[BTS Series] Sunday [Jungkook’s version]

sunday-jungkook copy

Sunday

Tob’s storyline

Jeon Jungkook

Kim Namjoon | Min Yoongi | Kim Seokjin | Park Jimin | Jung Hoseok | Kim Taehyung

Slice of life, School life, Friendship | Series | G

Prolog

Summary :

“Bukankah kalian tahu jika uang bulananku sudah menipis?”


“Jungkook-ah, bangun”

Mendengar seruan suara yang entah datang darimananya membuatku keluar dari dunia mimpiku. Aku mengucek kedua mataku dengan tangan kiriku. Ternyata eomma. Eomma membangunkanku.

“Eomma, aku masih ingin tidur” ucapku lalu menarik kembali selimut yang semula mengurung tubuhku. “Tunggu lima menit lagi”

Walau aku tidak bisa melihat apa yang eomma lakukan tapi aku tahu jika sekarang eomma sedang menggelengkan kepalanya. Mungkin dia kesal tapi aku tidak peduli karena aku benar-benar masih mengantuk. Kemarin malam aku begadang untuk menyelesaikan membaca novel Sherlock Holmes.

“Ini sudah lima menit yang kesembilan kalinya sayangku. Ayo bangun. Eomma sudah menyiapkan sarapan” ucap eommaku kemudian menggelitiki badanku.

Aku benci ini. Benci ketika eomma membangunkanku dengan cara ini. Aku berusaha menghindar dan mengelaknya. Namun ternyata itu semua sukses membuatku terjaga dan kantukku benar-benar hilang.

“Baiklah, sebentar lagi aku ke ruang makan” ucapku dan sukses membuat eomma tersenyum bangga karena sukses membuatku terbangun di hari minggu yang malas ini, omong-omong.

Eomma kemudian beranjak dari tempat tidurku dan hendak pergi menuju ruang makan. Baru saja aku melihat eomma menghilang dari balik pintu yang tentunya menjadi kesempatanku untuk merebahkan diri ternyata tidak bisa terjadi karena eomma berteriak dari ruang makan.

“Jika Kau tidur lagi, sarapanmu akan menjadi bagian adikmu”, terdengar teriakan ‘hore’ setelah eomma berteriak.

Sejujurnya aku tidak peduli jika hari ini aku tidak sarapan. Setidaknya masih ada makan siang, dan aku bisa membuat makanan lainnya sendiri. Namun kalimat berikutnya membuatku langsung pergi menuju kamar mandi.

“Hari ini eomma membuat roti isi daging asap, sosis, dan dibalur oleh lelehan keju”

Mana mungkin aku melewatkan sarapan pagi yang tidak biasanya seperti ini? Percayalah, biasanya eomma hanya akan membuat roti selai kacang, coklat, atau stroberi. Ini tidak boleh dilewatkan dan aku tidak mungkin membiarkan Jungyook menghabiskan jatahku.

“Aku sebentar lagi siap!”


Disinilah aku sekarang. Baru saja selesai menghabiskan sarapan pagiku yang lezat. Diakhiri dengan meminum segelas susu, aku beranjak menuju ruang keluarga untuk melihat adikku yang juga telah selesai makan menonton acara anak-anak di televisi.

“Hyung, ayo lakukan ini!” ucap Jungyook ketika melihat pahlawan supernya beraksi dan menggerakan tangannya agar bisa berubah menjadi pahlawan super.

Mana mungkin aku mengikutinya? Hei, aku sudah berumur tujuh belas tahun. Ini kekanak-kanakan. Tapi, tidak ada salahnya aku mengikutinya kan? Aku harus mengingat masa kecilku sekali-kali.

Terdengar suara kekehan dari arah belakang kami. Kulirik sebentar dan kudapatkan noona bersama eomma tertawa. Aku menghiraukannya dan justru mengajak noonaku untuk ikut melakukannya. Aku tahu bahwa noonaku itu sangat menyukai pahlawan super seperti ini mengingat aku dan dia hanya terpaut tiga tahun jadi hampir sebagian apa yang kami suka itu sama. Sebagian besar saja. Aku tidak mungkin menyukai barbie.

“Noona ayo ikuti kami!”

Awalnya ia menolak namun pada akhirnya mengikuti juga.

“ini tidak terlalu buruk” ucapnya kemudian.


Setelah melakukan atraksi-atraksi pahlawan super tadi aku memilih untuk pergi ke toko buku. Stok buku yang ingin kubaca sudah habis. Bahkan buku anak-anak milik Jungyook dan milik Jaein noona yang sebagan besar tentang makanan, gadis, hal-hal yang lucu pun aku baca. Aku mengajak Jaein noona namun ia menolak karena hari ini ia ada janji dengan teman SMAnya sedangkan Jungyook pun menolak karena hari ini harus mengerjakan tugas dengan Jinhoo, tetangga sebelah. Aku sempat berpikir tugas apa yang diberikan untuk anak kelas empat sekolah dasar? Tapi aku tak ambil pusing tolakan mereka, daripada mati kebosanan di rumah, lebih baik aku pergi ke toko buku.

Seandainya saja aku tidak menyetujui ucapan Namjoon agar hari minggu sekarang tidak berkumpul mungkin aku tidak akan mati kebosanan. Tapi ya memang sebaiknya ada waktu bagi kami agar tidak terus-terusan berkumpul. Mungkin cukup kali ini saja.


Sekarang aku sudah ada di toko buku, membaca buku-buku yang belum pernah kubaca dan plastiknya sudah terlepas. Setidaknya aku harus tahu isi bukunya sebelum aku membelinya kan?

Aroma buku baru di toko buku memang selalu menenangkan. Bunyi alunan musik barok pun terdengar tenang sekali. Bukan hanya aku saja yang merasakannya. Terlihat orang lain di sekitarku pun merasakan hal yang sama. Aku mengambil buku mengenai otak. Plastik dari buku ini sudah terlepas. Pihak toko buku membiarkannya atau memang sengaja melakukannya. Biasanya sebagai sample bagi pembeli. Itu yang eomma katakan dulu ketika aku masih kecil.

“eomma, aku ingin membaca ini”

“apa kau yakin? Bukankah tadi kookie ingin membeli yang ini?”

“hm……”

“tunggu sebentar” ucap eomma lalu pergi meninggalkanku. Ia pergi ke rak buku dn terlihat mencari sesuatu. Aku dapat melihat senyumnya kemudian kembali menghampiriku. “ini”

Aku tertegun. Eomma memberikanku buku yang tidak ada plastiknya. “tapi ini tidak ada plastik pembungkusnya?”

“ini sebuah sample. Biasanya setiap buku disini memiliki sample. Nah, kamu bisa membacanya terlebih dahulu beberapa bagian. Jika sudah tahu mana yang membuatmu tertarik beritahu eomma. Ingat, setiap minggu kau hanya punya jatah untuk membeli satu buku. Arrachi?”

Aku mengangguk.

Toko buku ini dipenuhi oleh puluhan rak yang berbeda genre. Aku memilih untuk mendekati buku-buku bergenre ilmiah. Beberapa hari terakhir ini aku sedang tertarik dengan otak manusia yang memiliki banyak bagian. Ini semua gara-gara Kim seonsaengnim yang menjelaskannya teramat semangat sehingga menularkan semangatnya padaku. Terutama satu bulan lagi akan diadakan UTS, mungkin tidak buruk aku membaca mengenai otak dari sekarang. Aku mengambil bukunya dan pergi menuju tempat duduk kosong untuk membacanya.

Sudah tiga buku yang aku selesaikan hari ini. Sebenarnya aku masih ingin membaca buku lainnya tapi jarum jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Sejujurnya aku sedikit jenuh dan bosan karena tidak ada suara berisik dari mereka yang biasanya selalu menggangguku ketika sedang membaca saat berkumpul bersama. Hampir satu hari aku tidak menghabiskan hari minggu bersama mereka. Sepertinya aku sedikit merindukannya. Sedikit saja.

Perutku sudah berbunyi meminta jatah. Aku memang belum makan siang dan malam, omong-omong. Mungkin sebaiknya aku langsung pulang menuju rumah.

From: Jaein noona

Dimana? Sebentar lagi makan malam. Cepat kembali atau makan malam bersama teman-temanmu?

Bibirku sedikit tertarik ketika membaca bagian akhir pesan tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung membalas pesan noonaku.

To: noona

Sebentar lagi aku sampai.


Author POV

“Jungkook-ah, jadi kau membeli buku apa?” tanya Taehyung penasaran.

Jungkook menjawabnya dengan gelengan kepala. “Aku tidak membeli apapun”

Hoseok langsung menyahut. “Jadi kau hanya pergi ke toko buku agar dapat membaca buku secara gratis?”

Jungkook mengembangkan senyumnya. “Tentu saja. Toko buku tersebut berada cukup dekat dengan rumahku jadi aku tidak perlu mengeluarkan uang. Apalagi aku bisa membaca buku-buku sample yang belum pernah aku baca”

Namjoon menggelengkan kepalanya. “Kau ini benar-benar…”

“Setidaknya, jungkook sedikit lebih pintar mengenai materi otak. Kau memiliki hutang untuk mengajarkan kami semua materi itu” ucap Jin tanpa beban yang langsung membuat Jungkook melebarkan kedua bola matanya.

Jimin mengangguk setuju. “Ya, kau harus mengajarkanku materi itu. Terlalu banyak bagian otak, aku benar-benar belum mengerti”

Yoongi yang sejak tadi diam saja melihat percakapan teman-temannya kini mengeluarkan suara. “Ngomong-ngomong kenapa Kau tidak membeli buku satu pun?”

Pertanyaan Yoongi membuat yang lainnya menatap Jungkook penasaran. Mereka ingin tahu alasan kenapa Jungkook tidak membeli buku barang satu pun.

Jungkook sedikit risih melihat tatapan teman-temannya. Ia akhirnya bersuara, “Aku pergi ke toko buku untuk membaca buku-buku disana tanpa ada niat membeli. Bukankah kalian tahu jika uang bulananku sudah menipis?”


Advertisements

14 thoughts on “[BTS Series] Sunday [Jungkook’s version]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s