku akan memaksanya.”

“Apa kau sanggup melawannya. Potensimu sungguh tipis sesaat lalu. Kalau saja aku tidak menghadangnya, kau sudah musnah. Apa kau yakin ingin berduel dengannya?”

“Aku hanya ingin ada satu wanita untukmu. Dan itu adalah aku.” Hyuna menegaskan dengan wajah tajam.

Sementara itu di dalam pondok, Xiumin menemukan Jiyi tersungkur di atas ranjangnya dengan wajah penuh emosi. Dia sangat terluka dengan kejadian ini. Chanyeol membuatnya merasa bodoh.

“Apa yang terjadi?” tanya Xiumin. Dia duduk di sisi sahabatnya dengan penuh tanya.

“Xiumin, kita pergi dari sini.” ujar Jiyi kemdian.

“Malam ini juga?”

“Ya.” Jiyi bangkit dari tempat tidurnya yang berserakan sisa pergumulannya dengan Chanyeol tadi. Namun sepertinya kini sama sekali tidak berarti. Dia melirik Xiumin yang berdiri tak mengerti

“Akan sangat beresiko jika kau kembali ke kota.”

“Aku tidak akan menampakkan diri.”

“Kau akan terjebak dalam kehidupan yang sangat membuatmu tersiksa.”

“Aku akan menjauh dari Chanyeol.”

“Apa kau yakin?”

Beberapa saat berlalu,

Suasana begitu sunyi setelah Jiyi dan Xiumin meninggalkan pondok. Suara derit engsel yang berkarat terdengar menyayat pilu. Angin-angin sudah membuat semua jendela dan pintu bergerak sepanjang waktu. Kemudian hembusan angin itu membawa sosok Chanyeol kembali dengan langkah yang panjang dan langsung menjenjak lantai kayu. Matanya berpencar mencari bayangan Jiyi di setiap sudut gelap. Namun dia tidak menemukan Jiyi maupun Xiumin di manapun.

“Jiyi!” dia berteriak memaki dia tahu tidak ada Jiyi di pondok ini. Wajahnya memerah mengumbar amarah. Dihempaskannya semua yang menghalangi jalannya. Sementara terdengar tawa Hyuna membahana.

“Aku tau dia seorang pengecut! Dia tidak akan mungkin bisa melawanku.”

“Dia tidak tahu kalau kau mengharapkan sebuah duel dengannya.”

“Dia pergi, karena dia menyerahkanmu padaku.” ujar Hyuna dengan bahagia.

“Dia pergi karena ingin menghukumku. Dia tahu aku akan musnah jika aku tidak melihatnya sedetik saja. AAARRRRGGGHHH!” teriak Chanyeol dengan suara yang sangat keras.

Jiyi bisa mendengarnya. Dia merasakan kegelisahan dan rasa sakit di dalam hati Vampire jantan itu, ketika dia menyadari kepergiannya. Namun jarak mereka sudah sangat jauh. Jiyi membawa Xiumin melesat meninggalkan pegunungan yang sunyi.

“Aku akan menyusulnya!” ujar Chanyeol sambil mengobrak-abrik semua perabot di dalam pondoknya.

“Kenapa kau begitu keras kepala. Dia ditakdirkan untuk musnah bersama Luhan. Kenapa kau masih bersikeras untuk mengambil janda adikmu, untuk kau miliki. Aku ada di depanmu. Aku ada untukmu.”

Chanyeol menerjang Hyuna dan menariknya dengan tenaganya, kemudian melemparkannya sejauh mungkin hingga tubuh itu memporak-porandakan semua dinding pondok yang sudah dalam kondisi sangat menyedihkan.

“Kau tidak berhak menyebutkan nama Luhan!” hardik Chanyeol kesal.

“Kenapa tidak. Aku tidak terima, kau memperlakukanku seperti ini!” Hyuna berteriak dengan suara nyaring. Dia menerjang pepohonan dan menghilang.

Chanyeol bisa saja memusnahkan Hyuna. Memusnahkan dengan kedua tangannya, tapi semua itu masih berentangan dengan isi hatinya. Sebejat-bejatnya seorang Chanyeol, dia tidak akan menjatuhkan harga dirinya dengan mengotori tangannya demi membantai wanita sekalipun itu sejenis dengannya.

.
.
.

Jiyi tiba di dalam kamarnya yang masih rapi dan bersih. Dia menurunkan Xiumin yang langsung terkulai di lantai dengan tubuh lemas. Dia menatap Jiyi dengan tatapan kosong.

“Kau masih hidup Xiuminie!” bisik Jiyi. Barulah Xiumin menghela napasnya. Dia baru saja menaiki pesawat jet untuk kembali ke Seoul. Tapi dia masih tergeletak tak bergerak.

“Apa eommaku ada di rumah?” tanya Jiyi. Xiuminin hanya berkedip. “Minie, bangunlah! Katakan pada eomma aku di rumah. Aku takut dia terkejut, jika langsung melihatku.”

“Aku butuh minum.” ujar Xiumin lirih

“Apa?”

“Minum. “

“Ambil saja sendiri!” geram Jiyi kesal. Da duduk di tempat tidurnya. “Jam berapa ini. Kenapa masih belum ada matahari.”

“Sebentar lagi. Beruntung kita sudah tiba di rumah.”

“Ya.” Jiyi membaringkan dirinya di kasur. Kemudian beberapa menit kemudian dia melirik ke arah Xiumin. “Yah, Xiuminie! Bangunlah!” Jiyi kesal karena Xiumin sejak tadi masih tergeletak di lantai kamarnya tanpa bergerak sedikitpun.

“Jiyi, apakah aku tertular racun vampire?” tanya Xiumin kemudian.

“Kau ini bicara apa?” Jiyi bangkit dan mendekati sahabatnya yang masih terbaring di lantai. Xiumin melirik gadis vampire itu.

“Hyuna menggoresku dengan cakarnya tadi. Kau lihat leherku. Di sini!” Xiumin menunjukkan dengan lirikan matanya. Kemudian Jiyi melihnya.

“Ehm, ya. Dia memggoresmu dengan cukup dalam. Tapi darahmu sudah mengering. Apa dia mengisap darahmu?”

“Belum sempat. Apakah aku tertular racunnya?”

“Kurasa tidak.”

“Lalu kenapa aku merasa tubuhku demam.”

Jiyi melihat wajah Xiumin yang pucat. ” Mungkin kau msauk angin. Karena aku membawamu terbang sejak tadi.” Xiumin memejamkan matanya.

“Agh, iya. Mungkin hanya masuk angin.” sambutnya

“Kalau begitu cepat bangun dan keluar dari kamarku!”

“Baiklah!” jawab Xiumin. Dia mencoba berdiri. “Aku sedikit pusing.” ujarnya

“Cepat minum obat tolak angin, dan jangan buang angin sembarangan!” Jiyi tersenyum melihat sahabatnya yang menggemaskan itu.

.
.
.

Pintu terbuka perlahan. Secepat itu aura berubah mengharukan di benak Jiyi. Wajah eommanya menyeruak lembut. Jiyi memperhatikan dengan rasa was-was, dia takut eommanya akan mengutukinya, namun sang eomma hanya menelusuri pubahan bentuk Jiyi yang begitu berbeda. Kini Jiyi terlihat lebih matang. Apa yang terjadi?

“Jiyi!” eommanya setengah berbisik. Dia memeluk Jiyi dengan penuh rasa rindu.

“Aku baik-baik saja Eomma.”

“Eomma tahu.”

“Bagaimaa Appa?”

“Jangan sampai terlihat Appamu.”

“Xiumin mengatakan kau datang. Eomma terkejut. Sebenarnya eomma menyuruhnya untuk melihat keadaanmu. Tapi jika kau memutuskan untuk kembali, eomma sungguh lega. Namun keberadanmu sedang dalam pencarian. Eomma harap kau jagan keluar.”

Jiyi mengangguk.

“Di mana Xiumin?”

“Tidur. Lehernya terluka.”

“Ya, ada yang melukainya. itu sebabnya aku membawanya kembali ke sini.”

“Apa kau akan kembali ke tempat itu lagi?”

Jiyi terdiam. Entahlah. Jika dia sanggup bertahan di sini, maka dia akan tinggal. Jika tidak, Jiyi akan pergi ke mana saja. Dia tidak perduli, seandainya dia harus musnah sekalipun.

“Menurut Xiumin, kau bersama dengannya.”

“Siapa?” tanya Jiyi. Dia berpura-pura tidak tahu, menutupi sesuatu yang akan menambah beban pikiran sang eomma.

“KAu tidak usah khawatir Eomma marah. Dia yang menculikmu saat itu.”

“Chanyeol Oppa.” Jawab Jiyi

“Kalian tinggal bersama. “

“Ya, dia menjagaku. Hanya dia yang kumiliki. “

“Apa kalian hanya berdua saja?”

“Eomma, jangan dilanjutkan lagi. Aaku tidak mau lagi membicarakan hal itu.”

“Baiklah. ” wanita yang berusaha untuk bersikap tegar itu hanya tesenyum dan mengusap rambut Jiyi. “Apa kau butuh sesuatu?”

“Aku butuh darah.” Jawab Jiyi langsung. Dia merasa payah setelah menghajar Hyuna tadi malam. Dia membutuhkan energy banyak untuk memulihkan kondisinya. Kulitnya sudah berubah menjadi keriput.

Sang Eomma pun tidak merasa terkejut dengan jawaban itu. Dia mengangguk

“Eomma akan menyuruh Xiumin untuk membelikan darah segar untukmu.”

“Kenapa tidak hewan? Eomma, aku tidak berani mengambil resiko untuk meminum darah manusia lagi. “

“Jangan seperti itu,Jiyi. Kami sedangdi awasi. Aku hanya bisa memberimu darah dari rumah sakit, karena saat ini, Appamu membuthkan tranfusi darah setiap tiga hari sekali.”

Jiyi diam terpaku. Jika dia meminum darah manusia, maka kekuatannya akan berlipat ganda. Dia akan lebih kuat. Namun insting mebunuhnya akan lebih kuat dan tajam.

“Eomma akan menyuruh Xiumin membelinya dulu.”

Jiyi mengangguk__tak berdaya.¬¬

.
.
.

Semetara itu Chanyeol begitu sibuk dengan suasana yang asing di sekitarnya. Dia sangat mencolok diantara manusia-manusia yang berjalan di sisi-sisinya. Mereka melihat Chanyeol sebagai sosok misterius dari dunia lain. Penampilannya yang urakan dan gondrong, membuat mereka seperti melihat penyanyi rock era 80’an. Wajah pucatnya begitu mendominasi.

Dia tidak tahu harus mencari Jiyi di mana. Semua teasa segar dalam penciumannya. Darah, lapar. Matanya menjadi begitu ganas ketika menatap lautan manusia. Semua ini terlihat begitu membiusnya.

Manis, lapar…errrgh….

Chanyeol terseok-seok menjauhkan diri dari jalan. Menekur di sebuah menara pemancar satelite. Ini terlalu memusingkan. Tubuhnya gemetar, dengan aroma darah yang begitu kuat. Tubuh-tubuh hangat itu sangat nikmat.

“Jiyi…!” bisiknya. Dia menatap langit. Mencoba mengalihkan hasrat akan darah yang membelenggunya. Tubuhnya melesat diantara gedung gedung. Dia harus menemukan Jiyi malam ini.

Jiyi menyimak wajah langit malam ini. Dia melihat bintang bertebaran, namun tidak seindah bintang-bintang di …. Chanyeol. Jiyi menggeram. Dia enggan mengingat lagi.

“Jiyi, apa yang kau lakukan di situ?” Xiumin muncul dengan membawa beberapa kantung darah.

“Terima kasih!” Jiyi menerimanya dari tangan Xiumin.

Dengan penuh rasa lapar, Jiyi menghisap darah segar itu dalam satu kali hisapan. Dia hanya menghabiskan satu, karena baginya, satu saja sudah cukup memenuhi hasrat haus darahnya. Dia tidak ingin terlalu mengumbar hawa monsternya untuk berjaga.jaga dari keinginan yang mungkin nanti akan sulit dibendungnya.

“Aku merasa bosan !” ujar Jiyi. Baru satu hari saja sudah terasa membosankan. Sedangkan Xiumin hanya menatap dengan mulut mengerucut. Dia terlihat begitu manis malam ini.

“Apa kau ingin bersenang-senang?” tanya Xiumin

“Bersenang-senang seperti apa?”

“Aku ingin menunjukkan padamu ke mana aku biasa menyenangkan diriku.”

“Bagaimana kalau ada yang membuntuti kita?’

“Aku akan membuat penyamaran untukmu.” ujar Xiumin.

.
.
.

Jiyeon berjalan tertatih-tatih dgan heels tinggi. Dia di dandani secantik mungkin agar tidak terlihat pucat. Xiumin menggandengnya dengan mesra.

“Kita berpura-pura pacaran Jiyi.” bisiknya

“Terserah kau saja!”

“Aku ingin kau tidak terpisah dariku.”

“Aku merasa tidak yakin dengan usulmu Minie.”

“Hh, please jangan panggil aku Minie. Aku namjachingumu, Jiyi!”

“Ara!” Jiyi mencubit pipi sahabatnya yang merengek.

Xiumin melarikan mobilnya menuju ke sebuah club malam. Sementara Jiyi sibuk dengan gaunnya yang dia rasa aneh. “Aku merasa risih dengan pakaian ini.” Jiyi memperhatikan dress yangdia kenakan. Terlalu sexy dan ketat. Menyiksa tubuhnya.

“Kau dapat dari mana baju seperti ini?”

“Teman.”

“Teman wanita?”

“Namja.”

“Teman namjamu mempunyai baju seperti ini?”

“Memang kenapa? Apa tidak boleh?”

”No comment!”

Jiyi diam, dia mempehatikan beberapa manusia yang melintas di sekitar mereka. Rasanya sudah lama sekali sejak hari terakhir itu.

Triiing…

Sekilas perasaannya seperti beradu dngan denting genta angin yang tergantung di kaca spion . Jyi membungkuk mearsakan nyeri di hatinya. Kenapa fenomena ini sama ketika dia merindukan Luhan pada saat itu.

“Jiyi, kau kenapa?” Xiumin menoleh drastis.

“Xiumin, apa kau pikir Chanyeol bisa menyusulku ke sini?”

“Chanyeol?” Xiumin mengulangnya

“Bagaimana jika dia menyusulku?”

“Apa kau akan menghindsrinya?” tanya Xiumin cemas.

“Apakah aku bisa?” Jiyi meraba dadanya yang sepertinya sesak. Bagaimana mungkin jika Chanyeol senekad ini. Selama ini di tidak pernah meninggalkan daerah itu, bagaimana jika saat ini dia mencium begitu banyak aroma darah.

Xiumin memarkirkan mobilnya dengan cepat di depan sebuah kafe. Dia mengajak Jiyi turun dan masuk dngan cepat ke dalam suasana yang ramai. Mungkin dengan begitu Chanyeol tidak akan mudah menemukan mereka.

“Minie, kau ajak aku ke sini. Apa kau pikir aku menyukai tempat ini?” Jiyi menjadi lebih pucat. Dia merasa seluruh energnya memuncak.

“Apa kau tidak suka?”

“Minie, ayo kita pergi dari sini.”

“Kita baru saja tiba. Aku harus menikmatinya sebentar. Berikan aku waktu sepuluh menit, Oke!” Xiumin memesan sebuah minuman. Sementara Jiyi berjalan di sekitar area dance floor Dia merasa sangat tertekan berada di keramaian. Seseorang mengawasi. Jiyi measakannya. Ada yang menatap ke arahnya dengan sembunyi.sembunyi. Ini tidak bagus. Jiyi merasa ada seseuatu yang harus dia kerjakan.

Menghilamg dari tempat ini.

“Chagiya!” panggil Xiumin. Namun Jiyi hanya melambai kecil sambil menyingkir dari hadapan Xiumin. Dia memang tidak akan memanggil nama Jiyi di tempat umum. Polisi bisa saja mengenalinya, tapi kenapa semua percuma. Jiyi berjalan mengendap ke belakang, memasuki toilet dan bersembunyi di sana.

Riasan wajahnya masih cukup baik. Dia tidak terlihat mengerikan seperti monster. Bahkan terkesan cantik. Ini sangat luar biasa. Xiumin merubahnya menjadi wanita seperti yang Jiyi impikan.

“Chagiya!” panggil Xiumin. jiyi menoleh ke arah pintu toilet. Kenapa Xiumin mengikutinya.

“Minie, aku harus pergi dari sini.” bisik Jiyi.

“Baiklah! Ayo kita pergi!”

Beberapa langkah mendekati mobil, Jiyi merasa mereka diikuti. Detak jantung mereka mengejar kecurigaan Jiyi.

”Berhenti!” teriak sebuah suara

.

.

.

TEBECE

Note. Mian seharusnya ending, tapi aku bagi dua chapter terakhir ini. Terlalu panjang. Next tunggu aja!

Advertisements

24 thoughts on “[Threeshot-2/3] Deep In Your Eyes

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s