[Ficlet] Wanna be With You

 WANNA BE WITH YOU

AprelTian presents

EXO’s Lay with OC’s Kwon Jin Ah

Sad-Romance

PG-15

Ficlet

Inginnya ku selalu bersamamu, mendampingimu setiap saat… namun, diri ini tak punya cukup keberanian untuk bisa muncul dihadapanmu… memintamu tuk jadi milikku… – Lay

This fanfiction is dedicated to our admin-nim, LayKim eonnie ^^

***

Semilir angin penghujung musim gugur yang dingin, menerbangkan helaian demi helaian rambut panjang nan indah milik seorang gadis berparas cantik yang hamper mendekati kata sempurna itu. Kwon Jin Ah-nama gadis itu,berdiri di balkon kamar pribadinya sembari memandang sebuah figura kecil yang menampakkan wajah seorang pria tampan yang tersenyum cerah memandang ke arah kamera. Jin Ah tersenyum kecut begitu otaknya memutar beribu-ribu memori indahnya bersama orang yang ada dalam figura tersebut.

“Hai, bagaimana kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja disana. Aku yakin kau pasti lebih bahagia kan? Karena disana kau tidak akan pernah merasa terbebani dengan adanya diriku.” Jin Ah bermonolog sembari menatap figura tersebut.

Jika diperhatikan lebih jelas, kini Jin Ah sedang menahan buliran air mata di ujung pelupuk matanya, enggan untuk membiarkannya lolos begitu saja. Matanya pun masih terlihat lelah, sembab dan sedikit membengkak. Jin Ah lelah. Lelah karena terlalu lama menangis. Menyesal. Itulah kata yang tepat untuk penggambaran hati Jin Ah saat ini.

“Andai saja aku datang lebih awal. Andai saja aku lebih cepat menghampirimu. Andai saja aku bisa mencegahnya. Andai saja… andai saja aku… ak-aku bisa memutar waktu kembali, andai saja…” Jin Ah tak bias terlalu lama menahan tangisnya. Pada akhirnya tangisnya pecah, buliran cairan bening itu kini telah menyeruak membentuk anakan sungai kecil dipipi mulusnya. Tangisannya semakin pecah tatkala ia memngingat semua kenangan memilukan yang dilihatnya. Kejadian itu, kejadian 2 hari yang lalau. Saat ia hendak menemui seseorang. Seseorang yang kini tak bisa lagi diraihnya…

[Flashback]

[Aku tunggu di halte bus depan tempat biasa kita bertemu. Pukul 3 sore ini.

                                                                                                          Lay.]

 

Jin Ah kembali membaca pesan dari teman kampusnya, Lay-si pria berlesung pipi dengan darah China itu. Jin Ah kembali menimang-nimang haruskah dia datang atau tidak. Mengingat dia tak kenal dekat dengan pria ini. Lagi pula ia hanya sering bertemu pria ini di halte bus saat hendak berangkat maupun pulang dari kampus. Jin Ah juga tak habis fikir. Kenapa bias dia dan pria itu selalu naik bus di jam yang sama dengannya. Padahal mereka jelas berbeda jurusan, berbeda jam kuliah bahkan rumah mereka terbilang punya jarak yang agak berjauhan, Begitulah pemikiran Jin Ah.

Lama Jin Ah berfikir. Sedangkan waktu sudah menujukan pukul 14.50 KST. Sampai akhirnya Jin Ah memutuskan untuk datang menemui Lay, pria yang mungkin sudah menunggunya sejak tadi. Penasaran. Satu kata yang bisa menggambarkan perasaan Jin Ah saat ini.

 

 

Sementara itu,

Di sebuah halte bus di kawasan Myeongdong, terlihat seorang pria berparas tampan dengan senyum yang selalu mengembang yang mampu membuat siapapun terpesona oleh senyumannya. Berbalutkan T-shirt berwarna putih polos dengan sweeter hitamnya yang dipadupadankan dengan jeans dengan warna yang senada dengan sweeternya manambah kesan cool pada penampilannya.

Lay-pemuda tampan itu, tetap setia menunggu sang pujaan hati untuk dating memenuhi ajakannya. Hatinya semakin bergetar, jantungnya berdetak tak karuan tatkala ia melirik arloji yang melingkar ditangan kirinya sudah menunjukkan pukul 3.15 KST. Yang artinya waktu untuk bertemu dengan gadis pujaannya itu sudah melebihi batas perjanjian.

Lay khawatir. Cemas dan kecewa. Disaat ia mulai berani untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu, malah jadi seperti ini. ‘Apa mungkin dia tak datang? Dia benar-benar membenciku?’ gumam Lay lirih. Takut jika persepsinya selam ini itu memang benar adanya.

Ada lasannya Lay berfikir demikian. Pasalnya, Kwon Jin Ah-sigadis pujaannya selalu terlihat rishi tatkala Lay mengahampirinya, mencoba akrab dengannya. Apalagi kejadian kemarin semakin membuatnya ragu untuk memberanikan diri mengungkapkan tujuannya yang sebenarnya pada Jin Ah. Gadis itu kesal dan marah pada Lay karena saking gugupnya berhadapan dengan Jin Ah, Lay tak sengaja menumpahkan jus strawberry miliknya karena kakinya tersandung kaki meja saat dikantin kampus.

 

 

Tak lama senyuman Lay merekah tatkala ia menemukan sosok yang ditunggunya datang. Tunggu. Apa ini hanya halusinasinya sajakah, karena ia sedang memikirkan gadis itu? Ataukah…

Tungu! Dia benar-benar datang! Kwon Jin Ah datang untuk memenuhi ajakannya. Jin Ah melambaikan tangannya ke arah Lay. Gadis disebrang jalan itu memanglah benar Kwon Jin Ah.

 

Jin Ah tersenyum menyapa Lay yang berada disebrang jalan tempatnya berdiri. Lampu merah yang memberhentikan laju kendaraan secara paksa itu menyala. Jin Ah mulai melangkahkan kakinya secara perlahan menyebrangi jalan raya yang lumyan padat hari ini. Namun tidak untuk Lay. Pemuda itu masih tidak bias mencerna apa yang sedang dilihatnya. Lay sampai-sampai tak percaya bahwa gadis yang sedang melangkah ke arahnya adalah Jin Ah, sosok gadis cantik yang dipujanya.

 

Lay berdiri. Mulai melangkahkan kaki panjangnya menuju Jin Ah. Namun baru saja beberapa langkah ia kembali terpaku dengan sosok Jin Ah yang sebentar lagi benar-benar berada tepat dihadapannya.

 

Ttet… Ttet… Ttet…

Bunyi alarm tanda waktu untuk pejalan kaki menyebrang jalan berbunyi. Tepat saat itu sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dari arah sisi kiri Jin Ah datang. Dengan bunyi klakson mobil yang memekakan telinga. Jin Ah menoleh. Terkejut dengan kedatangan mobil itu yang tinggal beberapa detik lagi menerjang tubuhnya.

 

Lay membulatkan matanya,seola-olah bola matanya memaksa untuk keluar dari singgahsananya. Lay berlari dengan sekuat tenaga menuju tempat Jin Ah berdiri. Dengan sigap Lay mendorong Jin Ah kembali ke tepian jalan dengan keras.

“Jin Ah AWAS!!!” teriak Lay saat dirinya mendorong tubuh Jin Ah untuk minggir.

Dan…

 

 

BRUKKK!!!

 

“AAAARRRRGGGGHHHHHHHHHHH” teriak Jin Ah saat ia menoleh dan melihat Lay yang terhempas ke arah datangnya mobil tadi. Lay terhempas cukup jauh. Tak hanya itu. Badannya pun sempat terpelanting diatas aspal bebrapa kali.

 

Mulutnya tak henti-henti terbatuk dan mengeluarkan gumpalan cairan kental berwarna merah yang disebut darah. Bau anyir langsung menyeruak. Kepala belakang Lay ikut mengeluarkan banyak darah segar.

 

Jin Ah termangu. Terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tubuhnya seketika kaku.

 

Dengan sedikit memaksakan diri, Jin Ah bangkit dari posisinya. Berlari kea rah Lay dengan sekuat tenaga. Tangisnya pecah tatkala ia melihat sosok pemuda tampan itu tergeletak begitu saja dijalanan. Orang-orang yang mleihat kejadian itu segera bergerumul di dekat Jin Ah yang tengah mendekap tubuh lemas Lay.

Tangisnya pecah. Jin Ah menangis sembari terus mendekap Lay. “Lay-ssi, ku mohon bertahanlah. Bertahanlah untukku!!!” ucap Jin Ah disela-sela tangisannya.

 

“Halo, pak polisi. Ada kasus tabrak lari di kawasan myeongdong.” Ucap salah seorang saksi mata pada orang disebrang telepon yang diketahui petugas kepolisian.

 

Tak hanya itu, ada juga yang langsung menghubungi rumah sakit untuk mengirimkan ambulance ke lokasi kejadian.

 

“Jin Ah-ssi, hhhh… hhh…” dengan susah payah Lay membuka suara dalam dekapan Jin Ah.

“Lay-ssi” pekik Jin Ah. “Bertahanlah ambulance akan segera datang”.

“Hhhhaaaahhhh… Mi-mianhae Jin Ah-ssi, waktuku sudah tak banya lagi…” Lay berusaha untuk melontarkan kata demi kata disela-sela rasa sakitnya.

“Tidak. Jangan bicara apapun! Ku mohon bertahan;ah!!!” Jin Ah menaikkan nada bicaranya, berteriak histeris. “Kumohon, demi aku… Lay-ssi…” kali ini Jin Ah memperhalus nada bicaranya.

“Maaf, karna sudah membuatmu selalu merasa tidak nyaman karena kehadiranku…” Jin Ah hanya bisa menggeleng tak membenarkan pernyataan Lay.

 

“Maaf, karena aku sudah berani mencintaimu, Jin Ah-ssi…” lanjut Lay.

“Maaf karena aku pernah berkeinginan selalu bersamamu, mendampingimu setiap saat… namun, diri ini tak punya cukup keberanian untuk bisa muncul dihadapanmu… memintamu tuk jadi milikku… Jin- Ah-ssi…”

 

“Hhhhh… Saranghae…” bertepatan dengan kata terakhirnya, Lay akhirnya menyerah untuk tetap bertahan dan menutup mata untuk selamanya…

 

“Andwae! ANDWAE!!!! LAY-SSI ANDWAE!!! Cepat banguuun!!! Buka matamu!!! Ku mohooooon!!!” Jin Ah berteriak histeris sembari mendekap tubuh Lay yang sudah tak bernyawa lagi.

 

“Mianhae… Jeongmal mianhae…” lirih Jin Ah tepat ditelinga Lay, yang tak mungkin dapat didengar oleh Lay.

 

[Flashback end]

“Maafkan aku, Lay-ssi… semoga kau bahagia disana.” Jin Ah tersenyum tulus diakhir kalimatnya sembari menatap langit malam yang bertaburan bintang.

END

 

Aprel’s note :

Kak Lia maafin aku dah ya… tak bisa buat fanfict sebagus yang kakak harapakan.. dan maaf karna sudah menistakan Lay di hari ulang tahunnya wkwkwkwkwkw…

Hope you like it kak hihihi…

3 thoughts on “[Ficlet] Wanna be With You

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s