[Ficlet ] Under The Rain

images-18

Title || Under The Rain

Cast || B.A.P. Kim Himchan With OC

Genre ||  Surealism /Sad 

Length ||  Ficlet

Rated ||  General

 Kecewaku tidak mencapai pengertian hina. 

 

 

Jendelanya berembun. Buram dan sepi. Jika menunggu itu seperti melihat kabut, maka hampa rasanya perasaan menanti. Jendela yang kosong, juga kabut, dan suara hujan. Kenapa sepertinya begitu menyedihkan. Seharusnya tidak. Mungkin sedikit memikirkan tentang jatuhnya langit mendung. Atau deskripsi yang teramat panjang dengan alur berliku-liku di dalamnya. Tentang sekumpulan udara yang saling berpelukan, lalu dia tunduk pada sentuhan kehangatan, berembun lalu terjatuh menghadirkan perasaan ngilu.

 

Ada harum yang menerobos penciuman. Cerita ketika derai air mata itu menghujam pada tanah retak-retak. Lalu meresap dan menghadirkan sisi yang lembut. Lalu meberikan kesan keras dipermukaan. Tidak seharusnya laki-laki menangis. Namun dia menambatkan berbagai kisah pada lukisan masa lalu yang sempat terlintas. Langkah-langkah kaki menari dan kecemburuan sang daun ketika dia melihat kemesraan ranting bercengkrama dengan hembusan angin. Dia bersenandung untuk hujan sore ini.

 

Himchan. Ya, seorang Kim Himchan dengan wajah seputih pualam. Dia tampan, atau mungkin kesan nan mempesona itu tidak terwakilkan oleh sosok apapun yang bisa membuat perbandingan nyata dengannya. Dia yang duduk di depan buram jendela kaca. Menatap tak jelas sambil bergumam.  

 

Sudah hampir setahun dia berdiam di sini. Mungkin ruangan ini adalah saksi penting dalam kehidupan seorang Himchan. Merengkuh kata abadi. Bukan. Immortality sudah berlalu. Dan petikan gitar sepertinya menjadi pengantar sang mentari menjatuhkan diri pada selimut malam. 

 

Lalu gelap itu masuk dalam pengelihatan matanya. Terkadang dia mengusapnya seiring rasa kantuk yang datang kebih awal. Merapatkan sweater tebalnya. Mencoba melindungi tubuh berharganya dari desah dan rintihan hujan di luar sana.  Lalu menghadapi sebuah bingkai tua. Dia sedang berpetualang kembali dengan kisah yang tertambat di sana. Wajah yang manis dengan senyum ceria.

 

Kim Himchan. Detak jarum jam sudah membuatnya sedikit mengingatkan tantang waktu untuk mengisi perutnya. Ya, hari ini hanya satu nampan nasi dengan sayur dan sedikit telur, juga buah yang dipotong kecil-kecil.  Menu hari ini sungguh istimewa. Namun mulutnya terasa hampa mengunyah nustrisi yang tidak terlalu sempurna itu. Mungkin dia hanya menganyangkan sisi perut sebelah kirinya. Lalu jiwa sebelah kanannya terasa terangkat. Ya, timpang. Makanan itu bukan untuk jiwa. 

 

Dia tersenyum. Kembali menatap pada sebentuk wajah yang diyakini sebagai kekasihnya. Atau bukan. Dia sudah lupa. Mungkin bertahun-tahun lalu. Ketika saat itu waktu dia masih sering mengunjunginya. Dia seperti malaikat cantik dengan sayap-sayap putih berkilauan menghampiri dan membelainya. Betapa waktu cepat sekali berlalu.

 

“Daun pintu berwarna hijau. Seharusnya coklat. ”  keluh sang yeoja dengan mata yang bening dan tersenyum dengan wajah masam. Apa artinya itu. Hanya mengeluh tentang warna yang tidak disukainya. Padahal tempat ini bukan miliknya.

 

“Katakan dimana salahnya.” Tegas Kim Himchan dengan raut mempertontonkan egoisnya. Ya, harga dirinya seperti bermain di antara gumaman lembut itu.

 

“Kenapa kau marah ?”  tanya yeoja itu sambil mengusap lembut wajah kekasihnya.

 

Kekasih. Kata yang manis. Himchan menelusuri kelembutan yeoja dengan senyum menawan namun penuh kesunyian. Apakah dia terluka ketika menghadapi kekecewaan Himchan atas kata-katanya.

 

“Sayangku, di dunia ini begitu banyak hal yang tak kau mengerti.”

 

“Lalu kenapa kau tidak memberikan pengertian.”

 

“Aku malu pada kesibukanmu selama ini.”

 

Himchan mencoba untuk merangkum wajah itu dengan tangannya. Dia sanat sedih demgan perkataan itu.

 

“Apa kau menghinaku ?”  tanya Himchan.

 

“Sayangku, ada banyak hal di dunia ini yang membuatku kecewa. Ketika hal yang kita inginkan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tentang sesuatu yang membuat  hati kita sedih dan terluka. Namun bukan untuk sebuah kata hina. Kecewaku tidak mencapai pengertian hina.”

 

Dan sepertinya ketika suaranya berlalu, Himchan melihat awan yang menggantungkan sepinya bertamu. Dia memberikan khabar yang tidak semestinya. 

 

Kembali dia terbaring pada pembaringan. Malam ini dia sepertinya mendengar langkah-langkah kaki itu menari diantara genangan air di luar sana. Hanya sesekali dia mendengar desah angin. Dia menelusupkan kebekuan yang mengalir hingga ke jantungnya. Degub yang kian melemah. Raut senjanya memberikan sapaan tentang jalan yang berliku. 

 

“Himchan…!”  ketukan di jendela kaca itu begitu riuh. Dia memanggil-manggil namanya berkali-kali.

 

“Himchan…!”

 

 

“Himchan…!”   

 

 

Namun sepertinya, Himchan telah tertidur. Rambut putihnya sebagian menutupi kelopak matanya yang terpejam. Dia melayang pada langit mimpi. Menapaki butiran-butiran embun dan tersenyum pada wajah yang pernah meninggalkannya. 

 

Hujannya telah berhenti.  Dan Himchan berdiam diri pada sebuah kelembutan. Ini bukan sebuah ruangan yang biasa dia huni.

 

“Himchan, di sini…kau harus duduk di sini ?”  ujar sang kekasih.

 

“Apakah aku harus duduk di situ, bersamamu ?”  tanya Himchan.

 

“Ya. Aku sudah menunggumu. “

 

“Kau menungguku ?”

 

“Apa kau tidak tahu kalau aku menunggumu ?”

 

“Tidak.”

 

“Himchan, apa kau masih membenciku ?”

 

“Apa di sini kebencian itu diijinkan ?”

 

Yaoja itu, kekasihnya. Dia sebenarnya telah pergi meninggalkan Himchan sebelumnya. Dia yang selalu mengatakan kata sebaliknya, dia yang selalu menjadi konotasi dalam definisi praktis seorang Himchan, telah berlalu ketika sebuah badai menghempaskannya ke jurang.

 

“Himchan, kita akan melintasi pelangi.” 

 

“Benarkah ?” 

 

“Lihatlah,hujannya berhenti !”

 

Himchan mengintip pada sebuah gelombang warna ang terbentuk dari embun-embun air. Dia begitu cantik.

 

“Kita akan ke mana ?” tanya Himchan.

 

“Kita akan menyaksikan hujan di tempat lain.” jawabnya.

 

“Baiklah. Apa kau akan bersamaku ?”

 

“Tentu saja.”

 

Senyum. Semuanya tersenyum. Kini tidak ada penantian dalam kamar sepi dan hampa. Himchan menatap pada kekasihnya. Ya, semua terlihat jelas dan nyata. Bukan tatapan yang terhalang kabut atau jendela buram. Dan ratapan suara hujan sepertinya terdengar di tempat lain. Begitu jauh.

 

end

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s